Selasa, 28 April 2026

Kitab Aqidah Imam Asy Syafii dari riwayat Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Raaziy. Beliau menetapkan sifat sifat Allah yang tolak oleh firqoh Asy'ariyah maturidiyah dll.

Kitab Aqidah Imam Asy Syafii dari riwayat Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Raaziy. 
Beliau menetapkan sifat sifat Allah yang tolak oleh firqoh Asy'ariyah maturidiyah dll. 
Silakan yang ngaku ikut madzhab Syafii baca buku ini.

Dulu praktik perdukunan sangat banyak dan tersebar di negeri Arab. Ketika tauhid (mengesakan Allah) tampak dan kuat, maka setan-setan pun lari, sehingga praktik itu hilang atau berkurang

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata :

"والكهانةُ كانت ظاهرةً كثيرةً بأرضِ العَرب، فلّما ظهرَ التّوحيدُ هرَبت الشّياطين، وبَطَلت أو قَلّت.
ثمّ إنّها تظهرُ في المواضعِ التي يَخفى فيها أثرُ التّوحيد"
“Dulu praktik perdukunan sangat banyak dan tersebar di negeri Arab. Ketika tauhid (mengesakan Allah) tampak dan kuat, maka setan-setan pun lari, sehingga praktik itu hilang atau berkurang.

Namun, praktik tersebut akan muncul kembali di tempat-tempat yang lemah pengaruh tauhidnya.”
(النّبوّات)(٢/ ١٠١٩).
UNN

Menjadi salafi jangan hanya aqidah saja, tapi juga akhlaq harus salafi juga

Menjadi salafi jangan hanya aqidah saja, tapi juga akhlaq harus salafi juga

Karena sejatinya ber manhaj salafi adalah berpegang teguh pada seluruh sunnah Nabi : aqidah, ibadah, dakwah, muamalah, dan akhlak 

Sehingga seharusnya seorang salafi sejati dia memiliki akhlak yang mulia, dan inilah salafi sejati: lurus dan kokoh aqidah nya, karimah akhlaknya

Sangat disayangkan kadang kita dapati dari saudara kita yang sdh mendapat hidayah ke manhaj salafi, ada yang hatinya jadi keras, akhlak dan muamalah nya tdk baik, terkesan menutup diri, anti sosial, dan bahkn tdk mau menjawab salam dari sesama muslim, seakan setelah mendapat hidayah maka harus mengucilkan diri dari lingkungan nya bahkn keluarganya 

Padahal klo dilihat outfit dan casing mrk sangat "salafi": rajin kajian, berjenggot panjang, bercadar, dan celana cingkrang, tapi mengapa akhlak mereka tidak "salafi"?

Sehingga tentu ada yang perlu diperbaiki disini dalam cara dia bermanhaj 

Bukanlah salafi sejati yang disana sini teriak tahdzir, hajr, dan tabdi' "serampangan" kepada sesama muslim, Terkhusus kepada sesama "salafi"

Salafi sejati dialah yang menjadi salafi secara kaafah tak hanya dalam aqidah saja, dalam secara kaaffah, dlm aqidah, ibadah, akhlaq, muamalah, dan dakwah

Syaikh Albani rahimahullah berkata: 
قد يكون الشَّخص سلفيًّا في عقيدته، ولكنَّه ليس سلفيًّا في تربيته وسلوكه
 
"Seseorang bisa saja salafi dalam akidahnya, namun tidak salafi dalam pembinaan diri dan perilakunya"

📚 [ سلسلة الهدى والنور (شريط رقم 781) ]

------------

Lebih aneh lagi terkadang kita dapati sebagian ikhwah "salafi" dia lebih kaku dan benci kepada sesama salafi daripada ke yang lain, dia menganggap saudaranya yang sesama ahlu sunnah ini lbh layak utk diberlakukan keras dan hajr akut daripada ahlu bidah atau bahkan orang kafir

-----------

Bukan berarti berakhlak yang baik adalah kita bermudahan dalam urusan syariat demi adat, tenggang rasa, dan toleransi (seperti ikhtilath, salaman dengan bukan mahrom, atau ikut acara2 bidah yg tdk disyariatkan islam) 

