Kamis, 05 November 2026

SHALAT DI BELAKANG AHLUL BID'AH DAN PEROKOK

SHALAT DI BELAKANG AHLUL BID'AH DAN PEROKOK

Ulama-ulama salafi itu berfatwa penuh dengan rincian dan kebijakan. Contoh soal tentang shalat dibelakang ahlul bid'ah. Selama bid'ahnya tidak jatuh kepada kesyirikan, tetap sah shalat di belakangnya.

Disebutkan dalam fatwa Al Lajnah Ad Daimah, 

من وجد إماما غير مبتدع فليصل وراءه دون المبتدع ، ومن لم يجد سوى المبتدع نصحه عسى أن يتخلى عن بدعته

Barangsiapa mendapati imam selain ahlu bid’ah maka hendaklah shalat di belakang orang yang bukan ahli bid’ah. Dan jika tidak mendapati selain imam ahli bid’ah, maka hendaklah ia menasehatinya agar meninggalkan kebid’ahannya.

 فإن لم يقبل وكانت بدعته شركية كمن يستغيث بالأموات أو يدعوهم من دون الله أو يذبح لهم فلا يصلى وراءه لأنه كافر ، وصلاته باطلة ، ولا يصح أن يجعل إماما

Jika ia tidak menerima (nasehat) dan kebid’ahannya mencapai derajat kesyirikan seperti minta tolong kepada mayit atau dia menyeru kepadanya dari selain Allah atau menyembelih untuknya maka tidak boleh shalat di belakangnya karena ia orang kafir dan shalatnya batal serta tidak boleh dijadikan imam.

 وإن كانت بدعته غير مكفرة كالتلفظ بالنية ، صحت صلاته وصلاة من خلف

Sedangkan jika kebid’ahannya tidak mencapai derajat kekufuran seperti melafadzkan niat, maka shalatnya sah, dan sah pula shalat di belakangnya”. (Fatawa Lajnah Daaimah : 7/364).

Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, 

ما حكم الصلاة خلف من يذهب إلى قبور الصالحين للتبرك بها وتلاوة القرآن في الموالد وغيرها بأجر على ذلك ؟ 

 “Apa hukum shalat di belakang orang yang pergi ke kuburan orang sholeh untuk meminta berkah dan membaca Qur’an di maulid dan lainnya dengan diupah atas hal itu?

Beliau menjawab, 

... أما إذا كان يدعو الأموات ويستغيث بهم ، أو بالجن ، أو غيرهم من المخلوقات فيقول : " يا رسول الله انصرني " ، أو " اشف مريضي " ، أو يقول : " يا سيدي الحسين " ، أو " يا سيدي البدوي " ، أو غيرهم من الأموات ، أو الجمادات كالأصنام ، المدد المدد : فهذا مشرك شركا أكبر ، لا يصلى خلفه ، ولا تصح إمامته - نسأل الله العافية - . 

... Adapun jika dia berdoa dan meminta bantuan kepada orang-orang yang telah meninggal dunia atau jin atau makhluk lainnya. Seraya dia mengatakan ‘Ya Rasulullah, tolonglah diriku’ atau ‘Tolong sembuhkan penyakitku’ atau mengatakan ‘Ya Sayyidi Husain’ atau ‘Ya Sayyidi Badawi’ atau kepada mayat-mayat lainnya atau sesuatu tak bernyawa seperti patung, dan (meminta) bantuan. Maka ini termasuk musyrik (pelaku kesyirikan) syirik akbar (besar). Jangan shalat di belakangnya. Dan tidak sah keimamannya. Kita memohon kepada Allah kesehatan.

أما إذا كان يرتكب بدعة كأن يحضر المولد ولكن لا يأتي بالشرك ، أو يقرأ القرآن عند القبور ، أو يصلي عندها ، ولا يأتي بشرك : فهذا يكون قد ابتدع في الدين ، فيعلَّم ، ويوجَّه إلى الخير وصلاته صحيحة إذا لم يفعلها عند القبور ، أما الصلاة في المقبرة : فلا تصح ؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ( لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد ) متفق عليه .

Sedangkan kalau terjerumus dalam bid’ah seperti menghadiri maulid akan tetapi tidak melakukan kesyirikan. Atau membaca qur’an di kuburan atau shalat disisinya dan tidak melakukan kesyirikan. Maka dia telah melakukan bid’ah dalam agama. Hendaknya diberi pelajaran dan diarahkan kepada kebaikan. Sementara shalatnya sah kalau tidak dilakukan di kuburan. Sementara kalau shalat di kuburan, tidak sah. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu alahi wa sallam:

“Allah melaknat Yahudi dan Nasroni yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.” Muttafaq ‘Alaihi. (Fatawa Syekh Ibnu Baz). 

Demikian pula shalat di belakang perokok, yang mencukur jenggotnya sampai klimis atau pelaku riba, shalatnya tetap sah.

Syekh Muhammad bin Shaalih al-'Utsaimin rahimahullah berkata: 

الصلاة تصح خلف المدخن , وصلاة المدخن صحيحة , ومن صحت صلاته : صحت إمامته ؛ لأن المقصود أن يكون إماما لك ، وهذا يكون بصحة الصلاة , ولهذا لو وجدت شخصاً يشرب الدخان , أو حالق اللحية , أو يتعامل بالربا , أو ما شابه ذلك : فلا حرج عليك أن تصلي معه ، وصلاتك صحيحة . " مجموع فتاوى الشيخ ابن عثيمين " ( 15 / السؤال رقم 1003 ) ."

Shalat di belakang seorang perokok adalah sah, dan shalat perokok itu sah. Jika salat seseorang sah, maka sah baginya untuk menjadi imam, karena hakikatnya ia menjadi imam dalam shalat, dan hal itu baru sah jika salatnya sendiri sah. Oleh karena itu, jika anda menemukan seseorang yang merokok, mencukur jenggot, atau melakukan riba, dan sebagainya, maka tidak mengapa Anda shalat bersamanya, dan shalat Anda sah. (Majmoo' Fataawa al-Syaikh Ibnu 'Utsaimin (15/soal no. 1003)).

Walaupun sah shalatnya dibelakang imam perokok, namun para penguasa atau para pengambil kebijakan, jangan mengangkat para pecandu rokok menjadi imam. 

Berkata Syekh Bin Baz rahimahullah, 

أما إمامة شارب الدخان وغيره من العصاة في الصلاة : فلا ينبغي أن يتخذ مثله إماماً ، بل المشروع أن يختار للإمامة الأخيار من المسلمين المعروفين بالدين والاستقامة ؛ لأن الإمامة شأنها عظيم ؛ ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم : ( يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله ، فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة ، فإن كانوا في السنة سواء فأقدمهم هجرة ، فإن كانوا في الهجرة سواء فأقدمهم سلما ) الحديث ، رواه مسلم في صحيحه ، وفي الصحيحين عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لمالك بن الحويرث وأصحابه : ( إذا حضرت الصلاة فليؤذن لكم أحدكم وليؤمكم أكبركم ) .

لكن اختلف العلماء رحمهم الله هل تصح إمامة العاصي والصلاة خلفه ، فقال بعضهم : لا تصح الصلاة خلفه ؛ لضعف دينه ونقص إيمانه ، وقال آخرون من أهل العلم : تصح إمامته والصلاة خلفه ؛ لأنه مسلم قد صحت صلاته في نفسه فتصح صلاة من خلفه ؛ ولأن كثيراً من الصحابة صلوا خلف بعض الأمراء المعروفين بالظلم والفسق ، ومنهم ابن عمر رضي الله عنهما قد صلى خلف الحجاج وهو من أظلم الناس ، وهذا هو القول الراجح ، وهو صحة إمامته والصلاة خلفه ، لكن لا ينبغي أن يتخذ إماما مع القدرة على إمامة غيره من أهل الخير والصلاح .

