Muhammad yanu atmadji blog
blog ini berisikan kumpulan faedah faedah ilmu yang sangat bermanfaat kepada diri saya pribadi
Minggu, 04 Oktober 2026
Pendapat madzhab pasti berdasarkan dalil, sedangkan kita pasti jauh level ilmunya di bawah imam madzhab! Jadi siapa kita, berani²nya menyelisihi pendapat madzhab?!"
Sebagian orang mengatakan:
"Pendapat madzhab pasti berdasarkan dalil, sedangkan kita pasti jauh level ilmunya di bawah imam madzhab! Jadi siapa kita, berani²nya menyelisihi pendapat madzhab?!"
=====
Sanggahan:
1. Kita menyelisihi mereka, karena menurut kita pendapat mereka menyelisihi dalil, dan kedudukan dalil lebih tinggi daripada kedudukan pendapat madzhab.
2. Kita menyelisihi mereka, karena ada pendapat madzhab lain yg kita lihat lebih dekat kepada dalil.
Sehingga sebenarnya pertentangan bukan antara pendapat kita dg pendapat madzhab, tapi antara pendapat mereka dg pendapat madzhab lain yg selevel dan lebih dekat kepada dalil.
3. Seandainya kita benarkan alasan mereka di atas, maka akan banyak hal² yg bertentangan dg dalil menurut kita tapi harus kita terima, seperti:
a. Menikah tanpa wali, kita benarkan dan sah, karena ulama² hanafiyah mengatakan seperti itu .. dan level ilmu kita jauh di bawah mereka.
b. Melafalkan niat shalat, wudhu, puasa, tawaf, dan ibadah lainnya dianjurkan, karena ulama² syafiiyah mengatakan seperti itu .. dan level ilmu kita jauh di bawah mereka.
c. Kita boleh "istighatsah bil amwat" (meminta kepada mayit), karena banyak ulama madzhab membolehkannya .. dan level ilmu kita jauh di bawah mereka.
d. Akidah Asy'ariyyah tidak ada masalah, karena banyak ulama madzhab akidahnya demikian .. dan level ilmu kita jauh di bawah mereka.
e. Kita boleh memberontak kepada pemimpin yg zalim, karena sebagian ulama madzhab membolehkannya .. dan level ilmu kita jauh di bawah mereka.
f. Ketika sujud sahwi disunnahkan membaca سبحان من لا ينام ولا يسهو .. karena begitulah pendapat dalam madzhab Syafii .. dan level ilmu kita jauh di bawah mereka.
g. Kita dianjurkan mentalqin mayit setelah dikuburkan, karena begitulah pendapat dlm madzhab syafii .. dan level ilmu kita jauh di bawah mereka.
Dan silahkan diteruskan sendiri dengan menyebutkan masalah² yg lain yg menyelisihi dalil menurut kita, dan itu tidak sedikit.
Tentu tidak benar jika kita harus mengikuti pendapat madzhab yg menurut kita tidak sesuai dalil, meskipun ilmu kita tidak selevel dengan mereka .. karena kewajiban kita adalah mengikuti dalil sesuai pemahaman kita, bukan mengikuti pemahaman mereka.
Intinya: menjunjung tinggi dalil dan pemahaman salaf -rahimahumullah- harus tetap kita kedepankan saat kita belajar fikih.
Wallahu a'lam.
Silakan dishare .. Semoga bermanfaat dan Allah berkahi.
https://www.facebook.com/share/p/1E1wavcwFi/
Sabtu, 03 Oktober 2026
Beberapa murid Syaikh Al-Albani yang paling terkenal :
Beberapa murid Syaikh Al-Albani yang paling terkenal :
Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkhali
Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'i رحمه الله
Syaikh Ali Hasan al-Halabi رحمه الله
Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali
Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman
Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini رحمه الله
Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr
Syaikh Husain bin 'Audah al-'Awayisyah
Syaikh Muhammad Jamil Zainu رحمه الله
Syaikh Muhammad 'Id al-'Abbasi
Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah
Syaikh Hamdi 'Abdul Majid as-Salafi
Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir رحمه الله
Syaikh Umar Sulaiman al-Asyqar رحمه الله
Syaikh Basim Faisal al-Jawabirah
Cukuplah melihat dari murid-muridnya untuk mengetahui kealiman seorang guru.
