Minggu, 21 Juni 2026

Mendidik anak itu kewajiban orang tua, sedangkan soal kesalehan itu urusan (anugerah dari) Allah”

“Mendidik anak itu kewajiban orang tua, sedangkan soal kesalehan itu urusan (anugerah dari) Allah” 

Mughnil Muhtaj

الْأَدَبُ عَلَى الْآبَاءِ، وَالصَّلَاحُ عَلَى اللَّهِ
uask

Salah satu perkara pelik dalam Hukum Waris adalah kasus Abawain Wa-Akhawain. Yaitu ketika di antara ahli waris ada ayah, ibu, dan dua saudara, saat tidak ada ahli waris dari ketegori keturunan (anak maupun cucu), baik ada suami/istri maupun tidak.

Salah satu perkara pelik dalam Hukum Waris adalah kasus Abawain Wa-Akhawain. Yaitu ketika di antara ahli waris ada ayah, ibu, dan dua saudara, saat tidak ada ahli waris dari ketegori keturunan (anak maupun cucu), baik ada suami/istri maupun tidak.

Ada lapisan banyak ikhtilaf ulama terkait kasus tersebut. Berikut beberapa pandangan terkait pewarisan saat ada ayah, ibu, dan dua saudara.

1. Pandangan bahwa dua saudara itu tidak punya pengaruh sebab hanya dua dan bukan tiga ke atas.

2. Pandangan bahwa dua saudara itu tidak punya pengaruh sebab jatah mereka sendiri gugur oleh keberadaan ayah.

3. Pandangan bahwa dua saudara itu tidak punya pengaruh bila keduanya perempuan dan tidak ada laki-lakinya.

4. Pandangan bahwa dua (atau tiga) saudara itu punya pengaruh mengurangi jatah ibu dari 1/3 atau 1/3 sisa menjadi 1/6 saja, lalu mereka mendapatkan 1/6 walaupun ada ayah.

5. Pandangan bahwa dua saudara itu mempengaruhi jatah ibu menjadi 1/6 tetapi mereka tidak mendapat apa-apa sehingga yg bertambah jatahnya adalah ayah.

6. Pandangan seperti nomor 5 tetapi hanya diberlakukan apabila dua saudara itu adalah saudara sekandung atau seayah, dan tidak diberlakukan apabila mereka adalah saudara seibu.

7. ..... Silakan ditambahi bila ada pandangan lainnya. WA BS
https://www.facebook.com/share/1BTupoQqFv/
Ustadz nidlol mas'ud / babanya sofia

Kitab syarhus Sunnah Lil Muzani kenapa ada Pembahasan fiqih nya? Karna didalam nya ada syi'ar dari kelompok tersebut.

Kitab syarhus Sunnah Lil Muzani kenapa ada Pembahasan fiqih nya? Karna didalam nya ada syi'ar dari kelompok tersebut.
Kitab Syarhus Sunnah Lil Muzani ditutup tentang meninggalkan Larangan , dan menjaga dari Perbuatan Namimah , Dusta, Ghibah dll 
Karna buah dari Aqidah yang benar adalah akhlaq yang mulia dan perbuatan Namimah dll itu bisa merusak Ukhuwah Islamiyah.
Faidah Syaikh Dr Malik Husain sya'ban

Perbandingan Al-Bayhaqi dan Al-Khatib al-Baghdadi Dalam video ini, Syekh Abdullah al-Sa'd menyampaikan perbandingan antara dua imam besar kritikus hadis pada abad ke-5 Hijriah:


