Senin, 13 April 2026

ngaji next level

Al-Lathif (اللطيف)

### **Al-Lathif (اللطيف)**
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
> *"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang **Maha Halus** lagi Maha Mengenal."* (QS. Al-An'am: 103)
#### **Makna Al-Lathif bagi Allah**
Nama-Nya **Al-Lathif** mengandung makna bahwa ilmu-Nya meliputi segala sesuatu yang sangat kecil/halus, serta cara-Nya menyampaikan rahmat dengan jalan yang tersembunyi (tidak disangka-sangka).
**Al-Lathif** adalah:
 * Dzat yang ilmu-Nya meliputi segala rahasia dan hal yang tersembunyi.
 * Dzat yang mengetahui perkara-perkara batin dan urusan yang sangat detail.
 * Dzat yang Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, yang menyampaikan kemaslahatan kepada mereka dengan kelembutan dan kebaikan-Nya melalui jalan yang tidak mereka sadari.
 * Maka, Al-Lathif bermakna *Al-Khabir* (Maha Mengenal/Waspada) dan juga bermakna *Ar-Ra'uf* (Maha Santun/Penyayang).
#### **Beberapa Bentuk Kelembutan Allah (Luthfullah)**
Kelembutan yang diminta oleh para hamba melalui lisan (doa) maupun keadaan diri mereka adalah bagian dari rahmat. Bahkan, itu adalah **rahmat yang khusus**. Rahmat yang sampai kepada seorang hamba dari arah yang tidak ia sadari atau melalui sebab yang tidak ia ketahui, itulah yang disebut dengan **Luthf** (Kelembutan).
Beberapa pengaruh dari nama Allah Al-Lathif antara lain:
 1. **Pengaturan Rezeki sesuai Kemaslahatan:**
   Termasuk kelembutan-Nya adalah Dia menakar rezeki hamba-Nya berdasarkan ilmu-Nya tentang apa yang maslahat (baik) bagi mereka, bukan berdasarkan keinginan mereka. Terkadang hamba menginginkan sesuatu, padahal yang lain lebih baik baginya. Maka Allah menakdirkan yang terbaik baginya meskipun hamba tersebut membencinya, sebagai bentuk kelembutan, bakti, dan kebaikan-Nya.
 2. **Ujian sebagai Jalan Menuju Kesempurnaan:**
   Termasuk kelembutan-Nya adalah Dia menakdirkan berbagai musibah, cobaan, serta perintah dan larangan yang berat. Hal ini dilakukan sebagai bentuk rahmat dan kelembutan agar hamba tersebut meraih kesempurnaan diri dan kesempurnaan nikmat-Nya.
 3. **Menghalangi Hamba dari Bahaya Duniawi:**
   Termasuk kelembutan Allah adalah ketika seorang hamba sangat menginginkan suatu urusan duniawi yang ia anggap bisa mewujudkan tujuannya, namun Allah tahu bahwa hal itu justru akan membahayakan dan menghalanginya dari apa yang bermanfaat bagi agamanya. Maka Allah menghalangi hamba tersebut dari urusan itu. Sang hamba mungkin merasa benci/sedih, padahal ia tidak tahu bahwa Tuhannya sedang bersikap lembut kepadanya dengan menjaga hal yang bermanfaat dan menjauhkannya dari yang berbahaya. Oleh karena itu, ridha terhadap takdir dalam kondisi seperti ini merupakan kedudukan iman yang paling tinggi.
 4. **Melindungi Hamba yang Lemah:**
   Termasuk kelembutan Allah kepada hamba-Nya yang beriman lagi lemah adalah dengan menjauhkannya dari sebab-sebab fitnah (ujian) yang dapat melemahkan imannya dan mengurangi keyakinannya.

