Minggu, 30 Agustus 2026

Tatkala Allah ingin menjadikan nama seorang alim itu harum dan terangkat kembali setelah mereka tiada adalah adanya orang-orang yang mencoreng kehormatan atau menusuk ilmu yang dibawa oleh sang alim

Tatkala Allah ingin menjadikan nama seorang alim itu harum dan terangkat kembali setelah mereka tiada adalah adanya orang-orang yang mencoreng kehormatan atau menusuk ilmu yang dibawa oleh sang alim. Hal itu juga bagian dari cara Allah untuk tetap terus memberikan limpahan rahmat serta pahala kepada sang alim dengan adanya lisan-lisan yang tak bertanggung jawab berbicara tentang dirinya. 

Itulah mengapa tatkala Ummul Mu'minin Aisyah mendengar adanya segerombolan manusia yang mencaci para shahabat, terkhusus mencaci Abu Bakar & Umar - yang mana mereka adalah para ulama umat dan mufti kaum muslimin-, maka Aisyah berkata; 

"Mengapa kalian heran dengan hal ini? Amal perbuatan mereka telah terputus (karena wafat), maka Allah ingin agar pahala mereka tidak terputus (dengan adanya celaan terhadap mereka -pent)." (HR. Muslim) 

Semoga Allah merahmati al Imam al Muhaddits Muhammad Nashiruddin al Albani dan mengampunkan kesalahan-kesalahan beliau serta memasukkan beliau kedalam surga Firdaus yang tertinggi.
Ustadz yami cahyanto

Tafsir dari Majmu' al-Fatawa karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah (5/309):

التفسير من مجموع الفتاوى لشيخ الإسلام ابن تيمية (5/ 309)


والمقصود هنا أن أئمة السنة ـ كأحمد بن حنبل وغيره ـ كانوا إذا ذكرت لهم أهل البدع الألفاظ المجملة، كلفظ الجسم والجوهر والحيز ونحوها، لم يوافقوهم لا على إطلاق الإثبات، ولا على إطلاق النفي . وأهل البدع بالعكس ابتدعوا ألفاظًا ومعاني، إما في النفي، وإما في الإثبات، وجعلوها هي الأصل المعقول المحكم، الذي يجب اعتقاده، والبناء عليه، ثم نظروا في الكتاب والسنة، فما أمكنهم أن يتأولوه على قولهم تأولوه، وإلا قالوا : هذا من الألفاظ المتشابهة المشكلة التي لا ندري ما أريد بها، فجعلوا بدعهم أصلًا محكمًا، وما جاء به الرسول فرعًا له ومشكلًا، إذا لم يوافقه . وهذا أصل الجهمية والقدرية وأمثالهم، وأصل الملاحدة من الفلاسفة الباطنية، جميع كتبهم توجد على هذا الطريق، ومعرفة الفرق بين هذا وهذا من أعظم ما يعلم به الفرق بين الصراط المستقيم الذي بعث اللّه به رسوله، وبين السبل المخالفة له، وكذلك الحكم في المسائل العلمية الفقهية، ومسائل أعمال القلوب وحقائقها وغير ذلك . كل هذه الأمور قد دخل فيها ألفاظ ومعان محدثة، وألفاظ ومعان مشتركة .

فالواجب أن يجعل ما أنزله اللّه من الكتاب والحكمة أصلًا في جميع هذه الأمور، ثم يرد ما تكلم فيه الناس إلى ذلك، ويبين مافي الألفاظ المجملة من المعاني الموافقة للكتاب والسنة فتقبل، وما فيها من المعاني /المخالفة للكتاب والسنة فترد .

Ustadz babanya sofia 

Tafsir dari Majmu' al-Fatawa karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah (5/309):

​Maksud di sini adalah bahwa para imam Sunnah—seperti Ahmad bin Hanbal dan lainnya—apabila para ahli bid'ah menyebutkan kepada mereka lafal-lafal yang bermakna samar (al-alfazh al-muj构lah), seperti lafal jism (tubuh/materi), jauhar (substansi asal), hayyiz (ruang/tempat), dan sejenisnya, mereka tidak akan menyetujui para ahli bid'ah tersebut, baik dalam menetapkannya secara mutlak maupun menafikannya secara mutlak.

