Selasa, 27 Oktober 2026

Tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan diri kepada Allah setelah menunaikan kewajiban-kewajiban, yang lebih utama daripada menuntut ilmu".

#TERUSLAH_BELAJAR.. 

Imam Syafi'i rahimahullah berkata:

❞ما تُقُرِّبَ إلى اللّه -عزّ وجلّ- بَـعـدَ أداءِ الفَرائِضِ بأفضلَ مِن طَلبِ العِلم❝. 

"Tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan diri kepada Allah setelah menunaikan kewajiban-kewajiban, yang lebih utama daripada menuntut ilmu".

[Thabaqat As Syafi'iyyah Al Kubra, 2/129].

MAGHRUR (TERTIPU OLEH DIRINYA)

MAGHRUR (TERTIPU OLEH DIRINYA)

Kebiasaan pendekar turun gunung; melihat dirinya berada di atas puncak gunung, padahal dia hanyalah seekor katak dalam tempurung.

Merasa paling tinggi, krn tak pernah melihat yg lebih tinggi. Merasa paling berilmu, karen tak pernah menyadari betapa luasnya samudra ilmu. Menganggap orang lain kecil, padahal cakrawala pandangnya sendiri yang sempit dan kerdil.

Sungguh, di antara musibah terbesar seorang penuntut ilmu adalah ketika sedikitnya ilmu membuatnya merasa telah mengetahui segalanya. Semakin dangkal ilmunya, semakin tinggi pengakuannya. Semakin luas ilmunya, semakin besar kesadarannya akan kebodohan dirinya.

Kata orang Jawa: “koyo cacing nguntal kelopo”
Ungkapan sindiran terhadap seseorang yang kemampuannya kecil, tetapi keinginan atau ambisinya terlampau besar, jauh melampaui kapasitas dirinya.

Yang lama2 udah pada bertaubat, sekarang datang lagi, seorang pemula yg tak tau malu, mengumbar kekurangan ilmunya  dan menyingkap sendiri akan kerdilnya wawasannya. Dg penuh bangga menempatkan seolah dirinya paling paham manhaj.

Biarkan waktu menjawab, seorang penyair berkata:

سَتُبْدِي لَكَ الْأَيَّامُ مَا كُنْتَ جَاهِلًا
وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تُزَوِّدِ

“Kelak hari-hari akan menyingkapkan kepadamu apa yang sebelumnya tidak engkau ketahui. 

Dan berita-berita akan datang kepadamu melalui orang yang tidak pernah engkau bekali untuk mencari berita.
Uff

Berkata Ibnu al-Jauzi rahimahullah: Dan termasuk kesalahan adalah memberitahu istri mengenai jumlah atau ukuran harta [yang dimiliki], karena jika harta itu sedikit, sang suami akan tampak hina di matanya; dan jika harta itu banyak, ia akan meminta tambahan pakaian dan perhiasan!"

"Berkata Ibnu al-Jauzi rahimahullah: Dan termasuk kesalahan adalah memberitahu istri mengenai jumlah atau ukuran harta [yang dimiliki], karena jika harta itu sedikit, sang suami akan tampak hina di matanya; dan jika harta itu banyak, ia akan meminta tambahan pakaian dan perhiasan!"

Sebab Utama Kenakalan dan Kedurhakaan Anak

*Sebab Utama Kenakalan dan Kedurhakaan Anak*

Malik bin Dinar berkata:

"Sesungguhnya Allah apabila murka kepada suatu kaum maka Allah menjadikan anak-anak mereka durhaka kepada mereka".

(Al Uqubat, Ibnu Abi Dunya, 74) 

قال مالك بن دينار رحمه الله : إنَّ الله عز وجل إذا غَضِب على قومٍ سلّط عليهم صبيانهم !

العقوبات /ابن أبي الدنيا (٧٤)

Tinjauan dan Konsepsi Singkat tentang Masalah Men-tahdzir/Men-tabdi' Orang Tertentu


Bid'ahnya Al-Imam Ahmad terhadap Al-Karabisi...

Tinjauan dan Konsepsi Singkat tentang Masalah Men-tahdzir/Men-tabdi' Orang Tertentu (Tabdi' Al-Mu'ain)

Oleh: Dr. Ahmad Muhammad Ash-Shadiq An-Najjar

Beberapa saudara yang mulia meminta saya untuk menuliskan gambaran singkat dan mudah dipahami yang merangkum berbagai aspek dari permasalahan tabdi' al-mu'ain (menvonis pelaku bid'ah secara personal).