" فتاوى الشيخ ابن باز " ( 12 / 123 – 127 )"
 

Adapun orang-orang yang MEROKOK atau orang-orang yang durhaka lainnya yang menjadi imam shalat, maka orang-orang seperti itu TIDAK BOLEH DIANGKAT MENJADI IMAM, bahkan yang disyariatkan adalah memilih orang-orang terbaik di antara kaum muslimin untuk menjadi imam shalat, yaitu orang-orang yang dikenal karena ketaatan dan ketakwaannya, karena menjadi imam shalat adalah suatu hal yang penting. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah orang-orang menjadi imam shalat bagi mereka yang lebih banyak ilmu Al-Qur’an. Jika mereka sama dalam ilmu Al-Qur’an, maka hendaklah mereka menjadi imam shalat bagi mereka yang lebih banyak ilmu Sunnah. Jika mereka sama dalam ilmu Sunnah, maka hendaklah mereka menjadi imam shalat bagi mereka yang lebih dahulu berhijrah. Jika mereka sama dalam hijrah, maka hendaklah mereka menjadi imam shalat bagi mereka yang lebih dahulu masuk Islam.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya). Dalam Shahih bin Huwairits diriwayatkan pula bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Malik bin Huwairits dan para sahabatnya, “Jika telah tiba waktu shalat, maka hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan adzan, dan hendaklah orang yang paling tua di antara kalian mengimami shalat.” 

Para ulama berbeda pendapat tentang sah tidaknya seorang yang berdosa menjadi imam shalat dan sah tidaknya shalat di belakangnya. Sebagian mereka berpendapat bahwa shalat di belakangnya tidak sah, karena lemahnya akidah dan lemahnya iman. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa sah baginya menjadi imam shalat dan shalat di belakangnya sah, karena ia adalah seorang muslim yang shalatnya sah dengan sendirinya, maka shalat di belakangnya pun sah, karena banyak sahabat yang shalat di belakangnya yang dikenal sebagai pemimpin yang zalim dan jahat, seperti Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang shalat di belakangnya al-Hajjaj termasuk orang yang zalim. Ini adalah pendapat yang benar, yaitu shalatnya sah, sebagaimana shalat orang-orang yang shalat di belakangnya. Akan tetapi, ia TIDAK BOLEH DIANGKAT MENJADI IMAM padahal memungkinkan untuk mengangkat orang lain yang baik dan shaleh. (Fataawa al-Syaikh Ibnu Baaz (12/123-127)). 

Dan Syekh Bin Baz rahimahullah ditanya, 

ما حكم الصلاة خلف العاصي كحالق اللحية وشارب الدخان ؟ .

فأجاب :

Apa hukumnya shalat di belakang orang yang durhaka (pelaku maksiat), seperti orang yang mencukur jenggot atau merokok? 

Beliau menjawab: 

اختلف العلماء في هذه المسألة : فذهب بعضهم إلى عدم صحة الصلاة خلف العاصي ؛ لضعف إيمانه وأمانته ، وذهب جمع كبير من أهل العلم إلى صحتها ، ولكن لا ينبغي لولاة الأمر أن يجعلوا العصاة أئمة للناس مع وجود غيرهم ، وهذا هو الصواب ؛ لأنه مسلم يعلم أن الصلاة واجبة عليه ويؤديها على هذا الأساس فصحت صلاة من خلفه ، والحجة في ذلك ما ثبت في الحديث الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال في الصلاة خلف الأمراء الفسقة : ( يصلون لكم فإن أحسنوا فلكم ولهم وإن أساءوا فلكم وعليهم ) – رواه البخاري الأذان ( 662 ) - ، وجاء عنه عليه الصلاة والسلام أحاديث أخرى ترشد إلى هذا المعنى ، وصلى بعض الصحابة خلف الحجاج وهو من أفسق الناس ؛ ولأن الجماعة مطلوبة في الصلاة ، فينبغي للمؤمن أن يحرص عليها ، وأن يحافظ عليها ولو كان الإمام فاسقاً ، لكن إذا أمكنه أن يصلي خلف إمام عدل : فهو أولى ، وأفضل ، وأحوط للدين .

