𝗜𝗡𝗙𝗢 𝗔𝗪𝗔𝗟 𝗥𝗔𝗠𝗔𝗗𝗛𝗔𝗡 𝟭𝟰𝟰𝟳 𝗛
Berdasarkan data hisab, ijtimak akhir Sya’ban 1447 Hijriah terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19:01:06 WIB. Pada saat matahari terbenam diwilayah Indonesia, posisi Bulan berada di bawah ufuk dengan ketinggian antara -2°14’56’’ hingga -0°51’32’’. Sementara itu, jarak elongasi Bulan–Matahari tercatat antara 0°56’19’’ hingga 1°53’24’’.
Kondisi tersebut berimplikasi pada penetapan awal Ramadhan 1447 H menurut berbagai metode hisab dan rukyat yang digunakan oleh organisasi keagamaan di Indonesia maupun dunia.
𝗛𝗶𝘀𝗮𝗯 𝗜𝗺𝗸𝗮𝗻 𝗥𝘂𝗸𝘆𝗮𝘁 𝗠𝗔𝗕𝗜𝗠𝗦
Menurut metode hisab imkan rukyat MABIMS yang digunakan Pemerintah, PERSIS, dan sejumlah ormas Islam lainnya, posisi hilal Selasa (malam Rabu) 29 Sya'ban 1447 H/17 Februari 2026 diseluruh wilayah Indonesia berada di bawah ufuk sehingga tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal/Imkan rukyat MABIMS. Dengan demikian, bulan Sya’ban 1447 H digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), dan 1 Ramadhan 1447 H ditetapkan jatuh pada 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀, 𝟭𝟵 𝗙𝗲𝗯𝗿𝘂𝗮𝗿𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲 𝗠.
𝗛𝗶𝘀𝗮𝗯 𝗪𝘂𝗷𝘂𝗱𝘂𝗹 𝗛𝗶𝗹𝗮𝗹
Metode hisab wujudul hilal yang kini tidak lagi digunakan Muhammadiyah juga menunjukkan hasil serupa. Pada akhir Sya’ban 1447 H/17 Pebruari 2026, ijtimak terjadi setelah magrib dan posisi hilal berada di bawah ufuk di Yogyakarta sebagai markaz perhitungan. Oleh karena itu, menurut metode ini, Sya’ban digenapkan 30 hari dan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀, 𝟭𝟵 𝗙𝗲𝗯𝗿𝘂𝗮𝗿𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲 𝗠.
𝗛𝗶𝘀𝗮𝗯 𝗜𝗺𝗸𝗮𝗻 𝗥𝘂𝗸𝘆𝗮𝘁 𝗧𝘂𝗿𝗸𝗶/𝗞𝗛𝗚𝗧
Sementara itu, Muhammadiyah yang kini menggunakan hisab Imkan rukyat TURKI /Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) menetapkan awal Ramadhan berbeda.
Sejak awal Muharram 1447 Hijriah, Muhammadiyah secara resmi meninggalkan metode hisab wujudul hilal dan beralih menggunakan hisab imkan rukyat Turki yang diberlakukan secara global. Sistem ini mengusung prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia dan dikenal dengan sebutan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Dalam penerapannya, KHGT merujuk pada parameter penetapan awal bulan hijriah Turki 2016. Parameter tersebut memandang seluruh kawasan dunia sebagai satu kesatuan, sehingga awal bulan hijriah ditetapkan serentak pada hari yang sama di seluruh dunia.
Dalam KHGT awal bulan baru ditetapkan apabila imkan rukyat terjadi diwilayah mana pun di dunia 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 pukul 00.00 UT, dengan ketentuan ketinggian hilal minimal 5 derajat dan elongasi Bulan–Matahari minimal 8 derajat pada saat matahari terbenam.
Apabila imkan rukyat pertama terjadi 𝘀𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 pukul 00.00 UT, awal bulan tetap dapat dimulai dengan dua syarat. 𝙋𝙚𝙧𝙩𝙖𝙢𝙖, kriteria imkan rukyat tersebut terpenuhi dan Ijtimak telah terjadi sebelum fajar di wilayah Selandia Baru. 𝙆𝙚𝙙𝙪𝙖, kawasan imkan rukyat tersebut mencakup daratan Benua Amerika.
