Muhammad yanu atmadji blog
blog ini berisikan kumpulan faedah faedah ilmu yang sangat bermanfaat kepada diri saya pribadi
Minggu, 23 Agustus 2026
Beradab kepada Nabi ﷺ merupakan kewajiban keimanan dan tanda atas kebenaran/kejujuran rasa cinta.
Beradab kepada Nabi ﷺ merupakan kewajiban keimanan dan tanda atas kebenaran/kejujuran rasa cinta.
Hal ini mencakup aspek hati, lisan, dan perbuatan yang mengagungkan kedudukan beliau serta tunduk pada syariatnya.
Adab Hati meliputi:
- Pengagungan dan Rasa Cinta: Mencintai beliau lebih didahulukan daripada mencintai diri sendiri dan seluruh manusia.
- Kepatuhan Mutlak (Taslim): Menerima perintah beliau tanpa sanggahan atau mendahulukan pendapat manusia di atas sunahnya.
Adab Lisan dan Ucap meliputi:
- Merendahkan Suara: Tidak mengangkat suara melebihi suara beliau sebagai bentuk penghormatan saat mempelajari sirah maupun ketika hadis beliau disebutkan.
- Tidak Memanggil secara Langsung: Tidak memanggil beliau hanya dengan namanya saja, melainkan dengan sebutan risalah dan kenabian ("Wahai Rasulullah", "Wahai Nabi Allah").
- Mempunyai/Memperbanyak Shalawat: Setiap kali nama beliau disebutkan, hendaknya senantiasa mengucapkan shalawat dan salam kepadanya.
(Allah berfirman): "Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)." (QS. An-Nur: 63)
Barang siapa yang berbuat buruk/menghina keagungan Nabi ﷺ, maka baginya awan laknat dan kemurkaan, dan dialah orang yang terputus (terputus dari segala kebaikan).
(Allah berfirman): "Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus." (QS. Al-Kautsar: 3)
Ibn 'Utsaimin menyelisihi pendapat yang populer (masyhur) dalam mazhab Imam Ahmad (wafat: 241 H) dalam 300 masalah fikih, dan beliau juga menyelisihi Imam Ibn Taimiyyah (wafat: 728 H) dalam 30 masalah fikih.
sebagian ahli fikih tentang siapa yang paling berhak menjadi imam salat
Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi kamu.
Apabila berkumpul pada diri seorang individu antara kebaikan dan keburukan, kefasikan dan ketaatan, kemaksiatan dan sunnah, serta bid'ah; maka ia berhak mendapatkan loyalitas (rasa cinta/dukungan) dan pahala sesuai dengan kadar kebaikan yang ada padanya, dan ia juga berhak menerima permusuhan dan hukuman sesuai dengan kadar keburukan yang ada padanya
Barangsiapa meminta-minta (kepada manusia) padahal ia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka permintaannya itu akan datang pada hari kiamat dalam bentuk cakaran, baret, atau luka parut di wajahnya."
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa meminta-minta (kepada manusia) padahal ia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka permintaannya itu akan datang pada hari kiamat dalam bentuk cakaran, baret, atau luka parut di wajahnya."
Keterangan Riwayat:
Diriwayatkan oleh Penyusun Sunan yang Empat (Ashabus Sunan al-Arba'ah: Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibn Majah).