" فتاوى الشيخ ابن باز " ( 6 / 400 )"

Para ulama berbeda pendapat tentang masalah ini. Sebagian berpendapat bahwa shalat di belakang pelaku maksiat tidak sah, karena ia lemah iman dan tidak dapat dipercaya. Akan tetapi, sebagian besar ulama berpendapat bahwa shalat di belakang pelaku maksiat adalah sah, tetapi PARA PENGUASA TIDAK BOLEH MENGANGKAT PELAKU MAKSIAT UNTUK MENGIMAMI ORANG-ORANG KETIKA ADA ORANG LAIN YANG DAPAT MELAKUKANNYA. Ini adalah pendapat yang benar, karena orang tersebut adalah seorang muslim yang mengetahui bahwa shalat itu wajib baginya dan ia melakukannya atas dasar itu. Maka shalat di belakangnya sah. Dalilnya adalah hadits shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang shalat di belakang penguasa yang tidak bermoral: “Mereka mengimami kalian, jika mereka berbuat baik, maka itu untuk kalian dan untuk mereka, dan jika mereka berbuat jahat, maka itu untuk kalian dan untuk mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adhaan (662). Dan ada hadits-hadits lain yang di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan sebagian sahabat shalat di belakang al-Hajjaj, meskipun ia termasuk orang yang paling jahat. Karena shalat berjamaah itu wajib, maka hendaknya seorang mukmin bersemangat untuk melakukannya dan shalat berjamaah secara teratur, meskipun imamnya seorang yang FASIK. Akan tetapi, jika memungkinkan shalat di belakang imam yang ADIL, maka hal itu lebih utama dan lebih utama, serta lebih berhati-hati dalam menjalankan ibadah.  (Fataawa al-Syaikh Ibnu Baaz (6/400)). 

Berbeda dengan sebagian yang mengaku aswaja, bahwa shalat di belakang imam salafi (yang mereka gelari) shalatnya makruh. Apa dalilnya shalat di belakang wahabi makruh? Dan apakah shalat di belakang wahabi itu sah atau tidak? 

AFM

Copas dari berbagai sumber

Tidak ada seorang pun dari kalangan Sahabat yang memohon pertolongan (istighatsah) kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam setelah beliau wafat, tidak pula kepada nabi-nabi lainnya, baik saat berada di dekat makam mereka maupun saat berada jauh dari makam tersebut!!

"Tidak ada seorang pun dari kalangan Sahabat yang memohon pertolongan (istighatsah) kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam setelah beliau wafat, tidak pula kepada nabi-nabi lainnya, baik saat berada di dekat makam mereka maupun saat berada jauh dari makam tersebut!! 

Padahal mereka menghadapi situasi-situasi yang sangat berat dalam melawan kaum musyrikin di pertempuran. Kesulitan makin terasa dan mulai muncul prasangka-prasangka. Namun tidak satu pun dari mereka yang memohon pertolongan kepada seorang nabi ataupun makhluk lainnya. Mereka tidak pernah bersumpah kepada selain Allah, dan mereka juga tidak pernah memanjatkan doa di makam para nabi serta shalat di sana."

|| Al-Istighatsah fir Radd 'ala al-Bakri: 1/331
ustadz muhammad taufiq

Rabu, 04 November 2026

Untaian Faedah Ilmiah dan Adab-Adab Syar'iHal 7*SIAPAKAH WANITA SALAFIYAH?*

#FaidahMalam
*Kitab_AlKasykuul*

Karya:
Syaikh Prof. Dr. Muhammad bin 'Umar Bazmul, salah seorang ulama dan guru besar ilmu hadits terkemuka di Makkah.

*Al-Kasykul*
(Bunga Rampai)
Untaian Faedah Ilmiah dan Adab-Adab Syar'i

Hal 7
*SIAPAKAH WANITA SALAFIYAH?*

الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ السَّلَفِيَّةُ

Wanita Salihah yang Bermanhaj Salaf (Salafiyah)

الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ السَّلَفِيَّةُ: لَيْسَ شَرْطًا فِيهَا أَنْ تَعْرِفَ الْجَمَاعَاتِ وَالْأَحْزَابَ، وَلَا يُشْتَرَطُ فِيهَا أَنْ تُكَرِّرَ كَلَامَ عُلَمَاءِ السَّلَفِ وَعِبَارَاتِهِمْ، وَلَا يَلْزَمُ أَنْ تَعْرِفَ جَرْحَ فُلَانٍ وَفُلَانٍ، وَلَا يُشْتَرَطُ فِيهَا أَنْ تَعْرِفَ الْمَشَايِخَ السَّلَفِيِّينَ، وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ تَعْلَمَ مَا يَدُورُ عَلَى السَّاحَةِ، وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ تَصُومَ الْأَيَّامَ الْبِيضَ وَكُلَّ اثْنَيْنِ وَخَمِيسٍ، وَلَا أَنْ تَقُومَ اللَّيْلَ يَوْمِيًّا.

