Kamis, 23 April 2026

SEBAGIAN FAIDAH DAUROH BERSAMA SYAIKH AKRAM ZIYADAH

SEBAGIAN FAIDAH DAUROH BERSAMA SYAIKH AKRAM ZIYADAH —hafizhahullah—

Ma’had Hamalatul Qur’an Karawang

[1] Para nabi dan rasul adalah manusia pilihan. Demikian pula para da’i dan penuntut ilmu; mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah.

Allah Ta’ala berfirman:
{ وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُ }
“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 68)
{ ٱللَّهُ يَصۡطَفِي مِنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلٗا وَمِنَ ٱلنَّاسِۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٞ }
“Allah memilih para utusan(-Nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Hajj: 75)

[2] Para da’i dan penuntut ilmu adalah pemimpin dalam agama. Untuk meraih kedudukan itu, dibutuhkan dua perkara agung: sabar dan keyakinan.

Allah Ta’ala berfirman:
{ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ }
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

[3] Agama dan ilmu tidak membutuhkan harta, jabatan, atau kedudukan. 

Ilmu hanya membutuhkan kesabaran dan keyakinan.
Hal terpenting bagi penuntut ilmu adalah keikhlasan. Jangan sampai ia menuntut ilmu demi dunia.

 Terkadang seorang penuntut ilmu diuji dengan kemiskinan, kefakiran, dan kesempitan hidup. Namun apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang beriman.

Nabi ﷺ sendiri tumbuh dalam keadaan yatim, tidak dapat membaca dan menulis, serta menjalani kehidupan yang penuh ujian. Namun Allah memilih beliau sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.

[4] Apabila Allah menghendaki seseorang menjadi imam (pemimpin dalam agama), maka Allah akan memilihkan baginya sosok yang akan mentarbiyahnya.

Kisah-kisah yang menguatkan hal ini:

A. Hafsh bin Abi Sulaiman رحمه الله
Di sudut kehidupan yang sunyi, tumbuh seorang anak yatim dalam kemiskinan. Hidupnya keras, jalannya sempit, dan masa kecilnya tidak dipayungi kemewahan. Ibunya, seorang wanita muda yang ditinggal wafat suaminya, kemudian dinikahi oleh seorang ahli Al-Qur’an, ‘Ashim bin Abi An-Najud رحمه الله.
Di tangan ayah sambung inilah, benih itu disirami. Huruf demi huruf ditanamkan, ayat demi ayat dihidupkan. Dari rumah sederhana itu, lahirlah seorang imam dalam qira’ah.

Hafsh tidak pernah membayangkan bahwa riwayat bacaannya kelak akan menggema di seluruh penjuru bumi—dibaca oleh miliaran manusia hingga hari kiamat. Namun keikhlasan dan pilihan Allah menjadikannya demikian. Dari kesunyian, Allah angkat namanya ke langit kemuliaan.

B. Nafi’ Maula Ibnu Umar رحمه الله
Di tengah riuhnya peperangan, seorang anak kecil menjadi bagian dari tawanan. Tidak dikenal nasabnya, tidak diketahui asal-usulnya. Dunia seakan tidak mencatat siapa dirinya. Yang tersisa hanyalah satu nama: Nafi’. Namun Allah Maha Mengetahui nilai di balik yang tersembunyi.

Abdullah bin Umar رضي الله عنه melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh kebanyakan manusia. Dengan firasat seorang sahabat, ia mendidik anak itu dengan penuh perhatian. Hari demi hari berlalu, dan didikan itu berbuah.

Nafi’ pun tumbuh menjadi seorang imam dalam hadits. Namanya terukir dalam “rantai emas”: Malik — Nafi’ — Ibnu Umar. Bahkan, ketika terjadi perbedaan riwayat antara Nafi’ dan Salim (putra Ibnu Umar), para ulama lebih mendahulukan riwayat Nafi’.
Dari seorang yang tidak dikenal, Allah menjadikannya mata rantai keabadian ilmu.