Sekalipun ada 100 orang yang berusaha menjatuhkan beliau tidak akan berpengaruh apapun, karena yang berusaha menjatuhkan pun tidak selevel dengan muridnya.
AYAH YANG TIDAK MENCARI MENANTU KAYA
AYAH YANG TIDAK MENCARI MENANTU KAYA
Sa‘īd bin al-Musayyib رحمه الله adalah salah seorang ulama besar dari kalangan tabi‘in.
Putrinya pernah dilamar untuk putra Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwān. Namun Sa‘īd tidak memilih kemegahan istana untuk putrinya.
Suatu hari, salah seorang muridnya, Ibn Abī Wadā‘ah, beberapa hari tidak terlihat di majelisnya. Ketika kembali, Sa‘īd bertanya ke mana ia pergi.
“Istriku meninggal dunia,” jawabnya.
Sa‘īd kemudian bertanya,
“Apakah engkau sudah menikah lagi?”
Ia menjawab,
“Semoga Allah merahmatimu. Siapa yang mau menikahkan putrinya denganku, sementara aku hanya memiliki dua atau tiga dirham?”
Sa‘īd menjawab singkat:
“Aku.”
Murid itu terkejut.
Namun Sa‘īd benar-benar menikahkan putrinya dengannya dengan mahar yang sangat sederhana.
Putri seorang ulama besar, yang pernah dilamar untuk keluarga khalifah, justru dinikahkan dengan seorang penuntut ilmu yang miskin.
Setelah menikah, Ibn Abī Wadā‘ah menggambarkan istrinya:
فَإِذَا هِيَ مِنْ أَجْمَلِ النَّاسِ، وَأَحْفَظِ النَّاسِ لِكِتَابِ اللهِ، وَأَعْلَمِهِمْ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَأَعْرَفِهِمْ بِحَقِّ زَوْجٍ
“Ternyata ia termasuk wanita yang paling cantik, paling kuat hafalan Al-Qur’annya, paling memahami Sunnah Rasulullah ﷺ, dan paling mengetahui hak seorang suami.”
Beberapa waktu kemudian, ketika Ibn Abī Wadā‘ah hendak keluar rumah untuk menghadiri majelis Sa‘īd bin al-Musayyib, istrinya bertanya:
إِلَى أَيْنَ تَذْهَبُ؟
“Engkau hendak pergi ke mana?”
Ia menjawab:
إِلَى مَجْلِسِ سَعِيدٍ أَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ
“Ke majelis Sa‘īd untuk belajar ilmu.”
Sang istri lalu berkata:
اجْلِسْ، أُعَلِّمْكَ عِلْمَ سَعِيدٍ
“Duduklah. Aku akan mengajarkan kepadamu ilmu Sa‘īd.”
Betapa indahnya pilihan seorang ayah. Ia tidak mencari menantu yang paling kaya, tetapi lelaki yang baik agama dan akhlaknya; dan kepada lelaki itulah ia menitipkan seorang putri yang telah ia bekali dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan ilmu.
Sumber kisah: diriwayatkan dalam biografi Sa‘īd bin al-Musayyib, antara lain dalam Ḥilyat al-Awliyā’ karya Abū Nu‘aim dan Siyar A‘lām al-Nubalā’ karya al-Dzahabī.
https://www.facebook.com/share/1DdxwH1DqA/
Dar'u Ta'arudh al-'Aql wa an-Naql
"Dar'u Ta'arudh al-'Aql wa an-Naql" atau dengan nama lain "Muwafaqah Shahih al-Manqul li Sharih al-Ma'qul" merupakan salah satu kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang paling fenomenal. Bersama kitab "Naqdu Asas at-Taqdis" beliau seolah kesatria yang mencabik-cabik hujjah ahlul kalam atas aqidah sesat mereka.
