Minggu, 30 Agustus 2026

Di antara kekeliruan anak, dan ini termasuk bentuk durhaka, adalah melarang ayah/ibu menikah lagi setelah salah satunya wafat.

Di antara kekeliruan anak, dan ini termasuk bentuk durhaka, adalah melarang ayah/ibu menikah lagi setelah salah satunya wafat.

๐Ÿญ. ๐—”๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ธ ๐—ฏ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ต๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ถ๐—ฏ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—น?

Jika seorang ayah membutuhkan pernikahan setelah istrinya meninggal, tidak boleh seorang pun dari anak-anaknya melarangnya menikah. Sebab, melarang ayah menikah merupakan bentuk kedurhakaan kepadanya, sedangkan durhaka kepada orang tua termasuk dosa-dosa besar.

Sebagaimana kebutuhan untuk menikah dapat dimiliki oleh orang-orang yang masih muda, demikian pula kebutuhan tersebut dapat dimiliki oleh orang-orang yang sudah lanjut usia. Tidak ada alasan yang membolehkan anak-anak melarang ayah mereka menikah, sekalipun ayah tersebut telah berusia lanjut.

Kebutuhan untuk menikah tidak harus semata-mata karena dorongan syahwat. Bahkan, seseorang yang telah lanjut usia terkadang membutuhkan perawatan, perhatian, dan pelayanan, yang tidak dapat dilakukan oleh siapa pun kecuali istrinya.

Pada umumnya, anak-anak akan berpisah dari orang tua mereka setelah beberapa waktu. Masing-masing kemudian menjalani kehidupannya sendiri. Sang ayah yang malang itu tinggal seorang diri, merasakan pahitnya kesendirian. Ia merasakan keterasingan seiring bertambahnya usia, sementara kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri semakin berkurang.

Pada usia seperti ini, ia membutuhkan seseorang yang dapat melayaninya dan menemaninya. Allah telah membolehkan sesuatu yang dapat menghilangkan keadaan tersebut darinya serta menjaga kehormatannya, yang dalam banyak keadaan dapat hilang ketika seseorang dibiarkan tanpa makanan, tanpa perhatian, tanpa teman yang menemani, dan tanpa orang yang duduk bersamanya.

Karena itu, jika anak-anak mendapati bahwa ayah mereka membutuhkan pernikahan setelah ibu mereka meninggal, hendaknya mereka membantu dan tidak menghalanginya. Mereka hendaknya membantu sang ayah memilih seorang istri yang sesuai, yang mampu menghargai kondisinya, melayaninya, dan mengurus keperluannya.

Dalam hadis tentang tiga orang yang pernah melakukan perjalanan, disebutkan bahwa:

“…datanglah seorang wanita kepada Rasulullah ๏ทบ dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah seorang tua yang telah lanjut usia dan tidak mempunyai seorang pelayan. Apakah engkau tidak suka jika aku menjadi pelayannya?’ Beliau menjawab: ‘Tidak, tetapi aku tidak melarangmu.’”

Beliau ๏ทบ menggambarkan Hilal sebagai seorang tua yang telah lanjut usia dan tidak memiliki orang yang melayaninya. Maka, betapa besar kebutuhan seseorang pada usia seperti itu terhadap orang yang mengurus urusannya, agar dirinya tidak terlantar dan akhirnya binasa.


๐Ÿฎ. ๐—›๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—บ ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ธ-๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ถ๐—ฏ๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—น

Ini juga tidak boleh, dan termasuk bentuk kedurhakaan dan kezaliman.

Seorang wanita boleh menikah setelah suaminya meninggal dan setelah selesai masa idahnya. Dahulu, di antara para wanita dari kalangan sahabat dan generasi salaf yang saleh, ada yang menikah kembali segera setelah masa idah mereka dari suami yang telah meninggal selesai.

Di antara contohnya adalah kisah Subai‘ah binti al-Harits ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง. Ia sebelumnya berada di bawah pernikahan (istri dari -ed) Sa‘d bin Khaulah, seorang laki-laki dari Bani ‘Amir bin Lu’ayy. Ia termasuk orang yang turut menyaksikan Perang Badar.

Sa‘d kemudian meninggal dunia ketika sedang berada dalam perjalanan haji wada‘, sementara Subai‘ah dalam keadaan hamil. Ia kemudian melahirkan tidak lama setelah suaminya meninggal. Setelah itu, ia berhias untuk menerima pinangan.

Kemudian Abu as-Sanabil bin Ba‘kak, seorang laki-laki dari Bani ‘Abdid-Dar, masuk menemuinya. Ia berkata kepadanya:

“Mengapa engkau berhias seperti ini? Demi Allah, engkau belum boleh menikah sampai berlalu empat bulan sepuluh hari.”

Subai‘ah ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง berkata:

“Ketika ia mengatakan hal itu kepadaku, aku mengumpulkan pakaianku pada sore hari, lalu aku mendatangi Rasulullah ๏ทบ dan bertanya kepada beliau tentang masalah tersebut. Beliau ๏ทบ kemudian memberikan fatwa kepadaku bahwa aku telah halal ketika melahirkan kandunganku, dan beliau memerintahkanku untuk menikah jika aku menginginkannya.”

Kisah ini menunjukkan bahwa seorang wanita yang ditinggal wafat oleh suaminya tidak harus tetap menjanda, tetapi setelah selesai masa idahnya—bahkan bagi wanita hamil, masa idahnya berakhir dengan melahirkan—ia berhak menikah kembali.

Contoh lainnya adalah Asma’ binti ‘Umais ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง. Ia termasuk wanita yang berhijrah ke Habasyah bersama suaminya, Ja‘far bin Abi Thalib ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡. Setelah Ja‘far terbunuh, Asma’ kemudian menikah dengan Abu Bakar ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡. Setelah Abu Bakar meninggal dunia, ia kemudian menikah dengan Ali ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡.

Dengan demikian, anak-anak tidak berhak melarang ibu mereka menikah setelah ayah mereka meninggal, selama pernikahan tersebut dilakukan secara syar‘i. Menghalanginya tanpa alasan yang dibenarkan merupakan bentuk kedurhakaan dan kezaliman.

๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป:

Baik ayah maupun ibu yang ditinggal wafat oleh pasangannya tetap memiliki hak untuk menikah kembali. Anak bukanlah pemilik kehidupan orang tuanya. Jika orang tua membutuhkan pasangan, sikap yang semestinya dari seorang anak adalah membantu dan memudahkan, bukan menghalangi.
____
Dari kitab Ahkam Birrul Walidain karya syaikh Muhammad Shaleh al-Munajjid.

Sabtu, 29 Agustus 2026

E๐งg๐คa๐ฎ ๐šk๐šn m๐žn๐a๐ฉa๐ญi b๐šn๐ฒa๐ค ๐ฆa๐งu๐ฌi๐š ๐ฒa๐งg m๐žm๐›a๐œa A๐ฅ-๐u๐ซ`๐šn n๐šm๐ฎn b๐žr๐ฌa๐ฆa๐šn i๐ญu m๐žr๐žk๐š ๐ฃu๐ a t๐žr๐ฃa๐ญu๐ก ๐i d๐šl๐šm k๐žs๐ฒi๐ซi๐คa๐ง ๐a๐ง ๐ฆe๐ซe๐ฆe๐กk๐šn t๐šu๐กi๐

E๐งg๐คa๐ฎ ๐šk๐šn m๐žn๐a๐ฉa๐ญi b๐šn๐ฒa๐ค ๐ฆa๐งu๐ฌi๐š ๐ฒa๐งg m๐žm๐›a๐œa A๐ฅ-๐u๐ซ`๐šn n๐šm๐ฎn b๐žr๐ฌa๐ฆa๐šn i๐ญu m๐žr๐žk๐š ๐ฃu๐ a t๐žr๐ฃa๐ญu๐ก ๐i d๐šl๐šm k๐žs๐ฒi๐ซi๐คa๐ง ๐a๐ง ๐ฆe๐ซe๐ฆe๐กk๐šn t๐šu๐กi๐. P๐šd๐šh๐šl p๐žr๐คa๐ซa t๐šu๐กi๐ ๐a๐ง ๐ฌy๐ขr๐ขk i๐งi a๐a๐ฅa๐ก ๐ฉe๐ซk๐šr๐š ๐ฒa๐งg j๐žl๐šs d๐ข ๐a๐ฅa๐ฆ ๐Ši๐ญa๐› ๐€l๐ฅa๐ก ๐a๐ง ๐id๐šl๐šm S๐ฎn๐งa๐ก ๐‘a๐ฌu๐ฅu๐ฅl๐šh s๐กa๐ฅl๐šl๐ฅa๐กu a๐ฅa๐ขh๐ข ๐ฐa s๐šl๐ฅa๐ฆ, H๐šl i๐งi d๐ขk๐šr๐žn๐šk๐šn m๐žr๐žk๐š ๐›e๐ซj๐šl๐šn d๐ข ๐št๐šs a๐a๐ญ ๐คe๐›i๐šs๐ša๐ง ๐a๐ง ๐šp๐š ๐ฒa๐งg m๐žr๐žk๐š ๐a๐ฉa๐ญi d๐šr๐ข ๐šy๐šh-a๐ฒa๐ก ๐ฆe๐ซe๐คa d๐šn t๐จk๐จh-t๐จk๐จh m๐žr๐žk๐š. S๐žh๐ขn๐ g๐š ๐ฒa๐งg m๐žn๐ฃa๐i p๐št๐จk๐šn m๐žn๐ฎr๐ฎt m๐žr๐žk๐š ๐šd๐šl๐šh a๐ฉa y๐šn๐  ๐ฆe๐ซe๐คa d๐šp๐št๐ข ๐a๐ซi b๐šp๐šk-b๐šp๐šk, ๐ญo๐คo๐ก-๐ญo๐คo๐ก, d๐šn p๐žn๐u๐u๐ค ๐งe๐ e๐ซi m๐žr๐žk๐š. M๐žr๐žk๐š ๐ญi๐a๐ค ๐›e๐ซf๐ขk๐ขr w๐šl๐šu s๐žb๐žn๐ญa๐ซ ๐ฎn๐ญu๐ค ๐ฆe๐ซe๐งu๐งg๐ข ๐a๐ง ๐ฆe๐งt๐šd๐šb๐ฎr๐ข ๐€l-Q๐ฎr`a๐ง, k๐žm๐ฎd๐ขa๐ง ๐ฆe๐ซe๐คa 
๐›a๐งd๐ขn๐ k๐šn d๐žn๐ a๐ง ๐ฉe๐ซi๐ฅa๐คu h๐ขd๐ฎp m๐šn๐ฎs๐ขa, ๐šp๐šk๐šh y๐šn๐  ๐ฆe๐ซe๐คa l๐šk๐ฎk๐šn i๐ญu b๐žn๐šr a๐ญa๐ฎ ๐ญi๐a๐ค.

_____
Faidah dari Ta'lim 
kitab Ushulus sittah

Faedah daurah Lum'atul I'tiqad tadi malam

|| Faedah daurah Lum'atul I'tiqad tadi malam

๐Ÿ“šSyaikhuna Dr. Mahir Khaujah hafizhahullah menyebutkan kepada kami cara simple mengenal orang yang terjangkit virus khawarij:

"Lihat kemana statemen yang ia tuturkan bermuara. Jika ujung ucapannya adalah naz'ul hakim (mencopot penguasa) maka ketahuilah ia berada di atas manhaj khawarij."

Hal ini beliau ulang beberapa kali pas kajian, juga di sejumlah kajian lainnya beliau menyinggung kaedah ini. 

๐Ÿ“Ciri seperti ini banyak kita temui pada orang-orang zaman sekarang. Mereka menyelinap di balik jubah Ahlussunnah namun nyatanya membawa virus merah jambu. 

Oleh karena itu ulama Ahlussunnah terkadang menyebutkan ciri spesifik khawarij adalah "al-khuruj" (keluar dari ketaatan) bukan takfir. Karena ga selamanya orang yang menyerukan kepada khuruj itu mengkafirkan pemimpin yang sedang berkuasa. 

๐Ÿ”ŽAwal diskusi biasanya mereka membahas persoalan umum seperti sistem demokrasi, negara Islam, berhukum kepada selain syariat, ketaatan, kezhaliman penguasa, dll, namun di akhir cerita antum akan dapati kesimpulan ucapan mereka adalah penguasa sekarang tak layak menjabat. Mereka ingin penguasa diganti, jika tidak mereka ga akan puas. 

๐Ÿ–‹Isi postingannya akan sering ditemukan membahas politik dan meng-ghibah penguasa dengan dalih rakyat berhak bersuara. Itulah makanan sehari-hari mereka setiap bergantinya penguasa negeri ini. Mereka tak mengubah keadaan, cuma modal koar-koar tanpa ilmu. 

⚠️Orang-orang seperti ini harus dihindari. Jika antum tidak punya asas ilmu aqidah yang kuat dalam masalah ini antum bisa terbuai dengan syubhat halus mereka. 
ู†ุณุฃู„ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุณู„ุงู…ุฉ ูˆุงู„ุชูˆููŠู‚
Ustadz muhammad taufiq

Jumat, 28 Agustus 2026

■ ู…ู† ูู‚ู‡ #ุงู„ุฎุทูŠุจ ุฃู„ุง ูŠุฌุนู„ ุทูˆู„ ุงู„ุฎุทุจุฉ ู…ู‚ูŠุงุณุงً ู„ุนู„ู…ู‡ ูˆุจู„ุงุบุชู‡، ูุฅู† ุฎูŠุฑ ุงู„ูƒู„ุงู… ู…ุง ู‚ู„ ูˆุฏู„، ูˆุฃุตุงุจ ู…ูˆุถุน ุงู„ุญุงุฌุฉ.

■ ู…ู† ูู‚ู‡ #ุงู„ุฎุทูŠุจ ุฃู„ุง ูŠุฌุนู„ ุทูˆู„ ุงู„ุฎุทุจุฉ ู…ู‚ูŠุงุณุงً ู„ุนู„ู…ู‡ ูˆุจู„ุงุบุชู‡، ูุฅู† ุฎูŠุฑ ุงู„ูƒู„ุงู… ู…ุง ู‚ู„ ูˆุฏู„، ูˆุฃุตุงุจ ู…ูˆุถุน ุงู„ุญุงุฌุฉ.

● ู‚ุงู„ ุงู„ู†ุจูŠ ๏ทบ: (ุฅู†َّ ุทูˆู„َ ุตู„ุงุฉِ ุงู„ุฑุฌู„ِ ูˆ ู‚ِุตَุฑَ ุฎُุทุจุชِู‡ ู…َุฆِู†َّุฉٌ ู…ู† ูู‚ู‡ِู‡ ، ูุฃَุทูŠู„ูˆุง ุงู„ุตู„ุงุฉَ ، ูˆ ุฃَู‚ุตِุฑูˆุง ุงู„ุฎُุทุจุฉَ)
๐Ÿ“š ุตุญูŠุญ ู…ุณู„ู… (869)

ูุฌุนู„ ๏ทบ ู‚ุตุฑ #ุงู„ุฎุทุจุฉ ุนู„ุงู…ุฉً ุนู„ู‰ ุงู„ูู‚ู‡؛ ู„ุฃู† ุงู„ูู‚ูŠู‡ ูŠุนุฑู ู‚ุฏุฑ ุงู„ุญุงุฌุฉ، ูˆูŠุนู„ู… ุฃู† ุงู„ู…ู‚ุตูˆุฏ ู…ู† ุงู„ุฎุทุจุฉ ู‡ุฏุงูŠุฉ ุงู„ู‚ู„ูˆุจ ูˆุชุฐูƒูŠุฑู‡ุง، ู„ุง ุงุณุชู†ูุงุฏ ุงู„ูˆู‚ุช، ูˆู„ุง ุงุณุชุนุฑุงุถ ุงู„ู…ุญููˆุธุงุช.

ูˆุฅุฐุง ูƒุงู† ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุฃุตู„، ูุฅู† ุงู„ูู‚ู‡ ูŠุฒุฏุงุฏ ุธู‡ูˆุฑุงً ุนู†ุฏ ุชุบูŠุฑ ุงู„ุฃุญูˆุงู„ ูˆู†ุฒูˆู„ ุงู„ู…ุดู‚ุงุช؛ ูููŠ ุฃูŠุงู… ุงุดุชุฏุงุฏ ุงู„ุญุฑ
ูˆ #ุงู†ู‚ุทุงุน_ุงู„ุชูŠุงุฑ_ุงู„ูƒู‡ุฑุจุงุฆูŠ ุนู† ูƒุซูŠุฑ ู…ู† #ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ، ูˆู…ุง ูŠุตุญุจ ุฐู„ูƒ ู…ู† ุดุฏุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุตู„ูŠู†، ูŠูƒูˆู† ุชู‚ุตูŠุฑ ุงู„ุฎุทุจุฉ ู…ุน ุงุณุชูŠูุงุก ู…ู‚ุตูˆุฏู‡ุง ู…ู† ุชู…ุงู… ุงู„ูู‚ู‡ ูˆุญุณู† ุงู„ุฑุนุงูŠุฉ.

ูู…ุง ุฃุจุนุฏ #ุงู„ูู‚ู‡ ุนู…ู† ูŠุฑู‰ ุงู„ู†ุงุณ ููŠ ุดุฏุฉ، ุซู… ูŠุทูŠู„ ุนู„ูŠู‡ู… ุจุญุฌุฉ ุฃู†ู‡ ู‚ุฏ ุฃุนุฏ ูƒู„ุงู…ุงً ูƒุซูŠุฑุงً !

ุฅู† #ุงู„ู…ู†ุจุฑ ู„ูŠุณ ู…ูˆุถุนุงً ู„ูŠู‚ูˆู„ ุงู„ุฎุทูŠุจ ูƒู„ ู…ุง ุนู†ุฏู‡، ูˆุฅู†ู…ุง ู…ูˆุถุนٌ ู„ูŠู‚ูˆู„ ู…ุง ูŠุญุชุงุฌ ุฅู„ูŠู‡ ุงู„ู†ุงุณ، ุจุงู„ู‚ุฏุฑ ุงู„ุฐูŠ ูŠุจู„ุบ ุงู„ู‚ู„ูˆุจ ูˆู„ุง ูŠุฑู‡ู‚ ุงู„ุฃุจุฏุงู†.

■ ุงู„ูู‚ูŠู‡ ููŠ ุฎุทุจุชู‡ ู…ู† ุฌู…ุน ุจูŠู† ู‚ูˆุฉ ุงู„ู…ูˆุนุธุฉ، ูˆู‚ู„ุฉ ุงู„ุชูƒู„ู، ูˆู…ุฑุงุนุงุฉ ุฃุญูˆุงู„ ุงู„ู†ุงุณ.

ูˆู…ู† #ูู‚ู‡_ุงู„ู†ุต ุฃู† ุชู‚ุตุฑ ุงู„ุฎุทุจุฉ، ูˆู…ู† #ูู‚ู‡_ุงู„ูˆุงู‚ุน ุฃู† ุชุฑุงุนูŠ ู…ุดู‚ุฉ ุงู„ู…ุตู„ูŠู†.

