Selasa, 15 September 2026

Ijmak Sukuti: Ketika Diam Menjadi Persetujuan

Ijmak Sukuti: Ketika Diam Menjadi Persetujuan

Dalam pembahasan ushul fiqh, para ulama membahas sebuah keadaan yang cukup menarik, bagaimana jika seorang mujtahid menyampaikan suatu pendapat, kemudian pendapat itu tersebar dan diketahui oleh para mujtahid lainnya, namun tidak seorang pun dari mereka mengingkarinya?

Keadaan inilah yang dikenal dengan istilah Ijmak Sukuti (الإجماع السكوتي), yaitu kesepakatan yang dipahami melalui diamnya para mujtahid setelah mengetahui suatu pendapat.

Para ulama berbeda pendapat mengenai kedudukan diam tersebut.

Sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu merupakan ijmak dalam hukum-hukum taklif, karena diamnya para mujtahid setelah mengetahui suatu pendapat menunjukkan persetujuan mereka terhadapnya.

Sebagian yang lain menilai bahwa hal tersebut memang dapat dijadikan hujjah, namun tidak sampai disebut sebagai ijmak.

Sementara kelompok ketiga berpendapat bahwa diam semata tidak cukup untuk menunjukkan persetujuan, sehingga ia bukan ijmak dan bukan pula hujjah.

Gambaran masalahnya adalah ketika seorang mujtahid menyampaikan suatu pandangan, lalu pandangan itu tersebar dan sampai kepada para mujtahid lainnya. Pada saat itu tidak terdapat penghalang yang menghalangi mereka untuk berbicara atau menyelisihi pendapat tersebut. Tidak ada tekanan penguasa, tidak ada ketakutan, tidak ada uzur yang menghambat mereka untuk menjelaskan sikapnya, dan masih tersedia waktu yang cukup untuk memberikan tanggapan.

Misalnya, seorang khalifah atau ulama besar menyampaikan suatu hukum di hadapan banyak sahabat, lalu hukum tersebut diketahui luas oleh mereka, namun tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Dalam kondisi seperti ini, diam mereka dipandang sebagai indikasi adanya persetujuan.

Pendapat yang dinilai paling kuat oleh banyak ulama ushul adalah bahwa Ijmak Sukuti dapat dijadikan hujjah apabila seluruh syaratnya terpenuhi. Akan tetapi, kedudukannya tidak sama dengan ijmak yang dinyatakan secara terang-terangan oleh seluruh mujtahid.

Karena itu, Ijmak Sukuti umumnya dipandang sebagai dalil zhanni, yaitu dalil yang menghasilkan dugaan kuat, bukan kepastian mutlak. Sebab, diamnya seseorang masih memungkinkan ditafsirkan dengan beberapa kemungkinan, meskipun kemungkinan persetujuan lebih kuat.

Adapun jika dapat dipastikan bahwa para mujtahid yang diam tersebut benar-benar menerima dan menyetujui pendapat yang disampaikan, maka kedudukannya dapat naik menjadi hujjah yang bersifat qath'i. Namun, kepastian seperti ini dalam praktiknya sangat sulit untuk dibuktikan.

Di sini terlihat bahwa perbedaan para ulama bukan terletak pada fakta adanya diam, melainkan pada pertanyaan ushuliyah yang lebih mendasar, apakah diam dalam kondisi yang memungkinkan untuk menyanggah dapat dianggap sebagai bentuk persetujuan? Dari jawaban atas pertanyaan inilah lahir perbedaan pandangan mengenai kedudukan Ijmak Sukuti dalam istidlal dan penetapan hukum syariat.

Wallahu a'lam
Ibn Nashrullah

Bahan bacaan :
📚 Syarh Qawa'id al-Ushul wa Ma'aqid al-Fushul

Tiga doa yang -mestinya- jangan kau lupakan:

Tiga doa yang -mestinya- jangan kau lupakan:

1. Ya Allah, aku sejatinya meminta husnul khatimah kepada-Mu.
2. Ya Allah, anugerahkan aku -taufik untuk- bertaubat dengan tulus sebelum ajal.
3. Ya Allah Dzat Pembolak-balik hati, kokohkan diri ini di atas agama-Mu.

