https://www.facebook.com/share/1D6XaWtnxc/
Kalau misalnya Syaikhul Islam menuliskan perkataan beliau (foto teks cetak tebal) menjadi status berbahasa Indonesia di sosial media, kemudian diforward oleh Syaikh Utsaimin dengan tambahan komentar seperti yang ada dalam foto (juga dalam bahasa Indonesia), sepertinya beliau berdua rahimahullah tidak akan selamat dari caci dan cela sebagian netizen kita. Mungkin status beliau berdua akan di-screenshot, disilang, dan disebar ke mana-mana.... '^~^
Bersikap adil, apalagi terhadap orang yang tidak sejalan dengan kita, itu susah. Padahal, bersikap adil dan berbuat baik adalah perintah Allah....
Foto:
شىرح مقدمة في أصول التفسير لشيخ الإسلام ابن تيمية ويليه شرح أصول في التفسير لشيخ محمد بن صالح العثيمين، دار ابن الجوزي القاهرة، ط-١, ١٤٢٦ ه، ص.٨٧-٨٨
dari apa yang memungkinkan untuk dikiaskan (dianalogikan).
Dan Tafsir Ibn Atiyyah beserta yang sepadan dengannya, lebih mengikuti Sunnah dan Jamaah (Ahlussunnah wal Jama'ah), serta lebih selamat dari bid'ah daripada Tafsir al-Zamakhsyari. Seandainya ia menyebutkan perkataan ulama salaf yang diriwayatkan dari mereka sesuai dengan proporsinya, niscaya itu akan menjadi lebih baik dan lebih indah. Sebab, ia sering kali menukil dari Tafsir Muhammad bin Jarir ath-Thabari—yang mana merupakan kitab tafsir riwayat (al-ma'tsur) yang paling agung dan paling mulia kedudukannya—namun kemudian ia meninggalkan apa yang dinukil oleh Ibn Jarir dari kalangan salaf, dan ia sama sekali tidak menceritakannya!
Ia justru menyebutkan apa yang ia klaim sebagai pendapat para peneliti (al-muhaqqiqin)!! Padahal yang ia maksud dengan mereka adalah sekelompok ahli kalam (teolog) yang menetapkan usul (dasar-dasar) mereka dengan metode yang sejenis dengan apa yang ditetapkan oleh sekte Mu'tazilah sebagai dasar-dasar mereka, meskipun mereka..."
Gambar 2: Penjelasan Syekh Ibn Utsaimin
"... lebih dekat kepada Sunnah daripada Mu'tazilah. Akan tetapi, sudah sepantasnya untuk memberikan hak kepada setiap orang yang memilikinya, dan mengetahui bahwa hal ini termasuk ke dalam bagian tafsir yang dibangun di atas mazhab.
Syekh Ibn Utsaimin berkata: Penjelasan dari Syekh (Ibn Taimiyah) rahimahullah ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang laki-laki yang objektif dan adil. Bahwa kebenaran itu—meskipun berasal dari pelaku bid'ah—wajib untuk diterima. Dan bahwa jika sebagian pelaku bid'ah itu ada yang lebih dekat kepada Sunnah daripada sebagian yang lain, maka wajib untuk memuji mereka atas kedekatan tersebut.
Adapun jika kita menolak apa yang dikatakan oleh pelaku bid'ah secara keseluruhan dan terperinci, bahkan terhadap apa yang mereka katakan dari kebenaran, lalu kita mengatakan: 'Ini dikatakan oleh seorang pelaku bid'ah', maka ini adalah sebuah kesalahan. Karena kewajiban bagi manusia adalah mengatakan kebenaran di mana pun kebenaran itu berada, tanpa melihat kepada siapa yang mengatakannya. Oleh karena itu, ada pepatah yang mengatakan: 'Kebenaran itu harus dikenal dengan esensi kebenaran itu sendiri, bukan dikenal karena (ketokohan) orangnya.'
Jika Anda menilai kebenaran berdasarkan orangnya, itu berarti Anda adalah seorang pengekor murni (muqallid mahdh). Sebaliknya, jika Anda mengenali orang-orang (yang membawa kebenaran) itu melalui kebenaran itu sendiri, dan bahwa jika apa yang mereka katakan adalah benar maka mereka adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran, maka inilah keadilan yang sesungguhnya.
Maka Syekh rahimahullah berkata: Wajib memberikan hak kepada setiap orang yang memilikinya. Bahkan jika ia termasuk pelaku bid'ah namun ia dekat dengan Ahlussunnah, maka kita berikan haknya dan kita katakan: 'Pelaku bid'ah ini lebih dekat kepada Sunnah daripada pelaku bid'ah yang itu.'"