C. Gundar (Muhammad bin Ja’far رحمه الله)
Seorang anak kecil yang lincah, penuh gerak, tak bisa diam. Lisannya ringan berbicara, tangannya gemar menulis. Ia tumbuh di bawah asuhan seorang raksasa dalam ilmu hadits: Syu’bah bin Al-Hajjaj رحمه الله, yang menikahi ibunya.

Anak ini sering menyela, banyak bertanya, bahkan tak jarang membuat gurunya tersenyum dengan kelincahannya. Hingga suatu hari, ia dijuluki “Gundar”—seekor burung kecil yang tak henti melompat dan berkicau.
Namun di balik kelincahan itu, tersimpan kecerdasan yang tajam.

 Ia tidak hanya menghafal, tetapi juga menulis dengan teliti. Dari tangannya, hadits-hadits Syu’bah terjaga dan tersebar.
Namanya pun memenuhi lembaran-lembaran kitab hadits. Ia menjadi guru bagi para guru Imam Al-Bukhari dan Muslim. Dari seorang anak yang tampak biasa, Allah menjadikannya pilar dalam penjagaan sunnah.

Allah memilih siapa yang Dia kehendaki. Dia angkat derajat hamba-Nya bukan karena harta, bukan karena kedudukan, tetapi karena keikhlasan, kesabaran, dan keyakinan.

Maka janganlah engkau melihat pada apa yang engkau miliki—kelemahan, kefakiran, atau keterbatasan. Lihatlah apa yang ada di sisi Allah.
Sebab jika Allah telah memilihmu, maka tidak ada yang dapat menghalangi kemuliaan itu.

Dika Wahyudi 
Karawang, 24 April 2026

"Shalat"

Imam Ibnul Qayyim (rahimahullah) mengingatkan: 

"Shalat itu: (01) mendatangkan rezeki, (02) menjaga kesehatan, (03) menolak gangguan, (04) mengusir penyakit, (05) menguatkan hati, (06) mencerahkan wajah, (07) menggembirakan jiwa, (08) menghilangkan kemalasan, (09) membangkitkan semangat anggota badan, (10) menambah kekuatan, (11) melapangkan dada, (12) memberi nutrisi bagi ruh, (13) menerangi hati, (14) memelihara nikmat, (15) menolak bala bencana, (16) mendatangkan keberkahan, (17) menjauhkan dari setan, dan (18) mendekatkan kepada ar-Rahman.” 

[Ref.: Zad al-Ma'ad, vol. 4, hlm. 304.] 

☆☆☆  

قال الإمام ابن القيم: 

الصَّلَاةُ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ، حَافِظَةٌ لِلصِّحَّةِ، دَافِعَةٌ لِلْأَذَى، مَطْرَدَةٌ لِلْأَدْوَاءِ، مُقَوِّيَةٌ لِلْقَلْبِ، مُبَيِّضَةٌ لِلْوَجْهِ، مُفْرِحَةٌ لِلنَّفْسِ، مُذْهِبَةٌ لِلْكَسَلِ، مُنَشِّطَةٌ لِلْجَوَارِحِ، مُمِدَّةٌ لِلْقُوَى، شَارِحَةٌ لِلصَّدْرِ مُغَذِّيَةٌ لِلرُّوحِ، مُنَوِّرَةٌ لِلْقَلْبِ، حَافِظَةٌ لِلنِّعْمَةِ، دَافِعَةٌ لِلنِّقْمَةِ، جَالِبَةٌ لِلْبَرَكَةِ، مُبْعِدَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، مُقَرِّبَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ
ustadz adni kurniawan

TADABBUR AYAT

📖 TADABBUR AYAT
____________________

Allah تعالى berfirman :
قد أفلح من زكاها
وقد خاب من دساها
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya."

Penjelasan Kata:
□ Zakkāhā (زكاها): Menyucikan dan mengembangkannya dengan ketaatan.