ูู„ุง ุฅุฎู„ุงู„ ุจุงู„ู…ู‚ุตูˆุฏ، ูˆู„ุง ุฅุทุงู„ุฉ ุชูˆุฑุซ ุงู„ุณุขู…ุฉ ูˆุงู„ู…ุดู‚ุฉ؛ ูˆุฅู†ู…ุง ุจูŠุงู†ٌ ุจู„ูŠุบ، ูˆู…ูˆุนุธุฉٌ ู†ุงูุนุฉ، ูˆุฑูู‚ٌ ุจุงู„ู†ุงุณ.

https://t.me/mashayikhlibia

■ Di antara fikih (pemahaman) seorang khatib adalah tidak menjadikan panjangnya khutbah sebagai ukuran bagi keilmuan dan kebalagahannya (keluwesan berbahasanya). Sebab, sebaik-baik perkataan adalah yang singkat namun padat (qalla wa dalla) serta tepat mengenai sasaran kebutuhan.
● Nabi ๏ทบ bersabda:
(“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan singkatnya khutbah merupakan tanda dari pemahamannya (fikihnya). Maka panjangkanlah shalat dan persingkatlah khutbah.”)
๐Ÿ“š Sahih Muslim (869)
Beliau ๏ทบ menjadikan singkatnya khutbah sebagai tanda keilmuan/pemahaman; karena seorang yang ahli fikih (faqih) mengetahui kadar kebutuhan jemaah. Ia menyadari bahwa tujuan khutbah adalah untuk memberi hidayah dan peringatan bagi hati, bukan untuk menghabiskan waktu atau memamerkan hafalan.
Jika ini adalah hukum asalnya, maka pemahaman fikih tersebut dituntut untuk lebih tampak lagi ketika keadaan berubah dan muncul kesulitan. Misalnya, pada hari-hari ketika cuaca sangat panas dan terjadi pemadaman listrik di banyak masjid, yang disertai dengan rasa berat/gerah pada para jemaah, maka mempersingkat khutbah—tanpa mengurangi tujuannya—merupakan bagian dari kesempurnaan fikih dan bentuk pengayoman yang baik.
Betapa jauhnya fikih dari seseorang yang melihat jemaahnya berada dalam kesulitan, namun ia justru memperpanjang khutbahnya dengan alasan telah menyiapkan materi yang banyak!
Sesungguhnya mimbar bukanlah tempat bagi khatib untuk menyampaikan semua hal yang ia miliki, melainkan tempat untuk menyampaikan apa yang dibutuhkan oleh jemaah, dengan kadar yang dapat meresap ke dalam hati tanpa menyiksa fisik.
■ Seorang yang faqih dalam khutbahnya adalah orang yang menggabungkan antara kuatnya nasihat, minimnya sikap memaksakan diri (tikalluf), serta perhatian terhadap kondisi jemaah.
Di antara fikih terhadap dalil/teks (fiqh an-naแนฃแนฃ) adalah mempersingkat khutbah, dan di antara fikih terhadap realita (fiqh al-wฤqi') adalah memperhatikan kesulitan para jemaah.
Maka, tidak boleh ada pengurangan pada tujuan khutbah, tidak boleh pula ada pemanjangan khutbah yang memicu rasa bosan dan kesulitan; melainkan penjelasan yang lugas (balฤซgh), nasihat yang bermanfaat, serta sikap lembut kepada sesama.


Hakikat Kehidupan Dunia dan Perumpamaannya

[Hakikat Kehidupan Dunia dan Perumpamaannya]

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

 «ู…َุง ู„ِูŠ ูˆَู„ِู„ุฏُّู†ْูŠَุง، ู…َุง ุฃَู†َุง ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุฅِู„َّุง ูƒَุฑَุงูƒِุจٍ ุงุณْุชَุธَู„َّ ุชَุญْุชَ ุดَุฌَุฑَุฉٍ ุซُู…َّ ุฑَุงุญَ ูˆَุชَุฑَูƒَู‡َุง»

"Ada urusan apa aku dengan dunia ini? Tidaklah aku di dunia ini melainkan hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya." [H.R. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim]

Dan dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«ู…َุง ู„ِูŠ ูˆَู„ِู„ุฏُّู†ْูŠَุง، ูˆَู…َุง ู„ِู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَู„ِูŠ، ูˆَุงู„َّุฐِูŠ ู†َูْุณِูŠ ุจِูŠَุฏِู‡ِ ู…َุง ู…َุซَู„ِูŠ ูˆَู…َุซَู„ُ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุฅِู„َّุง ูƒَุฑَุงูƒِุจٍ ุณَุงุฑَ ูِูŠ ูŠَูˆْู…ٍ ุตَุงุฆِูٍ، ูَุงุณْุชَุธَู„َّ ุชَุญْุชَ ุดَุฌَุฑَุฉٍ ุณَุงุนَุฉً ู…ِู†ْ ู†َู‡َุงุฑٍ، ุซُู…َّ ุฑَุงุญَ ูˆَุชَุฑَูƒَู‡َุง»

 "Ada urusan apa aku dengan dunia, dan ada urusan apa dunia dengan diriku? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini melainkan hanyalah seperti seorang pengendara yang berjalan di hari yang sangat panas, lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon sesaat di siang hari, kemudian ia pergi dan meninggalkannya." 

Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily hafizhahullah di kajian Masjid Nabawy menjelaskan:

​Makna «ู…َุง ู„ِูŠ ูˆَู„ِู„ุฏُّู†ْูŠَุง» (ada urusan apa aku dengan dunia ini) adalah: aku tidak memiliki rasa cinta kepada dunia yang dapat mengikatku padanya dan menjadikanku lupa akan apa yang menantiku di hadapanku setelah kematianku. "Ada urusan apa aku dengan dunia ini"; aku tidak memiliki rasa cinta kepada dunia yang mengikatku padanya dan menjadikanku lupa akan apa yang menantiku di negeri akhirat kelak.

​Hal tersebut tidak akan benar-benar terealisasi (di dalam hati) melainkan bagi orang yang mengetahui kadar (nilai) dunia dan menimbangnya dengan timbangan yang benar. Ia yakin bahwa selama apa pun hari-harinya, dunia itu sangatlah pendek dan cepat berlalu, dan seindah apa pun ia, dunia pasti akan sirna. Segala sesuatu yang ada di dalamnya akan berlalu; manisnya akan berlalu, pahitnya pun akan berlalu, dan ia tidak akan pernah menetap pada satu keadaan.

​Ia juga mengetahui dan meyakini bahwa sejak ia dilahirkan, ia terus berjalan menuju akhirat. Sebagaimana ia keluar menuju dunia dari kegelapan rahim, ia juga akan berpisah darinya menuju kegelapan kubur. Di dunia ini, ia berada di antara dua kegelapan. Dan kuburan tidak akan pernah diterangi untuknya kecuali jika ia telah mengetahui nilai dunia (yang sebenarnya) dan tidak mengutamakannya di atas akhirat.

Qultu:

Dalam realita kehidupan, ini mirip dengan orang yang sedang melakukan perjalanan jauh lintas kota (misalnya mudik), lalu ia singgah di rest area untuk beristirahat sebentar, minum, dan buang air. Tidak ada orang berakal yang akan menghabiskan seluruh tabungannya untuk membeli material dan membangun rumah permanen yang mewah di rest area tersebut, karena ia tahu ia akan segera pergi melanjutkankan perjalanan ke kampung halaman. Begitulah dunia, ia hanya perbekalan sementara untuk negeri akhirat.

Syaikh menjelaskan bahwa "manisnya akan berlalu, pahitnya pun akan berlalu".

Na'am. Manisnya akan berlalu, pahitnya pun akan berlalu.

