Kamis, 02 Juli 2026

Aqidah salaf oleh ulama empat mazhab:

Aqidah salaf oleh ulama empat mazhab:
1. Dari mazhab Hanafi: Aqidah Thahawiyyah
2. Dari mazhab Maliki: Muqaddimah Ibnu Abi Zaid Al-Qayrawani
3. Dari mazhab Syafi'i: Syarhus Sunnah lil Muzani
4. Dari mazhab Hanbali: Aqidah Wasithiyyah, Ibnu Taymiyah atas permintaan seorang Qadhi Wasith yg bermazhab Syafi'i

Demikianlah sedikit bukti bahwa para ulama mazhab yg empat dahulu satu aqidah.

KM 54 Tol Cikampek, 16 Muharram 1448 H/02 Juni 2026
ustadz asmon nurijal 

Bagi yang mengamati sejarah perjalanan dakwah nabi, setidaknya ada tujuh respon kaum Quraisy terhadap dakwah Nabi:

Bagi yang mengamati sejarah perjalanan dakwah nabi, setidaknya ada tujuh respon kaum Quraisy terhadap dakwah Nabi:

1. Stigmatisasi dan pembunuhan karakter, dengan melabeli beliau sebagai kahin(dukun), Majnun (orang gila), syaa’ir (penyair), dan saahir (penyihir).

2. Tekanan politik, yaitu melobi Abu Thalib agar menghentikan dakwah Nabi.

3. Kekerasan fisik, berupa pemukulan, pencekikan, pelemparan batu, serta berbagai bentuk penyiksaan.

4. Godaan dunia, berupa tawaran harta, kekuasaan, dan wanita agar beliau menghentikan dakwah.

5. Kompromi akidah, dengan menawarkan “bergantian beribadah”: setahun menyembah Allah, setahun berikutnya menyembah berhala.

6. Pemboikotan total, terhadap Nabi , Bani Hasyim, dan Bani al-Muththalib.

7. Konspirasi pembunuhan dan pengusiran, yang akhirnya menjadi awal hijrah beliau.

Semuanya telah dilalui oleh Rasulullah.
Karena itu, jalan dakwah memang tidak pernah dijanjikan mudah. Yang dijanjikan Allah adalah pertolongan bagi orang-orang yang tetap teguh di atas kebenaran.
Ustadz fadlan fahamsyah

Barangsiapa yang melecehkan ulama, akan hilang akhiratnya. Barangsiapa yang melecehkan umara’ (pemerintah), akan hilang dunianya. Barangsiapa yang melecehkan teman-temannya, maka akan hilang kehormatannya.

Di tengah penjelasannya membahas kitab  'Alaikum bil jama'ah man hiyal jama'ah, beliau Syaikh Abdul Malik Ramadhani mengutip perkataan Imam Ibnul Mubarak;
ى: "من استخف بالعلماء ذهبت آخرته، ومن استخف بالأمراء ذهبت دنياه، ومن استخف بالإخوان ذهبت مروءته"

Berkata Al-Imam Ibnul Mubarak رضي اللّـہ عنہ :
“Barangsiapa yang melecehkan ulama, akan hilang akhiratnya. Barangsiapa yang melecehkan umara’ (pemerintah), akan hilang dunianya. Barangsiapa yang melecehkan teman-temannya, maka akan hilang kehormatannya.

Sebuah nasehat yang amat penting, monggo di perhatikan, direnungi dan amalkan

Melamar perempuan yang telah dilamar oleh laki-laki lain baru diharamkan apabila :

Melamar perempuan yang telah dilamar oleh laki-laki lain baru diharamkan apabila :

1. Peminang pertama telah diterima oleh pihak perempuan dan walinya. Adapun jika di kemudian hari pihak perempuan atau walinya membatalkan persetujuan tersebut, maka keharaman itu gugur, sehingga laki-laki lain diperbolehkan mengajukan lamaran.

2. Pinangan pertama harus merupakan pinangan yang sah menurut syariat, apabila pinangan tersebut termasuk pinangan yang diharamkan oleh syariat, seperti meminang perempuan yang masih berada dalam masa iddah, maka pinangan itu tidak menghalangi laki-laki lain untuk mengajukan pinangan, meskipun telah diterima oleh pihak perempuan.

3. Peminang pertama tidak mengundurkan diri. Apabila ia mengundurkan diri dari pinangannya atau memberikan izin kepada laki-laki lain untuk mengajukan pinangan, maka keharaman tersebut gugur sehingga orang lain diperbolehkan untuk melamar.

