Senin, 05 Oktober 2026

Untuk setiap pasangan suami istri, khususnya yang sudah berusia lanjut:

Untuk setiap pasangan suami istri, khususnya yang sudah berusia lanjut:

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam kesusahan & pertengkaran. Yang terpenting adalah mengetahui terlebih dahulu apa yang menjadi kewajibanmu, sebelum menuntut hak pasanganmu. 

Hendaknya pula engkau berdua mengingat kembali masa lalu yang indah serta mengingat pahala bagi orang-orang yang bersabar.
===
Follow Chanel telegram & instagram Syaikh Prof.Dr. Ashim Al Qaryuti hafizhahullah dalam bahasa Indonesia: @alqaryuti_id

#SyaikhAshimAlQaryuti #twitulama #nasihat  #RenunganKeluarga #suamiistri #rumahtangga

Muhammad bin Jamil Zeno Al-Halabi lalu Al-Makki



[ 47 ] Syaikh, Pengajar, dan Da'i Muhammad bin Jamil Zeno Al-Halabi lalu Al-Makki, penyusun "Majmu'ah Rasail At-Tawjihat Al-Islamiyyah". Beliau menyebarkan akidah Salaf melalui risalah yang ringkas dan ungkapan yang mudah dipahami, sehingga risalah-risalahnya tersebar ke berbagai penjuru dunia dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Beliau wafat di Makkah pada tahun 1431 H.

▪︎ Nama, Nasab, dan Kelahirannya: Beliau adalah Muhammad bin Jamil Zeno, lahir dan tumbuh besar di Aleppo (Halab), menetap dan wafat di Makkah. Beliau lahir di kota Aleppo pada tahun 1925 M menurut paspornya (bertepatan dengan tahun 1344 H). Saya belum menemukan kunyah yang pasti bagi beliau maupun asal-usul keluarganya sebelum menetap di Aleppo. Ketika berusia sekitar sepuluh tahun, beliau masuk ke sekolah swasta untuk belajar membaca dan menulis, kemudian menimba ilmu di sekolah Darul Huffazh selama lima tahun dan berhasil menghafal Al-Qur'an secara tajwid.

▪︎ Menuntut Ilmu dan Guru-Gurunya: Beliau melanjutkan pendidikan ke Al-Kulliyyah Asy-Syar'iyyah At-Tajhiziyyah di Aleppo (yang kemudian menjadi SMA Syariah). Di sana beliau mempelajari tafsir, fikih Hanafi, nahwu, sharaf, hadis beserta ilmu-ilmunya, di samping ilmu-ilmu umum, dan meraih ijazahnya pada tahun 1948 M. Beliau sempat lulus seleksi beasiswa ke Al-Azhar, namun tidak berangkat karena alasan kesehatan. Kemudian beliau masuk Darul Mu'allimin di Aleppo dan mengajar selama kurang lebih 29 tahun. Di antara guru utama yang memberikan manfaat besar bagi beliau adalah:

  • Syaikh Ahmad Al-Qallasy: Disebutkan dalam berita duka beliau bahwa Syaikh Zeno termasuk muridnya, dan beliau turut menyusun dua buku bersamanya yang dicetak di Aleppo. Namun, saya belum menemukan rincian kitab apa saja yang dipelajarinya dari beliau.
  • Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani: Beliau menjalin hubungan dengan Syaikh Al-Albani dan sangat terpengaruh oleh manhajnya. Biografi Syaikh Zeno yang dipublikasikan dalam arsipnya menganggapnya sebagai salah satu murid paling menonjol dari Syaikh Al-Albani. Hubungan baik tersebut terus berlanjut hingga Syaikh Zeno menjenguk Syaikh Al-Albani pada masa sakit terakhirnya di Amman.

▪︎ Akidah dan Pujian Para Ulama Kepadanya: Beliau tumbuh dalam lingkungan tarekat-tarekat sufi; mengambil wirid Naqsyabandiyah sewaktu kecil, lalu berpindah ke Syadziliyah, Qadiriyah, hingga Mawlawiyah, serta pernah keluar bersama Jamaah Tabligh. Awal mula petunjuk (hidayah) baginya adalah ketika beliau membaca hadis "Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah" dari kitab Al-Arba'in An-Nawawiyyah di hadapan gurunya. Beliau kagum dengan penjelasan Imam An-Nawawi mengenai istighatsah. Namun, ketika beliau berdiskusi dengan gurunya, sang guru mengatakan bahwa beliau memiliki pemikiran Wahabi. Maka beliau pun mencari tahu tentang pemikiran tersebut hingga menemukan sebuah halaqah yang diadakan setiap Kamis malam yang membahas tafsir, fikih, dan hadis. Sejak saat itu, beliau berpegang teguh pada jalan Salaf dan menjadikan dakwah tauhid sebagai fokus utamanya.