Agar seorang peneliti dapat memahami permasalahan ini dengan benar, pertama-tama ia harus menyadari bahwa tidak ada satu pun nash dari Salaf yang shohih, langsung, dan bersifat umum untuk seluruh keadaan—yang menyatakan bahwa men-tabdi' orang tertentu (mu'ain) tidak mensyaratkan ilmu dan tidak adanya takwil, ataupun sebaliknya, bahwa hal itu dipersyaratkan. Paling pol, apa yang diriwayatkan dari mereka dalam bab ini kembali kepada tiga sumber istidlal (penarikan dalil):

1. Nash yang diriwayatkan dari dua Imam Ar-Razi Yaitu riwayat keduanya tentang ijma' Salaf mengenai orang yang berkata waqf (tathوقف) dalam Al-Qur'an: "Barangsiapa yang tawaqquf dalam Al-Qur'an dalam keadaan bodoh, maka ia telah berbuat bid'ah, berilmu, dan tidak dikafirkan." Tidak tersembunyi bagi setiap orang yang benar-benar memahami kandungan makna lafaz bahwa pernyataan ini tidak memiliki petunjuk yang jelas mengenai disyaratkannya ilmu dalam tabdi', atau tidak disyaratkannya. Hal itu karena kata sambung (huruf waw) berfaedah untuk sekadar penggabungan (mutlaq al-jam') dan bukan berfaedah tertib (urutan). Selain itu, ungkapan tersebut kemungkinan besar keluar dalam rangka taghlizh (pemberatan/penegasan) dalam masalah waqf, karena masalah tersebut merupakan salah satu perkara yang disembunyikan oleh kalangan Jahmiyyah pada masa mereka, serta demi menjaga kemurnian Al-Qur'an dari merembesnya pemikiran Jahmiyyah di masa mihnah (ujian/fitnah). Hal ini telah saya jelaskan dalam bantahan saya terhadap Syaikh Ar-Raiyis, dan sebelumnya dalam bantahan saya terhadap kelompok Al-Haddadiyah. Oleh karena itu, atsar ini saja tidak cukup untuk dijadikan sandaran dalam menetapkan kaidah umum mengenai tabdi' al-mu'ain.

Oleh karenanya, keyakinan tidak boleh dibangun di atas kemungkinan-kemungkinan yang lemah, terlebih lagi jika dijadikan sebagai manhaj (metodologi) umum...

2. Ungkapan mutlak dan nash-nash umum dari Salaf, seperti perkataan mereka: "Barangsiapa yang berkata begini, maka ia adalah pelaku bid'ah." Tidak tersembunyi bagi siapa pun yang memahami arti kemutlakan (ithlaq), bahwa ungkapan-ungkapan mutlak ini adalah perkara umum dan global (kulli), yang tidak secara otomatis mendatangkan hukum vonis secara personal (einiy) kepada seseorang tertentu sekadar karena ia mengeluarkan pendapat tersebut. Akan tetapi, dalam penerapannya, tetap harus terpenuhi syarat-syaratnya dan terhindar dari penghalang-penghalangnya (mawani').

3. Aplikasi praktis dalam tindakan Salaf men-tabdi' orang-orang tertentu Akal ushul tidak mungkin membenarkan penyimpulan kaidah umum yang konsisten dalam menurunkan vonis bid'ah secara personal tanpa syarat atau penghalang, hanya berdasarkan individu-individu tertentu yang dijatuhi vonis dalam kondisi dan situasi yang dilingkupi oleh berbagai qarinah (indikasi), tanpa melakukan istiqra' (peninjauan/penelitian) yang sempurna.

Banyak sekali sikap Salaf dalam men-tabdi' orang-orang tertentu atau memboikot mereka yang berkaitan dengan indikasi keadaan (qarinah haliwayh), seperti tampaknya sifat 'anad (pemberontakan/keras kepala), atau niat merusak prinsip-prinsip agama, atau demi menjaga kemaslahatan dan menolak kemafsadatan dalam bentuk pencegahan dan pemboikotan, yang mana kondisi tersebut mungkin tidak ada pada orang lain.

