*Sebelum Membawa Keluarga Tinggal di Negeri Non-Muslim, Pikirkan Sampai Generasi Ketiga*
Tinggal dan bekerja di luar negeri, khususnya di negara maju yang mayoritas penduduknya non-Muslim, memang menawarkan banyak hal yang menarik. Penghasilan yang lebih baik, fasilitas kesehatan dan pendidikan yang bagus, pelayanan publik yang tertata, lingkungan yang nyaman, serta jaminan sosial yang kuat bisa membuat seseorang berpikir, “Mengapa tidak sekalian menetap dan membesarkan keluarga di sini?”
Pertanyaan itu wajar. Namun bagi seorang Muslim, menurut saya ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
Bagaimana agama kita, anak-anak kita, cucu kita, bahkan generasi ketiga setelah kita?
Berdasarkan pengalaman saya sekitar 19 tahun tinggal di beberapa negara non-Muslim, serta berinteraksi dan menangani berbagai persoalan keluarga Muslim Indonesia di luar negeri, saya melihat bahwa keputusan untuk menetap bersama keluarga di luar negeri perlu dipikirkan dengan sangat hati-hati dan dipersiapkan dengan matang.
Saya melihat sendiri berbagai kondisi yang memprihatinkan. Ada keluarga yang pada awalnya masih menjaga agama, tetapi perlahan mulai meninggalkan shalat. Ada keluarga yang suaminya mualaf dan akhirnya mengalami kesulitan mempertahankan kehidupan Islam di tengah keluarga. Ada pula anak-anak Muslim yang tumbuh dewasa tanpa lagi mengerjakan shalat, kemudian menikah dengan pasangan non-Muslim.
Tentu tidak semua keluarga Muslim di luar negeri seperti itu. Alhamdulillah, banyak juga keluarga yang mampu menjaga agama dan bahkan membangun komunitas Islam yang baik. Namun pengalaman-pengalaman tersebut cukup menjadi peringatan bahwa risiko itu nyata dan tidak boleh dianggap ringan.
Yang sering kita pikirkan hanya generasi pertama.
Kita masih shalat. Kita masih mengenal halal dan haram. Kita masih mencari masjid. Kita masih mengajarkan Al-Qur'an kepada anak.
Tetapi bagaimana dengan anak kita ketika sudah berusia 25 atau 30 tahun dan tidak lagi tinggal bersama kita?
Lalu bagaimana dengan cucu kita?
Dan bagaimana generasi ketiga, yang mungkin sudah tidak mengenal Indonesia, tidak berbicara bahasa orang tuanya, dan tidak lagi mempunyai hubungan kuat dengan lingkungan masyarakat Muslim tempat kakek-neneknya berasal?
Inilah yang menurut saya harus direnungkan sebelum mengambil keputusan besar untuk menetap permanen bersama keluarga.
Kenyamanan dunia memang nyata
Kita juga harus jujur dan adil. Di beberapa negara maju, termasuk negara-negara Eropa seperti Denmark, kualitas pelayanan publik, pendidikan umum, kesehatan, kesejahteraan sosial, kebersihan, keamanan, dan keseimbangan kehidupan kerja memang bisa sangat baik.
Seorang pekerja informal pun dalam kondisi tertentu dapat menikmati standar hidup yang layak. Perpindahan profesi lebih terbuka. Anak mendapat dukungan negara. Ketika kehilangan pekerjaan pun tersedia sistem perlindungan sosial.
Semua itu adalah nikmat yang tidak perlu kita ingkari.
Namun seorang Muslim tidak cukup bertanya:
“Di mana hidup saya lebih nyaman?”
Kita juga perlu bertanya:
“Di mana peluang saya dan keluarga untuk istiqamah dalam agama lebih besar?”
Sebab ada sesuatu yang sulit diukur dengan angka: lingkungan yang mengingatkan kita kepada Allah.
Di Indonesia, suara adzan, masjid, shalat Jumat, pengajian, keluarga besar Muslim, makanan halal, Ramadhan, Idul Fitri, dan berbagai aktivitas keislaman terasa biasa karena kita menjumpainya sejak kecil.
Justru karena terlalu biasa, kadang kita tidak menyadari betapa berharganya semua itu sampai kita tinggal di tempat di mana untuk pergi ke masjid saja membutuhkan perjalanan yang jauh dan perencanaan khusus.
Yang perlu kita pikirkan bukan hanya diri kita
Orang tua mungkin mengatakan:
“InsyaAllah saya bisa menjaga diri.”
Mungkin benar.
Tetapi keputusan membawa keluarga menetap di suatu negeri bukan hanya tentang kemampuan iman seorang ayah atau ibu hari ini.
Pertanyaannya adalah apakah kita sudah mempersiapkan anak agar tetap menjaga shalat ketika tidak ada lagi ayah dan ibu yang mengingatkan?
Apakah mereka memiliki sahabat Muslim yang baik?
