Selasa, 27 Oktober 2026

Adapun mengingkari kemungkaran tanpa menyebutkan pelakunya, seperti mengingkari zina, khamar, dan riba tanpa menyebutkan siapa yang melakukannya, maka hal tersebut adalah wajib berdasarkan keumuman dalil-dalil syariat.

Ketika seorang ustadz salafi menjelaskan kemungkaran kemaksiatan secara umum, seperti; zina, tidak amanah, minum khamr, menggunduli hutan, korupsi, suap menyuap dan contoh2 yg lain, tanpa menyebut nama pelaku dan siapa pelakunya, dan tanpa memprovokasi siapapun. Sebatas menjelaskan hukum sebagai bentuk peringatan kepada kaum muslimin.

Lalu ada orang ” mengomentari ustadz tersebut dengan memberi gelar: “merah jambu”

Itu orang ngajinya dmn sih?
Dia yg salah paham?
Atau ustadznya yg memang ngajari gitu?

Syaikh Ibn Baz rahimahullah menjelaskan:

أَمَّا إِنْكَارُ الْمُنْكَرِ بِدُونِ ذِكْرِ الْفَاعِلِ: فَيُنْكَرُ الزِّنَا، وَيُنْكَرُ الْخَمْرُ، وَيُنْكَرُ الرِّبَا مِنْ دُونِ ذِكْرِ مَنْ فَعَلَهُ، فَذَلِكَ وَاجِبٌ؛ لِعُمُومِ الْأَدِلَّةِ. وَيَكْفِي إِنْكَارُ الْمَعَاصِي وَالتَّحْذِيرُ مِنْهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يُذْكَرَ مَنْ فَعَلَهَا، لَا حَاكِمًا وَلَا غَيْرَ حَاكِمٍ.

“Adapun mengingkari kemungkaran tanpa menyebutkan pelakunya, seperti mengingkari zina, khamar, dan riba tanpa menyebutkan siapa yang melakukannya, maka hal tersebut adalah wajib berdasarkan keumuman dalil-dalil syariat. Dan cukuplah mengingkari berbagai kemaksiatan serta memperingatkan manusia darinya tanpa harus menyebutkan siapa pelakunya, baik pelakunya seorang PENGUASA maupun BUKAN PENGUASA”

Sumber:
مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز (8/ 210).

Senin, 26 Oktober 2026

salah satu penyebab kebingungan sebagian penuntut ilmu Salafi pemula ketika menemukan perbedaan pendapat di antara para ulama adalah anggapan mereka bahwa termasuk konsekuensi dari manhaj Salafi adalah keseragaman perkataan para ulama dalam setiap permasalahan, padahal anggapan ini tidak benar.

معرف درر جزاه الله خيرا 

#خطر_في_بالي ...

أن سبب من اسباب ارتباك بعض السلفيين المبتدئين إذا ما وجد خلافا بين العلماء أنه يظن أن من لازم المنهج السلفي أن يتطابق القول بين العلماء في كل مسألة ، وهذا غير صحيح.

بل المنهج السلفي يلتزم فيه بسبيل المؤمنين ومتابعة الرسول صلى الله عليه وسلم، وقد يقع الاختلاف في الفهم والاجتهاد في مسائل من مسائل العلم بين العلماء، وهذا أمر طبيعي.
فإن قيل: أليس كل عالم سلفي يستدل بالقرآن والسنة وما جاء عن السلف؟

فالجواب :

نعم هو كذلك، ولايلزم من ذلك ألا يقع اختلاف في المسائل الاجتهادية التي ليس فيها الدليل الذي يلزم المصير إليه. ألا ترى إلى كتب السنة فيها مسائل اختلف فيها السلف ؟!

أليس في القرآن والسنة ما يدخله الاجتهاد والنظر؟!

فليس معنى الانتساب إلى السلفية أن لا يقع خلاف بين كلام العلماء في مسائل الاجتهاد.

وليس معنى السلفية أن لا يخطيء عالم ويصيب آخر.