Wanita salihah yang bermanhaj salaf (Salafiyah):

Bukanlah suatu syarat pada dirinya untuk mengetahui seluk-beluk berbagai kelompok dan golongan (firqah/hizb), tidak disyaratkan pula ia harus selalu mengulang-ulang perkataan ulama salaf beserta istilah-istilah mereka, dan tidak harus mengetahui jarh (celaan/kritikan ilmiah) terhadap si Fulan dan si Fulan.

 Tidak disyaratkan pula ia harus mengenal seluruh masyayikh salafiyyin, tidak disyaratkan harus mengetahui berbagai polemik yang sedang hangat terjadi di medan dakwah, serta tidak disyaratkan ia harus selalu berpuasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 bulan Hijriah) dan setiap hari Senin-Kamis, atau harus melaksanakan salat malam (qiyamullail) setiap hari.

يَكْفِي أَنْ تَكُونَ مُحَافِظَةً عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَأَنْ تَحْفَظَ نَفْسَهَا، وَزَوْجَهَا، وَتَعْتَنِيَ بِبَيْتِهَا، وَبِوَلَدِهَا، وَأَنْ يَكُونَ بَيْتُهَا مَمْلَكَتَهَا، وَزَوْجُهَا أَمِيرَهَا، وَأَوْلَادُهَا رَعِيَّتَهَا.

Cukuplah ia menjadi wanita yang senantiasa menjaga salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kehormatan dirinya dan suaminya, mengurus rumah tangga serta anak-anaknya dengan baik, dan menjadikan rumahnya sebagai kerajaannya, suaminya sebagai pemimpinnya (amir-nya), serta anak-anaknya sebagai rakyat (amanah yang dipimpin dan diasuh) olehnya.

لَمْ يَذْكُرِ الرَّسُولُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ: حَنُونَةً عَلَى وَلَدِهَا، تَحْفَظُ زَوْجَهَا فِي ذَاتِهِ وَمَالِهِ، مَعَ قِيَامِهَا بِحَقِّ رَبِّهَا!

Rasulullah ﷺ tidaklah menyebutkan (kriteria utama kemuliaan wanita) melainkan bahwa ia adalah wanita yang: penuh kasih sayang terhadap anaknya, menjaga kehormatan suaminya baik pada dirinya maupun hartanya, disertai dengan menunaikan hak-hak Rabbnya!

الْمُبَالَغَةُ تَنَطُّعٌ وَتَجَاوُزٌ لِلْحَدِّ، مَاذَا تُرِيدُونَ مِنْ بَنَاتِ الْمُسْلِمِينَ أَنْ يَكُنَّ؟!

Sikap berlebih-lebihan (mubalaghah) adalah bentuk tanatthu' (sikap ekstrem/memberat-beratkan diri) dan melampaui batas. Lantas, kalian ingin putri-putri kaum muslimin menjadi seperti apa lagi?!

Tambahan DASAR Rujukan:
 🔹*DASAR Paragraf 2*
("Menjaga salat lima waktu, puasa Ramadan, menjaga kehormatan..."):
   Merujuk pada hadis Abdurrahman bin 'Auf رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
   «إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ»
   (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya no. 1661, Ibnu Hibban no. 4163, dan dinilai sahih/hasan oleh para ulama hadis).

 🔹DASAR Paragraf 2 ("Rumahnya sebagai kerajaannya, anak-anaknya sebagai rakyatnya..."):
   Merujuk pada hadis Abdullah bin Umar رضي الله عنهما tentang kepemimpinan dan tanggung jawab:
   «وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا»
"Dan seorang wanita (istri) adalah pemimpin (penanggung jawab/pengurus) di dalam rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya (urusannya)."
(HR. Al-Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829, dari sahabat Abdullah bin 'Umar رضي الله عنهما).

