Jumat, 14 Agustus 2026

thiyarah

الشيخ: #عبدالله_الغنيمان حفظه الله
 ما هو حد الطيرة؟

جواب الشيخ  :

ثم قال: "ولا تَرُدُّ مُسْلِمًا".  
وهذا يؤخذ منه حد الطِّيَرَة.  
أن من رَدَّته الطِّيَرَة فقد تَطَيَّر، ووقع في الشِّرك.  

ومن وقع في نفسه شيء ثم صَدَّه ورَدَّه وأعرض عنه فلا يَضُرُّه.  
لهذا قال: "ولا تَرُدُّوا مُسْلِمًا".  
فمفهوم هذا أن من رَدَّته الطِّيَرَة أنه ليس بمسلم.  

قال: "فإذا رأى أحدكم ما يكره فليقل: اللهم لا يأتي بالحسنات إلا أنت، ولا يدفع السيئات إلا أنت، ولا حول ولا قوة إلا بالله".  
يعني التَّفويض إلى الله جل وعلا في هذا.  
وكذلك التَّوكل عليه، والاعتراف بأنه هو المُتَصَرِّف، الكون كله.  
وأنه لا يقع لا حركة ولا سكون، ولا ضُر ولا نفع، إلا بإرادته وإذنه وخَلْقه.  
وأن التَّصرف والحول والقوة ما يكون إلا بالله.  
ما تتحول من حال إلى أخرى إلا إذا أراد الله جل وعلا.  
الاعتماد على الله جل وعلا، ولا حول ولا قوة إلا به......

#العلامة_عبدالله_الغنيمان  
#شرح_كتاب_التوحيد  
#التوكل_على_الله #لا_طيرة_في_الإسلام  
#التفويض_لله  #التوحيد_والعقيدة #درر_العلماء  
#فقه_القلوب  #لا_حول_ولا_قوة_إلا_بالله  #انشر_تؤجر:
Syaikh: #Abdullah_Al_Ghunaiman hafidzahullah (semoga Allah memeliharanya)
Apa batasan dari thiyarah (anggapan sial/firasat buruk)?
Jawaban Syaikh:
Kemudian beliau bersabda: "Dan janganlah hal itu (thiyarah) memalingkan seorang muslim."
Dari sini dapat diambil batasan dari thiyarah:
Bahwa barangsiapa yang dipalingkan (dibatalkan niat/langkahnya) oleh thiyarah, maka ia sungguh telah melakukan thiyarah dan jatuh ke dalam kesyirikan.
Adapun orang yang terbersit sesuatu dalam hatinya, lalu ia menepisnya, menolaknya, dan berpaling darinya, maka hal itu tidak membahayakannya.
Oleh karena itu, beliau bersabda: "Dan janganlah hal itu memalingkan seorang muslim."
Maka pemahaman tersirat (mAFhum) dari ini adalah bahwa barangsiapa yang dipalingkan oleh thiyarah, berarti ia tidak bertindak sebagaimana mestinya seorang muslim.
Beliau bersabda: "Maka apabila salah seorang dari kalian melihat apa yang tidak disukainya, hendaklah ia berdoa: 'Ya Allah, tidak ada yang membawa kebaikan selain Engkau, tidak ada yang menolak keburukan selain Engkau, dan tidak ada daya maupun kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah'."
Artinya, bertawakal total (tafwidh) kepada Allah Jalla wa 'Ala dalam hal ini.
Demikian pula berserah diri kepada-Nya, serta mengakui bahwa Dialah Pengatur seluruh alam semesta.
Bahwa tidak ada gerakan, ketenangan, bahaya, maupun manfaat yang terjadi kecuali atas kehendak, izin, dan ciptaan-Nya.
Bahwa segala kekuasaan, daya, dan kekuatan tidak ada kecuali dari Allah.
Engkau tidak akan berpindah dari satu kondisi ke kondisi lain kecuali jika Allah Jalla wa 'Ala menghendakinya.
Bersandar sepenuhnya kepada Allah Jalla wa 'Ala, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya...
#Al_Allamah_Abdullah_Al_Ghunaiman
#Syarah_Kitab_At_Tauhid
#Tawakal_Kepada_Allah #Tidak_Ada_Thiyarah_Dalam_Islam
#Berserah_Diri_Kepada_Allah #Tauhid_Dan_Aqidah #Mutiara_Para_Ulama
#Fikih_Hati #Laa_Haula_Wa_Laa_Quwwata_Illa_Billah #Sebarkan_Dapat_Pahala

Riya


Riya (pamer) yang baru muncul setelah beramal tidak mempengaruhi amalan tersebut, kecuali jika seseorang menjadi kagum pada dirinya sendiri (ujub). Sebab, rasa kagum terhadap amal sendiri dapat membatalkannya; orang yang kagum pada amalnya seolah-olah merasa memiliki keutamaan atas Allah. Hal inilah yang membatalkan amal, karena jika mengungkit-ungkit sedekah kepada sesama manusia saja dapat membatalkan sedekah, maka mengungkit-ungkitnya di hadapan Allah tentu jauh lebih membatalkan.