### **Ringkasan Asma’ul Husna**
 * Di antara kelembutan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah: Dia menjadikan kemaksiatan yang menimpa hamba sebagai sebab untuk mendapatkan rahmat-Nya. Maka Allah membukakan baginya pintu taubat, ketundukan, dan permohonan kepada Tuhannya saat hal itu terjadi. Hal ini juga menghapus perasaan bangga diri (*'ujub*) dan kesombongan dari hatinya, yang mana itu jauh lebih baik baginya daripada melakukan banyak ketaatan (namun disertai rasa sombong).
 * Di antara kelembutan-Nya kepada hamba yang dicintai-Nya adalah: Jika jiwa sang hamba cenderung pada syahwat nafsu yang membahayakan dan terus-menerus mengikutinya, maka Allah akan menyulitkan dan mengeruhkan (urusan duniawi tersebut) baginya. Sang hamba tidak akan mendapatkan kenikmatan tersebut kecuali disertai dengan kekeruhan dan kepedihan; hal ini agar dia tidak condong sepenuhnya kepada syahwat tersebut (Lihat: *Al-Mazahib ar-Rabbaniyah min al-Ayat al-Qur’aniyah* hal. 71-76).
### **Dampak Beriman kepada Nama yang Mulia Ini (Al-Latif)**
 * **Mencintai Allah dan merasa tenang dengan-Nya**, karena Dia bersikap lembut kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, berbuat baik, serta menyayangi mereka. Dia tidak menyegerakan hukuman bagi mereka, dan mendatangkan kebaikan kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka, bahkan terkadang Dia mendatangkan kebaikan dari arah yang mereka benci. Rasa cinta ini membuahkan kedekatan kepada Allah dengan berbagai macam ibadah, rasa malu (*haya'*), dan pengagungan kepada-Nya, sehingga hamba tidak akan melanggar larangan-Nya. Cinta ini juga mendorong hamba untuk berdakwah di jalan-Nya, berjihad, serta mengorbankan jiwa dan harta demi ridha-Nya.
 * **Ketenangan dan kedamaian** yang Allah tuangkan ke dalam hati orang yang beriman.
 * **Benarnya tawakal kepada Allah dan ridha** atas apa yang Allah pilihkan baginya, serta memperbanyak doa *Istikharah*. Dengan doa tersebut, hamba menyerahkan segala urusannya kepada Tuhannya agar Dia memilihkan apa yang terbaik baginya di dunia dan akhirat.
 * **Sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’ala tidak luput dari ilmu-Nya sedikit pun**, walau pun sekecil dan sehalus apa pun; karena Dia adalah *Al-Latif* (Maha Halus/Lembut) lagi *Al-Khabir* (Maha Mengetahui secara mendalam).
 * Jika seorang hamba mengetahui bahwa Tuhannya bersifat dengan ketelitian ilmu serta meliputi segala sesuatu yang kecil maupun besar, maka dia akan **menghisab dirinya sendiri** atas segala ucapan, perbuatan, gerak, dan diamnya. Dia menyadari bahwa setiap saat dia berada di hadapan Sang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. Sebagaimana firman-Nya: *"Apakah (Allah) yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Maha Lembut lagi Maha Mengetahui."* [Al-Mulk: 14].
 * Karena di antara makna *Al-Latif* adalah kebaikan, kelembutan, dan ihsan, maka di antara buah yang dihasilkan dalam hati orang beriman adalah **berakhlak dengan akhlak yang agung ini**. Ia menjadi orang yang lembut kepada hamba-hamba Allah, berbuat baik dan bakti kepada mereka; mencintai kebaikan bagi mereka, melakukannya untuk mereka, serta membenci keburukan menimpa mereka dan berusaha menjauhkan mereka darinya.
**Halaman 43**