Ketika beliau datang untuk berumrah pada tahun 1399 H, Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz mengetahui kelurusan akidah Salaf beliau, sehingga menugaskannya sebagai pengajar di Masjidil Haram selama musim haji. Kemudian beliau diutus ke Yordania dan menetap di Ar-Ramtha sebagai imam, khatib, dan pengajar Al-Qur'an di Masjid Salahuddin. Beliau kembali pada bulan Ramadan tahun 1400 H dan mengajar tafsir, tauhid, serta Al-Qur'an di Darul Hadits Al-Khairiyyah di Makkah atas arahan dari Syaikh Bin Baz. Dengan demikian, beliau mendapatkan rekomendasi dari Syaikh Bin Baz sekaligus diakui oleh Syaikh Al-Albani sebagai muridnya.

▪︎ Karya Tulisnya: Karya-karyanya didominasi oleh risalah-risalah yang ringkas dan mudah dipahami. Karya-karya tersebut dihimpun dalam seri Silsilah At-Tawjihat Al-Islamiyyah hingga melebihi 20 risalah, yang mana ratusan ribu eksemplar telah dicetak dan sebagian besarnya dibagikan secara gratis. Di antaranya:

  • «مجموعة رسائل التوجيهات الإسلامية لإصلاح الفرد والمجتمع» (Majmu'ah Rasail At-Tawjihat Al-Islamiyyah li Ishlahil Fardi wal Mujtama'): Himpunan risalah-risalah beliau, dicetak oleh Dar Ash-Shumai'i di Riyadh dalam tiga jilid.
  • «كيف اهتديت إلى التوحيد والصراط المستقيم؟» (Kayfa Ihtadaytu ilat Tauhid wash Shiratil Mustaqim?): Autobiografi tulisan beliau sendiri mengenai perjalanannya keluar dari tarekat-tarekat sufi menuju tauhid.
  • «منهاج الفرقة الناجية والطائفة المنصورة» (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wat Tha'ifah Al-Manshurah): Membahas akidah dan ciri-ciri Golongan yang Selamat (Ahlus Sunnah).
  • «عقيدة كل مسلم في سؤال وجواب» ('Aqidatu Kulli Muslim fi Su'al wa Jawab): Penjelasan akidah yang disederhanakan dalam bentuk tanya-jawab.
  • «تفسير وبيان لأعظم سورة في القرآن» (Tafsir wa Bayan li A'zhami Suratin fil Qur'an): Tafsir surah Al-Fatihah.
  • «التحذير الجديد من مختصرات الصابوني في التفسير» (At-Tahdzir Al-Jadid min Mukhtasharat Ash-Shabuni fit Tafsir): Kritik terhadap ringkasan-ringkasan tafsir karya Ash-Shabuni.

▪︎ Wafatnya: Beliau wafat di Makkah pada hari Jumat, 29 Syawal tahun 1431 H (bertepatan dengan 8 Oktober 2010 M) dalam usia lebih dari 80 tahun. Jenazahnya dishalatkan di Masjidil Haram setelah shalat Isya dan dimakamkan di pemakaman Makkah. Semoga Allah merahmatinya dan mengampuninya.

Dihimpun dan disusun oleh: Faisal Al-Ali, semoga Allah mengampuninya.

Pada dasarnya, semua kaum Muslimin adalah Salafi



---

Bilal Bareer, jazakallahu khairan.



Pada dasarnya, semua kaum Muslimin adalah Salafi

Karena mereka semua meyakini wajibnya mengikuti Rasulullah ﷺ dan jalan para sahabat dalam hal itu. Inilah asalnya.

Oleh sebab itu, orang awam lebih dekat kepada Salafiyah daripada ahli bid'ah dan pengikut hawa nafsu.

Orang awam, tidaklah engkau sodorkan manhaj dan jalan ini kepadanya kecuali ia membenarkanmu dan mengikuti kebenaran, serta mengetahui bahwa inilah jalan yang lurus.