4. Peminang kedua telah mengetahui bahwa perempuan tersebut telah dipinang oleh orang lain, dan ia juga mengetahui bahwa meminang perempuan yang masih berada dalam pinangan orang lain hukumnya haram. Apabila ia tidak mengetahui salah satu dari dua hal tersebut, maka tidak berlaku hukum keharaman baginya karena adanya ketidaktahuan.

Catatan : apabila peminang kedua tetap melanjutkan proses pinangan hingga terlaksana akad nikah, maka akad nikah tersebut tetap sah, namun ia berdosa karena telah melakukan perbuatan yang dilarang syariat.

[كتاب فقه المناكحات لكاكا القدوة ١/٢٧٠]

Rabu, 01 Juli 2026

keutamaan sahabat Nabi, Utsman bin Affan *radhiyallahu 'anhu*.

keutamaan sahabat Nabi, Utsman bin Affan *radhiyallahu 'anhu*.
**Muhammad bin al-Husain *rahimahullah* berkata:**
"Beliau (Rasulullah ﷺ) menikahkannya (Utsman) pertama kali dengan Ruqayyah, lalu menikahkannya lagi dengan Ummu Kultsum dengan mahar yang serupa, dan atas persahabatan yang serupa pula. Kemudian ketahuilah—semoga Allah merahmati kalian—bahwa sesungguhnya beliau dinamai *Dzun Nurain* (Pemilik Dua Cahaya) karena tidak pernah ada seorang nabi pun yang mengumpulkan (menikahi) dua putri nabi, satu demi satu setelah yang lain, sejak zaman Nabi Adam Alaihis Salam, kecuali Utsman bin Affan *radhiyallahu 'anhu*. Oleh karena itulah beliau dinamai *Dzun Nurain*.
Dan ini adalah salah satu dari sekian banyak keutamaan beliau yang mulia. Qatadah berkata: 'Sesungguhnya Utsman *radhiyallahu 'anhu* mempersiapkan pasukan *Al-'Usrah* (pasukan yang serba sulit pada Perang Tabuk) dengan membawa sembilan ratus tiga puluh ekor unta dan tujuh puluh ekor kuda.' Ibn Syihab az-Zuhri berkata: '(Utsman bin Affan *radhiyallahu 'anhu* membawa sembilan ratus ekor unta dan empat puluh ekor kuda dalam Perang Tabuk, kemudian beliau datang lagi membawa sisa hewan lainnya sehingga genap berjumlah seribu ekor).'
Dan Nabi ﷺ bersabda: *'Barangsiapa yang membeli sumur Rumaah, lalu dia menjadikannya sebagai tempat minum bagi kaum muslimin, maka Allah akan mengampuninya.'* Lalu Utsman *radhiyallahu 'anhu* membelinya. Kemudian disebutkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa Nabi ﷺ bersabda: *'Sesungguhnya para malaikat benar-benar malu kepada Utsman bin Affan.'*
Kemudian Nabi ﷺ juga mengabarkan tentang fitnah (kekacauan) yang akan terjadi setelah beliau wafat, dan beliau mengabarkan bahwa Utsman *radhiyallahu 'anhu* berlepas diri (bersih) dari fitnah tersebut. Beliau juga mengabarkan bahwa Utsman akan dibunuh secara zalim, dan Nabi memerintahkannya untuk bersabar. Maka Utsman pun bersabar *radhiyallahu 'anhu* hingga beliau dibunuh secara zalim.
Para sahabat Rasulullah ﷺ telah berusaha keras dan bersungguh-sungguh untuk menolong beliau, namun beliau melarang mereka dan berkata: *'Kalian berada dalam kebebasan dari baiatku (aku melepaskan sumpah setia kalian untuk melindungiku), dan sesungguhnya aku berharap bisa bertemu Allah 'Azza wa Jalla dalam keadaan selamat (tidak menumpahkan darah) lagi dizalimi.'*
Beliau (Utsman) terbiasa menghidupkan seluruh malam dengan satu rakaat, di mana beliau mengkhatamkan Al-Qur'an di dalamnya. Beliau memiliki banyak keutamaan yang mulia, di mata orang-orang yang berakal, di antara orang-orang yang dianugerahi kemanfaatan ilmu oleh Allah yang Maha Mulia. Kami akan menyebutkannya kembali, insya Allah, pada tempatnya.
Abdurrahman bin Mahdi berkata: 'Seandainya tidak ada keutamaan pada diri Utsman *radhiyallahu 'anhu* kecuali dua perkara ini, niscaya itu sudah cukup baginya: Pengumpulan mushaf Al-Qur'an olehnya, dan pengorbanan darahnya demi menjaga darah kaum muslimin.'
Dan dari Jundub *radhiyallahu 'anhu*, ia berkata: (Hudaifah *rahimahullah* berkata: 'Sungguh mereka telah berjalan menuju Utsman, dan demi Allah, mereka pasti akan membunuhnya!' Aku bertanya: 'Lalu di manakah posisi Utsman (setelah terbunuh)?' Ia menjawab: 'Di surga.' Aku bertanya lagi: 'Lalu di manakah posisi orang yang membunuhnya?' Ia menjawab: 'Di neraka, demi Allah.')"
**Muhammad bin al-Husain *rahimahullah* berkata:**
"Dan sungguh para sahabat Rasulullah ﷺ telah mengingkari pembunuhan Utsman *radhiyallahu 'anhu* dengan pengingkaran yang sangat keras, dan mereka menangisinya. Orang pertama di antara mereka adalah Ali bin Abi Thalib *radhiyallahu 'anhu*. Beliau melemparkan sorban hitam dari kepalanya dan berseru sebanyak tiga kali: *'Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari darah (pembunuhan) Ibnu Affan. Ya Allah, aku tidak rida atas pembunuhannya, dan aku tidak memerintahkannya!'*"
*(Catatan kaki di bagian bawah gambar merujuk pada referensi hadis riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu'allaq, Kitab al-Wakahah, bab Min asy-Syurb, dan riwayat At-Tirmidzi dalam Sunan-nya).*