 🔹DASAR Paragraf 3 ("Penuh kasih sayang terhadap anaknya, menjaga suaminya pada diri dan hartanya..."):
   Merujuk pada hadis Abu Hurairah رضي الله عنه tentang keutamaan wanita Quraisy:

   «أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ»
"(Mereka adalah wanita) yang paling penuh kasih sayang terhadap anak di masa kecilnya, dan paling menjaga (amanah) terhadap suami pada apa yang dimiliki oleh suaminya (harta dan kehormatannya)."
(HR. Al-Bukhari no. 5082 dan Muslim no. 2527, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه).

 🔹DASAR Paragraf 4 (Larangan Tanatthu'):
   Merujuk pada hadis Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ bersabda tiga kali:
   «هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ»
 (Binasa orang-orang yang berlebih-lebihan/melampaui batas).
   (HR. Muslim no. 2670).

 🔹DASAR Paragraf 5 ("Barang siapa yang mati agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi..."):

   Merujuk pada hadis Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه ketika Nabi ﷺ ditanya tentang orang yang berperang karena keberanian, fanatisme golongan, atau riya, manakah yang di jalan Allah? Beliau menjawab:

   «مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ»
   (HR. Al-Bukhari no. 2810 dan Muslim no. 1904).

≈============
*Fawaid Ilmiah* (Pelajaran & Faedah Penting)
=============
Faedah dari Bagian Pertama (Kriteria Wanita Salihah & Salafiyah):

 1. Membedakan antara Kewajiban Pokok (Ushul/Fardhu 'Ain) dan Pelengkap (Fardhu Kifayah/Mustahab): Kesalihan seorang muslimah dan kelurusannya di atas manhaj Salaf diukur dari kemurnian tauhidnya, ketaatannya pada rukun Islam (salat 5 waktu, puasa Ramadan), dan pelaksanaan kewajiban domestiknya sebagai istri dan ibu. Adapun menguasai ilmu Jarh wa Ta'dil secara mendalam atau mengikuti isu polemik dakwah bukanlah syarat sah kesalihan seorang wanita.

 2. Proporsional dalam Menuntut Kriteria Calon Istri: Nasehat tegas bagi para pemuda penuntut ilmu agar tidak bersikap tanatthu' (kaku dan mempersulit diri) saat mencari pasangan hidup dengan menetapkan standar yang melampaui apa yang digariskan oleh Rasulullah ﷺ.

 3. Kemuliaan Peran Domestik Wanita: Islam mengangkat derajat rumah tangga sebagai "kerajaan" bagi seorang wanita, di mana pengabdiannya kepada suami dan pendidikan terhadap anak-anaknya bernilai ibadah agung di sisi Allah, tanpa harus merasa rendah diri jika belum mampu merutinkan seluruh ibadah sunnah setiap hari karena kesibukan mengurus rumah dan anak.

 4. Anjuran Ibadah Sunnah Sesuai Kemampuan: Penyebutan bahwa puasa sunnah dan qiyamullail "bukan syarat" bukan berarti meremehkan ibadah sunnah, melainkan menempatkannya sesuai porsi: seorang istri yang sibuk melayani suami dan mengasuh anak hingga kelelahan tetap mendapatkan pahala besar meskipun hanya mencukupkan diri dengan ibadah wajib.
Faedah dari Bagian Kedua (Kemurnian Niat di Jalan Allah):

=============
*Puisi Malamku*

Malam mengintai menyeruak sepi,
Raungan syahdu merindu sendiri,
Hanya ditemani secangkir kopi,
Meretas asa menuliskan mimpi.

​Di atas lamunan yang kian membuncah,
Pikiran yang onar enggan menyerah,
Menyibak khayal di balik gelisah,
Kapan kiranya nyata menjadi indah.

Semoga Allah beri kemuliaan,
Dengan waktu penuh keberkahan,
Menghapus habis kesia-siaan,
Menuntun langkah jalan kebaikan.

 
Semoga Bermanfaat 
☕Zaki Rakhmawan Abu Usaid

Selasa, 03 November 2026

ليس كل من ادعى السلفية يكون سلفياً، فقد ادعاها قوم جُهَّال لا يعرفون منهج السلف

قال ابن قدامة رحمه الله :
ثَبت وجوب اتباع السلف
بالكتاب والسنة والإجماع .