Minggu, 12 April 2026

mukhtashor kitab wa lilahil Asmaul husna bab al wadud

salah satu Nama Indah Allah (Asmaul Husna), yaitu **Al-Wadud** (Maha Pecinta/Maha Pengasih). Berikut adalah terjemahan lengkapnya ke dalam bahasa Indonesia:
### **Bab Kedua: Al-Wadud (الودود)**
 * **Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:** *"Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sungguh, Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pengasih (Al-Wadud)."* (QS. Hud: 90).
#### **Makna Al-Wadud bagi Allah Azza wa Jalla**
Nama **Al-Wadud** memiliki dua makna:
 1. **Pertama:** Bermakna subjek (pelaku), yaitu Dialah yang mencintai para Nabi-Nya, Rasul-Nya, para wali-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang beriman.
 2. **Kedua:** Bermakna objek (yang dicintai), yaitu Zat yang dicintai, yang berhak untuk dicintai dengan seluruh kecintaan; di mana hamba lebih mencintai Allah melebihi pendengaran, penglihatan, dan segala hal yang ia cintai lainnya.
#### **Pengaruh Beriman kepada Nama yang Mulia Ini**
 * **Pertama:** Mencintai Allah Azza wa Jalla dengan cinta yang tulus yang membuahkan keikhlasan dalam beribadah hanya kepada-Nya, serta mendahulukan apa yang Dia cintai di atas segala sesuatu selain-Nya. Hal ini juga mengharuskan kita mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci-Nya; inilah hakikat dari *Al-Wala' wal Bara'* (loyalitas dan berlepas diri).
 * **Kedua:** Memiliki kekuatan dalam berharap (*raja'*) hanya kepada Allah semata, berprasangka baik kepada-Nya, serta tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
 * **Ketiga:** Merasa tenang dengan mengingat-Nya, merasa tentram kepada-Nya, tunduk merendah diri di hadapan-Nya, serta merasakan manisnya bermunajat kepada-Nya.
 * **Keempat:** Merasa gembira dan bahagia atas petunjuk untuk mengikuti jalan *Salafush Shalih* (generasi terdahulu yang saleh), yaitu mereka yang menetapkan apa yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya ﷺ dari Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk (*tasybih*), tanpa meniadakan sifat-Nya (*ta'thil*), dan tanpa menanyakan "bagaimana" hakikatnya (*takyif*). Termasuk di antaranya adalah menetapkan sifat cinta bagi Allah Ta'ala dan beriman bahwa Dia dicintai dan mencintai. Inilah makna dari *Al-Wadud*. Segala dampak dan kondisi keimanan yang muncul dari hal ini menuntut kita untuk bersyukur kepada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk yang diharamkan bagi ahli bid'ah ini.
 * **Kelima:** Mengikuti Rasulullah ﷺ dalam perintah dan larangan beliau serta seluruh sunnahnya; karena hal tersebut merupakan tanda kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya, sebagaimana itu juga merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.

Syaikh Dr. Sulaiman ar-Ruhaili

Syaikh Dr. Sulaiman ar-Ruhaili:
Menaruh mushaf di lantai hukumnya boleh, bukan termasuk penghinaan terhadap Al-Qur'an. Namun jika di depan orang-orang, yang paling baik jangan dilakukan.
Menaruh mushaf di paha hukumnya boleh, bukan termasuk penghinaan terhadap Al-Qur'an. Namun jika di depan orang-orang, yang paling baik jangan dilakukan.
Lebih utama fashl shalat witir (dua rakaat - satu rakaat). Namun jika anda shalat di tengah kaum yang menyukai washl shalat witir (tiga rakaat langsung) maka lebih utama washl. 

Semua itu dilakukan dalam rangka menjaga syiar di tengah masyarakat, mengusahakan yang lebih maslahah dan mempersatukan hati manusia.

https://www.youtube.com/watch?v=glfp0B-Q1fc
https://www.facebook.com/share/1GLcd9ZoaL/
Fawaid Kangaswad | Umroh Titanium: bit.ly/fawaid-umroh

Termasuk tipu daya setan:

Termasuk tipu daya setan:
• Membuatmu merasa membaca Al-Qur’an tidak penting kalau belum bisa mentadabburinya.
• Membuatmu merasa berdzikir tidak penting kalau hati belum benar-benar khusyuk.
• Membuatmu merasa doa tidak berarti kecuali saat hati sangat khusyu’ dan merendah.

Padahal Nabi ﷺ memuji orang yang lisannya selalu basah dengan dzikir, dan tidak mensyaratkan harus sempurna kondisi hatinya.

Maka tetaplah beramal dengan anggota badanmu (membaca, berdzikir, berdoa), sampai Allah memudahkan hatimu ikut hadir dan tersambung.

Jangan menunggu hati siap baru beramal, karena hati justru akan hidup setelah ada usaha dan latihan, kecuali jika Allah menghendaki.
[Ibnul Jauzi]

‏من تلبيس إبليس:
‏-إقناعك بأنّ قراءتك لكتاب الله غير مهمّة دون تدبّره.
‏-إقناعك بأنّ ذكرك لله غير مهمّ دون قوة حضوره في قلبك.
‏-إقناعك بأنّ الدعاء لا يهمّ إلّا بأحسن أحوال القلب من جهة الخضوع والتضرّع.

‏أثنى ﷺ على من كان ((لسانه)) رطبا بذكر الله، ولم يعلّق الثناء بحال قلبه.

‏جاهد بجوارحك حتى ييسر الله اتصال قلبك بها، ولا تنتظر اتصاله حتّى تعمل بها.. لن يتّصل دون مجاهدة سابقة منك -إلّا أن يشاء الله-.
Ust nurhadi nugroho

video Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili


https://youtu.be/UL-UIf9j2Z4?si=Ln6YqozPoMD-1p_S

 isi video Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili tersebut ke dalam bahasa Indonesia:

​"Demi Allah yang tidak ada sembahan yang haq selain Dia, dan kita saat ini berada di Masjidil Haram, aku tidak mengetahui satu pun dari kalangan Ahlussunnah—aku tidak sedang berbicara tentang seorang ulama saja, tapi satu orang pun dari Ahlussunnah—yang mengatakan bahwa pemimpin itu ditaati dalam segala hal, sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang yang menyimpang saat ini demi membuat orang lain lari dari prinsip mendengar dan taat kepada pemimpin kaum Muslimin.