Sampai murid beliau Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mendeskripsikan kitab ini di dalam Nuniyah beliau:
واقرأ كتاب العقل والنقل الذي ... ما في الوجود له نظير ثان
"Bacalah kitab al-'Aql wa an-Naql yang tiada tandingannya di kehidupan nyata."
Sesuai judulnya, kitab ini membantah asas paling inti milik ahlul kalam dalam beragama yang mereka namakan sebagai "Al-Qanun al-Kulli", yakni mengedepankan akal atas nash. Saking sakralnya kaedah ini oleh mereka Imam Ibnul Qayyim menamainya sebagai "Thaghut"nya ahlul kalam.
Sampai kepada tahap -wal iyadzu billah- mereka mengharamkan berpegang kepada zhahir Qur'an dan Sunnah dalam beraqidah bahkan mengkafirkan pelakunya.
Pada kenyataannya "Al-'Aqliyat" yang mereka namakan tak lain adalah "al-Jahliyat" karena memang dasarnya dilandasi oleh kebodohan dan kontradiktif, ntah akal siapa yang mau mereka pakai dalam beragama.
Jumat, 02 Oktober 2026
Sesungguhnya seseorang jika mengetahui sebab terjadinya khilaf di kalangan ulama, maka ia akan memberikan udzur jika ada yang keliru dari mereka.Dari sini engkau akan jumpai perbedaan antara pelajar yang mutqin, dan pelajar yang masih pemula.
Faidah berharga dari Prof.Dr. Abdussalam Asy-Syuwai'ir -ℎ𝑎𝑓𝑖𝑑ℎ𝑎ℎ𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ-
"Sesungguhnya seseorang jika mengetahui sebab terjadinya khilaf di kalangan ulama, maka ia akan memberikan udzur jika ada yang keliru dari mereka.
Dari sini engkau akan jumpai perbedaan antara pelajar yang mutqin, dan pelajar yang masih pemula.
Seseorang bila semakin bertambah ilmu dan pemahamannya, dan semakin banyak menelaah al-kitab dan as-sunnah, dan membaca penjelasan ulama tentang keduanya, serta metodologi istimbath mereka terhadap al-kitab dan as-sunnah, maka ia akan banyak memberi udzur pada ahli ilmu, oleh karenanya : "𝐬𝐞𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡 𝐢𝐥𝐦𝐮𝐧𝐲𝐚, 𝐦𝐚𝐤𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 (𝐭𝐞𝐫𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩 𝐩𝐞𝐫𝐤𝐚𝐫𝐚 𝐤𝐡𝐢𝐥𝐚𝐟𝐢𝐲𝐲𝐚𝐡 𝐢𝐣𝐭𝐢𝐡𝐚𝐝𝐢𝐲𝐲𝐚𝐡)", hal ini karena ia tahu bahwasanya seorang ahli ilmu tidaklah mengatakan sebuah pendapat, kecuali berlandaskan sebab dan tinjauan, yang menjadikannya memilih pendapat tersebut.
Adapun penuntut ilmu pemula, maka umumnya ia kan mengingkari seluruh perkara yang tidak ia ketahui..........."
[ 𝑺𝒚𝒂𝒓𝒉 𝑹𝒂𝒇'𝒖𝒍 𝑴𝒂𝒍𝒂𝒎 𝑨𝒏𝒊𝒍-𝑨'𝒊𝒎𝒎𝒂𝒕𝒊𝒍-𝑨'𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉𝒖𝒍-𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎 𝑰𝒃𝒏𝒖 𝑻𝒂𝒊𝒎𝒊𝒚𝒚𝒂𝒉, hal.12]
Langganan:
Postingan (Atom)