Kamis, 05 Maret 2026

Fleksibilitas Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Fleksibilitas Jumlah Rakaat Shalat Tarawih
Jumlah rakaat dalam shalat Tarawih bersifat fleksibel dan afdholnya disesuaikan dengan panjang atau pendeknya surat yang dibaca:
● ​Jika surat yang dibaca pendek, maka jumlah rakaat diperbanyak.
● ​Jika surat yang dibaca panjang, maka jumlah rakaat bisa dikurangi.

​​Syaikh Taqiyuddin (Ibnu Taimiyah) rahimahullah berkata:

​Semua itu baik, baik 11 rakaat, 13 rakaat, atau selainnya, sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Ahmad. Hal ini dikarenakan tidak adanya pembatasan jumlah tertentu (dari Nabi ﷺ). Oleh sebab itu, banyak atau sedikitnya jumlah rakaat mengikuti panjang atau pendeknya qiyam (bacaan surat) pada saat shalat.

​📚 Al-Inshaf fi Ma’rifati ar-Rajih min al-Khilaf, Al-Imam Al-Mardawi rahimahullah

Penjelasan Syaikh Dr. Nashir bin Abdullah al-Qifari hafizhahullah bahwa Rafidhah terkumpul padanya keyakinan menyimpang dari berbagai sekte sesat. Kemudian beliau menambahkan di kitab Maqalat Firaq bahwa agama Rafidhah terkumpul juga padanya berbagai aqidah dari berbagai agama sesat baik itu ahlul kitab maupun paganisme (Shabi'ah, Majusi, Budha, Hindu dll).

📝Penjelasan Syaikh Dr. Nashir bin Abdullah al-Qifari hafizhahullah bahwa Rafidhah terkumpul padanya keyakinan menyimpang dari berbagai sekte sesat. Kemudian beliau menambahkan di kitab Maqalat Firaq bahwa agama Rafidhah terkumpul juga padanya berbagai aqidah dari berbagai agama sesat baik itu ahlul kitab maupun paganisme (Shabi'ah, Majusi, Budha, Hindu dll). 

🔎Berikut penjabarannya:
📚1) Dalam bab asma' was shifat mereka Jahmiyah Mu'aththilah. Selain itu mereka juga musyabbihah sebagaimana disebutkan dalam kitab mereka bahwa para imam merupakan perwujudan dari nama-nama Allah. 
📚2) Dalam bab asma' wal ahkam mereka mengambil dua ideologi kelompok sesat: 
- Ketika menilai pengikut Rafidhah sendiri mereka adalah Murji'ah ghulat. Aqidah mereka bahwa: keimanan terhadap imam tidak berpengaruh padanya kemaksiatan. Seseorang tetap dikatakan mukmin sempurna selagi ia beriman kepada imam, walaupun mengerjakan kemaksiatan. 
- Ketika menilai kaum muslimin di luar mereka, mereka adalah Khawarij takfiri berdarah dingin. Mereka berkeyakinan bahwa kaum muslimin di luar agama mereka adalah kafir kekal di neraka dan halal darah serta hartanya. Juga mereka menghalalkan revolusi dan kudeta terhadap pemimpin muslim. 
📚3) Dalam bab tauhid uluhiyah mereka musyrik. Banyak sekali penyimpangan ibadah yang mereka lakukan seperti meminta pertolongan kepada imam, nyembah kubur, berhaji ke Karbala, dan sebagainya. 
📚4) Dalam tauhid rububiyah mereka juga musyrik. Tertulis di dalam kitab-kitab ulama mereka bahwa imam memiliki kendali atas alam semesta, mengetahui perkara ghaib, bahkan Allah menyatu di dalam diri imam (inkarnasi). 
📚5) Mereka memiliki benyak sekali penyimpangan di rukun islam dan rukun iman. Seperti keyakinan Allah menurunkan kitab suci kepada imam mereka, keimaman lebih utama daripada kenabian, keyakinan raj'ah (mirip konsep reinkarnasi) dan sebagainya.
📚6) Selain itu muta'akhirin mereka juga menganut Qadariyah di dalam bab qadar mengikuti Mu'tazilah sebagaimana ini termaktub di beberapa kitab ummahat mereka. 
📚7) Pengagungan mereka terhadap para imam yang dua belas persis seperti pengagungan bangsa Majusi Persia terhadap raja-raja mereka. Mereka berkeyakinan bahwa darah yang mengalir pada imam adalah suci sehingga mereka menjadi ma'shum. Selain itu mereka juga mengagungkan beberapa tokoh asal Persia dan hari raya mereka. 
📚8) Dalam ikatan sosial mereka menganut ibahiyah yang berasal dari agama Majusi Mazdakiyah. Hampir semua penyimpangan seksual ada pada mereka, pokok asasnya adalah mut'ah yang mana lahir darinya kelainan seperti pedofilia, menikahi mahram, hingga hubungan sesama jenis. 
📚9) Dalam muamalat bersama non Syi'ah mereka seperti Yahudi yang menganggap bangsa mereka lebih tinggi derajatnya daripada selain mereka. Di agama mereka ada namanya aqidah ath-Thinah, yakni pengikut Syi'ah diciptakan dari tanah khusus sedangkan selain mereka diciptakan dari tanah lain yang lebih hina. Jadi tak heran mereka menghalalkan pembantaian kaum muslimin selain mereka sebagaimana yang sejarah saksikan. 

