Rabu, 10 Juni 2026

E-Book Gratis"HAKEKAT MANHAJ SALAF"

E-Book Gratis
"HAKEKAT MANHAJ SALAF"

Pepatah lama mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Demikianlah, kadang seorang membenci sesuatu, padahal ia tidak mengenal apa yang ia benci itu. Bisa jadi bila ia mengenalnya, bukan benci namun cinta yang diberikan. Demikianlah yang terjadi pada dakwah salafiyah atau disebut juga salafi. Banyak orang bergunjing tentang salafi, padahal ia tidak mengenal bagaimana sebenarnya salafi atau dakwah salaf itu. Hasilnya, timbullah tuduhan dan anggapan-anggapan buruk yang keji. Bahkan sampai ada yang menuduh bahwa salafi adalah aliran sesat! Sungguh Allah-lah tempat memohon pertolongan.

Oleh karena itu, buku yang ringkas ini akan menjelaskan apa itu manhaj salaf dengan gamblang. Semoga Allah Ta'ala memberikan taufik kepada kita semua. Semoga Allah Ta'ala menunjukkan kita jalan yang lurus.

Download:
https://lynk.id/kangaswad/96w7ymr08llo 
https://lynk.id/kangaswad/96w7ymr08llo

GRATIS!

Fawaid Kangaswad | https://lynk.id/kangaswad

Harta yang sangat berharga maka jagalah ia. Jauhilah perkara-perkara yang membinasakan, perbanyaklah perkara-perkara yang menyelamatkan, penghapus dosa, dan pengangkat derajat.

‏كنز فاحرص عليه ، فاجتنب المهلكات ، وأكثر من المنجيات والكفارات والدرجات : 
قال النبي صلى الله عليه وسلم: " ثلاثٌ مُهلِكاتٌ، وثلاثٌ مُنجِياتٌ، وثلاثٌ كفَّارَاتٌ، وثلاثٌ دَرَجاتٌ. فأمّا المهلِكاتُ : فشُحٌّ مُطاعٌ، وهَوًى مُتَّبَعٌ، وإِعجابُ المرْءِ بنفْسِهِ. وأمّا المنْجياتُ : فالعدْلُ في الغضَبِ والرِّضا، والقصْدُ في الفقْرِ والغِنى، وخشيةُ اللهِ تعالَى في السِّرِّ والعلانيةِ. وأمّا الكفَّاراتُ : فانْتظارُ الصلاةِ بعدَ الصلاةِ، وإسْباغُ الوُضوءِ في السَّبَرَاتِ ، ونقلُ الأقدامِ إلى الجماعاتِ. و أمّا الدَّرجاتُ : فإطْعامُ الطعامِ، و إفْشاءُ السلامِ، و الصلاةُ بالليلِ و الناسُ نِيامٌ "

t.me/solyman2_4
Harta yang sangat berharga maka jagalah ia.
 Jauhilah perkara-perkara yang membinasakan,
 perbanyaklah perkara-perkara yang menyelamatkan, penghapus dosa, dan pengangkat derajat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ada tiga perkara yang membinasakan, tiga perkara yang menyelamatkan, tiga perkara yang menghapus dosa, dan tiga perkara yang mengangkat derajat.
Adapun perkara yang membinasakan adalah:
Kekikiran yang ditaati.
Hawa nafsu yang diikuti.
Seseorang yang kagum terhadap dirinya sendiri.
Adapun perkara yang menyelamatkan adalah:
Bersikap adil ketika marah maupun ridha.
Bersikap pertengahan (tidak berlebihan dan tidak kikir) ketika miskin maupun kaya.
Takut kepada Allah Ta‘ala dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan.
Adapun perkara yang menghapus dosa adalah:
Menunggu shalat setelah selesai menunaikan shalat.
Menyempurnakan wudhu pada saat cuaca dingin atau dalam keadaan yang berat.
Melangkahkan kaki menuju shalat berjamaah.
Adapun perkara yang mengangkat derajat adalah:
Memberi makan kepada orang lain.
Menyebarkan salam.
Shalat malam ketika manusia sedang tidur.”*

Syaikh Sulaiman Arruhaily hafidzahullahu ta'ala
Ust adi abdul jabar

Selasa, 09 Juni 2026

yang menghindar dari peperangan

Ojo grusa grusu.

Opsi itu ada 3, bukan hanya 2 sobat.

