Kamis, 23 April 2026

Diriwayatkan oleh Ibnul Athor sebuah kisah menarik tentang gurunya, Imam Nawawi. Pada masa awal belajar, beliau pernah mengalami kekeliruan dalam memahami salah satu ibarat dalam kitab At-Tanbih, yaitu:

Diriwayatkan oleh Ibnul Athor sebuah kisah menarik tentang gurunya, Imam Nawawi. Pada masa awal belajar, beliau pernah mengalami kekeliruan dalam memahami salah satu ibarat dalam kitab At-Tanbih, yaitu:

يجب الغسل من إيلاج الحشفة في الفرج
 
Makna yang benarnya adalah : "Wajib mandi apabila memasukkan hasyafah ke dalam farji perempuan"

Namun kata Imam Nawawi : “Selama kurang lebih dua bulan, aku mengira bahwa yang dimaksud adalah bunyi perut. Maka setiap kali aku mendengar perutku berbunyi, aku segera mandi dengan air dingin.”

Dari kisah ini kita bisa mengambil kesimpulan :
1. Pentingnya memahami teks dengan bimbingan guru. 
2. Menunjukkan kesungguhan Imam Nawawi dalam belajar dan fokusnya beliau terhadap ilmu sehingga hal ini terjadi karena memang masalah "nikah" tidak pernah terlintas dalam benak Imam Nawawi.
kaka al qudwah 

Syeikh Al Albani diponis sebagai murji'ah oleh Syeikh Abdullah Al Jarbu'i. Sedangkan Syeikh Abdullah Al Jarbu'i sendiri divonis memiliki pemikiran takfiri.Sedangkan Syeikh Abdullah Al Bukhori juga dituduh murjiah

Syeikh Al Albani diponis sebagai murji'ah oleh Syeikh Abdullah Al Jarbu'i.

https://youtube.com/shorts/N4rlwFkRlGU?si=flYIPsto2dqDwbic

Sedangkan Syeikh Abdullah Al Jarbu'i sendiri divonis memiliki pemikiran takfiri oleh Syeikh Abdullah Al Bukhari.
https://youtu.be/p5i5t2JIFWA?si=AHOJzHKS-dfBVWO5

Sedangkan Syeikh Abdullah Al Bukhori juga dituduh murjiah

https://youtube.com/shorts/PLya8PX88k4?si=m52l9WxowD_MEat8

La piye kalau seperti ini? emboh lah, nyruput kopi saja deh.
https://www.facebook.com/share/1GCtHEBwy4/

Rabu, 22 April 2026

Mari budaya kan menyebar salam

Mari budaya kan menyebar salam 

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: 

"As-Salam" bermakna:

Doa agar selamat (terlindungi) dari segala marabahaya/penyakit.

Jika Anda mengucapkan "Assalamu'alaika (Salam sejahtera bagimu)" kepada seseorang,

maka ini berarti Anda sedang mendoakannya agar Allah menyelamatkannya dari segala marabahaya:

 Diselamatkan dari penyakit

 Diselamatkan dari gangguan jiwa

 Diselamatkan dari kejahatan manusia

 Diselamatkan dari kemaksiatan dan penyakit hati

Dan Diselamatkan dari api neraka"
ustadz lutfi setiawan

Seseorang bertanya kepada Syekh Al-‘Ushaimi: “Sebagian umur saya telah berlalu tanpa fondasi ilmu yang kuat, sedangkan sekarang saya baru ingin memulainya. Apakah yang Anda wasiatkan kepada saya?”

Seseorang bertanya kepada Syekh Al-‘Ushaimi: “Sebagian umur saya telah berlalu tanpa fondasi ilmu yang kuat, sedangkan sekarang saya baru ingin memulainya. Apakah yang Anda wasiatkan kepada saya?”

Beliau menjawab: “Saya wasiatkan kepadamu dengan hadis yang telah disebutkan sebelumnya: ‘Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah engkau merasa lemah.’

Banyak ulama menuntut ilmu setelah usia empat puluh, lima puluh, enam puluh, bahkan delapan puluh tahun; namun mereka tetap menjadi orang-orang yang unggul dan menonjol.

Ilmu itu tidak memiliki batas usia. Yang dibutuhkan hanyalah kesungguhan, ketekunan, semangat untuk menghadapkan diri kepadanya, serta perhatian yang sungguh-sungguh.”