## Ringkasan Video: Perbandingan Al-Bayhaqi dan Al-Khatib al-Baghdadi
Dalam video ini, Syekh Abdullah al-Sa'd menyampaikan perbandingan antara dua imam besar kritikus hadis pada abad ke-5 Hijriah: **Al-Hafiz Al-Bayhaqi** dan **Al-Hafiz Al-Khatib al-Baghdadi**.
### Poin-Poin Penting dalam Video:
 * **Al-Hafiz Al-Bayhaqi:** Beliau dipandang lebih unggul dalam kritik hadis dan penjelasan cacat (*'ilal*) hadis **(0:56)**. Perkataannya dalam menghukumi status hadis dikenal sangat berbobot dan luas berkat karya-karyanya yang banyak dalam bidang sunnah, seperti *Al-Sunan al-Kubra* dan *Syu'ab al-Iman* **(5:22)**. Beliau sangat direkomendasikan untuk dijadikan rujukan, terutama ketika terjadi perbedaan pendapat yang panjang mengenai suatu hadis tertentu, karena beliau mampu merangkum berbagai pandangan dengan sangat mahir **(0:37)**.
 * **Al-Hafiz Al-Khatib al-Baghdadi:** Beliau lebih unggul dalam sisi *al-jarh wa al-ta'dil* (kritik rekomendasi dan penjarhan perawi), di mana analisis dan perkataannya dalam bidang ini dinilai lebih akurat serta lebih mendalam **(1:58, 2:48)**. Kitabnya yang berjudul *Al-Mudhikh fi Awham al-Jam' wa al-Tafriq* menjadi bukti kuat atas keimaman beliau dalam mengkritik para perawi, di mana dalam kitab tersebut beliau mengoreksi kekeliruan para imam besar **(4:24)**.
 * **Kesimpulan:**
   * Lebih diutamakan merujuk kepada **Al-Bayhaqi** dalam hal menghukumi hadis (shahih/dhaif) dan penjelasan cacat hadis (*'ilal*) karena melimpahnya materi ilmiah yang beliau miliki dalam bidang ini **(3:33, 6:01)**.
   * Lebih diutamakan merujuk kepada **Al-Khatib** dalam biografi para perawi dan pembelaan terhadap mereka, karena beliau memiliki ketelitian yang sangat tinggi dalam bidang *al-jarh wa al-ta'dil* **(3:06, 3:25)**.
Syekh menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa kitab-kitab Al-Bayhaqi, khususnya *Al-Sunan al-Kubra*, merupakan rujukan utama yang tidak boleh dilewatkan oleh para penuntut ilmu dan dapat mencukupi dari membaca banyak kitab lainnya **(6:32)**.


Sabtu, 20 Juni 2026

BAGAIMANA SIKAP MUSLIM TERHADAP PEMIMPIN ?

BAGAIMANA SIKAP MUSLIM TERHADAP PEMIMPIN ?

[Tabligh Akbar bersama Syaikh Dr. Muhammad Hisyam At-Thahiri hafizhahullah dengan penerjemah Ustadz Maududi Abdullah, Lc hafizhahullah pada hari Sabtu ba'da Maghrib tgl 6 Al-Muharram 1448 H / 20 Juni 2026 M di Masjid Al-Hijrah Markaz Hijrah Nusantara, Pekanbaru]

Hal yang pertama kali harus diketahui dalam muamalah terhadap pemimpin termasuk dalam permasalahan Aqidah sebagian dan permasalahan ibadah di sebagian lainnya.

Nabi bersabda :

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” 

(HR. Muslim no. 1851 dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhu).

Maksud hadits, seorang yang tidak mau patuh kepada pemimpin maka ia mati dalam keadaan jahiliyah. Patuh kepada pemimpin dalam perihal yang ma'ruf. Maka jika selamat dalam perkara Aqidah ini maka ia akan selamat dari Aqidah khawarij.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu..."

(QS. An-Nisa' : 59)

Umara pemimpin dalam negara, ulama pemimpin dalam agama.

Dalam hadits :

مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي.

“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada amirku (yang muslim) maka ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku.”

(HR. Imam Bukhari, Imam Muslim dan lainnya)

Penamaan pemimpin banyak, diantaranya : raja, presiden, sulthan, dll.

Patuh dan taat kepada pemimpin dalam hal yang ma'ruf sudah disepakati oleh para ulama Ahlussunah dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali khawarij, mu'tazilah dan pengikut hawa nafsu lainnya. Sebagaimana terdapat dalam kitab Aqidah Ath-Thahawiyah, Ushulus Sunnah dan kitab-kitab ulama lainnya.

Kalau kita ingin mengetahui penerapan lihatlah praktek sahabat  Nabi Radhiyallahu 'anhum. Lihatlah sejarah bagaimana ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alayhi wa sallam wafat, tidak langsung di kubur, sebelum ada di bai'at pengganti Rasul, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu 'Anhu.

Pemimpin ibarat seorang ayah bagi suatu wilayah, maka jika kita renungkan tidaklah seorang ayah zhalim terhadap anaknya.

Berkata Imam Hasan Al-Bashri, "Pemimpin yang zhalim adalah cobaan dari Allah, maka hendaklah rakyat kembali (bertaubat) kepada Allah agar Allah memperbaiki pemimpinnya."

