#FaidahMalam
*Kitab_AlKasykuul*
Karya:
Syaikh Prof. Dr. Muhammad bin 'Umar Bazmul, salah seorang ulama dan guru besar ilmu hadits terkemuka di Makkah.
*Al-Kasykul*
(Bunga Rampai)
Untaian Faedah Ilmiah dan Adab-Adab Syar'i
Hal 7
*SIAPAKAH WANITA SALAFIYAH?*
الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ السَّلَفِيَّةُ
Wanita Salihah yang Bermanhaj Salaf (Salafiyah)
الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ السَّلَفِيَّةُ: لَيْسَ شَرْطًا فِيهَا أَنْ تَعْرِفَ الْجَمَاعَاتِ وَالْأَحْزَابَ، وَلَا يُشْتَرَطُ فِيهَا أَنْ تُكَرِّرَ كَلَامَ عُلَمَاءِ السَّلَفِ وَعِبَارَاتِهِمْ، وَلَا يَلْزَمُ أَنْ تَعْرِفَ جَرْحَ فُلَانٍ وَفُلَانٍ، وَلَا يُشْتَرَطُ فِيهَا أَنْ تَعْرِفَ الْمَشَايِخَ السَّلَفِيِّينَ، وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ تَعْلَمَ مَا يَدُورُ عَلَى السَّاحَةِ، وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ تَصُومَ الْأَيَّامَ الْبِيضَ وَكُلَّ اثْنَيْنِ وَخَمِيسٍ، وَلَا أَنْ تَقُومَ اللَّيْلَ يَوْمِيًّا.
Wanita salihah yang bermanhaj salaf (Salafiyah):
Bukanlah suatu syarat pada dirinya untuk mengetahui seluk-beluk berbagai kelompok dan golongan (firqah/hizb), tidak disyaratkan pula ia harus selalu mengulang-ulang perkataan ulama salaf beserta istilah-istilah mereka, dan tidak harus mengetahui jarh (celaan/kritikan ilmiah) terhadap si Fulan dan si Fulan.
Tidak disyaratkan pula ia harus mengenal seluruh masyayikh salafiyyin, tidak disyaratkan harus mengetahui berbagai polemik yang sedang hangat terjadi di medan dakwah, serta tidak disyaratkan ia harus selalu berpuasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 bulan Hijriah) dan setiap hari Senin-Kamis, atau harus melaksanakan salat malam (qiyamullail) setiap hari.
يَكْفِي أَنْ تَكُونَ مُحَافِظَةً عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَأَنْ تَحْفَظَ نَفْسَهَا، وَزَوْجَهَا، وَتَعْتَنِيَ بِبَيْتِهَا، وَبِوَلَدِهَا، وَأَنْ يَكُونَ بَيْتُهَا مَمْلَكَتَهَا، وَزَوْجُهَا أَمِيرَهَا، وَأَوْلَادُهَا رَعِيَّتَهَا.
Cukuplah ia menjadi wanita yang senantiasa menjaga salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kehormatan dirinya dan suaminya, mengurus rumah tangga serta anak-anaknya dengan baik, dan menjadikan rumahnya sebagai kerajaannya, suaminya sebagai pemimpinnya (amir-nya), serta anak-anaknya sebagai rakyat (amanah yang dipimpin dan diasuh) olehnya.
لَمْ يَذْكُرِ الرَّسُولُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ: حَنُونَةً عَلَى وَلَدِهَا، تَحْفَظُ زَوْجَهَا فِي ذَاتِهِ وَمَالِهِ، مَعَ قِيَامِهَا بِحَقِّ رَبِّهَا!
Rasulullah ﷺ tidaklah menyebutkan (kriteria utama kemuliaan wanita) melainkan bahwa ia adalah wanita yang: penuh kasih sayang terhadap anaknya, menjaga kehormatan suaminya baik pada dirinya maupun hartanya, disertai dengan menunaikan hak-hak Rabbnya!
الْمُبَالَغَةُ تَنَطُّعٌ وَتَجَاوُزٌ لِلْحَدِّ، مَاذَا تُرِيدُونَ مِنْ بَنَاتِ الْمُسْلِمِينَ أَنْ يَكُنَّ؟!
Sikap berlebih-lebihan (mubalaghah) adalah bentuk tanatthu' (sikap ekstrem/memberat-beratkan diri) dan melampaui batas. Lantas, kalian ingin putri-putri kaum muslimin menjadi seperti apa lagi?!
Tambahan DASAR Rujukan:
🔹*DASAR Paragraf 2*
("Menjaga salat lima waktu, puasa Ramadan, menjaga kehormatan..."):
Merujuk pada hadis Abdurrahman bin 'Auf رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ»
(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya no. 1661, Ibnu Hibban no. 4163, dan dinilai sahih/hasan oleh para ulama hadis).