Sungguh para malaikat itu saaaaangat malu pada Ustman Ibn afan

Ditengah penjelasan nya membahas kitab Mukhtasar Kitabu Syari'ah Lil Imam Al Ajurrii, beliau Syaikh Hisyam Thohirii tatkala menjelaskan tentang ke khilafahan Ustman Ibn Afwan radhiyallahu 'anhu membacakan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi bersabda "Sungguh para malaikat itu saaaaangat malu pada Ustman Ibn Afwan".
Beliau melanjutkan penjelasannya kenapa Ustman dalam sholat malam nya dan hanya satu rokaat beliau mengkhatamkan Al quran, bukan dalam tiga, lima atau sebelas rakaat. Apa sebabnya, karena beliau sangat malu pada Allah ketika sedang membaca firman-Nya kemudian memutus nya, sehingga dia khatamkan Al quran dalam satu rakaat tanpa berhenti. 

Yaa subhanallah, dimana kita dari akhlak dan ibadahnya para salaf

Semoga Allah senantiasa memberikan kenikmatan pada kita semua dalam beribadah terkhusus membaca dan mentadabburi firman-Nya
ustadz jumantoro at thalibi

Ciri khas umum ahlu bidah (apapun bidahnya) adalah menyembunyikan dalil

Ciri khas umum ahlu bidah (apapun bidahnya) adalah menyembunyikan dalil

Apalagi hadits2 Nabi shallallahu alaihi wasallam yang jelas dan terang benderang akan mereka samarkan

Termasuk bidah "khuruj ala wulatil umur"

Hadits2 yang jelas bilang : taatilah pemerintah, sabarlah, jangan betontak, tunaikan hak mereka

Ga bakal mereka bahas di majlis2 ilmu

Kalaupun tersingkap maka akan mereka pelintir dan selewengkan makna nya

Oleh karena itulah mengapa dinamakan ahlu sunnah karena mereka selalu berpegang teguh dengan dalil

Dan antm akan dapati kelompok yang paling teguh thd dalil adalah mereka salafi

قال شيخ الإسلام رحمه الله :
فَلَا تَجِدُ قَطُّ مُبْتَدِعًا إِلَّا وَهُوَ يُحِبُّ كِتْمَانَ النُّصُوصِ الَّتِي تُخَالِفُهُ وَيُبْغِضُهَا وَيُبْغِضُ إِظْهَارَهَا وَرِوَايَتَهَا وَالتَّحَدُّثَ بِهَا وَيُبْغِضُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ
 (مجموع الفتاوى : ٢٠ / ١٦١)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Tidaklah engkau dapati seorang ahli bid'ah, melainkan ia senantiasa menyukai untuk menyembunyikan nash-nash yang bertentangan dengan pendapatnya. Ia membenci nash-nash tersebut, membenci jika nash-nash itu ditampakkan, diriwayatkan, dan dibicarakan. Bahkan, ia juga membenci orang yang melakukan hal itu.

Sumber: Majmu' al-Fatawa, jilid 20, hlm. 161.
ustadz lutfi setiawan