​Mereka berkata: 'Orang-orang Salafi ini, orang-orang Madkhali, orang-orang Jammi, orang-orang Wahabi ini mewajibkan mendengar dan taat kepada pemimpin dalam segala hal.'

​Demi Allah yang tidak ada sembahan yang haq selain Dia, tidak ada satu pun laki-laki atau perempuan yang menisbatkan diri kepada Sunnah yang mengatakan bahwa pemimpin Muslim itu ditaati dalam segala hal. Semua (ulama) telah bersepakat bahwa pemimpin tidak boleh ditaati dalam kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

​Bagaimana mungkin tidak demikian, sedangkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.' Ini adalah kaidah. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani.

​'Tidak ada ketaatan'—kata ketaatan di sini berbentuk nakirah (umum) dalam konteks penafian—artinya tidak ada ketaatan kepada makhluk siapa pun itu; baik suami, penguasa, atau siapa pun. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.

​Jika seorang suami berkata kepada istrinya: 'Lepas cadarmu, aku suamimu dan aku memerintahkanmu,' sementara sang istri meyakini bahwa cadar itu wajib, maka tidak halal baginya untuk menaati suaminya. Jika seorang penguasa memerintahkan kemaksiatan kepada Allah, maka tidak halal bagi siapa pun untuk menaatinya dalam hal (maksiat) tersebut, namun ketaatan dalam hal lainnya tetap berlaku. Maka janganlah melepaskan tangan dari ketaatan (secara total).

​Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Wajib bagi setiap individu Muslim'—perhatikanlah ini wahai saudara-saudaraku, ini menunjukkan bahwa sifat seorang Muslim adalah demikian, ini adalah sifat yang melekat dan kewajiban baginya—'untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin) dalam hal yang ia sukai maupun yang ia benci, kecuali jika ia diperintahkan untuk melakukan kemaksiatan. Jika diperintahkan maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan tidak ada ketaatan.'"


Demi Allah, tidak ada satu pun ulama Ahlussunnah yang mengatakan wajib menaati ulil amri dalam segala hal. Sebagaimana tuduhan orang-orang menyimpang di zaman ini terhadap Ahlussunnah. Dalam rangka untuk membuat orang-orang dari ketaatan kepada ulil amri.

Syaikh Dr. Sulaiman ar-Ruhaili:

Demi Allah, tidak ada satu pun ulama Ahlussunnah yang mengatakan wajib menaati ulil amri dalam segala hal. Sebagaimana tuduhan orang-orang menyimpang di zaman ini terhadap Ahlussunnah. Dalam rangka untuk membuat orang-orang dari ketaatan kepada ulil amri. 

Orang-orang menyimpang mengatakan: "Mereka Salafiyun, mereka Madakhilah, mereka Jamiyah, mereka Wahabi, mewajibkan taat kepada ulil amri dalam segala hal". 

Demi Allah, tidak ada seorang pun dari Ahlussunnah yang mengatakan wajib menaati ulil amri dalam segala hal. Semua Ahlussunnah sepakat bahwa ulil amri tidak boleh ditaati dalam perkara maksiat. Karena Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq" (HR. Ahmad). Siapa pun makhluk itu, baik suami, hakim, siapa pun tidak boleh ditaati dalam perkara maksiat. 

Suami yang menyuruh istrinya melepas niqab, sedangkan istrinya meyakini wajibnya niqab, maka tidak boleh ia taat kepada suaminya. Namun ia tetap wajib taat pada suaminya dalam perkara yang lainnya.

Dalam hadits dari Ibnu Umar, bahwa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Wajib bagi setiap Muslim, untuk mendengar dan taat kepada ulil amri dalam perkara yang ia sukai maupun tidak ia sukai. Kecuali ketika diperintahkan untuk bermaksiat maka tidak boleh mendengar dan taat" (HR. Muslim).

https://www.youtube.com/watch?v=UL-UIf9j2Z4

Fawaid Kangaswad | Umroh Titanium: bit.ly/fawaid-umroh

https://www.facebook.com/share/1CvexE5Ff7/
Ustadz yulian purnama