Apakah mereka mempunyai akses yang realistis kepada masjid dan komunitas Muslim?
Bagaimana pendidikan agamanya?
Bagaimana lingkungan sekolah dan pergaulannya?
Bagaimana ketika nilai-nilai yang diajarkan di rumah berbeda jauh dengan nilai dominan yang ditemuinya setiap hari?
Dan kelak ketika mereka memilih pasangan hidup, nilai agama seperti apa yang akan menjadi pertimbangan utama mereka?
Karena itu, menurut saya, keputusan menetap harus melihat setidaknya tiga lapis generasi:
kita → anak kita → cucu kita.
Jangan sampai kita memenangkan kenyamanan ekonomi untuk satu generasi, tetapi meninggalkan persoalan agama yang jauh lebih berat kepada generasi setelah kita.
Islam tidak menjanjikan dunia sebagai tempat tanpa kesulitan
Allah mengingatkan Nabi Adam عليه السلام:
فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰ
"Kemudian Kami berfirman, 'Wahai Adam! Sungguh ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, nanti engkau akan bersusah payah.'"
(QS. Thaha: 117)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa dunia memang bukan surga.
Karena itu, ketika menghadapi berbagai kekurangan hidup di negeri sendiri, jangan sampai kegelisahan kita terhadap masalah ekonomi, birokrasi, pekerjaan, pendidikan, atau kenyamanan hidup membuat kita melihat negeri lain hanya dari kelebihannya.
Setiap tempat mempunyai harga yang harus dibayar.
Ada tempat yang mungkin menuntut harga lebih tinggi secara ekonomi, ada pula lingkungan yang tantangannya lebih besar dalam menjaga agama dan pendidikan anak.
Bagi seorang Muslim, pertimbangannya bukan semata-mata:
Di mana gajinya paling besar?
Di mana sekolahnya paling bagus?
Di mana hidupnya paling nyaman?
Tetapi juga:
Di mana shalat keluarga lebih terjaga?
Di mana anak lebih mudah mengenal Allah?
Di mana mereka mempunyai lingkungan dan sahabat yang membantu menjaga agamanya?
Bagaimana kemungkinan anak dan cucu kita mempertahankan Islam ketika kita sudah tidak ada?
Bukan berarti tidak boleh tinggal di negeri non-Muslim
Pesan ini bukan untuk menghukumi setiap Muslim yang tinggal di luar negeri. Kondisi setiap orang berbeda. Ada yang tinggal sementara karena pekerjaan, pendidikan, dakwah, kesehatan, atau kebutuhan lainnya. Bahkan ada keluarga yang justru memiliki lingkungan Muslim dan pendidikan agama yang sangat baik di sana.
Yang ingin ditekankan adalah:
jangan menjadikan kenyamanan dunia sebagai satu-satunya ukuran ketika menentukan tempat tinggal keluarga.
Sebelum memutuskan menetap, buatlah semacam risk assessment keluarga, bukan hanya financial assessment.
Periksa masjid dan komunitas Muslim di sekitar tempat tinggal. Pikirkan akses shalat Jumat. Tentukan bagaimana pendidikan Al-Qur'an dan aqidah anak. Perhatikan dengan siapa mereka bergaul. Rencanakan pendidikan agama ketika mereka memasuki usia remaja. Dan yang paling penting, bangun rumah yang benar-benar hidup dengan shalat dan ketaatan, bukan menyerahkan pendidikan iman sepenuhnya kepada sekolah atau komunitas.
Kita terbiasa mempersiapkan karier, visa, rumah, sekolah, asuransi kesehatan, dan tabungan sebelum pindah negara.
Mengapa persiapan untuk menjaga iman keluarga justru tidak dibuat seteliti itu?
Pada akhirnya, keputusan terbaik setiap keluarga bisa berbeda. Tetapi jangan hanya memikirkan kehidupan 5 atau 10 tahun ke depan.
Pikirkan pula keadaan anak setelah kita tua.
Pikirkan cucu ketika kita sudah tidak mampu menasihati mereka.
Bahkan, kalau perlu, tanyakan:
“Jika saya mengambil keputusan ini hari ini, seperti apa kemungkinan keadaan agama generasi ketiga keluarga saya nanti?”
Sebab keberhasilan sebuah keluarga Muslim bukan hanya ketika anak-anaknya mendapatkan pendidikan tinggi, pekerjaan bagus, rumah nyaman, dan kehidupan yang mapan.
Ada keberhasilan yang jauh lebih besar:
ketika setelah kita meninggal, anak-anak dan keturunan kita masih mengenal Allah, menjaga shalat, mencintai agamanya, dan mendoakan kedua orang tuanya.
Itulah warisan yang nilainya jauh melampaui kenyamanan hidup di mana pun kita berada.
Wallahu a'lam.
Aslam Salimudin
Paris, 29 Oktober 2026