Sabtu, 21 Februari 2026

Perbedaan Qiyamul Lail, Shalat Malam, Shalat Witir dan Shalat Tarawih

# Perbedaan Qiyamul Lail, Shalat Malam, Shalat Witir dan Shalat Tarawih
.
1. Qiyamul lail: Menghidupkan malam dengan ibadah dan tidak mesti shalat terus, bisa baca alquran atau belajar
.
2. Shalatul lail (shalat malam): 
shalat di waktu malam, waktunya mulai dari ba'da isya sampai sebelum subuh. Jumlah raka'at shalat malam tidak terbatas, lebih baik dilakukan 2 rakaat-salam — 2 rakaat-salam
.
3. Shalat witir: 
.
-Shalat witir termasuk shalat malam
Shalat rakaat ganjil, minimal 1 rakaat, penutup shalat malam, tidak mesti harus tidur dahulu, jadi boleh minimal satu rakaat sebelum tidur
.
-Jika telah shalat witir kemudian tidur dan bangun sebelum subuh, boleh shalat malam lagi tetapi tidak shalat witir lagi sebagai penutup, karena tidak boleh ada 2 witir dalam satu malam
.
-Bagi yang berat shalat malam dan bangun sepertiga akhir malam (semoga kita dimudahkan), bisa shalat witir 1 rakaat saja sebelum tidur (berwudhu dahulu termasuk sunnah), itu sudah termasuk shalat malam
.
4. Shalat Tarawih: 
Shalat malam di waktu ramadahan
dinamakan tarawih karena ada "istirahatnya' karena dulunya bacaan ayat rakaatnya panjang-panjang

5. Shalat Tahajjud:
Nama lain shalat malam. Lebih utama sepertiga akhir malam dan didahului oleh tidur, jadi bangun untuk shalat malam
.
http://muslimafiyah.com/perbedaan-qiyamul-lail-shalat-malam-shalat-witir-dan-shalat-tarawih.html
.
Penyusun Raehanul Bahraen

__
Follow akun Raehanul Bahraen (klik):
INSTAGRAM: https://www.instagram.com/raehanul_bahraen/
Telegram: bit.ly/muslimafiyah

Hati-hati syubhat ahlul bida' ketika memasukkan ikhtilaf aqidah (ushuluddin) ke dalam ranah ikhtilaf furu' yang diperbolehkan ijtihad dan toleransi di dalamnya.

~~Hati-hati syubhat ahlul bida' ketika memasukkan ikhtilaf aqidah (ushuluddin) ke dalam ranah ikhtilaf furu' yang diperbolehkan ijtihad dan toleransi di dalamnya. 

📝Kita harus tahu sebuah kaedah mengenai perbedaan ikhtilaf ijtihadi dalam ranah fiqih dan ikhtilaf (dinamai iftiraq) tercela yang disebutkan di dalam hadits iftiraq ummah: 

ليس كل اختلاف يوجب الافتراق، ولكن الافتراق لا يكون إلا عن الاختلاف

Sebuah kaedah penting yang masih ghaib dari benak sebagian orang, sehingga masih mencampur adukkan antara kedua lafazh ini. 

🔎Contoh berbeda pendapat: Si A suka warna biru, sedangkan si B suka warna merah, si A suka sate Madura sedangkan si B suka sate Padang. 
Para shahabat terkadang berbeda pendapat dalam fatwa sebagian masa'il fiqih, juga para ulama hadits terkadang berbeda pendapat dalam men-jarh & men-ta'dil perawi hadits. 

📙Adapun ikhtilaf tercela yang disebutkan di dalam Kitab dan Sunnah, maka ikhtilaf tersebut merupakan ikhtilaf yang menyebabkan perpecahan di antara kaum muslimin. 

📚Ranah khilaf fiqih: keabsahan suatu dalil serta dilalah dari dalil tersebut. 
📚Ranah khilaf aqidah: sumber rujukan serta manhaj (metode) dalam berdalil. Contoh: sebagian firqah mengedepankan akal atas nash, dan tidak berdalil dengan hadits ahad dalam bab aqidah. 

