Jumat, 24 April 2026

Para Guru dari K.H. Ahmad Dahlan Oleh: Muhammad Gamal Abdurrahman

Semalam Ust. Triyono Abinya Nafisah mengirimkan kepada saya tulisan berikut via WA (dengan minor editing): 

☆☆☆ 

Para Guru dari K.H. Ahmad Dahlan 

Oleh: Muhammad Gamal Abdurrahman

...

Jujur saja, catatan dan pembahasan tentang siapa saja guru K.H. Ahmad Dahlan itu susah dicari. Makanya, banyak kader Muhammadiyah sendiri bingung pas ditanya tentang siapa saja guru-guru beliau.

Sebenarnya, dalam tradisi keilmuan Islam, mengetahui rantai atau sanad keilmuan seorang guru itu penting. Fungsinya tentu banyak.

Nah, alhamdulillah saya punya beberapa buku yang di dalamnya ada catatan tentang siapa saja guru beliau, baik yang ditemui di Nusantara maupun di Makkah.

Saya membagi guru-guru beliau menjadi tiga bagian. 

Pertama: Guru-guru yang beliau temui dan belajar langsung di Nusantara: 

■ Bapaknya sendiri 
■ K.H. Muhammad Saleh, ipar beliau (utamanya belajar ilmu fikih) 
■ Kiyai Muhammad Nur, ipar beliau 
■ K.H. Sa'id 
■ K.H. Mukhsin, ipar beliau (utamanya belajar ilmu nahwu) 
■ Kiyai Abdul Hamid Lempuyangan 
■ Raden Ngabehi Sosrosugondo 
■ Raden Wedana Dwijosewoyo 
■ Kiyai Makhfudh (utamanya belajar ilmu hadis) 
■ K.H. Raden Dahlan Semarang (utamanya belajar ilmu falak) 
■ Syaikh Soleh Darat (utamanya belajar ilmu falak dan akidah) 
■ Syaikh Muhammad Jamil Jambek Bukittinggi 
■ Syaikh Khayyat (utamanya belajar ilmu hadis) 

Kedua: Guru-guru yang beliau temui dan belajar langsung di Mekah:

■ K.H. Asy'ari Baceyan (utamanya belajar ilmu falak) 
■ Syaikh Ali Mishri (utamanya belajar ilmu qiraat) 
■ Sayyid Bakri Syatha, penulis kitab I'anah ath-Thalibin (utamanya belajar ilmu qiraat)
■ Syaikh Amin (utamanya belajar ilmu qiraat)
■ Syaikh Hasan (utamanya belajar ilmu pengobatan dan berbagai racun binatang)
■ Syaikh Baqir Jogja, masih keluarga beliau (belajar banyak cabang ilmu dan hikmah kehidupan)
■ Syaikh Mahfudz Termas (utamanya belajar ilmu hadis)
■ Syaikh Sa'id Babashil, mufti mazhab Syafi'i di Makkah waktu itu (utamanya belajar ilmu fikih)
■ Syaikh Nawawi Banten
■ K.H. Mas Abdullah Surabaya
■ K.H. Faqih Maskumambang Gresik
■ Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (utamanya belajar ilmu falak dan debat)
■ Sayyid Muhammad Rasyid Ridha (utamanya belajar konsep membangunkan kembali umat Islam dan berdasarkan pengalaman beliau di Mesir) 

Ketiga: Guru-guru ruhani beliau, yaitu para penulis kitab-kitab yang menjadi kesukaan beliau:

■ Imam Ibnu Taimiyyah (karya yang jadi favorit adalah at-Tawassul wal Wasilah, serta pembahasan beliau tentang bid'ah) 
■ Imam Ibnu Athaillah (karya favorit: al-Hikam)
■ Sayyid Jamaluddin al-Afghani (karya favorit: al-'Urwatul Wutsqa)
■ Syaikh Muhammad 'Abduh (karya favorit: Risalah at-Tauhid, al-Islam wan Nashraniyyah, Tafsir Juz 'Amma, makalah-makalahnya di Majalah al-Manar, dan Tafsir al-Manar—yang merupakan karya bersama dengan Sayyid Muhammad Rasyid Ridha)
■ Syaikh Rahmatullah al-Hindi (karya favorit: Izhharul Haqq) 
■ Dr. Farid Wajdi (karya favorit: Dairatul Ma'arif al-Islamiyyah dan Kanzul 'Ulum wal Lughah) 
■ Sebagian ulama mazhab Hanbali (karya-karya mereka yang jadi favorit adalah dalam bidang hadis) 

Nah, begitulah yang tercatat di beberapa literatur karya murid dan ahli sejarah Muhammadiyah sendiri. Judul-judulnya sudah tercantum di sumber tulisan ini.

