Menjawab Celotehan: "Jika Perkataan Ulama Bukan Dalil, Perkataan Kamu Lebih Bukan Dalil"
Ketika kita menasehati orang untuk tidak taklid buta kepada pendapat ulama dan kembali kepada dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah, biasanya ada yang berceloteh demikian.
Maka kita jawab:
Pertama, kentara sekali celotehan ini ingin memaksakan bahwa perkataan ulama harus dianggap sebagai dalil. Jelas ini penyimpangan yang nyata. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan:
ليس من أحد إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم
“Tidak ada satu orang pun kecuali perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi shallallahu’alaihi wa sallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan)” (Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227).
Kedua, Ahlussunnah tidak mengajak untuk meninggalkan pendapat ulama yang bertentangan dengan dalil untuk beralih kepada pendapat diri sendiri. Subhanallah, siapa diri kita ini??
Ini tuduhan yang sangat aneh.
Karena syi'ar Ahlussunnah itu jelas: kembali Al-Qur’an, As-Sunnah dengan PEMAHAMAN SALAFUS SHALIH. Bukan mengajak kepada pemahaman pribadi.
Salafus shalih itu ulama. Artinya, Ahlussunnah tidak anti ulama dan tidak anti penjelasan ulama. Bahkan senantiasa mengajak untuk kembali kepada penjelasan ulama salaf dan ulama khalaf (ulama belakangan) yang pemahamannya sejalan dengan pemahaman dan praktek salaf.
Ahlussunnah juga menerapkan nasehat Imam Ahmad rahimahullah :
إيَّاكَ أنْ تتكلمَ في مسألةٍ ليسَ لكَ فيها إمامٌ
"Jangan engkau berkata tentang suatu masalah agama, yang engkau tidak memiliki imam (pendahulu) dalam masalah tersebut" (Siyar A'lamin Nubala, 11/296).
Jangan bicara dari kantong sendiri, namun hendaknya mengambil dari para ulama. Bahkan jika mau jujur, tulisan-tulisan para ulama dan dai Ahlussunnah yang paling banyak dipenuhi kalam-kalam para ulama, lengkap dengan sumber penukilannya yang valid, bahkan dicek sahih tidak penisbatannya. Ciri khas tulisan-tulisan mereka sejak dulu selalu dipenuhi catatan kaki dan referensi kitab-kitab ulama yang sangat banyak. Bisa-bisanya dituduh anti ulama dan memahami sendiri dari Al-Qur'an dan As-Sunnah?!?
Namun jika para ulama berbeda pendapat, seorang Ahlussunnah mengambil pendapat ulama yang lebih sejalan dengan dalil. Bukan yang sesuai madzhabnya, sesuai kelompoknya, sesuai mayoritas atau sesuai selera.
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menjelaskan:
فالواجب أن نَجتمع على كتاب الله وسُنة رسوله، و ما اختلفنا فيه نردُّه إلى كتاب الله وسُنة رسوله، لايعذر بعضنا بعضاً و نبقى على الاختلاف؛ بل نردُّه إلَى كتاب الله وسُنة رسوله، و ما وافق الْحَقَّ أخذنا به، و ما وافق الخطأ نرجع عنه . هذا هو الواجب علينا ، فلا تبقى اﻷمة مُختلفةً
“Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang sesuai dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Ushul As-Sittah, 19).
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan:
الواجب الالتزام بما شرعه الله، على لسان رسوله محمد عليه الصلاة والسلام، وليس هناك شخص معين يلزم الأخذ بقوله، لا الأئمة الأربعة ولا غيرهم، فالواجب اتباع النبي صلى الله عليه وسلم والسير على منهاجه في الأحكام والتشريع، ولا يجوز أن يقلد أحد بعينه في ذلك، بل الواجب هو اتباع النبي ﷺ، والأخذ بما شرع الله على يده عليه الصلاة والسلام سواء وافق الأئمة الأربعة أو خالفهم، هذا هو الحق
“Yang wajib bagi kita adalah berpegang teguh pada syariat Allah dan kepada tuntunan Rasul-Nya, Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Bukan mengikuti person tertentu untuk diambil semua pendapatnya. Apakah ia imam yang empat atau person yang lain. Yang wajib bagi kita adalah mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan berjalan di atas manhaj beliau dalam fikih dan hukum syariat. Dan tidak boleh taklid buta kepada seorang pun dalam masalah ini. Bahkan wajib mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan mengambil apa yang Allah syariatkan melalui tangan Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Baik sesuai dengan pendapat imam yang empat ataupun tidak sesuai. Ini yang merupakan kebenaran” (Nurun ‘alad Darbi, no. 73 pertanyaan ke-4).
Jelas nggih??
Semoga Allah Ta'ala memberi taufik.
Fawaid Kangaswad | Umroh Titanium: bit.ly/fawaid-umroh