Ibnu Taimiyah menjelaskan persepsinya tentang peperangan yang terjadi antara Khalifah Ali bin Abi Tahlib radhiallahu 'anhu dan sahabat Mu'awiyah radhiallahu 'anhu:
"Sahabat Hudzaifah berkata, 'Tidak ada seorangpun dari manusia yang berhadapan dengan kejadian fitnah/huru hara kecuali aku mengawatirkan akan keselamatannya, kecuali Muhammad bin Muslamah, karena aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "huru hara /fitnah tidak dapat membahayakannya." 

Selanjutnya beliau menukilkan riwayat bahwa Tsa'labah bin Dubaiah berkata: Kami masuk menemui sahabat Hudzaifah, dia berkata: "Sesungguhnya aku mengenal seorang yang huru hara/fitnah tidak membahayakannya sama sekali." Lalu kami keluar dari tempat tinggal beliau dan kami menemukan tenda yang didirikan, lalu kami masuk dan di dalamnya ada sahabat Muhammad bin Muslamah. Kamipun bertanya kepadanya alasan beliau berada di tenda ini, dan beliau berkata: 
"Aku tidak ingin berada di negri manapun dari negri negri kalian hingga jelas hasil dari huru hara ini." 

Lalu Ibnu Taimiyah berkomentar: Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memberitahu bahwa Muhammad bin Muslamah tidak akan terpengaruh oleh huru hara/fitnah, dan  ternyata beliau termasuk yang menghindar dari peperangan, sehingga dia tidak turut serta berperang baik bersama Khalifah Ali maupun bersama pasukan Muawiyah.

Sekisap serupa juga dilakukan oleh sahabat Saad bin Abi Waqqas, Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar, Abu Bakrah, Imran bin Husain, dan sebagian besar generasi sahabat terdahulu. 

SIkepa mereka ini menunjukkan bahwa pada kejadian di atas tidak ada peperangan yang wajib atau yang dianjurkan atas umat islam.

Andai kala itu ada peperangan yang wajib atau sunnah untuk diikuti, niscaya sikap mereka meninggalkannya bukanlah suatu yang terpuji bagi, melainkan termasuk meninggalkan kewajiban atau amalan sunnah yang lebih utama dibandingkan dengan meninggalkannya. Ini menunjukkan bahwa peperang antara keduanya adalah perang fitnah, sebagaimana ditegaskan pada hadits shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: 
 ستكون فتنة القاعد فيها خير من القائم والقائم فيها خير من الماشي والماشي خير من الساعي والساعي خير من الموضع 
Akan terjadi huru hara/fitnah, orang yang memilih untuk duduk pada saat itu lebih baik dibanding urang yang tetap berdiri, dan yang memilih tetap berdiri lebih baik dibanding yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik dibanding yang berlari, dan yang berlari lebih baik dibanding yang memacu tunggangannya.

Dan hadits hadits shahih lainnya yang menjelaskan bahwa menghindari peperangan pada kondiisi semacan itu lebih utama dibanding terlibat pada kedua pasukan yang berperang.

Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama' ahli hadits dan as sunnah, dan ini adalah mazhab Imam Malik, As Tsauri, Ahmad dan lainnya. (Minhajussunnah 1/371)

Monggo direnungkan.
Ustadz Dr muhammad arifin badri Ma

Resep Dasar Darmogandhul(Darmogandhul : Jawanisasi atau Kristenisasi - 3).

Resep Dasar Darmogandhul
(Darmogandhul : Jawanisasi atau Kristenisasi - 3).

Integrasi yang kuat antara Islam dengan kebudayaan lokal menyebabkan Zending menghindari konfrontasi langsung dengan umat Islam.

Oleh karena itu, mereka memilih jalan memutar yang oleh mantan Zending Consul van Radjwick disebut sebagai “Strategi Memangkas Islam”, sebagaimana dicatat oleh Karel Steenbrink dalam buku Kawan Dalam Pertikaian, Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596 – 1942).
  
“Islam adalah musuh yang menakutkan, yang tidak harus diserang secara langsung, tetapi kekuatannya harus dikurangi melalui berbagai cara yang ada –dari mempromosikan kebiasaan rakyat kuno, adat dan agama rakyat, dialek daerah (yang berbeda dengan bahasa Melayu, yang dikaitkan dengan Islam) sampai modernisasi perawatan kesehatan pendidikan khususnya. Tujuan bersama dari seluruh bentuk kegiatan yang mewakili berbagai dunia misi adalah mengurangi kekuatan dan pengaruh Islam, terutama melalui sarana ekonomi, politik dan pendidikan. 

Salah satu wujud dari strategi ini adalah pendirian  Instituut voor het Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa) di Surakarta pada era Gubernur Jendral Van den Bosch. Selain sebagai gubernur, ia juga merupaka ketua di Nederland Bijbelgenootschap. Lembaga ini didirikan pada tanggal 27 Februari 1932. 