Pelajaran dari Nabi Musa 'Alayhissalam, Nabi Musa tidak menyulut umat agar memberontak kepada Fir'aun.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

تِلْكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلْغَيْبِ نُوحِيهَآ إِلَيْكَ ۖ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَآ أَنتَ وَلَا قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَٰذَا ۖ فَٱصْبِرْ ۖ إِنَّ ٱلْعَٰقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ

"Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."

(QS. Hud : 49)

Banyak kejadian yang kita saksikan ketika memberontak kepada pemimpin, terjadinya pertumpahan darah, hilangnya nyawa dan lainnya, sehingga manfaat yang di dapat lebih sedikit dan  mudharat yang di dapat lebih banyak.

Mendengar dan ta'at kepada pemimpin adalah merupakan perkara agama yang termasuk ibadah kepada Allah bukan termasuk perkara mendapatkan hasil dari perkara dunia. Seperti shalat, apa manfaatnya untuk perkara dunia kita? Tetapi kita mengetahui bahwa shalat adalah ibadah wajib kita kepada Allah Ta'ala.

Do'akanlah dengan ikhlas agar Allah memperbaiki keadaan pemimpin kita, maka ini termasuk dari pertolongan kita kepada pemimpin. 

Hadits Nabi,

عن عوف بن مالك رضي الله عنه مرفوعاً: «خِيَارُ أئمتكم الذين تحبونهم ويحبونكم، وتُصَلُّون عليهم ويصلون عليكم. وشِرَارُ أئمتكم الذين تبُغضونهم ويبغضونكم، وتلعنونهم ويلعنونكم!»، قال: قلنا: يا رسول الله، أفلا نُنَابِذُهُم؟ قال: «لا، ما أقاموا فيكم الصلاة. لا، ما أقاموا فيكم الصلاة».  
[صحيح] - [رواه مسلم]

Dari 'Auf bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (Ia) berkata, “Kami pun bertanya: ‘Apakah kami boleh melawan mereka?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, selama mereka menegakkan salat di tengah kalian. Tidak, selama mereka masih menegakkan salat di tengah kalian.’”  

[Hadis sahih] - [Diriwayatkan oleh Muslim]

Diantara bersih hati seseorang, ia mendo'akan kebaikan bagi pemimpinnya. Mendo'akan pemimpin termasuk bagian dari menasehati pemimpin.

Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

لو أن لي دعوة مستجابة ما صيرتها الا في الامام

“Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.”

Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” 

(Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim)

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah hidup di 3 zaman Khalifah yang zhalim ( al-Makmun, al-Mu’tashim, al-Watsiq pada masa Daulah Abasiyah) beliau di siksa oleh Khalifah karena mereka terpengaruh Aqidah mu'tazilah. Lalu dikatakan orang kepada Imam Ahmad, "wahai imam, kenapa engkau tidak memerintahkan umat untuk memberontak kepada Khalifah"? Imam Ahmad menjawab : "Dari nash-nash bahwasanya kita bersabar dengan keadaan pemimpin kita."

Khalifah ketika itu telah mencopot jabatan ulama-ulama Ahlussunah, menyiksa mereka, bahkan sampai membunuh mereka dan menjauhkan mereka dari masyarakat (umat), tetapi para ulama Ahlussunah tidak menyuruh manusia untuk memberontak.

Do'akanlah pemimpin di waktu-waktu mustajab dengan do'a-do'a kebaikan. Janganlah kita menjadi anak-anak dunia, maksudnya jika diberi jabatan, kedudukan dan lainnya maka ia mendo'akan pemimpin tersebut dan ridho terhadapnya tapi kalau tidak ia mencela dan memberontak terhadap pemimpin. Maka jadilah anak-anak akhirat, maksudnya yaitu mendo'akan pemimpin meskipun tidak diberi jabatan dan lainnya.

Ada tiga orang yang kelak pada hari kiamat -kata Rasulullah- dia tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan dilihat oleh Allah Jalla wa ‘Ala dan tidak akan disucikan dari dosa dan bagi mereka adzab yang pedih.

ثَلاَثٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Siapakah tiga orang tersebut?

Yang pertama:

رَجُلٌ عَلَى فَضْلِ مَاءٍ بِالْفَلاَةِ يَمْنَعُهُ مِنِ ابْنِ السَّبِيلِ

“Seorang laki-laki yang mempunyai kelebihan air di padang pasir ternyata dia tidak mau memberinya kepada ibnu sabil yang sangat membutuhkan air.”