✒️Syaikh al-Qifari sendiri memiliki kitab penting berjudul "Ushul Madzhab asy-Syi'ah al-Imamiyah al-Itsna Asyariyah Ardhun wa Naqdun" yang merupakan risalah doktoral beliau di Universitas Imam Muhammad bin Su'ud dan langsung dibimbing oleh Syaikh Dr. Rasyad Salim yang terkenal mentahqiq karya-karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Melalui kitab beliau ini banyak orang tercerahkan bahkan ada beberapa tokoh Syi'ah yang taubat setelah membacanya wal hamdulillah. Ringkasan dari kitab ini diterbitkan oleh Darul Aqidah-Riyadh baru-baru ini.
https://www.facebook.com/share/v/1BuVEVDA6V/

Ta'liq 31 Tilawah Syaikh Bandar Balila di malam 22 Ramadhan

# Ta'liq 31 Tilawah Syaikh Bandar Balila di malam 22 Ramadhan 

Tilawah beliau saat sholat Maghrib di malam 22 tadi, yang mencuri perhatian ana yaitu Waqaf beliau pada ayat كن dan ibtida pada فيكون yg membuat ana tersenyum2.

Disini ada khilaf,apakah di washolkan atau di waqafkan. Pendapat yang mengatakan di Washalkan mayoritas dari Para Ahli Qiroaat, sdngkan pendapat yang di Waqafkan Mayoritas dari ulama bahasa, salah Satunya Sibawaih.

Maka yang kami ajarkan kepada thullab kami dengan di waqafkan.

Karena faidah waqaf disitu sangat jamilah, terutama untuk kita2 yang awam ini.

Banyak orang menyangka bahwasanya kalimat yg Allah ucapkan itu كن فيكون padahal hanya كن sj.

Dan banyak beredar perkataan di tengah2 masyarakat yg kurang lebih seperti ini

" Ketika Allah mengucapkan كن فيكون maka tidak ada yg tidak mungkin "

Maka dengan mewaqafkan di كن memberikan faidah bahwsanya perkataan Allah hanya كن tidak dengan فيكون.

Jadi cara bacanya hanya 2 sj, Washol atau Waqaf. Bukan Saktah 

Miftahul Khair 
Saudi Arabia 22 Maret 2025
https://www.facebook.com/share/v/1CegePF7f4/

Ta'liq 40 Tilawah Syaikh Walid Assyamsan.

# Ta'liq 40 Tilawah Syaikh Walid Assyamsan.

Masyaallah coba perhatikan beliau saat membaca jawab Syarth ( یَشۡرَحۡ صَدۡرَهُۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِۖ ) membuat kita semakin bisa bertaammul dalam tilawah beliau dan lebih paham, Dan ini yang kami sering sampaikan kepada Thullab ketika mendapati Jawab Syarth yang semisal dengan ini.

 فَمَن یُرِدِ ٱللَّهُ أَن یَهۡدِیَهُۥ یَشۡرَحۡ صَدۡرَهُۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِۖ 

Sangat sayang sekali jika seseorang belum belajar Sebuah Adaa' tilawah semasa hidupnya, Sebagaimana yang di katakan

من أسباب استقامة القلب وسلامته كثرة استماع إلى القرآن
Salah satu sebab istiqomah dan bersihnya sebuah hati yaitu dengan memperbanyak mendengarkan Al Qur'an. Dan ya tentu di bacakan sesuai dengan maknanya. 