وليس معنى السلفية أن تلزم باجتهاد عالم ما.، فإنه لا يجوز أن يقال يجب التزام قول عالم ما من علماء السلف في المسائل الاجتهادية، بل الواجب هو متابعة الرسول صلى الله عليه وسلم.

وبعض الناس إذا سأل العالم عن مسألة ثم وجد كلامه مخالفا لكلام عالم آخر بادر إلى إيراد كلام العالم الآخر، وسبب ذلك أنه لا يتصور أن يختلف العلماء السلفيين

وهذا خطأ بل يختلفون في مسائل الاجتهاد، التي ليس فيها دليل ملزم، وقد يتفقون.

المهم أنه ليس من اللازم أن يوافق كلام العالم في المسألة الاجتهادية كلام عالم آخر.
والله الموفق

كتبه محمد بازمول
https://www.facebook.com/share/p/1EFZhi9r8T/
Penerbit: Darar, semoga Allah membalas kebaikannya
#Terlintas_di_Pikiranku...
Bahwa salah satu penyebab kebingungan sebagian penuntut ilmu Salafi pemula ketika menemukan perbedaan pendapat di antara para ulama adalah anggapan mereka bahwa termasuk konsekuensi dari manhaj Salafi adalah keseragaman perkataan para ulama dalam setiap permasalahan, padahal anggapan ini tidak benar.
Justru manhaj Salafi itu berkomitmen untuk mengikuti jalan orang-orang beriman dan meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Perbedaan dalam pemahaman dan ijtihad terkadang memang bisa terjadi pada sebagian masalah ilmiah di antara para ulama, dan ini adalah hal yang lumrah/alami.
Jika dikatakan: "Bukankah setiap ulama Salafi berdalil dengan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan atsar dari para salaf?"
Maka jawabannya:
Ya, benar demikian. Namun, hal itu tidak mengharuskan untuk tidak terjadinya perbedaan pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak memiliki dalil qath'i (pasti) yang mewajibkan untuk harus mengikutinya. Tidakkah engkau melihat bahwa di dalam kitab-kitab sunnah terdapat masalah-masalah yang diperselisihkan oleh para salaf?!
Bukankah di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah terdapat hal-hal yang memerlukan ijtihad dan penelaahan?!
Oleh karena itu, makna bernisbat kepada Salafiyah bukanlah berarti tidak adanya perbedaan pendapat di antara perkataan para ulama dalam masalah-masalah ijtihad.
Makna Salafiyah juga bukan berarti seorang ulama tidak pernah salah dan ulama lainnya selalu benar.
Dan makna Salafiyah bukanlah berarti Anda harus terikat dengan ijtihad seorang ulama tertentu saja. Sesungguhnya, tidak boleh dikatakan bahwa wajib hukumnya untuk selalu terikat dengan perkataan seorang ulama tertentu dari kalangan ulama Salaf dalam masalah-masalah ijtihad, melainkan kewajiban yang utama adalah mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Sebagian orang, jika bertanya kepada seorang ulama tentang suatu permasalahan lalu mendapati perkataannya berbeda dengan perkataan ulama lain, ia langsung menyodorkan perkataan ulama yang lain tersebut. Penyebabnya adalah karena ia tidak dapat membayangkan jika para ulama Salaf bisa berbeda pendapat.
Ini adalah sebuah kesalahan. Justru mereka memang berbeda pendapat dalam masalah-masalah ijtihad yang tidak memiliki dalil yang mengikat, dan terkadang pula mereka sepakat.
Yang terpenting adalah, tidaklah menjadi keharusan bagi perkataan seorang ulama dalam masalah ijtihadiyah untuk selalu sejalan dengan perkataan ulama lainnya.
Wallaahu al-muwaffiq (Dan Allah lah yang memberi taufik).
Ditulis oleh: Muhammad Bazmul

akidah imam baghowi

BENARKAH “BILĀ KAYF” BERARTI ALLAH TIDAK MEMILIKI KAIFIYAH?

📚 BENARKAH “BILĀ KAYF” BERARTI ALLAH TIDAK MEMILIKI KAIFIYAH?

