Kamis, 30 Juli 2026

Ada mata yang terang, tetapi gagal melihat penderitaan manusia. Ada pula mata yang telah kehilangan cahayanya, namun hatinya memandang jauh menembus apa yang tak sanggup ditangkap oleh penglihatan.

Ada mata yang terang, tetapi gagal melihat penderitaan manusia. Ada pula mata yang telah kehilangan cahayanya, namun hatinya memandang jauh menembus apa yang tak sanggup ditangkap oleh penglihatan.

Demikianlah yang kita saksikan pada diri Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Selama tinggal di Madinah, rumah beliau nyaris tak pernah sepi dari tamu. Meja makannya terbuka setiap hari. Para penuntut ilmu, tokoh masyarakat, orang-orang biasa, hingga kaum fakir duduk bersama menikmati rezeki yang Allah hamparkan. 

Di rumah itu, kemuliaan seseorang tidak diukur dari pakaian yang dikenakan atau kedudukan yang disandang, melainkan dari keimanannya kepada Allah.

Suatu hari datang seorang lelaki miskin dengan pakaian yang lusuh dan sederhana. Ia dipersilakan duduk di samping Syaikh Bin Baz, lalu makan bersama beliau dari nampan yang sama.

Namun, seorang pelayan merasa pemandangan itu kurang pantas. Dalam pandangannya, lelaki miskin itu tidak layak duduk di sisi seorang ulama besar. Maka dengan halus ia memindahkan lelaki itu ke tempat lain. Semua berlangsung begitu cepat hingga Syaikh Bin Baz tidak mengetahui apa yang telah terjadi.

Usai makan siang, ketika waktu Asar tiba, Syaikh Bin Baz berangkat menuju Masjid Nabawi. Di dalam mobil bersama beliau ada sopir dan beberapa orang dekat, di antaranya Syaikh Ibrahim Al-Hushain.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba beliau bertanya,

"Apakah tadi saat makan siang terjadi sesuatu?"

Syaikh Ibrahim menjawab dengan heran,

"Tidak, wahai Syaikh. Saya tidak melihat sesuatu."

Beliau kemudian mengulangi pertanyaan itu kepada sopir.

Sang sopir berkata,

"Tidak ada sesuatu yang besar, wahai Syaikh. Hanya saja, salah seorang pelayan memindahkan seorang lelaki miskin dari tempat duduk di samping Anda ke tempat lain."

Mendengar jawaban itu, wajah Syaikh Bin Baz berubah. Kesedihan memenuhi hatinya. Padahal, beliau dikenal sebagai sosok yang amat penyabar dan hampir tak pernah marah karena urusan dirinya sendiri.

Dengan suara yang bergetar dan kedua mata yang tak lagi melihat dunia namun basah oleh air mata, beliau berkata,

"Apakah rumah ini miliknya? Mengapa orang miskin itu dipindahkan?"

Hari itu hati beliau tidak tenang. Beliau memerintahkan agar lelaki miskin tersebut segera dicari. Bukan untuk diberi harta, tetapi untuk dimintai maaf dan diobati luka yang mungkin telah tergores di dalam hatinya. Para pelayan pun beliau tegur dengan keras agar jangan sekali-kali membeda-bedakan orang kaya dan orang miskin di meja makan. Sebab, rezeki itu milik Allah, dan rumah itu hanyalah titipan dari-Nya.

๐—›๐—ถ๐—ธ๐—บ๐—ฎ๐—ต

๐Ÿญ. ๐—ž๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ฎ.

Allah tidak meninggikan seseorang karena kemewahan yang dikenakannya, tetapi karena ketakwaan yang bersemayam di dalam dadanya. Seorang fakir tetap memiliki kemuliaan yang sama sebagai hamba Allah.

๐Ÿฎ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—ฏ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—ฏ๐˜‚๐˜๐—ฎ, ๐˜๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ ๐—ท๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฐ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜†๐—ฎ.

Syaikh Bin Baz tidak lagi melihat dengan kedua matanya. Namun Allah menggantinya dengan hati yang begitu peka. Ketika orang lain melihat tidak terjadi apa-apa, beliau justru merasakan ada hati yang telah terluka.

๐Ÿฏ. ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐˜€๐—ธ๐—ถ๐—ป๐—ฎ๐—ป, ๐˜๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป.

Barangkali memindahkan tempat duduk tampak sebagai perkara kecil. Namun bagi hati seorang fakir, perlakuan semacam itu dapat menjadi luka yang sulit sembuh.

