Senin, 17 Agustus 2026

Di antara hak para pemimpin kaum Muslimin atas rakyatnya adalah memberikan nasihat kepada mereka secara rahasia, dengan sikap lembut dan penuh kasih, serta mendengar dan menaati mereka dalam perkara yang ma‘ruf.

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah:

Di antara hak para pemimpin kaum Muslimin atas rakyatnya adalah memberikan nasihat kepada mereka secara rahasia, dengan sikap lembut dan penuh kasih, serta mendengar dan menaati mereka dalam perkara yang ma‘ruf.

Di antara dalil tentang kewajiban memberikan nasihat kepada para pemimpin adalah sabda Nabi ﷺ:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ، قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama adalah nasihat.”
Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan seluruh kaum Muslimin.”
(HR. Muslim no. 95)

Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaṭṭa’ dari Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا، وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا، يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا، وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللهُ أَمْرَكُمْ، وَيَسْخَطُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

“Sesungguhnya Allah meridai bagi kalian tiga perkara dan membenci bagi kalian tiga perkara. Allah meridai kalian beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, berpegang teguh semuanya kepada tali Allah, dan memberikan nasihat kepada orang yang Allah berikan kepadanya tanggung jawab atas urusan kalian. Dan Allah membenci bagi kalian ‘katanya dan katanya’, menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya.”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan merupakan hadis yang sahih.

Dalam Musnad Imam Ahmad, dari Zaid bin Tsabit رضي الله عنه, disebutkan dalam sebuah hadis yang panjang:

ثَلَاثُ خِصَالٍ لَا يَغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ أَبَدًا: إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ، وَمُنَاصَحَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ، وَلُزُومُ الْجَمَاعَةِ؛ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

“Ada tiga perkara yang hati seorang Muslim tidak akan menyimpan kedengkian terhadapnya: mengikhlaskan amal karena Allah, memberikan nasihat kepada para pemimpin, dan senantiasa bersama jamaah. Sesungguhnya doa mereka meliputi orang-orang yang berada di belakang mereka.”

Ibnu al-Qayyim menjelaskan makna sabda “hati seorang Muslim tidak akan menyimpan kedengkian terhadapnya”:

أَيْ: لَا يَحْمِلُ الْغِلَّ، وَلَا يَبْقَى فِيهِ مَعَ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ؛ فَإِنَّهَا تَنْفِي الْغِلَّ وَالْغِشَّ وَفَسَادَ الْقَلْبِ وَسَخَائِمَهُ

“Maksudnya, hati tersebut tidak menyimpan kedengkian dan tidak menetap di dalamnya bersama tiga perkara tersebut. Sebab, ketiga perkara itu menghilangkan kedengkian, pengkhianatan, kerusakan hati, dan segala kotoran yang ada di dalamnya.”

Beliau kemudian menjelaskan bahwa memberikan nasihat kepada para pemimpin kaum Muslimin bertentangan dengan kedengkian dan pengkhianatan. Sebab, nasihat tidak mungkin bersatu dengan kedengkian; nasihat adalah lawannya. Siapa yang memberikan nasihat kepada para pemimpin dan umat, maka ia telah terbebas dari kedengkian.
Ustadz didik suyadi

BUTUH ILMU

BUTUH ILMU

Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkhali رحمه اللّه berkata, "Penuhi dunia ini dengan ilmu, manusia sangat butuh kepada ilmu ini (ilmu syar'i). " (adz-Dzari'ah, 3/215)

𝙽𝙰𝚂𝙴𝙷𝙰𝚃_𝚄𝙽𝚃𝚄𝙺_𝚂𝙰𝙻𝙰𝙵𝙸𝚈𝚈𝙸𝙽

#𝙽𝙰𝚂𝙴𝙷𝙰𝚃_𝚄𝙽𝚃𝚄𝙺_𝚂𝙰𝙻𝙰𝙵𝙸𝚈𝚈𝙸𝙽

𝚂𝚢𝚊𝚒𝚔𝚑 𝙿𝚛𝚘𝚏. 𝙳𝚛. 𝚂𝚞𝚕𝚊𝚒𝚖𝚊𝚗 𝙰𝚛 𝚁𝚞𝚑𝚊𝚒𝚕𝚒 𝙷𝚊𝚏𝚒𝚍𝚣𝚊𝚑𝚞𝚕𝚕𝚊𝚑 𝚋𝚎𝚛𝚔𝚊𝚝𝚊:

