Senin, 10 Agustus 2026

Ada sebuah ungkapan indah yang terdapat dalam kitab ihya imam Ghozali:

Ada sebuah ungkapan indah yang terdapat dalam kitab ihya imam Ghozali: 

وقيل لبعض الحكماء أي الأشياء تقتنى قال الأشياء التي إذا غرقت سفينتك سبحت معك يعني العلم
Pernah ditanyakan kepada sebagian hukama tentang sesuatu apa yang paling layak untuk di dimiliki?

Ia menjawab: Sesuatu yang apabila kapalmu tenggelam, ia tetap berenang bersamamu. Maksudnya adalah ilmu.

Kemudian dijelaskan:
وقيل أراد بغرق السفينة هلاك بدنه بالموت
Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan tenggelamnya kapal adalah hancurnya tubuh seseorang karena kematian.

Alangkah indahnya perumpamaan ini.. Kapal yang tenggelam menggambarkan kehidupan dunia yang berakhir.

Maka jangan hanya berpikir:
Berapa banyak harta yang berhasil saya kumpulkan?

Tetapi tanyakan juga:
Berapa banyak ilmu yang saya pelajari, amalkan, dan ajarkan?

Wallohu a'lam semoga bermanfaat 
Oleh: Irwan Saleh 
📚 Ihya Ulumiddin juz 1

Seorang perempuan, jika lisannya panjang (banyak berkata-kata/berbicara kasar), maka akan pendek hari harinya bersama suaminya.”

Istri Yang Tidak Menjaga Lisannya. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata:

المرأة إذا طال لسانها قصرت أيامها مع زوجها

“Seorang perempuan, jika lisannya panjang (banyak berkata-kata/berbicara kasar), maka akan pendek hari harinya bersama suaminya.” (Majmu' al-Fatawa (23/360).

Jagalah lisanmu, karena dari lisan yang baik lahirlah rumah tangga yang tenang dan bahagia.
Upw

UKHUWAH ISLAMIYYAH PENTING

UKHUWAH   ISLAMIYYAH  PENTING

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً . الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ . التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

[رواه مسلم]

Dari Abu Hurairah Radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.

(Riwayat Muslim)

- Larangan berbuat hasad. Larangan ini sampai derajat haram. Hasad memiliki berbagai macam bahaya. Benci terhadap qadha dan takdir Allah. Permusuhan antar sesama saudara. Adalah di antara sekian bahayanya. 

- Larangan jual beli munajasyah. 

- Larangan membelakangi. Yaitu memalingkan punggungnya dan tidak memperhatikannya. 

- Larangan jual beli atas jual beli saudaranya dan semisalnya. 

- Wajib hukumnya menumbuhkan ukhuwah imaniyyah. 

- Takwa tempatnya di hati. Jika hatinya bertakwa, tentu anggota badannya bertakwa juga. 

- Pengulangan kalimat yang dirasa penting untuk menjelaskan agar semakin paham

- Besarnya dosa bagi orang yang meremehkan seorang muslim. 

- Darah, harta dan kehormatan seorang muslim hukum aslinya adalah terjaga. Namun, ada beberapa sebab yang membolehkan untuk melanggarnya. 

- Andai umat Islam melaksanakan semua ajaran ini dengan baik, tentu mereka akan bahagia dunia dan akhirat. 

At Ta'liqat Alal Arbain An Nawawiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 152-157

===============

AAAA

menjauh dari seseorang

TIGA KEINDAHAN

TIGA KEINDAHAN 

1. Jika engkau bersabar, maka bersabarlah tanpa mengeluh.”
2. Jika engkau menjauh, maka menjauhlah tanpa menyakiti.”
3. Jika engkau memaafkan, maka maafkanlah tanpa mencela atau menyalahkan.

Lihat 3 ayat ini:

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا
“Maka bersabarlah dengan kesabaran yang indah.”
(QS. Al-Ma‘ārij: 5)

وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
“Dan jauhilah mereka dengan cara yang indah.”
(QS. Al-Muzzammil: 10)

فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ
“Maka maafkanlah dengan pemaafan yg indah.
(QS. Al-Hijr: 85).