Miftahul Khair 
Saudi Arabia, 4 Februari 2026
https://www.facebook.com/share/v/1CSwQu6cuu/

Taliq 41 Tadabbur Waqafat Tilawah Syaikh Ahmad Tholib.

# Taliq 41 Tadabbur Waqafat Tilawah Syaikh Ahmad Tholib.

Kedalaman Fiqih dalam Setiap Waqafat Dalam setiap lantunan Syaikh Ahmad Tholib, terdapat Waqafat yang Jamilah di setiap titiknya. Hal ini selaras dengan kesepakatan para Jumhur Ulama bahwa seseorang yang Ahli Fiqih jauh lebih diutamakan untuk menjadi Imam, karena ia memahami di mana makna harus dijaga.

Ayat ini menceritakan Ketetapan Waris (Ashabul Furud)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 11:
{ یُوصِیكُمُ ٱللَّهُ فِیۤ أَوۡلَـٰدِكُمۡۖ لِلذَّكَرِ مثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَیَیۡنِۚ فَإِن كُنَّ نِسَاۤءࣰ فَوۡقَ ٱثۡنَتَیۡنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَۖ وَإِن كَانَتۡ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ فَلَهَا ٱلنِّصۡفُۚ وَلِأَبَوَیۡهِ لِكُلِّ وَ ٰ⁠حِدࣲ منۡهُمَا ٱالسُّدُسُ ممَّا تَرَكَ إِن كَانَ لَهُۥ وَلَدࣱۚ فَإِن لَّمۡ یَكُن لَّهُۥ وَلَدࣱ وَوَرِثَهُۥۤ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ ٱلثُّلُثُۚ فَإِن كَانَ لَهُۥۤ إِخۡوَةࣱ فَلِأُمِّهِ ٱالسُّدُسُۚ mِنۢ بَعۡدِ وَصِیَّةࣲ یُوصِی بِهَاۤ أَوۡ dَیۡنٍۗ ءَابَاۤؤُكُمۡ وَأَبۡنَاۤؤُكُمۡ لَا تَدۡرُونَ أَیُّهُمۡ أَقۡرَبُ لَكُمۡ نَفۡعࣰاۚ فَرِیضَةࣰ منَ ٱللَّهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِیمًا حَكِیمࣰا }

Terjemahan:
"Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Dan untuk kedua ibu-bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagi kamu. Ini adalah ketetapan Allah. Dan sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana."

Ketepatan Waqaf dan Penjagaan Makna Hukum Di dalam ayat tersebut, Allah menceritakan tentang pembagian warisan yang berkaitan erat dengan Ashabul Furud (orang-orang yang mendapatkan bagian tetap).

Syaikh Ahmad Tholib menunjukkan kepiawaiannya dengan tidak melakukan Ibtida' dengan mundur 1-3 kalimat sebelumnya. Beliau memahami bahwa ini adalah sebuah Qoidah yang tidak bisa dimutlakkan begitu saja, sebagaimana yang sering tersebar secara keliru di kalangan masyarakat umum.

Beliau sangat berhati-hati agar tidak melakukan ibtida' sembarangan. Sebab, di saat seseorang melakukan Waqaf secara sembarangan pada ayat hukum ini, maka di situlah maknanya akan menjadi kacau dan rusak.

Rincian Bagian yang Allah Tetapkan dalam Ayat Ini:
1. Anak Laki-laki & Perempuan: Bagian 1 anak laki-laki setara dengan 2 anak perempuan.
2. 2 atau Lebih Anak Perempuan: Mendapatkan 2/3 bagian dari harta.
3. 1 Anak Perempuan (Tunggal): Mendapatkan 1/2 bagian harta.
4. Ayah: Mendapatkan 1/6 harta jika mayit memiliki anak.
5. Ibu: Mendapatkan 1/6 harta jika mayit memiliki anak.
6. Ibu: Mendapatkan 1/3 harta jika mayit tidak memiliki anak (dan diwarisi orang tua saja).
7. Ibu: Mendapatkan 1/6 harta jika mayit memiliki beberapa saudara.