Semoga bermanfaat.
Uhaj

Ensiklopedi Akhlak Penguasa dalam Syariat islam

ู‚ุฑุงุกุฉ ู„ูƒุชุงุจ
"ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุญูƒุงู… ููŠ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ"
ู„ู„ุนู„ّุงู…ุฉ ุงู„ุดูŠุฎ ุฃุจูŠ ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุนุจุฏ ุงู„ุจุงู‚ูŠ ุญู‚ّุงู†ูŠ
.
ุจู‚ู„ู… ูุถูŠู„ุฉ ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ุฏูƒุชูˆุฑ:
ุนู„ูŠ ู…ุญู…َّุฏ ู…ุญู…َّุฏ ุงู„ุตู„َّุงุจูŠ
.
.
ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…
.
ู‡ุฐู‡ ู‚ุฑุงุกุฉ ู…ุชุฃู†ูŠุฉ ู„ูƒุชุงุจ "ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุญูƒุงู… ููŠ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ"، ู„ู„ุนู„ّุงู…ุฉ ุงู„ุดูŠุฎ ุฃุจูŠ ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุนุจุฏ ุงู„ุจุงู‚ูŠ ุญู‚ّุงู†ูŠ، ูˆู‡ูˆ ุงู„ุนุงู„ู… ุงู„ุฃูุบุงู†ูŠ ุงู„ุฌู„ูŠู„ ุงู„ุฐูŠ ุฌู…ุน ุจูŠู† ุณู…ูˆّ ุงู„ุนู„ู… ูˆุตู„ุงุจุฉ ุงู„ุนู…ู„، ูˆูƒุฑّุณ ุฌู‡ูˆุฏู‡ ู„ุจูŠุงู† ุฃุณุณ ุงู„ุณูŠุงุณุฉ ูˆุงู„ุฅุฏุงุฑุฉ ููŠ ุงู„ุฅุณู„ุงู…. ูˆู‚ุฏ ุฃู„ّู ูƒุชุจุงً ู†ุงูุนุฉ ูƒุงู†ุช ูˆู„ุง ุชุฒุงู„ ุงู„ุฃู…ุฉ ููŠ ุฃุดุฏّ ุงู„ุญุงุฌุฉ ุฅู„ูŠู‡ุง، ุฎุงุตุฉ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุนุตุฑ.
ูˆุฃู†ุง ุฃูƒุชุจ ุนู† ู‡ุฐุง ุงู„ูƒุชุงุจ ุชุฐูƒุฑّุช ูƒุชุงุจ "ุงู„ุฃู…ูŠุฑ" ู„ู„ูƒุงุชุจ ูˆุงู„ุณูŠุงุณูŠ ุงู„ุฅูŠุทุงู„ูŠ ู†ูŠูƒูˆู„ูˆ ู…ูƒูŠุงููŠู„ูŠ، ูˆุงู„ุฐูŠ ุงู‡ุชู…ّ ุจู‡ ุงู„ุญูƒุงู… ูˆุงู„ุฃู…ุฑุงุก ูˆุงู„ู…ู„ูˆูƒ ู…ู†ุฐ ุฃู† ุฎุฑุฌ ูˆุชุฑุจّุช ุนู„ูŠู‡ ุฃุฌูŠุงู„ ูˆุฃุฌูŠุงู„ ู…ู† ุงู„ุญูƒุงู… ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ูˆุบูŠุฑ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†، ูู‚ู„ุช ู„ุนู„ّ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒّ ูˆุฌู„ ูˆุจุงุณู…ู‡ ุงู„ูุชّุงุญ ุงู„ุนู„ูŠู… ุฃู† ูŠูุชุญ ุจู‡ุฐุง ุงู„ูƒุชุงุจ ู‚ู„ูˆุจ ุงู„ุญูƒّุงู… ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†، ูˆูŠูƒูˆู† ุณุจุจุงً ููŠ ู‡ุฏุงูŠุฉ ุบูŠุฑู‡ู… ู„ู…ุนุฑูุฉ ุนุธู…ุฉ ู‡ุฐุง ุงู„ุฏูŠู† ู…ู† ุฎู„ุงู„ ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุญูƒّุงู… ููŠ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ.
ูุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ุฏูƒุชูˆุฑ ุนุจุฏ ุงู„ุจุงู‚ูŠ ูˆุถุน ุนู„ู‰ ุตูุญุฉ ุงู„ูƒุชุงุจ: (ุงู„ู‚ุงุฆุฏ ู„ุง ูŠู…ูƒู† ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุนุธูŠู…ุงً ู…ุงู„ู… ูŠูƒู† ุนู„ู‰ ุฎู„ู‚ ุนุธูŠู…؛ ูุฅู†ّ ู‚ูˆّุฉ ุงู„ุฎُู„ُู‚ْ ูƒุงู†ุช ุฏุงุฆู…ุงً ููŠ ู…ู‚ุฏّู…ุฉ ุฎุตุงุฆุต ุงู„ู‚ุงุฏุฉ ุงู„ุนุธุงู…)
ูˆุงุนุชุจุฑ ุงู„ุดูŠุฎ ุฃู†ّ ุงู„ู†ุจูŠّ ๏ทบ ู‚ุงุฆุฏุงً ู„ู„ุญูƒู… ุงู„ุฑุดูŠุฏ، ูˆู…ุนู„ู…ุงً ู„ู…ุจุงุฏุฆ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ، ูˆุฃู†ّ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุฑูƒูŠุฒุฉ ุฃุณุงุณูŠุฉ ููŠ ุจู†ุงุก ุงู„ุฏูˆู„ุฉ ูˆุงุณุชู‚ุฑุงุฑู‡ุง. ูˆุฃู†ّ ุงู„ุญูƒู… ููŠ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ู„ูŠุณ ุชุณู„ุทุงً ูˆู„ุง ุงุณุชุนุจุงุฏุงً، ุจู„ ู‡ูˆ ุฃู…ุงู†ุฉ ูˆู…ุณุคูˆู„ูŠุฉ ูƒู…ุง ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ๏ทบ (ูƒู„ูƒู… ุฑุงุน ูˆูƒู„ูƒู… ู…ุณุคูˆู„ ุนู† ุฑุนูŠุชู‡).
ูˆุฏุนุง ุงู„ุดูŠุฎ ููŠ ูƒุชุงุจู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ุญุงุฌุฉ ุงู„ู…ู„ุญّุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุนูˆุฏุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฃุตูˆู„ ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ููŠ ุงู„ุญูƒู… ูˆุงู„ุณูŠุงุณุฉ ูˆุฅุญูŠุงุก ุงู„ู…ู†ุธูˆู…ุฉ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ูŠุฉ، ุงู„ุชูŠ ุฃุฑุณุงู‡ุง ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุญุชّู‰ ุชุณุชุนูŠุฏ ุงู„ุฃู…ุฉ ู…ูƒุงู†ุชู‡ุง، ูˆุชุชู…ูƒู† ู…ู† ุฅู‚ุงู…ุฉ ู†ุธุงู… ุณูŠุงุณูŠ ุฑุดูŠุฏ ูŠุญู‚ู‚ ุงู„ุนุฏู„ ูˆูŠุถู…ู† ุงู„ุญู‚ูˆู‚ ูˆูŠุญูุธ ุงู„ุฏูŠู† ูˆุงู„ุฏู†ูŠุง ู…ุนุงً.
ูˆู„ุง ุดูƒّ ุฃู†ّ ู…ุณุชู‚ุจู„ ุงู„ุฃู…ุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ู…ุฑู‡ูˆู† ุจุฅุนุฏุงุฏ ู‚ุงุฏุฉ ู…ุคู‡ู„ูŠู† ู„ุฅู‚ุงู…ุฉ ู†ุธุงู… ุณูŠุงุณูŠ ูˆุฅุฏุงุฑูŠ، ู‚ุงุฆู… ุนู„ู‰ ู‡ุฏูŠ ุงู„ู†ุจّูˆุฉ ูˆุงู„ุฎู„ุงูุฉ ุงู„ุฑุงุดุฏุฉ ูˆุงู„ุญูƒู… ุงู„ุฑุดูŠุฏ. ูุงู„ุณูŠุงุณุฉ ููŠ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ู…ู†ูˆุทٌ ุจู‡ุง ุงู„ุญูุงุธ ุนู„ู‰ ุงู„ุถุฑูˆุฑุงุช ุงู„ุฎู…ุณ ููŠ ุญูุธ ุงู„ุฏูŠู† ูˆุงู„ู†ูุณ ูˆุงู„ุนู‚ู„ ูˆุงู„ู…ุงู„ ูˆุงู„ุนุฑุถ.
ูˆู„ู„ุณูŠุงุณุฉ ุฃู‡ุฏุงู ุนุธูŠู…ุฉ ุจูŠّู†ู‡ุง ุงู„ู‚ุฑุขู† ุงู„ูƒุฑูŠู… ูˆู…ุงุฑุณู‡ุง ุงู„ุฑุณูˆู„ ๏ทบ ูˆู‡ูŠ ุนู„ู… ูˆูู† ู‚ุงุฆู… ุนู„ู‰ ุฃุณุณ ุดุฑุนูŠุฉ ู…ุชูŠู†ุฉ ุชุฌู…ุน ุจูŠู† ุงู„ูู‚ู‡ ุงู„ุดุฑุนูŠ، ูˆูู‚ู‡ ุงู„ูˆุงู‚ุน ูˆุงู„ู…ูˆุงุฒู†ุงุช، ูˆุฏูุน ุงู„ู…ูุงุณุฏ ูˆุฌู„ุจ ุงู„ู…ุตุงู„ุญ. ูˆุชุญุชุงุฌ ุฅู„ู‰ ู…ู‡ุงุฑุงุช ู‚ูŠุงุฏูŠّุฉ ูˆุฃุฎู„ุงู‚ ุฑุงุณุฎุฉ ููŠ ุงู„ุญุงูƒู… ูˆุงู„ุฃู…ูŠุฑ ุฃูˆ ุงู„ุฑุฆูŠุณ ู„ุชุชูŠุญ ู„ู„ู‚ุงุฏุฉ ุฅุฏุงุฑุฉ ุดุคูˆู† ุงู„ุดุนูˆุจ ูˆูู‚ ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุงู„ุดุงู…ู„ ุงู„ู…ุจู†ูŠّ ุนู„ู‰ ุงู„ุนุฏู„ ูˆุงู„ุญูƒู…ุฉ ูˆุงู„ุฑุญู…ุฉ ูˆุงู„ู…ุตู„ุญุฉ.
ุฅู†ّ ุงู„ูƒุชุงุจ ูŠุจูŠّู† ุญุงุฌุฉ ุงู„ุฃู…ّุฉ ุฅู„ู‰ ู…ู†ุงู‡ุฌ ุชุฑุจูˆูŠุฉ ูˆุนู„ู…ูŠุฉ ููŠ ุงู„ุณูŠุงุณุฉ ูˆุงู„ุฅุฏุงุฑุฉ ูˆุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ู„ูŠุนุชู…ุฏ ุนู„ูŠู‡ุง ู‚ุงุฏุฉ ุงู„ู…ุณุชู‚ุจู„ ูˆุญูƒุงู… ุงู„ุฃู…ุฉ. ูˆู‡ุฐุง ุฏูˆุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูˆุงู„ู…ููƒุฑูŠู† ูˆุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู„ูƒูŠ ูŠุณุงู‡ู…ูˆุง ููŠ ุฅุนุฏุงุฏ ู‚ุงุฏุฉ ุฃูƒูّุงุก ู…ุชุถู„ุนูŠู† ููŠ ุงู„ุณูŠุงุณุฉ ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ. ูˆู‡ุฐุง ู…ู† ุงู„ุฑูƒุงุฆุฒ ุงู„ู…ู‡ู…ุฉ ู„ุฅู‚ุงู…ุฉ ุญูƒู… ุฑุดูŠุฏ ู‚ุงุฏุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุตุฏّูŠ ู„ู„ุฃููƒุงุฑ ุงู„ุฏุฎูŠู„ุฉ، ูˆุงู„ุณูŠุงุณุงุช ุงู„ุฅุจู„ูŠุณูŠุฉ ุงู„ุชูŠ ุชู‡ุฏุฏ ู‡ูˆูŠุฉ ูˆุนู‚ูŠุฏุฉ ูˆู‚ูŠู… ูˆู…ุฑุชูƒุฒุงุช ุงู„ุดุนูˆุจ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ.
ุฅู† ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ุจุงู‚ูŠ ู‚ุฏّู… ุฏุฑุงุณุฉ ุนู…ูŠู‚ุฉ ุชุนู…ู„ ุนู„ู‰ ุณุฏّ ุงู„ูุฌูˆุฉ ุจูŠู† ุงู„ูู‚ู‡ ุงู„ุณูŠุงุณูŠ ูˆุงู„ูˆุงู‚ุน ุงู„ู…ุนุงุตุฑ، ูˆู‚ุฏู… ุฑุคูŠุฉ ุดุฑุนูŠุฉ ุชุนูŠู† ุงู„ู‚ุงุฏุฉ ูˆุงู„ู…ุณุคูˆู„ูŠู† ุนู„ู‰ ุงุชّุจุงุน ู†ู‡ุฌ ุงู„ู†ุจูˆุฉ ููŠ ุฅุฏุงุฑุฉ ุดุคูˆู† ุงู„ุฃู…ุฉ، ูˆุงุณุชู†ุฏ ููŠ ุฏุฑุงุณุชู‡ ุงู„ูˆุงุณุนุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ุฑุขู† ุงู„ูƒุฑูŠู… ูˆุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ู†ุจูˆูŠّุฉ ูˆุณูŠุฑ ุงู„ุฎู„ูุงุก ุงู„ุฑุงุดุฏูŠู† ูˆุงุณุชุฑุดุฏ ุจุขุฑุงุก ูˆุงุฌุชู‡ุงุฏุงุช ุงู„ุนู„ู…ุงุก ููŠ ุงู„ุณูŠุงุณุฉ ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ.
ุฅู†ّ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฏุฑุงุณุฉ ุฌู…ุนุช ุจูŠู† ุงู„ุชุฃุตูŠู„ ุงู„ุดุฑุนูŠ ูˆุงู„ุชุญู„ูŠู„ ุงู„ุชุงุฑูŠุฎูŠ ูˆุจูŠู† ุงู„ู…ู‚ุงุฑุจุฉ ุงู„ููƒุฑูŠุฉ ูˆุงู„ุชุทุจูŠู‚ ุงู„ู…ุคุณุณูŠ. ูˆู‡ุฐู‡ ุงู„ุฏุฑุงุณุงุช ู†ุงุฏุฑุฉ ููŠ ู…ูƒุชุจุชู†ุง ุงู„ู…ุนุงุตุฑุฉ، ูุฌุงุกุช ู‡ุฐู‡ ุงู„ู…ูˆุณูˆุนุฉ ู„ุชุณุฏّ ู‡ุฐุง ุงู„ู†ู‚ุต، ูˆุชูƒูˆّู† ู„ุจู†ุฉ ููŠ ุจู†ุงุก ู…ุฑุฌุนูŠّุฉ ุนู„ู…ูŠّุฉ ุดุฑุนูŠุฉ ุซู‚ุงููŠุฉ ุญุถุงุฑูŠุฉ ุชุงุฑูŠุฎูŠุฉ ุชุนุชู†ูŠ ุจุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุญูƒุงู… ูˆุงู„ุณุงุณุฉ ูˆุงู„ู‚ุงุฏุฉ ูˆุงู„ุฅุฏุงุฑูŠูŠู† ููŠ ุงู„ุฅุณู„ุงู….
ูˆู‚ุฏ ู‚ุฏّู… ุงู„ุฏูƒุชูˆุฑ ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุนุจุฏ ุงู„ุจุงู‚ูŠ ุญู‚ุงู†ูŠ ุฏุฑุงุณุฉ ุงู‡ุชู…ุช ุจุงู„ุชุฃุตูŠู„ ุงู„ู†ุธุฑูŠ ููŠ ุชุญุฑูŠุฑ ุงู„ู…ูุงู‡ูŠู… ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ูŠุฉ ููŠ ุงู„ุฅุณู„ุงู…، ูˆุจูŠุงู† ู…ุฑุงุชุจู‡ุง ูˆุฃู†ูˆุงุนู‡ุง ูˆู…ุตุงุฏุฑู‡ุง ูˆุงุณุชุฌู„ุงุก ูุถุงุฆู„ู‡ุง ูˆุทุฑู‚ ุงูƒุชุณุงุจู‡ุง ูˆูู‚ ู…ู†ู‡ุฌ ุนู„ู…ูŠ ุฌู…ุน ุจูŠู† ุงู„ู†ุตูˆุต ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ูˆุงู„ุชุญู„ูŠู„ุงุช ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ ูˆุงู„ู‚ูŠุงุฏูŠุฉ ุงู„ุชูŠ ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠุชุญู„ู‰ ุจู‡ุง ุงู„ุญุงูƒู… ูˆู…ุณุคูˆู„ ุงู„ุฅุฏุงุฑุฉ، ูƒุงู„ุฃู…ุงู†ุฉ ูˆุงู„ุนุฏู„ ูˆุงู„ุฑุญู…ุฉ ูˆุงู„ุดูˆุฑู‰ ูˆุงู„ู…ุญุงุณุจุฉ ูˆุชูˆุฒูŠุน ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุจุนุฏุงู„ุฉ.
ูˆุงู‡ุชู… ุจุงู„ุจู†ุงุก ุงู„ุชุทุจูŠู‚ูŠ ูˆู‚ุฏู… ุงู‚ุชุฑุงุญุงً ุนู„ู…ูŠุงً ู„ุฅุฏู…ุงุฌ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ููŠ ู…ุคุณุณุงุช ุงู„ุญูƒู… ูˆุงู„ุฅุฏุงุฑุฉ ููŠ ุงู„ุนุตุฑ ุงู„ุญุฏูŠุซ؛ ุจู…ุง ูŠุถู…ู† ุงู„ุดูุงููŠุฉ ูˆุงู„ู…ุณุงุกู„ุฉ ูˆูŠุนูŠุฏ ุงู„ุซู‚ุฉ ุจูŠู† ุงู„ุฃู…ุฉ ูˆุญูƒุงู…ู‡ุง.
ูˆู„ุง ุดูƒ ุฃู†ّ ุงู„ุฏุฑุงุณุฉ ุฅุถุงูุฉ ุนู„ู…ูŠุฉ ูˆุฃุซุฑุช ุงู„ุฏุฑุงุณุงุช ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠّุฉ ุจู…ุฑุฌุน ู…ูˆุณูˆุนูŠ ูŠุฎุงุทุจ ุงู„ุนู‚ู„ ุงู„ุฃูƒุงุฏูŠู…ูŠ ูˆูŠู‚ุฏู… ู…ุงุฏุชู‡ ุจู„ุบุฉ ุชุฑุงุซูŠุฉ ุฃุตูŠู„ุฉ ุชุณุชุฌูŠุจ ู„ู…ู‚ุชุถูŠุงุช ุงู„ุจุญุซ ุงู„ู…ุนุงุตุฑ.
ูˆู‚ุฏ ุงุณุชุฎุฏู… ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุนุจุฏ ุงู„ุจุงู‚ูŠ ุญู‚ุงู†ูŠ ุงู„ุฃูุบุงู†ูŠ ู…ู†ุงู‡ุฌ ู…ุชุนุฏุฏุฉ ุชุชูƒุงู…ู„ ูˆุชุชุณุงู†ุฏ ูˆุชุชุนุงูˆู† ููŠ ุฎุฏู…ุฉ ู…ู‚ุงุตุฏ ูˆุฃู‡ุฏุงู ู‡ุฐุง ุงู„ุจุญุซ ุงู„ู…ูˆุณูˆุนูŠ، ูู‚ุฏ ุฑูƒّุฒ ุนู„ู‰:
- ุงู„ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ู†ุตّูŠ ุงู„ุดุฑุนูŠ: ู„ุชุญู„ูŠู„ ุงู„ุขูŠุงุช ุงู„ู‚ุฑุขู†ูŠุฉ ูˆุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ู†ุจูˆูŠّุฉ ูˆุฃู‚ูˆุงู„ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุฃูŠ: ุงู„ุฃุณุงุณ ุงู„ู†ุธุฑูŠ ู„ู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ูˆู‡ุฐุง ุงู„ุบุงู„ุจ ููŠ ุงู„ูุตู„ ุงู„ุฃูˆู„.
- ุงู„ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุชุงุฑูŠุฎูŠ ุงู„ูˆุตููŠ: ุจุงุณุชู‚ุฑุงุก ุณูŠุฑ ุงู„ุฎู„ูุงุก ูˆุงู„ุญูƒุงู…، ูˆุชุญู„ูŠู„ ู…ู…ุงุฑุณุงุชู‡ู… ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ูŠุฉ ูˆุงู„ุณูŠุงุณูŠุฉ ูˆูŠุธู‡ุฑ ุฐู„ูƒ ููŠ ุงู„ูุตู„ ุงู„ุซุงู†ูŠ (ุงู„ุฎุตุงุฆุต ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ูŠุฉ ูˆุงู„ููƒุฑูŠุฉ ู„ู…ุณุคูˆู„ ุงู„ุฅุฏุงุฑุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ).
- ุงู„ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุชุญู„ูŠู„ูŠ ุงู„ู…ู‚ุงุฑู†: ุจู…ู‚ุงุจู„ุฉ ุงู„ุฃุทุฑ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ุจู†ู…ุงุฐุฌ ุงู„ุฅุฏุงุฑุฉ ุงู„ุญุฏูŠุซุฉ، ู„ุงุณุชุฎู„ุงุต ู…ุง ูŠู…ูƒู† ุชูƒูŠูŠูู‡ ุจู…ุง ู„ุง ูŠุฎุงู„ู ู…ู‚ุงุตุฏ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ูˆู‡ูˆ ุญุงุถุฑ ููŠ ุงู„ูุตู„ูŠู† ุงู„ุซุงู†ูŠ ูˆุงู„ุซุงู„ุซ.
- ุงู„ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุชุทุจูŠู‚ูŠ ุงู„ุฅุตู„ุงุญูŠ: ูŠุทุฑุญ ุขู„ูŠุงุช ูˆุงู‚ุนูŠุฉ ู„ุชู†ู…ูŠุฉ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ูˆู…ุนุงู„ุฌุฉ ุงู„ุงู†ุญุฑุงู ููŠ ุงู„ุญูƒู… ูˆุงู„ุฅุฏุงุฑุฉ.
