Senin, 13 Juli 2026

*Penuntut Ilmu dan Tazkiyah*

*Penuntut Ilmu dan Tazkiyah*

Sifat asli manusia adalah kedzaliman dan kejahilan. Kedzaliman dihilangkan dengan Tazkiyah nafsi (penyucian jiwa) sedangkan kejahilan dihilangkan dengan Ilmu. 

Oleh karenanya, Penuntut Ilmu harus membersihkan hatinya. Dahulu dikatakan: "Bila bertambah ilmumu namun tidak menambah baik ketaqwaan dan akhlak pada dirimu maka curigailah ilmumu".

Petikan Faedah Pembukaan Daurah Syeikh Masyhur bin Hasan Alu Salman di Batu,  Senin 13 Juli 2026 M
Ustadz yusuf abu ubaidah as sidawi 

Panduan Makmum Masbuk dalam Shalat Jenazah

Panduan Makmum Masbuk dalam Shalat Jenazah

Oleh : Ngaji Turats 

Permasalahan

Terkadang seseorang datang terlambat mengikuti shalat jenazah, misalnya karena ketika berwudhu dan tempat wudhu sedang ramai yang menyebabkan antri ataupun hal lainnya. Sehingga ia terlambat dan sholat sudah di mulai 

Pertanyaan : 

Bagaimana panduan fiqih bagi makmum yang terlambat mengikuti shalat jenazah? Apakah ia harus langsung mengikuti bacaan imam, atau tetap memulai dari takbir pertama? Lalu bagaimana apabila imam telah bertakbir lagi ketika ia belum mulai atau belum selesai membaca Al-Fatihah?

Jawaban : 

Makmum yang datang terlambat (masbuk) tetap memulai shalat sesuai urutannya sendiri. Setelah bertakbiratul ihram, ia membaca Surah Al-Fatihah, meskipun pada saat itu imam telah membaca shalawat kepada nabi atau sedang membaca doa. Sebab, makmum masbuk mengikuti urutan shalatnya sendiri.

Apabila imam bertakbir lagi sebelum makmum mulai membaca Al-Fatihah, maka ia langsung bertakbir mengikuti imam dan gugurlah bacaan Al-Fatihah.

Demikian pula, apabila imam bertakbir lagi ketika makmum sedang membaca Al-Fatihah, maka menurut pendapat yang menjadi pegangan dalam mazhab Syafi'i, ia meninggalkan sisa bacaan Al-Fatihah lalu mengikuti imam, demi menjaga kewajiban mengikuti imam.

Setelah imam mengucapkan salam, makmum masbuk menyempurnakan sisa shalatnya dengan melengkapi takbir-takbir beserta bacaan-bacaannya yang belum dikerjakan.

Adapun makmum yang mengikuti imam sejak awal (makmum muwafiq), ia tidak boleh tertinggal satu takbir dari imam tanpa uzur. Apabila imam telah bertakbir berikutnya sedangkan ia belum bertakbir, maka shalat jenazahnya batal.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Kifayatul Akhyar:

«المأموم الموافق إذا تخلف عن الإمام بلا عذر فلم يكبر حتى كبر الإمام أخرى بطلت صلاته، لأن التخلف بالتكبير كالتخلف بركعة في غير صلاة الجنازة، وأما المسبوق، فيكبر ويقرأ الفاتحة، وإن كان الإمام عند الصلاة على النبي ﷺ أو في الدعاء، بل يراعي نظم صلاة نفسه، فلو كبر الإمام أخرى قبل شروعه في الفاتحة، كبر معه، وسقطت القراءة، كما لو ركع الإمام في الصلاة، فإنه يركع معه، ولا يقرأ. وإن كبر الإمام والمسبوق في الفاتحة، ترك البقية وتابع على المذهب محافظة على المتابعة، فإذا سلم الإمام تدارك المأموم باقي الصلاة بتكبيراتها وأذكارها.»