Tapi berakhlak mulia adalah memegang teguh prinsip islam tapi tetap berakhlaqul karimah dan bermuamalah dg cara yang baik kepada sesama muslim dan sesama manusia, sebagaimana yang dicontohkan Nabi kita

Kesempatan Amal Jariyah Melalui Pembangunan Masjid

Kesempatan Amal Jariyah Melalui Pembangunan Masjid 

Yayasan Peduli Kemanusiaan Ar Risalah membuka peluang kerja sama bagi individu, komunitas, maupun lembaga yang ingin mewakafkan hartanya untuk pembangunan masjid di wilayah yang membutuhkan.

Program ini bertujuan untuk:
📩  Menyediakan sarana ibadah yang layak
📩  Mendukung kegiatan dakwah dan pendidikan
📩  Memberdayakan masyarakat sekitar

Mari menjadi bagian dari proyek kebaikan yang berdampak luas dan berkelanjutan.

Hubungi kami sekarang untuk proposal dan informasi lengkap.

Majelis Sama secara daring / jarak jauh, langsung dari Masjid Nabawi, Madinah, KSA

https://listen.qm.edu.sa/Landing.aspx?fbclid=IwVERDUARdkMpleHRuA2FlbQIxMABzcnRjBmFwcF9pZAwzNTA2ODU1MzE3MjgAAR7TMDVtEDs0m8FQKVzF25YRTuBlRt5gCcK0Zt18pcYPM46wyT7WBpXzOOEZQQ_aem_ZiiFolc6gTDjheEt47oCDQ

Alhamdulillah, bisa mengikuti Majelis Sama secara daring / jarak jauh, langsung dari Masjid Nabawi, Madinah, KSA. Dulu kegiatan ini hanya bisa diikuti peserta yang terdaftar program halaqoh hafalan teks ilmiyah (mutun), sekarang bisa mengikuti dan mendaftar secara mandiri, walaupun bukan peserta halaqoh.

Perbedaan lainnya, dulu teks ijazah nya dicetak secara hardcopy, sekarang, hanya file pdf dan bisa cetak mandiri.

Setidaknya ada 4 program yang bisa diikuti secara jarak jauh dari Masjid Nabawi yaitu :
1. Halaqoh Tahsin & Tahfizh Al Quran
2. Halaqoh Hafalan Mutun Ilmiyah
3. Program Dauroh Syarah Mutun Ilmiyah
4. Program Majelis Sama

Berharap kedepannya, Mahad Masjid Nabawi (setara SMP & SMA) dan Kuliah Masjid Nabawi yang setara S1, bisa dibuka Talim an Buud (PJJ) nya
Al akh diyana firdiansyah

Sebab itu harus dibangun di atas dalil Syar'i atau Tajribi (eksperimen ilmiyah)."

Kaidah Tauhid berkata : 

السببية مبناها على ثبوت دليل الشرع أو القدر (التجريبة)

"Sebab itu harus dibangun di atas dalil Syar'i atau Tajribi (eksperimen ilmiyah)."

Contoh :

Orang ingin mencari sebab kesembuhan maka bisa dengan dua cara :

1. Dengan sebab yang ditunjukkan dalil syar'i, seperti: berdoa, minum air zamzam, bekam, minum madu dst. Maka sebab kesembuhan yang seperti ini dibolehkan karena ada dalil syar'inya.

2. Dengan sebab tajribi (sebab yang tak didukung dalil syar'i tapi terbukti secara ilmiyah dengan ekperimen atau pengalaman).

Seperti seorang yang sakit diare mencari sebab kesembuhan dengan makan daun jambu atau buah jambu keluthuk, jika hal ini terbukti secara riset ilmiyah maka dibolehkan meski tak ada dalil, ini yang diistilahkan sebab tajribi.

Adapun jika seseorang mencari kesembuhan dengan sebab yang tak didukung dalil syar'i dan tak terbukti secara ilmiyah maka haram untuk dilakukan. Wallahu a'lam.