Orang awam, meskipun ia memendekkan jenggotnya, mencukurnya, atau memanjangkan pakaiannya (isbal), tetapi ia tetap berpegang pada prinsip dasar tersebut, dengan tetap ada pelanggaran yang ia lakukan. Maka ia adalah seorang Salafi yang lalai (kurang) dalam perkara-perkara ini.

Bisa jadi engkau mendapati seseorang yang memendekkan pakaiannya dan memanjangkan jenggotnya, namun ia telah keluar dari jalan yang lurus.

Adapun Rasulullah ﷺ telah menyebutkan suatu kaum yang membaca Al-Qur'an namun tidak melewati kerongkongan mereka; salah seorang di antara kalian akan meremehkan shalatnya dibandingkan shalat mereka, dan puasanya dibandingkan puasa mereka. Mereka adalah "Khawarij"

Meski begitu, beliau bersabda: "Jika aku menjumpai mereka, niscaya aku akan membunuh mereka seperti pembunuhan kaum 'Ad."

Wallahul muwaffiq (dan Allah-lah pemberi taufik).

**Muhammad Bazmul** ✍️

---


Minggu, 04 Oktober 2026

sulit diperbaiki

Pendapat madzhab pasti berdasarkan dalil, sedangkan kita pasti jauh level ilmunya di bawah imam madzhab! Jadi siapa kita, berani²nya menyelisihi pendapat madzhab?!"

Sebagian orang mengatakan:

"Pendapat madzhab pasti berdasarkan dalil, sedangkan kita pasti jauh level ilmunya di bawah imam madzhab! Jadi siapa kita, berani²nya menyelisihi pendapat madzhab?!"

=====

Sanggahan:

1. Kita menyelisihi mereka, karena menurut kita pendapat mereka menyelisihi dalil, dan kedudukan dalil lebih tinggi daripada kedudukan pendapat madzhab.

2. Kita menyelisihi mereka, karena ada pendapat madzhab lain yg kita lihat lebih dekat kepada dalil.

Sehingga sebenarnya pertentangan bukan antara pendapat kita dg pendapat madzhab, tapi antara pendapat mereka dg pendapat madzhab lain yg selevel dan lebih dekat kepada dalil.

3. Seandainya kita benarkan alasan mereka di atas, maka akan banyak hal² yg bertentangan dg dalil menurut kita tapi harus kita terima, seperti:

a. Menikah tanpa wali, kita benarkan dan sah, karena ulama² hanafiyah mengatakan seperti itu .. dan level ilmu kita jauh di bawah mereka.

b. Melafalkan niat shalat, wudhu, puasa, tawaf, dan ibadah lainnya dianjurkan, karena ulama² syafiiyah mengatakan seperti itu .. dan level ilmu kita jauh di bawah mereka.

c. Kita boleh "istighatsah bil amwat" (meminta kepada mayit), karena banyak ulama madzhab membolehkannya .. dan level ilmu kita jauh di bawah mereka.

d. Akidah Asy'ariyyah tidak ada masalah, karena banyak ulama madzhab akidahnya demikian .. dan level ilmu kita jauh di bawah mereka.

e. Kita boleh memberontak kepada pemimpin yg zalim, karena sebagian ulama madzhab membolehkannya .. dan level ilmu kita jauh di bawah mereka.

f. Ketika sujud sahwi disunnahkan membaca سبحان من لا ينام ولا يسهو .. karena begitulah pendapat dalam madzhab Syafii .. dan level ilmu kita jauh di bawah mereka.

g. Kita dianjurkan mentalqin mayit setelah dikuburkan, karena begitulah pendapat dlm madzhab syafii .. dan level ilmu kita jauh di bawah mereka.

Dan silahkan diteruskan sendiri dengan menyebutkan masalah² yg lain yg menyelisihi dalil menurut kita, dan itu tidak sedikit.

Tentu tidak benar jika kita harus mengikuti pendapat madzhab yg menurut kita tidak sesuai dalil, meskipun ilmu kita tidak selevel dengan mereka .. karena kewajiban kita adalah mengikuti dalil sesuai pemahaman kita, bukan mengikuti pemahaman mereka.

Intinya: menjunjung tinggi dalil dan pemahaman salaf -rahimahumullah- harus tetap kita kedepankan saat kita belajar fikih.

