Jumat, 30 Oktober 2026

Barang siapa diberi taufik oleh Allah untuk meminta pada Allah, sesungguhnya ia sedang dikehendaki untuk diberi. Begitulah makna yang pernah saya dengar dari para ulama.

Barang siapa diberi taufik oleh Allah untuk meminta pada Allah, sesungguhnya ia sedang dikehendaki untuk diberi. Begitulah makna yang pernah saya dengar dari para ulama.

Suatu hari, begitu saya tiba di masjid, syahdan hujan turun. Padahal sepanjang perjalanan, hujan itu belum hadir. Saya menengok jam digital di dinding masjid. Waktu menuju ikamah Zuhur ternyata masih cukup lama.

Saya langsung membatin: masyaallah, Allah sedang memberikan taufik kepada saya untuk berdoa di tengah bertumpuknya sebab-sebab terkabulnya doa. Hujan sedang turun. Pintu langit tengah terbuka (waktu zawal). Jeda antara azan dan ikamah masih terbentang. Tiga sebab ijabah ini ada dalam satu waktu.

Saya pun salat, bersujud, lalu membuka doa di dalam sujud tersebut dengan pembuka doa yang datang dari Nabi ﷺ, yang beliau menjanjikan pengabulan bagi yang membaca kalimat-kalimat tersebut. Sekali lagi saya membatin, Allah kembali memberi saya taufik untuk mengerjakan dua tumpukan sebab terkabulnya doa yang lainnya: ketika sujud dan membuka doa dengan apa yang diajarkan oleh kekasih-Nya ﷺ.

Rasanya, puas sekali berdoa dalam sujud ketika itu. Tidak tergesa-gesa karena waktu yang terasa panjang. Semua atas taufik dari Allah.

Dan, tak lama, besok paginya Allah kirimkan pengabulan doa tersebut secara kontan. Saya seperti tersergah di pagi buta itu. Pengabulan yang bagi kami sekeluarga adalah sesuatu yang sangat besar dalam kehidupan kami.

Sesuatu yang kemarin saya pintakan dalam sujud atas taufik-Nya, pagi itu telah Allah hadirkan di hadapan kami dengan kuasa-Nya. Sekali lagi, barang siapa yang digerakkan untuk meminta, artinya ia memang ingin diberi.

Rabbana, semoga Engkau berkenan memaafkan kami jika pernah terbesit sekejap saja keraguan atas pengabulan doa dari-Mu. Kami beriman bahwa Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui apa yang kami butuhkan, dan Engkau Maha Mampu mengabulkan doa-doa hamba-Mu.
Ust muhammad rezki hr

سئل الشيخ صالح بن فوزان الفوزان حفظه الله :لقد ظهر بين طلاب العلم اختلاف في تعريف المبتدع ،

سئل الشيخ صالح بن فوزان الفوزان حفظه الله :

لقد ظهر بين طلاب العلم اختلاف في تعريف المبتدع ،

فقال بعضهم : هو من قال أو فعل البدعة ، ولو لم تقع عليه الحجة ، ومنهم من قال لابد من إقامة الحجة عليه ، ومنهم من فرق بين العالم المجتهد وغيره من الذين أصلوا أصولهم المخالفة لمنهج أهل السنة والجماعة ، وظهر من بعض هذه الأقوال تبديع ابن حجر والنووي ، وعدم الترحم عليهم ؟

فأجاب :

" أولاً: لا ينبغي للطلبة المبتدئين وغيرهم من العامة أن يشتغلوا

بالتبديع والتفسيق ؛

لأن ذلك أمر خطير وهم ليس عندهم علم ودراية في هذا الموضوع ، وأيضاً هذا يُحدث العداوة والبغضاء بينهم ، فالواجب عليهم الاشتغال بطلب العلم ، وكف ألسنتهم عما لا فائدة فيه ، بل فيه مضرة عليهم ، وعلى غيرهم

ثانياً: البدعة : ما أحدث في الدين مما ليس منه ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : ( من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ) - رواه

البخاري - ،

وإذا فعل الشيء المخالف جاهلاً :

فإنه يعذر بجهله ، ولا يحكم عليه بأنه مبتدع ، لكن ما عمله يعتبر

بدعة

ثالثاً: من كان عنده أخطاء اجتهادية تأوّل فيها غيره ، كابن حجر ، والنووي ، وما قد يقع منهما من تأويل بعض الصفات : لا يحكم عليه

بأنه مبتدع ، ولكن يقال :

هذا الذي حصل منهما خطأ ، ويرجى لهما المغفرة بما قدماه من خدمة عظيمة لسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فهما إمامان جليلان ، موثوقان عند أهل العلم " انتهى .

"المنتقى من فتاوى الفوزان" (2/211) ، (212)

سبيل الرشاد في تقرير مسائل الاعتقاد على ضوء الأدلة الشرعية والمأثور عن سلف الأمة)

Kamis, 29 Oktober 2026

Hukum Membatalkan Shalat Karena Di Sebelah Kita Ada Orang Yang Bau Badan

Hukum Membatalkan Shalat Karena Di Sebelah Kita Ada Orang Yang Bau Badan 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan:

لا حرج في ذلك، أقول: لا حرج في قطعها للضرورة من وجود الرائحة الكريهة .. تجعل الإنسان غير خاشع في صلاته، وغير مطمئن، فإذا قطعها ليذهب إلى جانب آخر فلا حرج في ذلك -إن شاء الله- 

Tidak mengapa melakukan hal tersebut. Saya katakan, tidak mengapa ia membatalkan shalatnya karena adanya kebutuhan mendesak, yaitu adanya bau tidak sedap yang membuat seseorang tidak dapat khusyuk dalam shalatnya dan tidak merasa tenang. Jika ia membatalkan shalatnya agar dapat berpindah ke sisi yang lain, maka hal itu tidak mengapa, insyaallah.

