Rabu, 08 April 2026

Suami yang sholih

Suami yang sholih tidak disyaratkan harus menjadi penghapal Al Qur'an, 
dan tidak harus dinamakan syaikh, dan tidak harus menjadi laki laki yang
taat beragama yang menyampaikan pelajaran di masjid dan tidak pula
dengan tingkat pendidikan atau sosial tertentu, cukup baginya untuk
menunaikan kewajiban kewajibannya (fardhu) tepat pada waktunya
dan memiliki sifat cemburu terhadap keluarganya dengan rasa cemburu
yang wajar dan berlemah lembut dengan mereka, mampu untuk saling
memahami dengan mereka, memiliki akhlak yang baik serta baik 
pergaulannya, tidak memukul, dan tidak mengotori lisannya dengan
mengumpat ketika marah

Tidak sah bermakmum kepada seorang ummi (orang yang tidak lancar membaca Al-Fatihah),

Tidak sah bermakmum kepada seorang ummi (orang yang tidak lancar membaca Al-Fatihah), yaitu orang yang tidak fasih membaca Al-Fatihah, atau salah dalam membacanya dengan kesalahan yang mengubah makna secara total dan ia tidak mampu memperbaikinya, kecuali jika makmumnya juga sesama ummi.

Tidak sah bermakmum kepada seorang ummi (orang yang tidak lancar membaca Al-Fatihah), yaitu orang yang tidak fasih membaca Al-Fatihah, atau salah dalam membacanya dengan kesalahan yang mengubah makna secara total dan ia tidak mampu memperbaikinya, kecuali jika makmumnya juga sesama ummi.

Seseorang yang) diharapkan kesembuhan dari penyakitnya, maka ia salat dalam keadaan duduk, dan makmum duduk di belakangnya; salat mereka (makmum) sah dalam keadaan berdiri.
Ketentuan Imam Salat:
Tidak sah seorang wanita atau khuntha (orang dengan jenis kelamin ganda) mengimami laki-laki atau sesama khuntha.
Tidak sah seorang anak kecil yang belum baligh mengimami orang dewasa dalam salat fardu.
Tidak sah orang yang berhadas atau terkena najis menjadi imam. Jika imam tidak mengetahui hal itu (hadas/najis) dan makmum juga tidak mengetahuinya sampai salat selesai, maka salat makmum tetap sah.
Tidak sah bermakmum kepada seorang ummi (orang yang tidak lancar membaca Al-Fatihah), yaitu orang yang tidak fasih membaca Al-Fatihah, atau salah dalam membacanya dengan kesalahan yang mengubah makna secara total dan ia tidak mampu memperbaikinya, kecuali jika makmumnya juga sesama ummi.
Posisi Salat Berjamaah:
Disunnahkan imam berdiri di depan makmum. Jika makmum berdiri lebih depan daripada imam, meskipun hanya pada saat takbiratul ihram, maka salatnya tidak sah. Ukuran "lebih depan" dilihat dari tumit kaki.
Satu orang makmum laki-laki atau khuntha berdiri di sebelah kanan imam (hukumnya wajib).
Satu orang makmum perempuan berdiri di belakang imam (hukumnya sunnah).
Boleh berdiri di sebelah kiri imam jika sisi kanannya sudah penuh.
Barangsiapa yang salat sendirian (di belakang barisan) padahal ada ruang kosong di depan/kanan imam, atau salat satu rakaat penuh sendirian, maka salatnya tidak sah.
Jika imam dan makmum berada di dalam satu masjid, maka bermakmum secara mutlak dianggap sah dengan syarat makmum mengetahui gerakan imam. Jika keduanya tidak berada dalam satu masjid, maka disyaratkan makmum dapat melihat imam atau melihat barisan orang yang berada di belakang imam, meskipun hanya sebagian.
Hal-hal yang Makruh:
Dimakruhkan posisi imam lebih tinggi satu hasta atau lebih dari makmum, begitu pula sebaliknya (kecuali jika ada kebutuhan).
Dimakruhkan mendatangi masjid atau jamaah bagi orang yang baru saja memakan bawang merah, bawang putih, lobak, atau sejenisnya hingga aromanya hilang.
Fasal: Udzur Meninggalkan Salat Jumat dan Berjamaah
Seseorang diberi keringanan (udzur) untuk meninggalkan salat Jumat dan jamaah karena:
Sakit.
Khawatir akan tertular penyakit atau tertimpa bahaya di jalan.
Menahan buang air kecil atau besar (hadatsain).
Saat makanan sudah dihidangkan dan ia sangat membutuhkannya (lapar/haus).
Khawatir kehilangan hartanya, atau khawatir hartanya rusak.
Khawatir akan terganggunya mata pencaharian yang ia butuhkan.
Khawatir akan kematian kerabat atau temannya.
Khawatir akan gangguan dari penguasa (zhalim).
Hujan lebat dan sejenisnya.
Khawatir tertinggal oleh rombongan perjalanan, dan hal-hal lain yang serupa.
Fasal: Salat Orang Sakit
Orang yang sakit wajib salat dalam keadaan berdiri, meskipun dengan cara bersandar atau bertumpu pada sesuatu yang disewa jika ia mampu. Jika tidak mampu berdiri, maka ia salat dengan duduk. Cara duduk yang sunnah adalah duduk bersila (mutarabbi’an), namun duduk dengan cara apa pun diperbolehkan. Jika tidak mampu duduk, maka salat dengan berbaring miring (ke sisi kanan lebih utama), dan melakukan ruku' serta sujud dengan isyarat.


