Menyikapi Tuduhan Terhadap Imam Abu Hanifah rahimahullah dalam Kitab As-Sunnah
Pertanyaan 224:
Bagaimana pendapat Anda mengenai tuduhan terhadap Abu Hanifah, seperti tuduhan bahwa beliau berpendapat Al-Qur'an itu makhluk, dan seterusnya, yang tercantum dalam kitab karya Abdullah bin Imam Ahmad?
Jawaban 224:
Ini pertanyaan yang bagus. Hal tersebut memang terdapat dalam kitab As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad. Abdullah bin Imam Ahmad hidup pada masa ketika fitnah khalqul Qur'an (isu Al-Qur'an makhluk) sedang memuncak.
Pada masa itu, orang-orang berargumen menggunakan hal-hal yang dinisbatkan kepada Abu Hanifah, padahal beliau berlepas diri dari pendapat Al-Qur'an itu makhluk.
Selain itu, dinisbatkan pula kepada beliau takwil sifat yang dinukil oleh kaum Mu'tazilah, padahal beliau juga berlepas diri dari hal tersebut.
Sebagian riwayat ini terlanjur menyebar di tengah masyarakat, lalu sebagian ulama menilai berdasarkan lahiriah nukilan yang sampai kepada mereka.
Peristiwa ini terjadi sebelum Abu Hanifah memiliki madzhab dan tradisi keilmuan yang terstruktur secara utuh. Hal itu karena masanya masih relatif dekat dengan masa hidup Abu Hanifah sendiri.
Saat itu, nukilan-nukilan riwayat masih simpang siur, baik itu perkataan Waki', Sufyan At-Tsawri, Sufyan bin 'Uyainah, maupun ucapan ulama-ulama lainnya mengenai Imam Abu Hanifah.
Oleh sebab itu, kebutuhan ijtihad Abdullah bin Imam Ahmad pada masa tersebut menuntut beliau untuk mendokumentasikan dan menukil apa saja riwayat/perkataan para ulama yang sampai kepada beliau.
Namun setelah berlalunya era tersebut, sebagaimana disebutkan oleh Imam At-Thahawi, para ulama sepakat (ijma') untuk tidak lagi menukil riwayat-riwayat celaan tersebut. Mereka sepakat untuk tidak menyebut Imam Abu Hanifah melainkan dengan kebaikan dan pujian.
Hal ini terjadi setelah zaman Al-Khathib Al-Baghdadi. Maksudnya: pada masa sebagian murid-murid Imam Ahmad, mungkin saja mereka masih membicarakannya. Lalu di era Al-Khathib Al-Baghdadi, beliau menukil berbagai riwayat dalam kitab Tarikh-nya yang sangat terkenal, yang kemudian memicu sanggahan dan bantahan dari para ulama setelahnya.
Sampai akhirnya pada fase pengkajian tuntas (istiqra') terhadap manhaj Salaf pada abad ke-6 dan ke-7 Hijriah.
Dalam konteks inilah Ibn Taimiyah menulis risalahnya yang sangat masyhur, Raf'ul Malam 'anil A'immatil A'lam. Dalam seluruh karyanya, beliau selalu menyebut Imam Abu Hanifah dengan kebaikan dan pujian, mendoakan rahmat untuk beliau, serta hanya menisbatkan satu hal saja kepada beliau, yaitu pandangan Irja' (murji'ah fuqaha), tanpa menambahkan rentetan tuduhan-tuduhan lain yang pernah dialamatkan kepadanya.
Mengapa demikian? Karena keberadaan kitab Al-Fiqh Al-Akbar karya Abu Hanifah serta risalah-risalah beliau lainnya menunjukkan bahwa secara umum beliau mengikuti jejak Salafush Shalih, kecuali dalam masalah satu ini saja, yaitu isu masuknya amal perbuatan ke dalam hakikat/penamaan iman (mussama al-iman).
Demikianlah para ulama melangkah di atas jalan ini, sebagaimana yang disampaikan Imam At-Thahawi. Kecuali orang-orang yang melampaui batas dari kedua belah pihak:
● Pihak pertama: Orang-orang ekstrim yang mencela ahli hadis, menuduh mereka dengan julukan Hasyawiyyah (kelompok dangkal), serta menganggap mereka sebagai orang-orang bodoh.
● Pihak kedua: Orang-orang ekstrim yang mengklaim berintisab kepada hadis dan atsar, lalu mereka mencela atau mendzalimi Imam Abu Hanifah rahimahullah.