Minggu, 03 Mei 2026

Imam al-Bukhari bukan akidah al-Asy'ariyy

Imam al-Bukhari bukan akidah al-Asy'ariyy 

Mari kita lihat dalam kitab خلق أفعال العباد والرد على الجهمية وأصحاب التعطيل

Beliau menetapkan sifat kalam Allah yang dapat di dengar serta bersuara sedangkan disisi al-Ash'ari Kalam Allah tidak memiliki suara dan seperti kata al-Bajuri dalam SyarhJauhar At-Tauhiid :

صفة أزلية قائمة بذاته تعالى ليست بحرف ولا صوت

Sifat azali (tanpa permulaan) yang terdapat pada Dzat Allah bukan huruf dan bukan pula suara.

Imam al-Bukhari bawa dalil Daripada Abu Uthman daripada Abu Musa al-Ash'ari رضي الله عنه, beliau berkata:

Kami pernah bersama Nabi Muhammad ﷺ dalam satu perjalanan. Apabila kami mendaki tempat tinggi, atau berada di sesuatu bukit, seseorang daripada kami akan bertakbir dan berkata: ‘Lā ilāha illallāh, wallāhu akbar.

Lalu Nabi ﷺ bersabda:

‘Sesungguhnya kalian tidak menyeru kepada yang pekak dan tidak pula yang ghaib (jauh sehingga tidak mendengar).

Baginda meletakkan tangannya di atas tunggangannya lalu bersabda:

‘Wahai Abu Musa atau wahai Abdullah mahukah aku ajarkan kepadamu satu kalimah daripada خزائن الجنة (khazanah/simpanan syurga)?’

Aku menjawab: ‘Bahkan ya, wahai Rasulullah.

Baginda bersabda:

Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh’
(Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.)

Dan disebut daripada Nabi ﷺ bahawa seseorang itu hendaklah merendahkan suara, dan Baginda tidak menyukai meninggikan suara.

Sesungguhnya Allah عز وجل mendengar suara orang yang menyeru dari jauh sebagaimana Dia mendengarnya dari dekat, sebagaimana Dia mendengar dari dekat. Ini tidak sama seperti pendengaran makhluk.

Kemudian kata Imam al-Bukhari :

Pada hadis ini terdapat dalil bahawa suara Allah tidak menyerupai suara makhluk, kerana suara Allah عز وجل didengar dari jauh sebagaimana didengar dari dekat.

Dan para malaikat pengsan apabila mendengar suara-Nya. Apabila para malaikat dipanggil, mereka tidak pengsan.

Kemudian Allah عز وجل berfirman:

Maka janganlah kamu menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu.

(Al-Quran)Maka tiada bagi sifat Allah sesuatu yang sebanding, dan tidak ada satu pun daripada sifat-Nya menyerupai makhluk.

nasehat yang indah

Ketika saya membaca Minhaju As-Sunnah pertama kali memang ajib luar biasa cara membantahnya, semakin muncul kecintaan saya pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah

قرأت في ترجمة عالم معاصر كان يقرأ عليه تلاميذه كتاب "منهاج السنة"، وكان كلما قرأ القارئ رد ابن تيمية على ابن المطهر الحلي ، بكى الشيخ وهو يقول: لو لم يؤلِّف شيخ الإسلام هذا الكتاب، من كان سيرد عليه؟!.
#قلت:
منهاج السنة موسوعة تأسيسية، وتحفة من تحف الزمان، لا نظير لها في تاريخ الإسلام
من يعرف نظيرا له ، فليذكره _ تكرّما _ في التعليقات.
Ketika saya membaca Minhaju As-Sunnah pertama kali memang ajib luar biasa cara membantahnya, semakin muncul kecintaan saya pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, saya beli kitab ini titip saat Bapak saya rahimahullaah haji tahun 1996, dibelikan oleh Ustadz Umar Budiargo hafizahullaah bersama kitab-kitab yang lain antara lain Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari tahu segitu, semoga jadi amal jariyah Bapak dan Ustadz Umar. 
----------

“Aku membaca dalam biografi seorang ulama kontemporer: murid-muridnya biasa membacakan kepadanya kitab ‘Minhāj as-Sunnah’. Setiap kali pembaca sampai pada bagian bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Ibnu al-Muṭahhar al-Ḥillī, sang syaikh itu menangis seraya berkata:
‘Seandainya Syaikhul Islam tidak menulis kitab ini, siapa lagi yang akan membantahnya?!’”
Aku (penulis) berkata:
“Minhāj as-Sunnah adalah sebuah ensiklopedia fundamental, sebuah karya agung dari keajaiban zaman, yang tidak ada tandingannya dalam sejarah Islam.
Barang siapa mengetahui karya yang sebanding dengannya, maka sebutkanlah — sebagai bentuk kebaikan — di kolom komentar.”
Ust noor akhmad setiawan

Utusan dari "raja India" datang bawa hadiah buat Khalifah Abbasiyah, Harun Al-Rashid. Di antara hadiahnya ada empat pedang India yang super kuat dan terkenal bagus!