[Dari muhadharah: Menara-Menara dalam Membangun Fondasi Ilmu-Ilmu Syar‘i]
ustadz ahmad remanda 

Sebagaimana bisa terjadi, sebagian orang yang mengaku mengikuti sunnah itu melampaui batas,

Wahai ahlu sunnah, bersikap lemah lembut lah, apalagi terhadap sesama ahlu sunnah, jangan berlebihan dalam mengkritisi

Bahkan sampai vonis sesama ahlu sunnah dg bidah, dholal, sesat, dan keluar dari sunnah

Kesalahan tetap wajib dikritisi dan diluruskan, tapi terkait menghukumi personal apalagi yg track rekordnya diketahui sebagai ustadz ahlu sunnah maka jangan samakan dengan menyikapi ahlu bidah

Apalagi bila kesalahan tsb mngkin masalah ijtihadiyah, samar2, blm jelas dalilnya, dan msh diperdebatkan antar sesama ahlu sunnah, atau mngkin hanya sekedar hukum bil lawazim (dan ini yang paling banyak dijadikan alat vonis)

Sehingga jangan sampai berlebihan dalam menyikapi, terhadap orang kafir saja kita diperintahkan bersikap adil, bahkan lemah lembut dalam berdakwah, apalagi sesama muslim, Terkhusus sesama ahlu sunnah 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: 

كما قد يبغي بعض المتسننة إما على بعضهم وإما على نوع من المبتدعة بزيادة على ما أمر الله به وهو
الإسراف المذكور في قولهم (رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ)

"Sebagaimana bisa terjadi, sebagian orang yang mengaku mengikuti sunnah itu melampaui batas,

baik terhadap sesama mereka maupun terhadap sebagian kelompok ahli bid‘ah,

dengan melebihi apa yang telah diperintahkan oleh Allah.

Itulah sikap berlebihan yang disebutkan dalam firman-Nya:

Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan sikap berlebih-lebihan kami dalam urusan kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir (QS. Surah Ali 'Imran: 147)"

----------

Salah satu kitab yg urgent dikaji antar sesama santri, dai, dan ustadz adalah kitab 
رفع الملام عن الأئمة الأعلام
Oleh syaikhul islam ibnu taimiyah rahimahullah 

Atau bisa juga mengkaji kitab syaikhunaa abdul muhsin abbad hafidhahullah 
رفقا أهل السنة بأهل السنة
Ustadz lutfi setiawan

Ibn Taimiyyah dan Ibn Katsir turut hadir di lapangan eksekusi ketika seorang faqih dihukum mati...

Ibn Taimiyyah dan Ibn Katsir turut hadir di lapangan eksekusi ketika seorang faqih dihukum mati...

Ibn Katsir berkata: Pada pagi hari Selasa 21 Rabiul Awwal 725 H, Nashir Ibn asy-Syarf Abu al-Fadhl bin Isma'il bin al-Hitiy dihukum mati dengan cara dipenggal kepala di pasar kuda lantaran kekafirannya. Ia merendahkan dan melecehkan ayat-ayat Allah, berkawan akrab dengan orang-orang zindiq, menjadikan agama sebagai bahan ejekan, dan penghinaannya terhadap kenabian dan al-Quran. Pelaksanaan hukuman mati terhadapnya itu dihadiri oleh para ulama, para tokoh, dan para pejabat negara. Nashir bin asy-Syarf ini hafal matan kitab at-Tanbih (kitab fiqh mazhab asy-Syafi'i) pada awal-awal masa belajarnya, dan dulunya, ia biasa membaca di majelis khatmil Quran dengan suara yang indah. Ia juga memiliki kecerdasan dan kepahaman. Aku (Ibn Katsir) menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadapnya itu. Guru kami, al-'Allamah Abu al-'Abbas Ibn Taimiyyah turut pula hadir di sana pada hari itu. Beliau (Ibn Taimiyyah mendatangi Nashir bin asy-Syarf sesaat sebelum hukuman mati dilaksanakan dan mencela apa yang telah diperbuatnya. Setelah itu, Nashir bin asy-Syarf pun dipenggal kepalanya dan aku menyaksikan hal itu... —al-Bidayah wa an-Nihayah 16/196... (Doktor 'Abd al-'Aziz asy-Syayi)...

--HW ibn tato WW--

Menjawab Celotehan: "Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil"

Menjawab Celotehan: "Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil" 

Ketika kita menasehati orang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah, biasanya ada yang berceloteh demikian. 