📖 (Syarah Bulughul Maram, Jilid 14, hlm. 39)
#Ibnu_Utsaimin
#Hari_Jumat
#Rabiul_Awal
https://www.facebook.com/share/p/1Bh1spk94H/

Bagaimana hukum mengambil makanan sisa di restoran dan sejenisnya?

Bagaimana hukum mengambil makanan sisa di restoran dan sejenisnya? 

Pertanyaan:
Bagaimana hukum mengambil makanan di restoran, kafe, atau tempat sejenisnya yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya?

Misalnya seseorang makan di restoran, tetapi makanannya tidak dihabiskan. Setelah selesai makan, ia pulang dan meninggalkan sisa makanan tersebut di meja. Biasanya, makanan yang tersisa itu akan dibuang oleh pelayan restoran.

Apakah orang lain boleh mengambilnya daripada makanan tersebut terbuang dan menjadi mubazir?

Jawaban: 
Boleh, apabila secara kebiasaan dan terdapat tanda-tanda yang ada menunjukkan bahwa pemilik makanan tersebut memang telah meninggalkannya dan tidak lagi menghendakinya.

Sebab, yang menjadi pertimbangan bukan semata-mata karena makanan itu akan dibuang, tetapi karena terdapat qarinah (indikasi) dan ‘urf (kebiasaan) yang menunjukkan bahwa pemiliknya telah melepaskan makanan tersebut.

📚Referensi: 

At-Tasyri‘ al-Jina’i al-Islami Abdul Qodir A'udah, jilid 2, hal: 604
اْلأُشْيَاءُ الْمَتْرُوْكَةُ هِىَ اْلأَشْيَاءُ الَّتِىْ كَانَتْ مَمْلُوْكَةً لِلْغَيْرِ ثُمَّ تَخَلَّى عَنْهَا مَالِكُهَا كَالْمَلاَبِسِ الْمُسْتَهْلَكَةِ وَبَقَايَا الطَّعَامِ وَكَنَاسَةِ الْمَنَازِلِ وَحُكْمُ اْلأَشْيَاءِ الْمَتْرُوْكَةِ هُوَ حُكْمُ اْلأَشْيَاءِ الْمُبَاحَةِ ِلأَنَّ اْلأَشْيَاءَ الْمَتْرُوْكَةَ تُصْبِحُ بِتَرْكِهَا لاَ مَالِكَ لَهَا....

Kemudian di di perkuat oleh Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah Ibn Hajar, hal: 249, juz 4 - Maktabah Syamilah 
(وَسُئِلَ) نَفَعَنَا اللَّهُ تَعَالَى بِعُلُومِهِ عَمَّا لَوْ لَقِيَ شَيْئًا مَطْرُوحًا وَشَكَّ أَهُوَ مُعْرَضٌ عَنْهُ فَيَأْخُذَهُ أَمْ لَا فَيَتْرُكَهُ هَلْ يَحِلُّ لَهُ الْأَخْذُ أَمْ لَا؟

(فَأَجَابَ) رَحِمَهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِأَنَّ الَّذِي يُتَّجَهُ فِي ذَلِكَ أَنَّهُ يُرَاعَى فِي ذَلِكَ الْقَرَائِنُ الدَّالَّةُ فِي الْعَادَةِ عَلَى أَنَّ مِثْل ذَلِكَ الشَّيْءِ الْمَطْرُوحِ مِمَّا يُعْرَضُ عَنْهُ، أَوْ لَا فَإِنْ اقْتَضَتْ أَنَّهُ مِمَّا يُعْرَضُ عَنْهُ جَازَ أَخْذُهُ وَالتَّصَرُّفُ فِيهِ كَمَا يُصَرِّحُ بِهِ قَوْلُ الرَّوْضَةِ وَالْأَرْجَحُ أَنَّهُ يَمْلِك الْكِسْرَةَ وَالسَّنَابِلَ وَنَحْوَهَا وَيَصِحُّ تَصَرُّفُهُ فِيهَا بِالْبَيْعِ وَنَحْوِهِ