Utusan dari "raja India" datang bawa hadiah buat Khalifah Abbasiyah, Harun Al-Rashid. Di antara hadiahnya ada empat pedang India yang super kuat dan terkenal bagus!

Harun Al-Rashid langsung sambut ramah, terima hadiahnya, lalu minta salah satu pedangnya sendiri dibawa. Itu pedang legendaris milik Amr bin Ma'dikarib, namanya Al-Shamsamah (atau Al-Samsamah)!

Dia taruh keempat pedang India itu ditumpuk bareng, trus dia pukul sekali pake pedangnya sendiri... langsung putus semua empat-empatnya!

Si utusan India langsung kaget banget, melongo, dan takjub sama kualitas pedang Arab ini. Padahal waktu itu semua orang tahu pedang India itu yang paling top dan paling kuat di dunia!

Harun Al-Rashid senyum, lalu bilang: 
"Mau apa aja boleh minta sebagai balasan hadiahmu."

Si utusan langsung jawab: "Aku cuma mau pedang yang kamu pegang itu aja!"

Harun nolak halus: "Minta apa aja boleh, kecuali senjata. Nabi kita melarang kita kasih senjata ke non-Muslim!"

Begitulah kebesaran umat Islam dulu...

📚 Dari kitab "Al-'Iqd al-Farid" jilid 2

Cerita ini sering dibagikan sebagai bukti kehebatan pedang Arab zaman dulu, meskipun detailnya agak legendaris dan beredar luas di postingan sejarah Islam. 😄 

✍️Dr Zico Pratama Putra

Kaidah Fiqih:"Akad nikah dengan seorang wanita mengharamkan ibunya, sedangkan dukhul (hubungan intim) dengan ibu mengharamkan anak perempuannya."

Kaidah Fiqih:
"Akad nikah dengan seorang wanita mengharamkan ibunya, sedangkan dukhul (hubungan intim) dengan ibu mengharamkan anak perempuannya."

Penjelasan Para Ahli Fiqih:
Dalam pembahasan hubungan mushaharah (kekeluargaan karena pernikahan), para ulama merumuskan kaidah:
Akad nikah kepada seorang wanita menjadikan ibunya mahram, sementara dukhul dengan ibu menjadikan anak perempuannya mahram.

Maksudnya,
Jika engkau melakukan akad nikah dengan seorang wanita (meski baru sekadar akad), maka ibunya menjadi mahram bagimu selamanya (mahram mu’abbad).

Adapun jika engkau menikahi seorang wanita (ibu), maka anak perempuannya belum menjadi mahram bagimu sampai engkau melakukan dukhul (hubungan intim) dengan ibunya tersebut.

Singkatnya:
● Nikahi anaknya, ibunya langsung jadi mahram (meski belum dukhul).
● Nikahi ibunya, anaknya baru jadi mahram setelah dukhul.
ibn nashrullah 

Bagaimana Nabi menyelesaikan Konflik Rumah Tangga?

Bagaimana Nabi menyelesaikan Konflik Rumah Tangga?

Suatu ketika, Hafshah mengatakan ke Shafiyyah bahwa ia anak seorang Yahudi.

Mendengar itu Shafiyyah sedih hingga nangis, lalu masuk ke rumahnya. 

Nabi pun bertanya, kenapa engkau menangis? Akhirnya Shafiyah melapor kalau dia dibilang anak seorang Yahudi oleh Hafshah. 

Lalu Nabi mengatakan:

إنك لابنةُ نبِيٍّ وإن عمَك لنبيٌّ وإنك لتحتَ نبِيِّ فبِمَ تفخرُ عليك؟ 
Kamu itu anak keturanan Nabi (Nabi Harun), paman kamu juga Nabi (Nabi Musa) dan sekarang kamu istri Nabi (Nabi Muhammad). Siapa yang berani berbangga dihadapanmu (masalah Nasab)? 

ثم قال اتقي اللهَ يا حفصةُ

Lalu Nabi mendatangi Hafshah dan memberikan Nasihat:

Bertaqwalah engkau kepada Allah wahai Hafsah.