Oleh karena itu, karena Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memiliki akal ushul Salafi, beliau menyatakan tentang vonis tabdi' yang dilakukan oleh Salaf terhadap sebagian orang tertentu:

"Dan banyak dari jawaban Imam Ahmad dan para imam lainnya yang keluar merespons pertanyaan dari penanya yang mana orang yang dimintai jawaban telah mengetahui keadaannya, atau jawaban itu keluar ditujukan kepada orang tertentu yang telah nyata keadaannya. Maka itu diposisikan seperti perkara-perkara personal yang bersumber dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang hukumnya hanya tetap berlaku pada kasus yang serupa dengannya." (Majmu' Al-Fatawa, 28/213)

Sebagaimana Salaf men-tabdi' Al-Hasan bin Shalih bin Hayy karena menyalahi prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah keluar (pemberontakan) dengan pedang, namun mereka tidak men-tabdi' orang-orang pilihan dari kalangan tabi'in yang keluar bersama Ibnu Al-Asy'as memerangi Al-Hajjaj.

Dan sebagaimana Salaf bersikap keras terhadap orang yang mentakwilkan hadis shurah (tentang bentuk/sifat Allah) hingga menjadikan dhamir (kata ganti) kembali kepada selain Allah, dan mereka menganggap hal itu termasuk jenis takwil-takwil Jahmiyyah, namun para imam tidak men-tabdi' Al-Imam Ibnu Khuzaimah ketika beliau condong kepada takwil tersebut. Dan contoh-contoh lainnya.

Perbedaan (kontras) ini memutus jalan bagi siapa saja yang mengubah aplikasi praktis yang bersifat parsial (juz'i) menjadi kaidah-kaidah umum tanpa peninjauan total (istiqra' tamm) dan tahqiqul manath (verifikasi fakta masalah). Kewajiban kita adalah meneliti dan merinci keadaan orang-orang tertentu sebelum menjatuhkan vonis hukum kepada mereka.

Tampak jelas bahwa Syaikh Ar-Raiyis dan kelompok Al-Haddadiyah membayangkan seolah-olah Imam Ahmad ditanya tentang seseorang yang menyelisihi dalam masalah yang populer, lalu beliau langsung berkata—tanpa mengetahui keadaannya dan sumber pengambilan ilmunya—bahwa ia adalah pelaku bid'ah lagi fasik!!!!

Bayangan ini, jika benar berasal dari mereka, adalah sesuatu yang aneh.

Dalam aplikasi praktis yang bersifat parsial, kita mendapati bahwa para imam bersikap sangat keras dalam mencela orang yang memunculkan perkataan yang menyelisihi apa yang dipegang oleh Al-Jama'ah, terlebih lagi jika hal itu dibarengi dengan penampakan pendapat tersebut dan pelakunya adalah seorang mutakallim (ahlul kalam). Maka mereka langsung menghukuminya dengan tabdi', dan hukum ini tidak berlaku kecuali pada kasus yang serupa. Di antara contoh paling jelas adalah apa yang dilakukan oleh Imam Ahmad terhadap Al-Karabisi dan Ya'qub bin Syaibah.

Al-Karabisi adalah:

  • Seorang mutakallim (ahli kalam), sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syirazi, Adz-Dzahabi, An-Nawawi, dan Ibnu Khallikan.
  • Seseorang yang mastur (tertutup/dikenal baik) dan membela As-Sunnah sebelum munculnya pendapatnya.
  • Menyusun kitab "Al-Mudallisin", yang di dalamnya terdapat celaan terhadap Al-A'masy, Sulaiman At-Taimi, pembelaan terhadap Al-Hasan bin Shalih bin Hayy, serta hadis-hadis yang memperkuat mazhab Rafidhah...
  • Menampakkan masalah Al-Lafzh (lafaz Al-Qur'an), dan hal itu terjadi di masa fitnah Al-Qur'an itu makhluk, lalu ia melafazkan ucapan tersebut untuk membukakan pintu bagi Jahmiyyah agar mereka bisa berkata: "Al-Qur'an adalah makhluk" dengan kedok lafaz.
  • Tatkala sampai kepadanya pengingkaran Imam Ahmad terhadapnya, ia justru bersikeras, hingga ia berkata: "Apa yang harus kita perbuat dengan pemuda ini? Jika kita katakan: 'Makhluk', ia bilang: 'Bid'ah'. Jika kita katakan: 'Bukan makhluk', ia bilang: 'Bid'ah'."