✒️Perbedaan di kedua ranah di atas sangat jelas di beberapa keadaan:
1) Para imam fiqih yang empat berpegang dengan pendapat salaf, khabar ahad, serta mengembalikan nash yg mutasyabih kepada nash yg muhkam. 
Sedangkan ahlul ahwa' & bida' jauh dari perkataan dan pemahaman salaf, serta pandangan mereka sangat berbeda terhadap khabar ahad dan nash-nash yang muhkam & mutasyabih. 
2) Khilaf aqidah mendatangkan perpecahan, sedangkan khilaf fiqih tidak mendatangkan perpecahan -sebagaimana yang terjadi pada ijtihad shahabat- kecuali di situ ada orang yang kaku atau fanatik sehingga memusuhi ijtihad di luar pendapat madzhabnya. 

📷Pict: Kaedah ikhtilaf yang ditaqrir oleh Imam asy-Syathibi rahimahullah di dalam kitab beliau al-I'tisham. Hal yang sama juga ditaqrir oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam Majmu' al-Fatawa dan Iqtidha' ash-Shirath al-Mustaqim.
ustadz muhammad taufiq

Kisah Ajaib: Hilangnya Seorang Lelaki di Zaman Umar radhiyallahu 'anhu

Kisah Ajaib: Hilangnya Seorang Lelaki di Zaman Umar radhiyallahu 'anhu 

​Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (Sunan Al-Kubra, 7/445-446) dari jalur Qatadah, dari Abu Nadhrah, dari Abdurrahman bin Abi Laila:

​Ada seorang lelaki Anshar keluar rumah untuk shalat Isya berjamaah, namun ia diculik oleh jin dan menghilang. Istrinya pun mendatangi Umar bin Khattab dan menceritakan kejadian tersebut. Umar mengonfirmasi hal ini kepada kaum lelaki tersebut, dan mereka membenarkan: 'Benar, ia keluar shalat Isya lalu hilang.'

​Umar kemudian memerintahkan si istri untuk menunggu selama 4 tahun. Setelah masa itu berlalu, sang istri kembali melapor. Umar bertanya lagi kepada kaumnya dan mereka tetap tidak tahu keberadaan suaminya. Umar pun mengizinkan wanita itu menikah lagi, dan ia pun menikah.

​Tiba-tiba, suami pertamanya muncul dan menggugat masalah ini kepada Umar. Umar menegurnya: 'Salah satu dari kalian pergi dalam waktu yang sangat lama sampai keluarganya tidak tahu apakah dia masih hidup!' 

Lelaki itu membela diri: 'Aku punya alasan, wahai Amirul Mukminin.' Umar bertanya: 'Apa alasanmu?'

​Ia bercerita: 'Aku keluar untuk shalat Isya, lalu jin menculikku. Aku tinggal bersama mereka dalam waktu lama. 

Suatu ketika, sekelompok jin mukmin memerangi mereka dan menang. Pasukan jin mukmin itu menawan banyak jin (yang menculikku). Mereka melihatku dan berkata: 

Kami melihatmu sebagai seorang muslim, tidak halal bagi kami menawanmu. Mereka memberiku pilihan: tetap tinggal bersama mereka atau pulang. Aku memilih pulang.

​Mereka pun mengantarku. Jika malam tiba, mereka tidak bicara padaku, dan jika siang hari, aku mengikuti semacam tongkat (sebagai penunjuk jalan).'

​Umar bertanya: 'Apa makananmu selama bersama mereka?'

Ia menjawab: 'Lauk pauk yang tidak dibacakan bismillah di atasnya.'

Umar bertanya lagi: 'Apa minumanmu?'
Ia menjawab: 'Al-Jadaf (minuman yang tidak ditutup/difermentasi).'

​Mendengar itu, Umar memberikan pilihan kepada lelaki tersebut: ingin maharnya dikembalikan atau mengambil kembali istrinya.

​10 Faidah Berharga dari Kisah Ini:

1. ​Masa Tunggu Istri: Durasi penantian bagi istri yang suaminya hilang tanpa kabar adalah 4 tahun sebelum diperbolehkan menuntut pisah dan menikah lagi.

2. ​Masa Iddah Wafat: Setelah 4 tahun penantian, istri tersebut juga harus menjalani masa iddah wafat (seperti dalam riwayat lain).

3. ​Hak Suami Pertama: Jika suami yang hilang kembali dan ia memiliki uzur yang sah, ia lebih berhak atas istrinya dibanding suami kedua. Namun jika ia sengaja menghilang tanpa uzur, maka suami kedua lebih berhak (sebagaimana teguran keras Umar).

4. ​Waspada di Malam Hari: Bahayanya berjalan sendirian di waktu malam.

5. ​Penyebab Hilangnya Seseorang: Terkadang hilangnya seseorang bukan karena urusan manusia, melainkan ulah jin.