Kesimpulan

- Makmum masbuk memulai shalat dari takbir pertama, kemudian membaca Al-Fatihah sesuai urutan shalatnya.

- Apabila imam bertakbir lagi sebelum Al-Fatihah selesai, bahkan sebelum sempat mulai membacanya, makmum langsung mengikuti takbir imam dan bacaan Al-Fatihah gugur.

- Setelah imam salam, makmum menyempurnakan sisa takbir dan bacaan yang belum dikerjakan.

- Makmum yang mengikuti imam sejak awal tidak boleh tertinggal satu takbir tanpa uzur. Apabila imam telah bertakbir berikutnya sedangkan ia belum bertakbir, maka shalatnya batal.

Wallohu a'lam.

📚 Kifayatul Akhyar
#Ngaji

Bolehkah shalat maghrib dulu Baru isya?Atau ashar dulu baru dzhuhur?

Bolehkah shalat maghrib dulu Baru isya?
Atau ashar dulu baru dzhuhur?

Mungkin kita akan mengatakan "dengan sepakat", tidak boleh.

Nah sekarang Ada dua kasus

Kasus pertama, ditanyakan kepada Syaikh bin Baz, 
Ada seorang laki-laki yang terlambat sehingga belum melaksanakan salat Magrib sampai masuk waktu salat Isya. Ketika ia datang ke masjid, ia melihat imam sedang mengimami salat Isya berjamaah dan imam telah berada pada rakaat kedua. Maka ia pun masuk berjamaah bersama mereka dengan melaksanakan salat Isya. Setelah imam selesai, ia berdiri lalu mengerjakan salat Magrib.

Jawaban beliau:
فالمشروع لك، وأمثالك إذا جئت والإمام في الصلاة -صلاة العشاء- وأنت لم تصل المغرب أن تدخل معهم بنية المغرب، ولا حرج في ذلك في أصح قولي العلماء.
Yang disyariatkan bagi Anda dan orang-orang yang mengalami keadaan serupa adalah apabila Anda datang sementara imam sedang mengerjakan salat Isya, sedangkan Anda belum melaksanakan salat Magrib, maka hendaknya Anda ikut berjamaah bersama mereka dengan niat salat Magrib. Hal ini tidak mengapa menurut pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama.

فإذا كان قد صلى واحدة نويت المغرب، وصليت معهم الثلاث، وتكفيك عن المغرب، وتسلم معهم، وإن كنت في أول الصلاة، جئتهم وهم في أول الصلاة، دخلت معهم، وإذا فرغت من الركعة الثالثة؛ جلست تنتظر الإمام حتى يسلم، ثم تسلم معه، وتكفيك عن المغرب، ثم تصلي العشاء بعد ذلك وحدك إن لم يتيسر جماعة أخرى، هذا هو المشروع لك ولأمثالك.
Apabila imam telah mengerjakan satu rakaat, maka Anda berniat salat Magrib dan ikut salat bersama mereka hingga tiga rakaat. Tiga rakaat tersebut sudah mencukupi sebagai salat Magrib Anda, kemudian Anda salam bersama imam.
Namun apabila Anda datang ketika imam baru memulai salat, maka ikutlah berjamaah bersama mereka. Setelah Anda menyelesaikan rakaat ketiga, Anda tetap duduk menunggu imam hingga imam mengucapkan salam. Setelah imam salam, Anda pun ikut salam bersamanya. Dengan demikian salat Magrib Anda telah sempurna. Setelah itu, Anda melaksanakan salat Isya sendirian apabila tidak mendapatkan jamaah lain. Inilah tata cara yang disyariatkan bagi Anda dan orang-orang yang mengalami keadaan serupa.

