Sabtu, 09 Mei 2026

Bukan yang terpenting itu engkau beribadah kepada Allah dengan cara yang engkau sukai. Tetapi yang terpenting adalah engkau beribadah kepada Allah dengan cara yang Allah sukai.”

Syaikh Dr. Shalih Sindi -hafidzahullah- menekankan sebuah kaidah
*ليس الشأن أن تعبدَ اللهَ بما تُحب، وإنما الشأن أن تعبدَ اللهَ بما يُحب*  
“Bukan yang terpenting itu engkau beribadah kepada Allah dengan cara yang engkau sukai. Tetapi yang terpenting adalah engkau beribadah kepada Allah dengan cara yang Allah sukai.”

Kaidah ini mengajarkan bahwa agama tidak dibangun di atas perasaan dan selera manusia, tetapi di atas wahyu dan tuntunan Nabi ﷺ.

Artinya: bukan kita yang menentukan cara beribadah kepada Allah sesuka hati, tetapi Allah yang menentukan bagaimana Dia ingin disembah.

Kadang seseorang merasa:

- “Menurut saya ini bagus,”
- “Ini lebih menyentuh hati,”
- “Ini tradisi baik,”

namun dalam ibadah ukurannya bukan “menurut saya baik”, tapi: “apakah Allah dan Rasul-Nya mengajarkannya?”

*Contoh mudah:*

1. Kita tidak boleh menambah rakaat shalat wajib walaupun niatnya ingin lebih banyak ibadah.
2. Tidak boleh membuat dzikir dengan tata cara khusus yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ meskipun terasa khusyuk.
3. Tidak boleh mengadakan ritual tertentu lalu dianggap ibadah padahal tidak ada tuntunannya.

Sebaliknya, walaupun suatu amalan terlihat sederhana, kalau sesuai sunnah maka itulah yang paling dicintai Allah.

Karena inti ibadah adalah tunduk dan mengikuti, bukan berkreasi dalam agama.

Maka seorang muslim yang benar cintanya kepada Allah akan berkata: “Aku ingin beribadah sebagaimana yang Allah cintai, bukan sekadar sebagaimana yang aku sukai.”
Ust nurhadi nugroho

Banyak pelajaran dari kisah ini, fitnah dan ujian saat ini hanya mengulangi masa lalu.

Banyak pelajaran dari kisah ini, fitnah dan ujian saat ini hanya mengulangi masa lalu.