​Sebaliknya, para ahli bid'ah telah membuat-buat lafal dan makna baru, baik dalam penafian maupun penetapan. Mereka menjadikannya sebagai landasan akal yang kukuh (al-asl al-ma'qul al-muhkam) yang wajib diyakini dan dijadikan pijakan. Setelah itu, barulah mereka melihat kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah; apa yang memungkinkan untuk mereka takwilkan agar sesuai dengan pendapat mereka, maka mereka takwilkan. Jika tidak memungkinkan, mereka akan berkata: "Ini termasuk lafal-lafal samar (mutasyabihat) dan rumit yang tidak kita ketahui apa maksudnya."

​Dengan demikian, mereka menjadikan bid'ah mereka sebagai landasan utama yang kukuh (aslan muhkaman), sedangkan apa yang dibawa oleh Rasul dijadikan sebagai cabang (far'an) baginya dan dianggap rumit apabila tidak sejalan dengannya. Ini merupakan metode dasar kaum Jahmiyah, Qadariyah, dan sejenisnya, serta metode dasar orang-orang mulhid dari kalangan filsuf dan kaum Batiniyah. Seluruh kitab mereka ditulis dengan cara seperti ini.

​Memahami perbedaan antara metode ini dan metode Ahlus Sunnah termasuk hal terbesar yang dengannya dapat diketahui perbedaan antara jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim) yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya, dengan jalan-jalan lain yang menyimpang darinya.

​Demikian pula hukum dalam masalah-masalah ilmu fikih, serta masalah-masalah amalan hati dan hakikatnya. Semua perkara ini telah disusupi oleh lafal-lafal dan makna-makna baru (muhdasah), serta lafal-lafal dan makna-makna yang berpotensi ganda (musytarakah).

​Maka, hal yang wajib dilakukan adalah menjadikan Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah) yang diturunkan oleh Allah sebagai landasan utama dalam seluruh perkara ini. Kemudian, mengembalikan apa yang diperbincangkan oleh manusia kepada landasan tersebut, serta menjelaskan makna-makna di dalam lafal-lafal samar (al-alfazh al-muj-malah) tersebut:

  • ​Makna yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah diterima.
  • ​Makna yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah ditolak

menghilang karena tidak sesuai seleranya

Kenikmatan dunia ada tiga

وينسب إليها أحمد بن الطيب السرخسي الحكيم الظريف الذي تظهر حكمته مع الظرافة. ذكر أنه سئل عن لذات الدنيا ثلاث، فقال: لذات الدنيا ثلاث: أكل اللحم، وركوب اللحم، وإدخال اللحم في اللحم؛ فسمع ذلك

Ahmad bin At-Thayyib as-Sarokhsiy pernah ditanya tentang kenikmatan dunia, maka dia menjawab,

"Kenikmatan dunia ada tiga : memakan daging, menunggangi daging, memasukan daging kedalam daging".

Atsarul Bilad wa Akhbarul Ibad, hal. 390

keluar mani lebih dulu

memberi hikmah dan pengalaman

Tanggapan Ulama Al-Azhar Terhadap Syaikh Al-Albani

Tanggapan Ulama Al-Azhar Terhadap Syaikh Al-Albani

Pada bulan Juni kemarin saya melihat postingan mengenai pujian guru besar kami (Dr. Ma'bad Abdul Karim) dalam bidang hadits yang sampai sekarang masih mengajar di Masjid Al-Azhar.

Pujian beliau pada Syaikh Al-Albani kurang lebih kalau diterjemahkan seperti ini:

 "Telah menyebutkan Al-Allamah Doktor Ahmad Ma'bad Abdil Karim -semoga Allah meridhoinya- dan beliau adalah Syaikhnya para ahli hadits di Al-Azhar Asy-Syarif: Bahwasanya Syaikh Al-Albani -semoga Allah meridhoinya- dahulu sudah menshahihkan dan mendha'ifkan (hadits) 50 tahun sebelum ilmu sanad dan ilmu 'ilal masuk ke Al-Azhar Asy-Syarif. Dan ilmu ini baru masuk ke Al-Azhar melalui tangan Syaikh Ahmad Ath-Thayyib sejak 10 tahun saja. Adapun Al-Albani -semoga Allah meridhoinya- maka beliau adalah Imam dunia di zaman ini dalam ilmu As-Sunnah, dan semoga Allah mengabadikan penyebutannya di kalangan orang-orang shalih. Dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi orang-orang yang ikhlas, karena sebutan yang baik itu tidak Allah jadikan kecuali untuk orang-orang yang ikhlas... Dan akan terus ada sampai hari kiamat di seluruh penjuru timur dan barat bumi (ucapan): "Dishahihkan oleh Al-Albani, Didha'ifkan oleh Al-Albani, Dihasankan oleh Al-Albani" Semoga Allah meridhoi Syaikh Al-Albani."

