Muhammad yanu atmadji blog
blog ini berisikan kumpulan faedah faedah ilmu yang sangat bermanfaat kepada diri saya pribadi
Sabtu, 01 Agustus 2026
orang kaya dan orang miskin
Syaikh Sulaiman Al-Ruhaili (@solyman24):
Ada seorang laki-laki yang lewat di hadapan Rasulullah ๏ทบ, lalu beliau bertanya: Apa pendapat kalian tentang orang ini?
Para sahabat menjawab:
Ia adalah orang yang sangat layak, jika ia meminang (melamar) maka lamarannya pantas diterima, jika ia memberikan syafaat (rekomendasi/bantuan) maka akan dikabulkan, dan jika ia berbicara maka akan didengarkan.
Kemudian lewatlah seorang laki-laki dari kaum muslimin yang fakir (miskin). Rasulullah ๏ทบ bertanya:
Apa pendapat kalian tentang orang ini?
Para sahabat menjawab:
Ia adalah orang yang layak, jika ia meminang maka tidak akan dinikahkan (ditolak), jika ia memberikan syafaat maka tidak dikabulkan, dan jika ia berbicara tidak akan didengarkan.
Maka Rasulullah ๏ทบ bersabda:
Orang ini (yang miskin) lebih baik daripada sepenuh bumi orang yang seperti ini (yang kaya/terpandang).
Iblis menyerangmu pada 3 keadaan:
Iblis menyerangmu pada 3 keadaan:
1- Saat engkau sedang memiliki waktu luang, agar mengisinya dengan kemaksiatan.
2- Saat engkau marah, agar mendorongmu kepada kezaliman & penyesalan.
3- Saat engkau meraih keberhasilan, agar merusaknya dengan rasa ujub & kesombongan.
Maka, isilah waktu luangmu dengan ketaatan, tahanlah amarahmu dengan sikap santun dan sabar, serta nisbatkan setiap keberhasilan kepada Allah. Niscaya engkau termasuk orang-orang yang selamat.
===
Follow Chanel telegram & instagram Syaikh Prof.Dr. Ashim Al Qaryuti hafizhahullah dalam bahasa Indonesia: @alqaryuti_id
#SyaikhAshimAlQaryuti #twitulama #nasihat #godaan #iblis #selamat
Manhaj wasathiyah dalam "bermanhaj"
Manhaj wasathiyah dalam "bermanhaj"
Dengan semakin banyak nya warna 'salafi' akhir2 ini, cukup membuat kita bingung mana yang benar? Kok semua nya saling tuding?
Nah inilah pentingnya yang dinamakan manhaj wasathiyah dalam bermanhaj
Krn bermanhaj salafi ternyata tidak cukup hanya sekedar intisab dan semangat saja dlm mengamalkan sunnah, tapi butuh pula yang namanya wasathiyah dalam bermanhaj agar tidak jatuh ke dalam ghuluw atau tafrith
Terlalu abai dlm bermanhaj maka akan jatuh kedalam fitnah sururiyah, ahlu bidah pun akan di'salafikan' oleh nya
Sebaliknya Terlalu ghuluw dalam bermanhaj maka jatuh ke dalam fitnah haddadiyah, mudah sekali ia pukul sesama ahlu sunnah dengan godam 'tabdi, dan tafsiq'
Wasathiyah dalam bermanhaj ini juga terkadang disalahpahami sebagian 'pendaku salafi' dengan tetap berada di 'area abu2', tengah, atau ikut sana sini
Padahal sejatinya wasathiyah yang benar dalam bermanhaj adalah: selalu berusaha mengikuti sunnah dan petunjuk para salafus shalih
------------
Ini tak ubahnya manhaj wasathiyah ahlu sunnah dalam masalah iman, yang mana tidak terlalu ghuluw terkait iman seperti khawarij
Tak pula terlalu abai seperti murjiah
Ustadz lutfi setiawan
https://www.facebook.com/share/19Dw1sSddF/
Jumat, 31 Juli 2026
Fiqih Mazhab Maliki - Tata Cara Salat Jenazah
Fiqih Mazhab Maliki - Tata Cara Salat Jenazah
Posisi Berdiri Imam:
Imam berdiri sejajar dengan pinggang/tengah tubuh jenazah laki-laki, dan sejajar dengan kedua bahu jenazah perempuan, dengan posisi kepala jenazah berada di sebelah kanannya.
Pengangkatan Tangan Saat Takbir:
Tangan diangkat hanya pada takbir pertama. Adapun pada takbir-takbir berikutnya, tangan tidak perlu diangkat kembali, menurut pendapat yang paling masyhur dalam mazhab Maliki.
Batas Minimal Doa:
Doa minimal dalam salat jenazah setelah setiap takbir adalah membaca:
"Allahummaghfir lahu warhamh"
(Ya Allah, ampunilah dia dan rahmutilah dia).