Senin, 14 September 2026

BUAT LO PECINTA KOPI!

BUAT LO PECINTA KOPI!
(Kiat agar kopi jadi sarana menggapai ridha Ilahi) 

Beberapa hari yang lalu, Syaikh kami, Prof. Dr. Abdurrazzaq al Badr membacakan beberapa bait syair tentang kopi di Masjid Nabawi. Setelah kami mencari tau tentang syair tersebut, diketahui kemudian bahwa syair itu  dinisbatkan kepada Syaikh Mulla Imran Alu Ridhwan al Farisi, isi bait tersebut adalah: 

عليكَ بشُرْبِ البُنِّ في كلِّ لحظةٍ
فإنَّ بَها يا صاحِ خَمْسُ فوائدِ
Hendaklah engkau meminum kopi pada setiap waktu, karena di dalamnya, wahai sahabat, terdapat lima manfaat.

نَشاطٌ وهَضْمٌ ثمُّ قَطْعُ بَلاغِمٍ
ونورٌ لعينٍ ثمُّ قُوتٌ لعابدِ
Memberikan semangat, membantu pencernaan, kemudian menghilangkan dahak; memberikan cahaya bagi mata, serta menjadi asupan bagi orang yang beribadah.

📚 Tarikh Lanjah, Hal. 151
________________________
Faidah:
1. Banyak jenis dan cara untuk menyeduh dan meminum kopi. Namun, yang kami ketahui dari para barista yang memiliki kridibilitas dalam kopi, mereka merekomendasikan kopi hitam tanpa gula sebagai asupan energi yang baik bagi tubuh, asal memperhatikan keadaan lambung dan meminumnya sesuai dengan takaran yang pas. 
2. Orang Arab sendiri menikmati kopi yang mereka sebut 'gahwa' dengan cara yang berbeda dengan kita. Mereka menyangrai biji kopi hingga warnanya berubah menjadi coklat cerah, lalu mereka menumbuknya, lalu merebusnya didalam air mendidih dan memasukkan kedalam rebusan kopi itu kapulaga, cengkih, dan safron.
3. Kopi yang ada dirumah kami adalah kopi yang berasal dari rumah keluarga Alu Badr. Salah seorang saudara Syaikh Abdurrazaq selalu membekali kami kopi khas nejed yang mereka minum untuk kemudian kami bawa pulang kerumah hingga saat ini, jazahumullahu khaira. 
4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Si'di memiliki 'dallah' (sejenis cerek) kecil untuk kemudian dipanaskan dan dimasak didalam nya kopi. Setiap dua rakaat shalat malam atau tarawih, beliau meminum secawan kecil gahwa agar lebih melek dan bersemangat untuk melaksanakan shalat. 
5. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy Syaikh juga menyeruput kopi setiap hari. Lalu ditanyakan kepada beliau; 'berapa cawan yang telah kau minum?' Lalu syaikh berkata; 'Kalau kau bertanya kepadaku berapa cerek yang telah ku minum, maka aku akan menjawabmu!'.
6. Niat seseorang dalam mengerjakan kebiasan sehari-hari dapat membuat hal yang biasa menjadi ladang pahala. Apabila seseorang meminum kopi dengan niat agar kuat dan bersemangat dalam beribadah, maka ia akan mendapatkan pahala dengan meminum kopi itu, wallahu a'lam. 
7. Seni menikmati kopi dikembalikan kepada kebiasaan masing masing dari suku, kota, atau negara. 
Wallahu a'lam

🖋️ Abu Ibrahim Yami Cahyanto, Lc.

Kisah Imam Syafii berseteru dengan pengikut dan Murid Murid Imam Malik lainnya.

Kisah Imam Syafii berseteru dengan pengikut dan Murid Murid Imam Malik lainnya.