"Seorang Salafi yang jujur akan senantiasa mengikuti dalil syar'i ke mana pun dalil syar'i itu mengarah. Ia yakin bahwa di dalamnya terdapat keadilan, kebaikan, dan kemaslahatan.

Jika seorang Salafi ditanya tentang melakukan pemberontakan (revolusi) terhadap seorang penguasa Muslim, atau bahkan penguasa non-Muslim, sementara menurut dugaan kuat bahwa kerusakan dan mudarat akibat pemberontakan terhadapnya lebih besar daripada mudarat tetap berkuasanya, niscaya ia akan menjawab bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan.

Tapi jika pemberontak Muslim tersebut berhasil menguasai pemerintahan dan kemudian Ahlul Halli wal 'Aqdi menerimanya sebagai penguasa, maka seorang Salafi akan mengatakan: ‘Dia adalah penguasa yang sah secara syar’i. Wajib mendengar dan menaatinya dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah, serta bekerja sama dengannya dalam mewujudkan kebaikan bagi negeri dan masyarakat.’ Hal ini berdasarkan petunjuk dalil syariat maupun pertimbangan akal.

Lalu, bagaimana jika penguasa tersebut mengerahkan seluruh kemampuannya dalam memimpin rakyat, berusaha menghapus penderitaan mereka dan mewujudkan harapan-harapan mereka?

Barang siapa menganggap sikap ini sebagai sebuah kontradiksi, berarti ia telah menisbatkan kontradiksi kepada syariat. Dan barang siapa tidak ridha terhadap hal tersebut, berarti ia tidak ridha terhadap hukum Allah.
Kami berlindung kepada Allah dari hawa nafsu yang diikuti".
------------------------------------------
JazaaAllahu khairan Syaikh Dr. Sulaiman Ar Ruhaili atas penjelasan dan peringatannya kepada umat yang sedang menghadapi realita di negerinya masing-masing. 
Semoga Allah menjaga negeri kaum Muslimin dari fitnah revolusi dan keburukan-keburukan.

Jangan Takut Mengakui: Di Kalangan Kelompok Salafiyyah Pun Ada Mubtadi‘ah

Jangan Takut Mengakui: Di Kalangan Kelompok Salafiyyah Pun Ada Mubtadi‘ah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh adalah seorang ulama yang bermazhab Hanbali. Namun, afiliasi kepada suatu mazhab tidak pernah membuat beliau kehilangan sikap inshaf dalam menilai kebenaran.

Dalam Majmū‘ Al-Fatāwā, ketika membahas penyimpangan sebagian pengikut para imam dalam persoalan usul maupun furu‘, beliau dengan tegas mengatakan:

وفي الحنبلية أيضًا مبتدعة

“Di kalangan Hanbali juga terdapat ahli bidah.”

Ini bukan ucapan seorang yang sedang menyerang mazhab Hanbali. Justru ini adalah ucapan seorang Hanbali yang memahami bahwa kebenaran tidak diukur berdasarkan nama, afiliasi, atau kelompok.

Ibnu Taimiyyah rahimahullāh menjelaskan bahwa bidah terdapat pada madzhab lain, tetapi beliau juga tidak menutup mata terhadap adanya bidah di kalangan orang-orang yang berafiliasi kepada Hanbali.

Dalam Dar’ Ta‘āruḍ Al-‘Aql wa An-Naql, ketika mengkritik pendapat para mutakallimin tentang awwal al-wājib ‘alā al-mukallaf, beliau juga menyebut adanya sebagian Hanabilah yang terpengaruh oleh pemikiran tersebut. Di antaranya beliau menyebut Abu Al-Faraj Al-Maqdisi Al-Hanbali dengan kitabnya At-Tabṣhirah fī Uṣūl Ad-Dīn.

