SEBAGIAN FAIDAH DAUROH BERSAMA SYAIKH AKRAM ZIYADAH —hafizhahullah—
Ma’had Hamalatul Qur’an Karawang
[1] Para nabi dan rasul adalah manusia pilihan. Demikian pula para da’i dan penuntut ilmu; mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
{ وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُ }
“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 68)
{ ٱللَّهُ يَصۡطَفِي مِنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلٗا وَمِنَ ٱلنَّاسِۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٞ }
“Allah memilih para utusan(-Nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Hajj: 75)
[2] Para da’i dan penuntut ilmu adalah pemimpin dalam agama. Untuk meraih kedudukan itu, dibutuhkan dua perkara agung: sabar dan keyakinan.
Allah Ta’ala berfirman:
{ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ }
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)
[3] Agama dan ilmu tidak membutuhkan harta, jabatan, atau kedudukan.
Ilmu hanya membutuhkan kesabaran dan keyakinan.
Hal terpenting bagi penuntut ilmu adalah keikhlasan. Jangan sampai ia menuntut ilmu demi dunia.
Terkadang seorang penuntut ilmu diuji dengan kemiskinan, kefakiran, dan kesempitan hidup. Namun apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik bagi orang-orang beriman.
Nabi ﷺ sendiri tumbuh dalam keadaan yatim, tidak dapat membaca dan menulis, serta menjalani kehidupan yang penuh ujian. Namun Allah memilih beliau sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.
[4] Apabila Allah menghendaki seseorang menjadi imam (pemimpin dalam agama), maka Allah akan memilihkan baginya sosok yang akan mentarbiyahnya.
Kisah-kisah yang menguatkan hal ini:
A. Hafsh bin Abi Sulaiman رحمه الله
Di sudut kehidupan yang sunyi, tumbuh seorang anak yatim dalam kemiskinan. Hidupnya keras, jalannya sempit, dan masa kecilnya tidak dipayungi kemewahan. Ibunya, seorang wanita muda yang ditinggal wafat suaminya, kemudian dinikahi oleh seorang ahli Al-Qur’an, ‘Ashim bin Abi An-Najud رحمه الله.
Di tangan ayah sambung inilah, benih itu disirami. Huruf demi huruf ditanamkan, ayat demi ayat dihidupkan. Dari rumah sederhana itu, lahirlah seorang imam dalam qira’ah.
Hafsh tidak pernah membayangkan bahwa riwayat bacaannya kelak akan menggema di seluruh penjuru bumi—dibaca oleh miliaran manusia hingga hari kiamat. Namun keikhlasan dan pilihan Allah menjadikannya demikian. Dari kesunyian, Allah angkat namanya ke langit kemuliaan.
B. Nafi’ Maula Ibnu Umar رحمه الله
Di tengah riuhnya peperangan, seorang anak kecil menjadi bagian dari tawanan. Tidak dikenal nasabnya, tidak diketahui asal-usulnya. Dunia seakan tidak mencatat siapa dirinya. Yang tersisa hanyalah satu nama: Nafi’. Namun Allah Maha Mengetahui nilai di balik yang tersembunyi.
Abdullah bin Umar رضي الله عنه melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh kebanyakan manusia. Dengan firasat seorang sahabat, ia mendidik anak itu dengan penuh perhatian. Hari demi hari berlalu, dan didikan itu berbuah.
Nafi’ pun tumbuh menjadi seorang imam dalam hadits. Namanya terukir dalam “rantai emas”: Malik — Nafi’ — Ibnu Umar. Bahkan, ketika terjadi perbedaan riwayat antara Nafi’ dan Salim (putra Ibnu Umar), para ulama lebih mendahulukan riwayat Nafi’.
Dari seorang yang tidak dikenal, Allah menjadikannya mata rantai keabadian ilmu.
C. Gundar (Muhammad bin Ja’far رحمه الله)
Seorang anak kecil yang lincah, penuh gerak, tak bisa diam. Lisannya ringan berbicara, tangannya gemar menulis. Ia tumbuh di bawah asuhan seorang raksasa dalam ilmu hadits: Syu’bah bin Al-Hajjaj رحمه الله, yang menikahi ibunya.
Anak ini sering menyela, banyak bertanya, bahkan tak jarang membuat gurunya tersenyum dengan kelincahannya. Hingga suatu hari, ia dijuluki “Gundar”—seekor burung kecil yang tak henti melompat dan berkicau.
Namun di balik kelincahan itu, tersimpan kecerdasan yang tajam.
Ia tidak hanya menghafal, tetapi juga menulis dengan teliti. Dari tangannya, hadits-hadits Syu’bah terjaga dan tersebar.
Namanya pun memenuhi lembaran-lembaran kitab hadits. Ia menjadi guru bagi para guru Imam Al-Bukhari dan Muslim. Dari seorang anak yang tampak biasa, Allah menjadikannya pilar dalam penjagaan sunnah.
Allah memilih siapa yang Dia kehendaki. Dia angkat derajat hamba-Nya bukan karena harta, bukan karena kedudukan, tetapi karena keikhlasan, kesabaran, dan keyakinan.
Maka janganlah engkau melihat pada apa yang engkau miliki—kelemahan, kefakiran, atau keterbatasan. Lihatlah apa yang ada di sisi Allah.
Sebab jika Allah telah memilihmu, maka tidak ada yang dapat menghalangi kemuliaan itu.
Dika Wahyudi
Karawang, 24 April 2026