Imam Al-Baihaqi berkata: "Aku membaca dalam buku karya Zakaria bin Yahya Al-Saji, berdasarkan penuturan orang-orang Basra bahwas Imam Al-Shafi'i dengan sengaja menulis buku menyelisihi pendapat Imam Malik; karena dia mendengar bahwa di Andalusia ada penutup kepala/kopiah milik Imam Malik yang digunakan untuk meminta hujan, dan setiap kali disampaikan kepada mereka hadits hadits Rasulullah ﷺ , mereka meresponnya dengan mengangkat pendapat Imam Malik. 

Imam Shafi'i berusaha meluruskan sikap mereka dengan berkata kepada mereka: Imam Malik itu manusia biasa yang bisa terjatuh dalam kesalahan.

Kondisi ini melatar belakangi Imam Syafii  menulis buku memuat perbedaan pendapat dirinya dengan Malik.

Menurut Imam Syafii: sebelum melakukan tindakan ini, selama setahun lamanya aku beristikharah memohon petunjuk kepada Allah ".  (Tawali Ta'sis oleh Ibnu Hajar Al Asqalani 147-148)

Tidak terima dengan sikap Imam Syafii, banyak dari pengagum Imam Malik yang berusaha menentang sikap Imam Syafii ini, mereka bersikap kasar kepadanya dan berusaha menjatuhkan kredibiltas beliau dengan tuduhan bahwa sikap itu belliau lakukan demi kepentingan dunia.

Imam Syafii merespon tuduhan mereka dengan berkata:
«Mereka bilang aku menyelisihi mereka demi mendapatkan kekayaan dunia! Dan mana mungkin itu terjadi, sedangkan merekalah yang saat ini hidup bergelimang dalam kekayaan, padahal manusia itu mengejar harta dunia untuk perut dan kemaluannya, sedangkan aku tidak bisa sekedar mencicipi makanan lezat dan tidak ada jalan untuk menikah —maksudku karena beliau menderita wasir—tetapi aku yang aku lakukan adalah menyelisihi orang yang menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam .(Tawali Ta'sis oleh Ibnu Hajar Al Asqalani 149)

Demikianlah, tidak ada yang memiliki jaminan bebas dari fanatisme, sekelas murid murid Imam Malik, dari mereka ada yang terjatuh dalam fanatisme semisal di atas, tentu guru yang kapasitasnya jauh di bawah Imam Malik, dan murid murid/pengikut yang kapasitasnya jauh dibawah murid murid/pemngikut Imam Malik lebih potensi terjatuh dalam fanatisme.

Padahal patut anda ketahhui bahwa Imam Syafii adalah salah satu murid senior Imam Malik rahimahumullah.

Semoga mencerahkan.
https://www.facebook.com/share/19FhUfCzk3/

Al-'Allamah Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah


Al-'Allamah Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah

Beliau adalah Asy-Syaikh Al-'Allamah Bakr bin Abdullah Abu Zaid, seorang pakar fikih, ushul fikih, dan peneliti. Beliau merupakan salah satu ulama Arab Saudi pada abad ke-15 Hijriah, mantan anggota Dewan Ulama Senior (Hai'ah Kibaril 'Ulama) dan Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa (Lajnah Da'imah), mantan Ketua Akademi Fikih Islam Internasional, serta penulis berbagai karya tersohor dalam bidang fikih, isu-isu kontemporer (nawazil), adab, bahasa, dan silsilah (ansab).

Beliau dilahirkan pada tahun 1365 H di 'Aliyah Najd dan tumbuh dalam lingkungan pencari ilmu. Beliau kemudian pindah ke Riyadh untuk belajar di Ma'had 'Ilmi, lalu melanjutkan ke Fakultas Syariah hingga lulus. Pendidikan lanjutannya ditempuh di Ma'had 'Ali lil Qada' hingga meraih gelar Magister pada tahun 1399/1400 H, dan meraih gelar Doktor pada tahun 1403 H.

📚 Biografi Syaikh Bakr Abu Zaid, Ensiklopedia Sejarah Dorar Arya, Peristiwa Tahun 1429 H.

