Sabtu, 25 Juli 2026

ردّ الشيخ عبد المحسن العباد حفظه الله في كتابه «الحث على اتباع السنة والتحذير من البدع وبيان خطرها» على الذين يطعنون في رسالته «رفقًا أهل السنة بأهل السنة

🔶 ردّ الشيخ عبد المحسن العباد حفظه الله في كتابه «الحث على اتباع السنة والتحذير من البدع وبيان خطرها» على الذين يطعنون في رسالته «رفقًا أهل السنة بأهل السنة»، دون التصريح بأسماءهم، لكنه ذكر تاريخ تخرّجهم، وبيّن أنهم كانوا من تلاميذه في الجامعة الإسلامية بالمدينة النبوية.
📖 مقتطفات من الكتاب:
🔹 قال الشيخ عبد المحسن العباد حفظه الله:
[ومن ذلك أيضاً حصول التحذير من حضور دروس شخص؛ لأنَّه لا يتكلَّم في فلان الفلاني أو الجماعة الفلانية، وقد تولَّى كبر ذلك شخص من تلاميذي بكلية الشريعة بالجامعة الإسلامية، تخرَّج منها عام (١٣٩٥ ـ ١٣٩٦هـ) ، وكان ترتيبه الرابع بعد المائة من دفعته البالغ عددهم (١١٩) خرِّيجاً]
🔹[وجلُّ بضاعته التجريح والتبديع والتحذير من كثيرين من أهل السنَّة، لا يبلغ هذا الجارحُ كعبَ بعض مَن جرَحهم لكثرة نفعهم في دروسهم ومحاضراتهم ومؤلفاتهم]
🔹 وقال أيضًا:
[أنَّ منهج الشيخ عبد العزيز بن باز ـ رحمه الله ـ يختلف عن منهج التلميذ الجارح ومَن يشبهه؛ لأنَّ منهج الشيخ يتَّسم بالرِّفق واللِّين والحرص على استفادة المنصوح والأخذ بيده إلى طريق السلامة، وأمَّا الجارحُ ومَن يشبهه فيتَّسمُ بالشدَّة والتنفير والتحذير، وكثيرون مِن الذين جرحهم في أشرطته كان يُثني عليهم الشيخ عبد العزيز ويدعو لهم ويحثُّهم على الدعوة وتعليم الناس، ويَحثُّ على الاستفادة منهم والأخذ عنهم].
🔹 وقال حفظه الله:
[وقد شارك التلميذَ الجارح ثلاثةٌ: اثنان في مكة والمدينة، وهما من تلاميذي في الجامعة الإسلامية بالمدينة، أولهما تخرَّج عام (١٣٨٤ ـ ١٣٨٥هـ) ، والثاني عام (١٣٩١ ـ ١٣٩٢هـ) ، وأمَّا الثالث ففي أقصى جنوب البلاد، وقد وصف الثاني والثالث مَن يُوزِّع الرسالةَ بأنَّه مبتدع، وهو تبديع بالجملة والعموم، ولا أدري هل علموا أو لم يعلموا أنَّه وزَّعها علماء وطلبة علم لا يُوصَفون ببدعة، وآملُ منهم تزويدي بالملاحظات التي بنوا عليها هذا التبديع العام إن وُجدت للنظر فيها].
📌 فهل عرفتم الآن لماذا يكره أهل البغي كتاب الشيخ عبد المحسن العباد حفظه الله؟
#أهل_السنة_والجماعة
#أهل_البدعة_والصلالة
https://www.facebook.com/share/1EMipCj5ae/

Perbedaan Qiyas Syar'i dan Qiyas Ushuli

Perbedaan Qiyas Syar'i dan Qiyas Ushuli

Qiyas Syar'i adalah proses mengembalikan berbagai cabang persoalan (furu') kepada kaidah-kaidah umum syariat (qawa'id kulliyyah). Dalam pendekatan ini, rincian-rincian hukum dipahami dalam kerangka prinsip-prinsip besar yang telah ditetapkan oleh syariat.

Sebagai contoh, seluruh perintah syariat di dalam Al-Qur'an dan Sunnah kembali kepada prinsip adanya maslahat, sedangkan seluruh larangan kembali kepada prinsip adanya mafsadah. Demikian pula rincian hukum yang berkaitan dengan niat dikembalikan kepada kaidah Al-Umuru bi Maqashidiha (segala perkara bergantung pada tujuannya), sementara berbagai persoalan keraguan dikembalikan kepada kaidah Al-Yaqinu La Yazulu bisy-Syakk (keyakinan tidak hilang karena keraguan).

Dengan demikian, Qiyas Syar'i tidak berfokus pada pencarian 'illah suatu hukum secara khusus, melainkan pada pengembalian cabang-cabang hukum kepada prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah syariat yang bersifat umum.