6. ​Kekuatan Jin: Jin memiliki kemampuan untuk menculik dan mencelakai manusia.

7. ​Perang Antar Jin: Adanya peperangan antara jin kafir dan jin muslim.

8. ​Perbedaan Makanan Jin: Makanan jin kafir berasal dari hal-hal haram, berbeda dengan jin muslim yang memakan tulang (yang dibacakan bismillah).

9. ​Adab Makan & Minum: Pentingnya membaca Basmalah sebelum makan dan menutup wadah minuman di malam hari sebelum tidur.

10. ​Alam Jin: Adanya kerajaan, tempat tinggal, dan penjara jin yang tidak kasat mata, baik di atas maupun di bawah bumi, yang mana manusia bisa bertahan hidup di sana.

Allahu a'lam
__________________

✨ قصة عجيبة عن غياب رجل في عهد عمر رضي الله عنه ✨

:"أخرج البيهقى (7/445 ـ 446) من طريق قتادة عن أبى نضرة عن عبد الرحمن بن أبى ليلى: " أن رجلا من قومه من الأنصار خرج يصلى مع قومه العشاء , فسبته الجن , ففقد , فانطلقت امرأته إلى عمر بن الخطاب رضى الله عنه فقصت عليه القصة , فسأل عنه عمر قومه , فقالوا: نعم , خرج يصلى العشاء ففقد , فأمرها أن تربص أربع سنين , فلما مضت الأربع سنين , أتته فأخبرته , فسأل قومها؟ فقالوا: نعم , فأمرها أن تتزوج , فتزوجت. 
فجاء زوجها يخاصم فى ذلك إلى عمر بن الخطاب رضى الله عنه , فقال عمر بن الخطاب رضى الله عنه: يغيب أحدكم الزمان الطويل , لا يعلم أهله حياته , فقال له: إن لى عذرا يا أمير المؤمنين , فقال: وما عذرك؟ 
قال: خرجت أصلى العشاء , فسبتنى الجن , فلبثت فيهم زمانا طويلا , فغزاهم جن مؤمنون ـ أو قال: مسلمون , شك سعيد ـ فقاتلوهم , فظهروا عليهم فسبوا منهم سبايا , فسبونى فيما سبوا منهم , فقالوا: نراك رجلا مسلما ولا يحل لنا سبيك , فخيرونى بين المقام وبين القفول إلى أهلى , فاخترت القفول إلى أهلى , فأقبلوا معى , أما بالليل فليس يحدثونى وأما بالنهار فعصا أتبعها.
فقال له عمر رضى الله عنه: فما كان طعامك فيهم؟ 
قال: الغول , وما لم يذكر اسم الله عليه.
قال: فما كان شرابك فيهم؟ 
قال: الجدف.
قال قتادة: والجدف ما لا يخمر من الشراب.
قال: فخيره عمر بين الصداق وبين امرأته". 

وهو أثر عجيب وفيه عدة فوائد:

1. أن المدة التي تنتظرها المرأة زوجها الغائب قبل أن تطلب فراقه والزواج بغيره هي 4 سنين.

2. تمكث بعد السنين الأربع عدة وفاة أيضا كما في بعض الروايات الأخرى.

3. إذا عاد الغائب من غيبته وكان معذورا فهو أحق بها من غيره.

وإذا لم يكن معذورا فزوجها الثاني أحق بها ويظهر ذلك من تعنيف عمر له.

4. خطورة مشي المرء وحده ليلا.

5. أنه قد يفقد أثر إنسان ولا يعرف مكانه فيما يظهر للناس فيكون عن الجن لا الإنس.

6. استطاعة الجن خطف الإنس والفتك بهم.

7. وجود حروب بين الجن الكافر والجن المسلم.

8. طعام الجن الكافر من المحرمات وهو يختلف عن طعام إخواننا من الجن المسلم وهو العظام.

9. أهمية ذكر اسم الله على الطعام وتغطية الآنية ليلا قبل النوم.

10. وجود ممالك وأماكن سكنى وإقطاعات وسجون للجان لا نراها ولا نعلم مكانها هي فوق الأرض أو تحتها ويستطيع الإنس العيش فيها.