Guru-Guru Beliau

Beliau menimba ilmu dari para ulama besar pada zamannya. Beliau berguru kepada Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz rahimahullah dan bermulazamah (mendampingi) beliau selama kurang lebih dua tahun. Beliau mempelajari beberapa kitab di bawah bimbingannya, antara lain:

  • Fathul Bari
  • Bulughul Maram
  • Berbagai risalah dalam bidang fikih, tauhid, dan hadis

Syaikh Ibn Baz rahimahullah juga memberikan ijazah ilmiah kepada beliau.

📚 Biografi Syaikh Bakr Abu Zaid, Arsip Multaqa Ahl al-Hadith, hlm. 110.

Guru yang paling berpengaruh bagi beliau adalah Al-'Allamah Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti rahimahullah, penulis tafsir Adwa'ul Bayan. Beliau bermulazamah dengannya selama kurang lebih sepuluh tahun.

Dalam biografi murid-murid Asy-Syanqiti disebutkan:

"Syaikh Bakr Abu Zaid: Penulis banyak karya ilmiah, seorang peneliti yang tekun dan mendalam (muhaqqiq), bermulazamah kepada Syaikh (Asy-Syanqiti) rahimahullah selama sepuluh tahun."

📚 Abdul Rahman bin Abdul Aziz As-Sudais, Biografi Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti Penulis Adwa'ul Bayan, hlm. 215.

Beliau mempelajari beberapa kitab dari Asy-Syanqiti, seperti:

  • Adwa'ul Bayan
  • Adab al-Bahts wa al-Munazarah
  • Sejumlah kitab tentang silsilah (ansab)

Beliau menimba ilmu silsilah darinya hingga Syaikh Asy-Syanqiti pernah berkata kepadanya:

"Tidak ada yang mengambil ilmu silsilah dariku di negeri ini selain engkau."

📚 Abdul Rahman As-Sudais, Biografi Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti, hlm. 215 dan seterusnya.

Beliau sangat tekun mendampingi gurunya tersebut. Salah seorang yang hidup sezaman dengannya meriwayatkan:

"Aku melihat Syaikh Bakr Abu Zaid menghadiri halaqah tafsir Syaikh (Asy-Syanqiti) pada bulan Ramadan tanpa absen satu hari pun."

📚 Abdul Rahman As-Sudais, Biografi Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti, hlm. 215 dan seterusnya.

Kehidupan Ilmiah dan Karier

Setelah lulus, beliau diangkat menjadi hakim di Madinah Al-Munawwarah dan menjalankan tugas tersebut hingga sekitar tahun 1400 H. Beliau juga mengajar di Masjid Nabawi serta diangkat menjadi imam dan khatib di sana untuk beberapa waktu.

Selanjutnya, beliau menduduki berbagai posisi penting di bidang keilmuan dan peradilan, di antaranya:

  • Wakil Menteri Kehakiman
  • Anggota Dewan Ulama Senior (Hai'ah Kibaril 'Ulama)
  • Anggota Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa (Lajnah Da'imah)
  • Anggota Akademi Fikih Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
  • Ketua Akademi Fikih Islam Internasional

Beliau juga mengajar di Ma'had 'Ali lil Qada' dan program pascasarjana Fakultas Syariah.

📚 Ensiklopedia Sejarah Dorar Arya, Peristiwa Tahun 1429 H, Biografi Bakr Abu Zaid.

Perhatian Terhadap Fikih Kontemporer (Fiqh An-Nawazil)

Salah satu bidang keilmuan utama beliau adalah fikih isu-isu kontemporer (fiqh an-nawazil). Beliau menghimpun riset-risetnya dalam karya monumental:

  • Fiqh An-Nawazil

Beberapa isu yang beliau bahas di dalamnya meliputi:

  • Alat penunjang hidup dan tanda kematian klinis
  • Bayi tabung
  • Surat jaminan bank (bank guarantee)
  • Asuransi
  • Transplantasi organ
  • Kartu kredit
  • Kartu diskon
  • Berbagai isu fikih kontemporer lainnya

Hal ini menunjukkan perhatian beliau yang besar dalam menghubungkan fikih dengan perkembangan zaman.

