Muhammad yanu atmadji blog
blog ini berisikan kumpulan faedah faedah ilmu yang sangat bermanfaat kepada diri saya pribadi
Selasa, 27 Oktober 2026
Tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan diri kepada Allah setelah menunaikan kewajiban-kewajiban, yang lebih utama daripada menuntut ilmu".
MAGHRUR (TERTIPU OLEH DIRINYA)
Berkata Ibnu al-Jauzi rahimahullah: Dan termasuk kesalahan adalah memberitahu istri mengenai jumlah atau ukuran harta [yang dimiliki], karena jika harta itu sedikit, sang suami akan tampak hina di matanya; dan jika harta itu banyak, ia akan meminta tambahan pakaian dan perhiasan!"
Sebab Utama Kenakalan dan Kedurhakaan Anak
Tinjauan dan Konsepsi Singkat tentang Masalah Men-tahdzir/Men-tabdi' Orang Tertentu
Bid'ahnya Al-Imam Ahmad terhadap Al-Karabisi...
Tinjauan dan Konsepsi Singkat tentang Masalah Men-tahdzir/Men-tabdi' Orang Tertentu (Tabdi' Al-Mu'ain)
Oleh: Dr. Ahmad Muhammad Ash-Shadiq An-Najjar
Beberapa saudara yang mulia meminta saya untuk menuliskan gambaran singkat dan mudah dipahami yang merangkum berbagai aspek dari permasalahan tabdi' al-mu'ain (menvonis pelaku bid'ah secara personal).
Agar seorang peneliti dapat memahami permasalahan ini dengan benar, pertama-tama ia harus menyadari bahwa tidak ada satu pun nash dari Salaf yang shohih, langsung, dan bersifat umum untuk seluruh keadaan—yang menyatakan bahwa men-tabdi' orang tertentu (mu'ain) tidak mensyaratkan ilmu dan tidak adanya takwil, ataupun sebaliknya, bahwa hal itu dipersyaratkan. Paling pol, apa yang diriwayatkan dari mereka dalam bab ini kembali kepada tiga sumber istidlal (penarikan dalil):
1. Nash yang diriwayatkan dari dua Imam Ar-Razi Yaitu riwayat keduanya tentang ijma' Salaf mengenai orang yang berkata waqf (tathوقف) dalam Al-Qur'an: "Barangsiapa yang tawaqquf dalam Al-Qur'an dalam keadaan bodoh, maka ia telah berbuat bid'ah, berilmu, dan tidak dikafirkan." Tidak tersembunyi bagi setiap orang yang benar-benar memahami kandungan makna lafaz bahwa pernyataan ini tidak memiliki petunjuk yang jelas mengenai disyaratkannya ilmu dalam tabdi', atau tidak disyaratkannya. Hal itu karena kata sambung (huruf waw) berfaedah untuk sekadar penggabungan (mutlaq al-jam') dan bukan berfaedah tertib (urutan). Selain itu, ungkapan tersebut kemungkinan besar keluar dalam rangka taghlizh (pemberatan/penegasan) dalam masalah waqf, karena masalah tersebut merupakan salah satu perkara yang disembunyikan oleh kalangan Jahmiyyah pada masa mereka, serta demi menjaga kemurnian Al-Qur'an dari merembesnya pemikiran Jahmiyyah di masa mihnah (ujian/fitnah). Hal ini telah saya jelaskan dalam bantahan saya terhadap Syaikh Ar-Raiyis, dan sebelumnya dalam bantahan saya terhadap kelompok Al-Haddadiyah. Oleh karena itu, atsar ini saja tidak cukup untuk dijadikan sandaran dalam menetapkan kaidah umum mengenai tabdi' al-mu'ain.
Oleh karenanya, keyakinan tidak boleh dibangun di atas kemungkinan-kemungkinan yang lemah, terlebih lagi jika dijadikan sebagai manhaj (metodologi) umum...
2. Ungkapan mutlak dan nash-nash umum dari Salaf, seperti perkataan mereka: "Barangsiapa yang berkata begini, maka ia adalah pelaku bid'ah." Tidak tersembunyi bagi siapa pun yang memahami arti kemutlakan (ithlaq), bahwa ungkapan-ungkapan mutlak ini adalah perkara umum dan global (kulli), yang tidak secara otomatis mendatangkan hukum vonis secara personal (einiy) kepada seseorang tertentu sekadar karena ia mengeluarkan pendapat tersebut. Akan tetapi, dalam penerapannya, tetap harus terpenuhi syarat-syaratnya dan terhindar dari penghalang-penghalangnya (mawani').
3. Aplikasi praktis dalam tindakan Salaf men-tabdi' orang-orang tertentu Akal ushul tidak mungkin membenarkan penyimpulan kaidah umum yang konsisten dalam menurunkan vonis bid'ah secara personal tanpa syarat atau penghalang, hanya berdasarkan individu-individu tertentu yang dijatuhi vonis dalam kondisi dan situasi yang dilingkupi oleh berbagai qarinah (indikasi), tanpa melakukan istiqra' (peninjauan/penelitian) yang sempurna.