Yang kedua:

وَرَجُلٌ بَايَعَ رَجُلاً بِسِلْعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ فَحَلَفَ لَهُ بِاللَّهِ لأَخَذَهَا بِكَذَا وَكَذَا فَصَدَّقَهُ وَهُوَ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ

“Seseorang yang berjual beli di waktu ashar lalu ia bersumpah dusta bahwasanya ia telah mengambil barang tersebut dengan nilai seperti ini dan begitu padahal tidak.”

Yang ketiga, kata Rasulullah:

وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلاَّ لِدُنْيَا فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا وَفَى وَإِنْ لَمْ يُعْطِهِ مِنْهَا لَمْ يَفِ

“Dan orang yang membai’at pemimpinnya karena dunia, bila ia diberi oleh pemimpin ia melaksanakan bai’atnya, dan bila tidak diberi maka ia tidak mau melaksanakan bai’atnya.”

“Seseorang yang membai’at pemimpinnya hanya karena dunia. Jika ia diberi dunia, dia mau taat. Tapi jika ia tidak diberikan dunia, maka ia tidak mau taat.” 

(Hadits shahih dikeluarkan Imam Bukhari dan Muslim)

Diantara mu'amalah terhadap pemimpin yaitu menasehatinya dengan sir (rahasia) tanpa mengumbar-umbar aibnya.

Hadits Nabi,

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” 

[HR. Muslim, no. 55]

Jadilah seorang muslim yang menasehati bukan mencela. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

(QS. At-Taubah : 71)

Hendaknya kita menjaga persatuan kaum Muslimin, jangan sampai kita berpecah belah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..."

(QS. Ali Imran ayat 103)

Sebagian ulama menafsirkan adalah persatuan dengan Al-Qur'an, Sunnah dan pemimpin, yang pembahasan saling berkaitan.

Hadits Hudzaifah yang dikenal dengan hadits tentang fitnah (huru-hara akhir masa) ini ada dalam Shahihain dengan redaksi yang sudah disepakati keshahihan isinya. Riwayat yang disepakati ini melalui jalur Abu Idris Al-Khaulani yang nama aslinya adalah ‘A`idzullah bin Abdullah yang berkata, Aku mendengar Hudzaifah bin Al-Yaman berkata,

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ» ، قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ» ، فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا» ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، صِفْهُمْ لَنَا، قَالَ: «نَعَمْ، قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا» ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ» ، فَقُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: «فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ»

“Orang-orang semua bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang kebaikan, sementara aku bertanya tentang keburukan karena aku takut akan menimpa diriku. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kami ini telah melewati masa jahiliyyah dan keburukan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?”

Beliau menjawab, “Ya.”

Aku, “Apakah setelah keburukan itu akan kembali datang kebaikan?”
Rasulullah, “Ya, tapi ada sedikit kabut (ketidakjelasan).”

Aku, “Apa kabutnya?”

Rasulullah, “Adanya kaum yang tidak melaksanakan sunnahku dan tidak berpedoman pada petunjukku. Ada yang kamu dukung perbuatan mereka ada pula yang kamu ingkari.”

Aku, “Apakah setelah kebaikan itu ada lagi keburukan?”

Beliau, “Ya, kaum yang menyeru di pintu-pintu jahannam, siapa yang memenuhinya akan mereka lemparkan ke dalamnya.”

Aku, “Tolong diskripskan kaum itu kepada kami ya Rasulullah.”

Beliau, “Orang-orang dari kulit kita sendiri dan bicara dengan bahasa kita.”

Aku, “Wahai Rasulullah, apa saran anda kalau aku mendapati itu?”

Beliau, “Tetaplah bergabung pada jamaah kaum muslimin dan imam mereka.”

Aku, “Bila tidak ada jamaah tidak pula ada imam?”

Beliau, “Tinggalkan semua kelompok itu meski kau harus menggigit akar pohon sampai kematian mendatangimu dalam keadaan seperti itu.”

(HR. Al-Bukhari, no. 3606 dan 7084, Muslim, no. 1847).