Simak penjelasannya di https://youtu.be/JRAubd8uILo 

Semoga bermanfaat

Perdebatan Ibnu Taimiyah dengan Yahudi Khaibar

Perdebatan Ibnu Taimiyah dengan Yahudi Khaibar

​Pada bulan yang sama, diadakan sebuah majelis untuk kaum Yahudi Khaibar. Mereka diwajibkan membayar jizyah (upeti) sebagaimana kaum dzimmi lainnya. Namun, mereka membawa sebuah dokumen yang mereka klaim sebagai surat dari Rasulullah ﷺ yang berisi pembebasan kewajiban jizyah bagi mereka.

​Ketika para fuqaha (ahli fiqh) memeriksa dokumen tersebut, mereka menyadari bahwa surat itu palsu dan penuh kebohongan. Hal ini terlihat dari bahasanya yang rancu, tata bahasa yang berantakan, serta penanggalan yang tidak akurat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengonfrontasi mereka secara langsung, membongkar kesalahan serta kebohongan mereka, dan membuktikan bahwa dokumen tersebut adalah rekayasa semata. Akhirnya, mereka pun tunduk membayar jizyah dan merasa khawatir jika jizyah tahun-tahun sebelumnya akan ditagih kembali.

​Catatan Ibnu Katsir
​Ibnu Katsir berkata: "Aku telah melihat sendiri dokumen tersebut. Di dalamnya tertera kesaksian Sa'ad bin Mu'adz pada tahun penaklukan Khaibar, padahal Sa'ad sudah wafat sekitar tiga tahun sebelum peristiwa tersebut. Tertera pula kesaksian Mu'awiyah bin Abi Sufyan, padahal saat itu ia belum memeluk Islam; ia baru masuk Islam sekitar dua tahun setelah peristiwa Khaibar."

​Disebutkan pula dalam dokumen itu: "Ditulis oleh Ali bin Abi Thalib." Namun, terdapat kesalahan tata bahasa (lahn) yang sangat fatal dalam teksnya, yang mustahil dilakukan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Sebab, ilmu Nahwu (tata bahasa Arab) bersumber darinya melalui jalur Abu al-Aswad ad-Du'ali.

​Kejadian ini telah aku himpun dalam satu risalah khusus. Hal ini juga telah disebutkan oleh Al-Qadhi Al-Mawardi, para ulama besar di masa itu seperti dalam kitab Al-Hawi, serta penulis kitab Asy-Syamil yaitu Imamul Haramain Al-Juwaini dalam kitabnya, dan ulama lainnya. Mereka semua telah menjelaskan kesalahan dokumen tersebut. Segala puji dan karunia hanya milik Allah.

📚 Akhbar Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah wa Siratuhu min Kitab al-Bidayah wan Nihayah, hal. 22-23

______selesai kutipan______

Dulu, di hadapan ketajaman lisan Syaikhul Islam, mereka tertunduk hina sebagai pemohon jizyah (upeti) yang tertangkap basah memalsukan sejarah. Mereka gemetar hanya karena urusan jizyah yang ditagih.

Hari ini? Mereka tampil sebagai penentu nasib, sementara umat Islam yang katanya berjumlah miliaran hanya bisa menjadi penonton saat saudara-saudaranya diinjak-nginjak. Kenapa? Jawabannya satu: Wahn.

​Kita telah terjangkit penyakit "cinta dunia dan takut mati". Kita terlalu sayang pada harta, terlalu nyaman dengan jabatan, dan terlalu takut kehilangan kemewahan, hingga lupa bahwa dahulu, di hadapan seorang Muslim yang tidak bisa dibeli, mereka pernah sekecil itu.

​Hari ini, ironinya adalah kita telah menukar kemuliaan iman dengan ketakutan pada urusan perut sendiri. Kita lebih takut kehilangan kenyamanan hidup daripada kehilangan Izzah (harga diri).

​Wal’iyadzu billah... Semoga sejarah ini bisa menjadi tamparan bagi nurani yang sudah lama terlelap

Ibn Nashrullah