Salah satu contoh kesalahan fatal saat melakukan waqaf adalah pada potongan:

وَإِن كَانَتۡ وَ ٰ⁠حِدَةࣰ فَلَهَا ٱلنِّصۡفُۚ وَلِأَبَوَیۡهِ لِكُلِّ وَ ٰ⁠حِدࣲ منۡهُمَا ٱالسُّدُسُ

Apabila seseorang sengaja atau tidak sengaja berhenti (Waqaf) pada kalimat "وَلِأَبَوَیۡهِ", maka secara pemaknaan akan muncul pemahaman yang salah: seolah-olah Ayah dan Ibu juga mendapatkan bagian setengah (1/2), sebagaimana bagian yang diterima oleh anak perempuan tunggal. Padahal, bagian orang tua memiliki ketetapannya sendiri yang terpisah.

Sinergi Tilawah, Bahasa Arab, dan Fiqih beserta Ilmu lainnya sangat penting bagi seseorang yang ingin mahir dalam Al-Qur'an dan untuk tidak mencukupkan diri hanya dengan kefasihan tilawah saja.

Dan ini yang kami ajarkan ketika bertemu dengan ayat yang berisikan tentang sebuah Hukum untuk Waqaf dan Ibtida dengan Memisahkan.

Seseorang harus membekali diri dengan pengetahuan cabang ilmu lain, semisal Bahasa Arab dan Fiqih. 

Miftahul Khair 
Saudi Arabia, 5 Maret 2026
https://www.facebook.com/share/v/1LG5LxwcWK/
,

Ta'liq 42 Tentang Tilawah Aimmatul Haramain di Ramadhan tahun ini

# Ta'liq 42 Tentang Tilawah Aimmatul Haramain di Ramadhan tahun ini

Merendahkan Suara pada Perkataan Ahli Batil Dalam Adaa' membaca Al-Qur'an, terdapat sebuah adab yang sangat jamilah terkait pengaturan nada suara (intonasi) saat bertemu dengan nukilan ucapan orang-orang kafir yang tidak layak bagi Allah SWT.

Dasar Atsar dari Ulama Salaf
Imam Ibrahim An-Nakha'i rahimahullah memberikan pendapat:

إذا قرأت: {وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ}، و {وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا}، ونحو ذلك، فأخفض بها صوتك. أو كما قال

"Apabila engkau membaca: {Orang-orang Yahudi berkata: Tangan Allah terbelenggu}, dan {Mereka berkata: Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak}, serta yang semisal itu, maka rendahkanlah suaramu."

Adab ini bukan sekadar teknis bacaan, melainkan memiliki sandaran kuat dari para imam besar:

Tazkiyah Imam: Hal ini didukung oleh Imam Ibnul Jazari (pakar Qiraat) dan Imam An-Nawawi dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an.

Diutarakan pula dengan makna serupa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Katsir, serta Imam Al-Qurthubi dalam kitabnya Al-Jami' li Ahkamil Qur'an.

Dan cara membaca seperti ini bukanlah sebuah kewajiban, melainkan Anjuran (Mustahab) yang didasari oleh tiga tujuan utama:

Yaitu 1.لعدم الرضا بقولهم : Sebagai manifestasi ketidaksetujuan dan pengingkaran hati atas ucapan mereka.

Dan 2. للحياء : Sebagai bentuk rasa malu kepada Allah SWT saat lisan harus melafalkan kalimat yang tidak pantas bagi-Nya.

Serta 3. لتنزيهه عز وجل: Sebagai bentuk penyucian terhadap kehormatan Allah 'Azza wa Jalla (bukan pada zat-Nya, melainkan penolakan terhadap konten ucapan tersebut) setelah mereka melontarkan perkataan tersebut.

Kemudian Adaa' Meninggikan Suara pada Bantahan.

Sebaliknya, saat sampai pada ayat yang berisi bantahan terhadap ucapan kafir tersebut, kita dianjurkan untuk mengangkat (mempertegas) suara sebagai bentuk:
Yaitu رد على قولهم : 

Penolakan yang tegas atas klaim mereka.

Dan تفريق بين كلامين: 

Untuk membedakan secara jelas antara dua perkataan yang berbeda (antara ucapan makhluk yang batil dengan firman Khaliq yang haq).

Hal ini telah disepakati oleh para Ahli Shout (ahli olah suara Al-Qur'an) dalam pembahasan التصوير النغمي, yaitu menggambarkan makna ayat melalui intonasi.