Tidak sah bermakmum kepada seorang ummi (orang yang tidak lancar membaca Al-Fatihah), yaitu orang yang tidak fasih membaca Al-Fatihah, atau salah dalam membacanya dengan kesalahan yang mengubah makna secara total dan ia tidak mampu memperbaikinya, kecuali jika makmumnya juga sesama ummi.

ushul fiqh mengajarkan metodologi

‎#الإخوان_المسلمون

‏📌 من هم ‎#الإخوان_المسلمون 

يجيب فضيلة الشيخ أحمد بن يحيى النجمي رحمـهُ اللهُ تعالـى :

تعريف ‎#الإخوان_المسلون : هم أتباع حسن البنّا ، ومنهجهم عليه ملاحظات أهمها مايلي :

❶) التهاون في توحيد العبادة ؛ الذي هو أهم شيء في الإسلام ، ولا يصح إسلام عبد إلا به

❷) سكوتهم وإقرارهم للناس على الشرك الأكبر ؛ من الدعاء لغير الله ، والتطوف بالقبور ، والنذر لأصحابها ، والذبح على أسمائهم ، وما إلى ذلك 

❸) أن هذا المنهج مؤسسه صوفي ؛ له علاقة في الصوفية ؛ حيث أخذ البيعة من عبدالوهاب الحصافي على طريقته الحصافية الشاذلية

❹) وجود البدع عندهم ، وتعبدهم بها بل إن مؤسس المنهج ؛ يقرر بأن النبي صلى الله عليه وسلم يحضر مجالس ذكرهم ويغفر لهم ماقد مضى من ذنوبهم ؛ في قوله :
صلى الإله على النور الذي ظهرا
للعالمين ففاق الشمس والقمرا
هذا الحبيب مع الأحباب قد حضرا
وسامح الكل فيما قد مضى وجرا .

❺) دعوتهم إلى الخلافة ، وهذا بدعة ، فإن الرسل وأتباعهم ماكلفوا ؛ إلا بالدعوة إلى التوحيد ؛ قال تعالـى: (( ولقد بعثنا في كل أمة رسولاً أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت)) [النحل : 36] .

➏) عدم الولاء والبراء عندهم أو ضعفه ، ويتبين ذلك ؛ من دعوتهم للتقريب بين السُنّة والشيعة وقول المؤسس ؛ ( نتعاون فيما اتفقنا عليه ، ويعذر بعضنا بعضاً فيما اختلفنا فِيهِ). انتهى .

➐) كراهتهم لأهل التوحيد ، وأصحاب الطريقة السلفيّة ، وبغضهم لهم ، ويتبين ذلك من كلامهم في الدولة السعودية ؛ التي قامت على التوحيد ، وتدرس التوحيد في مدارسها ، ومعاهدها ، وجامعاتها ، ومن قتلهم لجميل الرحمن الأفغاني ؛ لكونه يدعوا إلى التوحيد ، والذي عنده مدارس يدرس فيها التوحيد .

❽) تتبعهم عثرات الولاة ، والتنقيب عن مثالبهم ؛ سواء كانت صدقاً ؛ أو كذباً ، ونشرها في الشباب الناشئ ليبغضوهم عندهم ، وليملؤا قلوبهم حقداً عليهم .

❾) الحزبية الممقوتة ؛ التي ينتمون إليها ، فيوالون من أجل هذا الحزب ، ويعادون من أجله .

❿) أخذ البيعة على العمل للمنهج الإخواني بالشروط العشرة التي ذكرها المؤسس ، وهناك ملاحظات أخرى يمكن أن نأخذها فيما بعد