Selain untuk mempelajari bahasa dan seluk beluk Jawa, lembaga ini diharapkan berfungsi sebagai institusi pendamping penerjemahan Bible ke dalam Bahasa Jawa dan juga  merupakan tempat berkumpul para ahli-ahli Jawa berkebangsaan Belanda. 

Menurut Takashi Shiraisi dalam buku Zaman Bergerak, para javanolog Belanda ini lebih jauh menggali kesusastraan, bahasa dan sejarah Jawa kuno yang telah lama menghilang di kalangan orang Jawa. Para Javanolog Belanda mengembalikan tradisi Jawa kuno (Jawa pra Islam) dan menghubungkannya dengan Surakarta. 

Jadi Javanolog Belanda lah yang “menemukan”, “mengembalikan” dan “memberikan makna terhadap Jawa masa lalu. Jika orang Jawa ingin kembali ke masa lalunya, mereka harus melalui screening pemikiran Javanolog Belanda . 

Apa yang dilakukan oleh para Javanolog Belanda dalam mengolah sastra Jawa tersebut mirip dengan kisah pertemuan Flaubert dengan Kuchuk Hanum, pelacur Mesir yang dikisahkan oleh Erward Said, dalam magnum opusnya, Orientalisme.

Di bawah lembaga ini, Sastra Jawa sekedar menjadi boneka timur para Javanolog, dan semuanya dibuat tanpa ada kesepakatan bersama. Kuchuk Hanum, si pelacur, tidak pernah berbicara tentang dirinya, tidak pernah mengungkapkan perasaannya, kehadirannya, atau riwayat hidupnya kepada Flaubert. Akan tetapi, karena kondisi Kuchuk Hanum yang lemah dan miskin secara material tidak berdaya, maka Falubertlah yang justru berbicara atas nama dan mewakili dirinya.

Kerja keras para Javanolog Belanda melalui pintu masuk lembaga bahasa ini adalah salah satu penyumbang besar sikap mental sebagian orang Jawa yang memperhadapkan secara oposisional antara Islam dan Jawa. 

Kejiwaan muslim Jawa dibuat berada  pada posisi dilematis, apakah mau menjadi Jawa yang baik atau orang Islam yang baik. Keterbelahan spiritual ini persis dengan apa yang disampaikan Ceyler T Young dan dikutip oleh Muhammad Quthub dalam buku Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam.

“Di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat Islam kepada akidah-akidah sebelum Islam tapi cukuplah bagi kami membuat mereka terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama tersebut”
https://www.facebook.com/share/p/14f6UdvTWGM/
Arif wibowo

Al-Allamah Taqiuddin al-Hilali Rahimahullah


Al-Allamah Taqiuddin al-Hilali Rahimahullah
Sosok yang Membuat Para Ulama Bingung Harus Menempatkannya di Kategori Mana!
Syaikh Al-Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani memiliki rasa hormat dan pengagungan yang sangat besar terhadap Al-Allamah Muhammad Taqiuddin al-Hilali. Di antara bukti nyata dan pujian yang terekam mengenai kedudukan beliau di mata Syaikh al-Albani adalah:
 Salah Satu dari Empat Ulama yang Tiada Tandingannya:
   Ketika Syaikh al-Albani ditanya tentang orang paling berilmu yang pernah beliau temui seumur hidupnya, beliau menjawab:
   "Orang paling berilmu yang pernah aku lihat ada empat: Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syanqiti, Syaikh Taqiuddin al-Hilali, dan Syaikh Ubaidillah al-Mubarakfuri."
  
