Selasa, 18 Agustus 2026

setengah sesat

setengah sesat akut !!.

doktor ushuludin universitas al azhar mesir, Dr. Muhamad Khalil Harras mengatakan :

ومن زعم أن القرآن الموجود بيننا حكاية عن كلام الله كما تقوله الكلابية أو أنه عبارة عنه كما تقوله الأشعرية فقد قال بنصف قول المعتزلة !!

barangsiapa berkeyakinan bahwa Al Qur'an yang ada ditengah tengah kita ini adalah hikayat dari firman Allah (seperti aqidahnya kullabiyah), atau bahwa ia adalah ibarat dari firman Allah (seperti aqidahnya asy'ariyah), maka ia telah berkeyakinan dengan setengah aqidah muktazilah !!.
Ustadz jabir abu unaisyah

Ketika Allah membersihkan nama Sayyidatina Aisyah—semoga Allah meradainya—dari berita bohong (peristiwa Haditsul Ifki),

حين برأ الله السيدة عائشة رضي الله عنها من حديث الإفك، قيل لها :" قومي فاُشكري رسول الله " ؛ قالت : لا بل لا أشكر إلا الله"!

 ذكر  أهل العلم أن النبي صلى الله عليه وسلم  في فترة حديث الإفك كان في غم وهم  حيث أبطأ عنه الوحي طيلة شهر كامل، واُختار في كل ما يسمعه السكوت وهو يردد:" لا أعلم عنها إلا خيرا" !
وحين نزل القرآن  أفردت السيدة عائشة الله تعالى بالحمد والشكر ولم تشكر رسول الله، يقول ابن الجوزي :" إنما قالت ذلك إدلالا كما يدل الحبيب على حبيبه"؛ فقد كانت السيدة عائشة تريد أن يبادر النبي بتكذيب المنافقين ولا يتوقف في أمرها

المعنى : هناك قضايا لن ينصرك فيها مخلوق ولن يردها عنك أحد، وحلها بعد عسرها الطويل من الواحد الأحد!

#عاتكة_الورقية

 Ketika Allah membersihkan nama
 Sayyidatina Aisyah—semoga Allah meradainya—dari berita bohong (peristiwa Haditsul Ifki), dikatakan kepadanya: "Berdirilah dan berterima kasihlah kepada Rasulullah!" Namun beliau menjawab: "Tidak, demi Allah, aku tidak akan berterima kasih kecuali kepada Allah!"
Para ahli ilmu menyebutkan bahwa pada masa terjadinya berita bohong tersebut, Nabi ﷺ berada dalam duka dan kesedihan yang mendalam, lantaran wahyu terhenti selama satu bulan penuh. Beliau memilih diam atas segala hal yang didengarnya seraya berulang kali bersabda: "Aku tidak mengetahui tentang dirinya kecuali kebaikan!"
 Ketika Al-Qur'an turun, Sayyidatina Aisyah mengkhususkan pujian dan rasa syukurnya hanya kepada Allah Ta'ala tanpa berterima kasih kepada Rasulullah. Ibnul Jauzi berkata: "Ia mengatakan demikian karena bentuk idlal (sikap manja/merasa memiliki hak istimewa), sebagaimana seorang kekasih bersikap manja kepada kekasihnya." Sebab, Sayyidatina Aisyah sebenarnya menginginkan agar Nabi ﷺ sejak awal langsung mendustakan tuduhan orang-orang munafik tanpa ragu atau tertahan sedikit pun dalam urusannya.

Makna/Pelajaran:
Maknanya: Ada masalah-masalah tertentu dalam hidup yang mana tak ada satu pun makhluk yang mampu membela atau membebaskanmu darinya, dan jalan keluar setelah kesulitan panjang itu hanya datang dari Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa!


Sebagian ulama fikih dari mazhab Hanafi berpendapat bahwa jika seorang suami memilih untuk tidak berpoligami demi menjaga perasaan istrinya agar tidak merasa sedih dan duka, maka ia mendapatkan pahala!

https://www.facebook.com/share/p/1EU8GYcBwX/
يرى بعض فقهاء الأحناف أن الرجل إذا ترك التعدد كي لا يُدخل الغم والحزن على قلب زوجته يكون مأجورا!