Hukum Membaca Al-Fatihah:
Membaca Al-Fatihah dalam salat jenazah tidak disunnahkan menurut mazhab Maliki. Namun, jika ada yang membacanya demi menjaga/menghormati perbedaan pendapat (mura'atan lil-khilaf), hal itu tidak mengapa.
Al-'Allamah Zarruq mengatakan: (Dan ia boleh melakukannya, yakni membaca Al-Fatihah, sebagai bentuk kehati-hatian untuk keluar dari perselisihan ulama).
Anjuran Setelah Takbir Pertama:
Sebagian ulama, seperti Ibn Abi Zayd rahimahullah dalam Al-Risalah-nya, menganjurkan agar pada takbir pertama, salat diawali dengan memuji Allah serta bersalawat kepada Rasulullah ๏ทบ.
๐ Al-Risalah Al-Qayrawaniyyah dan At-Tawdih karya Imam Khalil
ada sejumlah kesalahan terjemahan dalam beberapa kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum
๐๐ฌ๐ญ ๐๐ฌ๐๐ฉ ๐๐จ๐๐๐ซ๐ข: ๐๐๐ซ๐ฃ๐๐ฆ๐๐ก๐๐ง ๐๐ข๐ญ๐๐ ๐๐ซ-๐๐๐ก๐ข๐ช ๐๐ฅ-๐๐๐ค๐ก๐ญ๐ฎ๐ฆ ๐๐ข ๐๐ง๐๐จ๐ง๐๐ฌ๐ข๐ ๐๐ข๐ฌ๐ ๐๐๐ง๐๐ข๐ฌ๐ญ๐จ๐ซ๐ฌ๐ข ๐๐๐ฆ๐๐๐ซ๐๐ง ๐๐ฆ๐๐ญ ๐๐ฌ๐ฅ๐๐ฆ ๐๐๐ซ๐ก๐๐๐๐ฉ ๐๐จ๐ฌ๐จ๐ค ๐๐๐๐ข ๐๐ฎ๐ก๐๐ฆ๐ฆ๐๐ ๐๐๐
CIPUTAT – Pendiri Sirah Community Indonesia, Ust Asep Sobari, memperingatkan bahwa ada sejumlah kesalahan terjemahan dalam beberapa kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum edisi Indonesia yang dapat mendistorsi konstruksi mental dan gambaran umat Islam terhadap sosok Nabi Muhammad SAW.
Pernyataan tegas ini disampaikan dalam Simposium Sejarah Islam bertema "Rewriting Islamic History, Sources, Networks and Social Changes" yang digelar di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah, Selasa (28/7/2026).
Dalam artikel penelitiannya yang berjudul “Missunderstanding Sirah Nabawiyah: Kesalahan Penerjemahan dalam Buku Sirah Ar-Rahiq al-Makhtum pada Beberapa Edisi Cetakan Indonesia Suatu Analisis Kritis Terhadap Kualitas Alih Wahana Teks Historiografi Islam”, Ust Asep Sobari melakukan komparasi terhadap lima (5) buku terjemahan ar-Rahiqul al-Makhtum yang popular beredar di Indonesia. Di antaranya dari Penerbit Al-Kautsar, Ummul Quro, Darul Haq, Qisthi Press dan Gema Insani.
Ust Asep menjelaskan bahwa kesalahan dalam alih bahasa bukan sekadar masalah teknis linguistik, melainkan masalah hilangnya ruh sejarah. Ia mencontohkan kesalahan penerjemahan istilah Syi’b Abi Thalib (lembah/celah bukit) menjadi "perkampungan" yang terdapat pada beberapa penerbit besar.
"Jika penderitaan fisik para sahabat saat diboikot digambarkan terjadi di sebuah perkampungan yang terkesan nyaman, maka empati sejarah dan pemahaman pembaca terhadap beratnya perjuangan Rasulullah akan luntur," ungkapnya,.
Penelitian ini dilakukan dengan membedah naskah terjemahan dari lima penerbit besar di Indonesia melalui pendekatan analisis kontrastif dan kritik teks,. Ust Asep menemukan adanya kesalahan leksikal-semantis yang fatal, seperti istilah "jeroan unta" (sala jazurin) yang diterjemahkan menjadi "kotoran unta", hingga kesalahan identitas kabilah Bani Salimah yang dengan kompak ditulis oleh seluruh kitab terjemah edisi berbahasa Indonesia menjadi Bani Salamah.
Ia menekankan bahwa tanpa akurasi filologis, wibawa ilmiah kitab sirah sebagai rujukan otoritatif akan menurun menjadi sekadar bacaan populer yang tidak presisi. (fajar)
Langganan:
Postingan (Atom)