----

Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah
Hasad dianggap sebagai sebab utama dari sebagian besar ujian dan cobaan yang menimpa para ulama umat ini. Biasanya hasad muncul karena kedudukan dan kemuliaan seorang alim di tengah manusia, kecintaan para pencari ilmu kepadanya, atau karena keberaniannya dalam menyampaikan kebenaran serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Sifat-sifat ini umumnya terdapat pada ulama rabbani. Namun, seorang alim justru didengki karena kecerdasan murid-muridnya dan keunggulan ilmiah mereka—itulah yang benar-benar mengherankan, dan inilah yang akan diceritakan di sini.
Biografinya
Beliau adalah imam, hafizh, hujjah, faqih, Syaikhul Islam, “Imam para imam”, salah satu pilar Ahlus Sunnah: Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah As-Sulami An-Naisaburi Asy-Syafi’i, صاحب banyak karya penting. Beliau lahir tahun 223 H.
Sejak muda beliau telah menuntut ilmu. Beliau sangat memperhatikan periwayatan hadis dan fikih hingga mendalam di keduanya, sampai menjadi perumpamaan dalam keluasan ilmu dan ketelitian. Ketika berhaji, beliau meminum air zamzam dengan niat memperoleh ilmu yang bermanfaat. Seakan Allah membuka mata hati dan pemahamannya dengan mata air ilmu dan hikmah. Beliau termasuk manusia paling cerdas dan paling dalam pemahamannya.
Di samping itu, beliau zuhud dan berpaling dari gemerlap dunia. Beliau tidak menyimpan harta; semua yang dimilikinya diinfakkan untuk أهل العلم. Bahkan disebutkan beliau tidak dapat membedakan antara uang sepuluh dan dua puluh, terkadang memberikan uang sepuluh dengan mengira itu lima.
Pujian Para Ulama Kepadanya
Ibnu Khuzaimah adalah mutiara zamannya dalam ilmu, fikih, zuhud, dan wara’. Karena itu beliau menjadi tokoh yang disepakati keutamaannya. Tidak ada seorang pun yang berselisih tentang kedudukannya. Semua orang, dekat maupun jauh, mengakui keutamaan dan kemuliaannya.
Di antara pujian para ulama:
Al-Hafizh Abu Ali An-Naisaburi berkata:
“Aku tidak pernah melihat orang seperti Ibnu Khuzaimah.”
Padahal beliau pernah melihat Imam An-Nasa’i, صاحب Sunan.
Ibnu Hibban Al-Busti berkata:
“Aku tidak melihat di muka bumi orang yang hafal ilmu sunan, lafaz-lafaz hadis shahih beserta tambahan-tambahannya, seakan seluruh sunan berada di depan matanya, selain Ibnu Khuzaimah.”
Ad-Daraquthni berkata:
“Ibnu Khuzaimah adalah imam yang kokoh, tidak ada tandingannya.”
Imam Ibnu Suraij berkata:
“Ibnu Khuzaimah mampu mengeluarkan mutiara-mutiara faedah dari hadis Rasulullah dengan pinset.”
Abu Utsman Al-Hairi berkata:
“Sesungguhnya Allah menolak bala dari penduduk kota ini (yakni Naisabur) karena keberadaan Abu Bakar bin Khuzaimah.”
Ketika Imam Jarh wa Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, ditanya tentang Ibnu Khuzaimah, beliau berkata kepada para penanya:
“Celaka kalian! Justru beliau yang bertanya tentang kami, bukan kami yang bertanya tentang beliau. Beliau adalah imam yang dijadikan teladan.”
Karya-Karyanya
Ibnu Khuzaimah memiliki lebih dari 140 kitab, selain masalah-masalah fikih yang jumlahnya sendiri mencapai lebih dari 100 juz.
Beliau dianggap salah satu tokoh terpenting dalam penjelasan akidah yang benar, yaitu akidah Salafush Shalih. Kitab At-Tauhid miliknya termasuk kitab akidah salafiyah paling terkenal pada abad ketiga hijriah.
Dalam kitab tersebut beliau menggunakan ungkapan-ungkapan yang kuat dan tegas terhadap mazhab yang menyelisihi akidah salaf. Di antaranya perkataannya yang terkenal:
“Barang siapa tidak mengakui bahwa Allah beristiwa di atas Arsy-Nya di atas tujuh langit-Nya, maka ia kafir, halal darahnya, dan hartanya menjadi fai’.”
Beliau juga berkata:
“Al-Qur’an adalah kalam Allah Ta’ala. Barang siapa mengatakan bahwa ia makhluk maka ia kafir. Ia diminta bertaubat; jika bertaubat maka diterima, jika tidak maka dibunuh, dan tidak dikuburkan di pemakaman kaum muslimin.”
Fitnah yang Menimpanya
Ibnu Khuzaimah memiliki kewibawaan besar di jiwa manusia dan kedudukan tinggi di hati mereka karena ilmu, agama, dan ittiba’ beliau kepada sunnah. Beliau mencapai derajat ijtihad, unggul atas ulama sezamannya dalam usia dan ilmu.
Beliau memiliki murid-murid yang pada masa hidupnya telah menjadi bintang zaman dan imam-imam besar yang didatangi manusia dari berbagai negeri untuk belajar kepada mereka. Mungkin karena itulah beliau dijuluki “Imam para Imam”.
Di antara murid-murid besar beliau:
Abu Ali Ats-Tsaqafi
Abu Bakar Ash-Shabghi
Abu Bakar bin Abi Utsman
Abu Muhammad Yahya bin Manshur
