🔰 Menjauhi Ajaran Tasawuf adalah Jalan dalam Menjaga Akal dan Agama
Di sepanjang sejarah Islam, para ulama besar tidak hanya mewariskan ilmu, tetapi juga mewariskan kewaspadaan.
Mereka memahami bahwa agama ini dibangun di atas wahyu dan akal yang sehat, bukan di atas perasaan yang liar atau amalan yang tidak berpijak pada dalil.
Karena itu, ketika seorang imam besar seperti Imam asy-Syafi'iy -rahimahullah- memberikan peringatan keras terhadap penyimpangan yang dibungkus dengan nama kezuhudan dan tasawuf, maka nasihat itu bukan lahir dari kebencian, melainkan dari kecemburuan terhadap kemurnian agama dan penjagaan terhadap akal umat.
Nasihat beliau bagaikan peringatan seorang dokter berpengalaman kepada pasiennya bahwa tidak semua yang terasa manis itu menyehatkan, dan tidak semua yang tampak lembut itu membawa keselamatan. Ibarat racun yang dicampur dalam madu dapat merusak tubuh tanpa terasa pada awalnya, demikian pula penyimpangan dalam beragama - meski dibungkus dengan pakaian ibadah dan kesalehan - dapat merusak akal dan lurusnya manhaj secara perlahan.
Peringatan ini adalah lampu merah di jalan, agar seorang penuntut ilmu tidak tersesat oleh jalan yang tampak indah namun berujung pada kegelapan.
🟪 Imam asy-Syafi’iy -rahimahullah- berkata,
"لو أن رجلا تصوف أول النهار، لا ياتي الظهر حتى يصير احمق."
“Seandainya seseorang memasuki ajaran tasawuf pada awal siang, maka sebelum datang waktu zuhur ia akan menjadi orang yang bodoh.”
🟪 Beliau juga berkata,
ما لزم احد الصوفيين أربعين يوما، فعاد عقله ابدا."
تلبيس ابليس (ص: ٣٧١) لابن الجوزي
“Tidaklah seseorang menetapi (menemani) kaum sufi selama empat puluh hari, kecuali akalnya tidak akan kembali lagi selamanya.”
📙 ~ Dua nasihat ini ternukil dalam kitab "Talbis Iblis" (hlm. 371) karya Ibnu al-Jauziy -rahimahullah-.
Sudah sepantasnya seorang penuntut ilmu menimbang setiap jalan pemikiran dengan timbangan al-Kitab dan as-Sunnah, serta pemahaman para sahabat dan imam yang lurus.
Agama ini bukan dibangun di atas rasa, mimpi, atau pengalaman pribadi seperti yang diyakini kaum sufi, tetapi di atas dalil dan ittiba’ (mengikuti Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam-).
Peringatan para ulama Sunnah, seperti Imam asy-Syafi'iy -rahimahullah- adalah benteng pertahanan yang menjaga agama agar tidak dimasuki hama pemikiran yang merusak dari dalam.
Barangsiapa yang meremehkan benteng itu, dikhawatirkan ia akan kehilangan buah iman yang selama ini ia rawat dengan susah payah.
Akal adalah cahaya yang Allah anugerahkan untuk memahami wahyu, bukan untuk dipadamkan atas nama kezuhudan atau pengalaman batin.
Jika cahaya itu redup, maka seseorang mudah terjatuh, meski ia merasa sedang berjalan menuju kebaikan.
Karena itu, keselamatan ada pada sikap lurus dengan aqidah yang benar, ibadah yang terbangun di atas Sunnah, dan ilmu yang terarah, serta akhlak yang indah.
Dengan demikian, seorang hamba berjalan di atas jalan yang terang, bukan di lorong gelap yang ia sangka sebagai cahaya.
🟪 Faedah dari Nasihat ini:
Berikut beberapa faedah yang dapat dipetik dari nasihat tersebut:
1/ Pentingnya menjaga akal dalam beragama.
Islam datang selaras dengan fitrah dan akal yang sehat. Setiap ajaran atau praktik yang merusak kejernihan berpikir dan beraqidah, patut dicurigai dan ditimbang ulang dengan dalil.
2/ Bahaya beragama tanpa ilmu.
Semangat ibadah tanpa bimbingan ilmu dapat menyeret seseorang pada sikap ghuluw (berlebiha) atau amalan yang tidak bersandar pada sunnah.
3/ Hendaknya Kritis terhadap klaim spiritualitas
Tidak semua yang mengatasnamakan zuhud, tasawuf, atau kedekatan kepada Allah benar secara syariat. Ukurannya tetap al-Qur’an dan as-Sunnah.
4/ Peringatan keras ini menunjukkan bahaya yang nyata.
Ungkapan yang tegas dari seorang imam besar menunjukkan bahwa penyimpangan tersebut bukan perkara ringan, tetapi memiliki dampak serius terhadap agama dan akal.
5/ Pengaruh lingkungan terhadap aqidah dan pola pikir.
Bergaul lama dengan kelompok yang menyimpang dapat memengaruhi cara berpikir dan keyakinan seseorang, meskipun awalnya hanya sebatas ingin belajar atau mencoba.
6/ Kedudukan para ulama sebagai penjaga agama.
Nasihat seperti ini menunjukkan peran ulama dalam membentengi umat dari penyimpangan, meskipun terkadang ucapan mereka terdengar keras.
7/ Agama dibangun di atas keseimbangan dalam segala hal.
Islam menggabungkan antara hati yang hidup dan akal yang sehat. Jika salah satunya rusak, maka jalan beragama menjadi tidak seimbang.
8/ Kewaspadaan sebelum terjerumus lebih mudah daripada memperbaiki setelah rusak.
Menjaga diri sejak awal lebih ringan daripada mengembalikan pemahaman yang sudah tercemar atau kebiasaan yang sudah mengakar.
9/ Kebenaran tidak diukur dengan banyaknya pengikut atau tampilan luar.
Banyaknya orang yang mengikuti suatu jalan, atau tampilan luar yang terlihat sederhana dan penuh simbol kesalehan, bukanlah bukti kebenaran. Ukuran kebenaran tetaplah kesesuaiannya dengan dalil dan manhaj para sahabat serta imam yang lurus. Sikap ini menanamkan pada penuntut ilmu prinsip untuk tidak tertipu oleh popularitas atau tampilan lahiriah, tetapi berpegang pada hujjah.
Semoga faedah ini menjadi pengingat bahwa keselamatan dalam agama terletak pada ilmu, ittiba’, dan sikap hati-hati dalam memilih jalan.
Gowa, 25 Sya'ban 1447 H
✍ Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-