- ุงู„ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุชุฑูƒูŠุจูŠ ุงู„ู†ุธุฑูŠ: ุจุฌู…ุน ู†ุชุงุฆุฌ ุงู„ู…ู†ุงู‡ุฌ ุงู„ุณุงุจู‚ุฉ ููŠ ุฅุทุงุฑ ุฌุงู…ุน ูŠُู‚ุฏّู… ู†ู…ูˆุฐุฌุงً ู…ุชู…ุงุณูƒุงً ู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุญูƒู… ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ.
ูˆุณุงุฑ ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ุจุงู‚ูŠ ุญู‚ุงู†ูŠ ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ููŠ ุฎุท ู…ู†ู‡ุฌูŠ ู…ุชู†ุงุณู‚: ู…ู† ุงู„ุชุฃุตูŠู„ ุฅู„ู‰ ุงู„ูˆุตู ูˆุงู„ุชุญู„ูŠู„، ุซู…ّ ุฅู„ู‰ ุงู„ุชุทุจูŠู‚ ูˆุงู„ุฅุตู„ุงุญ.
ุฅู†ّ ุญูƒุงู… ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ู…ู„ูˆูƒ ูˆุฃู…ุฑุงุก ูˆุณู„ุงุทูŠู† ูˆุฑุคุณุงุก، ุนู„ู‰ ุฎุทุฑ ุนุธูŠู… ุฅุฐุง ู„ู… ูŠุชู‚ูˆุง ุงู„ู„ู‡ ููŠ ุฃู†ูุณู‡ู… ูˆุดุนูˆุจู‡ู… ูˆุฃู…ุชู‡. ูˆู‡ุฐู‡ ุงู„ุฏุฑุงุณุฉ ุชูุชุญ ู„ู‡ู… ุขูุงู‚ุงً ูˆุงุณุนุฉ، ูˆุชุฑุณู… ู„ู‡ู… ุทุฑูŠู‚ุงً ุจูŠّู†ุงً ููŠ ุฃุฏุงุก ู…ู‡ู…ุชู‡ู… ุงู„ุชูŠ ุงุจุชู„ุงู‡ู… ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ุง، ู„ูƒูŠ ูŠู‚ูˆู…ูˆุง ุจุนุจุงุฏุฉ ุงู„ู„ู‡ ู…ู† ุฎู„ุงู„ ู…ู†ุตุจ ุงู„ุญูƒู… ุงู„ุฐูŠ ูŠุนุชุจุฑ ู…ู† ุฃุนุธู… ุงู„ุนุจุงุฏุงุช ุฅุฐุง ุงุชู‚ู‰ ุงู„ุญุงูƒู… ููŠู‡ุง ุงู„ู„ู‡ ุนุฒّ ูˆุฌู„، ููŠูƒูˆู† ุณุจุจุงً ููŠ ุฏุฎูˆู„ ุฌู†ุงู† ุงู„ู„ู‡ ุงู„ูˆุงุณุนุฉ ูˆุฑุถูˆุงู† ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑูู‚ุฉ ุงู„ู†ุจูŠูŠู† ูˆุงู„ุตุฏูŠู‚ูŠู† ูˆุงู„ุดู‡ุฏุงุก ูˆุงู„ุตุงู„ุญูŠู†، ุฃูˆ ุงู„ุนูƒุณ ูˆุงู„ุนูŠุงุฐ ุจุงู„ู„ู‡ ุนู†ุฏู…ุง ูŠุณูŠุฑ ุนู„ู‰ ู†ู‡ุฌ ุฅุจู„ูŠุณ ููŠ ุงู„ุญูƒู… ูˆูŠุชู‚ู…ّุต ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุดูŠุทุงู†ูŠุฉ، ูˆูŠุชุจุน ูˆุณุงุฆู„ ุงู„ูุฑุงุนู†ุฉ ููŠ ุงู„ุญูƒู… ููŠู‚ุน ููŠ ู‚ูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ﴿ูˆَู„َู‚َุฏْ ุฃَุฑْุณَู„ْู†َุง ู…ُูˆุณَู‰ ุจِุขูŠَุงุชِู†َุง ูˆَุณُู„ْุทَุงู†ٍ ู…ُุจِูŠู†ٍ ۝ูฉูฆ ุฅِู„َู‰ ูِุฑْุนَูˆْู†َ ูˆَู…َู„َุฆِู‡ِ ูَุงุชَّุจَุนُูˆุง ุฃَู…ْุฑَ ูِุฑْุนَูˆْู†َ ูˆَู…َุง ุฃَู…ْุฑُ ูِุฑْุนَูˆْู†َ ุจِุฑَุดِูŠุฏٍ ۝ูฉูง ูŠَู‚ْุฏُู…ُ ู‚َูˆْู…َู‡ُ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ูَุฃَูˆْุฑَุฏَู‡ُู…ُ ุงู„ู†َّุงุฑَ ูˆَุจِุฆْุณَ ุงู„ْูˆِุฑْุฏُ ุงู„ْู…َูˆْุฑُูˆุฏُ ۝ูฉูจ ูˆَุฃُุชْุจِุนُูˆุง ูِูŠ ู‡َุฐِู‡ِ ู„َุนْู†َุฉً ูˆَูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ุจِุฆْุณَ ุงู„ุฑِّูْุฏُ ุงู„ْู…َุฑْูُูˆุฏُ ۝ูฉูฉ﴾.
ูˆููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ูƒุชุงุจ ุจุตุงุฆุฑ ูˆู‡ุฏุงูŠุงุช ุชุฑุณู… ุทุฑู‚ ุงู„ู†ุฌุงุฉ ู„ู…ู† ุงุฎุชุจุฑู‡ู… ุงู„ู„ู‡ ุจู…ู†ุตุจ ุงู„ุญูƒู…. ูˆู‚ุณู… ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ุจุงู‚ูŠ ูƒุชุงุจู‡ ุฅู„ู‰ ูุตูˆู„، ููƒุงู† ุงู„ูุตู„ ุงู„ุฃูˆู„: ุงู„ุฃุณุงุณ ุงู„ู†ุธุฑูŠ ู„ู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ؛ ูุชุญุฏุซ ุนู† ู…ุงู‡ูŠุฉ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚، ูˆุนู† ุงู„ู…ู‚ุตูˆุฏ ุจุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุญุณู†ุฉ، ูˆุฃู†ูˆุงุน ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ูˆุฃุตูˆู„ู‡ุง ูˆููˆุงุฆุฏู‡ุง، ูˆู…ูƒุงุฑู… ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚، ูˆู…ุตุงุฏุฑู‡ุง ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุขู† ูˆุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ู†ุจูˆูŠุฉ.
ูˆููŠ ุงู„ู…ุจุญุซ ุงู„ุซุงู†ูŠ: ู…ูƒุงู†ุฉ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ูˆุฃู‡ู…ูŠุชู‡ุง، ูˆุชุญุฏّุซ ุนู† ูุถุงุฆู„ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ููŠ ุณู„ูˆูƒ ุงู„ูุฑุฏ ูˆุงู„ู…ุฌุชู…ุน ูˆุงู„ุฃู…ุฉ، ูˆุฃู† ู…ูƒุงุฑู… ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุถุฑูˆุฑุฉ ุงุฌุชู…ุงุนูŠุฉ، ูˆุฃู†ู‡ุง ุชุฏุฎู„ ููŠ ูƒู„ ุงู„ู‚ุทุงุนุงุช ุงู„ุฅู†ุณุงู†ูŠุฉ، ูˆุฏูˆุฑ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ููŠ ู‚ูŠุงู… ุงู„ุฏูˆู„ ูˆุงู„ุญุถุงุฑุงุช، ูˆุถุฑูˆุฑุฉ ุชู‡ุฐูŠุจ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ููŠ ุงู„ุณูŠุงุณุฉ ูˆุงู„ุฃุฎู„ุงู‚.
ูˆุชูƒู„ู… ุนู† ูˆุณุงุฆู„ ุงูƒุชุณุงุจ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ูˆุฐูƒุฑ ุฃู‡ู…ู‡ุง: ุชุตุญูŠุญ ุงู„ุนู‚ูŠุฏุฉ ูˆุงู„ุนุจุงุฏุงุช ูˆู…ุตุงุญุจุฉ ุงู„ุฃุฎูŠุงุฑ ูˆุฃู‡ู„ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ูุงุถู„ุฉ، ูˆุงู„ุนูŠุด ููŠ ุงู„ุจูŠุฆุงุช ุงู„ุตุงู„ุญุฉ، ูˆุงู„ุฐู‡ุงุจ ุฅู„ู‰ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ูˆุงู„ูุถู„ ูˆุฐูˆูŠ ุงู„ู…ุฑูˆุกุงุช، ูˆุตู„ุงุญ ุงู„ู…ุฌุชู…ุน ูˆุถุบุทู‡ ุนู„ู‰ ุฃูุฑุงุฏู‡، ูˆุฅุฏุงู…ุฉ ุงู„ู†ุธุฑ ููŠ ุงู„ู‚ุฑุขู† ุงู„ูƒุฑูŠู… ูˆุงู„ุณูŠุฑุฉ ุงู„ู†ุจูˆูŠุฉ، ูˆุงู„ู†ุธุฑ ููŠ ุณูŠุฑ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุงู„ูƒุฑุงู… ูˆุฃู‡ู„ ุงู„ูุถู„ ูˆุงู„ุนู„ู…، ู…ู† ุงู„ุชุงุจุนูŠู† ูˆุฎูŠุฑ ุงู„ุฃู…ุฉ ุนุจุฑ ุงู„ุนุตูˆุฑ، ูˆุณู„ุทุงู† ุงู„ุฏูˆู„ุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ، ูู„ู„ุฏูˆู„ุฉ ุงู„ุฃุซุฑ ุงู„ูุนุงู„ ููŠ ุฅู„ุฒุงู… ุงู„ุฃูุฑุงุฏ ูˆุงู„ุฌู…ุงุนุงุช ุจุงู„ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ูŠ ุงู„ุฐูŠ ุฑุณู…ู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ู„ู„ู†ุงุณ، ูˆููŠ ุชุฑุจูŠุฉ ู†ููˆุณู‡ู… ูˆู‚ู„ูˆุจู‡ู… ุนู„ู‰ ุงู„ูุถุงุฆู„ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ูŠุฉ. ูˆูƒู…ุง ุฌุงุก ููŠ ุงู„ุฃุซุฑ: ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุฒุน ุจุงู„ุณู„ุทุงู† ู…ุง ู„ุง ูŠุฒุน ุจุงู„ู‚ุฑุขู†.
ูˆููŠ (ุงู„ูุตู„ ุงู„ุซุงู†ูŠ): ุงู„ุฎุตุงุฆุต ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ูŠุฉ ูˆุงู„ููƒุฑูŠุฉ ู„ู…ุณุคูˆู„ ุงู„ุฅุฏุงุฑุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ.
ูˆููŠ ุงู„ู…ุจุญุซ ุงู„ุฃูˆู„: ุงู„ุฎุตุงุฆุต ุงู„ุฏูŠู†ูŠุฉ ูˆุงู„ุฅูŠู…ุงู†ูŠุฉ ูˆุฐูƒุฑ ู…ู†ู‡ุง:
1- ุงู„ุฅุณู„ุงู…: ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ูŠุชูˆู„ู‰ ุงู„ุญุงูƒู… ุฃู…ุฑ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†، ูˆู‡ูˆ ุบูŠุฑ ู…ุคู…ู† ุจุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ ูˆู„ุง ุจุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…. ูˆุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ุญุงูƒู… ู…ุนุชู‚ุฏุงً ุจุถุฑูˆุฑุฉ ุชุทุจูŠู‚ ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ุงู„ู‚ุงุฆู…ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุนุฏู„ ูˆุงู„ุญูƒู…ุฉ ูˆุงู„ุฑุญู…ุฉ ูˆุงู„ู…ุตู„ุญุฉ ููŠ ุงู„ุฏู†ูŠุง ูˆุงู„ุขุฎุฑุฉ. ูˆู‡ุฐุง ุงู„ุดุฑุท ูŠุนุชุจุฑ ุฃุณุงุณุงً ู„ุถู…ุงู† ุงู„ุนุฏุงู„ุฉ ูˆุงุณุชู‚ุฑุงุฑ ุงู„ุญูƒู… ูˆูู‚ุงً ู„ู‚ูŠู… ุงู„ุฅุณู„ุงู…، ูู‚ุฏ ูƒุงู† ุงู„ุฎู„ูุงุก ุงู„ุฑุงุดุฏูˆู†، ู…ุซู„ ุฃุจูŠ ุจูƒุฑ ูˆุนู…ุฑ ูˆุนุซู…ุงู† ูˆุนู„ูŠ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู… ู…ุณู„ู…ูŠู† ู…ู„ุชุฒู…ูŠู† ุจุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ูƒู„ู‡ุง. ูˆู‚ุฏ ุฌุฑุช ุฃุญูƒุงู…ู‡ู… ููŠ ุฏูˆู„ุฉ ุงู„ุฎู„ูุงุก ุงู„ุฑุงุดุฏูŠู† ูˆูู‚ุงً ู„ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุฅุณู„ุงู…. ูˆุงู„ู…ุฑุงุฏ ู…ู† ุถุฑูˆุฑุฉ ูˆุตู ุงู„ุฅุณู„ุงู… ููŠ ุงู„ุญุงูƒู…، ู‡ูˆ ุฃู† ุงู„ุญุงูƒู… ูŠุฌุจ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู…ุณู„ู…ุงً. ูˆู‡ุฐุง ุดุฑุท ุดุฑุนูŠ ููŠ ุงู„ูู‚ู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ، ู„ุถู…ุงู† ุชุทุจูŠู‚ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ูˆุชุญู‚ูŠู‚ ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ุฃู…ุฉ.
2- ุงู„ุชูู‚ู‡ ุจุฃุญูƒุงู… ุงู„ุฏูŠู†: ูˆู‡ูˆ ู…ู† ุงู„ุฎุตุงุฆุต ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ูŠุฉ، ูˆุงู„ููƒุฑูŠุฉ ู„ู…ุณุคูˆู„ ุงู„ุฅุฏุงุฑุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ. ูˆุงู„ู…ุฑุงุฏ ู‡ูˆ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ุญุงูƒู… (ูˆู„ูŠ ุงู„ุฃู…ุฑ، ุงู„ู‚ุงุถูŠ، ุงู„ุฅู…ุงู…، ุฃูŠ ู…ุณุคูˆู„ ูŠุชูˆู„ู‰ ุดุคูˆู† ุงู„ุญูƒู…) ุนุงู„ู…ุงً ุจุงู„ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ูˆูู‚ู‡ูŠุงً ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ู„ูŠุชู…ูƒู† ู…ู† ุฅุฏุงุฑุฉ ุดุคูˆู† ุงู„ู†ุงุณ ูˆูู‚ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ، ูˆุงู„ุญูƒู… ุจูŠู†ู‡ู… ุจุงู„ุนุฏู„ ูˆุงุชุฎุงุฐ ุงู„ู‚ุฑุงุฑุงุช ุนู„ู‰ ุฃุณุงุณ ุฃุตูˆู„ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ، ูู…ู† ูˆุงุฌุจ ุงู„ุญุงูƒู… ุฃู† ูŠุชูู‚ู‡ ููŠ ุฏูŠู†ู‡، ูˆุฃู† ูŠุชّุจุน ุณูŠุฑุฉ ุงู„ู†ุจูŠ ๏ทบ ููŠ ุญูƒู…ุฉ ูˆุงุนุชุฏุงู„ ู„ุชุญู‚ูŠู‚ ุงู„ู…ุตุงู„ุญ ุงู„ุนุงู…ุฉ. ูˆูŠู…ูƒู† ุฃู† ูŠุณุงุนุฏ ุงู„ู…ู„ูƒ ุฃูˆ ุงู„ุฃู…ูŠุฑ ุฃูˆ ุงู„ุฑุฆูŠุณ ู…ุฌุงู„ุณ ุงุณุชุดุงุฑูŠุฉ ูˆู„ุฌุงู† ูู†ูŠุฉ ูˆุฎุจุฑุงุก ููŠ ูƒุงูุฉ ุนู„ูˆู… ุงู„ู…ุนุฑูุฉ، ูŠุญูŠุทูˆู† ุจู‡ ูˆูŠุณุงุนุฏูˆู†ู‡ ุนู„ู‰ ุฃู† ูŠู‚ูˆู… ุจุนู„ู… ูˆู…ุนุฑูุฉ ูˆูู‚ู‡ ููŠ ุงู„ุฃู…ูˆุฑ.
ู‚ุงู„ ุนู…ุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุนุฒูŠุฒ – ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ -: ู…ู† ุนู…ู„ ุจุบูŠุฑ ุนู„ู… ูƒุงู† ู…ุง ูŠู‡ุฏู… ุฃูƒุซุฑ ู…ู…ุง ูŠุจู†ูŠ.
ุฅู†ّ ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ุจุงู‚ูŠ ุญู‚ุงู†ูŠ ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ูŠุคูƒุฏ ุนู„ู‰ ุฃู†ّ ู‚ูŠุงู… ุงู„ุญูƒู… ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ูŠุณุชูˆุฌุจ ุฃู† ุชุคู„َّู ุงู„ุญูƒูˆู…ุงุช ู…ู† ุงู„ุฐูŠู† ูŠุคู…ู†ูˆู† ุจุงู„ู†ุธุงู… ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ، ูˆู…ู…ู† ู„ุงู‡ู…ّ ู„ู‡ู… ุฅู„ุง ุฅู‚ุงู…ุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…. ูˆุงุณุชุฏู„ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ุจุฃู‚ูˆุงู„ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุงู„ุณุงุจู‚ูŠู† ูˆุงู„ู„ุงุญู‚ูŠู†، ูˆุจูŠّู† ู…ู† ุฎู„ุงู„ ุฃู‚ูˆุงู„ู‡ู… ุงู„ุชูŠ ู†ู‚ู„ู‡ุง ููŠ ูƒุชุงุจู‡ ุฃู†ّ ุงู„ุชุฌุงุฑุจ ุฃุซุจุชุช ุฃู† ุงู„ุญูƒุงู… ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ุงู„ุฐูŠู† ูŠุฌู‡ู„ูˆู† ุงู„ุฅุณู„ุงู…، ูˆู„ุง ูŠุนู…ู„ูˆู† ุนู„ู‰ ุฅู‚ุงู…ุฉ ุฃุญูƒุงู…ู‡ ูƒุงู†ูˆุง ูˆู…ุงุฒุงู„ูˆุง ุญุฑุจุงً ุนู„ู‰ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆุขู„ุฉ ุทูŠّุนุฉ ููŠ ูŠุฏ ุฃุนุฏุงุก ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฐูŠู† ูŠูƒูŠุฏูˆู† ู„ู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ูˆุงู„ุฅุณู„ุงู…. ูˆููŠ ุนู‡ูˆุฏ ู‡ุคู„ุงุก ุงู„ุญูƒุงู… ุงู„ุฌู‡ุงู„ ุงุณุชุจูŠุญุช ุญุฑู…ุงุช ุงู„ุฅุณู„ุงู…، ูุญุฑّู… ู…ุง ุฃุญู„ ุงู„ู„ู‡، ูˆุฃุญู„ ู…ุง ุญุฑู… ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู†ุชุดุฑ ุงู„ูุณุงุฏ ููŠ ุงู„ู…ุฌุชู…ุน ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ، ูˆุดุงุนุช ุงู„ูุงุญุดุฉ ูˆุงู†ุญุณุฑ ู…ุฏّ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆุฐู‡ุจุช ุฑูŠุญู‡. ูˆุงุณุชุฏู„ ุจูƒู„ุงู… ุนุจุฏ ุงู„ู‚ุงุฏุฑ ุนูˆุฏุฉ – ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ – ููŠ ูƒุชุงุจู‡ (ุงู„ู…ุงู„ ูˆุงู„ุญูƒู… ููŠ ุงู„ุฅุณู„ุงู…) ุงู„ุฐูŠ ุจูŠّู† ุฃู† ู‡ุฐุง ู…ู†ุทู‚ ุงู„ุจุดุฑ ูˆู…ู†ุทู‚ ุงู„ูˆุงู‚ุน ูˆู…ู†ุทู‚ ุงู„ุชุฌุงุฑุจ.