 محمود صبري
Urbn

Kalimat Laa Ilaha Illallah, tidaklah bermanfaat kecuali bagi orang yang memahami maknanya dan mengamalkan konsekuensinya

“Kalimat Laa Ilaha Illallah, tidaklah bermanfaat kecuali bagi orang yang memahami maknanya dan mengamalkan konsekuensinya. Banyak manusia tidak memahami kalimat ini. Mereka menyangka bahwa siapa pun yang mengucapkannya begitu saja berarti telah masuk Islam, dan bahwa ucapan itu saja sudah cukup baginya, meskipun ia menyembah Ahlul Bait, atau menyembah para wali dan orang-orang saleh. Ini termasuk kebodohan yang besar dan musibah yang besar. Sesungguhnya yang dimaksud dari kalimat ini adalah maknanya, bukan sekadar lafaznya.”

(Syarah Bulughul Maram – Syaikh Bin Baz 12/396)
ustadz amrullah akhadinta

Jumat, 20 Februari 2026

Ba'diyah Isya' kesunnahannya lebih kuat dari kesunnahan Shalat Tarawih. Jangan sampe kita meninggalkan Ba'diyah Isya demi bisa mengejar Tarawih. Itu namanya meninggalkan fadhil demi mafdhul.

Ba'diyah Isya' kesunnahannya lebih kuat dari kesunnahan Shalat Tarawih. Jangan sampe kita meninggalkan Ba'diyah Isya demi bisa mengejar Tarawih. Itu namanya meninggalkan fadhil demi mafdhul.

Syaikh Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Muin menukil dawuh Imam an-Nawawi tentang urutan keunggulan shalat-shalat sunnah:

وقال فيه أيضا: أفضل النفل عيد أكبر، فأصغر، فكسوف، فخسوف، فاستسقاء، فوتر، فركعتا فجر، فبقية الرواتب فجميعها في مرتبة واحدة، فالتراويح، فالضحى، فركعتا الطواف والتحية والإحرام، فالوضوء.

"Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu' juga berkata:
Shalat sunnah paling utama adalah shalat id akbar (shalat idul adha), lalu id ashgar (idul fitri), lalu shalat gerhana matahari, lalu shalat gerhana bulan, lalu shalat istisqa/minta hujan, lalu shalat witir, lalu shalat dua rekaat qabliyah subuh, lalu shalat rawatib lainnya dan semua rawatib lain itu satu tingkatan, lalu shalat tarawih, lalu shalat dhuha, lalu shalat dua rakaat thawaf, dua rakaat tahiyat masjid dan dua rakaat ihram, lalu shalat sunnah setelah wudlu."

***

Tapi gak usah khawatir. Kalau waktunya terlalu mepet untuk melakukan bakdiyah isya', boleh saja shalat kita niatkan dg niat shalat bakdiyah isya' meskipun imam yang kita ikuti melakukan shalat tarawih. Dalam berjamaah tidak harus sama shalatnya.

****

Kitab Fathul Muin karya al-Malibari cetakan rekomended. Keistimewaan cetakan ini antara lain:

1. Terbitan ini full harokat dan catatan kaki yang memudahkan pembaca untuk memahami redaksi Fathul Muin. Jadi momok bahwa Fathul Muin sangat sulit difahami, bisa kita hilangkan dengan membaca dari cetakan ini.
2. Terbitan ini hasil tahqiqan dari dua manuskrip istimewa. Salah satunya manuskrip yang ditulis pada tahun 1030 H, dua tahun pasca wafatnya Imam al-Malibari yang wafat pada tahun 1028 H.

Stok tinggal 5 eks. Siapa cepat dia dapat.

Harga katalog: 314.000
Diskon jadi *260.000*

Free ongkir Jawa-Madura

Pemesanan: 0821-3535-7135

قال الشَّيخ أ.د. صالح سندي حفظه الله: Syaikh Prof. Dr. Shalih As-Sindi hafizhahullah berkata:

قال الشَّيخ أ.د. صالح سندي حفظه الله:
”أوصيك بثلاثة كتب؛ أحرص عليها وأدمن النَّظر فيها وحشي الفوائد عليها، وأعد النَّظر في هذه الكتب مرةً بعد مرة تجد فائدة بإذن الله كبيرة فيما أظن.
 • الأول: «التَّنبيهات السَّنية على العقيدة الواسطية» للشيخ عبد العزيز الناصر الرشيد.
• والثاني: «تيسير العزيز الحميد» للشيخ سليمان بن عبد الله،  فإن ضعفت عنه فاقرأ «الفتح»، لكن التيسير أمتن وأكثر فائدة.
• وأخيرًا: «شرح العقيدة الطَّحاوية» لابن أبي العز.