 المعنى : المباح يخير فيه المرء بين الترك والفعل ما لم يكن ضرورة لظرفية قصوى، ومن جمالية الفقه أن يراعي أدق التفاصيل مثل انكسار قلب المرأة 🙂

#عاتكة_الورقية
Sebagian ulama fikih dari mazhab Hanafi berpendapat bahwa jika seorang suami memilih untuk tidak berpoligami demi menjaga perasaan istrinya agar tidak merasa sedih dan duka, maka ia mendapatkan pahala!
Makna/Pelajaran:
Maknanya: Perkara yang mubah (boleh) memberikan pilihan bagi seseorang untuk melakukan atau meninggalkannya, selama tidak ada urgensi yang mendesak. Di antara keindahan fikih adalah betapa ia memperhatikan detail paling halus, seperti perasaan hati seorang wanita yang terluka 🙂

Ketika Al-Hafiz Ibn Hajar Al-Asqalani berada di Aleppo (Halab), beliau menikah dengan seorang wanita bernama "Laila binti Mahmud bin Tughan".

Ketika Al-Hafiz Ibn Hajar Al-Asqalani berada di Aleppo (Halab), beliau menikah dengan seorang wanita bernama "Laila binti Mahmud bin Tughan". Setelah merasa kesulitan untuk membawanya pergi bersama beliau—karena beliau tahu bahwa wanita-wanita Aleppo tidak sanggup berpisah dari kota mereka—beliau menceraikannya secara diam-diam demi mengasihani perasaannya, lalu kembali ke Mesir. Beliau pun bersyair tentangnya:

Aku pergi dan meninggalkan sang kekasih di negerinya

Bukan kehendakku, dan aku tak sedikit pun berpaling kepada selainnya

Kusibukkan diriku dengan hadis untuk menghibur diri

Di siang hariku, sedang di malam hariku aku rindu pada Laila

​Kemudian dikatakan bahwa beliau tidak sanggup menahan kerinduan setelah berpisah dari Laila, lalu berkirim surat kepadanya untuk merujuknya kembali. Laila pun menyusulnya ke Mesir hingga beliau wafat mendahuluinya, semoga Allah merahmatinya!

Maknanya: Hati tidak butuh paspor untuk melupakan orang-orang yang dicintainya; betapa banyak kota Aleppo yang bersemayam dalam diri pemiliknya, dan betapa banyak sosok Laila yang menetap abadi di dalam hati!

https://www.facebook.com/share/p/14ofj2EByWz/

Di antara kisah aneh adalah apa yang dilakukan oleh istri dari sejarawan Madinah, "Ibrahim bin Ali Al-Ayyasyi".


Di antara kisah aneh adalah apa yang dilakukan oleh istri dari sejarawan Madinah, "Ibrahim bin Ali Al-Ayyasyi". Ia menahan rasa cemburunya dalam waktu yang lama terhadap buku-buku yang selalu menyita perhatian suaminya sepanjang waktu.

​Setelah sang suami menghabiskan waktu selama dua puluh tahun untuk menyusun kitabnya yang berjudul "Al-Hujurat"—sebuah karya yang menceritakan secara detail tentang kamar-kamar Rasulullah ﷺ bersama istri-istrinya—istrinya membakar buku tersebut! Semua usahanya sia-sia, hingga hal itu menyebabkan sang suami jatuh sakit dan mengalami kelumpuhan!

Maknanya: Jangan mengambil risiko dengan memilih pasangan yang tidak memahami nilai dari pekerjaanmu. Apa yang engkau anggap sebagai harta karun ilmiah, bisa jadi dilihat oleh orang lain sebagai "madu/saingan" yang harus dimusnahkan. 🙂


Imam Asy-Syafi'i berkata: "Aku memasuki Baghdad dan menginap di rumah Bisyr Al-Marisi (seorang ahli fikih Mu'tazilah dan pemuka aliran Jahmiyah; ia berpendapat bahwa Al-Qur'an adalah makhluk dan memiliki pandangan-pandangan yang menyimpang).

Imam Asy-Syafi'i berkata: "Aku memasuki Baghdad dan menginap di rumah Bisyr Al-Marisi (seorang ahli fikih Mu'tazilah dan pemuka aliran Jahmiyah; ia berpendapat bahwa Al-Qur'an adalah makhluk dan memiliki pandangan-pandangan yang menyimpang).
Berikut adalah terjemahan teks bahasa Arab dari gambar tersebut ke bahasa Indonesia:
Teks Utama:
Imam Asy-Syafi'i berkata: "Aku memasuki Baghdad dan menginap di rumah Bisyr Al-Marisi (seorang ahli fikih Mu'tazilah dan pemuka aliran Jahmiyah; ia berpendapat bahwa Al-Qur'an adalah makhluk dan memiliki pandangan-pandangan yang menyimpang). Lalu ia menempatkanku di sebuah kamar miliknya.
Ibu dari Bisyr bertanya kepadaku: 'Untuk apa engkau mendatangi orang ini?'
 Aku menjawab: 'Aku ingin mendengarkan (belajar) ilmu darinya.'
Maka ibunya berkata: 'Orang ini adalah seorang zindik!'"