3- ุงู„ุฅุฎู„ุงุต ู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ูˆุงู„ู…ุฑุงุฏ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู…ุฎู„ุตุงً ููŠ ู†ูŠุชู‡ ูˆุนู…ู„ู‡ ู„ู„ู‡ ูˆุญุฏู‡، ู„ุง ูŠุจุชุบูŠ ุจุนู…ู„ู‡ ุณู„ุทุงู†ุงً ุฃูˆ ุดู‡ุฑุฉ ุฃูˆ ู…ู†ูุนุฉ ุฏู†ูŠูˆูŠุฉ، ุจู„ ูŠู‚ุตุฏ ุฑุถุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุฎุฏู…ุฉ ุงู„ู†ุงุณ ูˆูู‚ ุดุฑุน ุงู„ู„ู‡ ูˆู‚ุงู†ูˆู†ู‡ ุงู„ุณู…ุงูˆูŠ. ูˆุงุณุชุฏู„ ุจุงู„ุขูŠุงุช ูˆุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ูˆุจุฃู‚ูˆุงู„ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูˆุฐูƒุฑ ู…ู† ุจูŠู†ู‡ุง ู‚ูˆู„ ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุงู„ู‚ู„ุนูŠ ุงู„ู…ุชูˆููŠ ุณู†ุฉ 360ู‡ ู…ู† ูƒุชุงุจู‡ (ุชู‡ุฐูŠุจ ุงู„ุฑูŠุงุณุฉ ูˆุชู‡ุฐูŠุจ ุงู„ุณูŠุงุณุฉ) ู‚ูˆู„ู‡:" ู…ู† ู…ูƒู†ู‡ ุงู„ู„ู‡ ููŠ ุฃุฑุถู‡ ูˆุจู„ุงุฏู‡ ูˆุงุฆุชู…ู†ู‡ ููŠ ุฎู„ู‚ู‡ ูˆุนุจุงุฏู‡ ูˆุจุณุท ูŠุฏู‡ ูˆุณู„ุทุงู†ู‡ ูˆุฑูุน ู…ุญู„ู‡ ูˆู…ูƒุงู†ู‡ ูุญู‚ูŠู‚ ุนู„ูŠู‡ ุฃู† ูŠุคุฏูŠ ุงู„ุฃู…ุงู†ุฉ ูˆูŠุฎู„ุต ุงู„ุฏูŠุงู†ุฉ ูˆูŠุญู…ู„ ุงู„ุณูŠุฑุฉ ูˆูŠุญุณู† ุงู„ุณุฑูŠุฑุฉ ูˆูŠุฌุนู„ ุงู„ุนุฏู„ ุฏุฃุจู‡ ุงู„ู…ุนู‡ูˆุฏ ูˆุงู„ุฃุฌุฑ ุบุฑุถู‡ ุงู„ู…ู‚ุตูˆุฏ".
4- ุงู„ุชู‚ูˆู‰ ูˆุชู…ูƒุณู‡ ุงู„ุดุฏูŠุฏ ุจุงู„ุดุฑูŠุนุฉ: ุฅู† ู…ู† ูŠุชูˆู„ู‰ ุงู„ุญูƒู… ูŠุฌุจ ุฃู† ูŠุชุตู ุจุตูุงุช ุฃุฎู„ุงู‚ูŠุฉ ูˆุฏูŠู†ูŠุฉ ุนุงู„ูŠุฉ، ูˆุนู„ู‰ ุฑุฃุณู‡ุง ุงู„ุชู‚ูˆู‰ ูˆุงู„ุชูŠ ุชุนู†ูŠ: ุงู„ุฎูˆู ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ููŠ ุงู„ุณุฑ ูˆุงู„ุนู„ู† ูˆุงู„ุชุฒุงู… ุฃูˆุงู…ุฑู‡ ูˆุงุฌุชู†ุงุจ ู†ูˆุงู‡ูŠู‡، ูˆู‡ูŠ ุตูุฉ ุถุฑูˆุฑูŠุฉ ู„ู„ุญุงูƒู… ุญุชู‰ ูŠุญูƒู… ุจุงู„ุนุฏู„، ู‚ุงู„ ุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ู…ุงูˆุฑุฏูŠ – ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ -:" ูŠู†ุจุบูŠ ู„ู„ู…ู„ูƒ ุฃู† ูŠุฃู†ู ู…ู† ุฃู† ูŠูƒูˆู† ููŠ ุฑุนูŠุชู‡ ู…ู† ู‡ูˆ ุฃูุถู„ ุฏูŠู†ุงً ู…ู†ู‡ ูƒู…ุง ูŠุฃู†ู ุฃู† ูŠูƒูˆู† ููŠ ุฑุนูŠุชู‡ ู…ู† ู‡ูˆ ุฃู†ูุฐ ุฃู…ุฑุงً ู…ู†ู‡"
ูˆููˆุงุฆุฏ ุชู‚ูˆู‰ ุงู„ู„ู‡ ู„ูƒู„ ู…ุณู„ู… ูˆู„ู„ุญุงูƒู… ุฃูˆ ุงู„ุฑุฆูŠุณ ุฃูˆ ุงู„ุฃู…ูŠุฑ ุฃูˆ ุงู„ู…ุณุคูˆู„؛ ูƒุซูŠุฑุฉ، ู…ู†ู‡ุง: ู…ุนูŠุฉ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰، ูˆุชูƒููŠุฑ ุงู„ุฐู†ูˆุจ، ูˆุชุนุธูŠู… ุงู„ุฃุฌุฑ، ูˆุงู„ูŠุณุฑ ูˆุงู„ุณู‡ูˆู„ุฉ، ูˆุงู„ุนูˆู† ูˆุงู„ู†ุตุฑุฉ ู…ู† ุงู„ู„ู‡، ูˆุงู„ุฃู…ู† ู…ู† ุงู„ุจู„ูŠุฉ، ูˆู†ูŠู„ ุงู„ูˆุตุงู„ ูˆุงู„ู‚ุฑุจุฉ ูˆุนุฒّ ุงู„ููˆู‚ูŠّุฉ ุงู„ุฑุจุงู†ูŠุฉ، ูˆุงู„ุฎุฑูˆุฌ ู…ู† ุงู„ู‡ู… ูˆุงู„ู…ุญู†ุฉ ูˆุงู„ูˆุนุฏ ุจุงู„ุฑุฒู‚ ุงู„ูˆุงุญุฏ، ูˆุงู„ู†ุฌุงุฉ ู…ู† ุงู„ุนุฐุงุจ، ูˆุงู„ููˆุฒ ุจุงู„ุฌู†ุฉ، ูˆู…ุญุจุฉ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„. ูˆููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ููˆุงุฆุฏ ูˆุงู„ุซู…ุงุฑ ุขูŠุงุช ูƒุซูŠุฑุฉ ุชุฏู„ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ. ูˆู…ู…ุง ูŠุชุฑุชุจ ุนู„ู‰ ุชู‚ูˆู‰ ุงู„ุญุงูƒู…:
 ุถู…ุงู† ุงู„ุนุฏู„ ูˆุงู„ู†ุฒุงู‡ุฉ.
 ุญู…ุงูŠุฉ ู…ุตุงู„ุญ ุงู„ุฃู…ุฉ.
 ุงู„ู‚ุฏูˆุฉ ุงู„ุญุณู†ุฉ.
 ุงู„ุงุณุชู‚ุฑุงุฑ ูˆุงู„ุทู…ุฃู†ูŠู†ุฉ ุจูŠู† ุงู„ุญุงูƒู… ูˆุงู„ู…ุญูƒูˆู… ูˆุงู„ุฑุงุนูŠ ูˆุงู„ุฑุนูŠุฉ ูˆุงู„ุฑุฆูŠุณ ูˆุงู„ู…ุฑุคูˆุณ.
5- ุงู„ุงุณุชู‚ุงู…ุฉ ุงู„ุชุงู…ุฉ: ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุดุฎุตุงً ุนุงุฏู„ุงً ู…ู„ุชุฒู…ุงً ุจุงู„ุฃุฎู„ุงู‚، ูˆุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ูˆุงู„ุนุฏู„ ูˆุฃุฏุงุก ุงู„ุญู‚ูˆู‚ ูˆุชุฑูƒ ุงู„ุธู„ู… ูˆุงู„ูุณุงุฏ. ูˆุงู„ู…ุฑุงุฏ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ุญุงูƒู… ู…ุชุตูุงً ุจูƒู…ุงู„ ุงู„ุนุฏุงู„ุฉ ูˆุงู„ุงุณุชู‚ุงู…ุฉ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ูˆุงู„ุณู„ูˆูƒ ุจุญูŠุซ ู„ุง ูŠُุนุฑู ุนู†ู‡ ุงู†ุญุฑุงู ููŠ ุงู„ุนู‚ูŠุฏุฉ، ุฃูˆ ูุฌูˆุฑ ููŠ ุงู„ุณู„ูˆูƒ، ุฃูˆ ุธู„ู… ููŠ ุงู„ู…ุนุงู…ู„ุฉ، ุจู„ ูŠูƒูˆู† ู‚ุฏูˆุฉ ุญุณู†ุฉ ููŠ ุฃุฎู„ุงู‚ู‡ ูˆุฃูุนุงู„ู‡ ู…ู„ุชุฒู…ุงً ุจุฃูˆุงู…ุฑ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ู…ุฌุชู†ุจุงً ู†ูˆุงู‡ูŠู‡ุง. ูˆุงุณุชุฏู„ ุจุขูŠุงุช ูˆุฃุญุงุฏูŠุซ ุนู† ุฃู‡ู…ูŠุฉ ุงู„ุงุณุชู‚ุงู…ุฉ ู„ู„ุญุงูƒู… ูˆุจูŠู† ุฃู† ุงู†ุญุฑุงู ุงู„ุญุงูƒู… ุนู† ุงู„ุงุณุชู‚ุงู…ุฉ ูŠุคุฏูŠ ุฅู„ู‰ ุงู„ุธู„ู… ูˆุงู„ูุณุงุฏ، ูˆุงู†ู‡ูŠุงุฑ ุงู„ุฏูˆู„ุฉ ูˆุชู…ุฒู‚ ุงู„ู…ุฌุชู…ุน ูุงู„ุงุณุชู‚ุงู…ุฉ ู„ูŠุณุช ู…ุฌุฑุฏ ุตูุฉ ูƒู…ุงู„ูŠุฉ ู„ู„ุญุงูƒู…، ุจู„ ู‡ูŠ ุดุฑุท ุถุฑูˆุฑูŠ ู„ุดุฑุนูŠุฉ ุญูƒู…ู‡ ูˆุตุญุฉ ู‚ุฑุงุฑุงุชู‡ ูˆุงุณุชู…ุฑุงุฑ ุซู‚ุชู‡ ู„ุฏู‰ ุงู„ู†ุงุณ، ูˆู†ุฌุงุญู‡ ููŠ ุฅู‚ุงู…ุฉ ุงู„ุนุฏู„ ูˆุญูุธ ุงู„ุฃู…ู† ูˆุชู‚ุฏู… ุงู„ุฃู…ุฉ. ู‚ุงู„ ุนู…ุฑ ุจู† ุงู„ุฎุทุงุจ (ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡): ุงู„ุงุณุชู‚ุงู…ุฉ: ุฃู† ุชุณุชู‚ูŠู… ุนู„ู‰ ุงู„ุฃู…ุฑ ูˆุงู„ู†ู‡ูŠ ูˆู„ุง ุชุฑูˆุบ ุฑูˆุบุงู† ุงู„ุซุนุงู„ุจ. ุฅู† ุตุงุญุจ ุงู„ุงุณุชู‚ุงู…ุฉ ูŠุซู‚ ุจู‡ ุงู„ู†ุงุณ ูˆูŠุญุจู‡ ุดุนุจู‡ ูˆู…ูˆุงุทู†ูŠู‡، ูˆู‡ูŠ ู…ู† ุฃุนุธู… ุงู„ูƒุฑุงู…ุงุช ู„ู„ู†ุงุณ ูˆู…ู† ุจูŠู†ู‡ู… ุงู„ุญูƒุงู… ูˆู‡ูŠ ุฏู„ูŠู„ ุงู„ูŠู‚ูŠู† ูˆู…ุฑุถุงุช ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†.
6- ุชู†ููŠุฐ ุงู„ุฃุญูƒุงู… ุนู„ู‰ ู†ูุณู‡ ูˆุนุดูŠุฑุชู‡ ูˆุฃู‚ุงุฑุจู‡ ูˆู…ู† ุญูˆู„ู‡ ุฃูˆู„ุงً: ุฅู† ุงู„ุญุงูƒู… ุงู„ุนุงุฏู„ ูŠุฌุจ ุฃู† ูŠุจุฏุฃ ุจุชุทุจูŠู‚ ุงู„ู‚ูˆุงู†ูŠู† ูˆุงู„ุนุฏุงู„ุฉ ุนู„ู‰ ู†ูุณู‡ ูˆุฃู‚ุงุฑุจู‡ ู‚ุจู„ ุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุงู„ู†ุงุณ ุญุชู‰ ูŠูƒูˆู† ุซู‚ุฉ ูˆูŠูƒุณุจ ุซู‚ุฉ ุงู„ุฑุนูŠุฉ ูˆูŠุซุจุช ู„ู„ุฌู…ูŠุน ุฃู† ุงู„ู‚ุงู†ูˆู† ู„ุง ูŠุณุชุซู†ูŠ ุฃุญุฏุงً ู…ู‡ู…ุง ุนู„ุช ู…ู†ุฒู„ุชู‡ ุฃูˆ ู‚ุฑุจู‡ ู…ู† ุงู„ุณู„ุทุฉ، ู‚ุงู„ ุชุนุงู„ู‰: ﴿ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠَุฃْู…ُุฑُ ุจِุงู„ْุนَุฏْู„ِ ูˆَุงู„ْุฅِุญْุณَุงู†ِ ูˆَุฅِูŠุชَุงุกِ ุฐِูŠ ุงู„ْู‚ُุฑْุจَู‰ ูˆَูŠَู†ْู‡َู‰ ุนَู†ِ ุงู„ْูَุญْุดَุงุกِ ูˆَุงู„ْู…ُู†ْูƒَุฑِ ูˆَุงู„ْุจَุบْูŠِ ูŠَุนِุธُูƒُู…ْ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَุฐَูƒَّุฑُูˆู†َ﴾.
ูƒุงู† ุนู…ุฑ ุจู† ุงู„ุฎุทุงุจ (ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡) ุฅุฐุง ู†ู‡ู‰ ุงู„ู†ุงุณ ุนู† ุดูŠุก ุฏุฎู„ ุนู„ู‰ ุฃู‡ู„ู‡ ูู‚ุงู„: ุฅู†ูŠ ู†ู‡ูŠุช ุงู„ู†ุงุณ ุนู† ูƒุฐุง ูˆูƒุฐุง، ูˆุฅู† ุงู„ู†ุงุณ ูŠู†ุธุฑูˆู† ุฅู„ูŠูƒู… ูƒู…ุง ูŠู†ุธุฑ ุงู„ุทูŠุฑ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ุญู…، ูุฅู† ูˆู‚ุนุชู… ูˆู‚ุนูˆุง، ูˆุฅู† ู‡ุจุชู… ู‡ุงุจูˆุง ูˆุฅู†ูŠ ูˆุงู„ู„ู‡ ู„ุง ุฃูˆุชูŠ ุจุฑุฌู„ ู…ู†ูƒู… ูˆู‚ุน ู…ู…ุง ู†ู‡ูŠุช ุงู„ู†ุงุณ ุนู†، ุฅู„ุง ุถุงุนูุช ู„ู‡ ุงู„ุนุฐุงุจ ู„ู…ูƒุงู†ู‡ ู…ู†ูŠ، ูู…ู† ุดุงุก ู…ู†ูƒู… ูู„ูŠุชู‚ุฏู… ูˆู…ู† ุดุงุก ูู„ูŠุชุฃุฎุฑ. ุฅู† ุชู†ููŠุฐ ุงู„ุญุงูƒู… ุงู„ุฃุญูƒุงู… ุนู„ู‰ ู†ูุณู‡ ูˆุนุดูŠุฑุชู‡ ูˆุฃู‚ุงุฑุจู‡ ู‡ูˆ ุนู„ุงู…ุฉ ุนู„ู‰ ุนุฏู„ู‡ ูˆู†ุฒุงู‡ุชู‡ ูˆู‡ูˆ ุถุฑูˆุฑุฉ ู„ุจู†ุงุก ุฏูˆู„ุฉ ู‚ุงุฆู…ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุซู‚ุฉ ูˆุงู„ู…ุณุงูˆุงุฉ ูˆุงู„ุงุญุชุฑุงู… ู„ู„ู‚ุงู†ูˆู†.
7- ุงู„ุฅุตุฑุงุฑ ุนู„ู‰ ุฅุตู„ุงุญ ู†ูุณู‡: ูุญุงุฌุฉ ุงู„ุญุงูƒู… ุฅู„ู‰ ุฅุตู„ุงุญ ู†ูุณู‡ ุฃุดุฏ ู…ู† ุญุงุฌุชู‡ ุฅู„ู‰ ุฅุตู„ุงุญ ุฑุนูŠุชู‡ ู„ุฃู† ุฐู„ูƒ ูŠุชุฑุชุจ ุนู„ูŠู‡ ุฅุตู„ุงุญ ุงู„ุฑุนูŠุฉ، ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ุงู„ุตุฏูŠู‚ (ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡) ููŠ ูˆุตูŠุชู‡ ู„ุนู…ุฑ: ุฃุนู„ู… ุฃู†ู‡ู… ู„ู† ูŠุฒุงู„ูˆุง ู…ู†ูƒ ุฎุงุฆููŠู† ู…ุง ุฎูุช ุงู„ู„ู‡ ูˆู„ูƒ ู…ุณุชู‚ูŠู…ูŠู† ู…ุง ุงุณุชู‚ุงู…ุช ุทุฑูŠู‚ุชูƒ. ูˆู‚ุงู„ ุนู…ุฑ (ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡): ูุฅุฐุง ุฑุชุน ุงู„ุฅู…ุงู… ุฑุชุนูˆุง. ูˆูƒุชุจ ุฅู„ู‰ ุฃุจูŠ ู…ูˆุณู‰ ุงู„ุฃุดุนุฑูŠ: ูˆุงุนู„ู… ุฃู† ุงู„ุนุงู…ู„ ุฅุฐุง ุฒุงุบ ุฒุงุบุช ุฑุนูŠุชู‡ ูˆุฃุดู‚ู‰ ุงู„ู†ุงุณ ู…ู† ุดู‚ูŠุช ุจู‡ ุฑุนูŠุชู‡. ูˆู„ุง ูŠู…ูƒู† ุฅุตู„ุงุญ ุงู„ุฑุนูŠุฉ ูˆุงู„ุญุงูƒู… ููŠ ูุณุงุฏ ุนุฑูŠุถ ูˆู…ูˆุบู„ุงً ููŠู‡ ูˆู„ุง ูŠู†ุฌุญ ููŠ ุงู„ุฅุฑุดุงุฏ ู…ู† ูƒุงู† ู…ู† ุฒุนู…ุงุก ุงู„ุบูˆุงูŠุฉ ูˆู„ุง ูŠูƒูˆู† ู…ุนู„ู…ุงً ู„ู„ู‡ุฏุงูŠุฉ ู…ู† ูƒุงู† ู…ู† ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ุถู„ุงู„. ุฅู† ุงู„ุญุฑุต ุนู„ู‰ ุฅุตู„ุงุญ ุงู„ุญุงูƒู… ู†ูุณู‡ ุทุฑูŠู‚ ุงู„ู†ุฌุงุฉ ู„ุฏูˆู„ุชู‡ ูˆุดุนุจู‡ ูˆุฏู†ูŠุงู‡ ูˆุขุฎุฑุชู‡، ู„ุฃู† ุงู„ุญูƒู… ู„ูŠุณ ู…ู†ุตุจุงً ู„ู„ุฒูŠู†ุฉ ุฃูˆ ุงู„ูˆุฌุงู‡ุฉ ุจู„ ู…ุณุคูˆู„ูŠุฉ ุนุธูŠู…ุฉ ุฃู…ุงู… ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ู†ุงุณ ุชุชุทู„ุจ ุดุฎุตูŠุฉ ู…ุชู…ุณูƒุฉ ุจุงู„ู…ุญุงุณุจุฉ ุงู„ุฐุงุชูŠุฉ ุงู„ุฏุงุฆู…ุฉ.
8- ุงู„ุฃุณูˆุฉ ูˆุงู„ู‚ุฏูˆุฉ ุงู„ุญุณู†ุฉ ู„ู„ุฑุนูŠุฉ: ููŠ ุงู„ุณู„ูˆูƒ ูˆุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ูˆุงู„ุนุจุงุฏุฉ ูˆุงู„ุชู‚ูˆู‰ ูˆุงู„ุนุฏู„ ูˆุงู„ุฑุญู…ุฉ ูˆุงู„ุญูƒู…ุฉ ูˆุงู„ุฅุฏุงุฑุฉ ูˆุงู„ุญุฒู… ูˆุงู„ุนููˆ ูˆุงู„ุนู…ู„ ูˆุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ، ูุงู„ุญุงูƒู… ู‚ุฏูˆุฉ ู„ู„ูˆุฒุฑุงุก ูˆู…ุณุคูˆู„ูŠ ุงู„ุฏูˆู„ุฉ ูˆุฃูุฑุงุฏ ุงู„ู…ุฌุชู…ุน ูˆู‚ุฏ ุงู…ุชู„ุฃุช ุตูุญุงุช ุงู„ุชุงุฑูŠุฎ ุงู„ุฑุงุดุฏูŠ ููŠ ุนู‡ุฏ ุฃุจูŠ ุจูƒุฑ ูˆุนู…ุฑ ูˆุนุซู…ุงู† ูˆุนู„ูŠ ุจุงู„ุฃุณูˆุฉ ุงู„ุญุณู†ุฉ، ููŠ ุงู„ุตุฏู‚ ูˆุงู„ุฃู…ุงู†ุฉ ูˆุงู„ุชูˆุงุถุน ูˆุงู„ุฒู‡ุฏ ูˆุงู„ุดุฌุงุนุฉ ูˆุงู„ุซุจุงุช ุนู„ู‰ ุงู„ุญู‚، ูˆุญุณู† ุงู„ู…ุนุงู…ู„ุฉ ู„ู„ู†ุงุณ، ูู‚ุฏ ูƒุงู† ุงู„ุฎู„ูุงุก ุงู„ุฑุงุดุฏูˆู† ูŠุนูŠุดูˆู† ุจูŠู† ุงู„ู†ุงุณ ูˆูŠุชุญู…ู„ูˆู† ุงู„ู…ุณุคูˆู„ูŠุฉ ุฃู…ุงู… ุงู„ู„ู‡ ูˆุฃู…ุงู… ุงู„ุฃู…ุฉ ูˆู‚ุฏู…ูˆุง ู†ู…ูˆุฐุฌุงً ู„ู„ุงู‚ุชุฏุงุก ุจู‡ู… ูˆุงู„ุณูŠุฑ ุนู„ู‰ ู…ู†ู‡ุฌู‡ู…. ูˆุฐูƒุฑ ุงู„ุฏูƒุชูˆุฑ ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุนุจุฏ ุงู„ุจุงู‚ูŠ ุงู„ุญู‚ุงู†ูŠ ุงู„ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุงู„ุฃู…ุซู„ุฉ ุงู„ุฏุงู„ุฉ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ.
ูˆููŠ ุงู„ู…ุจุญุซ ุงู„ุซุงู†ูŠ، ูƒุงู† ุญุฏูŠุซู‡ ุนู† ุงู„ุฎุตุงุฆุต ูˆุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ู‚ูŠุงุฏูŠุฉ ูˆุงู„ุฅุฏุงุฑูŠุฉ ูุฐูƒุฑ ู…ู†ู‡ุง:
1. ุงู„ู‚ูˆุฉ ูˆุฃุฏุงุก ุงู„ุฃู…ุงู†ุฉ.
2. ุญุณู† ุงู„ูˆู„ุงูŠุฉ ูˆุงู„ุชููˆู‚ ููŠ ุงู„ุฏุฑุงูŠุฉ ุงู„ุณูŠุงุณูŠุฉ.
3. ุงู„ุฃู…ุฑ ุจุงู„ู…ุนุฑูˆู ูˆุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู† ุงู„ู…ู†ูƒุฑ.
4. ุงู„ุทุงุนุฉ ููŠ ุงู„ู…ุนุฑูˆู ูˆุดุฑุงุฆุท ุงู„ุทุงุนุฉ ู„ู„ุญุงูƒู… ุงู„ู…ุณู„ู….
5. ุงุชุจุงุน ุงู„ุญู‚ ูˆุงู„ุนู…ู„ ุจู‡.
6. ุนุฏู… ุงู„ุฎูˆู ู…ู† ู„ูˆู…ุฉ ู„ุงุฆู… ูˆุงู†ุชู‚ุงุฏุงุช ุงู„ุขุฎุฑูŠู†.
7. ุงู„ุณูƒูŠู†ุฉ ูˆุงู„ูˆู‚ุงุฑ.
8. ุงู„ุงุนุชุฏุงู„ ูˆุงู„ูˆุณุทูŠุฉ ููŠ ูƒู„ ุงู„ุฃู…ูˆุฑ ููŠ ุงู„ุนุจุงุฏุฉ ูˆุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ูˆุงู„ุฅู†ูุงู‚ ูˆุงู„ุญุจ ูˆุงู„ุจุบุถ ูˆุงู„ุทุนุงู… ูˆุงู„ุดุฑุงุจ ูˆุงู„ู„ุจุงุณ ูˆููŠ ุงู„ุณูŠุฑ ูˆููŠ ุงู„ู†ูˆู…...ุฅู„ุฎ.
9. ุงู„ุนุฏุงู„ุฉ ุงู„ุงุฌุชู…ุงุนูŠุฉ ุนู† ุฃู†ูˆุงุนู‡ุง ูˆุฃู‡ู…ูŠุชู‡ุง ูˆุทุฑู‚ ุชู†ููŠุฐู‡ุง ูˆููˆุงุฆุฏู‡ุง.
10. ุงู„ุฅุญุณุงู†: ูˆุนู† ุนุงู‚ุจุชู‡ ูˆุชุนู…ูŠู…ู‡ ูˆู…ุธุงู‡ุฑู‡.
11. ุงู„ุฑุญู…ุฉ ูˆุงู„ุดูู‚ุฉ ูˆุตูˆุฑู‡ุง ูˆุถุฑูˆุฑุชู‡ุง ูˆุฃุณุจุงุจู‡ุง ูˆุฃู‡ู…ูŠุชู‡ุง ู„ู„ุญูƒุงู….
12. ุงู„ุตุฏู‚ ููŠ ุงู„ุฃู‚ูˆุงู„ ูˆุงู„ุฃูุนุงู„، ูˆุฃุซุฑู‡ ููŠ ุงู„ุญุงูƒู… ูˆุงู†ุนูƒุงุณ ุฐู„ูƒ ุนู„ู‰ ุงู„ุดุนูˆุจ.
13. ุงู„ูˆูุงุก ุจุงู„ุนู‡ูˆุฏ، ูˆุฃู‡ู…ูŠุชู‡ ู„ู„ุญูƒุงู… ูˆููˆุงุฆุฏู‡.
14. ุงู„ู‚ุฏุฑุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุชูˆุฌูŠู‡ ูˆุงู„ูุตุงุญุฉ.
15. ู…ุฑุงุนุงุฉ ุงู„ุชุฎุทูŠุท ุงู„ู…ู†ุธّู… ูˆุงู„ุงู†ุถุจุงุท ุงู„ุณู„ูŠู….