Sebuah penjelasan menarik dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (w. 728 H) tentang ungkapan para ulama salaf:

أمروها كما جاءت بلا كيف

"Terimalah sebagaimana datangnya, tanpa mempertanyakan bagaimana kaifiyahnya."

Sebagian orang memahami ungkapan bilā kayf sebagai penafian keberadaan kaifiyah itu sendiri. Namun, bagaimana sebenarnya penjelasan Ibnu Taimiyah?

1. Imam Malik mengatakan kaifiyah tidak diketahui, bukan tidak ada.

Ibnu Taimiyah menegaskan:

ولم يقل مالك الكيف معدوم وإنما قال الكيف مجهول

"Imam Malik tidak mengatakan bahwa kaifiyah itu tidak ada, tetapi beliau mengatakan bahwa kaifiyah itu tidak diketahui."

📖 Al-Iklīl fī al-Mutasyābih wa al-Ta’wīl, hlm. 48.

https://shamela.ws/book/9220/44

2. Bilā kayf menafikan pengetahuan tentang kaifiyah, bukan hakikat sifat.

Dalam Al-Fatwā al-Ḥamawiyyah, Ibnu Taimiyah menjelaskan:

فإنما نفوا علم الكيفية، ولم ينفوا حقيقة الصفة

"Sesungguhnya mereka hanya menafikan pengetahuan tentang kaifiyah, bukan menafikan hakikat sifat."

📖 Al-Fatwā al-Ḥamawiyyah al-Kubrā, hlm. 306.

https://shamela.ws/book/18381/131

3. Mengetahui makna tidak sama dengan mengetahui kaifiyah.

Ibnu Taimiyah mengatakan:

فلم ينف إلا العلم بكيفية الاستواء لا العلم بنفس الاستواء

"Maka beliau tidak menafikan kecuali pengetahuan tentang kaifiyah istiwa, bukan pengetahuan tentang istiwa itu sendiri."

📖 Majmū‘ al-Fatāwā, 13/310.

https://shamela.ws/book/7289/6949

4. Tidak mengetahui sesuatu berbeda dengan meniadakan keberadaannya.

Dalam Al-Ṣafadiyyah, Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa para imam menafikan pengetahuan makhluk tentang kaifiyah sifat Allah. Beliau kemudian membedakannya dari sebagian ulama belakangan yang menafikan keberadaan hal tersebut dalam kenyataan.

📖 Al-Ṣafadiyyah, 1/289.

https://shamela.ws/book/22874/307

🔎 Apa pelajaran pentingnya?

Dalam pembahasan ilmiah, kita harus membedakan:

- نفي العلم بالكيفية — menafikan pengetahuan tentang kaifiyah.
- نفي وجود الكيفية — menafikan keberadaan kaifiyah.
- نفي التكييف — tidak menetapkan atau menggambarkan bagaimana kaifiyah sifat Allah.

Ketiganya tidak otomatis memiliki pengertian yang sama.

Menurut penjelasan Ibnu Taimiyah, ungkapan salaf bilā kayf tidak berarti bahwa sifat Allah tidak memiliki hakikat, melainkan bahwa manusia tidak mengetahui bagaimana hakikat sifat tersebut.

Dengan demikian, menetapkan sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah tidak mengharuskan seseorang mengetahui atau menggambarkan kaifiyahnya.

Perlu dicatat pula bahwa Ibnu Taimiyah mengakui adanya perbedaan ungkapan di kalangan Ahlusunah mengenai persoalan kaifiyah. Karena itu, pembahasannya perlu dilakukan secara teliti dan tidak sekadar berdebat mengenai istilah.

Kesimpulannya:

الاستواء معلوم والكيف مجهول

"Istiwa itu diketahui maknanya, sedangkan kaifiyahnya tidak diketahui."

Bukan:

الكيف معدوم

"Kaifiyah itu tidak ada."

Setidaknya, demikianlah penjelasan yang secara eksplisit dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah dalam karya-karyanya.

Wallahu a‘lam.

#IbnuTaimiyah #Aqidah #AsmaWaSifat #BilaaKaif #IlmuIslam #KajianIlmiah
Ustadz noor akhmad setiawan

buah dari mendalami ilmu

atsari dan asy'ari