Makna/Pelajaran (di bagian bawah):
Maknanya: Kebenaran itu tidak mengenal hubungan keibuan maupun keanak-anakan; serta tidak membenarkan/mengakui orang-orang yang memilih berpaling dari jalan yang lurus dan menyelisih kebenaran.


BERMADZHAB YANG BENAR

BERMADZHAB YANG BENAR     
Ustadz Ammi Nur Baits حفظه الله تعالى 

🗓️ Senin, 17 Agustus 2026
🏢 Masjid Taqwa Kalimas, Surabaya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Imam Al-Ghazali pernah memberikan ilustrasi dalam Kitabnya Al-Mustashfa min Ilm al-Ushul yang merupakan buku induk ilmu ushul fikih, beliau mengilustrasikan ada sebuah pohon yang berbuah, hanya orang tertentu yang bisa mengambil buah dari pohon itu, orang yang mampu mengambil buah tadi lalu dihidangkan ke masyarakat, maka dapat kita kelompokkan menjadi ;
1. Pohon --> dalil
2. Buah ---> hukum yang disimpulkan dari dalil
3. Orang yang mengambil --> ulama mujtahid
4. Alat bantu ---> metode ijtihad 

Sedangkan manusianya dapat kita klasifikasikan ;
1. Belajar teknis memanjat ---> cara ulama mengambil buahnya [menyimpulkan hukum dari dalil], inilah para thalibul ilmi, mereka belajar metodologi ijtihad
2. Menikmati buah tapi tidak mempelajari cara memetik buah --> masyarakat yang belajar namun tidak belajar metodologi untuk ijtihad semisal belajar ushul fiqih, bahasa arab, qawaidh fiqhiyah, dll
3. Tidak mau mencicipi buah ---> tidak menggubris ilmu, tidak belajar sama sekali
Dominasi madzhab di suatu negara adalah tergantung dari dominasi para pengajar madzhab yang tersebar di negara tersebut. 

Kewajiban utama kita adalah untuk mengikuti Sunnah Nabi ﷺ, satu-satunya manusia yang tidak boleh kita tolak, perbedaan yang terjadi diantara para ulama terjadi dalam perkara berikut ini ;
1. Penilaian shahih atau dhaif suatu hadits, 
2. Ushul madzhabnya berbeda, semisal madzhab maliki menjadikan amalan ahlul madinah bisa jadi dalil yang ini tidak disepakati ulama madzhab lainnya, hadits dhaif didahulukan daripada qiyas [madzhab hambali], qiyas didahulukan daripada hadits dhaif/meragukan [hanafi]

Allah mengajarkan prinsip agar kita berupaya mengembalikan kepada Allah dan RasulNya, dalilnya firman Allah سبحانه و تعالى

فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ

Artinya:.Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),..[QS An-Nisa Ayat 59]

Perbedaan pendapat sudah ada sebelum kita lahir, maknanya sudah ada realita yang tidak mungkin ditolak, karena itu terimalah realita ini sehingga jangan takut ketika terjadi perbedaan pendapat dalam perkara fiqih. 

Kita perlu sadar bahwa memilih pendapat itu akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat, karena itu tidak boleh asal-asalan berdasarkan hawa nafsu, namun harus dengan ilmu, mana pendapat yang lebih mendekati kebenaran. Perbedaan pendapat itu bukan dalil namun sebaliknya perbedaan pendapat itu butuh dalil [Al Quran, Sunnah, Ijma, & Qiyas].

Seseorang tidak menanggung dosa orang lain, tidak ada ceritanya ketika terjadi perbedaan pendapat kita bebas memilih pendapat jika benar maka mendapatkan pahala, jika keliru maka yang menanggung dosanya adalah ulama yang berfatwa. Sulaiman At-Taimi rahimahullah berkata,“Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172).

Madzhab itu bukan agama, para ulama juga bukan Nabi, yang dijamin maksum hanya Islam.Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah/5: 3]

wallahu'alam

Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=a9j40OIjXrQ

#madzhab #fiqh #ilmu #sunnah