Banyak sekali sikap Salaf dalam men-tabdi' orang-orang tertentu atau memboikot mereka yang berkaitan dengan indikasi keadaan (qarinah haliwayh), seperti tampaknya sifat 'anad (pemberontakan/keras kepala), atau niat merusak prinsip-prinsip agama, atau demi menjaga kemaslahatan dan menolak kemafsadatan dalam bentuk pencegahan dan pemboikotan, yang mana kondisi tersebut mungkin tidak ada pada orang lain.
Oleh karena itu, karena Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memiliki akal ushul Salafi, beliau menyatakan tentang vonis tabdi' yang dilakukan oleh Salaf terhadap sebagian orang tertentu:
"Dan banyak dari jawaban Imam Ahmad dan para imam lainnya yang keluar merespons pertanyaan dari penanya yang mana orang yang dimintai jawaban telah mengetahui keadaannya, atau jawaban itu keluar ditujukan kepada orang tertentu yang telah nyata keadaannya. Maka itu diposisikan seperti perkara-perkara personal yang bersumber dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang hukumnya hanya tetap berlaku pada kasus yang serupa dengannya." (Majmu' Al-Fatawa, 28/213)
Sebagaimana Salaf men-tabdi' Al-Hasan bin Shalih bin Hayy karena menyalahi prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah keluar (pemberontakan) dengan pedang, namun mereka tidak men-tabdi' orang-orang pilihan dari kalangan tabi'in yang keluar bersama Ibnu Al-Asy'as memerangi Al-Hajjaj.
Dan sebagaimana Salaf bersikap keras terhadap orang yang mentakwilkan hadis shurah (tentang bentuk/sifat Allah) hingga menjadikan dhamir (kata ganti) kembali kepada selain Allah, dan mereka menganggap hal itu termasuk jenis takwil-takwil Jahmiyyah, namun para imam tidak men-tabdi' Al-Imam Ibnu Khuzaimah ketika beliau condong kepada takwil tersebut. Dan contoh-contoh lainnya.
Perbedaan (kontras) ini memutus jalan bagi siapa saja yang mengubah aplikasi praktis yang bersifat parsial (juz'i) menjadi kaidah-kaidah umum tanpa peninjauan total (istiqra' tamm) dan tahqiqul manath (verifikasi fakta masalah). Kewajiban kita adalah meneliti dan merinci keadaan orang-orang tertentu sebelum menjatuhkan vonis hukum kepada mereka.
Tampak jelas bahwa Syaikh Ar-Raiyis dan kelompok Al-Haddadiyah membayangkan seolah-olah Imam Ahmad ditanya tentang seseorang yang menyelisihi dalam masalah yang populer, lalu beliau langsung berkata—tanpa mengetahui keadaannya dan sumber pengambilan ilmunya—bahwa ia adalah pelaku bid'ah lagi fasik!!!!
Bayangan ini, jika benar berasal dari mereka, adalah sesuatu yang aneh.
Dalam aplikasi praktis yang bersifat parsial, kita mendapati bahwa para imam bersikap sangat keras dalam mencela orang yang memunculkan perkataan yang menyelisihi apa yang dipegang oleh Al-Jama'ah, terlebih lagi jika hal itu dibarengi dengan penampakan pendapat tersebut dan pelakunya adalah seorang mutakallim (ahlul kalam). Maka mereka langsung menghukuminya dengan tabdi', dan hukum ini tidak berlaku kecuali pada kasus yang serupa. Di antara contoh paling jelas adalah apa yang dilakukan oleh Imam Ahmad terhadap Al-Karabisi dan Ya'qub bin Syaibah.
Al-Karabisi adalah:
- Seorang mutakallim (ahli kalam), sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syirazi, Adz-Dzahabi, An-Nawawi, dan Ibnu Khallikan.
- Seseorang yang mastur (tertutup/dikenal baik) dan membela As-Sunnah sebelum munculnya pendapatnya.
- Menyusun kitab "Al-Mudallisin", yang di dalamnya terdapat celaan terhadap Al-A'masy, Sulaiman At-Taimi, pembelaan terhadap Al-Hasan bin Shalih bin Hayy, serta hadis-hadis yang memperkuat mazhab Rafidhah...
- Menampakkan masalah Al-Lafzh (lafaz Al-Qur'an), dan hal itu terjadi di masa fitnah Al-Qur'an itu makhluk, lalu ia melafazkan ucapan tersebut untuk membukakan pintu bagi Jahmiyyah agar mereka bisa berkata: "Al-Qur'an adalah makhluk" dengan kedok lafaz.
- Tatkala sampai kepadanya pengingkaran Imam Ahmad terhadapnya, ia justru bersikeras, hingga ia berkata: "Apa yang harus kita perbuat dengan pemuda ini? Jika kita katakan: 'Makhluk', ia bilang: 'Bid'ah'. Jika kita katakan: 'Bukan makhluk', ia bilang: 'Bid'ah'."