📚 Bakr Abu Zaid, Fiqh An-Nawazil, Jilid 1-3, Pengantar Penulis dan Indeks Masalah.

Hilyah Talib al-'Ilm

Salah satu karyanya yang paling tersohor adalah:

  • Hilyah Talib al-'Ilm (Perhiasan Penuntut Ilmu)

Kitab ini membahas adab, akhlak, serta metode belajar bagi penuntut ilmu, sekaligus peringatan agar tidak terburu-buru tampil di publik sebelum matang secara keilmuan.

Salah satu kutipan terkenal dalam kitab ini:

"Waspadalah dari tampil di publik (mengajar/fatwa) sebelum engkau memiliki kualifikasi, karena hal itu adalah petaka dalam ilmu dan amal."

📚 Bakr Abu Zaid, Hilyah Talib al-'Ilm, hlm. 64 pada beberapa cetakan umum.

Beliau juga menyatakan:

"Waspadalah dari menyibukkan diri dengan menulis sebelum engkau menyempurnakan perangkat ilmu, memenuhi kualifikasi, dan matang di bawah bimbingan guru-gurumu."

📚 Hilyah Talib al-'Ilm, lihat Syarah Ibn 'Uthaymeen, hlm. 292-298.

Syaikh Muhammad bin Salih Al-'Uthaymeen rahimahullah memberikan perhatian khusus pada kitab ini dengan menjelaskannya secara menyeluruh kepada para muridnya. Penjelasan tersebut dicetak dengan judul:

  • Syarh Hilyah Talib al-'Ilm

Perhatian dari Syaikh Ibn 'Uthaymeen ini menjadi salah satu bukti nyata akan kedudukan kitab ini dan penulisnya.

📚 Muhammad bin Salih Al-'Uthaymeen, Syarh Hilyah Talib al-'Ilm, Yayasan Syaikh Ibn 'Uthaymeen, Cet. 1, 1434 H.

Mu'jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah

Karya tersohor beliau lainnya adalah:

  • Mu'jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah (Kamus Ungkapan yang Dilarang)

Dalam kitab ini, beliau mengumpulkan berbagai kekeliruan lafaz dan ungkapan populer—baik klasik maupun modern—yang mengandung larangan syariat, kesalahan bahasa, atau memerlukan koreksi.

Beliau menyatakan dalam pengantarnya:

"Ini adalah bab penyusunan yang menghimpun sejumlah besar lafaz dan ucapan yang beredar di lisan orang-orang, baik dulu maupun sekarang, yang dilarang untuk diucapkan."

📚 Bakr Abu Zaid, Mu'jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah, Pengantar Cetakan Ketiga, hlm. 7.

Jumlah ungkapan beserta catatannya yang dihimpun dalam buku ini mencapai sekitar 1.500 lafaz.

📚 Mu'jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah, Halaman Judul dan Pengantar Buku.

At-Ta'alum

Buku populer lainnya adalah:

  • At-Ta'alum wa Atharuhu 'ala al-Fikr wa al-Kitab (Sikap Pura-Pura Berilmu dan Pengaruhnya terhadap Pemikiran dan Karya Tulis)

Kitab ini memperingatkan bahaya mengklaim ilmu secara tergesa-gesa dan tampil mengajar sebelum kokoh keilmuannya.

Tasniif an-Naas baina adh-Dhann wa al-Yaqin

Beliau juga menulis:

  • Tasniif an-Naas baina adh-Dhann wa al-Yaqin (Pengelompokan Manusia Antara Prasangka dan Keyakinan)

Karya ini memberikan peringatan agar tidak terburu-buru menghakimi para ulama, da'i, dan penuntut ilmu hanya berdasarkan prasangka atau desas-desus. Ini adalah prinsip penting dari metodologi beliau: memperingatkan bahaya sok berilmu (at-ta'alum) di satu sisi, sekaligus melarang ketergesaan dalam menjatuhkan reputasi orang lain di sisi lain.