Mudah-mudahan pembahasan ini bermanfaat dan di akhiri dengan hadits berikut :

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku,

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّ ةَالَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا فَإِنْ أَنْتَ أَدْرَكْتَهُمْ فَصَلِّ الصَّ ةَالَ لِوَقْتِهَا-وَرُبَّمَا قَالَ: فِي رَحْلِكَ-ثُمَّ ائْتِهِمْ فَإِنْ وَجَدْتَهُمْ قَدْ صَلُّوا كُنْتَ قَدْ صَلَّيْتَ وَإِنْ وَجَدْتَهُمْ لَمْ يُصَلُّوا صَلَّيْتَ مَعَهُمْ فَتَكُونُ لَكَ نَافِلَةً.

“Wahai Abu Dzar, sungguh akan muncul di tengah kalian penguasa-penguasa yang mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya. Jika engkau dapatkan mereka, shalatlah engkau pada waktunya.’ -atau beliau mengatakan-, ‘Shalatlah di rumahmu, kemudian datangilah mereka. Jika kalian dapatkan mereka sudah selesai menunaikan shalat, engkau telah tunaikan shalat sebelumnya. Seandainya engkau dapatkan mereka belum shalat, shalatlah bersama mereka dan shalat itu adalah nafilah (sunnah) bagimu’.”

(HR. Imam Muslim dan lainnya)

Perhatikanlah dengan seksama hadits ini...

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kepada kita pemimpin yang adil.

Aamiin...

Catatan : rahmat silaturahim
Abu abdillah rahmat 
https://www.facebook.com/share/p/1LMLKv49oL/

Kisah "Debat Senyap" (Debat Tercepat dalam Sejarah)Ini adalah sebuah kisah yang menarik dan mengagumkan, menunjukkan kecepatan berpikir Syaikh Al-Albani serta kuatnya hujah beliau hanya dengan untaian kata yang bisa dihitung dengan jari:


## Kisah "Debat Senyap" (Debat Tercepat dalam Sejarah)
Ini adalah sebuah kisah yang menarik dan mengagumkan, menunjukkan kecepatan berpikir Syaikh Al-Albani serta kuatnya hujah beliau hanya dengan untaian kata yang bisa dihitung dengan jari:
### Tantangan di Dalam Masjid
Kisah ini bermula saat Syaikh Al-Albani sedang menyampaikan salah satu kajian rutinnya. Tiba-tiba, masuklah seorang pemuda yang sangat fanatik dengan pendapatnya (tampak dari pembawaannya yang gegabah dan meledak-ledak). Pemuda itu berdiri di tengah-tengah jemaah dan berkata dengan suara lantang yang memprovokasi Syaikh:
> "Wahai Al-Albani! Aku datang ke sini untuk mendebatmu dalam masalah ini dan itu. Aku tidak akan keluar dari sini sampai engkau menerima tantangan debatku!"
### Kecerdasan dan Ketenangan Syaikh
Syaikh Al-Albani memandang pemuda tersebut. Beliau langsung paham dari nada suaranya bahwa pemuda ini bukan ingin belajar atau mencari kebenaran, melainkan hanya ingin berdebat kusir dan pamer di depan orang banyak. Syaikh tetap tenang, tersenyum, lalu berkata dengan penuh wibawa:
"Aku menerima debatmu, tapi dengan satu syarat saja."
Pemuda itu langsung kegirangan dan merasa telah memenangkan putaran pertama. Dengan nada sombong dia menjawab:
"Apa syaratmu? Aku pasti menerimanya!"
### Syarat dan Kejutan
Syaikh Al-Albani berkata:
"Syaratku adalah jika debat antara aku dan kamu berlangsung, lalu kamu tidak bisa menjawab dan kebenaran terbukti ada di pihakku, maka kamu harus mengikutiku dan mengambil ilmuku."
Dengan penuh percaya diri si pemuda menjawab: "Ya, itu hakmu, aku setuju!"
Syaikh Al-Albani melanjutkan:
"Sebaliknya, jika debat berlangsung lalu aku yang tidak bisa menjawab dan kebenaran terbukti ada di pihakmu, maka aku harus mengikutimu dan mengambil ilmumu."
Si pemuda berteriak kegirangan: "Bagus! Itu yang sangat aku inginkan. Aku siap!"
### Pukulan Telak
Di sinilah Syaikh Al-Albani menoleh ke arah pemuda tersebut dan mengajukan sebuah pertanyaan cerdas yang langsung meruntuhkan dasar debat tersebut bahkan sebelum dimulai. Beliau bertanya:
"Baik, lalu bagaimana jika debat telah berlangsung di antara kita, kemudian muncul orang ketiga mendebat kita berdua, lalu dia mengalahkan kita semua? Apa yang harus kita lakukan?"
Pemuda itu berpikir sejenak, lalu menjawab dengan gegabah: "Ya kalau begitu, kita ikuti orang ketiga itu dan kita tinggalkan keyakinan kita yang sekarang!"
Mendengar hal itu, Syaikh Al-Albani tersenyum dan berkata dengan sangat tenang:
> **"Wahai anakku, kami di sini tidak sedang bermain-main. Kami mencari agama yang kokoh dan akidah yang kuat, bukan mencari seseorang yang mengalahkan kita hari ini lalu kita mengikutinya, kemudian besok ada orang lain lagi yang mengalahkannya lalu kita meninggalkannya!"**
### Hasil Akhir
Pemuda itu tersentak kaget mendengar jawaban tersebut. Dia baru menyadari betapa dalamnya pemikiran Syaikh dan betapa konyolnya prinsip yang dia pegang selama ini. Dia terdiam seribu bahasa, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, lalu pergi meninggalkan masjid tanpa berani membuka obrolan debat itu lagi. Semua hadirin yang ada di sana terpukau dan kagum dengan kecerdasan serta hikmah Syaikh dalam membungkam lawan dengan usaha yang minimal.
*Ditulis oleh Pengawas Umum Situs Web Imam Al-Albani:*
*Hamba yang fakir kepada Tuhannya, Syaikh Muhammad Abdul Lathif.*