Mereka semua menjadi tokoh besar dalam ilmu dan dakwah.
Awal Fitnah
Fitnah bermula ketika datang ke Naisabur seorang Mu’tazilah rusak akidah dan manhajnya bernama Manshur Ath-Thusi. Ia menghadiri majelis-majelis Ibnu Khuzaimah untuk mendengar pandangan beliau tentang akidah.
Ketika melihat kehebatan empat murid utama Ibnu Khuzaimah tadi, timbullah hasad dalam dirinya. Hatinyapun dipenuhi kedengkian. Ia mulai merancang cara untuk memecah hubungan antara imam dan murid-muridnya.
Ia bersekongkol dengan seorang lain yang serupa dengannya, yaitu Abu Abdurrahman Al-Wa’izh Al-Qadari Al-Mu’tazili. Mereka menyusun rencana dan mulai menyebarkan fitnah kepada Ibnu Khuzaimah tentang murid-muridnya, menuduh mereka terjerumus dalam pembahasan akidah dan berada di atas mazhab Kullabiyah.
Keduanya terus menghasut Ibnu Khuzaimah terhadap murid-murid beliau.
Peristiwa yang Memperuncing
Suatu hari Abu Ali Ats-Tsaqafi berbicara tentang masalah “kalamullah” setelah terjadi perdebatan di salah satu majelis ilmu. Padahal Ibnu Khuzaimah melarang murid-muridnya membahas masalah tersebut secara mendalam dan melarang ilmu kalam secara umum.
Manshur Ath-Thusi memanfaatkan kesempatan itu dan segera berkata kepada Ibnu Khuzaimah:
“Bukankah aku sudah mengatakan kepada syaikh bahwa mereka menganut mazhab Kullabiyah?”
Ibnu Khuzaimah lalu mengumpulkan murid-muridnya dan berkata:
“Bukankah aku telah berulang kali melarang kalian membahas ilmu kalam?”
Beliau tidak menambah selain itu pada hari tersebut.
Fitnah Semakin Membesar
Ath-Thusi terus mengulang-ulang fitnahnya di telinga Ibnu Khuzaimah hingga membuat beliau mulai menjauh dari murid-muridnya. Keadaan semakin buruk dengan campur tangan pihak luar.
Akhirnya, Ibnu Khuzaimah—yang saat itu telah berusia lebih dari delapan puluh tahun dan merasa lelah serta sempit dadanya—pernah mengumumkan di hadapan para penuntut ilmu bahwa empat muridnya itu pendusta, dan haram bagi siapa pun menerima riwayat mereka dari beliau.
Padahal mereka bukan pendusta. Mereka adalah imam-imam yang terpercaya. Semua itu hanyalah akibat ulah Ath-Thusi yang menyebarkan namimah dan dusta hingga memalingkan hati sang syaikh dari murid-murid terdekatnya.
Upaya Perdamaian
Ath-Thusi dan Abu Abdurrahman memanfaatkan fitnah itu untuk menyebarkan paham Mu’tazilah. Beberapa orang hasad seperti Al-Barda’i dan Abu Bakar bin Ali membantu mereka memperbesar api fitnah.
Kemudian Al-Hafizh Abu Amr Al-Hairi bangkit mendamaikan kedua pihak. Ia menjelaskan kepada Ibnu Khuzaimah tujuan kaum Mu’tazilah dalam merusak keadaan.
Akhirnya beliau berhasil mempertemukan Ibnu Khuzaimah dan murid-muridnya dalam satu majelis. Mereka berdamai, lalu para murid menuliskan akidah mereka secara resmi, dan Ibnu Khuzaimah menandatangani dokumen itu sebagai benar dan selamat dari penyimpangan.
Dokumen tersebut disimpan oleh Al-Hairi agar tidak ada lagi orang yang berbicara sembarangan.
Akhir yang Menyedihkan
Belum sehari berlalu setelah perdamaian itu, Ath-Thusi dan kelompok Mu’tazilah kembali mendatangi Ibnu Khuzaimah dan berkata:
“Mereka telah mengkhianatimu dan mengubah isi dokumen agar sesuai dengan akidah Ibnu Kullab.”
Ibnu Khuzaimah marah besar. Karena beliau sudah sangat tua, beliau meminta Abu Amr Al-Hairi menyerahkan dokumen tersebut untuk diperiksa. Namun Al-Hairi menolak.
Hal itu justru menguatkan prasangka Ibnu Khuzaimah bahwa dokumen tersebut memang telah diubah. Maka beliau terus marah dan memutus hubungan dengan murid-muridnya hingga wafat tidak lama setelah itu.
Pelajaran dari Kisah Ini
Demikianlah kita melihat bagaimana para pengusung akidah batil dan mazhab rusak dahulu maupun sekarang memainkan peran berbahaya dalam merusak hubungan sesama kaum muslimin dan menimbulkan fitnah terhadap ulama rabbani.
Dan cobaan apa yang lebih berat bagi seorang alim selain harus memutus hubungan dengan murid-muridnya dan memusuhi sahabat-sahabat terdekatnya—yang dahulu menjadi sumber kebanggaan dan sebab kemasyhurannya?
Wallahu a’lam bish-shawab.
 link :
https://www.alukah.net/culture/0/106326/%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%85%D8%A7%D9%85-%D8%A3%D8%A8%D9%88-%D8%A8%D9%83%D8%B1-%D9%85%D8%AD%D9%85%D8%AF-%D8%A8%D9%86-%D8%A5%D8%B3%D8%AD%D8%A7%D9%82-%D8%A8%D9%86-%D8%AE%D8%B2%D9%8A%D9%85%D8%A9/?fbclid=IwdGRjcARrvn5jbGNrBGu-d2V4dG4DYWVtAjExAHNydGMGYXBwX2lkDDM1MDY4NTUzMTcyOAABHsDMrhdXQpe4JBGnIUA1gAIhzOgGbyJ5PYs9XqjjSdseI6IN3mFHJa2Qug14_aem_aBKOYR-ZVzF1F_yVTSmTaA
Diposting oleh ustadz noor akhmad setiawan