Maka tidak ada tindakan lain bagi Imam Ahmad—setelah beliau mengetahui keadaan dan indikasi urusannya—kecuali men-tabdi'-nya dan memperingatkan manusia darinya.
Abul Qasim At-Taimi Al-Ashbahani berkata: "Dan orang yang pertama kali mengatakan tentang lafaz, dan berkata: 'Lafaz-lafaz kita dengan Al-Qur'an adalah makhluk' adalah Husain Al-Karabisi. Maka Imam Ahmad bin Hanbal men-tabdi'-nya, dan para ulama di berbagai negeri menyetujui vonis tabdi' terhadapnya..."
Maka, kisah Al-Karabisi layak dijadikan contoh tentang tindakan Salaf men-tabdi' orang tertentu secara langsung, tetapi kisah itu tidak layak dijadikan dalil bahwa syarat-syarat tidak diperhitungkan dalam setiap vonis tabdi', atau dalam setiap penyelisihan terhadap suatu prinsip. Paling pol, yang ditunjukkan oleh kisah tersebut adalah bahwa Imam Ahmad men-tabdi' orang yang terkumpul padanya indikasi-indikasi (qarinah) yang melingkupinya secara personal. Dan inilah makna dari masalah al-ain (personal) yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah, yang hukumnya hanya berlaku pada kasus yang serupa dengannya.
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa Imam Ahmad sangat memperhatikan kondisi/keadaan, adalah perkataan Abdullah bin Ahmad:
"Ayahku pernah ditanya—dan aku mendengarnya—tentang Al-Lafzhiyyah dan Al-Waqqifah, lalu beliau menjawab: 'Barangsiapa di antara mereka yang mahir ilmu kalam, maka ia adalah seorang Jahmi'."
Riwayat ini menunjukkan bahwa Imam Ahmad tidak menjadikan semata-mata penisbatan kepada Al-Lafzhiyyah atau Al-Waqqifah sebagai sifat yang cukup untuk menjatuhkan hukum, melainkan beliau mengaitkan hukum tersebut dengan sifat tambahan, yaitu kemahiran dalam ilmu kalam (yuhsinu al-kalam).
Demikian pula halnya dengan Ya'qub (bin Syaibah). Al-Khallal meriwayatkan dari Al-Marwadzi, ia berkata: "Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang Ya'qub bin Syaibah, lalu aku katakan: 'Sesungguhnya ia menampakkan keyakinan waqf.' Maka beliau menjawab: 'Ini adalah pelaku bid'ah, pengikut hawa nafsu, ia ingin agar mazhabnya laku'." Perhatikanlah di sini, bagaimana Imam Ahmad mengaitkan alasan hukum tersebut dengan indikasi keadaan (qarinah haliyah) dan adanya iradah fasidah (keinginan yang rusak).
Jika kita meneliti seluruh kejadian secara seksama, akan tampak jelas bagi kita bahwa vonis tabdi' secara personal dijatuhkan berdasarkan indikasi-indikasi dan keadaan. Sebagiannya ada yang dijatuhkan secara langsung kepada orang tertentu, dan sebagiannya lagi tidak dijatuhkan kecuali setelah ditegakkan hujjah sesuai dengan keadaan orang tersebut.
Kesimpulan Masalah: Bahwa Salaf dan para imam membedakan secara global antara dua golongan manusia:
1. Seseorang yang bertolak dari prinsip pengagungan terhadap nash-nash syariat dalam seluruh bab agama, berpegang teguh pada atsar, dan tunduk menerima kebenaran. Akan tetapi, ia tergelincir pada suatu kesalahan yang menyetujui ahli bid'ah, atau melakukan takwil dalam masalah cabang (furu') atau suatu bab, atau datang kepadanya sebuah syubhat yang tidak mampu ia tepis. Maka orang seperti ini tidak langsung di-tabdi' sekadar karena terjerumus dalam kesalahan tersebut, melainkan harus dipastikan terpenuhinya syarat-syarat dan tidak adanya penghalang (mawani'). Oleh karena itu, para imam tidak men-tabdi' setiap orang yang keluar memberontak kepada Al-Hajjaj, tidak pula men-tabdi' Ibnu Khuzaimah, Qadhi Syuraih, dan seterusnya.
2. Seseorang yang bertolak dari prinsip-prinsip ahli bid'ah dan manhaj-manhaj mereka yang menyelisihi atsar, sementara ia mengetahui bahwa dirinya tidak berpegang teguh pada atsar. Maka orang inilah pelaku bid'ah yang sesungguhnya, karena ia mengingkari prinsip dasar dan merusak jalan (manhaj) tersebut.
Hal ini telah saya jelaskan secara terperinci dalam risalah saya: Tabsir Al-Khalaf bi Dhabith Al-Ushul Allati Man Khalafaha Kharaja 'An Manhaj As-Salaf (Mencerahkan Generasi Belakang tentang Batasan-Batasan Prinsip yang Barangsiapa Menyelisihinya Maka Ia Keluar dari Manhaj Salaf), serta dalam beberapa artikel...
Ditulis oleh Dr. Ahmad Muhammad Ash-Shadiq An-Najjar