Kasus kedua:
dua orang melakukan safari menuju Riyadh. Pada waktu maghrib mereka menundanya, karena akan menjamak ta'khir ketika sampai di Riyadh. Sesampai mereka di Riyadh, mereka mendengar adzan Isya'. salah satu Dari mereka mengajak untuk shalat berjamaah bersama imam di masjid shalat isya'. Adapun shalat maghrib dikerjakan belakangan setelah shalat isya'. Maka kejadian ini ditanyakan kepada Syaikh bin Baz, apakah sudah benar atau belum.

Jawaban Syaikh Bin Baz rahimahullah rahmatan waasi'atan.
فالواجب أن يبدأ بالمغرب، ثم بعد ذلك يدخل معهم في صلاة العشاء، فقد أصبت وهو عليه القضاء، عليه أن يعيد العشاء؛ فإنه صلاها قبل المغرب، والله أوجب أن تصلى العشاء بعد المغرب، فعليه أن يعيد العشاء؛ لأنه صلاها في غير وقتها، وقتها بعد المغرب،
Wajib baginya shalat maghrib dulu, lalu ikut berjamaah bersama mereka (yg berjamaah di masjid) shalat Isya'. Engkau sudah benar, dan temanmu Wajib mengqadha'. Wajib baginya mengulang shalat Isya', karena ia shalat Isya' sebelumnya shalat Maghrib. Dan Allah mewajibkan shalat isya' dilakukan setelah shalat Maghrib. Maka wajib bagi temanmu mengulang shalat, karena ia melakukan shalat isya' sebelumnya waktunya, karena waktunya adalah setelah shalat Maghrib.

BATIK Travel - Umrah dan Haji Sesuai Sunnah
Ustadz kukuh abu yumna
https://www.facebook.com/share/p/1983qcN74M/

Asy'ariyah Mutaqaddimin dan Muta'akhirin

Asy'ariyah Mutaqaddimin dan Muta'akhirin

مَسائِلُ الصِّفاتِ مِن أَعظَمِ المَسائِلِ الَّتي خالَفَ فيها الأشاعِرةُ أهْلَ السُّنَّةِ والجَماعةِ، ومَنهَجُهم في هذا البابِ يَنْحَصِرُ إجْمالًا في إثْباتِ بعضِ الصِّفاتِ للهِ تَعالى إثْباتًا مُقارِبًا للسَّلَفِ مِن وَجْهٍ، ومُقارِبًا مِن وَجْهٍ آخَرَ للمُعْتَزِلةِ، وأمَّا في النَّفْيِ فقدْ سَلَكوا مَسلَكَ المُعْتَزِلةِ؛ حيث يُفَصِّلونَ في نَفْيِ صِفاتِ النَّقْصِ بأنَّه غَيْرُ جِسْمٍ ولا جَوْهَرٍ ولا مُتَحَيِّزٍ ولا مُرَكَّبٍ ولا قابِلٍ للتَّجْزئةِ، ونَحْوِ ذلك مِن الألْفاظِ المُحدَثةِ الَّتي لا يَجوزُ إطْلاقُها على اللهِ سُبْحانَه .

Permasalahan sifat Allah adalah salah satu masalah terbesar yang diselisihi oleh Asya'irah terhadap akidah Ahlussunnah wal Jama'ah. Manhaj Asya'irah dalam bab ini, secara global, dalam penetapan sifat mereka menetapkan hanya sebagian sifat Allah Ta'ala dengan metode penetapan yang dari satu sisi mendekati manhaj salafus shalih, namun dari sisi lain mendekati manhaj Mu'tazilah.

Adapun dalam penafian sifat, mereka murni menempuh manhaj Mu'tazilah. Yaitu mereka menafikan sifat-sifat Allah yang dianggap sifat yang kurang oleh mereka. Mereka mengatakan bahwa Allah bukanlah jism, bukanlah jauhar, bukan sesuatu yang menempati ruang (mutahayyiz), bukan sesuatu yang tersusun (murakkab), bukan pula sesuatu yang dapat dibagi-bagi (mutajazza'), dan istilah-istilah ilmu kalam lainnya yang semisal itu, yang sebenarnya tidak boleh digunakan untuk Allah Subḥanahu wa Ta'ala.