Maka tidak ada tindakan lain bagi Imam Ahmad—setelah beliau mengetahui keadaan dan indikasi urusannya—kecuali men-tabdi'-nya dan memperingatkan manusia darinya.

Abul Qasim At-Taimi Al-Ashbahani berkata: "Dan orang yang pertama kali mengatakan tentang lafaz, dan berkata: 'Lafaz-lafaz kita dengan Al-Qur'an adalah makhluk' adalah Husain Al-Karabisi. Maka Imam Ahmad bin Hanbal men-tabdi'-nya, dan para ulama di berbagai negeri menyetujui vonis tabdi' terhadapnya..."

Maka, kisah Al-Karabisi layak dijadikan contoh tentang tindakan Salaf men-tabdi' orang tertentu secara langsung, tetapi kisah itu tidak layak dijadikan dalil bahwa syarat-syarat tidak diperhitungkan dalam setiap vonis tabdi', atau dalam setiap penyelisihan terhadap suatu prinsip. Paling pol, yang ditunjukkan oleh kisah tersebut adalah bahwa Imam Ahmad men-tabdi' orang yang terkumpul padanya indikasi-indikasi (qarinah) yang melingkupinya secara personal. Dan inilah makna dari masalah al-ain (personal) yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah, yang hukumnya hanya berlaku pada kasus yang serupa dengannya.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa Imam Ahmad sangat memperhatikan kondisi/keadaan, adalah perkataan Abdullah bin Ahmad:

"Ayahku pernah ditanya—dan aku mendengarnya—tentang Al-Lafzhiyyah dan Al-Waqqifah, lalu beliau menjawab: 'Barangsiapa di antara mereka yang mahir ilmu kalam, maka ia adalah seorang Jahmi'."

Riwayat ini menunjukkan bahwa Imam Ahmad tidak menjadikan semata-mata penisbatan kepada Al-Lafzhiyyah atau Al-Waqqifah sebagai sifat yang cukup untuk menjatuhkan hukum, melainkan beliau mengaitkan hukum tersebut dengan sifat tambahan, yaitu kemahiran dalam ilmu kalam (yuhsinu al-kalam).

Demikian pula halnya dengan Ya'qub (bin Syaibah). Al-Khallal meriwayatkan dari Al-Marwadzi, ia berkata: "Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang Ya'qub bin Syaibah, lalu aku katakan: 'Sesungguhnya ia menampakkan keyakinan waqf.' Maka beliau menjawab: 'Ini adalah pelaku bid'ah, pengikut hawa nafsu, ia ingin agar mazhabnya laku'." Perhatikanlah di sini, bagaimana Imam Ahmad mengaitkan alasan hukum tersebut dengan indikasi keadaan (qarinah haliyah) dan adanya iradah fasidah (keinginan yang rusak).

Jika kita meneliti seluruh kejadian secara seksama, akan tampak jelas bagi kita bahwa vonis tabdi' secara personal dijatuhkan berdasarkan indikasi-indikasi dan keadaan. Sebagiannya ada yang dijatuhkan secara langsung kepada orang tertentu, dan sebagiannya lagi tidak dijatuhkan kecuali setelah ditegakkan hujjah sesuai dengan keadaan orang tersebut.

Kesimpulan Masalah: Bahwa Salaf dan para imam membedakan secara global antara dua golongan manusia:

1. Seseorang yang bertolak dari prinsip pengagungan terhadap nash-nash syariat dalam seluruh bab agama, berpegang teguh pada atsar, dan tunduk menerima kebenaran. Akan tetapi, ia tergelincir pada suatu kesalahan yang menyetujui ahli bid'ah, atau melakukan takwil dalam masalah cabang (furu') atau suatu bab, atau datang kepadanya sebuah syubhat yang tidak mampu ia tepis. Maka orang seperti ini tidak langsung di-tabdi' sekadar karena terjerumus dalam kesalahan tersebut, melainkan harus dipastikan terpenuhinya syarat-syarat dan tidak adanya penghalang (mawani'). Oleh karena itu, para imam tidak men-tabdi' setiap orang yang keluar memberontak kepada Al-Hajjaj, tidak pula men-tabdi' Ibnu Khuzaimah, Qadhi Syuraih, dan seterusnya.