📗 من كتاب: " الفتاوى الجليَّة عن أسئلة المناهج الدعويَّة "

~~~~
t.me/R_SALAFIYA

Menasihati Penguasa Terang-Terangan

[ Menasihati Penguasa Terang-Terangan ]

Telah jelas bahwa cara yang paling baik dalam menasihati penguasa atau pemerintah, yaitu secara rahasia. Bisa lewat surat, email, telepon, SMS, WA. 

Itu kalau nasihatmu dibaca. Bagaimana jika sangat besar kemungkinan tidak akan dibaca karena kita bukan siapa-siapa dan justru akan ada peluang untuk dibaca jika lewat artikel publik seperti koran atau bahkan medsos? Dan urgensi menasihatinya telah mencapai level nahi munkar yang jika diingkari lewat hati maka termasuk selemah-lemah iman, sementara konstitusi di negeri tersebut sangat membolehkan kritik dan tidak akan menimbulkan madharat yang lebih besar. Bolehkah? 

Syaikh Muhammad Ali Ferkous hafizhahullah menjelaskan : 

Jika tidak memungkinkan untuk menasihati mereka secara diam-diam untuk menghilangkan kesalahan yang telah mereka lakukan secara terbuka, dan sangat mungkin bahwa kebaikan akan tercapai dengan mengingkari secara terbuka tanpa menimbulkan kerusakan, maka diperbolehkan – dalam hal ini – untuk menasihati mereka dan mengkritik mereka secara terbuka tanpa adanya fitnah, celaan, atau penghinaan. Inilah yang dituntut sebagai hikmah dalam mengingkari kesalahan, yaitu menegakkan kebenaran, dan mencapai kebaikan. Sahabat yang mulia Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu pernah mengecam Marwan Ibn Al-Hakam di depan umum karena memberikan khutbah sebelum shalat Ied dengan pengingkaran yang tanpa mencela atau memprovokasi, dan pengingkaran itu disampaikan secara terbuka di hadapan dan didengar oleh para sahabat dan orang lain tanpa kecaman apa pun. 

Hal ini didukung oleh apa yang dikatakan Abu Qilabah : “Aku berada di Suriah dalam sebuah pertemuan yang dihadiri Muslim ibn Yasar, ketika Abu al-Asy'ats datang. Mereka berkata, 'Abu al-Asy'ats, Abu al-Ash'ats!' Maka dia duduk. Aku berkata kepadanya, 'Ceritakan kepada saudara kita hadits 'Ubadah ibn as-Shamit.' Dia berkata, 'Kami pergi dalam ekspedisi militer ketika Mu'awiyah memimpin, dan kami memperoleh banyak rampasan perang. Di antara rampasan yang kami peroleh adalah bejana dari perak, lalu Mu'awiyah memerintahkan seorang pria untuk menjualnya di antara hadiah-hadiah rakyat, dan orang-orang bergegas melakukannya. Hal ini sampai kepada 'Ubadah ibn as-Shamit, lalu dia berdiri dan berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang penjualan emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jelai dengan jelai, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, kecuali dalam jumlah yang sama secara tunai dan siapa pun yang memberi lebih banyak atau mengambil lebih banyak maka ia telah melakukan riba.” Maka orang-orang mengembalikan apa yang telah mereka ambil. Hal ini sampai kepada Muawiyah, lalu ia berdiri untuk berbicara dan berkata: “Ada apa dengan orang-orang yang berbicara tentang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan hadits-hadits yang kami saksikan dan ikuti, padahal kami tidak mendengarnya dari beliau!” Kemudian Ubadah bin as-Shamit berdiri dan mengulangi kisah tersebut, lalu Ubadah berkata: “Kami akan menceritakan apa yang kami dengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sekalipun Muawiyah tidak menyukainya - atau beliau berkata: sekalipun ia tidak senang - aku tidak peduli jika aku tidak menyertai beliau dalam pasukannya pada malam yang gelap” 

Dalam konteks ini, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Apa yang dikatakan Ubadah ibn as-Shamit dan lainnya: ‘Kami telah berjanji setia kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk berbicara jujur ​​di mana pun kami berada, dan tidak takut akan celaan dari pencela mana pun dalam membela agama Allah.’ Dan kami bersaksi demi Allah bahwa mereka telah memenuhi janji ini, berbicara jujur, dan menyatakannya secara terbuka. Mereka tidak gentar oleh celaan pencela mana pun dalam membela agama Allah, dan mereka tidak menyembunyikan apa pun karena takut akan cambuk, tongkat, sebagaimana diketahui oleh siapa pun yang merenungkan bimbingan dan perilaku mereka. Demikian ketika Abu Sa'id menegur Marwan ketika ia menjadi gubernur Madinah, Ubadah ibn as-Shamit menegur Mu'awiyah ketika ia menjadi khalifah, dan Ibnu Umar menegur al-Hajjaj meskipun ia berkuasa dan kuat, dan ia menegur Amr ibn Saidd ketika ia menjadi gubernur Madinah. Hal ini sangat umum dalam teguran mereka terhadap para penguasa dan gubernur ketika mereka menyimpang dari keadilan. Mereka tidak takut akan cambuk atau hukuman mereka. Orang-orang yang datang setelah mereka tidak memiliki status ini; sebaliknya, mereka meninggalkan banyak kebenaran karena takut akan penguasa yang tidak adil dan pangeran yang zalim. Tidak mungkin orang-orang ini akan dibimbing ke jalan yang benar sementara para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengharamkannya. 

Sebagaimana dalam perkataan Abu Bakr As-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, “Jika kamu melihatku berbuat kebathilan, maka luruskanlah aku,” dan dalam versi lain: “Jika aku tersesat, maka luruskanlah aku”. An-Nawawi rahimahullah berkata: “Di dalamnya terdapat adab yang baik kepada penguasa dan kebaikan kepada mereka, yaitu menasihati mereka secara diam-diam, dan memberitahukan kepada mereka apa yang dikatakan orang tentang mereka agar mereka menjauhi kesalahan tersebut. Semua ini jika memungkinkan untuk dilakukan. Jika tidak memungkinkan untuk menasihati secara diam-diam dan mengkritik, maka lakukanlah secara terang-terangan agar kebenaran tidak hilang”

Link artikel selengkapnya ada di kolom komentar.
https://ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-1260&fbclid=IwdGRjcARDLC9jbGNrBEMsJGV4dG4DYWVtAjExAHNydGMGYXBwX2lkDDM1MDY4NTUzMTcyOAABHmx74OK-NVKEDrofOeWFcqbpaBE7AF6n2dvd9-ewO1hruryiqfIcyj0_ZUEQ_aem_3yOoHFencSiOQrgzGlTZuw

في حكم الإنكار العَلَني على ولاة الأمر
السؤال:

يعتقدُ جماعةٌ من طلبةِ العلمِ عدمَ جوازِ الإنكارِ العَلَني على وُلاة الأمرِ مُطلقًا، وأضافوا ذلك الحكمَ إلى مذهبِ السَّلف قاطبةً، مُستدلِّينَ بالنُّصوصِ الآمرةِ بنُصحِهم سِرًّا، ونسبوا المُخالِفين لهم ـ في هذا الحكم ـ إلى الجهلِ بأصولِ منهجِ أهلِ السُّنَّةِ والجماعةِ في التَّعامُل مع الحُكَّامِ.

فنرجو مِنْ شيخِنا ـ حفظه الله ـ تجليةَ هذه المَسألةِ التي أخذت حَيِّزًا واسعًا مِنَ المُجادلةِ والنِّقاشِ بين طلبةِ العِلمِ ـ حاليًّا ـ بين مُؤيِّدٍ ومُعارِضٍ، لا سِيَّمَا على مواقعِ التَّواصُلِ في الشَّبكةِ العنكبوتيَّةِ، وجزاكم اللهُ خيرًا.

الجواب:

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسَّلام على مَن أرْسَله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبهِ وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعدُ:

اعلم ـ رحمك الله ـ أنَّ مِنْ وجوهِ النَّصيحةِ لأئمَّةِ المُسلمين: تذكيرَهم بالمَسؤوليَّةِ المُلْقاةِ على عاتِقِهم، وتعريفَهم بالأخطاء والمُخالَفات التي وَقَعوا فيها برِفقٍ وحِكمةٍ ولُطْفٍ، والأصلُ في وَعْظِهم أَنْ يكون سِرًّا عند الإمكانِ مِنْ غيرِ فضحٍ ولا توبيخٍ ولا تشنيعٍ، قال الشافعيُّ ـ رحمه الله ـ: «مَنْ وَعَظَ أخاهُ سِرًّا فقَدْ نَصَحَه وَزَانَه، ومَنْ وَعَظَه عَلَانِيَةً فقَدْ فَضَحَه وشانَهُ»(١)، وقال ابنُ رجبٍ ـ رحمه الله ـ: «وكان السَّلفُ إذا أرادوا نصيحةَ أحَدٍ وَعَظوهُ سرًّا، حتَّى قال بعضُهم: «مَنْ وَعَظَ أخاهُ فيما بينه وبينه فهي نصيحةٌ، ومَنْ وَعَظَهُ على رؤوسِ النَّاس فإنَّما وبَّخهُ»، وقال الفضيلُ ـ رحمه الله ـ: «المُؤمنُ يَسْتُرُ ويَنصَحُ، والفاجرُ يَهْتِكُ ويُعيِّرُ»، وقال عبد العزيز بنُ أبي روَّادٍ ـ رحمه الله ـ: «كان مَنْ كان قبلَكم إذا رأى الرجلُ مِنْ أخيه شيئًا يأمره في رِفقٍ فيُؤْجَرُ في أَمْرِه ونَهْيِه، وإنَّ أَحَدَ هؤلاء يخرق بصاحِبِه فيَسْتَغْضِبُ أخاهُ ويَهْتِكُ سِتْرَهُ»، وسُئِلَ ابنُ عبَّاسٍ رضي الله عنهما عن أَمْرِ السُّلطان بالمَعروف ونَهْيِه عن المُنْكَرِ فقال: «إِنْ كُنْتَ فاعلًا ولا بُدَّ ففيما بينك وبينه»»(٢)، وقال يحيى بنُ مَعِينٍ: «مَا رَأَيْتُ عَلَى رَجُلٍ خَطَأً إِلَّا سَتَرتُهُ وَأَحْبَبْتُ أَنْ أُزَيِّنَ أَمرَهُ، وَمَا اسْتَقبَلتُ رَجُلًا فِي وَجْهِهِ بِأَمرٍ يَكرَهُهُ، وَلَكِنْ أُبَيِّنُ لَهُ خَطَأَهُ فِيمَا بَينِي وَبَيْنَهُ، فَإِنْ قَبِلَ ذَلِكَ وَإِلَّا تَرَكتُهُ»(٣).

ويتمُّ وَعْظُ وُلاةِ الأُمورِ سِرًّا؛ إمَّا عن طريقِ خِطابٍ سِرِّيٍّ مُرْسَلٍ إليهم عبرَ البريدِ الخاصِّ أو الإلكترونيِّ، وإمَّا بتسليمِه لهم يدويًّا بواسطةِ ثِقَةٍ، أو بطلبِ لقاءٍ أَخَويٍّ يُسِرُّ إليهم فيه بالنَّصيحةِ، ونحوِ ذلك مِنْ أسبابِ حُصولِ الانتفاعِ بالنَّصيحةِ في مَجالِ الدَّعوةِ والتَّعليمِ والإعلامِ؛ وعلى هذا يُحمَل حديثُ: «مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ»(٤).