□ Khāba (خاب): Merugi/gagal.
Dassāhā (دساها): Mengubur/menyembunyikan jiwanya, dan mengotorinya dengan kemaksiatan.

_________
 📚 Tafsir Surat Asy- Syamsy
ust nurcholis 

makruhnya bersedekap di atas dada

Dengan bershalawat, rasa cinta menjadi kuat.

Dengan bershalawat, rasa cinta menjadi kuat.

======

Ibnu al-Qayyim رحمه الله berkata:
"Bershalawat kepada Nabi ﷺ membuat cinta kepada beliau tetap hidup, semakin kuat, dan terus bertambah. 

Karena semakin sering seseorang mengingat orang yang dia cintai, menghadirkannya dalam hati, serta mengingat kebaikan² dan sifat²nya, maka cintanya akan semakin besar, rindunya semakin kuat, hingga memenuhi seluruh hatinya". [Jala'ul Afham: 525]

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau.
ustadz Dr musyaffa ad dariny Ma

Pria yang duduk di sampingku semalam adalah seorang syaikh yang LUAR BIASA

Pria yang duduk di sampingku semalam adalah seorang syaikh yang LUAR BIASA.

Umurnya tak kurang dari 50-an tahun. Kerut di wajahnya belum lagi banyak.janggut putih yang disemir dengan warna merah menghiasi wajah teduhnya.

Tampilannya begitu bersahaja,hanya jubah putih yang polos dan selembar kain putih yang menjadi mahkotanya. HP pegangannya hanya N 73 jadul yang sudah gores dan lecet di sana-sininya.

Seperti rutinitas biasanya, beliau begitu antusias untuk selalu hadir di majlis Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad,Ulama Ahli Hadits senior di Madinah,dalam kajian kitab 'Shahih Muslim' seusai shalat maghrib di Masjid Nabawi.

Dalam hati saya bergumam, "Seseorang seperti beliau selalu menyempatkan dirinya di majlis ilmu seperti ini ?! kiranya malaikat manakah yang menjadi pendampingnya ?!".

Tangan kirinya memegang kitab,sedang yang kanannya dengan cekat menulis setiap faidah dan pelajaran yang sedang ia simak.Begitu khusyuk.Pemandangan yang tak pernah saya lihat di nusantara kita,Indonesia.

Sebenarnya ada satu hal yang ingin saya utarakan kepada beliau selepas Isya nanti.Namun,saya sempat ragu,dan pastinya kalian pun akan sama ragunya dengan saya kalau tahu siapa beliau ini.
Beliau adalah Syaikh Yusuf Abu Muhammad.

-Seorang Milyarder besar negeri ini,Saudi Arabia.

-Pemilik hotel-hotel berbintang 5 di Mekkah dan kota lainnya.

-Pemilik puluhan sekolah dan lembaga-lembaga tahfidzul qur'an di seluruh Saudi.

-Pemilik belasan pabrik emas,perak,barang tambang,plastik,dan lainnya.

-Membangun puluhan mesjid di Saudi maupun luar negeri.

-Membangun fasilitas apartemen dan asrama GRATIS yang ia sediakan untuk para penuntut ilmu.

-Membangun dapur umum di Riyadh,Mekkah,Madinah,yang selalu menyediakan makan malam ataupun siang secara GRATIS kepada ribuan jama'ah haji dan umroh.

-Membagi-bagikan uang kepada jama'ah umroh sekitar Masjidil Haram pada hari jum'at tidak kurang dari ratusan juta rupiah.

- Dan proyek-proyek lain yang pasti beliau sembunyikan dari khalayak..

Ya ! itulah beliau..

Seorang milyarder yang tidak kurang penghasilannya dari 15 Milyar/hari ! per-ha-ri.Ya ! perhari,bukan perbulan..

itulah sosok LUAR BIASA yang sempat membuatku ragu untuk maju.