🔹DASAR Paragraf 2 ("Rumahnya sebagai kerajaannya, anak-anaknya sebagai rakyatnya..."):
Merujuk pada hadis Abdullah bin Umar رضي الله عنهما tentang kepemimpinan dan tanggung jawab:
«وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا»
"Dan seorang wanita (istri) adalah pemimpin (penanggung jawab/pengurus) di dalam rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya (urusannya)."
(HR. Al-Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829, dari sahabat Abdullah bin 'Umar رضي الله عنهما).
🔹DASAR Paragraf 3 ("Penuh kasih sayang terhadap anaknya, menjaga suaminya pada diri dan hartanya..."):
Merujuk pada hadis Abu Hurairah رضي الله عنه tentang keutamaan wanita Quraisy:
«أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ»
"(Mereka adalah wanita) yang paling penuh kasih sayang terhadap anak di masa kecilnya, dan paling menjaga (amanah) terhadap suami pada apa yang dimiliki oleh suaminya (harta dan kehormatannya)."
(HR. Al-Bukhari no. 5082 dan Muslim no. 2527, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه).
🔹DASAR Paragraf 4 (Larangan Tanatthu'):
Merujuk pada hadis Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ bersabda tiga kali:
«هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ»
(Binasa orang-orang yang berlebih-lebihan/melampaui batas).
(HR. Muslim no. 2670).
🔹DASAR Paragraf 5 ("Barang siapa yang mati agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi..."):
Merujuk pada hadis Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه ketika Nabi ﷺ ditanya tentang orang yang berperang karena keberanian, fanatisme golongan, atau riya, manakah yang di jalan Allah? Beliau menjawab:
«مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ»
(HR. Al-Bukhari no. 2810 dan Muslim no. 1904).
≈============
*Fawaid Ilmiah* (Pelajaran & Faedah Penting)
=============
Faedah dari Bagian Pertama (Kriteria Wanita Salihah & Salafiyah):
1. Membedakan antara Kewajiban Pokok (Ushul/Fardhu 'Ain) dan Pelengkap (Fardhu Kifayah/Mustahab): Kesalihan seorang muslimah dan kelurusannya di atas manhaj Salaf diukur dari kemurnian tauhidnya, ketaatannya pada rukun Islam (salat 5 waktu, puasa Ramadan), dan pelaksanaan kewajiban domestiknya sebagai istri dan ibu. Adapun menguasai ilmu Jarh wa Ta'dil secara mendalam atau mengikuti isu polemik dakwah bukanlah syarat sah kesalihan seorang wanita.
2. Proporsional dalam Menuntut Kriteria Calon Istri: Nasehat tegas bagi para pemuda penuntut ilmu agar tidak bersikap tanatthu' (kaku dan mempersulit diri) saat mencari pasangan hidup dengan menetapkan standar yang melampaui apa yang digariskan oleh Rasulullah ﷺ.
3. Kemuliaan Peran Domestik Wanita: Islam mengangkat derajat rumah tangga sebagai "kerajaan" bagi seorang wanita, di mana pengabdiannya kepada suami dan pendidikan terhadap anak-anaknya bernilai ibadah agung di sisi Allah, tanpa harus merasa rendah diri jika belum mampu merutinkan seluruh ibadah sunnah setiap hari karena kesibukan mengurus rumah dan anak.
4. Anjuran Ibadah Sunnah Sesuai Kemampuan: Penyebutan bahwa puasa sunnah dan qiyamullail "bukan syarat" bukan berarti meremehkan ibadah sunnah, melainkan menempatkannya sesuai porsi: seorang istri yang sibuk melayani suami dan mengasuh anak hingga kelelahan tetap mendapatkan pahala besar meskipun hanya mencukupkan diri dengan ibadah wajib.
Faedah dari Bagian Kedua (Kemurnian Niat di Jalan Allah):
=============
*Puisi Malamku*
Malam mengintai menyeruak sepi,
Raungan syahdu merindu sendiri,
Hanya ditemani secangkir kopi,
Meretas asa menuliskan mimpi.
Di atas lamunan yang kian membuncah,
Pikiran yang onar enggan menyerah,
Menyibak khayal di balik gelisah,
Kapan kiranya nyata menjadi indah.
Semoga Allah beri kemuliaan,
Dengan waktu penuh keberkahan,
Menghapus habis kesia-siaan,
Menuntun langkah jalan kebaikan.
Semoga Bermanfaat
☕Zaki Rakhmawan Abu Usaid