๐Ÿฐ. ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—บ๐—ฝ๐—ถ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐˜๐—ถ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ด๐—ฎ ๐—ต๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ฎ, ๐˜๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ท๐˜‚๐—ด๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ด๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ.

Karena itulah Syaikh Bin Baz tidak merasa cukup dengan menegur pelayan. Beliau ingin mencari lelaki miskin itu, meminta maaf kepadanya, dan mengembalikan kehormatan yang sempat terusik.

๐Ÿ“. ๐ˆ๐ฌ๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฃ๐š๐ซ๐ค๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฌ๐š๐ฆ๐š๐š๐ง ๐๐ข ๐ก๐š๐๐š๐ฉ๐š๐ง ๐€๐ฅ๐ฅ๐š๐ก.

Rasulullah ๏ทบ bersabda,

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim)

Betapa banyak manusia yang matanya terbuka, tetapi hatinya tertutup. Ia melihat wajah, namun tidak melihat air mata yang tersembunyi. Ia melihat pakaian, tetapi gagal melihat kemuliaan seorang hamba.

Sebaliknya, Syaikh Bin Baz kehilangan cahaya penglihatannya, namun Allah memenuhi hatinya dengan cahaya iman. Dari kisah ini kita belajar, bahwa kebutaan yang paling menakutkan bukanlah ketika mata tak lagi mampu memandang, melainkan ketika hati tak lagi mampu merasakan luka sesama.
____
• Diterjemahkan dan digubah dari tulisan Syaikh Muhammad Abdul Latif, admin akun fage al-Imam Nashiruddin al-Albaniy

• Yani Fahriansyah

EMPAT ALIRAN BESAR DALAM MASALAH ASMA WA SIFAT ALLAH

EMPAT ALIRAN BESAR DALAM MASALAH  ASMA WA SIFAT ALLAH

1. Jahmiyah: menafikan dan menolak semua nama dan sifat Allah, 

2. Mu'tazilah: menafikan semua sifat Allah dan  menetapkan nama² Allah tapi sekedar nama tanpa makna....  Menurut mereka Allah itu punya nama as-samii' (yang mendengar), tapi Allah tak punya pendengaran. Allah itu al-Bashir (yang melihat) tapi Allah tak punya penglihatan. Hanya sekedar nama tanpa makna.

Nomer satu dan dua disebut juga: al-Mu'atthilah (penolak sifat² Allah)

3. Al- Asya'irah wal maturudiyah : Menetapkan sebagian sifat Allah, dan meniadakan sebagian yang lain dg cara mentakwilkannya.

4. Atsariyah/salafiyah: menetapkan semua nama dan sifat Allah apa adanya sesuai yang tercantum dalam al-Qur'an dan as-Sunnah tanpa menyerupakannya (tasybih), tanpa memalingkan maknanya (tahrif), tanpa membagaimanakannya (takyif), dan tanpa meniadakannya (ta'thil).

Syubhat kelompok 1-3: jika Allah memiliki sifat berarti sama dg Makhluk. Sehingga semua golongan tsb meniadakan sifat Allah, baik seluruhnya atau sebagiannya.

Adapun ahlussunnah meyakini:

ุงู„ุงุชูุงู‚ ููŠ ุงู„ุฃุณู…ุงุก ู„ุง ูŠุณุชู„ุฒู… ุงู„ุงุชูุงู‚ ููŠ ุงู„ู…ุณู…ูŠุงุช

" Kesamaan nama tidak MELAZIMKAN kesamaan hakikat sesuatu.

Bagaimana menerapkan kaidah ini? 

Contoh:

Ketika ahlussunnah menetapkan bahwa Allah punya wajah dan tangan sesuai dg keagunganNya, maka mereka menuduh bahwa Salafiyun (ahlussunnah) menyerupakan Allah dengan Makhluk, karena makhluk juga punya wajah dan tangan

Padahal kenapa salafiyun (ahlussunah) menetapkan Allah punya Wajah? Karena Allah sendiri yang mengabarkan bahwa Dia punya wajah sesuai dengan kebesaran dan kemulianNya. 

(ูˆَูŠَุจْู‚َู‰ٰ ูˆَุฌْู‡ُ ุฑَุจِّูƒَ ุฐُูˆ ุงู„ْุฌَู„َุงู„ِ ูˆَุงู„ْุฅِูƒْุฑَุงู…ِ) ุงู„ุฑุญู…ู† 27

"Dan kekal lah wajah tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan" ar-Rahman: 27. 

Tetapi dengan menetapkan sifat wajah bagi Allah bukan berarti Salafiyun menyamakan wajah dan tangan Allah dengan Wajah dan tangannya makhluk. 

Karena kaidah mengatakan: 

ุงู„ุงุชูุงู‚ ููŠ ุงู„ุฃุณู…ุงุก ู„ุง ูŠุณุชู„ุฒู… ุงู„ุงุชูุงู‚ ููŠ ุงู„ู…ุณู…ู‰

"Kesamaan nama tidak melazimkan kesamaan hakekat yang dinamai"

Contoh lain:

Dalam surat an-Nisa ayat 58 Allah menamai dirinya dengan ุณู…ูŠุนุง ุจุตูŠุฑุง samii'an bashiiran (yang mendengar dan melihat) 

Teks ayat:

 ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูƒَุงู†َ ุณَู…ِูŠุนًุง ุจَุตِูŠุฑًุง....ุณูˆุฑุฉ ุงู„ู†ุณุงุก 58

Sesungguhnya Allah itu samii'an bashiiran (yang mendengar dan melihat) 

Meskipun demikian Allah pun mensifati manusia dalam Surat al-insan ayat ke 2 dengan ุณู…ูŠุนุง ุจุตูŠุฑุง samii'an bashiiran (yang mendengar dan melihat) 

Teks ayat:

(ุฅِู†َّุง ุฎَู„َู‚ْู†َุง ุงู„ْุฅِู†ْุณَุงู†َ ู…ِู†ْ ู†ُุทْูَุฉٍ ุฃَู…ْุดَุงุฌٍ ู†َุจْุชَู„ِูŠู‡ِ ูَุฌَุนَู„ْู†َุงู‡ُ ุณَู…ِูŠุนًุง ุจَุตِูŠุฑًุง)....

 Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia   ุณู…ูŠุนุง ุจุตูŠุฑุง samii'an bashiiran ( mendengar dan melihat) QS. Al-insan: 2

Tentunya pendengaran dan penglihatan Allah tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan makhluk. 

Jadi kesamaan nama tidak melazimkan kesamaan hakekat.

Referensi:

Syarh Lum'atul I'tiqad Syaikh Utsaimin, aqidah at-Tauhid Syaikh shalih Fauzan, Al-Qaul al-Mufid Syaikh Utsaimin.
Ustadz Dr fadlan fahamsyah

Dahulu Syekh Muhyiddin (Imam an-Nawawi) — *semoga Allah merahmatinya* — adalah seorang yang menempuh jalan (manhaj) para sahabat *semoga Allah meredai mereka* —, dan aku tidak mengetahui seorang pun di zaman kita sekarang yang menempuh jalan mereka selain beliau.">


**ุชุญูุฉ ุงู„ุทุงู„ุจูŠู† ููŠ ุชุฑุฌู…ุฉ ุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ู†ูˆูˆูŠ ู…ุญูŠูŠ ุงู„ุฏูŠู†**
**ูˆู‚ุงู„ ู„ูŠ ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ุนุงุฑู ุงู„ู…ุญู‚ู‚ ุงู„ู…ูƒุงุดِู (ูก) ุฃุจูˆ ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญูŠู… ู…ุญู…ุฏ ุงู„ุฅุฎู…ูŠู…ูŠ - ู‚َุฏَّุณ ุงู„ู„ู‡ ุฑูˆุญู‡، ูˆู†ูˆَّุฑ ุถุฑูŠุญู‡ - :**
**«ูƒุงู† ุงู„ุดูŠุฎ ู…ุญูŠูŠ ุงู„ุฏูŠู† ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุณุงู„ูƒุงً ู…ู†ู‡ุงุฌ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุฑุถูˆุงู† ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ู… ، ูˆู„ุง ุฃุนู„ู… ุฃุญุฏุงً ููŠ ุนุตุฑู†ุง ุณุงู„ูƒุงً ุนู„ู‰ ู…ู†ู‡ุงุฌู‡ู… ุบูŠุฑู‡».**
*Tuhfatut Thalibin fi Tarjamati al-Imam an-Nawawi Muhyiddin*


Dan telah berkata kepadaku Syekh al 'Arif al-Muhaqqiq al-Mukasyif, Abu Abdurrahim Muhammad al-Ikhmimi 
> **"Dahulu Syekh Muhyiddin (Imam an-Nawawi) — *semoga Allah merahmatinya* — adalah seorang yang menempuh jalan (manhaj) para sahabat  *semoga Allah meredai mereka* —, dan aku tidak mengetahui seorang pun di zaman kita sekarang yang menempuh jalan mereka selain beliau."

Selasa, 28 Juli 2026

sa'dan

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

“Maka berbuat baiklah dengan diri kalian dan harta kalian, nasihatilah (sesama), dan bantulah saudara/teman kalian, khususnya orang-orang terdekat kalian. 

Jauhilah permusuhan, perdebatan, dan menyakiti kaum muslimin dalam bentuk apa pun.”

(Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Majmu’ Fatawa wa Maqalat, 19/249)

Kiat-Kiat Ketika Kehilangan Orang Yang Disayangi

Kiat-Kiat Ketika Kehilangan Orang Yang Disayangi 

1. Pertebal Iman Kepada Takdir Allah
Meyakini bahwa kematian adalah takdir Allah yang sudah ditetapkan, bukan karena kebetulan. Ketika itu takdir Allah, maka itu yang terbaik. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ู„ุง ูŠุคู…ู†ُ ุนุจุฏٌ ุญุชู‰ ูŠุคู…ู†َ ุจุงู„ู‚ุฏَุฑِ ุฎูŠุฑِู‡ ูˆ ุดุฑِّู‡ ، ุญุชู‰ ูŠุนู„ู…َ ุฃู†َّ ู…ุง ุฃุตุงุจู‡ ู„ู… ูŠَูƒู† ู„ِูŠุฎุทِุฆَู‡ ، ูˆ ุฃู†َّ ู…ุง ุงุฎุทุฃู‡ ู„ู… ูŠูƒู† ู„ِูŠُุตูŠุจَู‡

“Tidak beriman seorang hamba sampai ia beriman kepada takdir, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk. Dan sampai ia meyakini bahwa apa yang menimpanya, itu bukan karena kebetulan. Dan apa yang tidak ditakdirkan kepadanya, tidak akan menimpanya” (HR. at-Tirmidzi no.2144, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi).

2. Takdir Pasti Terjadi, Kita Tidak Bisa Lari
Meyakini bahwa kematian ini pasti akan tetap terjadi apapun upaya yang dilakukan untuk mencegahnya, ia tetap akan terjadi pada waktunya, tidak bisa lari darinya. Allah Ta’ala berfirman:

ูَุฅِุฐَุง ุฌَุงุกَ ุฃَุฌَู„ُู‡ُู…ْ ู„َุง ูŠَุณْุชَุฃْุฎِุฑُูˆู†َ ุณَุงุนَุฉً ูˆَู„َุง ูŠَุณْุชَู‚ْุฏِู…ُูˆู†َ

"Jika telah datang ajal seseorang, maka tidak bisa ditunda walaupun sebentar dan tidak bisa dipercepat" (QS. Al A'raf: 34).

3. Sedih Itu Wajar
Ketika ada orang yang disayangi meninggal, boleh bersedih. Sedih itu wajar. Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ุฅู†َّ ุงู„ุนَูŠู†َ ุชَุฏู…َุนُ، ูˆุงู„ู‚َู„ุจَ ูŠَุญุฒَู†ُ، ูˆู„ุง ู†َู‚ูˆู„ُ ุฅู„َّุง ู…ุง ูŠَุฑุถู‰ ุฑَุจُّู†ุง، ูˆุฅู†َّุง ุจูِุฑุงู‚ِูƒَ ูŠุง ุฅุจุฑุงู‡ูŠู…ُ ู„َู…َุญุฒูˆู†ูˆู†َ

“Air mata berlinang dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Dengan kepergianmu ini wahai Ibrahim, kami sangat bersedih” (HR. Al Bukhari bab Al Jana’iz no 1241, Muslim bab Al Fadhail no.2315, Abu Daud bab Al Jana’iz no.3126, Ahmad 3/194).