Bukan sekadar bersabar, bukan sekadar menjauhi, bukan sekadar memaafkan, tapi bersabar yg indah, menjauhi dg indah, dan memaafkan dg indah.

Menyikapi Tuduhan Terhadap Imam Abu Hanifah rahimahullah dalam Kitab As-Sunnah

Menyikapi Tuduhan Terhadap Imam Abu Hanifah rahimahullah dalam Kitab As-Sunnah

Pertanyaan 224:
​Bagaimana pendapat Anda mengenai tuduhan terhadap Abu Hanifah, seperti tuduhan bahwa beliau berpendapat Al-Qur'an itu makhluk, dan seterusnya, yang tercantum dalam kitab karya Abdullah bin Imam Ahmad?

​Jawaban 224:
​Ini pertanyaan yang bagus. Hal tersebut memang terdapat dalam kitab As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad. Abdullah bin Imam Ahmad hidup pada masa ketika fitnah khalqul Qur'an (isu Al-Qur'an makhluk) sedang memuncak. 

Pada masa itu, orang-orang berargumen menggunakan hal-hal yang dinisbatkan kepada Abu Hanifah, padahal beliau berlepas diri dari pendapat Al-Qur'an itu makhluk.

​Selain itu, dinisbatkan pula kepada beliau takwil sifat yang dinukil oleh kaum Mu'tazilah, padahal beliau juga berlepas diri dari hal tersebut. 

Sebagian riwayat ini terlanjur menyebar di tengah masyarakat, lalu sebagian ulama menilai berdasarkan lahiriah nukilan yang sampai kepada mereka.

​Peristiwa ini terjadi sebelum Abu Hanifah memiliki madzhab dan tradisi keilmuan yang terstruktur secara utuh. Hal itu karena masanya masih relatif dekat dengan masa hidup Abu Hanifah sendiri. 

Saat itu, nukilan-nukilan riwayat masih simpang siur, baik itu perkataan Waki', Sufyan At-Tsawri, Sufyan bin 'Uyainah, maupun ucapan ulama-ulama lainnya mengenai Imam Abu Hanifah.

​Oleh sebab itu, kebutuhan ijtihad Abdullah bin Imam Ahmad pada masa tersebut menuntut beliau untuk mendokumentasikan dan menukil apa saja riwayat/perkataan para ulama yang sampai kepada beliau.

​Namun setelah berlalunya era tersebut, sebagaimana disebutkan oleh Imam At-Thahawi, para ulama sepakat (ijma') untuk tidak lagi menukil riwayat-riwayat celaan tersebut. Mereka sepakat untuk tidak menyebut Imam Abu Hanifah melainkan dengan kebaikan dan pujian.

​Hal ini terjadi setelah zaman Al-Khathib Al-Baghdadi. Maksudnya: pada masa sebagian murid-murid Imam Ahmad, mungkin saja mereka masih membicarakannya. Lalu di era Al-Khathib Al-Baghdadi, beliau menukil berbagai riwayat dalam kitab Tarikh-nya yang sangat terkenal, yang kemudian memicu sanggahan dan bantahan dari para ulama setelahnya.

​Sampai akhirnya pada fase pengkajian tuntas (istiqra') terhadap manhaj Salaf pada abad ke-6 dan ke-7 Hijriah. 

Dalam konteks inilah Ibn Taimiyah menulis risalahnya yang sangat masyhur, Raf'ul Malam 'anil A'immatil A'lam. Dalam seluruh karyanya, beliau selalu menyebut Imam Abu Hanifah dengan kebaikan dan pujian, mendoakan rahmat untuk beliau, serta hanya menisbatkan satu hal saja kepada beliau, yaitu pandangan Irja' (murji'ah fuqaha), tanpa menambahkan rentetan tuduhan-tuduhan lain yang pernah dialamatkan kepadanya.