مع العلم بأن الذي له رائحة كريهة لا يصلي مع الناس، الواجب عليه أن يصلي في بيته، إذا كان عنده الرائحة الكريهة البخر الكثير المؤذي، أو الصنان الذي في إبطه الكثير، فالواجب عليه أن يعالج هذا الشيء حتى يزول، وليس له أن يؤذي الناس، أو كان أكل ثومًا، أو بصلًا، ليس له حضور المسجد، يجب عليه أن يبتعد عن المسجد، حتى تزول تلك الرائحة الكريهة

Namun perlu diketahui bahwa orang yang memiliki bau badan atau bau mulut yang tidak sedap, tidak boleh ia shalat bersama orang lain apabila baunya sangat menyengat dan mengganggu. Ia wajib shalat di rumahnya jika memiliki bau mulut yang sangat busuk dan mengganggu, atau bau ketiak yang menyengat dan mengganggu orang lain. Ia wajib mengobati masalah tersebut hingga baunya hilang (baru kemudian shalat di masjid). Ia tidak boleh mengganggu orang lain dengan bau tersebut. Demikian pula, jika seseorang memakan bawang putih atau bawang merah, ia tidak boleh menghadiri masjid. Ia wajib menjauh dari masjid sampai ia menghilangkan bau tidak sedap tersebut.

لأن الرسول ﷺ: نهى من أكل ثومًا، أو بصلًا أن يقرب المسجد وكان يأمر بإخراج من فعل ذلك من المسجد، فإذا وجد فيه رائحة كريهة غير الثوم والبصل كالبخر في الفم .... الشديد الذي يؤذي من حوله له أن يفارقه يبتعد إلى جهة أخرى

Sebab, Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam melarang orang yang memakan bawang putih atau bawang merah untuk mendekati masjid. Beliau juga memerintahkan agar orang yang melakukan hal tersebut dikeluarkan dari masjid. Oleh karena itu, apabila seseorang mendapati ada orang lain yang memiliki bau tidak sedap selain bau bawang putih dan bawang merah, seperti bau mulut yang sangat busuk hingga mengganggu orang-orang di sekitarnya, maka ia boleh meninggalkan tempat tersebut dan berpindah ke sisi lain.

(Fatawa Nurun 'alad Darbi, no.289 pertanyaan ke-6).

Fawaid Kangaswad | lynk.id/kangaswad

Selasa, 27 Oktober 2026

Tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan diri kepada Allah setelah menunaikan kewajiban-kewajiban, yang lebih utama daripada menuntut ilmu".

#TERUSLAH_BELAJAR.. 

Imam Syafi'i rahimahullah berkata:

❞ما تُقُرِّبَ إلى اللّه -عزّ وجلّ- بَـعـدَ أداءِ الفَرائِضِ بأفضلَ مِن طَلبِ العِلم❝. 

"Tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan diri kepada Allah setelah menunaikan kewajiban-kewajiban, yang lebih utama daripada menuntut ilmu".

[Thabaqat As Syafi'iyyah Al Kubra, 2/129].

MAGHRUR (TERTIPU OLEH DIRINYA)

MAGHRUR (TERTIPU OLEH DIRINYA)

Kebiasaan pendekar turun gunung; melihat dirinya berada di atas puncak gunung, padahal dia hanyalah seekor katak dalam tempurung.

Merasa paling tinggi, krn tak pernah melihat yg lebih tinggi. Merasa paling berilmu, karen tak pernah menyadari betapa luasnya samudra ilmu. Menganggap orang lain kecil, padahal cakrawala pandangnya sendiri yang sempit dan kerdil.

Sungguh, di antara musibah terbesar seorang penuntut ilmu adalah ketika sedikitnya ilmu membuatnya merasa telah mengetahui segalanya. Semakin dangkal ilmunya, semakin tinggi pengakuannya. Semakin luas ilmunya, semakin besar kesadarannya akan kebodohan dirinya.

Kata orang Jawa: “koyo cacing nguntal kelopo”
Ungkapan sindiran terhadap seseorang yang kemampuannya kecil, tetapi keinginan atau ambisinya terlampau besar, jauh melampaui kapasitas dirinya.

Yang lama2 udah pada bertaubat, sekarang datang lagi, seorang pemula yg tak tau malu, mengumbar kekurangan ilmunya  dan menyingkap sendiri akan kerdilnya wawasannya. Dg penuh bangga menempatkan seolah dirinya paling paham manhaj.

Biarkan waktu menjawab, seorang penyair berkata:

سَتُبْدِي لَكَ الْأَيَّامُ مَا كُنْتَ جَاهِلًا
وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تُزَوِّدِ

“Kelak hari-hari akan menyingkapkan kepadamu apa yang sebelumnya tidak engkau ketahui. 

Dan berita-berita akan datang kepadamu melalui orang yang tidak pernah engkau bekali untuk mencari berita.
Uff

Berkata Ibnu al-Jauzi rahimahullah: Dan termasuk kesalahan adalah memberitahu istri mengenai jumlah atau ukuran harta [yang dimiliki], karena jika harta itu sedikit, sang suami akan tampak hina di matanya; dan jika harta itu banyak, ia akan meminta tambahan pakaian dan perhiasan!"

"Berkata Ibnu al-Jauzi rahimahullah: Dan termasuk kesalahan adalah memberitahu istri mengenai jumlah atau ukuran harta [yang dimiliki], karena jika harta itu sedikit, sang suami akan tampak hina di matanya; dan jika harta itu banyak, ia akan meminta tambahan pakaian dan perhiasan!"