Adapun Qiyas Ushuli adalah proses menghubungkan suatu kasus baru yang belum memiliki ketetapan hukum secara eksplisit dalam nash dengan kasus yang telah ditetapkan hukumnya oleh nash, karena keduanya memiliki 'illah yang sama.

Dalam metode ini, hukum yang terdapat pada kasus asal (ashl) diberlakukan pula pada kasus baru (far') berdasarkan kesamaan 'illah di antara keduanya. Oleh karena itu, 

Qiyas Ushuli merupakan salah satu metode istinbath hukum yang digunakan untuk menetapkan hukum berbagai peristiwa baru yang tidak disebutkan secara tegas dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah.

Allahu a'lam
Ibn Nashrullah

Bahan bacaan :
📚 Syarh Qawaid Ibn Rajab

me time

Disunnahkan berdoa setelah sholat fardhu. Setelah dzikir ya. Ada khilaf seputar disunnahkan mengangkat tangan atau tidak

Disunnahkan berdoa setelah sholat fardhu. Setelah dzikir ya. Ada khilaf seputar disunnahkan mengangkat tangan atau tidak 

40 — Al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi ‘Umair al-Madkhali
Beliau pernah ditanya sebagaimana tercantum dalam Kumpulan Kitab, Risalah, dan Fatwa beliau (jilid 15, halaman 486):
“Apakah orang yang mengangkat kedua tangannya setelah salat dapat dihukumi melakukan bidah?”
Beliau menjawab:
“Kita tidak dapat menganggap perbuatan tersebut sebagai bidah. Mengenai mengangkat kedua tangan untuk berdoa setelah selesai salat wajib, kita tidak dapat menghukumi pelakunya sebagai orang yang melakukan bidah.
Sebab, ia memiliki dalil-dalil yang bersifat umum, bahkan terdapat beberapa hadis yang menjadi landasannya. Pada umumnya, ketika berdoa kedua tangan diangkat. Mengangkat kedua tangan ketika berdoa telah diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi ﷺ.
Apabila seseorang mengangkat kedua tangannya, pertama-tama kita cukup mengajarinya dengan mengatakan, ‘Engkau mengangkat kedua tangan untuk berdoa setelah salat wajib, padahal hal tersebut tidak pernah ditetapkan dari Nabi ﷺ.’
Namun, apabila ia tidak menerima penjelasan tersebut, kita tetap tidak dapat menghukuminya sebagai orang yang melakukan bidah.
Sebab, sebagaimana telah kami katakan, terdapat banyak dalil mengenai hal tersebut dalam berbagai keadaan. Bahkan riwayat-riwayat itu telah mencapai derajat mutawatir bahwa Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya ketika berdoa.”
Sumber :
https://www.alakhdr.com/?p=39
Ustadz febrian fariansyah

Jumat, 24 Juli 2026

Sesungguhnya awal kemunafikan seseorang adalah celaannya terhadap pemimpinnya

Faedah dari Daurah Syaikh Ibrahim di Jami Abu Darda':

عن ابي درداء انه قال
Diriwayatkan dari Abu Darda bahwasanya ia berkata:

ان اول نفاق المرء طعنه في امامه
Sesungguhnya awal kemunafikan seseorang adalah celaannya terhadap pemimpinnya (HR. Al-Baihaqi).

Habisnya Umur Diam-Diam(sebuah tulisan yang indah)

Habisnya Umur Diam-Diam
(sebuah tulisan yang indah)

Seseorang berkata:
"Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, tiba-tiba aku menyadari bahwa usiaku telah mencapai 50 tahun... lalu 55... kemudian hampir 60 tahun!

Dulu, angka-angka itu terasa begitu asing bagiku. Kini aku mulai merasakan kekhawatiran terhadap kehidupan setelah usia 60 tahun.
Aku mendapati para pedagang memanggilku, 'Wahai Pak Haji,' anak-anak memanggilku, 'Paman,' dan para pemuda di toko-toko segera menyodorkan kursi agar aku bisa duduk.
Perlakuan itu memang istimewa, tetapi di sisi lain terasa sebagai pertanda bahwa usia telah bertambah.

Namun kemudian aku merenungkan perjalanan hidup manusia terbaik, Rasulullah ﷺ. Wahyu mulai diturunkan kepada beliau saat berusia 40 tahun. Beliau berjihad menghadapi orang-orang kafir pada usia 54 tahun dan terus berdakwah serta berjuang menegakkan agama Allah hingga akhir hayatnya.

Demikian pula Sayyidah Khadijah radhiallahu 'anha, beliau berada pada puncak kekuatan dan kematangannya ketika berusia 40 tahun, bahkan masih melahirkan putra-putri setelah usia tersebut.