2. Seseorang yang bertolak dari prinsip-prinsip ahli bid'ah dan manhaj-manhaj mereka yang menyelisihi atsar, sementara ia mengetahui bahwa dirinya tidak berpegang teguh pada atsar. Maka orang inilah pelaku bid'ah yang sesungguhnya, karena ia mengingkari prinsip dasar dan merusak jalan (manhaj) tersebut.

Hal ini telah saya jelaskan secara terperinci dalam risalah saya: Tabsir Al-Khalaf bi Dhabith Al-Ushul Allati Man Khalafaha Kharaja 'An Manhaj As-Salaf (Mencerahkan Generasi Belakang tentang Batasan-Batasan Prinsip yang Barangsiapa Menyelisihinya Maka Ia Keluar dari Manhaj Salaf), serta dalam beberapa artikel...

Ditulis oleh Dr. Ahmad Muhammad Ash-Shadiq An-Najjar

Adapun mengingkari kemungkaran tanpa menyebutkan pelakunya, seperti mengingkari zina, khamar, dan riba tanpa menyebutkan siapa yang melakukannya, maka hal tersebut adalah wajib berdasarkan keumuman dalil-dalil syariat.

Ketika seorang ustadz salafi menjelaskan kemungkaran kemaksiatan secara umum, seperti; zina, tidak amanah, minum khamr, menggunduli hutan, korupsi, suap menyuap dan contoh2 yg lain, tanpa menyebut nama pelaku dan siapa pelakunya, dan tanpa memprovokasi siapapun. Sebatas menjelaskan hukum sebagai bentuk peringatan kepada kaum muslimin.

Lalu ada orang ” mengomentari ustadz tersebut dengan memberi gelar: “merah jambu”

Itu orang ngajinya dmn sih?
Dia yg salah paham?
Atau ustadznya yg memang ngajari gitu?

Syaikh Ibn Baz rahimahullah menjelaskan:

أَمَّا إِنْكَارُ الْمُنْكَرِ بِدُونِ ذِكْرِ الْفَاعِلِ: فَيُنْكَرُ الزِّنَا، وَيُنْكَرُ الْخَمْرُ، وَيُنْكَرُ الرِّبَا مِنْ دُونِ ذِكْرِ مَنْ فَعَلَهُ، فَذَلِكَ وَاجِبٌ؛ لِعُمُومِ الْأَدِلَّةِ. وَيَكْفِي إِنْكَارُ الْمَعَاصِي وَالتَّحْذِيرُ مِنْهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يُذْكَرَ مَنْ فَعَلَهَا، لَا حَاكِمًا وَلَا غَيْرَ حَاكِمٍ.

“Adapun mengingkari kemungkaran tanpa menyebutkan pelakunya, seperti mengingkari zina, khamar, dan riba tanpa menyebutkan siapa yang melakukannya, maka hal tersebut adalah wajib berdasarkan keumuman dalil-dalil syariat. Dan cukuplah mengingkari berbagai kemaksiatan serta memperingatkan manusia darinya tanpa harus menyebutkan siapa pelakunya, baik pelakunya seorang PENGUASA maupun BUKAN PENGUASA”

Sumber:
مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز (8/ 210).

Senin, 26 Oktober 2026

salah satu penyebab kebingungan sebagian penuntut ilmu Salafi pemula ketika menemukan perbedaan pendapat di antara para ulama adalah anggapan mereka bahwa termasuk konsekuensi dari manhaj Salafi adalah keseragaman perkataan para ulama dalam setiap permasalahan, padahal anggapan ini tidak benar.

معرف درر جزاه الله خيرا 

#خطر_في_بالي ...

أن سبب من اسباب ارتباك بعض السلفيين المبتدئين إذا ما وجد خلافا بين العلماء أنه يظن أن من لازم المنهج السلفي أن يتطابق القول بين العلماء في كل مسألة ، وهذا غير صحيح.

بل المنهج السلفي يلتزم فيه بسبيل المؤمنين ومتابعة الرسول صلى الله عليه وسلم، وقد يقع الاختلاف في الفهم والاجتهاد في مسائل من مسائل العلم بين العلماء، وهذا أمر طبيعي.
فإن قيل: أليس كل عالم سلفي يستدل بالقرآن والسنة وما جاء عن السلف؟

فالجواب :

نعم هو كذلك، ولايلزم من ذلك ألا يقع اختلاف في المسائل الاجتهادية التي ليس فيها الدليل الذي يلزم المصير إليه. ألا ترى إلى كتب السنة فيها مسائل اختلف فيها السلف ؟!