Semoga bermanfaat! 

Sumber:

■ Junus Salam, K.H. Ahmad Dahlan; Amal dan Perjuangannya (Al Wasat Publishing House).
■ Kanjeng Raden Haji Hadjid, Pelajaran K.H. Ahmad Dahlan; 7 Falsafah & 17 Kelompok Ayat Al-Qur'an (Lembaga Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah).
■ M. Yusron Asrofie, K.H. Ahmad Dahlan; Pemikiran & Kepemimpinannya (Majelis Pengembangan Kader dan Sumber Daya Insani Pimpinan Pusat Muhammadiyah).
■ Abdul Munir Mulkhan, Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah (PT Percetakan Persatuan Yogyakarta).
■ Hery Sucipto dan Nadjamuddin Ramly, Tajdid Muhammadiyah dari Ahmad Dahlan hingga A. Syafi'i Maarif (Grafindo).
■ Tim Penulis Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ensiklopedi Muhammadiyah (Rajawali Pers).
■ Dr. Safrudin Edi Wibowo, Tarikh al-Hadharah al-Islamiyyah fi Indonesia (Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah).
ustadz adni kurniawan

cek hilal livestreaming

https://hilal.bmkg.go.id/

Poin-Poin Penting #Larangan Fanatisme #Menghargai Perbedaan #Adab Berbicara #Fenomena "Orang Kecil"

 
**Sulaiman Al-Ruhayli (Sulaiman bin Salim Allah)**
@solyman24
"Fanatisme buta terhadap ulama tertentu, merendahkan ulama dan syekh-syekh Ahlus Sunnah lainnya, meremehkan pendapat-pendapat yang berbeda dengan perkataan syekh dari si penuntut ilmu (murid), serta menjuluki mereka yang berbeda pendapat dengan syekh sang murid dari kalangan Ahlus Sunnah dengan gelar-gelar yang merendahkan seperti (da'i, penuntut ilmu, dan sejenisnya), serta majunya orang-orang kecil (yang belum mumpuni) untuk tampil ke depan;
Semua itu termasuk **penyakit yang harus diobati**, serta termasuk **buruknya adab dan akhlak yang harus dicabut hingga ke akarnya**, karena hal tersebut menyelisihi manhaj Salaf."
### Poin-Poin Penting Pesan Tersebut:
 * **Larangan Fanatisme:** Tidak boleh berlebihan membela satu guru hingga merendahkan guru/ulama lain yang juga berada di atas sunnah.
 * **Menghargai Perbedaan:** Jangan meremehkan pendapat ulama lain hanya karena berbeda dengan guru kita.
 * **Adab Berbicara:** Menggunakan gelar rendah untuk ulama lain (seperti menyebut ulama besar hanya sebagai "da'i biasa") adalah bentuk akhlak buruk.
 * **Fenomena "Orang Kecil":** Peringatan terhadap orang yang belum cukup ilmu namun sudah berani tampil memimpin atau berfatwa.

Boleh Menziarahi kuburan orang kafir, dan tidak mengucapkan salam kepadanya, tetapi mengatakan : ‘Bergembiralah kamu dengan Azab Neraka

Syaikh Abdurrahman bin Abdillah Al-Ba'li Al-Hanbali rahimahullah berkata :

"Boleh Menziarahi kuburan orang kafir, dan tidak mengucapkan salam kepadanya, tetapi mengatakan : ‘Bergembiralah kamu dengan Azab Neraka.' [ Kasyaf Al-Mukhadarat wa Riyadhul Muzhaharat syarah Akhshar Al-Mukhtasharat, hal. 239 ]
ibn qasim

Seorang Salafi

Seorang Salafi, dengan agamanya yang jelas dan manhajnya (jalan/metode) yang lurus, akan mengatakan apa yang ia ketahui, dan membangun sikap-sikapnya di atas dasar-dasar syariat.
Ia mencintai keamanan, stabilitas, dan kebahagiaan bagi setiap negeri kaum muslimin, serta mendoakan hal tersebut untuk seluruh negeri kaum muslimin.
Ia merasa gembira dengan setiap kabar yang mengandung stabilitas dan kebaikan bagi negeri muslim mana pun, serta merasa senang dengan terbongkar dan tersingkapnya kedok para penjahat dan pengkhianat.
Ia senantiasa memohon kepada Allah agar melindungi negeri-negeri kaum muslimin dari keburukan berbagai fitnah dan orang-orang yang suka menebar fitnah."