4. Tidak Boleh Niyahah
Betapapun sedihnya kita, tidak boleh melakukan niyahah. Yaitu ekspresi kesedihan yang berlebihan. Seperti meraung-raung, berteriak-teriak, melempar barang, menampar pipi, merobek pakaian, memukul tembok dan semisalnya. Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ุฃَุฑْุจَุนٌ ูِูŠ ุฃُู…َّุชِูŠ ู…ِู†ْ ุฃَู…ْุฑِ ุงู„ْุฌَุงู‡ِู„ِูŠَّุฉِ، ู„َุง ูŠَุชْุฑُูƒُูˆู†َู‡ُู†َّ: ุงู„ْูَุฎْุฑُ ูِูŠ ุงู„ْุฃَุญْุณَุงุจِ، ูˆَุงู„ุทَّุนْู†ُ ูِูŠ ุงู„ْุฃَู†ْุณَุงุจِ، ูˆَุงู„ْุงุณْุชِุณْู‚َุงุกُ ุจِุงู„ู†ُّุฌُูˆู…ِ، ูˆَุงู„ู†ِّูŠَุงุญَุฉُ

“Ada empat perkara jahiliyah pada umatku, mereka tidak akan meninggalkannya: Membanggakan kemuliaan orang tua, mencela nasab (garis keturunan), menganggap turunnya hujan dengan munculnya bintang tertentu, dan niyรขhah (meratap).” (HR.Muslim, no. 934).

5. Jangan Larut Dalam Kesedihan, Fokus Pada Apa Yang Manfaat Untuk Mayit
Kesedihan itu melemahkan. Daripada larut dalam kesedihan, lebih baik fokus pada apa-apa yang manfaat untuk mayit.

Di antaranya:
1. Mendoakan kebaikan untuk mayit
2. Mendoakan ampunan untuk mayit
3. Bersedekah atas nama mayit
4. Melunasi hutang mayit
5. Menjalankan wasiat dari mayit
6. Melanjutkan amalan kebaikan mayit ketika masih hidup
7. Menjalin hubungan baik dengan kerabat dan teman-teman mayit

Fawaid Kangaswad | Umroh Bersama Kami: bit.ly/fawaid-umroh

LIPIA dan Gerakan Salafi di Indonesia

LIPIA dan Gerakan Salafi di Indonesia

===================

Setiap gerakan tentunya membutuhkan aktor untuk siap bergerak dan melakukan aksinya. Posisi aktor sendiri sangat sentral dalam mendukung kegiatan-kegiatan dari sebuah gerakan. Maka setiap gerakan memiliki cara tersendiri untuk penguatan niliai dan ideologi dengan menghasilkan aktor-aktor yang dapat mendukung tujuan dari gerakan. Dan bagi gerakan dakwah salafi, LIPIA-lah yang memegang peran sentral tersebut.

LIPIA didirikan oleh Pemerintah Saudi Arabia pada tahun 1980 dengan Nama Lembaga Pengajaran Bahasa Arab (LPBA). Di awal hanya mengajarkan kursus-kursus bahasa Arab secara regular kepada para siswanya. Baru di tahun 1986 LPBA resmi berganti akronim menjadi LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab) setelah membuka program Syariah. 

Di Indonesia lembaga ini berafiliasi dengan DDII dan beberapa organisasi Islam seperti Al Irsyad dan Persis. Sehingga dalam perjalanannya banyak kader-kader dakwah dari DDII yang belajar di lembaga ini termasuk dari kalangan salafi.

LIPIA setidaknya memiliki dua peran strategis sekaligus bagi gerakan dakwah salafi. 

Pertama, lembaga ini secara penuh memberikan penguatan nilai dan ideologi bagi perkembangan dakwah salafi di Indonesia.

Kedua, lembaga ini adalah lembaga yang mencetak aktor-aktor dari gerakan dakwah salafi untuk menyebarkan pemahaman Salafi ke seluruh lapisan masyarakat. 

Dua hal tersebut yang mengantarkan gerakan dakwah salafi ideologinya terus direproduksi hingga saat ini.

Penguatan ideologi dan nilai sangat terlihat dari kurikulum yang diajarkan di lembaga ini. Lembaga ini secara khusus mengajarkan pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh Salafi baik yang klasik (Ibn Taimiyah, Ahmad bin Hanbal, Ibn Qayyim, dll) hingga kontemporer (Utsaimin, Bin Baaz, Al Albani, dll) (Hasan, 2008: 60-61). 

Mahasiswanya dituntut berbagai subjek Islam seperti Ushulul Tafsir, Ushulul Fiqh, Ilmu Diroyah, Ilmu Riwayah, Mustholahul Hadits, Nahwu Sharraf dan lain lain.

Kendati demikian, sebenarnya sebagian kalangan salafi melihat LIPIA, di awal berdirinya, bukan sebagai bagian dari dakwah salafi. 

Pendapat ini terutama dikarenakan di awal berdirinya banyak pengajarnya yang terpengaruh oleh Ikhwanul Muslimin. 