أمَّا إذا لم يُمكِنْ وَعظُهُم سِرًّا في إزالةِ مُنكرٍ وقَعوا فيه علنًا، وغَلَبَ على الظَّنِّ تحصيلُ الخيرِ بالإنكارِ العَلَني مِنْ غيرِ تَرَتُّبِ أيِّ مفسدةٍ فإنَّه يجوزُ ـ والحال هذه ـ نصيحتُهم والإنكارُ عليهم عَلَنًا دون هتكٍ ولا تعييرٍ ولا تشنيعٍ، وهو ما تقتضيه الحِكمةُ مِنْ إنكارِ المُنكرِ وإحقاقِ الحقِّ وتحصيلِ الخيرِ، فقد أنكر الصَّحابيُّ الجليلُ أبو سعيدٍ الخُدريُّ رضي اللهُ عنه على مروانَ بنِ الحَكَمِ في تقديمِهِ الخُطبةَ على صلاة العيد من غير تشهيرٍ ولا تأليبٍ، ولكنَّه كان علنًا على مَرْأًى وَمَسْمَعٍ مِنَ الصَّحابةِ وغيرِهم مِنْ غيرِ نكيرٍ(٥)، ويؤيِّدُه ما قاله أبو قلابة: «كُنْتُ بِالشَّامِ فِي حَلْقَةٍ فِيهَا مُسْلِمُ بْنُ يَسَارٍ، فَجَاءَ أَبُو الْأَشْعَثِ، قَالَ: قَالُوا: أَبُو الْأَشْعَثِ، أَبُو الْأَشْعَثِ، فَجَلَسَ، فَقُلْتُ لَهُ: حَدِّثْ أَخَانَا حَدِيثَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، قَالَ: نَعَمْ، غَزَوْنَا غَزَاةً وَعَلَى النَّاسِ مُعَاوِيَةُ، فَغَنِمْنَا غَنَائِمَ كَثِيرَةً، فَكَانَ فِيمَا غَنِمْنَا آنِيَةٌ مِنْ فِضَّةٍ، فَأَمَرَ مُعَاوِيَةُ رَجُلًا أَنْ يَبِيعَهَا فِي أُعْطِيَاتِ النَّاسِ، فَتَسَارَعَ النَّاسُ فِي ذَلِكَ، فَبَلَغَ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ، فَقَامَ فَقَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَنْهَى عَنْ بَيْعِ الذَّهَبِ بِالذَّهَبِ، وَالْفِضَّةِ بِالْفِضَّةِ، وَالْبُرِّ بِالْبُرِّ، وَالشَّعِيرِ بِالشَّعِيرِ، وَالتَّمْرِ بِالتَّمْرِ، وَالْمِلْحِ بِالْمِلْحِ، إِلَّا سَوَاءً بِسَوَاءٍ، عَيْنًا بِعَيْنٍ، فَمَنْ زَادَ أَوِ ازْدَادَ فَقَدْ أَرْبَى»، فَرَدَّ النَّاسُ مَا أَخَذُوا، فَبَلَغَ ذَلِكَ مُعَاوِيَةَ فَقَامَ خَطِيبًا، فَقَالَ: أَلَا مَا بَالُ رِجَالٍ يَتَحَدَّثُونَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَادِيثَ قَدْ كُنَّا نَشْهَدُهُ وَنَصْحَبُهُ فَلَمْ نَسْمَعْهَا مِنْهُ! فَقَامَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ فَأَعَادَ القِصَّةَ، ثُمَّ قَالَ: «لَنُحَدِّثَنَّ بِمَا سَمِعْنَا مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ كَرِهَ مُعَاوِيَةُ ـ أَوْ قَالَ: وَإِنْ رَغِمَ ـ مَا أُبَالِي أَنْ لَا أَصْحَبَهُ فِي جُنْدِهِ لَيْلَةً سَوْدَاءَ»»(٦).

وهذا غيضٌ مِن فَيْضٍ من إنكارِ الصَّحابةِ رضي الله عنهم على الأمراءِ والوُلاةِ، وفي هذا السِّياق قال ابنُ القيِّمِ ـ رحمه الله ـ: «ما قاله عبادةُ بنُ الصَّامِتِ وغيرُه: بايعنا رسولَ الله صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّم على أن نقولَ بالحقِّ حيث كُنَّا، ولا نخافَ في اللهِ لومةَ لائمٍ ونحن نشهدُ [بالله] أنَّهم وَفَّوْا بهذه البَيعةِ، وقالوا بالحقِّ، وصَدعوا به، ولم تأخذهم في اللهِ لومةُ لائمٍ، ولم يكتموا شيئًا منه مخافةَ سوطٍ ولا عصًا ولا أميرٍ ولا والٍ كما هو معلومٌ لِمَن تأمَّلَهُ مِنْ هديهِم وسيرتِهم، فقد أنكر أبو سعيدٍ على مروانَ وهو أميرٌ على المَدينةِ، وأنكر عُبادةُ بنُ الصَّامِتِ على معاويةَ وهو خليفَةٌ، وأنكر ابنُ عمرَ على الحَجَّاج مع سَطوتِهِ وبأسِهِ، وأنكرَ على عمرٍو بنِ سعيدٍ وهو أميرٌ على المَدينةِ، وهذا كثيرٌ جِدًّا مِن إنكارِهم على الأمراءِ والولاةِ إذا خرجوا عن العَدلِ لم يخافوا سَوْطَهُم ولا عقوبتَهم، ومَن بعدَهم لم تكن لهم هذه المَنزلةُ، بل كانوا يتركون كثيرًا مِنَ الحقِّ خوفًا مِنْ وُلاةِ الظُّلم وأمراءِ الجَوْرِ، فمِنَ المُحالِ أن يُوفَّق هؤلاءِ للصَّوابِ ويُحرَمَهُ أصحابُ رسولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّم»(٧).

عِلمًا أنَّ النَّصيحةَ العَلَنيةَ تُؤدَّى مِنْ غيرِ هَتْكٍ ولا تعييرٍ ولا تشنيعٍ لمُنافاتِها للجانب الأخلاقيِّ، ولا خروجٍ بالقول والفِعلِ لمُخالَفتِه لِمَنهجِ الإسلامِ في الحُكمِ والسِّياسةِ، بَلْهَ إذا أجازوا تقديمَ النَّصيحةِ أمامهم عَلَنًا، وفَتَحوا على أَنْفُسهم بابَ إبداءِ الرَّأي والانتقادِ وأَذِنوا فيه، وهذا متضمَّنٌ في قولِ الصِّدِّيقِ رضي الله عنه: «وإِنْ رَأَيْتُمُونِي عَلَى بَاطِلٍ فَسَدِّدُونِي»، وفي لفظٍ: «وَإِنْ زِغْتُ فَقَوِّمُونِي»(٨)، قال النَّووي ـ رحمه الله ـ: «وَفيهِ الأَدبُ مع الأُمَرَاءِ واللُّطفُ بِهم وَوَعْظُهُمْ سِرًّا وَتَبْلِيغُهُمْ ما يقولُ النَّاسُ فِيهِم لِيَنْكَفُّوا عَنهُ، وَهَذَا كُلُّه إذا أَمكَنَ ذلك، فإِنْ لم يُمكنِ الوَعظُ سِرًّا وَالإِنكارُ فَلْيَفْعَلْهُ عَلانيَةً؛ لِئَلَّا يَضِيعَ أَصلُ الحَقِّ»(٩)، وقال ـ رحمه الله ـ في موضعٍ آخر: «قال العلماءُ: ولا يَختصُّ الأمرُ بالمَعروفِ والنَّهيُ عن المُنكَرِ بأصحابِ الولاياتِ، بل ذلك جائزٌ لآحادِ المُسلمينَ؛ قال إمامُ الحَرمَينِ: والدَّليلُ عليه: إجماعُ المُسلمينَ، فإنَّ غَيْرَ الوُلاةِ في الصَّدرِ الأَوَّلِ والعَصرِ الَّذي يليهِ كانوا