Miftahul Khair
Saudi Arabia, 6 Maret 2026
https://www.facebook.com/share/v/1ZtHgUWT9w/

KULTUM TAUHID BAHASA JAWA

*KULTUM TAUHID BAHASA JAWA*

*Mlebu neroko mergo laler*

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, sedoyo puji namung kagunganipun Allah. Shalawat saha salam mugi tansah katur dhumateng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Para sedherek ingkang dipun rahmati Allah,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam nate dawuh 
ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ , ﻭَﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓِﻲْ ﺫُﺑَﺎﺏٍ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ : ﻭَﻛَﻴْﻒَ ﺫَﻟِﻚَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺮَّ ﺭَﺟُﻼَﻥِ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْﻡٍ ﻟَﻬُﻢْ ﺻَﻨَﻢٌ ﻻَ ﻳَﺠُﻮْﺯُﻩُ ﺃَﺣَﺪٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻘَﺮِّﺏَ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻓَﻘَﺎﻟُﻮْﺍ ﻷَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﻴْﺲَ ﻋِﻨْﺪِﻱْ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃُﻗَﺮِّﺏُ، ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟَﻪُ : ﻗَﺮِّﺏْ ﻭَﻟَﻮْ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ، ﻓَﻘَﺮَّﺏَ ﺫُﺑَﺎﺑًﺎ ﻓَﺨَﻠُّﻮْﺍ ﺳَﺒِﻴْﻠَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ، ﻭَﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﻟِﻶﺧَﺮِ : ﻗَﺮِّﺏْ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺖُ ﻷُﻗَﺮِّﺏَ ﻷﺣَﺪٍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺩُﻭْﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻀَﺮَﺑُﻮْﺍ ﻋُﻨُﻘَﻪُ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ
Bilih wonten tiyang mlebet swarga amargi lalat, lan wonten ugi tiyang mlebet neraka amargi lalat.

Para sahabat kaget lan takon, “Kepiye saged mekaten, ya Rasulullah?”

Nabi nerangaken, wonten kalih tiyang liwat ing satengahing kaum ingkang gadhah brahala. Saben tiyang ingkang badhe liwat kedah maringi sesaji rumiyin dhateng brahala punika.

Tiyang kapisan dipun dhawuh maringi sesaji. Panjenenganipun matur, “Kula mboten gadhah napa-napa.” Wong-wong punika ngendika, “Sanadyan namung lalat.” Pungkasanipun piyambakipun maringi lalat, lajeng dipun parengaken liwat. Nanging amargi sampun maringi sesaji dhateng selain Allah, piyambakipun mlebet neraka.

Tiyang kaping kalih ugi dipun dhawuh maringi sesaji. Nanging piyambakipun ngendika, “Kula mboten badhe maringi napa-napa dhateng sinten kemawon saliyanipun Allah.” Amargi menika piyambakipun dipun pateni, nanging piyambakipun mlebet swarga. (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah) 

Para sedherek,

Saking hadits punika kita sinau bilih tauhid menika ageng sanget reginipun. Dosa syirik, sanadyan katingal sepele kados namung lalat, nanging menawi nglanggar tauhid, akibatipun abot sanget.

Kita ugi sinau supados boten gampang nuruti tekanan lingkungan menawi nabrak akidah. Lebih becik nandhang susah ing donya tinimbang rusak iman lan celaka ing akhirat.

Ing masyarakat Jawa, sesajen punika taksih asring kita temoni. Kados ta:

••Wonten ingkang nyeleh panganan, kopi, rokok, utawi kembang wonten ngandhap wit ageng amargi ngraos papan punika wonten penunggunipun.
••Wonten ingkang nyeleh sesajen wonten pojok griya nalika miwiti mbangun omah, kanthi niat supados mboten wonten gangguan.
••Wonten ingkang maringi sesajen wonten sawah supados panenipun lancar lan mboten kataman hama.
••Wonten ugi ingkang nggawa sesajen dhateng segara utawi papan tartamtu kanthi pangajab keselamatan.

Menawi sesajen punika dipun tindakaken kanthi keyakinan bilih wonten makhluk sanes saged maringi manfaat utawi nolak cilaka, punika kalebet syirik akbar engkang seget mbatalaken keislaman

Amargi ingkang maringi manfaat lan mudarat namung Allah piyambak.

Mula, ayo kita tinggalaken kebiasaan ingkang saged ngrusak tauhid. Nyuwun keselamatan, rejeki, lan perlindungan namung dhateng Allah.

Mugi Allah njagi tauhid kita, ngiyataken iman kita, lan paring kita mati ing ndhuwur kalimat Laa ilaha illallah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

_Sedulurmu : Kang Mas Nurhadi Nugroho_