Bahkan dalam beberapa tempat, Ibnu Taimiyyah memberikan penilaian yang sangat objektif terhadap tokoh-tokoh yang tidak sepenuhnya berada dalam garis pemikirannya. Ia menyebut bahwa pendapat Abu Al-Hasan Al-Asy‘ari rahimahullāh dalam asmā` wa shifāt lebih baik dan lebih dekat kepada sunnah serta salaf daripada pendapat sebagian Hanabilah, seperti Ibnu ‘Aqīl dan Ibnu Al-Jauzi rahimahumallāh.

Perhatikan sikap ini.

Beliau tidak berkata:

“Karena dia Hanbali, mustahil dia menyimpang.”

Tidak pula berkata:

“Karena dia berada dalam barisan kami, kesalahannya harus dibela, ditakwil, atau ditutupi.”

Tidak.

Kebenaran tetap kebenaran, meskipun keluar dari orang yang berbeda dengan kita. Dan kesalahan tetap kesalahan, meskipun dilakukan oleh orang yang satu kelompok dengan kita.

Inilah inshaf.

Maka, jika seseorang mengaku mengikuti manhaj salaf, tidak ada alasan baginya untuk merasa malu mengakui bahwa di antara orang-orang yang menisbatkan diri kepada kelompok Salafiyyah pun terdapat orang-orang yang menyimpang dan mubtadi'ah. 

Kelompok Salafiyyah bukan kartu bebas kritik.

Afiliasi kepada kelompok Salafiyyah tidak menjadikan seseorang otomatis benar dalam setiap persoalan. Label anggota kelompok Salafiyyah tidak mengubah kesalahan menjadi kebenaran, sebagaimana label “Hanbali” dahulu tidak membuat Ibnu Taimiyyah rahimahullāh menutup mata terhadap adanya mubtadi‘ah di kalangan Hanabilah.

Kalau Ibnu Taimiyyah sendiri mampu mengakui adanya penyimpangan di kalangan Hanabilah--dan dahulu mereka dipandang sebagai representasi salaf, mengapa sebagian orang hari ini begitu sulit mengakui adanya penyimpangan di kalangan orang-orang yang mengaku termasuk kelompok Salafiyyah?

Ada yang memiliki kekeliruan dalam persoalan iman. Mereka memandang amal sebagai syarat kesempurnaan. 

Ada yang berlebihan dalam persoalan ketaatan kepada penguasa. Bahkan ada yang demikian ghuluw terhadap penguasa sekuler dan liberal, sampai-sampai memperlakukan mereka seakan-akan kedudukannya seperti Amirul Mukminin.

Apakah semua itu harus dibela hanya karena pelakunya mengaku bagian dari kelompok Salafiyyah?

Tentu tidak.

Yang kita bela adalah kebenaran, bukan label.

Yang kita ikuti adalah dalil, bukan fanatisme kelompok.

Dan yang kita nilai adalah perkataan dan perbuatan seseorang yang benar, bukan sekadar nama yang ia sematkan pada dirinya.

Inilah salah satu pelajaran penting dari sikap Ibnu Taimiyyah rahimahullāh: menjadi bagian dari suatu mazhab tidak berarti semua yang dinisbatkan kepadanya harus dibenarkan.

Kalau dahulu terdapat Hanbali yang menyimpang, maka apanya yang mustahil hari ini terdapat orang yang menisbatkan diri kepada kelompok Salafiyyah tapi menyimpang.

Mengakui fakta tersebut bukan berarti menyerang kelompok Salafiyyah. 