إليك قصة "المناظرة الصامتة" (أسرع مناظرة في التاريخ)، وهي قصة طريفة ومدهشة تُظهر سرعة بديهة الشيخ الألباني وقوة حجه بكلمات لا تتجاوز أصابع اليد الواحدة:
التحدي في المسجد بدأت القصة عندما كان الشيخ الألباني يلقي أحد دروسه المعتادة، فدخل عليه رجل من المتشددين لآرائهم (وكان يبدو عليه الطيش والاندفاع). وقف الرجل وسط الحضور وقال بصوت مرتفع مستفزاً الشيخ:
"يا ألباني.. أنا أتيت لأناظرك في مسألة كذا وكذا، ولن أخرج من هنا حتى تقبل مناظرتي!"
ذكاء الشيخ وهدوءه نظر الشيخ الألباني إلى الشاب، وعلم من نبرة صوته أنه لا يريد التعلم أو الوصول إلى الحق، بل يريد فقط الجدال وإظهار نفسه أمام الناس. هدأ الشيخ تماماً وتبسم، ثم قال له بكل وقار:
"أنا موافق على مناظرتك، ولكن بشرط واحد فقط".
فرح الشاب وظن أنه حقق انتصاراً سريعاً، 
وقال بزهو: 
"وما هو شرطك؟ أنا أقبل به".
الشرط والمفاجأة قال الشيخ الألباني:
 "شرطي هو أنه إذا دارت المناظرة بيني وبينك، وعجزتَ أنتَ عن الإجابة وظهر الحق معي، فعليك أن تتبعني وتأخذ بعلمي".
أجاب الشاب بثقة: "نعم، هذا من حقك، وموافق عليه".
تابع الشيخ الألباني قائلاً:
 "أما إذا دارت المناظرة، وعجزتُ أنا عن الإجابة وظهر الحق معك، فعليّ أن أتبعك وآخذ بعلمك".
صاح الشاب بانتشاء: "رائع! هذا ما أريده تماماً، وأنا مستعد".

الضربة القاضية هنا التفت الشيخ الألباني إلى الشاب وسأله فجأة سؤالاً ذكياً نقض به أساس المناظرة كلها قبل أن تبدأ، حيث قال له
:"طيّب.. فإذا دارت المناظرة بيننا، ثم ظهر شخص ثالث وناظَرَنا نحن الاثنين، وغلبَنا معاً.. فماذا نفعل؟"فكر الشاب قليلاً ثم قال بطيش: "إذن نتبعه ونترك ما نحن عليه!".