Seperti yang diungkapkan Z, yang juga pernah belajar di LIPIA,

“LIPIA (di awal berdirinya—pen.) bukan Salafi, ia mewakili Ikhwanul Muslimin…bahwa generasi awal LIPIA itu dosen-dosennya banyak terpengaruh oleh Ikhwanul Muslimin. Makanya hampir nyaris, termasuk saya, terpengaruh oleh pemikiran Ikhwan di kelas saya hanya dua yang Salaf.”

(Wawancara dengan Z, 25 April 2012, di Jakarta)

Z menambahkan dari sejak pertama kali LIPIA berdiri hingga tahun 90-an dari kalangan Salafi hanya ada beberapa generasi. 

Generasi Pertama ada Abu Nida, Yazid Jawas, Abdul Hakim dan Ja’far. 

Generasi kedua ada Aunur Rafiq, Ahmad Faiz Asifuddin, Ali Hijrah, generasi berikutnya ada Kholid Syamhudi, Zaenal Abidin, dan selanjutnya ada Badrussalam, Jazuli. 

Jumlah Ikhwanul Muslimin cenderung lebih banyak diantaranya adalah Anis Matta dan Ahmad Heryawan.

Dan meskipun memang kitab-kitab yan diajarkan di lembaga tersebut adalah kitab-kitab salafi sebenarnya tidak mengajak kepada manhaj tertentu. Ilmu yang diajarkan adalah ilmu uluh bahasa hanya mengajarkan bagaimana membaca kitab, sehingga tidak mengajak kepada satu manhaj tertentu. 

Tapi kegiatan di luar kegiatan belajar lah yang kemudian menjadi penentu manhaj para mahasiswa. Dan kelompok Ikhwanul Muslimin memiliki akses terhadap hal tersebut, seperti ditambahkan oleh Z,

“Sebetulnya kalau masalah kurikulum kan uluh bahasa, dan kuliah yang ditekankan syariah jadi tidak membentuk manhaj dan tidak anti manhaj juga, jadi belajar gitu aja, belajar kitab. Cuma yang membentuk itu kan di luarnya. Ana diajak ngaji, ikut daurah-daurah. Nah terutama kegiatan kesiswaan itu banyak diperalat oleh orang-orang ikhwanul muslimin untuk mengkader. Misalnya kegiatan dakwah ke puncak atau rihlah, digunakan untuk daurah ikhwan… dulu ada yang namanya Abdullah Idhan, orang Saudi, tapi fanatis sama Ikhwan, dan dia memegang jabatan Mudhir Syu’uni Thullab (Ketua Kegiatan Siswa—pen.) akhirnya semua kegiatan siswa di luar belajar diperalat oleh ikhwanul muslimin”

(Wawancara dengan Z, 9 April 2012 di Jakarta)

Namun, keadaan berubah seiring dengan berjalannya waktu. Ada kemungkinan banyaknya keluhan yang disampaikan kepada Pemerintah Saudi, banyak dosen-dosen pengajar yang kemudian diganti (Wawancara dengan B, 9 Mei 2012 di Bogor). Sehingga belakangan lembaga ini menghasilkan lebih banyak aktor-aktor untuk gerakan dakwah salafi. Dan keadaan yang seperti ini yang terus berlangsung hingga saat ini.

Dan lembaga ini tetap menjadi bagian penting yang menghasilkan aktor-aktor salafi. Penulis mencatat, hampir bisa dipastikan generasi awal yang membangun dakwah Salafi sejak era Soeharto hingga reformasi adalah alumnus dari LIPIA. Lembaga ini juga berperan dalam mengirimkan mahasiswanya ke Saudi Arabia untuk belajar Islam di sana. 

Hal ini juga menunjukkan bukti dukungan Saudi Arabia yang memang mencanangkan pendirian lembaga ini sebagai antisipasi menyebarnya paham Syi’ah pasca-Revolusi Iran tahun 1979 (Hasan, 2008). Melalui lembaga ini lah gerakan dakwah salafi menghasilkan aktor-aktor mumpuni secara pemikiran yang kemudian tampil di masa Reformasi.

===================

Dinukil dari salah satu Sub-Bab pada skripsi karya Dady Hidayat pada FISIP Universitas Indonesia Tahun 2012 berjudul “Gerakan Dakwah Salafi Di Indonesia: Studi Tentang Kemunculan Dan Perkembangannya Pada Era Reformasi"