Kisah ini menyimpan banyak sekali faidah, di antaranya bahwa konflik rumah tangga itu akan selalu ada di setiap rumah, bahkan di rumah Nabi sekalipun. 

Namun bedanya, bagaimana menyelesaikan konflik tersebut dengan elegan dan bijaksana. Kalau Nabi menyelesaikan konflik dengan santai, penuh wibawa,tegas, tanpa amarah.

Bagaimana dengan kita?

Kisah di atas ada di buku kami “Mengenal Ummahatul Mukminin - Istri-istri Nabi -”

Ketika “Mau” akan kami kirimkan pdfnya di kolom komentar. 

Barakallahu fikum wa Jazakumullah khair 

Abu Yusuf Akhmad Ja’far

Ibadah Sunnah? Tinggalkan saja, gak masalah. Kan hanya sunnah!!

Ibadah Sunnah? Tinggalkan saja, gak masalah. Kan hanya sunnah!!

Mari kita simak nukilan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullahberikut:

ﻗﺎﻝ اﻟﻘﺮﻃﺒﻲ ﻓﻲ ﻫﺬا اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﻛﺬا ﺣﺪﻳﺚ ﻃﻠﺤﺔ ﻓﻲ ﻗﺼﺔ اﻷﻋﺮاﺑﻲ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﺩﻻﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﺟﻮاﺯ ﺗﺮﻙ اﻟﺘﻄﻮﻋﺎﺕ ﻟﻜﻦ ﻣﻦ ﺩاﻭﻡ ﻋﻠﻰ ﺗﺮﻙ اﻟﺴﻨﻦ ﻛﺎﻥ ﻧﻘﺼﺎ ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻪ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﺗﻬﺎﻭﻧﺎ ﺑﻬﺎ ﻭﺭﻏﺒﺔ ﻋﻨﻬﺎ ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻓﺴﻘﺎ ﻳﻌﻨﻲ ﻟﻮﺭﻭﺩ اﻟﻮﻋﻴﺪ ﻋﻠﻴﻪ ﺣﻴﺚ ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺭﻏﺐ ﻋﻦ ﺳﻨﺘﻲ ﻓﻠﻴﺲ ﻣﻨﻲ ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﺻﺪﺭ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭﻣﻦ ﺗﺒﻌﻬﻢ ﻳﻮاﻇﺒﻮﻥ ﻋﻠﻰ اﻟﺴﻨﻦ ﻣﻮاﻇﺒﺘﻬﻢ ﻋﻠﻰ اﻟﻔﺮاﺋﺾ ﻭﻻ ﻳﻔﺮﻗﻮﻥ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻓﻲ اﻏﺘﻨﺎﻡ ﺛﻮاﺑﻬﻤﺎ ﻭﺇﻧﻤﺎ اﺣﺘﺎﺝ اﻟﻔﻘﻬﺎء ﺇﻟﻰ اﻟﺘﻔﺮﻗﺔ ﻟﻤﺎ ﻳﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﻭﺟﻮﺏ اﻹﻋﺎﺩﺓ ﻭﺗﺮﻛﻬﺎ ﻭﻭﺟﻮﺏ اﻟﻌﻘﺎﺏ ﻋﻠﻰ اﻟﺘﺮﻙ ﻭﻧﻔﻴﻪ

"Berkata Al-Qurtubi rahimahullah: Dalam hadits ini, begitu juga dalam hadits Tolhah tentang kisah Al-A'rabi, dan juga hadits-hadits selain keduanya, terdapat petunjuk akan bolehnya meninggalkan ibadah² sunnah.

Akan tetapi barangsiapa yang terus menerus meninggalkan ibadah² sunnah maka itu merupakan kurangnya agama pada dirinya. Dan jika meninggalkan ibadah² sunnah itu motifnya karena meremehkan atau membencinya maka itu merupakan kefasikan, karena terdapat ancaman atasnya dimana Nabi sollalahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang membenci sunnah ku (termasuk diantaranya ibadah² sunnah. Pent.) Maka dia bukan golonganku.

Dan sungguh generasi awal para sahabat dan Tabiin, mereka dahulu senantiasa menjaga ibadah² sunnah sebagaimana mereka menjaga ibadah² wajib. Dan mereka tidak membedakan keduanya dalam perkara mengumpulkan pahala. 

Dan sesungguhnya para Fukoha butuh untuk membedakan keduanya karena (supaya diketahui mana) yang berkonsekuensi wajib diulang dan tidak (ketila ditinggalkan) dan mana yang berkonsekuensi dihukum karena meninggalkannya dan mana yang tidak dihukum."

[Fathul Bari 3/265]
Ustadz mochammad abduh malang