Jumat, 08 Mei 2026

al ustadz aunur rofiq bin gufron

https://www.facebook.com/share/1F1JhA2oFX/

Menurut Muhaddits yang paling senior yang masih hidup pada Abad ini As-Syaikh 'Abdul Muhsin Al-'Abbâd Al-Badr hafizhahullâh, Al-Jarh Wat Ta'dîl Zaman ini (jika yang dibicarakan selain ilmu hadîts) tempatnya adanya di mahkamah (maksudnya selesaikan di pengadilan bukan di medsos).

Menurut Muhaddits yang paling senior yang masih hidup pada Abad ini As-Syaikh 'Abdul Muhsin Al-'Abbâd Al-Badr hafizhahullâh, Al-Jarh Wat Ta'dîl Zaman ini (jika yang dibicarakan selain ilmu hadîts) tempatnya adanya di mahkamah (maksudnya selesaikan di pengadilan bukan di medsos).

قول الشيخ عبد المحسن العباد :
السؤال: هل علم الجرح والتعديل انقطع وزال وأنه لا يحتاج إليه في رجال هذا العصر ؟

الجواب:
" الجرح والتعديل فيما يتعلق بالنسبة للسابقين والذين يترتب على جرحهم وتعديلهم ثبوت الأحاديث أو عدم ثبوتها الموجودون والمتأخرون ليس عندهم شيء يأتون به إلا ما أتى به السابقون وإنما ينظرون في كلام السابقين قال فلان كذا وقال قال فلان كذا وقال فلان كذا ثم يخلصون إلى نتيجة .

أما بالنسبة لهذا الزمان فالتعديل والتجريح موجود في المحاكم عند الشهود عندما يشهدون على شخص بأن عليه كذا فإن المدعى عليه يجرح الشهود بما يعلمهم فيهم حتى يتخلص من شهادتهم إذا كانوا غير موثوقين وغير معتبرين.

وكذلك أيضا في الناس الذين يحصل منهم الإضلال ويحصل منهم الإفساد فكونه يبين حالهم حتى يحذروا يعني هذا يعني أمر مطلوب .

لكن التوسع في هذا والاشتغال فيه حتى يؤدي الأمر إلى أن يتكلم أهل السنة في أهل السنة وينفر بعضهم من بعض هذا لا يصلح ولا ينبغي".اهــ

المصدر:
"شرح علل الترمذي رقم الشريط 429 الدقيقة 62 والثانية 13"

As-Syaikh 'Abdul Muhsin Al-'Abbâd hafizhahullâh ditanya: "Apakah ilmu al-jarh wat ta'dîl sudah terputus dan berhenti, dan sesungguhnya para rijâl pada zaman ini tidak lagi butuh kepadanya ?."

Jawab: 

"Al-Jarh wat ta'dîl itu berhubungan dengan perkara yang berkaitan dengan sunnah bagi orang-orang terdahulu yang jarh dan ta'dîl mereka dapat mengakibatkan tsubûtul ahâdîts (tetapnya hadîts-hadîts), atau tidak tsubûtnya hadîts-hadîts tersebut, mereka yang ada dan yang datang di kemudian hari tidaklah ada sedikitpun di sisi mereka untuk datang dengannya kecuali apa yang orang-orang terdahulu telah datang dengannya. 

Dan sesungguhnya mereka hanyalah melihat kepada kalâm orang-orang terdahulu, ia berkata: Fulân begini, dan ia berkata: fulân begini, dan ia berkata: fulân begini, kemudian sampailah ia kepada kesimpulan. 