Wallohu a'lam semoga bermanfaat 
Oleh: Irwan Saleh

Keistimewaan Syaikh Taqiyuddin bin Taimiyyah Dibanding Syaikh Taqiyuddin As-Subki dalam pandangan Sayyid Ahmad bin Ash-Shiddiq Al-Ghumari

Keistimewaan Syaikh Taqiyuddin bin Taimiyyah Dibanding Syaikh Taqiyuddin As-Subki dalam pandangan Sayyid Ahmad bin Ash-Shiddiq Al-Ghumari

Oleh : Ustadz Hafidin Achmad Luthfie

وما ردَّ به التقيُّ السُّبكيُّ على ابن تيميـة في هذه المسألة لم أستفد منه شيئًا ما، لمّا قرأتُه منذ عشرين سنة إلاّ معرفةَ أنّ التقيَّ السُّبكيَّ -فضلاً عن ابنه التاج- خلافُ ما كنّا نَظنُ به، وخلافُ ما يهوِّل به ابنُه عنه، فإنّي كتبتُ في تلك الساعة بآخر الرد كتابةً، مَضْمونُها: إن بين السُّبكيِّ وابن تيمية بَونًا كبيرًا في العلم وقوة الاستدلال وأن الثاني أعلمُ بمراحل".

"Dan tidaklah saya mendapat faedah sedikit pun dari bantahan At-Taqi As-Subki pada Ibnu Taimiyyah dalam masalah ini. Ketika saya membaca bantahannya dua puluh tahun silam saya jadi tahu bahwa As-Subki--dan apalagi Tajuddin anaknya, jauh beda dari apa yang selama ini kita yakini dan tak sama dengan kabar yang dibesar-besarkan anaknya tentang kehebatannnya. Kala itu saya langsung menulis di akhir buku bantahannya As-Subki yang intinya: "Sesungguhnya antara As-Subki dan Ibnu Taimiyyah ada gap yang besar dalam ilmu dan kuatnya pendalilan (istidlal). Dan bahwa Ibnu Taimiyyah lebih tinggi ilmunya beberapa tingkat (dari As-Subki)."

-------Selesai kutipan dari Darr Al-Ghumam Ar-Roqiq.

Ibnu Daqiq Al-Ied adalah satu dari segelintir orang paling alim pada zaman itu. Setelah bertemu Ibnu Taimiyyah dan berdiskusi dengannya langsung dibuat kagum dan mengakui ilmunya. 

Ibnu Sayyid An-Nas adalah satu dari sedikit orang paling hebat dalam hadits. Setelah bertemu dan diskusi dengan Ibnu Taimiyyah pun langsung mengakui keutamaan dan keilmuan Ibnu Taimiyyah.

Syaikh Kamaluddin bin Az-Zamalkani --hakim agung madzhab Syafi'iyyah di Syam, mengakui imamahnya Ibnu Taimiyyah. Ibnu Katsir menukil dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah tentang ucapan Syaikh Ibnu Az-Zamalkani pada Ibnu Taimiyyah saat umurnya masih 30 tahun :

إنه اجتمعت فيه شروط الاجتهاد على وجهها، وأن له اليد الطولى في حسن التصنيف، وجودة العبارة، والترتيب والتقسيم والتبيين

"Sesungguhnya pada diri Ibnu Taimiyyah terpenuhi syarat-syarat ijtihad secara sempurna. Ia punya kemampuan hebat dalam menulis karangan yang bermutu, dengan bahasa yang bagus, serta susunan, pembagian dan penjelasan apik."

Az-Zamalkani ketika membaca salah satu bukunya Ibnu Taimiyyah lalu menuliskan syair padanya :

ماذا يقول الواصفون له ... وصفاته جلت عن الحصر

هو حجة لله قاهرة ... هو بيننا أعجوبة الدهر

هو آية في الخلق ظاهرة ... أنوارها أربت على الفجر

"Apakah yang akan dikatakan orang-orang buat mendeskripsikan Ibnu Taimiyyah?
Karena sifat-sifat istimewanya tak terhitung jumlahnya.

Ibnu Taimiyyah adalah hujjah Allah yang sangat kokoh... Dia menjadi keajaiban zaman di tengah kami.

Dia menjadi tanda kebesaran Allah yang nyata diantara manusia... Dan cahaya-cahaya ilmunya lebih terang dari fajar."