Karya-Karya dalam Mazhab Hanbali

Secara kepakaran fikih, beliau berlatar belakang mazhab Hanbali. Salah satu buku terpentingnya di bidang ini adalah:

  • Al-Madkhal Al-Mufassal ila Mazhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal wa Takhrijat Al-Ashab

Buku ini merupakan referensi utama untuk memahami sejarah, dasar-dasar, terminologi, tingkatan ulama, dan literatur mazhab Hanbali. Beliau juga memiliki studi dan penelitian mendalam mengenai warisan ilmiah Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim.

Perhatian Terhadap Ibn al-Qayyim

Beliau sangat menaruh perhatian pada warisan ilmiah Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah. Di antara karyanya:

  • Ibn al-Qayyim: Hayatuhu, Aatsaruhu, Mawariduhu
  • At-Taqrib li 'Ulum Ibn al-Qayyim

Hal ini menunjukkan pengaruh kuat dari pemikiran Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dan muridnya, Ibn al-Qayyim, dalam metodologi dan penyusunan ilmu beliau.

Perhatian Terhadap Ilmu Silsilah (Nasab)

Ilmu silsilah merupakan salah satu keahlian khas beliau. Buku terbesarnya dalam bidang ini adalah:

  • Tabaqat An-Nassabin

Pengetahuannya dalam bidang ini banyak dipengaruhi oleh gurunya, Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti rahimahullah, yang dikenal memiliki wawasan sangat luas tentang silsilah bangsa Arab.

Akidah dan Manhaj

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berpegang pada akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di atas metode Athariyah Salafiyah dalam penetapan Tauhid, Asma' wa Sifat, mengagungkan teks Al-Qur'an dan Sunnah, serta memperingatkan masyarakat dari perbuatan syirik dan bid'ah.

Sebagai anggota Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa, beliau berpartisipasi dalam mengeluarkan berbagai fatwa terkait tauhid, akidah, dan sunnah. Beliau juga sangat memperhatikan warisan pemikiran:

  • Ibn Taimiyah
  • Ibn al-Qayyim
  • Para ulama Dakwah Salafiyah

Pujian Para Ulama Terhadap Beliau

Salah satu ulama besar yang mengakui kedudukan beliau adalah Syaikh Muhammad bin Salih Al-'Uthaymeen rahimahullah. Beliau menggambarkan Syaikh Bakr dengan perkataan:

"Beliau menduduki berbagai jabatan penting, namun karakter beliau saat menjabat maupun setelahnya tetap sama seperti sebelum menjabat; kedudukan tidak mengubah pribadinya."

📚 Dikutip dari tulisan Dr. Muhammad Al-Quwaiz, Syaikh Bakr Abu Zaid, Surat Kabar Al-Riyadh, Edisi 14476, 4 Safar 1429 H.

Pujian ini merujuk pada ketawadukan dan keteguhan sikap beliau yang tidak terpengaruh oleh jabatan duniawi.

Dr. Abdul Rahman As-Sudais juga menggambarkan beliau sebagai:

"Pemilik karya tulis yang banyak, seorang peneliti yang tekun dan mendalam."

📚 Abdul Rahman As-Sudais, Biografi Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti, hlm. 215.

Ulama lain menggambarkan kitab Hilyah Talib al-'Ilm sebagai:

"Kitab yang sangat bernilai dan risalah yang bermanfaat."

📚 Komentar atas Hilyah Talib al-'Ilm, Majelis Pertama.

Syaikh 'Abdul Karim Al-Khudair juga memuji proyek ilmiah yang berada di bawah pengawasan Syaikh Bakr Abu Zaid dengan sebutan:

"Sangat rapi dan akurat."

📚 Abdul Karim Al-Khudair, Al-Hadith Al-Tahlili, Pelajaran 1.

