Syaikh Shalih Alu Syaikh, Ulama dengan Salah Satu Perpustakaan Pribadi Terbesar di Dunia Arab
Salah satu bukti kecintaan Syaikh Shalih Alu Syaikh terhadap buku adalah besarnya perhatian beliau untuk mendapatkan perpustakaan milik sastrawan dan pakar bahasa Arab ternama, Mahmud Muhammad Syakir, setelah beliau wafat. Perpustakaan yang sangat berharga itu dikenal menyimpan banyak kitab, manuskrip, dan cetakan langka yang sulit ditemukan di tempat lain.
Mahmud Muhammad Syakir (1909-1997), yang juga dikenal dengan kunyah Abu Fihr, merupakan salah satu tokoh sastra Arab paling berpengaruh pada abad ke-20. Ia adalah adik kandung dari ahli hadis terkenal, Ahmad Muhammad Syakir. Namanya masyhur karena keluasan ilmunya dalam bahasa dan sastra Arab, ketelitiannya dalam meneliti manuskrip, serta pembelaannya terhadap warisan intelektual Islam dan bahasa Arab klasik.
Selama puluhan tahun, Mahmud Syakir mengumpulkan buku-buku, manuskrip, dan berbagai karya langka. Perpustakaan pribadinya di Kairo menjadi salah satu perpustakaan pribadi yang paling bernilai di dunia Arab. Keistimewaannya bukan hanya terletak pada banyaknya koleksi, tetapi juga karena banyak buku di dalamnya memuat catatan, koreksi, dan komentar ilmiah yang ditulis langsung oleh Mahmud Syakir sendiri.
Di kalangan penuntut ilmu, beredar keterangan bahwa setelah wafatnya Mahmud Syakir, perpustakaan tersebut berhasil diperoleh oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh dan kemudian dipindahkan ke Arab Saudi. Meskipun rincian transaksi dan proses pemindahannya tidak banyak dipublikasikan, kabar ini cukup masyhur di kalangan para pecinta buku dan peneliti.
Kecintaan Syaikh Shalih terhadap buku memang sudah lama dikenal. Beliau termasuk ulama yang sangat gemar mengoleksi kitab dan membangun perpustakaan pribadi. Bahkan disebutkan bahwa perpustakaan beliau termasuk salah satu perpustakaan pribadi terbesar di dunia Arab. Ada yang menuturkan bahwa pada tahun 1411 H (1990-1991 M), koleksi beliau telah mencapai sekitar 30.000 buku. Jika pada saat itu jumlahnya sudah sebanyak itu, maka setelah lebih dari tiga dekade berlalu, tentu jumlah koleksinya jauh lebih besar lagi.
Sehingga ketika perpustakaan Mahmud Syakir menjadi bagian dari koleksi beliau, maka perpustakaan tersebut berpindah ke tangan seorang ulama yang dikenal sangat mencintai ilmu dan buku. Dengan demikian, banyak koleksi langka dan warisan intelektual yang tersimpan di dalamnya tetap terjaga serta terus dimanfaatkan oleh para peneliti dan penuntut ilmu.
Semoga Allah memberikan taufik dan keberkahan kepada para ulama yang telah mengabdikan hidup mereka untuk menjaga, mengumpulkan, dan mewariskan khazanah ilmu kepada generasi setelah mereka.
----------
Di antara nasehat Syaikh Shalih Alu Syaikh,
"Seandainya fikih cukup diperoleh dengan membaca dan menelaah buku, tentu perkara ini sudah menjadi mudah sejak dahulu kala. Namun hakikatnya, fikih adalah kemampuan dan pemahaman yang terbentuk melalui perjalanan panjang bersama ilmu, serta ketekunan yang lama dalam mempelajari dan mendalami fikih."
Beliau juga berkata,
"Seseorang mungkin mampu menyebutkan sebanyak mungkin pendapat yang terdapat dalam berbagai kitab. Akan tetapi yang menjadi inti persoalan adalah memahami fikih dari pendapat-pendapat tersebut, bagaimana membedakan mana yang benar sehingga layak diikuti, dan mana yang keliru sehingga harus ditinggalkan."
Kemudian beliau menasihatkan,
"Ketahuilah bahwa menghukumi seseorang sebagai ahli bid'ah, fasik, atau kafir adalah perkara syar'i yang menjadi kewenangan para ulama yang kokoh ilmunya dan para ahli fatwa. Adapun menerapkan hukum-hukum tersebut kepada individu tertentu bukanlah hak setiap orang yang mengenal Sunnah. Dalam masalah ini harus dipastikan terlebih dahulu terpenuhinya syarat-syarat dan hilangnya penghalang-penghalang yang dapat menghalangi penetapan hukum tersebut. Jika tidak, perkara ini akan berubah menjadi tindakan serampangan yang tidak didasari ilmu. Dan hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan."
--------------
Referensi :
- Kulal Salafiyeen
- Wikipedia
- FP Qabasun Minal Kutub