16. ุงู„ุฎุจุฑุฉ ูˆุงู„ุดุฌุงุนุฉ.
17. ุงู„ุฌู‡ุงุฏ ูˆูƒูุงู„ุฉ ุงู„ู…ุฌุงู‡ุฏูŠู† ูˆุฃุณุฑู‡ู….
18. ุงู„ูƒุฑู… ูˆุงู„ุฌูˆุฏ ูˆุงู„ุณุฎุงุก ูˆุงู„ุฅูŠุซุงุฑ.
19. ุฅู†ุฌุงุฒ ุดุคูˆู† ุงู„ุฏูˆู„ุฉ ูˆุชุญู‚ูŠู‚ ุฃู‡ุฏุงูู‡ุง.
20. ุงู„ุนูุฉ ูˆุงู„ุนูุงู.
21. ุงู„ุญู„ู….
22. ุงู„ุตุจุฑ ูˆุชุญู…ّู„ ุงู„ู…ุดุงู‚.
23. ุงู„ุญูŠุงุก.
24. ุงู„ุตูุญ ูˆุงู„ุนููˆ ุนู†ุฏ ุงู„ู…ู‚ุฏุฑุฉ.
25. ุณู„ุงู…ุฉ ุงู„ุตุฏุฑ.
26. ุงู„ุฑูู‚ ูˆู„ูŠู† ุงู„ุฌุงู†ุจ.
27. ุงู„ู…ุฏุงุฑุงุฉ ู…ุน ุงู„ู…ุฎุงู„ููŠู† ูˆุญู„ ู…ุดุงูƒู„ู‡ู….
28. ุงู„ุฃู†ุงุฉ ูˆุงู„ุชุจูŠู† ูˆุนุฏู… ุงู„ู…ุจุงุฏุฑุฉ ููŠ ู…ุนุงู‚ุจุฉ ุงู„ู…ุฌุฑู….
29. ุฅู†ุฒุงู„ ุงู„ู†ุงุณ ู…ู†ุงุฒู„ู‡ู….
30. ุงู„ุดูƒุฑ ูˆุงู„ุชู‚ุฏูŠุฑ.
31. ุงู„ุซู†ุงุก ูˆุชุญููŠุฒ ุงู„ุนุงู…ู„ูŠู†.
32. ุชุณู‡ูŠู„ ู„ู‚ุงุก ุงู„ู†ุงุณ ูˆุงู„ุชูŠุณูŠุฑ ุนู„ูŠู‡ู….
33. ุชูˆุฒูŠุน ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ูˆูู‚ ุงู„ูƒูุงุกุฉ ุงู„ุนู…ู„ูŠุฉ.
34. ุงู„ุชูˆุงุถุน ูˆุนุฏู… ุงู„ุชุฑูุน ุนู„ู‰ ุงู„ุขุฎุฑูŠู† ุจุณุจุจ ู†ู…ุท ุญูŠุงุฉ ุงู„ุดุฎุต.
35. ุชุญุฏูŠุฏ ุงู„ุงุฎุชุตุงุตุงุช ูˆูู‚ ุงู„ุนุฏู„ ูˆุงู„ู…ุตู„ุญุฉ.
36. ุนุฏู… ุงู„ุงุนุชู…ุงุฏ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุฒูƒูŠุฉ ูˆุญุฏู‡ุง (ุญุชู‰ ู…ู† ุงู„ุซู‚ุงุช) ููŠ ุงู„ุชูˆุธูŠู ูˆุงู„ุชุนูŠูŠู†.
37. ุงู„ุฅุดุฑุงู ุงู„ู…ุจุงุดุฑ ูˆุงู„ู…ุญุงุณุจุฉ ุงู„ุฏุงุฆู…ุฉ.
38. ุงู„ุงุนุชุฑุงู ุจุงู„ุฎุทุฃ ูˆุนุฏู… ุงู„ุฅุตุฑุงุฑ ุนู„ูŠู‡.
39. ุญุณู† ุงู„ุชุนุงู…ู„ ูˆุงู„ุชุนุงูˆู† ุนู„ู‰ ุงู„ุจุฑ ูˆุงู„ุชู‚ูˆู‰.
40. ุฅู†ุฌุงุฒ ุงู„ุนู…ู„ ุจู†ูุณู‡.
41. ุฅู†ุฌุงุฒ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ููŠ ุญูŠู†ู‡ุง ูˆู…ูŠุนุงุฏู‡ุง.
42. ุงู„ุฅุชู‚ุงู† ููŠ ุงู„ุนู…ู„.
43. ุชูู‚ุฏ ุฃุญูˆุงู„ ุงู„ุฑุนูŠุฉ ูˆุญู„ ู…ุดุงูƒู„ู‡ุง.
44. ู‚ุจูˆู„ ุงู„ุดูุงุนุฉ ุงู„ุญุณู†ุฉ.
45. ุงุณุชุดุงุฑุฉ ู…ู† ูŠูƒูˆู† ุฃู‡ู„ุงً ู„ู‡ุง.
46. ุงู„ุญุฒู… ูˆุงู„ุนุฒู… ูˆุงู„ุฅุฑุงุฏุฉ ุงู„ู‚ูˆูŠุฉ ููŠ ุงู„ุญูƒู….
47. ุงู„ุฑุบุจุฉ ููŠ ุงู„ุฑู‚ูŠ ูˆุงู„ุชุทูˆูŠุฑ ูˆุงู„ุชุฑุบูŠุจ ููŠ ุฐู„ูƒ.
48. ุงู„ุชูˆุงุถุน ูˆู‡ุถู… ุงู„ู†ูุณ.
49. ู…ุจุงุดุฑุฉ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุดุฎุตูŠุฉ ุจู†ูุณู‡ ุฏูˆู† ุงู„ุฅูŠูƒุงู„ ุฅู„ู‰ ุงู„ุบูŠุฑ.
50. ุชู‚ุฏูŠุฑ ุงู„ูƒุฑุงู… ูˆูˆุฌูˆู‡ ุงู„ู†ุงุณ.
51. ุงู„ุณูŠุงุณุฉ ุงู„ุญูƒูŠู…ุฉ ุชُุฑุนุจ ุงู„ุฃุนุฏุงุก ูˆุชุญุงูุธ ุนู„ู‰ ู‡ูŠุจุฉ ุงู„ุฏูˆู„ุฉ.
52. ุงู„ุจุตูŠุฑุฉ ูˆุงู„ูุทู†ุฉ ูˆุงู„ูุฑุงุณุฉ.
53. ุงู„ุฅุตุบุงุก ู„ู„ุดูƒุงูˆู‰ ุนู„ู‰ ุงู„ูˆู„ุงุฉ ูˆุงู„ู…ูˆุธููŠู† ูˆุนุฏู… ุงู„ุงุณุชู…ุงุน ู„ู„ูˆุดุงุฉ.
54. ุงู„ุดุนูˆุฑ ุจุงู„ู…ุณุคูˆู„ูŠุฉ.
55. ุงู„ุญูุงุธ ุนู„ู‰ ุจูŠุช ุงู„ู…ุงู„.
56. ุนู„ูˆ ุงู„ู‡ู…ุฉ.
57. ุงู„ู…ุนุงู…ู„ุฉ ู…ุน ูˆู„ุงุชู‡ ูˆุฑุนูŠุชู‡ ู…ุนุงู…ู„ุฉ ุงู„ุฃูˆู„ุงุฏ.
58. ุงุฎุชูŠุงุฑ ุฎุดูˆู†ุฉ ุงู„ุนูŠุด.
59. ุงู„ุงู†ุดุบุงู„ ุจุฃู‡ู… ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ูˆุนุฏู… ุงู„ุงู†ุดุบุงู„ ุจุงู„ุชุฑู.
60. ู…ุฑุงุนุงุฉ ุงู„ุตุญุฉ ูˆู…ุฒุงูˆู„ุฉ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ู‚ุฏุฑ ุงู„ุงุณุชุทุงุนุฉ.
61. ุญูุธ ุงู„ุฃุณุฑุงุฑ ูˆุนุฏู… ุฅูุดุงุฆู‡ุง.
62. ุงู„ุฑุถุง ุจู†ุตุญ ุงู„ู…ุตู„ุญูŠู† ูˆู†ู‚ุฏู‡ู… ู„ู„ุญุงูƒู….
ู‡ุฐู‡ ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุญูƒุงู… ููŠ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ุงู„ุชูŠ ู‚ุฏู…ู‡ุง ุงู„ุฏูƒุชูˆุฑ ุนุจุฏ ุงู„ุจุงู‚ูŠ ุงู„ุญู‚ุงู†ูŠ ู„ู„ู…ู‡ุชู…ูŠู† ุจู‡ุฐุง ุงู„ู†ูˆุน ู…ู† ุงู„ุฏุฑุงุณุงุช ูุงู„ุฃู…ุฉ ููŠ ุฃุดุฏ ุงู„ุญุงุฌุฉ ุฅู„ู‰ ู…ุนุฑูุฉ ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุญูƒุงู… ููŠ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ. ูˆูƒู„ ุฎู„ู‚ ุชุญุฏุซ ุนู†ู‡ ุงู„ุดูŠุฎ ุฃุตّู„ ู„ู‡ ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุขู† ุงู„ูƒุฑูŠู… ูˆุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ู†ุจูˆูŠุฉ ุงู„ุดุฑูŠูุฉ ูˆู‡ุฏูŠ ุงู„ุฎู„ูุงุก ุงู„ุฑุงุดุฏูŠู†، ูˆุฃูŠّุฏ ู…ุง ูˆุตู„ ุฅู„ูŠู‡ ู…ู† ุฎู„ุงู„ ุฃู‚ูˆู„ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุงู„ุฐูŠู† ุงู‡ุชู…ูˆุง ุจู‡ุฐุง ุงู„ูู† ู…ู† ุนู„ูˆู… ุงู„ุณูŠุงุณุฉ ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ، ูˆุฌู…ุน ุจูŠู† ุงู„ู…ุตุงุฏุฑ ุงู„ู‚ุฏูŠู…ุฉ ูˆุงู„ู…ุฑุงุฌุน ุงู„ุญุฏูŠุซุฉ ุจุฃุณู„ูˆุจ ุนุตุฑู‡.
ูˆููŠ ู†ู‡ุงูŠุฉ ุงู„ูƒุชุงุจ ุนู‚ุฏ ุงู„ูุตู„ ุงู„ุซุงู„ุซ: ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ูˆู…ุนุงู„ุฌุฉ ุงู„ุงู†ุญุฑุงู ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ูŠ. ูˆุชุญุฏุซ ููŠ ุงู„ู…ุจุญุซ ุงู„ุฃูˆู„: ุนู† ุชู†ู…ูŠุฉ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ูˆุทุฑู‚ ุชุญุตูŠู„ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุญุณู†ุฉ، ูˆูู‚ู‡ ุงู„ุฎู„ู‚، ูˆููˆุงุฆุฏู‡ ูˆุฃุณุจุงุจ ุงู„ุชุฎู„ูŠ ุนู† ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุญุณู†ุฉ.
ูˆููŠ ุงู„ู…ุจุญุซ ุงู„ุซุงู†ูŠ: ู…ุนุงู„ุฌุฉ ุงู„ุงู†ุญุฑุงู ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ูŠ ูˆุฃุณุงู„ูŠุจ ู…ุนุงู„ุฌุชู‡ ุจุชุตุญูŠุญ ุงู„ุนู‚ูŠุฏุฉ ูˆุงู„ู…ุฏุงูˆู…ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุนุจุงุฏุงุช، ูˆุงู„ุชุฏุฑูŠุจ ุงู„ุนู…ู„ูŠ ูˆุงู„ุฑูŠุงุถุฉ ุงู„ู†ูุณูŠุฉ، ูˆุงู„ู†ุธุฑ ููŠ ุนูˆุงู‚ุจ ุณูˆุก ุงู„ุฎู„ู‚، ูˆุงู„ู‚ุฏูˆุฉ ุงู„ุญุณู†ุฉ ูˆุงู„ุชูˆุงุตูŠ ุจุญุณู† ุงู„ุฎู„ู‚.
ูˆููŠ ุงู„ู…ุจุญุซ ุงู„ุซุงู„ุซ: ููˆุงุฆุฏ ุงุฎุชูŠุงุฑ ุงู„ูƒูุก ูˆุฃุถุฑุงุฑ ุงุฎุชูŠุงุฑ ุบูŠุฑ ุงู„ูƒูุก.
ูˆููŠ ุงู„ู…ุจุญุซ ุงู„ุฑุงุจุน: ุขุฏุงุจ ุงู„ู…ูˆุธู ุงู„ู…ุฑุคูˆุณ.
ุฅู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุงู„ู…ุจุงุฑูƒุฉ ุชุจูŠู† ู„ุนู„ู…ุงุก ุงู„ุฃู…ุฉ ูˆู‚ุงุฏุชู‡ุง ููŠ ูƒุงูุฉ ุงู„ู…ุฌุงู„ุงุช ุงู„ุณูŠุงุณูŠุฉ ูˆุงู„ุงู‚ุชุตุงุฏูŠุฉ ูˆุงู„ุงุฌุชู…ุงุนูŠุฉ ูˆุงู„ุนุณูƒุฑูŠุฉ ูˆุงู„ุฃู…ู†ูŠุฉ، ูˆู‡ูˆ ุฃู†:
1- ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ููŠ ุงู„ุญุงูƒู… ุฃุตู„ ููŠ ุดุฑุนูŠุฉ ูˆู„ุงูŠุชู‡، ูˆู„ูŠุณุช ุฃู…ุฑุงً ุซุงู†ูˆูŠุงً ุฃูˆ ุชุฌู…ูŠู„ูŠุงً.
2- ุงู„ุนุฏุงู„ุฉ ูˆุงู„ุดูˆุฑู‰ ูˆุงู„ุฃู…ุงู†ุฉ ู‚ูŠู… ู„ุง ุชู‚ูˆู… ุจุฐุงุชู‡ุง ุจู„ ุชุญุชุงุฌ ุฅู„ู‰ ุชุฑุฌู…ุฉ ู…ุคุณุณูŠุฉ ูˆุฅุฌุฑุงุกุงุช ุนู…ู„ูŠุฉ.
3- ุงู„ุงู†ุญุฑุงู ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ูŠ ู„ุง ูŠุนุงู„ุฌ ุจุงู„ูˆุนุธ ูˆุญุฏู‡، ุจู„ ู…ู†ุธูˆู…ุฉ ู…ุชูƒุงู…ู„ุฉ ุชุดู…ู„ ุงู„ุชุฑุจูŠุฉ ูˆุงู„ุชุดุฑูŠุน ูˆุงู„ุฑู‚ุงุจุฉ.
4- ู…ุนุงู„ุฌุฉ ู‡ุฐุง ุงู„ุงู†ุญุฑุงู، ู„ุง ุชูƒูˆู† ุจุงู„ุชุฑุจูŠุฉ ูู‚ุท، ุจู„ ุจุฅู†ุดุงุก ุฃู†ุธู…ุฉ ุฑู‚ุงุจูŠุฉ ูˆู‚ุงู†ูˆู†ูŠุฉ ูˆู…ุฌุชู…ุนูŠุฉ ู…ุชูƒุงู…ู„ุฉ.
5- ุงุฎุชูŠุงุฑ ุงู„ู…ุณุคูˆู„ูŠู† ุนู„ู‰ ุฃุณุงุณ ุงู„ุฃู…ุงู†ุฉ ูˆุงู„ูƒูุงุกุฉ ูุฑุถ ุดุฑุนูŠ ูˆุถุฑูˆุฑุฉ ุญุถุงุฑูŠุฉ، ู„ุถู…ุงู† ุตู„ุงุญ ุงู„ุญูƒู… ูˆุงุณุชู‚ุงู…ุฉ ุงู„ุฅุฏุงุฑุฉ.
ุฅู† ู‡ุฐุง ุงู„ุนู…ู„ ุงู„ู…ูˆุณูˆุนูŠ ุงู„ูƒุจูŠุฑ ุงู„ุฐูŠ ู‚ุงู… ุจู‡ ุฃุญุฏ ุฃุนู„ุงู… ุงู„ุฃู…ุฉ ุงู„ูƒุจุงุฑ ู…ู† ุนู„ู…ุงุก ุงู„ุนุงู„ู… ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ، ูŠุฏุฎู„ ููŠ ุตู…ูŠู… ุงู„ู…ุดุฑูˆุน ุงู„ุญุถุงุฑูŠ ู„ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃู…ุฉ، ูˆุชุนุชุจุฑ ุณู„ุณู„ุฉ ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ุจุงู‚ูŠ ููŠ ุงู„ุณูŠุงุณุฉ ูˆุงู„ุฅุฏุงุฑุฉ ููŠ ุงู„ุฅุณู„ุงู…، ูˆูƒุชุงุจู‡ ุญูุธ ุงู„ุฃุณุฑุงุฑ ูˆุฅูุดุงุคู‡ุง ููŠ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ، ูˆู‡ุฐู‡ ุงู„ู…ูˆุณูˆุนุฉ؛ ู…ู† ุงู„ู…ุฑุงุฌุน ูˆุงู„ู…ุตุงุฏุฑ ุงู„ู…ู‡ู…ุฉ ููŠ ูู‚ู‡ ุงู„ุณูŠุงุณุฉ ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ، ูˆุฅุฏุงุฑุฉ ุงู„ุฏูˆู„ุฉ، ูˆู†ุธู… ุงู„ุญูƒู…، ูˆุทุจูŠุนุฉ ุงู„ุญูƒูˆู…ุงุช ูˆุฒุนู…ุงุฆู‡ุง ุงู„ุฐูŠู† ูŠุฑูŠุฏูˆู† ุงู„ุณูŠุฑ ุนู„ู‰ ู†ู‡ุฌ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ููŠ ุฅุฏุงุฑุฉ ุงู„ุญูƒู… ุงู„ุฑุดูŠุฏ. ูˆู‡ุฐู‡ ุงู„ุฏุฑุงุณุงุช ุชุณุงู‡ู… ู…ุณุงู‡ู…ุฉ ุนู…ู„ูŠุฉ ุฌุงุฏุฉ ู…ู† ุฎู„ุงู„:
- ุฅุนุฏุงุฏ ู…ุฏูˆّู†ุงุช ุฃุฎู„ุงู‚ูŠุฉ ู…ู„ุฒู…ุฉ ููŠ ู…ุคุณุณุงุช ุงู„ุญูƒู… ูˆุงู„ุฅุฏุงุฑุฉ ุชุญุฏุฏ ุงู„ุณู„ูˆูƒูŠุงุช ุงู„ู…ู‚ุจูˆู„ุฉ ูˆุชุญุงุณุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุงู†ุญุฑุงูุงุช.
- ููŠ ุฅุฏู…ุงุฌ ุงู„ุชุฑุจูŠุฉ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ูŠุฉ ููŠ ุจุฑุงู…ุฌ ุฅุนุฏุงุฏ ุงู„ู‚ุงุฏุฉ ูˆุงู„ู…ูˆุธููŠู† ู„ุชูƒูˆู† ุฌุฒุกุงً ู…ู† ุงู„ุชูƒูˆูŠู† ุงู„ู…ู‡ู†ูŠ ู„ุง ู…ุฌุฑุฏ ุชูˆุฌูŠู‡ ู†ุธุฑูŠ.
- ููŠ ุชูุนูŠู„ ุขู„ูŠุงุช ุงู„ุดูˆุฑู‰ ูˆุงู„ู…ุญุงุณุจุฉ ูˆุงู„ุดูุงููŠุฉ ุนู„ู‰ ู†ุญูˆ ู…ุคุณุณูŠ ูŠุถู…ู† ุงู„ุฑู‚ุงุจุฉ ุงู„ุฏุงุฎู„ูŠุฉ ูˆุงู„ุฎุงุฑุฌูŠุฉ ุนู„ู‰ ุฃุฏุงุก ุงู„ู…ุณุคูˆู„ูŠู†.
- ููŠ ุชุนุฒูŠุฒ ุงู„ุชุนุงูˆู† ุจูŠู† ุงู„ุนู„ูˆู… ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ูˆุงู„ุฅุฏุงุฑูŠุฉ ูˆุงู„ุณูŠุงุณูŠุฉ ู„ุจู†ุงุก ุนู„ู… ุชุทุจูŠู‚ูŠ ูŠุณู…ّู‰ (ูู‚ู‡ ุงู„ุฎู„ู‚) ูŠุฎุฏู… ุงู„ุญูƒู… ูˆูŠُุฑุดุฏ ุงู„ุณูŠุงุณุงุช.
- ููŠ ุฏุนู… ุงู„ุฃุจุญุงุซ ุงู„ุชุทุจูŠู‚ูŠุฉ ุงู„ุชูŠ ุชุฑุจุท ุจูŠู† ุงู„ู‚ูŠู… ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ูˆู…ุชุทู„ุจุงุช ุงู„ุฅุฏุงุฑุฉ ุงู„ุญุฏูŠุซุฉ ู„ุชู‚ุฏูŠู… ู†ู…ุงุฐุฌ ุนู…ู„ูŠุฉ ู‚ุงุจู„ุฉ ู„ู„ุชู†ููŠุฐ.
ู‡ุฐู‡ ู‚ุฑุงุกุฉ ู…ุชุฃู†ูŠุฉ ู„ู‡ุฐู‡ ุงู„ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุงู„ุชูŠ ุฃุชู…ู†ู‰ ุฃู† ุชุฑู‰ ุงู„ู†ูˆุฑ، ูˆุชุตู„ ุฅู„ู‰ ู‚ุงุฏุฉ ุงู„ุฃู…ุฉ ูˆุญูƒุงู…ู‡ุง، ู„ูƒูŠ ูŠุณุชููŠุฏูˆุง ู…ู†ู‡ุง ููŠ ุญูŠุงุชู‡ู… ูˆู‚ุจู„ ุฑุญูŠู„ู‡ู… ุฅู„ู‰ ุนุงู„ู… ุงู„ุจุฑุฒุฎ، ูˆูŠูˆู… ูŠู‚ูˆู… ุงู„ุฃุดู‡ุงุฏ. ูƒู…ุง ุฃู†ู†ูŠ ุฃุฏุนูˆ ุฅู„ู‰ ู†ุดุฑู‡ุง ูˆุชุนู…ูŠู…ู‡ุง ุนู„ู‰ ุฃูƒุจุฑ ู†ุทุงู‚ ู…ู…ูƒู† ููŠ ุงู„ุนุงู„ู… ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ، ูˆุนู„ู‰ ุงู„ู…ุณุชูˆู‰ ุงู„ุฅู†ุณุงู†ูŠ، ูˆุชุฑุฌู…ุชู‡ุง ุฅู„ู‰ ุฃู‚ุตู‰ ู…ุง ูŠู…ูƒู† ู…ู† ุงู„ู„ุบุงุช، ู„ูƒูŠ ุชู†ุธุฑ ุงู„ุญุถุงุฑุงุช ูˆุงู„ุฏูˆู„ ูˆุงู„ุซู‚ุงูุงุช ุงู„ุฅู†ุณุงู†ูŠุฉ ู…ุง ุนู†ุฏ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ู…ู† ู‚ูŠู… ูˆุฃุฎู„ุงู‚ ู…ุชุนู„ู‚ุฉ ุจุงู„ุญูƒุงู…، ูˆุฅุฏุงุฑุฉ ุงู„ุฏูˆู„، ูˆู†ุธู… ุงู„ุญูƒู….
ูˆู†ุณุฃู„ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„ ุจุฃุณู…ุงุฆู‡ ุงู„ุญุณู†ู‰ ูˆุตูุงุชู‡ ุงู„ุนู„ู‰ ุฃู† ูŠุจุงุฑูƒ ููŠ ุฌู‡ูˆุฏ ุดูŠุฎู†ุง ุงู„ุฏูƒุชูˆุฑ ุนุจุฏ ุงู„ุจุงู‚ูŠ ุงู„ุญู‚ุงู†ูŠ، ูˆูŠุชู‚ุจู„ ู…ู†ู‡، ูˆูŠุฌุนู„ู‡ ู…ู† ู…ูุงุชูŠุญ ุงู„ุฎูŠุฑ ูˆุงู„ุจุฑูƒุงุช، ูˆูŠุณุชุฎุฏู…ู‡ ู„ู„ุฏูุงุน ุนู† ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆู†ุดุฑ ุฑุณุงู„ุชู‡ ุงู„ุฎุงู„ุฏุฉ ููŠ ุงู„ุขูุงู‚، ูˆููŠ ู…ุดุงุฑู‚ ุงู„ุฃุฑุถ ูˆู…ุบุงุฑุจู‡ุง، ูˆุฃู† ูŠู†ูุน ุจุนู„ู…ู‡ ุฃุฌูŠุงู„ุงً ูˆุฃุฌูŠุงู„ุงً، ุฅู„ู‰ ุฃู† ูŠุฑุซ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฃุฑุถ ูˆู…ู† ุนู„ูŠู‡ุง، ูˆูŠูƒุชุจู‡ุง ู„ู‡ ู…ู† ุงู„ุตุฏู‚ุงุช ุงู„ุฌุงุฑูŠุงุช ุจู…ู†ّู‡ ูˆูƒุฑู…ู‡ ูˆุฌูˆุฏู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰.
.
.
(ูˆุขุฎุฑ ุฏุนูˆุงู†ุง ุฃู† ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†)
.
ุงู„ุฃู…ูŠู† ุงู„ุนุงู… ู„ู„ุงุชุญุงุฏ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู† ู„ุนู„ู…ุงุก ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†
ุฏ. ุนู„ูŠّ ู…ุญู…ّุฏ ู…ุญู…ّุฏ ุงู„ุตู„َّุงุจูŠ