Kemudian saya pribadi sebagai orang yang banyak membaca fatwa-fatwa Syaikh Al-Albani dan banyak tidak setuju dengan fatwa-fatwanya, sedikit kaget karena pujian itu muncul dari guru kami dalam bidang hadits. Akhirnya saya bertanya langsung kepada dosen saya dalam bidang hadits juga, karena mungkin kedekatan beliau dengan Dr. Ma'bad akan lebih erat daripada penulis status.

Saya bertanya ( via chat) untuk mengkonfirmasi apakah pujian itu betul dinisbatkan kepada Dr. Ma'bad? Dosen kami menjawab singkat: ya (betul).

Namun hal yang menarik yang selalu diucapkan oleh dosen kami dalam bidang ushul dan bidang kalam ketika kami mengkaji kitab Minhaj (Ushul Fiqih), beliau menyindir Syaikh Al-Albani dengan pandangan rasional menurut saya, dan pandangan ini saya sudah pernah postingkan sebelumnya. Beliau berkata:

Hadits-hadits yang disahihkan oleh Syaikh Albani tidak keluar dari empat kemungkinan berikut:

1. Beliau mensahihkan dan ulama terdahulu juga mensahihkan. Maka ini tidak memberikan faedah baru, karena termasuk tahshilul hasil.

2.Beliau mendaifkan dan ulama terdahulu juga mendaifkan. Ini pun sama, termasuk tahshilul hasil.

3. Beliau mendaifkan sementara ulama terdahulu mensahihkan. Maka dalam hal ini perlu dilakukan pemilihan (tarjih) siapa yang lebih kuat, dan secara rasional ulama terdahulu lebih diunggulkan.

4. Ulama terdahulu mendaifkan, sedangkan beliau mensahihkan. Ini bisa saja diterima, karena mungkin hadis yang sebelumnya dinilai daif naik menjadi hasan dengan adanya metode atau penguat dari hadis lain.

Jadi berdasarkan yang saya perhatikan, guru-guru kami di Al-Azhar dalam bidang hadits memang memuji beliau. Tapi dalam bidang lain maka saya belum pernah mendengar pujian terhadap Syaikh Al-Albani.

Hal yang mudah saya cerna tanggapan mereka bahwa: "Syaikh Al-Albani memang sah menjadi imam dalam bidang hadits pada masanya, tapi dalam bidang lain beliau harus jadi makmum, tidak boleh memaksakan terhadap bidang lain."

Dan ungkapan seperti itu sering dilontarkan oleh ulama-ulama dulu dalam bab kritik, misalkan para ulama sering mengatakan: shaikh fulan memang pemimpin dalam bidang hadits tapi himar dalam bidang kalam.

Dan ucapan ini juga dikatakan oleh Imam Dzahabi terhadap ulama besar, dia berkata:
> فكم من إمام في فن مقصر عن غيره، كسيبويه مثلا إمام في النحو ولا يدري ما الحديث ووكيع إمام في الحديث ولا يعرف العربية، وكأبي نواس رأس في الشعر عري من غيره، وعبد الرحمن بن مهدي إمام في الحديث لا يدري ما الطب، وكمحمد بن الحسن رأس في الفقه ولا يدري ما القراءات، وكحفص إمام في القراءة تالف في الحديث، وللحروب رجال يعرفون بها

 "Betapa banyak seorang imam dalam satu bidang tapi kurang dalam bidang lainnya. Seperti Sibawaih misalnya, imam dalam Nahwu tapi tidak tahu apa itu hadits. Dan Waki' imam dalam hadits tapi tidak mengerti bahasa Arab. Dan seperti Abu Nawas, dia pemimpin dalam syair tapi kosong dari selainnya. Dan Abdurrahman bin Mahdi imam dalam hadits tapi tidak tahu ilmu kedokteran. Dan seperti Muhammad bin Al-Hasan, pemimpin dalam Fiqih tapi tidak tahu ilmu Qiraat. Dan seperti Hafsh, imam dalam Qiraah tapi lemah dalam hadits. Dan untuk peperangan ada orang-orang yang ahli di dalamnya."

Waulahualam
Labib nahwa um
https://www.facebook.com/share/18B6mpE6YP/