وأَثبَتَ مُتَقَدِّمو الأشاعِرةِ كَثيرًا مِن الصِّفاتِ الذَّاتيَّةِ والفِعْليَّةِ؛ كالاسْتِواءِ، والوَجْهِ، واليَدَينِ، والرَّحْمةِ، والسَّخَطِ، ونَحْوِ ذلك ، وإن كانَ بَعضُهم يُثبِتُها معَ تَفْويضِ مَعانيها كما تَقدَّمَ، وليس كما يُثبِتُها السَّلَفُ الصَّالِحُ على حَقيقتِها اللَّائِقةِ باللهِ سُبْحانَه، معَ تَفْويضِ كَيْفِيَّاتِها ، وأمَّا الأشاعِرةُ المُتَأخِّرونَ فالمُعْتمَدُ عنْدَهم إثْباتُ سَبْعِ صِفاتٍ سَمَّوها صِفاتِ المَعاني، وهي: العِلمُ، والقُدْرةُ، والإرادةُ، والحَياةُ، والكَلامُ، والسَّمْعُ، والبَصَرُ، وبعضُهم يُثبِتُ صِفةَ الإدْراكِ

Para ulama Asy'ariyah mutaqaddimun menetapkan banyak sifat dzatiyyah dan fi'liyyah, seperti sifat istiwa' di atas 'Arsy, wajah, dua tangan, rahmat, murka, dan sifat-sifat lainnya. Hanya saja, sebagian dari mereka menetapkannya dengan tafwidh ma'na, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Cara ini tidak sebagaimana manhaj salafus salih, yang menetapkan sifat-sifat tersebut sesuai hakikatnya yang layak bagi Allah Subḥanahu wa Ta'ala, disertai dengan tafwidh kaifiyah, bukan tafwidh ma'na.

Adapun Asy'ariyah muta'akhkhirun, maka pendapat yang menjadi pegangan mereka adalah menetapkan 7 sifat yang mereka sebut sebagai sifat al-ma'ani, yaitu:

1. ilmu,
2. qudrah (kekuasaan),
3. iradah (kehendak),
4. hayat (hidup),
5. kalam (berfirman),
6. sam'u (mendengar),
7. bashar (melihat).

Sebagian dari mereka juga menetapkan sifat idrak (mengetahui atau menyadari secara langsung).

(Mausu'ah al-Firaq Durarus Saniyyah, link: https://dorar.net/frq/233)

Musafir Mengimami Jamaah Mukim, Apakah Harus Qashar atau Shalat Sempurna?

Musafir Mengimami Jamaah Mukim, Apakah Harus Qashar atau Shalat Sempurna?

1. Musafir Shalat Sempurna (Itmam)

Musafir dapat memilih untuk shalat itmam, yaitu shalat sempurna empat rakaat, mengikuti jamaah mukim. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Utsman bin ‘Affan, meskipun Ibnu Mas’ud tidak setuju dengan praktik tersebut. Perlu diingat, qashar shalat adalah rukhsah yang bersifat opsional, bukan kewajiban.

Diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Yazid:

“Utsman pernah shalat bersama kami di Mina empat rakaat. Ketika hal ini disampaikan kepada Ibnu Mas’ud, ia mengucapkan istirja’ dan berkata, ’Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mina dua rakaat, bersama Abu Bakar dua rakaat, dan bersama Umar dua rakaat. Andai saja Utsman mengganti empat rakaat menjadi dua rakaat yang diterima.’” (HR. Bukhari no. 1084 dan Muslim no. 695).