Wallahu a'lam.

Silakan dishare .. Semoga bermanfaat dan Allah berkahi.
https://www.facebook.com/share/p/1E1wavcwFi/

Sabtu, 03 Oktober 2026

Beberapa murid Syaikh Al-Albani yang paling terkenal :

Beberapa murid Syaikh Al-Albani yang paling terkenal :

Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkhali
Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'i رحمه الله
Syaikh Ali Hasan al-Halabi رحمه الله
Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali
Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman
Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini رحمه الله
Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr
Syaikh Husain bin 'Audah al-'Awayisyah
Syaikh Muhammad Jamil Zainu رحمه الله
Syaikh Muhammad 'Id al-'Abbasi
Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah
Syaikh Hamdi 'Abdul Majid as-Salafi
Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir رحمه الله
Syaikh Umar Sulaiman al-Asyqar رحمه الله
Syaikh Basim Faisal al-Jawabirah

Cukuplah melihat dari murid-muridnya untuk mengetahui kealiman seorang guru.

Sekalipun ada 100 orang yang berusaha menjatuhkan beliau tidak akan berpengaruh apapun, karena yang berusaha menjatuhkan pun tidak selevel dengan muridnya.

AYAH YANG TIDAK MENCARI MENANTU KAYA

AYAH YANG TIDAK MENCARI MENANTU KAYA

Sa‘īd bin al-Musayyib رحمه الله adalah salah seorang ulama besar dari kalangan tabi‘in.

Putrinya pernah dilamar untuk putra Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwān. Namun Sa‘īd tidak memilih kemegahan istana untuk putrinya.

Suatu hari, salah seorang muridnya, Ibn Abī Wadā‘ah, beberapa hari tidak terlihat di majelisnya. Ketika kembali, Sa‘īd bertanya ke mana ia pergi.

“Istriku meninggal dunia,” jawabnya.

Sa‘īd kemudian bertanya,
“Apakah engkau sudah menikah lagi?”

Ia menjawab,
“Semoga Allah merahmatimu. Siapa yang mau menikahkan putrinya denganku, sementara aku hanya memiliki dua atau tiga dirham?”

Sa‘īd menjawab singkat:

“Aku.”

Murid itu terkejut.

Namun Sa‘īd benar-benar menikahkan putrinya dengannya dengan mahar yang sangat sederhana.

Putri seorang ulama besar, yang pernah dilamar untuk keluarga khalifah, justru dinikahkan dengan seorang penuntut ilmu yang miskin.

Setelah menikah, Ibn Abī Wadā‘ah menggambarkan istrinya:

فَإِذَا هِيَ مِنْ أَجْمَلِ النَّاسِ، وَأَحْفَظِ النَّاسِ لِكِتَابِ اللهِ، وَأَعْلَمِهِمْ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَأَعْرَفِهِمْ بِحَقِّ زَوْجٍ

“Ternyata ia termasuk wanita yang paling cantik, paling kuat hafalan Al-Qur’annya, paling memahami Sunnah Rasulullah ﷺ, dan paling mengetahui hak seorang suami.”

Beberapa waktu kemudian, ketika Ibn Abī Wadā‘ah hendak keluar rumah untuk menghadiri majelis Sa‘īd bin al-Musayyib, istrinya bertanya:

إِلَى أَيْنَ تَذْهَبُ؟

“Engkau hendak pergi ke mana?”

Ia menjawab:

إِلَى مَجْلِسِ سَعِيدٍ أَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ

“Ke majelis Sa‘īd untuk belajar ilmu.”

Sang istri lalu berkata:

اجْلِسْ، أُعَلِّمْكَ عِلْمَ سَعِيدٍ

“Duduklah. Aku akan mengajarkan kepadamu ilmu Sa‘īd.”

Betapa indahnya pilihan seorang ayah. Ia tidak mencari menantu yang paling kaya, tetapi lelaki yang baik agama dan akhlaknya; dan kepada lelaki itulah ia menitipkan seorang putri yang telah ia bekali dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan ilmu.

Sumber kisah: diriwayatkan dalam biografi Sa‘īd bin al-Musayyib, antara lain dalam Ḥilyat al-Awliyā’ karya Abū Nu‘aim dan Siyar A‘lām al-Nubalā’ karya al-Dzahabī.
https://www.facebook.com/share/1DdxwH1DqA/