#ุงู„ุตู„ุงุจูŠ

Ulasan Buku
"Ensiklopedi Akhlak Penguasa dalam Syariat Islam"
(Mawsu'ah Akhlaq al-Hukkam fi asy-Syari'ah al-Islamiyyah)
Karya Ulama Besar Sheikh Abu Abdurrahman Abdul Baqi Haqqani
Oleh Sheikh Dr. Ali Muhammad Muhammad ash-Sallabi
Bismillahirrahmanirrahim.
Ini adalah ulasan mendalam terhadap buku "Mawsu'ah Akhlaq al-Hukkam fi asy-Syari'ah al-Islamiyyah" karya ulama besar Sheikh Abu Abdurrahman Abdul Baqi Haqqani—seorang ulama Afghanistan yang mulia, yang memadukan keluhuran ilmu dengan keteguhan amal, serta mencurahkan tenaganya untuk menjelaskan asas-asas politik dan administrasi dalam Islam. Beliau telah menulis buku-buku bermanfaat yang sangat dibutuhkan oleh umat, khususnya pada zaman ini.
Saat menulis ulasan ini, saya teringat akan buku "Il Principe" (Sang Penguasa) karya penulis dan politisi Italia, Niccolรฒ Machiavelli, yang menjadi perhatian para penguasa, pangeran, dan raja sejak pertama kali diterbitkan, serta menjadi bahan ajaran bagi generasi demi generasi penguasa, baik Muslim maupun non-Muslim. Maka saya berdoa, semoga Allah Azza wa Jalla dengan nama-Nya Al-Fattah (Maha Pembuka) dan Al-'Alim (Maha Mengetahui), membuka hati para penguasa Muslim melalui buku ini, serta menjadi sebab hidayah bagi selain mereka untuk mengenal keagungan agama ini melalui akhlak para penguasa dalam syariat Islam.
Sheikh Dr. Abdul Baqi menuliskan di sampul bukunya: (Seorang pemimpin tidak akan bisa menjadi agung kecuali jika ia memiliki akhlak yang agung; karena kekuatan akhlak senantiasa berada di barisan terdepan dari karakteristik para pemimpin besar).
Beliau menempatkan Nabi Muhammad ๏ทบ sebagai teladan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan pengajar prinsip-prinsip syariat Islam, serta menegaskan bahwa akhlak adalah pilar utama dalam pembangunan dan stabilitas negara. Kekuasaan dalam Islam bukanlah sarana untuk kesewenang-wenangan atau perbudakan, melainkan sebuah amanah dan tanggung jawab, sebagaimana sabda Rasulullah ๏ทบ: "Kalian semua adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya."
Dalam bukunya, Sheikh menekankan kebutuhan mendesak untuk kembali kepada prinsip-prinsip syariat dalam pemerintahan dan politik serta menghidupkan kembali tatanan moral yang telah diletakkan oleh Islam, agar umat dapat merebut kembali posisinya dan menegakkan sistem politik bijak yang mewujudkan keadilan, menjamin hak-hak, serta menjaga urusan agama dan dunia secara bersamaan.
Tidak diragukan lagi bahwa masa depan umat Islam sangat bergantung pada penyiapan para pemimpin yang qualified untuk menegakkan sistem politik dan administrasi yang berlandaskan petunjuk kenabian, Khulafaur Rasyidin, dan tata kelola yang bijaksana. Politik dalam Islam bertugas menjaga Ad-Daruriyyat al-Khamsah (lima kebutuhan pokok): menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan.
Politik memiliki tujuan-tujuan agung yang dijelaskan oleh Al-Qur'an dan dipraktikkan oleh Rasulullah ๏ทบ. Politik adalah ilmu dan seni yang berdiri di atas fondasi syariat yang kokoh, menggabungkan antara pemahaman syariat (figh syar'i), pemahaman realitas (figh al-waqi'), pertimbangan maslahat-mudarat (figh al-muwazanat), serta prinsip menolak kerusakan dan menarik kemaslahatan. Politik membutuhkan keterampilan kepemimpinan dan akhlak yang tertanam kuat pada diri penguasa, pangeran, atau presiden, sehingga memungkinkan mereka mengelola urusan rakyat sesuai dengan manhaj Islam yang komprehensif, yang dibangun di atas keadilan, hikmah, kasih sayang, dan kemaslahatan.
Buku ini menjelaskan kebutuhan umat akan kurikulum pendidikan dan ilmiah dalam bidang politik, administrasi, dan etika untuk dijadikan pegangan bagi para calon pemimpin masa depan dan penguasa umat. Inilah peran para ulama, pemikir, dan ahli fikih untuk berkontribusi menyiapkan para pemimpin yang kompeten dan menguasai Siyasah Syar'iyyah (politik Islam). Ini merupakan salah satu fondasi penting untuk menegakkan pemerintahan yang bijaksana yang mampu menghadapi pemikiran-pemikiran asing dan politik "setan" yang mengancam identitas, akidah, nilai, dan sendi-sendi masyarakat Muslim.
Sheikh Abdul Baqi menyajikan studi mendalam yang menjembatani jurang antara fikih politik dan realitas kontemporer. Beliau memberikan visi syariat yang membantu para pemimpin dan pejabat untuk mengikuti jejak kenabian dalam mengelola urusan umat, berlandaskan Al-Qur'an, Sunnah Nabawiyah, dan rekam jejak Khulafaur Rasyidin, serta berpandukan pada pandangan dan ijtihad para ulama dalam politik syariah.
Studi ini memadukan antara landasan syariat (ta'shil syar'i), analisis sejarah, pendekatan pemikiran, dan penerapan institusional. Studi semacam ini sangat langka dalam perpustakaan kontemporer kita, sehingga ensiklopedi ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dan menjadi batu bata dalam membangun rujukan ilmiah, syari, kultural, peradaban, dan sejarah yang memperhatikan akhlak penguasa, politisi, pemimpin, dan administrator dalam Islam.
Dr. Sheikh Abdul Baqi Haqqani menyajikan studi yang berfokus pada penguatan teoritis dalam merumuskan konsep-konsep etika dalam Islam, menjelaskan tingkatan, jenis, sumber, serta keutamaan dan cara mengutarakannya sesuai metodologi ilmiah yang memadukan teks syariat dan analisis fikih/kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang penguasa dan pejabat administrasi—seperti amanah, keadilan, kasih sayang, musyawarah, akuntabilitas, dan pembagian kerja secara adil.
Beliau juga memperhatikan aspek penerapannya dengan mengajukan usulan ilmiah untuk mengintegrasikan etika ke dalam lembaga-lembaga pemerintahan dan administrasi era modern, demi menjamin transparansi dan akuntabilitas serta mengembalikan kepercayaan antara umat dan penguasanya.
Studi ini tentu merupakan tambahan bernilai ilmiah yang memperkaya khazanah studi Islam dengan referensi ensiklopedis yang menyapa pemikiran akademis dan menyajikan materinya dengan bahasa warisan (turats) yang otentik namun tetap merespons tuntutan penelitian kontemporer.
Sheikh Abdul Baqi Haqqani menggunakan berbagai metodologi yang saling melengkapi dan mendukung dalam melayani tujuan penelitian ensiklopedis ini, yaitu:
 * Metode Teks Syariat (Manhaj Nashshi Syar'i): Menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an, hadis Nabi, dan perkataan ulama sebagai dasar teoritis etika Islam (mendominasi Bab Pertama).
 * Metode Historis Deskriptif (Manhaj Tarikhi Washfi): Menginduksi rekam jejak para khalifah dan penguasa, serta menganalisis praktik etika dan politik mereka (terlihat pada Bab Kedua: Karakteristik Etis dan Pemikiran Pejabat Administrasi Islam).
 * Metode Analitis Komparatif (Manhaj Tahlili Muqaran): Membandingkan kerangka kerja Islam dengan model administrasi modern untuk menyerap apa yang bisa diadaptasi selama tidak bertentangan dengan maqashid syariah (hadir pada Bab Kedua dan Ketiga).
 * Metode Terapan Reformatif (Manhaj Tathbiqi Ishlahi): Menawarkan mekanisme realistis untuk mengembangkan etika dan mengatasi penyimpangan dalam pemerintahan dan administrasi.
 * Metode Sintetis Teoritis (Manhaj Tarkibi Nazhari): Mengumpulkan hasil dari metode-metode sebelumnya ke dalam satu kerangka komprehensif yang menyajikan model etika pemerintahan Islam yang kohesif.
Sheikh Abdul Baqi Haqqani berjalan dalam alur metodologis yang konsisten: mulai dari pemancangan asas (ta'shil), deskripsi, analisis, hingga aplikasi dan reformasi.
Para penguasa Muslim—baik raja, pangeran, sultan, maupun presiden—berada dalam bahaya besar jika tidak bertakwa kepada Allah dalam mengurus diri mereka, rakyat, dan umatnya. Studi ini membuka ufuk yang luas dan membentangkan jalan yang terang bagi mereka dalam menjalankan tugas yang diujikan Allah kepada mereka. Dengan begitu, mereka dapat beribadah kepada Allah melalui jabatan kekuasaan—yang mana kekuasaan termasuk ibadah teragung jika penguasa bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla di dalamnya, sehingga menjadi sebab masuk ke dalam surga Allah yang luas, meraih keridaan-Nya, serta berdampingan dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Atau sebaliknya—wal 'iyadzubillah—ketika ia berjalan di atas jalan Iblis dalam memerintah, mengadopsi akhlak setan, dan mengikuti cara-cara Firaun dalam berkuasa, sehingga ia jatuh ke dalam firman Allah Ta'ala:
“Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan bukti yang nyata, kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, tetapi mereka mengikuti perintah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun bukanlah (perintah) yang benar. Dia (Fir'aun) berjalan di depan kaumnya pada hari Kiamat, lalu membawa mereka masuk ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang dimasuki. Dan mereka diikuti dengan laknat di dunia ini dan pada hari Kiamat. (Laknat itu) seburuk-buruk pemberian yang diberikan.” (QS. Hud: 96-99)
Di dalam buku ini terdapat pandangan mendalam dan petunjuk yang meretas jalan keselamatan bagi siapa saja yang diuji Allah dengan jabatan kekuasaan. Sheikh Abdul Baqi membagi bukunya menjadi beberapa bab:
Bab Pertama: Dasar Teoritis Etika Islam
Bahasan mengenai hakikat etika, apa yang dimaksud dengan akhlak terpuji, jenis-jenis akhlak, asas, manfaat, keutamaan akhlak, serta sumber-sumbernya dari Al-Qur'an dan Sunnah Nabawiyah.
 * Bagian Kedua: Kedudukan dan Pentingnya Akhlak
   Membahas keutamaan akhlak dalam perilaku individu, masyarakat, dan umat; bahwa akhlak terpuji adalah kebutuhan sosial yang masuk ke seluruh sektor kehidupan manusia; peran akhlak dalam berdirinya negara dan peradaban; serta pentingnya penataan etika dalam politik.
 * Sebab/Saran Memperoleh Akhlak Terpuji:
   Perbaikan akidah, ibadah, bersahabat dengan orang-orang baik dan berakhlak mulia, tinggal di lingkungan yang saleh, berguru kepada ulama dan ulul albab, kontrol sosial masyarakat, melanggengkan tadabbur Al-Qur'an dan Sirah Nabawiyah, meneladani Sahabat dan Tabi'in, serta peran kekuasaan negara Islam. Negara memiliki pengaruh efektif dalam mewajibkan individu dan kelompok untuk terikat pada tatanan moral Islam, sebagaimana riwayat: "Sesungguhnya Allah mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak dicegah dengan Al-Qur'an."
Bab Kedua: Karakteristik Etis dan Pemikiran Pejabat Administrasi Islam
Bagian Pertama: Karakteristik Keagamaan dan Keimanan
 * Islam: Penguasa umat Islam tidak boleh dijabat oleh orang yang tidak beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan Syariat Islam. Penguasa harus meyakini kewajiban menerapkan hukum Syariat Islam yang berbasis keadilan, hikmah, kerahiman, dan kemaslahatan. Syarat ini merupakan fondasi untuk menjamin keadilan dan stabilitas pemerintahan.
 * Memahami Hukum Agama (At-Tafaqquh fi ad-Din): Penguasa (wali amri, hakim, imam, atau pejabat) harus berilmu tentang hukum syariat agar dapat mengelola urusan masyarakat sesuai syariat, memutuskan perkara secara adil, dan mengambil keputusan berbasis prinsip syariat. Umar bin Abdul Aziz berkata: "Barangsiapa beramal tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkannya lebih banyak daripada kebaikan yang dibangunnya."
 * Ikhlas karena Allah Ta'ala: Murni berniat karena Allah, tidak mencari kekuasaan, popularitas, atau keuntungan duniawi.
 * Ketakwaan dan Berpegang Teguh pada Syariat: Bertakwa dalam sembunyi maupun terang-terangan. Imam Al-Mawardi berkata: "Hendaknya raja merasa malu jika di antara rakyatnya ada yang lebih unggul agamanya daripada dirinya."
 * Istikamah Sempurna: Menjadi sosok yang adil, jujur, berakhlak, dan jauh dari penyimpangan. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata: "Istikamah adalah engkau lurus di atas perintah dan larangan, dan tidak berbelit-belit seperti culasnya musang."
 * Menerapkan Hukum pada Diri Sendiri, Keluarga, dan Kerabat Terlebih Dahulu: Umar bin Khattab jika melarang masyarakat dari sesuatu, beliau masuk ke rumahnya dan berkata kepada keluarganya: "Aku telah melarang masyarakat dari ini dan itu... Demi Allah, tidaklah dihadapkan kepadaku salah seorang dari kalian yang melanggarnya melainkan akan aku lipatgandakan hukumannya karena kedudukannya dariku."
 * Tekun Memperbaiki Diri Sendiri: Kebutuhan penguasa untuk memperbaiki dirinya lebih besar daripada kebutuhannya untuk memperbaiki rakyatnya, karena kebaikan rakyat bergantung pada kebaikannya.
 * Menjadi Teladan yang Baik (Uswah Hasanah): Dalam perilaku, ibadah, ketakwaan, keadilan, ketegasan, dan keampunan.
Bagian Kedua: Karakteristik dan Etika Kepemimpinan & Administrasi
Beliau menyebutkan 62 poin kepemimpinan, di antaranya:
 * Kekuatan dan penunaian amanah.
 * Kepemimpinan yang baik dan keunggulan wawasan politik.
 * Amar ma'ruf nahi munkar.
 * Ketaatan dalam kebaikan (Ta'ah fi al-Ma'ruf) beserta syarat-syaratnya.
 * Mengikuti kebenaran dan mengamalkannya.
 * Tidak takut pada celaan orang yang mencela.
 * Ketenangan dan wibawa (Sakinah & Waqar).
 * Moderasi (Wasathiyah) dalam segala hal.
 * Keadilan sosial (jenis, urgensi, dan penerapannya).
 * Ihsan (kebaikan yang melampaui standar minimal).
 * Kasih sayang dan kelembutan (Ar-Rahmah & Asy-Syafaqah).
 * Kejujuran dalam perkataan dan perbuatan.
 * Menepati janji.
 * Kemampuan mengarahkan dan kelancaran berkomunikasi (Fashahah).
 * Perencanaan yang terstruktur dan disiplin yang baik.
 * Pengalaman dan keberanian.
 * Jihad serta menjamin kehidupan para pejuang dan keluarga mereka.
 * Kedermawanan dan pengorbanan (Itsar).
 * Menyelesaikan urusan negara dan mencapai tujuannya.
 * Menjaga kesucian diri ('Iffah).
 * Menahan amarah (Hilm).
 * Kesabaran dan ketabahan menanggung beban.
 * Rasa malu (Haya').
 * Pemaaf saat mampu membalas.
 * Kelapangan dada.
 * Kelembutan (Rifq).
 * Diplomasi/sikap ramah (Mudarah) terhadap pihak yang berseberangan untuk menyelesaikan masalah.
 * Kehati-hatian (Anat & Tabayyun) dan tidak terburu-buru menghukum.
 * Menempatkan manusia sesuai kedudukannya.
 * Rasa syukur dan apresiasi.
 * Pujian dan motivasi untuk bawahan.
 * Mempermudah akses rakyat untuk bertemu dan mengadu.
 * Pembagian tugas berdasarkan kompetensi kerja.
 * Kerendahan hati (Tawadhu').
 * Penentuan spesialisasi jabatan berdasarkan keadilan dan maslahat.
 * Tidak hanya bergantung pada rekomendasi (Tazkiyah) belaka dalam rekrutmen.
 * Pengawasan langsung dan akuntabilitas berkala.
 * Mengakui kesalahan dan tidak persisten dalam kekeliruan.
 * Kerja sama dalam kebajikan dan takwa.
 * Menyelesaikan pekerjaan secara langsung.
 * Tepat waktu dalam menuntaskan tugas.
 * Profesionalisme (Itqan).
 * Memeriksa kondisi rakyat dan menyelesaikan masalah mereka.
 * Menerima rekomendasi baik (Syafa'ah Hasanah).
 * Bermusyawarah dengan ahlinya.
 * Ketegasan dan tekad bulat (Hazm & 'Azm).
 * Keinginan untuk maju dan berkembang.
 * Rendah hati dan tidak ujub.
 * Mengurus tugas-tugas pribadi sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
 * Menghargai tokoh dan pemuka masyarakat.
 * Politik bijak yang menggentarkan musuh dan menjaga wibawa negara.
 * Ketaajaman mata hati, kecerdasan, dan intuisi (Firasat).
 * Mendengarkan aduan terhadap para wali/pejabat dan tidak mendengarkan adu domba.
 * Rasa tanggung jawab yang tinggi.
 * Menjaga Kas Negara (Baitul Maal).
 * Cita-cita yang tinggi ('Uluww al-Himmah).
 * Memperlakukan pejabat dan rakyat seperti anak sendiri.
 * Memilih pola hidup sederhana.
 * Fokus pada pekerjaan-pekerjaan vital dan menjauhi kemewahan.
 * Menjaga kesehatan dan bekerja sesuai kapasitas.
 * Menjaga kerahasiaan negara.
 * Menerima nasihat dan kritik dari para pengkritik yang membangun.
Bab Ketiga: Etika dan Penanganan Penyimpangan Moral
 * Bagian Pertama: Pengembangan etika, pemahaman fikih etika (fiqh al-khuluq), serta sebab-sebab ditinggalkannya akhlak terpuji.
 * Bagian Kedua: Penanganan penyimpangan moral melalui perbaikan akidah, kontinuitas ibadah, latihan jiwa (riyadhah nafsiyyah), merenungi dampak buruk akhlak tercela, serta saling menasihati.
 * Bagian Ketiga: Manfaat memilih pejabat yang kompeten (Kafu') dan bahaya memilih yang tidak kompeten.
 * Bagian Keempat: Etika pegawai/bawahan (Adab al-Muwazhhaf al-Mar'us).
Kesimpulan Ulasan
Karya ensiklopedis besar ini menegaskan bahwa:
 * Akhlak pada diri penguasa adalah syarat utama keabsahan kepemimpinannya, bukan sekadar hal sekunder atau pelengkap.
 * Keadilan, musyawarah, dan amanah memerlukan penerjemahan ke dalam bentuk kelembagaan dan prosedur praktis.
 * Penyimpangan moral tidak cukup diatasi dengan ceramah/nasihat saja, melainkan dengan sistem terpadu yang mencakup pendidikan, regulasi, dan pengawasan.
 * Memilih pejabat berdasarkan amanah dan kapabilitas adalah fardu syar'i dan kebutuhan peradaban.
Studi ini menyumbang kontribusi nyata untuk:
 * Menyusun kode etik mengikat di lembaga pemerintahan.
 * Mengintegrasikan pendidikan etika dalam program pelatihan kepemimpinan.
 * Mengaktifkan mekanisme musyawarah, akuntabilitas, dan transparansi secara institusional.
 * Memperkuat kolaborasi antara ilmu syariat, administrasi, dan politik untuk membangun ilmu terapan baru bernama Fikih Akhlak (Fiqh al-Khuluq).
Saya berharap karya ini dapat terbit, sampai ke tangan para pimpinan dan penguasa umat, disebarluaskan, serta diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia agar peradaban luar dapat melihat keagungan nilai-nilai Islam dalam tata kelola negara.
Semoga Allah Azza wa Jalla memberkahi usaha Sheikh Dr. Abdul Baqi Haqqani, menerima amalnya, dan menjadikannya amal jariyah yang bermanfaat hingga akhir zaman.
Wa akhiru da'wana anil hamdulillahi Rabbil 'alamin.
Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS)
Dr. Ali Muhammad Muhammad ash-Sallabi