NASEHAT_SYAIKH_MUQBIL

#NASEHAT_SYAIKH_MUQBIL

Syaikh Al Imam Muqbil bin Hadi Al Wadi'iy rahimahullah berkata:

"Ketika kami memperingatkan dari taqlid kepada Abu Hanifah [dan yang lainnya], maka kami bukanlah mengajak manusia kepada mazhab kami. Karena kami tidak memiliki mazhab kecuali Kitabullah dan Sunnah Nabi. Kami juga tidak mengajak manusia untuk taqlid kami, karena kami bukanlah orang yang layak untuk diikuti. Akan tetapi, kami mengajak manusia kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah-Nya, karena keduanya adalah jaminan keselamatan dari kesesatan. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

'Sesungguhnya Al Quran ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang beramal saleh bahwa mereka akan mendapatkan pahala yang besar'. (Qs. Al Isra: 9)".
---------------------------
Kitab. Nasyru As Shahifah, hal. 17, Syaikh Muqbil Al Wadi'iy, cet. Dar Al Haramain Cairo.
ust alif el qibty

Sikap Moderat terhadap Kondisi Abu Hamid al-Ghazali


**Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang**
## **Sikap Moderat terhadap Kondisi Abu Hamid al-Ghazali**
**Penjelasan mengenai sikap para murid Syekh Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahab (semoga Allah merahmati mereka) terhadap Al-Ghazali.**
*Disusun oleh Dr. Abdul Aziz bin Saad Al-Dughaither pada tanggal 25 Syawal 1447 H.*
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya sekalian. Amma ba’du:
Saya mengamati adanya sikap keras dari sebagian penuntut ilmu dalam ucapan mereka mengenai Abu Hamid al-Ghazali, padahal beliau telah memberikan kontribusi besar dalam ilmu fikih Syafi'i dan ushul fikih. Oleh karena itu, saya merasa perlu untuk menukil perkataan para murid Syekh Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahab *rahimahullah*, agar kita dapat melihat moderasi (sikap pertengahan) yang sangat kita butuhkan saat ini.
Saya senantiasa berpendapat bahwa meninggalkan manhaj para ulama kita—mulai dari sang pembaharu dakwah ini, murid-muridnya, para ulama yang memberikan pengaruh kepada mereka dari kalangan Salafus Shalih, Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah beserta murid-muridnya, hingga para ulama Ahli Hadis sebelumnya maupun sesudahnya—akan menyebabkan kekacauan bagi para penuntut ilmu. Mereka adalah kaum yang merupakan teladan bagi kita.
Abu Hamid al-Ghazali adalah Muhammad bin Ahmad al-Tusi al-Ghazali, wafat tahun 505 H. Beliau termasuk salah satu fukaha besar mazhab Syafi'i dan ulama besar ushul fikih. Beliau juga memiliki berbagai karya tulis lain dalam bidang tasawuf, filsafat, dan ilmu kalam, yang mana bidang-bidang tersebut merupakan subjek dari penelitian dan kritik.
Berikut adalah apa yang disebutkan oleh para ulama Diriyah dalam mengevaluasi Abu Hamid al-Ghazali:
**Dalam *Al-Durar al-Saniyyah* 17/3:**
Putra-putra Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dan Syekh Hamad bin Nashir *rahimahumullah* ditanya mengenai ayat-ayat sifat yang terdapat dalam Al-Kitab. Dalam jawaban mereka, terselip perkataan mengenai Abu Hamid al-Ghazali, karena si penanya berkeberatan bahwa Abu Hamid melakukan takwil padahal beliau adalah orang yang berilmu. Mereka berkata dalam mengevaluasi kondisi Abu Hamid:
> "Abu Hamid *rahimahullah*, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian imam Islam (1):
> (Cabang: Mengenai kitab *Al-Arba'in* dan *Al-Madnun bihi 'ala Ghairi Ahlihi*)"
*(1) Teks perkataan Imam Ibnu Taimiyah — rahimahullah — dalam Majmu’ al-Fatawa (4/63).*