Maka kita jawab:

Pertama, kentara sekali celotehan ini ingin memaksakan bahwa perkataan ulama harus dianggap sebagai dalil. Jelas ini penyimpangan yang nyata. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan:

ليس من أحد إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم

“Tidak ada satu orang pun kecuali perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi shallallahu’alaihi wa sallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan)” (Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227).

Kedua, Ahlussunnah tidak mengajak untuk meninggalkan pendapat ulama yang bertentangan dengan dalil untuk beralih kepada pendapat diri sendiri. Subhanallah, siapa diri kita ini??

Ini tuduhan yang sangat aneh.

Karena syi'ar Ahlussunnah itu jelas: kembali Al-Qur’an, As-Sunnah dengan PEMAHAMAN SALAFUS SHALIH. Bukan mengajak kepada pemahaman pribadi. 

Salafus shalih itu ulama. Artinya, Ahlussunnah tidak anti ulama dan tidak anti penjelasan ulama. Bahkan senantiasa mengajak untuk kembali kepada penjelasan ulama salaf dan ulama khalaf (ulama belakangan) yang pemahamannya sejalan dengan pemahaman dan praktek salaf. 

Ahlussunnah juga menerapkan nasehat Imam Ahmad rahimahullah :

إيَّاكَ أنْ تتكلمَ في مسألةٍ ليسَ لكَ فيها إمامٌ

"Jangan engkau berkata tentang suatu masalah agama, yang engkau tidak memiliki imam (pendahulu) dalam masalah tersebut" (Siyar A'lamin Nubala, 11/296).

Jangan bicara dari kantong sendiri, namun hendaknya mengambil dari para ulama. Bahkan jika mau jujur, tulisan-tulisan para ulama dan dai Ahlussunnah yang paling banyak dipenuhi kalam-kalam para ulama, lengkap dengan sumber penukilannya yang valid, bahkan dicek sahih tidak penisbatannya. Ciri khas tulisan-tulisan mereka sejak dulu selalu dipenuhi catatan kaki dan referensi kitab-kitab ulama yang sangat banyak. Bisa-bisanya dituduh anti ulama dan memahami sendiri dari Al-Qur'an dan As-Sunnah?!?

Namun jika para ulama berbeda pendapat, seorang Ahlussunnah mengambil pendapat ulama yang lebih sejalan dengan dalil. Bukan yang sesuai madzhabnya, sesuai kelompoknya, sesuai mayoritas atau sesuai selera. 

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menjelaskan:

فالواجب أن نَجتمع على كتاب الله وسُنة رسوله، و ما اختلفنا فيه نردُّه إلى كتاب الله وسُنة رسوله، لايعذر بعضنا بعضاً و نبقى على الاختلاف؛ بل نردُّه إلَى كتاب الله وسُنة رسوله، و ما وافق الْحَقَّ أخذنا به، و ما وافق الخطأ نرجع عنه . هذا هو الواجب علينا ، فلا تبقى اﻷمة مُختلفةً

“Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang sesuai dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Ushul As-Sittah, 19).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan:

الواجب الالتزام بما شرعه الله، على لسان رسوله محمد عليه الصلاة والسلام، وليس هناك شخص معين يلزم الأخذ بقوله، لا الأئمة الأربعة ولا غيرهم، فالواجب اتباع النبي صلى الله عليه وسلم والسير على منهاجه في الأحكام والتشريع، ولا يجوز أن يقلد أحد بعينه في ذلك، بل الواجب هو اتباع النبي ﷺ، والأخذ بما شرع الله على يده عليه الصلاة والسلام سواء وافق الأئمة الأربعة أو خالفهم، هذا هو الحق

“Yang wajib bagi kita adalah berpegang teguh pada syariat Allah dan kepada tuntunan Rasul-Nya, Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Bukan mengikuti person tertentu untuk diambil semua pendapatnya. Apakah ia imam yang empat atau person yang lain. Yang wajib bagi kita adalah mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan berjalan di atas manhaj beliau dalam fikih dan hukum syariat. Dan tidak boleh taklid buta kepada seorang pun dalam masalah ini. Bahkan wajib mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan mengambil apa yang Allah syariatkan melalui tangan Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Baik sesuai dengan pendapat imam yang empat ataupun tidak sesuai. Ini yang merupakan kebenaran” (Nurun ‘alad Darbi, no. 73 pertanyaan ke-4).

Jelas nggih??

Semoga Allah Ta'ala memberi taufik. 

Fawaid Kangaswad | Umroh Titanium: bit.ly/fawaid-umroh