Ibnu Taimiyyah pernah dikeroyok ramai-ramai dalam sebuah majelis yang dihadiri para qadhi dan ulama. Mereka bermaksud menyidang dan menghakiminya. Mereka mempermasalahkan taqrirnya mengenai sifat dalam Kitab Al-Wasithiyyah. Mereka hendak mendebatnya dan kalau berhasil mengalahkan hujjahnya maka mudah buat mereka memvonisnya sesat. Namun, semuanya gagal total. Ibnu Taimiyyah justru menjadi bintang di majelis itu. Para qadhi dan ulama justru kewalahan dalam berdebat dengannya.

Dan, diantara yang hadir adalah Syaikh Shafiyyuddin Al-Hindi, yang dikenal sebagai mutakallim besar dalam madzhab asy'ariyyah. Ibnu Katsir menceritakan :

وحضر الشيخ صفي الدين الهندي ، وتكلم مع الشيخ تقي الدين كلاما كثيرا ، ولكن ساقيته لاطمت بحرا

"Turut hadir dalam majelis itu Syaikh Shafiyyuddin Al-Hindi. Ia berdebat lama dengan Ibnu Taimiyyah. Namun, serangan jurus-jurus ilmu kalamnya justru tenggelam dalam lautan ilmunya Ibnu Taimiyyah."

Ada lebih dari seratus ulama memuji dan menyanjung Ibnu Taimiyyah. Bukan hanya dari Hanabilah saja. Namun, berasal dari madzhab di luar Hanabilah, terutama para imam-imam Syafi'iyyah yang besar dan terkenal. Anda bisa baca hal tersebut dalam kitab Ar-Radd Al-Wafir. 

Maka, jangan heran kalau Ibnu Taimiyyah begitu dikagumi dan dicintai. Mereka berasal dari berbagai madzhab. Namun, sayangnya para pecinta Ibnu Taimiyyah tersebut mendapat perlakuan yang melanggar HAM dan menyalahi kemuliaan syakhshiyyah Islamiyyah dari pembencinya. Seperti kasus yang menimpa Ibnu Abil 'Izz Al-Hanafi. Istrinya difasakh secara zhalim darinya. Kemudian istrinya dikawini oleh orang yang melakukan fasakh yang dipaksakan tersebut. 

Kembali pada ucapan Sayyid Ahmad bin As-Shiddiq Al-Ghumari.

Sebenarnya pengakuan Sayyid Ahmad Al-Ghumari bukan hal yang menggagetkan. Jauh sebelum itu, Ibnu 'Abdul Hadi Al-Hanbali sudah menyingkap lemahnya kemampuan As-Subki dalam hadits. Silakan telaah kitabnya Ash-Sharim Al-Munki.

Memang siapa sih Ibnu 'Abdul Hadi tersebut? Pemuda itu juga salah satu keajaiban zaman dalam bidang ilmu hadits. 

Btw, Sayyid Ahmad Al-Ghumari adalah seorang asy'ari dan sufi.

kitab terbaik madzhab era muta'akhkhirin

Allaahumma baarik... 
Penyejuk mata saat balik ke kampus esok

Bertambah lagi turats Hanabilah dengan rilisnya hasyiyah salah satu kitab terbaik madzhab era muta'akhkhirin. Muhasysyi nya adalah seorang alim Hanabilah mu'ashirin, Syaikh Ahmad bin Nashir al-Qu'aimi hafizhahullah. 

Beliau menyebutkan di dalam "Madarij Tafaqquh al-Hanbali" bahwa ar-Raudh merupakan syarah terbaik Zad secara mutlak. Dan Zad merupakan matan muskhtashar madzhab yang paling besar dan banyak fawaidnya. Selain itu Imam al-Buhuti rahimahullah merupakan orang yang paling banyak mensyarah kitab-kitab madzhab. 

Harganya sekitaran 295 SAR
ustadz muhammad taufiq

Tiga Kelezatan

*Tiga Kelezatan*

Muhammad bin Munkadir berkata:

"Tidaklah tersisa dari kelezatan dunia kecuali tiga: Shalat malam, bertemu teman dan shalat berjamaah".

(Mausu'ah Ibnu Abi Dunya 1/277) 

قال محمد بن المنكدر رحمه الله: 

ما بقي من لذات الدنيا إلا ثلاث: قيام الليل، ولقاء الإخوان، والصلاة في جماعة.

موسوعة ابن أبي الدنيا ٢٧٧/١
Ustadz yusuf abu ubaidah as sidawi

standart paling mudah mengalirkan darah dengan menyebut nama Allah