Semalam Ust. Triyono Abinya Nafisah mengirimkan kepada saya tulisan berikut via WA (dengan minor editing):
☆☆☆
Para Guru dari K.H. Ahmad Dahlan
Oleh: Muhammad Gamal Abdurrahman
...
Jujur saja, catatan dan pembahasan tentang siapa saja guru K.H. Ahmad Dahlan itu susah dicari. Makanya, banyak kader Muhammadiyah sendiri bingung pas ditanya tentang siapa saja guru-guru beliau.
Sebenarnya, dalam tradisi keilmuan Islam, mengetahui rantai atau sanad keilmuan seorang guru itu penting. Fungsinya tentu banyak.
Nah, alhamdulillah saya punya beberapa buku yang di dalamnya ada catatan tentang siapa saja guru beliau, baik yang ditemui di Nusantara maupun di Makkah.
Saya membagi guru-guru beliau menjadi tiga bagian.
Pertama: Guru-guru yang beliau temui dan belajar langsung di Nusantara:
■ Bapaknya sendiri
■ K.H. Muhammad Saleh, ipar beliau (utamanya belajar ilmu fikih)
■ Kiyai Muhammad Nur, ipar beliau
■ K.H. Sa'id
■ K.H. Mukhsin, ipar beliau (utamanya belajar ilmu nahwu)
■ Kiyai Abdul Hamid Lempuyangan
■ Raden Ngabehi Sosrosugondo
■ Raden Wedana Dwijosewoyo
■ Kiyai Makhfudh (utamanya belajar ilmu hadis)
■ K.H. Raden Dahlan Semarang (utamanya belajar ilmu falak)
■ Syaikh Soleh Darat (utamanya belajar ilmu falak dan akidah)
■ Syaikh Muhammad Jamil Jambek Bukittinggi
■ Syaikh Khayyat (utamanya belajar ilmu hadis)
Kedua: Guru-guru yang beliau temui dan belajar langsung di Mekah:
■ K.H. Asy'ari Baceyan (utamanya belajar ilmu falak)
■ Syaikh Ali Mishri (utamanya belajar ilmu qiraat)
■ Sayyid Bakri Syatha, penulis kitab I'anah ath-Thalibin (utamanya belajar ilmu qiraat)
■ Syaikh Amin (utamanya belajar ilmu qiraat)
■ Syaikh Hasan (utamanya belajar ilmu pengobatan dan berbagai racun binatang)
■ Syaikh Baqir Jogja, masih keluarga beliau (belajar banyak cabang ilmu dan hikmah kehidupan)
■ Syaikh Mahfudz Termas (utamanya belajar ilmu hadis)
■ Syaikh Sa'id Babashil, mufti mazhab Syafi'i di Makkah waktu itu (utamanya belajar ilmu fikih)
■ Syaikh Nawawi Banten
■ K.H. Mas Abdullah Surabaya
■ K.H. Faqih Maskumambang Gresik
■ Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (utamanya belajar ilmu falak dan debat)
■ Sayyid Muhammad Rasyid Ridha (utamanya belajar konsep membangunkan kembali umat Islam dan berdasarkan pengalaman beliau di Mesir)
Ketiga: Guru-guru ruhani beliau, yaitu para penulis kitab-kitab yang menjadi kesukaan beliau:
■ Imam Ibnu Taimiyyah (karya yang jadi favorit adalah at-Tawassul wal Wasilah, serta pembahasan beliau tentang bid'ah)
■ Imam Ibnu Athaillah (karya favorit: al-Hikam)
■ Sayyid Jamaluddin al-Afghani (karya favorit: al-'Urwatul Wutsqa)
■ Syaikh Muhammad 'Abduh (karya favorit: Risalah at-Tauhid, al-Islam wan Nashraniyyah, Tafsir Juz 'Amma, makalah-makalahnya di Majalah al-Manar, dan Tafsir al-Manar—yang merupakan karya bersama dengan Sayyid Muhammad Rasyid Ridha)
■ Syaikh Rahmatullah al-Hindi (karya favorit: Izhharul Haqq)
■ Dr. Farid Wajdi (karya favorit: Dairatul Ma'arif al-Islamiyyah dan Kanzul 'Ulum wal Lughah)
■ Sebagian ulama mazhab Hanbali (karya-karya mereka yang jadi favorit adalah dalam bidang hadis)
Nah, begitulah yang tercatat di beberapa literatur karya murid dan ahli sejarah Muhammadiyah sendiri. Judul-judulnya sudah tercantum di sumber tulisan ini.
Semoga bermanfaat!
Sumber:
■ Junus Salam, K.H. Ahmad Dahlan; Amal dan Perjuangannya (Al Wasat Publishing House).
■ Kanjeng Raden Haji Hadjid, Pelajaran K.H. Ahmad Dahlan; 7 Falsafah & 17 Kelompok Ayat Al-Qur'an (Lembaga Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah).
■ M. Yusron Asrofie, K.H. Ahmad Dahlan; Pemikiran & Kepemimpinannya (Majelis Pengembangan Kader dan Sumber Daya Insani Pimpinan Pusat Muhammadiyah).
■ Abdul Munir Mulkhan, Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah (PT Percetakan Persatuan Yogyakarta).
■ Hery Sucipto dan Nadjamuddin Ramly, Tajdid Muhammadiyah dari Ahmad Dahlan hingga A. Syafi'i Maarif (Grafindo).
■ Tim Penulis Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ensiklopedi Muhammadiyah (Rajawali Pers).
■ Dr. Safrudin Edi Wibowo, Tarikh al-Hadharah al-Islamiyyah fi Indonesia (Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah).