Minggu, 23 Agustus 2026

menanggung dari akibat buruk

Beradab kepada Nabi ﷺ merupakan kewajiban keimanan dan tanda atas kebenaran/kejujuran rasa cinta.

Beradab kepada Nabi ﷺ merupakan kewajiban keimanan dan tanda atas kebenaran/kejujuran rasa cinta.

​Hal ini mencakup aspek hati, lisan, dan perbuatan yang mengagungkan kedudukan beliau serta tunduk pada syariatnya.

Adab Hati meliputi:

  • Pengagungan dan Rasa Cinta: Mencintai beliau lebih didahulukan daripada mencintai diri sendiri dan seluruh manusia.
  • Kepatuhan Mutlak (Taslim): Menerima perintah beliau tanpa sanggahan atau mendahulukan pendapat manusia di atas sunahnya.

Adab Lisan dan Ucap meliputi:

  • Merendahkan Suara: Tidak mengangkat suara melebihi suara beliau sebagai bentuk penghormatan saat mempelajari sirah maupun ketika hadis beliau disebutkan.
  • Tidak Memanggil secara Langsung: Tidak memanggil beliau hanya dengan namanya saja, melainkan dengan sebutan risalah dan kenabian ("Wahai Rasulullah", "Wahai Nabi Allah").
  • Mempunyai/Memperbanyak Shalawat: Setiap kali nama beliau disebutkan, hendaknya senantiasa mengucapkan shalawat dan salam kepadanya.

(Allah berfirman): "Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)." (QS. An-Nur: 63)

​Barang siapa yang berbuat buruk/menghina keagungan Nabi ﷺ, maka baginya awan laknat dan kemurkaan, dan dialah orang yang terputus (terputus dari segala kebaikan).

(Allah berfirman): "Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus." (QS. Al-Kautsar: 3)


Ibn 'Utsaimin menyelisihi pendapat yang populer (masyhur) dalam mazhab Imam Ahmad (wafat: 241 H) dalam 300 masalah fikih, dan beliau juga menyelisihi Imam Ibn Taimiyyah (wafat: 728 H) dalam 30 masalah fikih.

Teks Arab:
[ذكريات]
عندما طبع الشرح الممتع للفقيه الأصولي ابن عثيمين(ت:١٤٢١هجري )، اتصل به علماء يستدركون عليه تصحيح بعض أقواله ،فمنها ما وافقهم عليه، ومنها ما ثبت عليه.
وابن عثيمين خالف مشهور مذهب الإمام أحمد(ت:٢٤١ هجري) في ثلاثمائة مسألة، وخالف أيضا الإمام ابن تيمية(ت: ٧٢٨هجري) في ثلاثين مسألة فقهية، وكل هذا يدل على استقلال شخصيته العلمية وتجرده للدليل.
رحم الله الجميع.
د.أحمد بن مسفر العتيبي
Terjemahan:
[Kenangan]
Ketika kitab Ash-Syarhul Mumti' karya ahli fikih dan ushul Ibn 'Utsaimin (wafat: 1421 H) dicetak, para ulama menghubunginya untuk memberikan koreksi serta menyanggah beberapa pendapatnya. Dari koreksi tersebut, ada pendapat yang beliau sepakati (terima), dan ada pula pendapat yang tetap beliau pertahankan.
Ibn 'Utsaimin menyelisihi pendapat yang populer (masyhur) dalam mazhab Imam Ahmad (wafat: 241 H) dalam 300 masalah fikih, dan beliau juga menyelisihi Imam Ibn Taimiyyah (wafat: 728 H) dalam 30 masalah fikih. Semua ini menunjukkan kemandirian kepribadian ilmiah beliau serta ketulusannya dalam berpegang teguh pada dalil.
Semoga Allah merahmati mereka semua.
Dr. Ahmad bin Musfir al-'Utaibi

sebagian ahli fikih tentang siapa yang paling berhak menjadi imam salat

: ملاحظة : هذا القول لبعض فقهاء الحنفية والشافعية؛ يمكن العودة إلى:"رد المحتار على الدر المختار"؛ حاشية ابن عابدين" والدر المختار شرح تنوير الأبصار" للإمام محمد علاء الدين الحصكفي
 : ملاحظة2: راعى فقهاء الاحناف التعلق الظاهري فقط ومنهم كالطحطاوي من أشار إلى الجانب العاطفي كما بينت في المنشور ...!
وطبعا من باب التمثيل لا الحصر واذا زاد فضلها ازدادت أحقيته بالإمامة بعد الشروط التي ينبغي توفرها والله أعلم
Di antara hal menarik/unik yang disebutkan oleh sebagian ahli fikih tentang siapa yang paling berhak menjadi imam salat (imamah sughra) adalah didahulukannya orang yang memiliki istri paling cantik/terbaik, karena ia biasanya lebih mampu menjaga kehormatan dirinya (afif)!
Al-Thahtawi berkata dalam kitab Hasyiyah-nya: "Yang dimaksud 'memiliki istri paling cantik/terbaik' adalah menurut pandangan si suami sendiri. Hal ini kembali pada keadaan di mana ia sangat mencintainya. Penulis menggunakan kata 'paling cantik' dengan maksud 'paling banyak cintanya', karena keduanya saling berkaitan!"
Maknanya: Perhatian para ahli fikih terhadap sisi fitrah laki-laki ini menunjukkan bahwa ibadah seseorang tidak sempurna tanpa hadirnya seorang wanita cantik yang lurus di atas perintah Allah Ta'ala. Ini adalah ijtihad yang sangat indah/halus untuk menjaga kesucian diri seorang pria dan menyelamatkannya dari pikiran yang bercabang (tidak fokus) saat memimpin salat berjamaah!
Catatan: Pendapat ini merupakan pandangan dari sebagian ahli fikih mazhab Hanafi dan Syafi'i. Untuk rujukan lebih lanjut, dapat merujuk pada kitab:
"Radd al-Muhtar 'ala ad-Durr al-Mukhtar" (Hasyiyah Ibn Abidin)
"Ad-Durr al-Mukhtar Syarh Tanwir al-Absar" karya Imam Muhammad Alauddin al-Haskafi
Catatan 2: Para ahli fikih mazhab Hanafi memperhatikan keterikatan secara fisik/lahiriah saja, dan di antara mereka seperti Al-Thahtawi ada yang mengisyaratkan pada sisi emosional/kasih sayang sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam unggahan...!
Tentu saja ini sifatnya sebagai contoh saja, bukan pembatasan. Apabila keutamaan sang istri bertambah, maka semakin bertambah pula hak si suami untuk menjadi imam (salat), setelah terpenuhinya syarat-syarat yang memang harus ada. Wallahu a'lam.

Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi kamu.

قال تعالى :

【 ... وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـًٔا وَهُوَ خَيۡرٌ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمۡۚ وَٱللهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ 】

***********

" ... Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi kamu.

Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagi kamu. 

Allah yang mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui"

【 QS. Al-Baqarah : 216 】

Apabila berkumpul pada diri seorang individu antara kebaikan dan keburukan, kefasikan dan ketaatan, kemaksiatan dan sunnah, serta bid'ah; maka ia berhak mendapatkan loyalitas (rasa cinta/dukungan) dan pahala sesuai dengan kadar kebaikan yang ada padanya, dan ia juga berhak menerima permusuhan dan hukuman sesuai dengan kadar keburukan yang ada padanya

لأوليائه، والبغض لأعدائه، والإكرام لأوليائه، والإهانة لأعدائه.
وإذا اجتمع في الرجل الواحد خير وشَرّ، وفجور وطاعة، ومعصية وسنة وبدعة؛ استحق من الموالاة والثواب بقدر ما فيه من الخير، واستحق من المعاداة والعقاب بحسب ما فيه من الشر، فيجتمع في الشخص الواحد موجبات الإكرام والإهانة، فيجتمع له من هذا وهذا، كاللص الفقير تقطع يده لسرقته، ويعطى من بيت المال ما يكفيه لحاجته.
هذا هو الأصل الذي اتفق عليه أهل السنة والجماعة، وخالفهم الخوارج والمعتزلة ومن وافقهم عليه، فلم يجعلوا الناس إلا مستحقاً للثواب فقط، وإلا مستحقاً للعقاب فقط.
وأهل السنة يقولون: إن الله يعذب بالنار من أهل الكبائر من يعذبه، ثم يخرجهم منها بشفاعة من يأذن له في الشفاعة بفضل رحمته، كما استفاضت بذلك السنة عن النبي ﷺ.
والله - سبحانه وتعالى - أعلم، وصلى اللهم على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

...kepada para kekasih-Nya, kebencian kepada musuh-musuh-Nya, pemuliaan kepada para kekasih-Nya, serta penghinaan/pemberian hukuman kepada musuh-musuh-Nya.
Apabila berkumpul pada diri seorang individu antara kebaikan dan keburukan, kefasikan dan ketaatan, kemaksiatan dan sunnah, serta bid'ah; maka ia berhak mendapatkan loyalitas (rasa cinta/dukungan) dan pahala sesuai dengan kadar kebaikan yang ada padanya, dan ia juga berhak menerima permusuhan dan hukuman sesuai dengan kadar keburukan yang ada padanya. Maka, pada diri satu orang bisa berkumpul sebab-sebab pemuliaan sekaligus penghinaan (hukuman). Contohnya seperti seorang pencuri yang miskin: tangannya dipotong karena perbuatannya mencuri, namun ia tetap diberi bagian dari baitul mal (kas negara) sekadar untuk memenuhi kebutuhannya.
Prinsip inilah yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Sedangkan kaum Khawarij dan Mu'tazilah serta orang-orang yang sependapat dengan mereka menyelisihinya. Mereka tidak menjadikan manusia melainkan hanya berhak mendapat pahala saja, atau hanya berhak mendapat hukuman saja.
Adapun Ahlus Sunnah berpendapat: Sesungguhnya Allah akan mengazab di dalam neraka sebagian pelaku dosa besar yang dikehendaki-Nya, kemudian Allah mengeluarkan mereka dari neraka melalui syafaat orang yang diizinkan-Nya untuk memberi syafaat atas karunia rahmat-Nya, sebagaimana hal ini telah dijelaskan secara mutawatir/luas dalam Sunnah dari Nabi ﷺ.
Wallahu – subhanahu wa ta'ala – a'lam, semoga shalawat Allah tercurah kepada Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Barangsiapa meminta-minta (kepada manusia) padahal ia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka permintaannya itu akan datang pada hari kiamat dalam bentuk cakaran, baret, atau luka parut di wajahnya."

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barangsiapa meminta-minta (kepada manusia) padahal ia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka permintaannya itu akan datang pada hari kiamat dalam bentuk cakaran, baret, atau luka parut di wajahnya."


Keterangan Riwayat:

Diriwayatkan oleh Penyusun Sunan yang Empat (Ashabus Sunan al-Arba'ah: Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibn Majah).