​Mengapa demikian? Karena keberadaan kitab Al-Fiqh Al-Akbar karya Abu Hanifah serta risalah-risalah beliau lainnya menunjukkan bahwa secara umum beliau mengikuti jejak Salafush Shalih, kecuali dalam masalah satu ini saja, yaitu isu masuknya amal perbuatan ke dalam hakikat/penamaan iman (mussama al-iman).

​Demikianlah para ulama melangkah di atas jalan ini, sebagaimana yang disampaikan Imam At-Thahawi. Kecuali orang-orang yang melampaui batas dari kedua belah pihak:

● ​Pihak pertama: Orang-orang ekstrim yang mencela ahli hadis, menuduh mereka dengan julukan Hasyawiyyah (kelompok dangkal), serta menganggap mereka sebagai orang-orang bodoh.

● ​Pihak kedua: Orang-orang ekstrim yang mengklaim berintisab kepada hadis dan atsar, lalu mereka mencela atau mendzalimi Imam Abu Hanifah rahimahullah.

Salah satu faedah yang saya dapatkan dari bab tama'im (jimat) bahwa banyak kasus ternyata berawal dari iseng-iseng menggantung benda-benda tertentu di lingkungan sekitar.


📚Salah satu faedah yang saya dapatkan dari bab tama'im (jimat) bahwa banyak kasus ternyata berawal dari iseng-iseng menggantung benda-benda tertentu di lingkungan sekitar. Seperti gelang tangan yang biasa dipake anak muda, gantungan kunci di tas ataupun aksesoris di kaca mobil, hingga pajangan-pajangan di dinding rumah. 

📜Pada awalnya ini hanya sekedar hobi mengoleksi suatu barang. Kemudian lama kelamaan muncul perasaan bahwa tak perfect kalau barang tersebut tidak dibawa tatkala bepergian, atau merasa nyaman ketika memasuki rumah kemudian melihat ada pajangan di dinding. Hingga berakhir pada tahap dimana seseorang benar-benar merasa bahwa benda tersebut dapat mendatangkan suatu keberuntungan atau dapat membawa sial ketika tidak dibawa bepergian. 

🔎Ini benar-benar terjadi. Terlebih jika setan menambah tipu daya dengan tidak rusaknya gantungan tersebut tatkala terjadi musibah misalkan. Maka si pengguna akan merasa bahwa benda tersebut sakti karena tidak ikut hancur ketika Barang-barang lain di sekitarnya hancur. 

📙Salah satu kasus yang ditemui guru aqidah kami di sini, beliau pernah ketemu orang yang pake gelang magnetik di tangannya. Ia beli di apotik yang katanya benda ini dapat melancarkan sirkulasi darah atau sebagainya. Karena Syaikh tahu bahwa itu tidak benar maka ia minta orang tersebut copot gelang yang sedang ia pakai tadi. Namun ia ketakutan, menandakan bahwa hatinya benar-benar telah bergantung kepada benda tersebut. 

📝Coba tadabburi baik-baik sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

من تعلق شيئا وكل إليه

"Barangsiapa yang menggantungkan hati pada sesuatu, maka urusannya akan diserahkan kepadanya." [H.R. Ahmad dan Tirmidzi]

Di sini Nabi menyebutkan sifat umum yaitu menggantungkan hati pada sesuatu. Di antaranya seseorang menaruh harapan kepada sesuatu yang ia gantung. Dimulai dari iseng-iseng kemudian ia menganggap benda tersebut dapat mendatangkan manfaat atau menolak bahaya jika digantung. Hal ini sangat berbahaya bagi tauhid seorang muslim, dan jika terjerumus kepadanya maka ia telah berbuat kesyirikan wal iyadzu billah. 

✒️Ini nasehat agar kita menutup diri dari pintu-pintu kesyirikan. Karena pada hakikatnya kita adalah hamba yang berserah diri kepada Allah. Hendaknya menjauhi hal-hal yang tak ada dalilnya dalam syariat kecuali memang itu terbukti secara medis atau penelitian profesional.
Ustadz muhammad taufiq
https://www.facebook.com/share/p/1DKiKZm9pb/