أليس في القرآن والسنة ما يدخله الاجتهاد والنظر؟!

فليس معنى الانتساب إلى السلفية أن لا يقع خلاف بين كلام العلماء في مسائل الاجتهاد.

وليس معنى السلفية أن لا يخطيء عالم ويصيب آخر.

وليس معنى السلفية أن تلزم باجتهاد عالم ما.، فإنه لا يجوز أن يقال يجب التزام قول عالم ما من علماء السلف في المسائل الاجتهادية، بل الواجب هو متابعة الرسول صلى الله عليه وسلم.

وبعض الناس إذا سأل العالم عن مسألة ثم وجد كلامه مخالفا لكلام عالم آخر بادر إلى إيراد كلام العالم الآخر، وسبب ذلك أنه لا يتصور أن يختلف العلماء السلفيين

وهذا خطأ بل يختلفون في مسائل الاجتهاد، التي ليس فيها دليل ملزم، وقد يتفقون.

المهم أنه ليس من اللازم أن يوافق كلام العالم في المسألة الاجتهادية كلام عالم آخر.
والله الموفق

كتبه محمد بازمول
https://www.facebook.com/share/p/1EFZhi9r8T/
Penerbit: Darar, semoga Allah membalas kebaikannya
#Terlintas_di_Pikiranku...
Bahwa salah satu penyebab kebingungan sebagian penuntut ilmu Salafi pemula ketika menemukan perbedaan pendapat di antara para ulama adalah anggapan mereka bahwa termasuk konsekuensi dari manhaj Salafi adalah keseragaman perkataan para ulama dalam setiap permasalahan, padahal anggapan ini tidak benar.
Justru manhaj Salafi itu berkomitmen untuk mengikuti jalan orang-orang beriman dan meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Perbedaan dalam pemahaman dan ijtihad terkadang memang bisa terjadi pada sebagian masalah ilmiah di antara para ulama, dan ini adalah hal yang lumrah/alami.
Jika dikatakan: "Bukankah setiap ulama Salafi berdalil dengan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan atsar dari para salaf?"
Maka jawabannya:
Ya, benar demikian. Namun, hal itu tidak mengharuskan untuk tidak terjadinya perbedaan pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak memiliki dalil qath'i (pasti) yang mewajibkan untuk harus mengikutinya. Tidakkah engkau melihat bahwa di dalam kitab-kitab sunnah terdapat masalah-masalah yang diperselisihkan oleh para salaf?!
Bukankah di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah terdapat hal-hal yang memerlukan ijtihad dan penelaahan?!
Oleh karena itu, makna bernisbat kepada Salafiyah bukanlah berarti tidak adanya perbedaan pendapat di antara perkataan para ulama dalam masalah-masalah ijtihad.
Makna Salafiyah juga bukan berarti seorang ulama tidak pernah salah dan ulama lainnya selalu benar.
Dan makna Salafiyah bukanlah berarti Anda harus terikat dengan ijtihad seorang ulama tertentu saja. Sesungguhnya, tidak boleh dikatakan bahwa wajib hukumnya untuk selalu terikat dengan perkataan seorang ulama tertentu dari kalangan ulama Salaf dalam masalah-masalah ijtihad, melainkan kewajiban yang utama adalah mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Sebagian orang, jika bertanya kepada seorang ulama tentang suatu permasalahan lalu mendapati perkataannya berbeda dengan perkataan ulama lain, ia langsung menyodorkan perkataan ulama yang lain tersebut. Penyebabnya adalah karena ia tidak dapat membayangkan jika para ulama Salaf bisa berbeda pendapat.
Ini adalah sebuah kesalahan. Justru mereka memang berbeda pendapat dalam masalah-masalah ijtihad yang tidak memiliki dalil yang mengikat, dan terkadang pula mereka sepakat.
Yang terpenting adalah, tidaklah menjadi keharusan bagi perkataan seorang ulama dalam masalah ijtihadiyah untuk selalu sejalan dengan perkataan ulama lainnya.
Wallaahu al-muwaffiq (Dan Allah lah yang memberi taufik).
Ditulis oleh: Muhammad Bazmul