https://ariffathululum.wordpress.com/2026/08/25/meniti-jejak-rumah-tangga-nabi-7/
Siasat atau tipu daya perempuan
Hendaknya seorang suami menyadari bahwa sebagian perempuan memiliki berbagai siasat. Terkadang seorang perempuan menampakkan suatu perkara, sementara menyembunyikan perkara lain yang sebenarnya ia inginkan. Hal ini memang juga dapat terjadi pada laki-laki, namun perempuan memiliki bagian yang lebih besar dalam hal tersebut.
Seorang perempuan terkadang salah dan ia menimpakan kesalahan pada yang lainnya.
Hal ini tampak jelas dalam kisah istri Al-‘Aziz. Allah Ta‘ala berfirman tentangnya:
“Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Ia menutup rapat pintu-pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku.’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya tuanku telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung.’”
(QS. Yusuf: 23)
“Sungguh, perempuan itu telah menginginkan Yusuf, dan Yusuf pun sebenarnya berkeinginan kepadanya, sekiranya dia tidak melihat bukti dari Tuhannya. Demikianlah, Kami memalingkan darinya keburukan dan perbuatan keji. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.”
Kemudian ia merobek bagian belakang bajunya dan mengejar Yusuf hingga sampai ke pintu. Setelah itu, suaminya datang. Perempuan tersebut berkata:
“Apakah balasan bagi orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu selain dipenjarakan atau mendapat azab yang pedih?”
(QS. Yusuf: 25)
Di antara contoh seorang perempuan menampakkan sesuatu dan ia memiliki maksud yang lain adalah Kisah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu
Al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah ﷺ ketika sakit bersabda:
“Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami manusia dalam shalat.”
‘Aisyah berkata:
“Sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang apabila berdiri di tempatmu, ia tidak mampu membuat orang-orang mendengar karena tangisannya.”
Maka ‘Aisyah berkata kepada Hafshah:
“Katakanlah kepada beliau: Sesungguhnya Abu Bakar, apabila berdiri di tempatmu, orang-orang tidak dapat mendengar karena tangisannya. Maka perintahkanlah Umar agar mengimami manusia.”
Hafshah pun melakukannya. Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:
“Cegahlah! Sesungguhnya kalian adalah seperti wanita-wanita zaman Nabi Yusuf. Perintahkan Abu Bakar untuk mengimami manusia.”
Hafshah kemudian berkata kepada ‘Aisyah:
“Aku tidak mendapatkan kebaikan darimu.”
Segi keserupaan Aisyah dan Hafshah seperti wanita-wanita zaman Nabi Yusuf bahwa peristiwa ini menunjukkan sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dalam Al-Maghazi. ‘Aisyah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah mengulangi perintah tersebut berkali-kali, tetapi ia tetap berusaha agar Abu Bakar tidak menjadi imam.
Aisyah berkata: Aku tidak ingin orang-orang mencintai sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam orang lain yang menempati posisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan aku memandang tidak ada orang yang menempati posisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai imam melainkan orang akan menimpakan kesialan kepadanya di saat terjadi sesuatu pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka ia ingin agar Rasulullah ﷺ mengubah keputusan tersebut dari Abu Bakar.
Di antara kisah lain tentang tipudaya wanita adalah:
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ketika Nabi ﷺ hendak melakukan suatu perjalanan, beliau mengundi di antara istri-istrinya. Undian itu jatuh kepada ‘Aisyah dan Hafshah. Pada suatu malam, Nabi ﷺ berjalan bersama ‘Aisyah. Hafshah berkata kepada ‘Aisyah:
“Maukah engkau menaiki untamu dan aku menaiki untamu, lalu kita saling melihat apa yang terjadi?”
‘Aisyah menjawab: “Baik.”
Maka ‘Aisyah menaiki unta Hafshah, sedangkan Hafshah menaiki unta ‘Aisyah. Kemudian Nabi ﷺ datang kepada unta ‘Aisyah, yang ternyata ditunggangi Hafshah. Beliau mengucapkan salam kepadanya, kemudian berjalan bersamanya hingga mereka singgah.
Ketika mereka turun, ‘Aisyah kehilangan Nabi ﷺ. Ia lalu berkata:
“Wahai Rabbku, timpakanlah kepadaku kalajengking atau ular yang dapat menyengatku. Dan aku tidak mampu mengatakan sesuatu kepadanya.”