يَأمرونَ الوُلاةَ بِالمَعروفِ ويَنهَوْنَهم عَنِ المُنكَرِ، مع تقريرِ المُسلمِينَ إيَّاهم وتركِ توبيخِهم على التَّشاغُل بالأمرِ بالمَعروفِ والنَّهيِ عَنِ المُنكَرِ مِنْ غيرِ وِلايةٍ»(١٠)، علمًا أنَّ كلمةَ الحقِّ تَعْلُو على منصبِ الإمامةِ، وهَيبةُ السُّلطانِ لا تمنعُ الرَّدَّ عليه وإنكارَ مَقالتِهِ بالتلطُّف واللِّين بضوابطِ النَّصيحةِ وشُروطِهَا المُتقدِّمةِ مِنْ باب إرادةِ الخير وكراهةِ الشرِّ له، وذلك مِنْ حقِّ الإمام على الأمَّة، وفيه إحياءٌ له وإنقاذٌ له مِنَ التقاحم في النَّارِ، ويشهدُ لذلك ما أخرجه الطَّبَرَانِيُّ في «المُعجم الكبير»(١١) و«الأوسط»(١٢)، وأبو يعلى في «مسنده»(١٣)، وابنُ عساكر في «تاريخ دمشق»(١٤)، مِن حديثِ مُعاويةَ رضي الله عنه أنَّه قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «سَتَكُونُ أَئِمَّةٌ مِنْ بَعْدِي يَقُولُونَ فَلَا يُرَدُّ عَلَيْهِمْ قَوْلُهُمْ يَتَقَاحَمُونَ فِي النَّارِ كَمَا تَقَاحَمُ القِرَدَةُ»(١٥)، قال الصَّنعانِيُّ ـ رحمه الله ـ شارحًا معنى الحديث: ««سَتَكُونُ أَئِمَّةٌ مِنْ بَعْدِي يَقُولُونَ» أي: المُنْكَرَ مِنَ القَوْلِ، بدليل قوله: «فَلَا يُرَدُّ عَلَيْهِمْ قَوْلُهُمْ» مهابةً لهم وخوفًا مِن بطشهِم، «يَتَقَاحَمُونَ فِي النَّارِ»، أي: يقعونَ فيها كما يَقتحِمُ الإنسانُ الأمرَ العظيمَ ويرمي نفسَهُ فيه بلا رَوِيَّةٍ، «كَمَا تَقَاحَمُ القِردةُ» أي: في الأمرِ الذي يثبت عليه هذا، ويحتملُ أنَّ الضَّميرَ «يَتَقَاحَمُونَ» للأئمَّةِ ولِمَن لم يَرُدَّ عليهِم مُداهنَةً وتهاوُنًا في الدِّينِ»(١٦).

وجديرٌ بالتنبيه أنَّه إذا غَلَبَ على الظَّنِّ عدمُ زوالِ المَفسدةِ والمُنكَرِ بالوعظِ العَلَني، بل قد يترتَّبُ عليه نتائجُ عكسيَّةٌ مُضِرَّةٌ بالدَّعوةِ إلى اللهِ وبالنَّاصحين علنًا، فإنَّ ما تقتضيه المَصلحةُ ـ والحال هذه ـ تجنُّبُ الإنكارِ العَلَنيِّ والاكتفاءُ بوعظهم سِرًّا عند الإمكان، قال ابن العثيمين ـ رحمه الله ـ: «فإذا رأينا أنَّ الإنكار علنًا يزولُ به المُنكَرُ ويحصلُ به الخيرُ فلنُنْكِرْ عَلَنًا، وإذا رأينا أنَّ الإنكارَ عَلَنًا لا يزول به الشَّرُّ، ولا يحصل به الخيرُ بل يزدادُ ضغطُ الوُلاةِ على المُنكرينَ وأهلِ الخيرِ، فإنَّ الخيرَ أَنْ نُنكرَ سِرًّا، وبهذا تجتمعُ الأدلَّة، فتكونُ الأدلَّةُ الدَّالَّةُ على أنَّ الإنكارَ يكون علنًا: فيما إذا كُنَّا نتوقَّعُ فيه المَصلحةَ، وهي حصولُ الخيرِ وزوالُ الشَّرِّ، والنُّصوصُ الدَّالَّةُ على أنَّ الإنكارَ يكونُ سِرًّا: فيما إذا كان إعلانُ الإنكارِ يزدادُ به الشَّرُّ ولا يحصلُ به الخيرُ»(١٧).

والعلم عند الله تعالى، وآخِرُ دعوانا أنِ الحمدُ لله ربِّ العالمين، وصلَّى الله على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبِه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسلَّم تسليمًا.

 

الجزائر في: ١٧ شوال ١٤٤٢هـ

المـوافــق ﻟ: ٢٩ ماي ٢٠٢١م


(١) «حلية الأولياء» لأبي نُعَيْم (٩/ ١٤٠)، «شرح مسلم» للنَّوويِّ (٢/ ٢٤).

(٢) «جامِع العلوم والحِكَم» (٧٧).

(٣) انظر: «سِيَر أعلام النُّبلاء» للذَّهبي (١١/ ٨٣).

(٤) أخرجه ابنُ أبي عاصمٍ في «السُّنَّة» (٢/ ٥٢١)، من حديث عِيَاضِ بنِ غُنْمٍ رضي الله عنه، وصحَّحه الألبانيُّ في «ظلال الجنة» (١٠٩٦).

(٥) أخرجه البخاريُّ في «أبواب العيدين» (٢/ ١٧) باب الخروج إلى المُصلَّى بغير منبرٍ، ومسلمٌ في «صلاة العيدين» (١/ ٦٩) باب بيانِ كونِ النَّهيِ عن المُنكَرِ مِنَ الإيمانِ، مِنْ حديثِ أبي سعيدٍ الخُدريِّ رضي الله عنه

(٦) أخرجه مسلم في «المساقاة» (١١/ ١٣)، باب الصرف وبيع الذهب بالورق نقدًا.

(٧) «إعلام الموقعين» لابن القيم (٤/ ١١٠).

(٨) أخرجه ابن جرير في «التاريخ» (٢/ ٢٣٧)، وابن هشام في «السِّيرة النَّبوية» مِنْ طريق محمَّدِ بنِ إسحاق بن يسار عن الزُّهري عن أنس بن مالك رضي الله عنه، قال ابنُ كثيرٍ [في «البداية والنهاية» (٥/ ٢٤٨، ٦/ ٣٠١)]: «وهذا إسناد صحيح».

(٩) «شرح مسلم» (١٨/ ١١٨)

(١٠) المصدر السابق (٢/ ٢٣).

(١١) (١٩/ ٣٩٣).

(١٢) (٥/ ٢٧٩).

(١٣) (١٣/ ٣٧٣).

(١٤) (٥٩/ ١٦٨).

(١٥) الحديث صَحَّحه الألبانيُّ في «السِّلسلة الصَّحيحة» (٤/ ٣٩٨)، وحسين أسد مُحقِّق «مسند أبي يعلى» (١٣/ ٣٧٣).

(١٦) «التَّنوير شرح الجامع الصغير» (٦/ ٣٩٠).

(١٧) «لقاء الباب المفتوح» (٦٢/ ١٠
Ust yhouga pratama

nasihat Syekh Abdul Aziz bin Baz *rahimahullah* mengenai fenomena mencela atau menjatuhkan kehormatan sesama aktivis dakwah (fitnah *tajrih*):## ⛔️ Peringatan Syekh Abdul Aziz bin

⛔️تحذير الشيخ عبد العزيز بن باز من فتنة التجريح…

🔶️قد بدأت هذه الفتنة في حياة الشيخ عبد العزيز بن باز والشيخ محمد بن صالح العثيمين، ولذلك نجد لهما كثيرًا من الأشرطة التي تحذر تحذيرًا شديدًا من هذه الفتنة، التي هي وباء وسرطان هذا الزمان.

✍️ قال #المفتي الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله :

🔷️[ قد شاع في هذا العصر أن كثيرا من المنتسبين إلى العلم والدعوة إلى الخير يقعون في أعراض كثير من إخوانهم الدعاة المشهورين، ويتكلمون في أعراض طلبة العلم والدعاة والمحاضرين. يفعلون ذلك سرا في مجالسهم. وربما سجلوه في أشرطة تنشر على الناس، وقد يفعلونه علانية في محاضرات عامة في المساجد، وهذا المسلك مخالف لما أمر الله به ورسوله ﷺ ]

🔷️[ أنه تعد على حقوق الناس من المسلمين، بل من خاصة الناس من طلبة العلم والدعاة الذين بذلوا وسعهم في توعية الناس وإرشادهم ]

🔷️[ أنه تفريق لوحدة المسلمين وتمزيق لصفهم. وهم أحوج ما يكونون إلى الوحدة والبعد عن الشتات والفرقة وكثرة القيل والقال فيما بينهم، خاصة وأن الدعاة الذين نيل منهم هم من أهل السنة والجماعة المعروفين بمحاربة البدع والخرافات، والوقوف في وجه الداعية إليها، وكشف خططهم وألاعيبهم. ولا نرى مصلحة في مثل هذا العمل إلا للأعداء المتربصين من أهل الكفر والنفاق أو من أهل البدع والضلال ]

🔷️[ أن هذا العمل فيه مظاهرة ومعاونة للمغرضين من العلمانيين والمستغربين وغيرهم من الملاحدة الذين اشتهر عنهم الوقيعة في الدعاة والكذب عليهم والتحريض ضدهم فيما كتبوه وسجلوه، وليس من حق الأخوة الإسلامية أن يعين هؤلاء المتعجلون أعداءهم على إخوانهم من طلبة العلم والدعاة وغيرهم ]

🔷️[ إن في ذلك إفسادا لقلوب العامة والخاصة، ونشرا وترويجا للأكاذيب والإشاعات الباطلة، وسببا في كثرة الغيبة والنميمة وفتح أبواب الشر على مصاريعها لضعاف النفوس الذين يدأبون على بث الشبه وإثارة الفتن ويحرصون على إيذاء المؤمنين بغير ما اكتسبوا ]

🔷️[ وما وجد من اجتهاد لبعض العلماء وطلبة العلم فيما يسوغ فيه الاجتهاد فإن صاحبه لا يؤاخذ به ولا يثرب عليه إذا كان أهلا للاجتهاد، فإذا خالفه غيره في ذلك كان الأجدر أن يجادله بالتي هي أحسن، حرصا على الوصول إلى الحق من أقرب طريق ودفعا لوساوس الشيطان وتحريشه بين المؤمنين، فإن لم يتيسر ذلك، ورأى أحد أنه لا بد من بيان المخالفة فيكون ذلك بأحسن عبارة وألطف إشارة، ودون تهجم أو تجريح أو شطط في القول قد يدعو إلى رد الحق أو الإعراض عنه. ودون تعرض للأشخاص أو اتهام للنيات أو زيادة في الكلام لا مسوغ لها. وقد كان الرسول صلى الله عليه وسلم يقول في مثل هذه الأمور ما بال أقوام قالوا كذا وكذا ]

🔷️[ فالذي أنصح به هؤلاء الأخوة الذين وقعوا في أعراض الدعاة ونالوا منهم أن يتوبوا إلى الله تعالى مما كتبته أيديهم، أو تلفظت به ألسنتهم مما كان سببا في إفساد قلوب بعض الشباب وشحنهم بالأحقاد والضغائن، وشغلهم عن طلب العلم النافع، وعن الدعوة إلى الله بالقيل والقال والكلام عن فلان وفلان، والبحث عما يعتبرونه أخطاء للآخرين وتصيدها، وتكلف ذلك

 كما أنصحهم أن يكفروا عما فعلوا بكتابة أو غيرها مما يبرئون فيه أنفسهم من مثل هذا الفعل ويزيلون ما علق بأذهان من يستمع إليه من قولهم، وأن يقبلوا على الأعمال المثمرة التي تقرب إلى الله وتكون نافعة للعباد، وأن يحذروا من التعجل في إطلاق التكفير أو التفسيق أو التبديع لغيرهم بغير بينة ولا برهان وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: «من قال لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما » متفق على صحته.

ومن المشروع لدعاة الحق وطلبة العلم إذا أشكل عليهم أمر من كلام أهل العلم أو غيرهم أن يرجعوا فيه إلى العلماء المعتبرين ويسألوهم عنه ليبينوا لهم جلية الأمر ويوقفوهم على حقيقته ويزيلوا ما في أنفسهم من التردد والشبهة عملا بقول الله عز وجل في سورة النساء: {وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا}  ]

📍المصدر : مجموع فتاوى ابن باز 7-311
📰نشرت في الصحف اليومية: الجزيرة والرياض، والشرق الأوسط يوم السبت ٢٢ \ ٦ \ ١٤١٢ هـ.

#غلاة_التجريح 
#غلاة_التبديع 
#الجرح_والتعديل 
#فتنة_التجريح
#غيبة_العلماء 
#رفقا_أهل_السنة_بأهل_السنة

 nasihat Syekh Abdul Aziz bin Baz *rahimahullah* mengenai fenomena mencela atau menjatuhkan kehormatan sesama aktivis dakwah (fitnah *tajrih*):
## ⛔️ Peringatan Syekh Abdul Aziz bin Baz Terhadap Fitnah Tajrih (Mencela Kehormatan)
🔶 Fitnah ini telah dimulai sejak masa hidup Syekh Abdul Aziz bin Baz dan Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Oleh karena itu, kita mendapati banyak rekaman ceramah mereka yang memperingatkan dengan keras fitnah ini, yang merupakan wabah dan "kanker" di zaman ini.
✍️ **Mufti Syekh Abdul Aziz bin Baz *rahimahullah* berkata:**
🔷 "Telah tersebar di masa ini, bahwa banyak orang yang menisbatkan diri kepada ilmu dan dakwah, jatuh ke dalam perbuatan mencela kehormatan saudara-saudara mereka dari kalangan dai-dai masyhur. Mereka membicarakan kehormatan para penuntut ilmu dan penceramah, baik secara sembunyi-sembunyi di majelis mereka, melalui rekaman kaset yang disebarkan, atau bahkan secara terang-terangan dalam ceramah umum di masjid-masjid. Perbuatan seperti ini menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ."