Memperhatikan data hisab, pada saat Maghrib Selasa (malam Rabu) 29 Sya'ban 1447 H /17 Pebruari 2026, ijtimak sudah terjadi. Kemudian, walaupun kriteria hisab imkan rukyat Turki terpenuhi 𝘀𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗷𝗮𝗺 𝟬𝟬 𝗨𝗧 di daratan benua Amerika (tepatnya sebagian kecil di Semenanjung Alaska), namun ijtimak sudah terjadi sebelum fajar di Selandia Baru, hingga awal bulan Ramadhan bisa ditetapkan. Dengan demikian menurut Hisab imkan rukyat Turki/KHGT 1 Ramadhan 1447 H ditetapkan bertepatan dengan 𝗥𝗮𝗯𝘂, 𝟭𝟴 𝗣𝗲𝗯𝗿𝘂𝗮𝗿𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲 𝗠.
Adapun 𝗗𝗶𝘆𝗮𝗻𝗲𝘁 𝗧𝘂𝗿𝗸𝗶, walaupun sama-sama pengguna IR TURKI menetapkan awal Ramadhan berbeda. Diyanet menetapkan awal Ramadhan 1447 H bertepatan dengan 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀, 𝟭𝟵 𝗙𝗲𝗯𝗿𝘂𝗮𝗿𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲 𝗠. Dengan alasan bahwa IR Turki hanya terpenuhi di kepulauan Aleutian dan Fox. Sementara pulau Aleutian dan Fox tidak dianggap masuk pada daratan benua Amerika. Alasan lainnya, karena kawasan tersebut memiliki kepadatan penduduk yang sangat rendah.
𝗠𝗲𝘁𝗼𝗱𝗲 𝗥𝘂𝗸𝘆𝗮𝘁 𝗡𝗨
Menurut Nahdlatul Ulama (NU), kondisi hilal pada Selsa (malam Rabu) 29 Sya’ban 1447 H/17 Februari 2026 termasuk kategori 𝙞𝙨𝙩𝙞𝙝𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙧𝙪𝙠𝙮𝙖𝙩 atau mustahil terlihat, karena posisi Bulan berada di bawah ufuk di seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, rukyat tidak lagi wajib dilakukan dan penetapan awal bulan dapat dilakukan melalui istikmal. Dengan demikian, NU akan menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀, 𝟭𝟵 𝗙𝗲𝗯𝗿𝘂𝗮𝗿𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲 𝗠.
𝗥𝘂𝗸𝘆𝗮𝘁 𝗔𝗿𝗮𝗯 𝗦𝗮𝘂𝗱𝗶
Di Arab Saudi, penetapan awal Ramadhan akan ditentukan melalui rukyat pada Selasa malam Rabu, 29 Sya’ban 1447 H/17 Februari 2026. Secara hisab, posisi hilal di Saudi berada sedikit di atas ufuk dengan ketinggian sekitar 0,5° dan elongasi sekitar 1,9°. Meski secara teori visibilitas hilal, hilal mustahil dilihat, Arab Saudi kerap menerima 𝗸𝗹𝗮𝗶𝗺 𝗿𝘂𝗸𝘆𝗮𝘁. Karena itu, terdapat kemungkinan besar Saudi menetapkan 1 Ramadhan 1447 H pada 𝗥𝗮𝗯𝘂, 𝟭𝟴 𝗣𝗲𝗯𝗿𝘂𝗮𝗿𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲 𝗠, sebagaimana tercantum dalam Kalender Ummul Qura. Namun, jika tidak ada klaim rukyat, maka Ramadhan dimulai 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀, 𝟭𝟵 𝗙𝗲𝗯𝗿𝘂𝗮𝗿𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲 𝗠.
𝗥𝘂𝗸𝘆𝗮𝘁 𝗚𝗹𝗼𝗯𝗮𝗹 (𝗛𝗧)
Kelompok yang menganut rukyat global, seperti Hizbut Tahrir (HT), yang merujuk pada keputusan Saudi, juga berpotensi memulai Ramadhan pada 𝗥𝗮𝗯𝘂, 𝟭𝟴 𝗣𝗲𝗯𝗿𝘂𝗮𝗿𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲 𝗠, dengan kemungkinan kecil pada 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀, 𝟭𝟵 𝗙𝗲𝗯𝗿𝘂𝗮𝗿𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲 𝗠.
𝗞𝗲𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻
Mayoritas metode hisab dan rukyat di Indonesia—termasuk Pemerintah, PERSIS, dan NU—menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀, 𝟭𝟵 𝗙𝗲𝗯𝗿𝘂𝗮𝗿𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲 𝗠. Namun, menurut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan Muhamadiyah dan kemungkinan keputusan Arab Saudi, 1 Ramadhan 1447 H dimulai lebih awal, yakni 𝗥𝗮𝗯𝘂, 𝟭𝟴 𝗣𝗲𝗯𝗿𝘂𝗮𝗿𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲 𝗠
https://www.facebook.com/share/p/1Bnw2SceYK/