هنا ابتسم الشيخ الألباني وقال له بكل هدوء:
 "يا بني، نحن لسنا متفرغين للعب.. نحن نبحث عن دين ثابت وعقيدة راسخة، لا عن شخص يغلبنا اليوم فنتبعه، ويغلبنا غيره غداً فنتركه!".
النتيجة صعق الشاب من الإجابة، وأدرك فجأة عمق تفكير الشيخ وسخافة المبدأ الذي يقف عليه، فسكت تماماً ولم ينطق بكلمة واحدة، وانصرف من المسجد دون أن يجرؤ على فتح موضوع المناظرة مجدداً، وسط ذهول وإعجاب الحاضرين بذكاء الشيخ وحكمته في إفحام الخصم بأقل مجهود .

بقلم المشرف العام على موقع الامام الالباني 
الفقير الى ربه الشيخ محمدعبداللطيف
https://www.facebook.com/share/17uY17KiTg/

Mereka tidak mengatakan:"Karena dia salah dalam satu masalah, maka seluruh jasanya tidak ada nilainya."Mereka juga tidak mengatakan:"Karena dia ulama besar, maka semua pendapatnya pasti benar."Mereka mengambil jalan yang lebih adil:"Yang benar diterima, yang salah ditolak, dan keutamaan orangnya tetap diakui."Mungkin inilah salah satu makna ucapan para ulama bahwa Ahlus Sunnah adalah kelompok yang paling adil terhadap manusia. Mereka tidak menutup mata terhadap kesalahan, tetapi juga tidak buta terhadap kebaikan.

Salah satu hal yang cukup berkesan ketika membaca karya-karya Ibn Taimiyah adalah cara beliau memperlakukan ulama yang pendapatnya beliau kritik.
Banyak orang membayangkan bahwa jika suatu pendapat dibantah dengan panjang lebar, maka otomatis pemilik pendapat itu dianggap sesat total, tidak punya jasa, atau tidak ada lagi kebaikan yang layak disebut. Namun yang saya temukan justru sering sebaliknya.
Tidak sedikit saya dapati setelah menjelaskan kesalahan suatu pemahaman atau membantah argumentasi seorang tokoh, beliau kemudian mendoakannya, memohonkan ampunan untuknya, menyebut keutamaannya, mengakui keluasan ilmunya, bahkan berharap Allah membalas jasa-jasanya bagi umat Islam.
Beliau tampaknya sangat memahami bahwa manusia tidak pernah hanya terdiri dari benar atau salah semata. Seorang ulama bisa keliru dalam sebagian masalah, tetapi pada saat yang sama memiliki lautan ilmu, perjuangan, dakwah, pengajaran, pembelaan terhadap Islam, dan manfaat yang dirasakan oleh umat selama berabad-abad.
Karena itu, kritik ilmiah dalam tradisi para ulama besar dahulu sering kali berbeda dengan budaya "cancel" yang populer hari ini.
Mereka tidak mengatakan:
"Karena dia salah dalam satu masalah, maka seluruh jasanya tidak ada nilainya."
Mereka juga tidak mengatakan:
"Karena dia ulama besar, maka semua pendapatnya pasti benar."
Mereka mengambil jalan yang lebih adil:
"Yang benar diterima, yang salah ditolak, dan keutamaan orangnya tetap diakui."
Mungkin inilah salah satu makna ucapan para ulama bahwa Ahlus Sunnah adalah kelompok yang paling adil terhadap manusia. Mereka tidak menutup mata terhadap kesalahan, tetapi juga tidak buta terhadap kebaikan.
Kadang saya berpikir, andai adab seperti ini lebih banyak hadir dalam perdebatan keilmuan hari ini, mungkin suasana akan jauh lebih sehat. Kita bisa berbeda pendapat tanpa harus menghapus jasa orang lain. Kita bisa membantah suatu pandangan tanpa harus membangun kebencian pribadi. Kita bisa mengingat kesalahan seseorang tanpa melupakan puluhan tahun pengabdiannya untuk ilmu dan umat.
Sebab keadilan bukan hanya mengakui kesalahan orang yang kita cintai, tetapi juga mengakui keutamaan orang yang kita kritik.
Dan barangkali itulah yang sering saya lihat dalam banyak karya Ibnu Taimiyah: ketegasan dalam menjaga kebenaran, namun tetap disertai keluasan hati dalam menilai manusia.
Ustadz noor akhmad setiawan
https://www.facebook.com/1047101720/posts/pfbid02QTZabn9exfkdkvWSdUr2gGaw31vW6v4trVP9dJUA4FaPF35jXs48FVeBda47fBcsl/?mibextid=Nif5oz