HUKUM MENUTUP JALAN UNTUK ACARA HAJATAN

HUKUM MENUTUP JALAN UNTUK ACARA HAJATAN

PERTANYAAN :

bagaimana hukumnya orang yang mengadakan hajatan atau acara apa saja, yang mana acara tersebut sampai menghambat atau menutup jalan umum.. Seperti pernikahan, tabligh akbar dan haul ?

JAWABAN :

 boleh menutup jalan untuk hajatan pribadi atau umum dengan syarat ada jaminan keselamatan dan sudah mendapat izin dari pihak-pihak yang berwenang. Silahkan baca hasil Bahtsul Masaail  berikut :

Deskripsi Masalah :
Banyak sekali dijumpai di warga kita bahwa dalam penyelenggaraan hajat-hajat tertentu seperti walimatul arsy dan lain sebagainya shohibul hajat menutup jalan raya secara mutlak (penuh) karena sempitnya halaman rumah yang dimiliki. Hal itu dilakukan tentunya setelah shohibul hajat terlebih dahulu izin kepada Dinas Pekerja Umum atau instansi terkait.

Pertanyaan :
Adakah pendapat ulama yang membolehkan menutup jalan sementara secara penuh untuk kepentingan umum atau hajat pribadi ? Bila tidak ada bagaiman solusinya ? (As’ilah dari MWC Jombang).

Jawaban :
Ada dengan syarat : Ada jaminan keselamatan dan Izin yang berwenang.
Referensi;
ุงู„ูู‚ู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ูˆุฃุฏู„ุชู‡ ู„ู„ุฒุญูŠู„ูŠ (6/ 4677)
ูˆَู„َู‡ُ ุฅِูŠْู‚َุงูُ ุงู„ุฏَّูˆَุงุจِ ุฃَูˆْ ุงู„ุณَّูŠَّุงุฑَุงุชِ ุฃَูˆْ ุฅِู†ْุดَุงุกِ ู…َุฑْูƒَุฒٍ ู„ِู„ْุจَูŠْุนِ ูˆَุงู„ุดِّุฑَุงุกِ. ูˆَู„َุง ูŠُุชَู‚َูŠَّุฏُ ุฅِู„َّุง ุจِุดَุฑْุทَูŠْู†ِ (1):ุงَู„ْุฃَูˆَّู„ُ: ุงู„ุณَّู„َุงู…َุฉُ، ูˆَุนَุฏَู…ُ ุงู„ْุฅِุถْุฑَุงุฑِ ุจِุงู„ْุขุฎَุฑِูŠْู†َ، ุฅِุฐْ ู„َุง ุถَุฑَุฑَ ูˆَู„َุง ุถِุฑَุงุฑَ (2).ุงู„ุซَّุงู†ِูŠْ: ุงَู„ْุฅِุฐْู†ُ ูِูŠْู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ْุญَุงูƒِู…ِ.

Terjemah :”Boleh seseorang memarkir kendaraan atau membuat stan di jalan dengan dua syarat:
1. Ada jaminan keselamatan
2. Mendapatkan ijin dari hakim (instansi yang berwenang).”

b. Pertanyaan gugur

Hasil Bahtsul Masail Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Jomabng
Di MWC NU Perak Jombang, Ahad, 19 Mei 2013 M / 09 Rajab 1434 H.

JAWABAN; 

Diperbolehkan menutup Jalan umum utk hajatan sperti pernikahan, namun harus memenuhi 2 persyaratan/prosedur:

1. Memastikan ada sisa jalan/jalur alternatif bagi pengguna jalan lain.
2. Izin pada pihak berwenang seperti RT/RW, kelurahan/desa/kepolisian.

ูˆَู„َู‡ُ ุฅِูŠْู‚َุงูُ ุงู„ุฏَّูˆَุงุจِ ุฃَูˆْ ุงู„ุณَّูŠَّุงุฑَุงุชِ ุฃَูˆْ ุฅِู†ْุดَุงุกِ ู…َุฑْูƒَุฒٍ ู„ِู„ْุจَูŠْุนِ ูˆَุงู„ุดِّุฑَุงุกِ. ูˆَู„َุง ูŠُุชَู‚َูŠَّุฏُ ุฅِู„َّุง ุจِุดَุฑْุทَูŠْู†ِ (ูก):ุงَู„ْุฃَูˆَّู„ُ: ุงู„ุณَّู„َุงู…َุฉُ، ูˆَุนَุฏَู…ُ ุงู„ْุฅِุถْุฑَุงุฑِ ุจِุงู„ْุขุฎَุฑِูŠْู†َ، ุฅِุฐْ ู„َุง ุถَุฑَุฑَ ูˆَู„َุง ุถِุฑَุงุฑَ (ูข).ุงู„ุซَّุงู†ِูŠْ: ุงَู„ْุฅِุฐْู†ُ ูِูŠْู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ْุญَุงูƒِู…ِ.

ุงู„ูู‚ู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ูˆุฃุฏู„ุชู‡ ู„ู„ุฒุญูŠู„ูŠ (ูคูฆูงูง/ูฆ)

1). HARAM Menurut Ahli Fikih 

ุฌุงุก ููŠ ูƒุชุงุจ ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ ุงู„ูƒูˆูŠุชูŠุฉ : 

ุฐَู‡َุจَ ุงู„ْูُู‚َู‡َุงุกُ ุฅِู„َู‰ ุญُุฑْู…َุฉِ ุงู„ุชَّุตَุฑُّูِ ูِูŠ ุงู„ุทَّุฑِูŠู‚ِ ุงู„ู†َّุงูِุฐَุฉِ ูˆَูŠُุนَุจَّุฑُ ุนَู†ْู‡ُ ุจِุงู„ุดَّุงุฑِุนِ ุจِู…َุง ูŠَุถُุฑُّ ุงู„ْู…َุงุฑَّุฉَ ูِูŠ ู…ُุฑُูˆุฑِู‡ِู…ْ، ู„ِุฃَู†َّ ุงู„ْุญَู‚َّ ู„ِุนَุงู…َّุฉِ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠู†َ، ูَู„َูŠْุณَ ู„ِุฃَุญَุฏٍ ุฃَู†ْ ูŠُุถَุงุฑَّู‡ُู…ْ ูِูŠ ุญَู‚ِّู‡ِู…ْ

Para ahli fikih berpendapat HARAM untuk berkegiatan di jalan terusan (yang disebut syari’ atau jalan raya) dengan kegiatan yang merugikan orang-orang yang melintas dalam perjalanan mereka, karena jalan itu hak umat Islam secara umum, maka seseorang tidak boleh mengambil hak mereka.

2). BOLEH Menurut Madzhab Imam Abu Hanifah Dan Imam Syafi'iy Walaupun Tanpa Izin Penguasa Setempat

Namun menurut hukum negara tetap harus ada perizinan.

ูˆุฌุงุก ููŠ ูƒุชุงุจ ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ ุงู„ูƒูˆูŠุชูŠุฉ : 

ูˆَูŠَุฌُูˆุฒُ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ْุญَู†َูِูŠَّุฉِ ูˆَุงู„ุดَّุงูِุนِูŠَّุฉِ ุงู„ْุฌُู„ُูˆุณُ ูِูŠ ุงู„ุทَّุฑِูŠู‚ِ ุงู„ู†َّุงูِุฐَุฉِ ู„ِู„ْู…ُุนَุงู…َู„َุฉِ ูƒَุงู„ْุจَูŠْุนِ ูˆَุงู„ุตِّู†َุงุนَุฉِ ูˆَู†َุญْูˆِ ุฐَู„ِูƒَ، ูˆَุฅِู†ْ ุทَุงู„ ุนَู‡ْุฏُู‡ُ ูˆَู„َู…ْ ูŠَุฃْุฐَู†ِ ุงู„ุฅِู…َุงู…ُ، ูƒَู…َุง ู„ุงَ ูŠَุญْุชَุงุฌُ ูِูŠ ุงู„ุฅِุญْูŠَุงุกِ ุฅِู„َู‰ ุฅِุฐْู†ِู‡ِ، ู„ุงِุชِّูَุงู‚ِ ุงู„ู†َّุงุณِ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูِูŠ ุฌَู…ِูŠุนِ ุงู„ْุฃَุนْุตَุงุฑِ

Boleh menurut mazhab Hanafi dan Syafii duduk di jalan umum untuk muamalah, seperti jual beli, membuat sesuatu, dan semacamnya meskipun berlangsung lama dan tidak diizinkan oleh penguasa, sebagaimana dalam menghidupkan tanah mati yang tidak butuh izin penguasa, karena orang-orang menyepakatinya di seluruh masa.

Sedangkan mazhab Maliki dan Hanbali membolehkan kegiatan muamalah dengan syarat tidak dilakukan dalam waktu yang lama. Jika kegiatan berlangsung lama, maka harus dihentikan atau pindah ke tempat lain.

Dalam kitab Hasyiyah Jamal ‘Ala Syarhi Minhaj disebutkan sebagai berikut: 

 ู†ุนู… ูŠุบุชูุฑ ุถุฑุฑ ูŠุญุชู…ู„ ุนุงุฏุฉ ูƒุนุฌู† ุทูŠู† ุฅุฐุง ุจู‚ูŠ ู…ู‚ุฏุงุฑ ุงู„ู…ุฑูˆุฑ ู„ู„ู†ุงุณ ูˆุฅู„ู‚ุงุก ุงู„ุญุฌุงุฑุฉ ููŠู‡ ู„ู„ุนู…ุงุฑุฉ ุฅุฐุง ุชุฑูƒุช ุจู‚ุฏุฑ ู…ุฏุฉ ู†ู‚ู„ู‡ุง ูˆุฑุจุท ุงู„ุฏูˆุงุจ ููŠู‡ ุจู‚ุฏุฑ ุญุงุฌุฉ ุงู„ู†ุฒูˆู„ ูˆุงู„ุฑูƒูˆุจ 

Namun, DIMAAFKAN beberapa kemudharatan yang dianggap lumrah oleh masyarakat, seperti penggalian tanah yang berdekatan dengan jalan umum atau meletakkan batu pembangunan, selama masih menyisakan sebagian jalan untuk dilalui orang lain. Begitu juga dengan memarkir kendaraan di pinggir jalan untuk sekedar menaikan dan menurunkan penumpang.

Wollohu a'lam