Adapun dengan nisbah kepada zaman ini, maka at-ta'dîl dan at-tajrîh adanya di mahkamah (pengadilan) ketika para saksi tatkala mereka menyaksikan seseorang bahwasanya ia berada di atas keadaan begini, dan sesungguhnya orang yang tertuduh akan menjarh para saksi dengan apa yang ia ketahui yang ada pada mereka, sampai ia terbebas dari persaksian mereka jika mereka tidak dapat dipercaya, dan tidak dianggap. 

Demikian pula pada orang-orang yang didapatkan dari mereka kesesatan, dan didapatkan dari mereka perbuatan merusak, maka ia menjelaskan keadaan mereka sampai mereka ditahdzîr, ini merupakan perkara yang dituntut.

Tetapi memperluas dalam perkara ini, dan menyibukkan diri padanya, sampai mengembalikan perkara kepada di mana ahlussunnah mencela ahlussunnah lainnya, dan sebagian mereka menjauh dari sebagian yang lain, maka ini tidak akan memperbaiki, dan tidaklah layak."

Sumber: 

[Syarh 'Ilal At-Tirmidziy no rekaman 429, menit 62, dan bagian kedua no 13]

Kekeliruan, kritik, dan saran terkait terjemahan sampaikan pada penerjemah

FB Penerjemah: Dihyah Abdussalam 
IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

khatib jum'at masjid An Nabawi hari ini, Asy Syaikh Ali Al Hudzaifi حفظه الله :Risalah Islam hadir dalam rangka mewujudkan keamanan dan kedamaian di muka bumi.

khatib jum'at masjid An Nabawi hari ini, Asy Syaikh Ali Al Hudzaifi حفظه الله :
Risalah Islam hadir dalam rangka mewujudkan keamanan dan kedamaian di muka bumi. Dan yang pertama diperhatikan keamanannya oleh agama Islam adalah aqidah dan keimanan orang islam serta azas azas bangunan tauhid dan iman. 
Karunia keamanan dan kedamaian adalah karunia teragung yang akan menjaga semua kemaslahatan agama serta kemaslahatan dunia. Kapan saja keamanan merata kesemua penjuru negeri maka agama akan berwibawa dan semua kemaslahatan manusia akan tertata. 
Syi'ar syi'ar islam tidak akan tertunaikan dengan sempurna melainkan dibawah naungan keamanan dan kedamaian. Sebagai contoh, Allah telah menjelaskan urgensi keamanan dalam syiar ibadah haji, dimana Dia menjelaskan karunia keamanan dan kesakinahan bagi mereka yang memasuki baitullahil haram.  
Teruslah kalian mensyukuri karunia keamanan , kestabilan dan semua karuniaNya. Bersyukur adalah sebab bertahannya karunia Allah serta sebab bertambahnya karunia Allah. Dan waspadalah kalian dari kemaksiatan serta dosa dosa yang itu adalah sebab hilangnya karunia karunia Allah, sebab datangnya hukuman Allah dan sebab tercabutnya keberkahan !!.
Ust jabir abu unaisah 

dunia yg kita butuhkan itu sebetulnya sedikit

Sanad KeilmuanGuru nya ustadz Aunur Rofiq Bin Ghufron, Lc adalah KH Abdurrahman Syamsuri:

Sanad Keilmuan
Guru nya ustadz Aunur Rofiq Bin Ghufron, Lc adalah KH Abdurrahman Syamsuri: Ketua PDM Lamongan, Ulama Kharismatik dan Hafidz Sejak Muda.
KH Abdurrahman Syamsuri pernah belajar ke KH Hasyim Asyari Tebuireng Jombang selama setahun .
Semoga Allah Ta'ala Merahmati Semuanya 
Sumber 
https://www.google.com/amp/s/web.suaramuhammadiyah.id/2023/03/04/kh-abdurrahman-syamsuri-ketua-pdm-lamongan-ulama-kharismatik-dan-hafidz-sejak-muda/amp/

https://web.suaramuhammadiyah.id/2023/03/04/kh-abdurrahman-syamsuri-ketua-pdm-lamongan-ulama-kharismatik-dan-hafidz-sejak-muda/?fbclid=IwVERDUARqr1FleHRuA2FlbQIxMABzcnRjBmFwcF9pZAwzNTA2ODU1MzE3MjgAAR67Ly6ItHCINLfmyjfzgbN65AzEWoheXbgYbaCGxVfL5OcHuurzN37ytDlBFw_aem_l0L-qQHdhBQ2XUgeNKAyhQ