Justru itulah bentuk kejujuran terhadap manhaj salaf: tidak fanatik kepada nama, tidak membela kebatilan karena afiliasi, dan tidak takut mengatakan salah meskipun kesalahan itu dilakukan oleh orang yang berada dalam kelompok sendiri.
Ust hafid achmad

Mengingkari secara terang-terangan

📌الإنكار العلنيّ
📌Mengingkari secara terang-terangan

Syaikh Abdul-Muhsin Al-Badr berkata :
"Jika tampak perkara mungkar apakah dari ULIL-AMRI ataupun selain Ulil-amri di suatu negeri, apakah DI KORAN atau selainnya, maka yang wajib adalah mengingkari secara TERANG-TERANGAN. Hal ini adalah sebagaimana dalam Shahih Muslim dari Hadits Abu Sa'id Al-Khudri : "Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengar tangannya, barangsiapa yang tidak mampu maka dengan lisannya, barangsiapa yang tidak mampu maka dengan hatinya, maka itu selemah-lemah keimanan"

(Maqalah : Huquq-wulatil-amril-muslimin karya Syaikh Abdul-Muhsin Al-Badr). 

   Apa yang disebutkan oleh Syaikh Abdul-Muhsin ini sebenarnya dalil-dalil nya cukup banyak, di antaranya Abu Sa'id Al-Khudriy sendiri yang terang-terangan mengingkari kalam Mu'awiyah yang membolehkan mengeluarkan zakat dengan setengah sha' Samra. Di antaranya juga atsar 'Ali bin Abi Thalib ketika Utsman bin Affan رضي الله عنهما  melarang manasik kecuali hanya ifrad, maka 'Ali secara terang-terangan manasik secara tamattu' dll. Yang seperti ini bukanlah mazhab Khawarij, Wallahu a'lam.

   Maqalah lengkap nya bisa di download di link berikut :

https://share.google/ZE0m1cDwKtBGmWVjD
Ust varian ghani

Di antara akhlak buruk adalah BOSAN.

Di antara akhlak buruk adalah BOSAN.

Bosan makanan.

Bosan istri.

Bosan suami.

Bosan teman.

Bosan kendaraan.

Bosan ponsel.

Bosan pekerjaan.

Bosan nikmat apapun.

*** 
Ini akhlak Bani Israel.

Diberi al-Mannā dan al-Salwā dalam waktu lama bukannya bersyukur, tapi malah bosan dan ingin nikmat yang tidak dimiliki.

Nabi Musa menegur keras sifat seperti itu:

﴿وَإِذْ قُلْتُمْ يَامُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ذَلِكَ﴾ [البقرة: 61]

“Dan ingatlah ketika kalian berkata, ‘Wahai Musa, kami tidak tahan hanya dengan satu macam makanan. Karena itu, mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia mengeluarkan untuk kami sebagian dari apa yang ditumbuhkan bumi: sayur-mayurnya, mentimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.’ Musa berkata, ‘Apakah kalian hendak menukar sesuatu yang lebih baik dengan sesuatu yang lebih rendah? Pergilah ke suatu kota, maka di sana kalian akan memperoleh apa yang kalian minta.’ Lalu mereka ditimpa kehinaan dan kemiskinan, dan mereka kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah. Demikian itu …” (Q. al-Baqarah [2]:61)

Masalah, bala’, musibah dan kesusahan baru bisa muncul jika sifat bosen seperti itu dituruti.

Di antara doa untuk melawannya jika ada ujian tersebut begini: 

رَبِّ قَنِّعْنِيْ بِمَا رَزَقْتَنِيْ

“Ya Rabbi, buatlah aku qana’ah dengan apa yang engkau rezekikan kepadaku”
Ustadz muafa

Minggu, 16 Agustus 2026

ingkaru mungkar

Jika perbuatan tercela muncul dari pejabat negara atau bukan pejabat, baik di surat kabar maupun di tempat lain, maka wajib untuk mengecam perbuatan tercela tersebut secara terbuka sebagaimana yang telah dipublikasikan. Dalam Sahih Muslim, dari Abu Saeed Al-Khudri, semoga Allah meridainya, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian melihat sesuatu yang salah, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika ia tidak mampu melakukannya, maka dengan lidahnya; dan jika ia tidak mampu melakukannya, maka dengan hatinya, dan itulah iman yang paling lemah.”