Muhammad yanu atmadji blog
blog ini berisikan kumpulan faedah faedah ilmu yang sangat bermanfaat kepada diri saya pribadi
Minggu, 30 Agustus 2026
Tatkala Allah ingin menjadikan nama seorang alim itu harum dan terangkat kembali setelah mereka tiada adalah adanya orang-orang yang mencoreng kehormatan atau menusuk ilmu yang dibawa oleh sang alim
Tafsir dari Majmu' al-Fatawa karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah (5/309):
التفسير من مجموع الفتاوى لشيخ الإسلام ابن تيمية (5/ 309)
والمقصود هنا أن أئمة السنة ـ كأحمد بن حنبل وغيره ـ كانوا إذا ذكرت لهم أهل البدع الألفاظ المجملة، كلفظ الجسم والجوهر والحيز ونحوها، لم يوافقوهم لا على إطلاق الإثبات، ولا على إطلاق النفي . وأهل البدع بالعكس ابتدعوا ألفاظًا ومعاني، إما في النفي، وإما في الإثبات، وجعلوها هي الأصل المعقول المحكم، الذي يجب اعتقاده، والبناء عليه، ثم نظروا في الكتاب والسنة، فما أمكنهم أن يتأولوه على قولهم تأولوه، وإلا قالوا : هذا من الألفاظ المتشابهة المشكلة التي لا ندري ما أريد بها، فجعلوا بدعهم أصلًا محكمًا، وما جاء به الرسول فرعًا له ومشكلًا، إذا لم يوافقه . وهذا أصل الجهمية والقدرية وأمثالهم، وأصل الملاحدة من الفلاسفة الباطنية، جميع كتبهم توجد على هذا الطريق، ومعرفة الفرق بين هذا وهذا من أعظم ما يعلم به الفرق بين الصراط المستقيم الذي بعث اللّه به رسوله، وبين السبل المخالفة له، وكذلك الحكم في المسائل العلمية الفقهية، ومسائل أعمال القلوب وحقائقها وغير ذلك . كل هذه الأمور قد دخل فيها ألفاظ ومعان محدثة، وألفاظ ومعان مشتركة .
فالواجب أن يجعل ما أنزله اللّه من الكتاب والحكمة أصلًا في جميع هذه الأمور، ثم يرد ما تكلم فيه الناس إلى ذلك، ويبين مافي الألفاظ المجملة من المعاني الموافقة للكتاب والسنة فتقبل، وما فيها من المعاني /المخالفة للكتاب والسنة فترد .
Ustadz babanya sofia
Tafsir dari Majmu' al-Fatawa karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah (5/309):
Maksud di sini adalah bahwa para imam Sunnah—seperti Ahmad bin Hanbal dan lainnya—apabila para ahli bid'ah menyebutkan kepada mereka lafal-lafal yang bermakna samar (al-alfazh al-muj构lah), seperti lafal jism (tubuh/materi), jauhar (substansi asal), hayyiz (ruang/tempat), dan sejenisnya, mereka tidak akan menyetujui para ahli bid'ah tersebut, baik dalam menetapkannya secara mutlak maupun menafikannya secara mutlak.
Sebaliknya, para ahli bid'ah telah membuat-buat lafal dan makna baru, baik dalam penafian maupun penetapan. Mereka menjadikannya sebagai landasan akal yang kukuh (al-asl al-ma'qul al-muhkam) yang wajib diyakini dan dijadikan pijakan. Setelah itu, barulah mereka melihat kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah; apa yang memungkinkan untuk mereka takwilkan agar sesuai dengan pendapat mereka, maka mereka takwilkan. Jika tidak memungkinkan, mereka akan berkata: "Ini termasuk lafal-lafal samar (mutasyabihat) dan rumit yang tidak kita ketahui apa maksudnya."
Dengan demikian, mereka menjadikan bid'ah mereka sebagai landasan utama yang kukuh (aslan muhkaman), sedangkan apa yang dibawa oleh Rasul dijadikan sebagai cabang (far'an) baginya dan dianggap rumit apabila tidak sejalan dengannya. Ini merupakan metode dasar kaum Jahmiyah, Qadariyah, dan sejenisnya, serta metode dasar orang-orang mulhid dari kalangan filsuf dan kaum Batiniyah. Seluruh kitab mereka ditulis dengan cara seperti ini.
Memahami perbedaan antara metode ini dan metode Ahlus Sunnah termasuk hal terbesar yang dengannya dapat diketahui perbedaan antara jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim) yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya, dengan jalan-jalan lain yang menyimpang darinya.
Demikian pula hukum dalam masalah-masalah ilmu fikih, serta masalah-masalah amalan hati dan hakikatnya. Semua perkara ini telah disusupi oleh lafal-lafal dan makna-makna baru (muhdasah), serta lafal-lafal dan makna-makna yang berpotensi ganda (musytarakah).
Maka, hal yang wajib dilakukan adalah menjadikan Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah) yang diturunkan oleh Allah sebagai landasan utama dalam seluruh perkara ini. Kemudian, mengembalikan apa yang diperbincangkan oleh manusia kepada landasan tersebut, serta menjelaskan makna-makna di dalam lafal-lafal samar (al-alfazh al-muj-malah) tersebut:
- Makna yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah diterima.
- Makna yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah ditolak.