Setelah kutunggu beliau menyelesaikan shalat sunnahnya, dengan bismillah bermodal nekat akhirnya kuberanikan diri untuk langsung menyapanya.

Beliau begitu rendah hati,salamku dijawab tak kalah hangatnya,dan saat kuangkat wajahku untuk mencium kepalanya,beliau menolak.
"Aku bukan siapa-siapa",bahasa tubuhnya menjelaskan.

Orang-orang kaya di negeri ini sudah sering saya jumpai.
Namun yang seperti beliau,ini pertama kalinya.

Pertama kalinya saya melihat seorang milyarder dan bisnisman kelas atas begitu menghinakan dirinya dihadapan ilmu dan para Ulama.

Pertama kalinya saya melihat seseorang seperti beliau menghidangkan makan malam untuk jama'ah umroh yang entah berantah dari planet mana dengan tangannya sendiri.
Pertama kalinya saya menyaksikan orang seperti beliau mau mengingatkan orang agar tidak sibuk dengan berfoto-foto ria di masjid nabawi dan sekitarnya.

Pertama kalinya saya melihat orang seperti beliau memiliki anak-anak yang tak bermobil butut terlebih yang berpintu dua,padahal amat sangat mampu.

Pertama kalinya saya melihat orang sekelas beliau memberikan nasehat-nasehat dan petuah emas tentang akhirat kepada semua tamu undangannya.

Pertama kalinya saya melihat orang sekelas beliau hanya bersenjatakan hape jadul N 73 yang usang dan butut.

Pertama kalinya saya bertemu dengan orang sekelas beliau yang mau mendengar celotehan saya yang tak dikenalnya ini.

Subhaanallah.Baarakallah fiihi wa maalih.

Aah...terlalu lelah menuliskan tentang beliau.

Pikiranku melambung ke langit,membawa lamunanku terbang ke angkasa,"kapankah aku bisa sepertinya ?".

Semua kekagumanku tadi belum tuntas,masih ada satu lagi :

Beliau adalah salah satu murid senior syaikh Bin baaz,rahimahullah.
yap ! Komplit sudah !

Oleh: Musa Attamimy, Mahasiswa Universitas Islam Madinah

Sumber : Postingan Ustadz Ahmad Anshori  Th 2014

SEMAKIN BANYAK FIKIH SESEORANG, MAKA SEMAKIN SEDIKIT PENGINGKARANNYA?"

"SEMAKIN BANYAK FIKIH SESEORANG, MAKA SEMAKIN SEDIKIT PENGINGKARANNYA?"

Ungkapan ini mengingatkan saya pada kisah yang pernah disampaikan langsung oleh dosen kami, Prof.Dr Adil As-Subai'i -hafidhahullah-,  saat mengajar mata kuliah hadits. -Beliau adalah dosen yang kami pandang paling multazim terhadap sunnah-sunnah Nabi-.

Suatu waktu beliau minum sambil berdiri di tempat umum, kemudian ada salah satu orang yang mengingkari beliau dan menyampaikan hadits Nabi terkait larangan minum sambil berdiri.
Lalu, dengan santun beliau menjelaskan kepada orang tadi pendapat yang lebih tepat dalam memahami hadits Nabi terkait larangan minum sambil berdiri, yang intinya larangan tersebut masuk dalam bab adab, tidak sampai derajat haram. Karena di dalam kasus lain, Nabi dan para sahabat juga pernah minum sambil berdiri. -Selesai kisah-

Dari sini kami paham, bahwa semakin seorang belajar fikih, dan mengetahui khilaf para ulama dan bagaimana metode mereka berdalil, niscaya akan semakin sedikit pengingkarannya kepada orang lain yang berbeda dengannya.

Namun, tidak berarti kita tidak boleh menyampaikan pendapat yang diyakini beserta dalil-dalil, dalam rangka diskusi ilmiah dan memperluas wawasan keilmuan.
Ustadz fandy abu syarifah