Imam Nawawi menjelaskan bahwa meskipun Ibnu Mas’ud tidak setuju dengan pilihan Utsman, ia tetap membolehkan shalat itmam tanpa qashar. Jika qashar itu wajib, tentu Ibnu Mas’ud tidak akan mengikuti shalat tersebut di belakang Utsman. (Syarh Shahih Muslim, 5:182)

 

2. Musafir Mengqashar Shalat

Pilihan kedua, musafir tetap melaksanakan qashar dua rakaat, sementara makmum mukim menyempurnakan empat rakaat. Hal ini diperjelas dalam hadits dari Musa bin Salamah, yang bertanya kepada Ibnu Abbas:
“Mengapa ketika kami shalat di belakang kalian (mukim), kami shalat empat rakaat, tetapi saat kami kembali ke perjalanan, kami shalat dua rakaat?” Ibnu Abbas menjawab, “Itulah sunnah dari Abul Qasim (Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam).” (HR. Ahmad 1:216).

Hadits dari ‘Imran bin Hushain juga menyatakan hal serupa:

“Aku menyaksikan penaklukkan Makkah bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Kami tinggal di Makkah selama 18 malam, dan Nabi hanya shalat dua rakaat. Beliau bersabda,

يَا أَهْلَ الْبَلَدِ صَلُّوا أَرْبَعًا فَإِنَّا قَوْمٌ سَفْرٌ

Wahai penduduk Makkah, shalatlah kalian empat rakaat, karena kami adalah kaum musafir.’” (HR. Abu Daud, no. 1229 dan Tirmidzi, no. 545).

 

Kesimpulan

Seorang musafir yang menjadi imam dapat memilih untuk shalat sempurna atau mengqashar. Jika ia mengqashar, jamaah mukim tetap menyempurnakan shalat mereka setelah musafir mengucapkan salam. Seperti yang disebutkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, imam musafir sebaiknya memberi tahu jamaah sebelum shalat bahwa mereka harus melengkapi shalat setelah salam. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Ibnu Utsaimin, 15:153).

https://rumaysho.com/39179-musafir-mengimami-jamaah-mukim-apakah-harus-qashar-atau-shalat-sempurna.html

Jika seorang laki-laki menikah di suatu daerah... atau ia bepergian ke suatu daerah yang di sana terdapat istrinya... maka ia harus **menyempurnakan salatnya** (tetap 4 rakaat) dan **tidak boleh mengqasharnya**. Karena keberadaan istri itu dihukumi sama seperti tanah air (tempat tinggal sendiri)!


Asy-Syanqithi berkata dalam kitab *Adhwa' al-Bayan*:
> "Jika seorang laki-laki menikah di suatu daerah... atau ia bepergian ke suatu daerah yang di sana terdapat istrinya... maka ia harus **menyempurnakan salatnya** (tetap 4 rakaat) dan **tidak boleh mengqasharnya**. Karena keberadaan istri itu dihukumi sama seperti tanah air (tempat tinggal sendiri)!" ♡
Dan ini adalah mazhab Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad!
Ustadz dani nh

Salah Satu Faidah Dari Pembukaan Dauroh Syar'iyyah Ke 25 Di Kota Batu Jawa Timur

Salah Satu Faidah Dari Pembukaan Dauroh Syar'iyyah Ke 25 Di Kota Batu Jawa Timur

Di pembukaan Dauroh kali ini, Syeikhuna Al-'Allamah Masyhur Hasan Alu Salman Menyampaikan riwayat ini, 

Nabi shallallahu alaihi wassalam pernah bersabda: 

أنا دعوة أبي إبراهيم

"Aku adalah buah dari doa kakekku Ibrahim"
(HR. Ahmad dan Al-Hakim dan dishahihkan sama Syeikh Al-Albani) 

Do’a Nabi Ibrahim ‘alaihis salam’ yang dimaksud adalah do’a Beliau yang termaktub dalam al-Qur’an:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Baqarah: 129)

Faidah Dari Dauroh Syar'iyyah Ke 25 di Kota Batu, Jawa Timur.
Ustadz Tauhiddin ali rusdi sahal