 Sifat Ilmu dan Ketelitian (Tahqiq):
   Syaikh al-Albani selalu menyematkan pujian kepada Al-Allamah al-Hilali sebagai "salah seorang yang tiada bandingannya dalam hal ilmu dan ketelitian (tahqiq). Pujian ini bahkan tertulis di bagian pengantar dari buku-buku dan karya kedua ulama tersebut.
 Dukungan dalam Masalah Penentuan Waktu (Miqat):
   Syaikh al-Albani pernah bertemu langsung dengannya dan sangat memujinya, khususnya atas perhatian besar Syaikh al-Hilali terhadap ketepatan waktu serta penelitiannya dalam menjelaskan kesalahan-kesalahan yang umum terjadi terkait waktu shalat. Syaikh al-Albani senantiasa memuji dan mendukung tulisan-tulisannya dalam bab ini.
Sebuah Keajaiban Zaman
Al-Allamah Muhammad Taqiuddin al-Hilali dikategorikan sebagai sosok yang ajaib karena kemampuannya yang luar biasa dalam memadukan kedalaman ilmu syariat dan bahasa—seperti tafsir, hadis, fikih, dan sastra—sekaligus menguasai berbagai bahasa internasional seperti Inggris, Jerman, Spanyol, dan Ibrani. Beliau juga sukses meraih gelar Doktor dari Universitas Berlin di Jerman.
Ditambah lagi dengan kegigihannya dalam melakukan perjalanan jauh (*rihlah*) demi menyebarkan ilmu dan mengajar di berbagai negara serta lembaga dunia, seperti di India, Irak, Arab Saudi, hingga di masjid-masjid besar termasuk Dua Masjid Suci (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi). Karena keluasan ilmunya yang langka dan ensiklopedis ini, beliau sampai dijuluki sebagai **"Sang Pengembara Salafi" (*Ar-Rahhalah As-Salafi*).
Ditulis oleh:
*Pengawas Umum Situs Resmi Imam al-Albani
Syaikh Muhammad Abdul Lathif
العلامه تقي الدين الهلالي رحمه الله 
 الذي احتار العلماء في أي خانه يضعونه !!

كان العلامة محمد ناصر الدين الألباني يكنّ إجلالاً وتوقيراً عظيماً للعلامة محمد تقي الدين الهلالي. ومن أبرز ما ثبت وقيل في ثنائه عليه ومكانته عنده:

أحد الأربعة الذين لم يرَ مثلهم: كان الشيخ الألباني عندما يُسأل عن أعلم من رأى في حياته، يقول: «أعلمُ من رأيتُ أربعة: الشيخ ابن باز، والشيخ محمد الأمين الشنقيطي، والشيخ تقي الدين الهلالي، والشيخ عبيد الرحمن المباركفوري».

 الوصف بالعلم والتحقيق: كان الشيخ الألباني يصف العلامة الهلالي دائماً بأنه «أحد من لم يرَ مثلهم في العلم والتحقيق»، وقد كُتب هذا الثناء في مستهل كتب ومؤلفات الشيخين. 

تأييده في مسائل الميقات: التقى به الشيخ الألباني ومدحه كثيراً، وبخاصة في حرصه الشديد على التوقيت وتحقيقه لبيان الأخطاء الشائعة في أوقات الصلوات، وكان الألباني يثني على كتاباته في هذا الباب ويؤيدها. 

صُنّف العلامة محمد تقي الدين الهلالي أعجوبة لجمعه بين التبحر في العلوم الشرعية واللغوية كالتفسير والحديث والفقه والآداب وإتقانه عدة لغات عالمية كالإنجليزية والألمانية والإسبانية والعبرية وحصوله على شهادة الدكتوراه من جامعة برلين بألمانيا مع كثرة ترحاله وتنقله لنشر العلم والتدريس في مختلف دول ومؤسسات العالم كالهند والعراق والسعودية ومساجد كبرى كالحرمين الشريفين حتى لُقّب بالرحالة السلفي لموسوعيته النادرة

بقلم المشرف العام 
على موقع الامام الالباني 
الشيخ محمد عبد اللطيف
https://www.facebook.com/share/1To8oUkZLa/


10 wasiat saat kondisi sulit

Di antara karakteristik madzhab Malik


Madzhab Maliki dan Sadd udz-Dzarai (Menutup Jalan Menuju Keharaman) 
Di antara karakteristik madzhab Malik adalah: Sadd udz-Dzarai
> Yaitu menolak atau menutup segala sarana/jalan yang dapat mengantarkan kepada perbuatan haram. Karena sarana menuju sesuatu yang haram adalah haram, dan sarana menuju sesuatu yang wajib adalah wajib.
 Sikap ketat (hati-hati) yang diterapkan oleh madzhab Maliki dalam bab-bab riba bukanlah bertujuan untuk mempersempit atau menyulitkan manusia sebagaimana yang dikira oleh sebagian orang. Sebaliknya, hal itu merupakan bentuk **kasih sayang (rahmat)** kepada mereka; karena para ulama mengkhawatirkan mereka dari kesengsaraan di akhirat. Maka, mereka bersikap hati-hati di dunia, dan kesempitan di dunia itu jauh lebih ringan daripada kesengsaraan di akhirat.

Profil di Gambar:
 Prof. Dr. Ahmed Taha Rayyan - rahimahullah
  Syaikhul Malikiyyah (Guru Besar Madzhab Maliki) di Masjid Al-Azhar Asy-Syarif
Dari proyek Pusat Tamayyuz (KhalilFiqh.com)