Jumat, 23 Januari 2026

Cerita perjalananku dengan ombang ambing klaim paling salafi...part 4.

Cerita perjalananku dengan ombang ambing  klaim paling salafi...part 4.

Beberapa figur atau sebut saja ahli ilmu yang semula dikenal berada dalam satu arus, tiba tiba mengejutkan jagat persilatan, dengan pernyataannya yang menyerang balik teman sebarisan, sebagian mereka adalah dosen di kampus saya, sebagian lagi dari luar kampus. 

Ada yang menjatuhkan kehormatan syeikh Al Albani, diantaranya seorang kaprodi di kampus ternama di Riyadh, ada yang dengan cara membantah Seyikh Rabi' Al Madkhali, yang dilakukan oleh syeikh yang semula kita anggap satu frekuensi dengan Syeikh Rabi', ada juga yang menerbitkan fatwa aneh bin ajaib, semisal fatwa : wanita non mahrom boleh metani (mencari kutu) di kepada lelaki non mahrom yang dilakukan oleh ketua kantor amar ma'ruf nahi mungkar di kota Makkah, semakin membagongkan ketika ada seorang figur yang mendadak dianngkat menjadi Imam Masjidil Haram, lalu bagaikan gangsingan, lantang mendiskeditkan imam imam Masjidil Haram lainnya, dengan tuduhan bacaan mereka belum fasih.....dan endingnya setelah diberhentikan dari imam Masjidil Haram, figur ini tampil nyentrik, main filem, mengendarai moge dan lainnya.

Sontak saja, kejadian ini kembali membuat mumet kepala, satu kata yang terucap di lisanku: kok bisa bisa bisanya gitu. 

Kondisi tidak berhenti sampai di sini, syeikh syeikh yang semula satu frekuensi, sebut saja Syeikh Dr Muhammad bin Hadi Al Madkhali, dan lainnya terseret dalam perseteruan dan peselisihan sengit dengan Syeikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali.

Lubang semakin lebar, dosen dan seyiekh syeikh yang dahulu menjadi panutan dan rujukan saya semasa kuliah, ternyata tidak selamat dari hujatan arus yang dipimpin oleh Syeikh Rabi' Al Madkhali.

Diantara yang cukup mengejutkan dan membagongkan adalah "isu" puluhan ulama' Madinah dan Makkah memfatwakan wajib Jihad di Ambon, denganberbagai kejadian yang mengiringinya, padahal selama yang selama ini kita dapatkan dari para syeikh syeikh di kita, jihad di Palestina dan lainnya saja tidak difatwakan wajib.....usut punya usut klaim itu invalid, alias klaim sepihak.

Berkahnya, kasus jihad ambon, ketegangan yang disebabkan oleh pro konttra tentang lembaga sosial kuwait dan lainnya sedikit mereda.

Namun setelah kondisi Ambon mulai kondusif kita semua dikejutkan oleh sikap Ustadz Ja'far bin Umar Thalib rahimahullah bergabung dengan Arifin Ilham dengan dzikir jamaahnya.

Sikap beliau ini memantik perpecahan di barisan beliau, dan akhirnya beliau dianggap keluar dari barisan salafy, dan teman teman yang  menjadi pasukan beliau yang dikenal dengan sebutan Laskar Jihad, membubarkan diri dan hingga terjadi pertaubatan masal. Saya sendiri tidak begitu paham pertaubatan dari dosa apa....mungkin anda lebih tahu dari saya tentang hal ini.

Sejak saat itu, arus yang semua dipimpin oleh Ustadz Ja'far Umar Thalib, terus berpecah dan bersilang pendapat, sehingga terbagi bagi menjadi beberapa kelompok kecil.

Uniknya, di arus lain, pola yang sama, saling mengoreksi dan mentahzir mulai bersemi.

Menurut keyakinan saya, Syeikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali sukses besar dalam menanamkan pola, bahwa setiap ada perbedaan, bila buntuk tidak berhasil mencapai kata sepakat, maka selalu berakhir dengan ketegangan, tahzir dan klaim keluar dari rumah besar salafy.

Padahal, arus ini masih menimba ilmu alias menokohkan figur semisal Syeikh Ali Hasan Al Halabi, Abul Hasan Al Ma'riby, atau Utsman Al Kumais, atau lainya, yang semuanya oleh figur figur di arus pertama mereka semua dianggap bukan salafy.

Apalagi bila masih bekerja sama dengan Ihya'utturats atau sejenisnya, jelas saja sedari awal tidak dianggap salafy....walau demikian sesama sopir masih saja saling mendahului.

Pola yang dibangun oleh Syeikh Rabi' bin Hadi di atas, dianggap sebagai pola baku, sebagai bentuk implementasi loyalutas alias al wala' dan al bara' kepada pelaku bid'ah atau kemaksiatan.

Sedangkan arus lain yang sedari awal memiliki toleransi yang lebih longgar,bahkan masih menokohkan figur figur di atas, dan oleh arus pertama tidak lagi diakui sebagai salafy, namun demikian tanpa sadar telah terpola oleh pola yang dimotori oleh Syeikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali.

Pola tersebut ialah pola hitam atau putih, kawan atau lawan.....

Lo, anda mungkin bertanya: la penulis status ini sudah masuk salafy atau masih ada di barisan salafy atau tidak sih? 

Jadi gini kawan, status saya ini sudah kepanjangan, jadi  ya sudah saya cukupkan sampai di sini saja ya.....selanjutnya silahkan anda lanjutkan sendiri........status selanjutnya insyaAllah membahas tentang kaedah Muwazanah yang menjadi salah satu amunis perselisihan,....eh tahukah anda semua, ada lo yang menyarankan agar status status saya ini dihapus saja, karena dianggap tidak bermanfaat dan lebih besar madharatnya......piye dulur?

* 2 Kitab karya Syeikh Rabi bin Hadi Al Madkhaly yang menurut saya sangat bagus dan tuntas menjelaskan duduk perkara dan apa sebenarnya manhaj salaf atau salafy itu, monggo di baca.
https://www.facebook.com/share/1BKXugjFUQ/