Akhirnya aku menyimpulkan bahwa usia yang sebenarnya adalah bagaimana perasaanmu terhadap dirimu sendiri. Rasa ridha & bahagia adalah sesuatu yang berada di tanganmu, bukan di tangan hitungan hari. Karena itu, ketika engkau mencapai usia ini, anggaplah bahwa engkau sedang memasuki fase baru dari masa muda.

Mulailah menghafal Al-Qur'an, karena engkau berada pada masa kematangan akal dan kemampuan. Jagalah salat-salat sunnah rawatib, berpuasalah tiga hari setiap bulan, luangkan waktu untuk bermunajat kepada Rabbmu di 1/3 malam, dan tinggalkan jejak kebaikan agar namamu tetap dikenang dengan amal yang bermanfaat.

Tidak ada sesuatu yang lebih pantas disesali dalam hidup ini selain kelalaian kita terhadap hak Allah.

Bergembiralah karena Allah masih memberimu kehidupan pada hari yang baru. Pada hari itu engkau dapat mendirikan shalat, menanam pahala, bersedekah, dan melakukan berbagai amal saleh. Maka manfaatkanlah setiap menit, karena ia tidak akan pernah kembali.

Pada Hari At-Taghabun (Hari Penyesalan), orang yang paling besar penyesalannya adalah mereka yang menyia-nyiakan umur mereka, meskipun akhirnya mereka masuk surga.
Di antara satu derajat dengan derajat lainnya di surga terdapat perbedaan yang bisa diraih dengan membaca 1 ayat, atau 1 tasbih, 1 tahmid, atau 1 tahlil. Berdagang dengan Allah tidak ada batasnya. Maka marilah kita memanfaatkan sisa umur kita dengan sebaik-baiknya.

Inilah wasiat untuk diriku dan juga untuk kalian.
Marilah kita memanfaatkan umur kita sebaik mungkin. Ingatlah sabda Rasulullah ﷺ:

خَيْرُ النَّاسِ مَن طالَ عمُرُه وَحَسُنَ عملُه
"Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya." (HR. Ahmad & Tirmidzi)

Diterjemahkan dari status Syaikh Prof. Dr. Ashim Al Qaryuti hafizhahullah 
https://x.com/i/status/2075320983024443447
===
Follow Chanel telegram & instagram Syaikh Prof.Dr. Ashim Al Qaryuti hafizhahullah dalam bahasa Indonesia: @alqaryuti_id

#SyaikhAshimAlQaryuti #twitulama #nasihat #kehidupan #umur #renungan

Kami tidak mengkafirkan individu (mu'ayyan), melainkan hanya mengatakan perbuatannya adalah kekufuran... Ini adalah perkataan Murji'ah" – Syaikh Shalih Al-Fawzan

Judul Video:

"Kami tidak mengkafirkan individu (mu'ayyan), melainkan hanya mengatakan perbuatannya adalah kekufuran... Ini adalah perkataan Murji'ah"Syaikh Shalih Al-Fawzan 

Poin-Poin Utama Pembahasan Video:

  • Pengkafiran Individu (Takfir al-Mu'ayyan) dan Pemahaman Murji'ah 
    • ​Penanya mengajukan pertanyaan mengenai kebenaran ungkapan: "Setiap orang yang melakukan pembatal keislaman, kita tidak menghukumi sosok individunya secara langsung, tetapi hanya menyebut perbuatan atau perkataannya sebagai kekufuran".
    • ​Syaikh Shalih Al-Fawzan menjelaskan bahwa pemikiran yang disebarkan pada masa ini yang memisahkan secara mutlak perbuatan kufur dari pelakunya merupakan propaganda dari paham Murji'ah 
  • Hukum Penyembah Kubur ]
    • ​Ketika ditanya apakah seseorang yang menyembah kuburan dapat dihukumi kafir secara individu (bi 'ainih), Syaikh menegaskan bahwa orang yang menyembah selain Allah (seperti menyembah kubur) dianggap sebagai orang kafir 
  • Bantahan terhadap Paham Bahwa Kekufuran Hanya Terjadi dalam Hati 
    • ​Penanya menanyakan tentang pendapat orang yang menyatakan bahwa kekufuran hanya terjadi melalui iktikad/keyakinan hati, dan seseorang tidak bisa menjadi kafir hanya melalui perbuatan atau ucapan 
    • ​Syaikh menegaskan bahwa ini adalah madzhab Murji'ah . Menurut paham Murji'ah, iman cukup berada di dalam hati, dan perbuatan atau ucapan tidak membahayakan iman. Syaikh menegaskan bahwa madzhab ini adalah batil 

Tautan video: https://youtu.be/bKueF1HkZr8