 احرص على هذه الكتب الثلاثة إن كنت طالبًا للعلم.
أما إذا قلت هذه كتب طويلة وأنا لست من طلاب العلم المتفرغين للطلب، أريد كتابًا واحدًا لا أتجاوزه؛ أقول عليك بـ«معارج القبول» للشيخ حافظ الحكمي، إذا كنت لا تريد أن تتبحَّر وترسخ في علم الاعتقاد فيكفيك إن شاء الله معارج القبول.
وإذا قلت هو طويل عليَّ أريد شيئًا أخصر فخذ «أعلام السُّنة المنشورة» للشيخ حافظ أيضًا، فهذا مختصر مفيد فيه مئتا سؤال في الاعتقاد مع الجواب المحرر فيها.

أما طالب العلم الذي يريد أن يقوى في الاعتقاد أوصيه بالكتب السًّابقة، وإن جمع إليها بعدها كتابًا رابعًا فحي هلًا ألا وهو «مختصر الصَّواعق» لابن القيم رحمه الله و«المختصر» للموصلي رحمة الله تعالى على الجميع.

◄ [شرح أصول العقائد الدينية I أ.د. صالح سندي]
 Ust fadhel ahmad 
Syaikh Prof. Dr. Shalih As-Sindi
 hafizhahullah berkata:
“Aku wasiatkan kamu dengan tiga kitab. Perhatikan baik-baik, seringlah membacanya, catat faedah-faedahnya, dan ulangi membacanya berkali-kali. InsyaAllah setiap kali diulang kamu akan dapat banyak manfaat.

Pertama: At-Tanbihat As-Saniyyah ‘ala Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Syaikh Abdul Aziz An-Nashir Ar-Rasyid.

Kedua: Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid karya Syaikh Sulaiman bin Abdullah. Kalau terasa berat, baca Al-Fath. Tapi Taisir lebih kuat dan lebih banyak faedahnya.

Terakhir: Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah karya Ibnu Abil ‘Izz.
Pegang tiga kitab ini kalau kamu memang penuntut ilmu.

Kalau kamu bilang: kitab-kitab ini panjang, 
saya bukan penuntut ilmu yang fokus belajar, saya mau satu kitab saja yang cukup — maka ambillah Ma‘arij Al-Qabul karya Syaikh Hafizh Al-Hakami. 

Kalau tidak ingin terlalu mendalam tapi ingin cukup kokoh dalam akidah, kitab ini insyaAllah sudah mencukupi.
Kalau masih terasa panjang juga dan ingin yang lebih ringkas, ambil A‘lam As-Sunnah Al-Mansyurah karya beliau juga. Ini ringkasan yang bagus, berisi sekitar 200 pertanyaan tentang akidah beserta jawaban yang rapi.
Adapun penuntut ilmu yang ingin kuat dalam akidah, aku sarankan kitab-kitab yang tadi. 

Kalau mau ditambah kitab keempat setelah itu, bagus sekali: Mukhtashar Ash-Shawa‘iq karya Ibnul Qayyim rahimahullah, dan juga Al-Mukhtashar karya Al-Mushili. Semoga Allah merahmati mereka semua.”
Ust rafi syafillah

doa yg sangat bagus untuk diamalkan


Allohumma ashlih li dini alladzi huwa ‘ishmatu amri, wa ashlih li dunyaya allati fiha ma‘asyi, wa ashlih li akhiroti allati fiha ma’adi, waj’alil hayata ziyadatal li fi kulli khoir, waj’alil mauta rohatal li min kulli syarr.

Doa tersebut diriwayat dari sahabat Abu Hurairah dan terdapat dalam Shahih Muslim.

 عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ  قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ , اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw. bersabda : “Ya Allah perbaikilah agamaku sebagai benteng (ishmah) urusanku;  perbaikilah duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan” (HR. Muslim: 7078

Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata:

"Ini adalah doa agung yang menghimpun kebaikan dunia dan akhirat, urusan agama dan dunia. Maka, sudah sepantasnya bagi siapa pun yang mendengarnya untuk menghafalnya dan berdoa dengannya di waktu malam maupun siang, agar bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa (sa'atul ijabah), sehingga ia mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat."

Catatan Tambahan:

Sumber: Kutipan ini diambil dari kitab "Uqud al-Juman fi Durus Syahri Ramadan" (Untaian Permata dalam Pelajaran Bulan Ramadan).