Karya-Karya Populer

Beberapa kitab karya beliau yang paling tersohor antara lain:

  • Hilyah Talib al-'Ilm
  • Mu'jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah
  • Fiqh An-Nawazil
  • At-Ta'alum
  • Tasniif an-Naas baina adh-Dhann wa al-Yaqin
  • Hirasat al-Fadilah
  • Adab al-Hatif
  • Tasmiyat al-Maulud
  • Tabaqat An-Nassabin
  • Al-Madkhal Al-Mufassal ila Mazhab Al-Imam Ahmad
  • At-Taqrib li 'Ulum Ibn al-Qayyim
  • Ibn al-Qayyim: Hayatuhu, Aatsaruhu, Mawariduhu
  • La Jadida fi Ahkam as-Salah
  • At-Ta'sil li Usul at-Takhrij wa Qawa'id al-Jarh wa at-Ta'dil

Serta berbagai risalah dan hasil penelitian ilmiah lainnya.

Wafat Beliau

Di akhir hayatnya, beliau menderita sakit parah yang cukup lama hingga akhirnya wafat pada tahun:

  • 1429 H / 2008 M

Beliau meninggal setelah menempuh perjalanan hidup yang penuh dengan pengabdian di bidang ilmu, peradilan, fatwa, penulisan buku, dan pengajaran.

📚 Ensiklopedia Sejarah Dorar Arya, Peristiwa Tahun 1429 H, Wafatnya Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid.

Rangkuman Biografi

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah adalah seorang ulama dan peneliti mendalam pada zamannya yang memadukan keahlian dalam bidang fikih, ushul fikih, isu-isu kontemporer, bahasa, silsilah, serta adab penuntut ilmu.

Beliau menimba ilmu dari para ulama besar, terutama:

  • Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz
  • Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti

Beliau mendampingi Asy-Syanqiti selama sepuluh tahun untuk mempelajari tafsir, ushul fikih, dan silsilah, sebelum akhirnya menjabat posisi penting di lembaga peradilan dan fatwa. Karya-karya beliau seperti Hilyah Talib al-'Ilm, Mu'jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah, Fiqh An-Nawazil, dan At-Ta'alum terus menjadi rujukan ilmiah yang berharga.

Semoga Allah merahmati Al-'Allamah Bakr Abu Zaid dengan rahmat yang luas, mengampuninya, dan membalas seluruh kebaikannya untuk ilmu dan umat.

orang-orang akan memandangnya remeh

روي عن لقمان الحكيم أنّه قال لابنه :
يا بنيّ استغن بالكسب الحلال عن الفقر ، فما افتقر رجل إلّا أصابته ثلاث خصال : رقّة فى دينه ، وضَعف فى عقله ، وذهاب في مروءته ، وأعظم من هؤلاء الثلاثة :  استخفاف الناس به !

تنبيه المغترين (٣٠٧)
Diriwayatkan dari Luqman al-Hakim bahwa beliau berkata kepada putranya:
"Wahai anakku, cukupkanlah dirimu dari kemiskinan dengan usaha yang halal. Sebab, tidaklah seseorang jatuh miskin melainkan ia akan tertimpa tiga perkara: ketipisan (kelemahan) dalam agamanya, kelemahan pada akalnya, dan hilangnya kehormatan (keperwiraan) dirinya. Namun, yang lebih besar dari ketiga hal tersebut adalah: orang-orang akan memandangnya remeh!"
(Tanbih al-Mughtarrin hal. 307)

maka tipu daya penyihir tidak akan bermudarat baginya. Dan tidaklah ayat ini ditulis untuk orang yang terkena sihir, melainkan Allah akan menghilangkan sihir itu darinya."

Sebagian ulama salaf berkata:

"Barang siapa berbaring di tempat tidurnya pada malam hari kemudian membaca ayat ini:

(Mā ji'tum bihi as-siḥru innallāha sayubṭiluh, innallāha lā yuṣliḥu 'amalal-mufsidīn) 'Apa yang kamu lakukan itu adalah sihir, sesungguhnya Allah akan membatalkannya. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan' [QS. Yunus: 81],

maka tipu daya penyihir tidak akan bermudarat baginya. Dan tidaklah ayat ini ditulis untuk orang yang terkena sihir, melainkan Allah akan menghilangkan sihir itu darinya."

(Tafsir al-Qurthubi 8/368)