🔷 "Ini merupakan pelanggaran terhadap hak-hak kaum muslimin, bahkan terhadap orang-orang khusus dari kalangan penuntut ilmu dan dai yang telah mengerahkan kemampuan mereka dalam memberi kesadaran dan bimbingan kepada masyarakat."
🔷 "Hal ini menyebabkan pecahnya persatuan umat Islam dan terkoyaknya barisan mereka. Padahal umat saat ini sangat butuh kepada persatuan dan menjauhkan diri dari perpecahan serta banyaknya desas-desus (*qila wa qala*) di antara mereka. Terlebih lagi, para dai yang dicela tersebut adalah termasuk Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dikenal memerangi bid'ah dan takhayul, serta berdiri menghadang para penyerunya. Kami tidak melihat adanya maslahat dalam perbuatan semacam ini, kecuali bagi musuh-musuh yang menunggu kesempatan, baik dari kaum kafir, munafik, maupun ahli bid'ah."
🔷 "Perbuatan ini mengandung unsur bantuan kepada kaum sekuler, orang-orang yang terbarat-baratkan (*mustaghribun*), serta kaum ateis yang dikenal suka menjatuhkan dai, memfitnah, dan menghasut mereka. Bukanlah bagian dari hak persaudaraan Islam jika orang-orang yang tergesa-gesa ini justru membantu musuh dalam menyudutkan saudara mereka sendiri."
🔷 "Sesungguhnya dalam perbuatan ini terdapat kerusakan bagi hati orang awam maupun kalangan khusus, serta menjadi sarana penyebaran kebohongan dan isu batil. Ia menjadi sebab banyaknya ghibah dan adu domba, serta membuka pintu keburukan selebar-lebarnya bagi jiwa-jiwa yang lemah yang gemar menyebar syubhat dan menyakiti orang-orang beriman tanpa alasan yang benar."
🔷 "Adapun perbedaan ijtihad di antara ulama dan penuntut ilmu pada masalah yang memang dibolehkan ijtihad di dalamnya, maka pelakunya tidak boleh dicela jika ia memang ahli ijtihad. Jika ada yang menyelisihinya, hendaknya ia mendebat dengan cara yang lebih baik demi mencapai kebenaran melalui jalan terdekat, serta untuk menepis waswas setan. Jika tidak memungkinkan, dan seseorang merasa harus menjelaskan kesalahan tersebut, maka hendaknya dilakukan dengan ungkapan yang paling baik dan isyarat yang paling lembut, tanpa menyerang, mencela, atau berlebihan dalam ucapan yang justru bisa menyebabkan orang menolak kebenaran tersebut. Janganlah menyerang pribadi, menuduh niat, atau menambah-nambah perkataan yang tidak perlu. Rasulullah ﷺ dahulu ketika menghadapi hal semacam ini bersabda: *'Mengapa ada kaum yang berkata begini dan begitu...'*."
🔷 "Nasihat saya kepada saudara-saudara yang telah jatuh ke dalam perbuatan mencela kehormatan para dai: Hendaklah mereka bertaubat kepada Allah atas apa yang telah ditulis oleh tangan mereka atau diucapkan oleh lisan mereka, yang telah merusak hati sebagian pemuda, memenuhi mereka dengan kebencian, serta menyibukkan mereka dari menuntut ilmu yang bermanfaat menjadi sibuk dengan *qila wa qala* (katanya dan katanya) tentang si Fulan dan si Fulan, serta mencari-cari kesalahan orang lain.
Saya juga menasihati mereka agar menebus kesalahan tersebut dengan tulisan atau cara lain yang menyatakan lepas diri dari perbuatan tersebut, guna menghilangkan apa yang sempat menempel di benak pendengar mereka. Hendaklah mereka beralih kepada amal yang produktif yang mendekatkan diri kepada Allah, serta berhati-hati agar tidak tergesa-gesa menjatuhkan vonis kafir, fasik, atau bid'ah kepada orang lain tanpa bukti yang nyata. Nabi ﷺ bersabda: *'Barangsiapa berkata kepada saudaranya "Wahai Kafir", maka vonis itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya.'* (Muttafaqun 'Alaih).
Disyariatkan bagi para penyeru kebenaran dan penuntut ilmu, jika mendapati perkara yang rancu dari perkataan ulama atau selainnya, untuk merujuk kembali kepada ulama senior yang berkompeten agar dijelaskan hakikat masalahnya, sesuai firman Allah dalam Surat An-Nisa:
> *'Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulul Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulul Amri)...'* (QS. An-Nisa: 83)."
**📍 Sumber:** *Majmu' Fatawa Ibn Baz (7/311).*
**📰 Dipublikasikan di surat kabar harian:** *Al-Jazirah, Ar-Riyadh, dan Ash-Sharq al-Awsat pada Sabtu, 22 Jumadil Akhir 1412 H.*