 قال العلامة صالح الفوزان حفظه الله:
*« ليس كل من ادعى السلفية يكون سلفياً، فقد ادعاها قوم جُهَّال لا يعرفون منهج السلف، وادعاها قومٌ مُخرِّبون ينتحلون منهج الخوارج في سفك الدماء والإفساد في الأرض، وادعاها قوم متعالمون لم يأخذوا العلم عن العلماء وإنما أخذوه من الكتب والمطالعات والإعتماد على حفظ النصوص مجرداً عن الفهم .*

*والله سبحانه يقول:* { والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان }. *أي: بإتقان ولا يكون ذلك إلا بالعلم والعمل بمنهجهم » .*

 |[ المصدر: حقيقة المنهج السلفي (٦٥) ]
https://www.facebook.com/share/p/18aSpX6Dzv/
Syaikh Al-Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah
1 jam yang lalu · 🌍
Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah:
"Telah tetap kewajiban mengikuti para Salaf berdasarkan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan Ijma'."
Berkata Al-Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah:
 * "Tidak semua orang yang mengaku salafi lalu ia benar-benar menjadi seorang salafi. Sungguh, klaim itu telah didaku oleh kaum yang bodoh yang tidak mengenal metode (manhaj) Salaf, didaku pula oleh kaum pengacau yang menganut manhaj Khawarij dalam hal menumpahkan darah dan melakukan kerusakan di muka bumi, serta didaku oleh kaum yang setengah matang dalam berilmu (muta'allimun) yang tidak mengambil ilmu dari para ulama, melainkan mengambilnya dari buku-buku dan bahan bacaan, serta hanya mengandalkan hafalan teks-teks tanpa pemahaman."
 * "Padahal Allah Subhaanahu berfirman: {Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik...} [QS. At-Taubah: 100]. Maksudnya: dengan sungguh-sungguh, dan hal itu tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu dan mengamalkan manhaj mereka."
[ Sumber: Haqiqah al-Manhaj as-Salafi (65) ]

Kenapa Aqidah Imam as-Saffarini masih diajarkan dan disyarah oleh masyayikh Ahlussunnah? Karena asalnya beliau adalah seorang yang beraqidah salaf, hanya saja di tulisannya terdampak oleh pemikiran ahlul kalam.

Kenapa Aqidah Imam as-Saffarini masih diajarkan dan disyarah oleh masyayikh Ahlussunnah? Karena asalnya beliau adalah seorang yang beraqidah salaf, hanya saja di tulisannya terdampak oleh pemikiran ahlul kalam. 

Bisa jadi ini karena faktor lingkungan tempat beliau belajar, sehingga mengira bahwa inilah aqidah Imam Ahmad rahimahullah. Disebutkan bahwa beliau orangnya banyak merujuk kepada para muridnya bahkan di permasalahan fiqih sekalipun. Beliau juga menyesal telah ikut-ikut mendalami ilmu kalam ini. Oleh karena itu Imam Ibnu Qasim an-Najdi mengatakan: 

لعله لم يتنبه له

"Bisa jadi karena beliau tidak menyadarinya."

Juga terjadi beberapa perbedaan di matan (Durrah Mudhiyah) dan syarah (Lawami' Anwar) yang menunjukkan inkonsistensi beliau dalam menganut aqidah kalamiyah ini. 

Beliau menegaskan dalam manzhumah nya bahwa beliau murni mengikuti manhaj salaf dalam beraqidah, di antaranya mengedepankan nash di atas apapun. Beliau merupakan orang yang berjasa menyebarkan aqidah salaf di Syam sebagaimana Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Nejd. Karena umur keduanya hanya terpaut setahun. 

Semoga Allah merahmati ulama kaum muslimin dan memberi balasan atas kebaikan yang telah mereka persembahkan kepada umat.
ustadz muhammad taufiq 

NIKAH TANPA WALI: BERLINDUNG DIBALIK KHILAFIYAH UNTUK MEMBENARKAN PENYIMPANGAN

NIKAH TANPA WALI: BERLINDUNG DIBALIK KHILAFIYAH  UNTUK MEMBENARKAN PENYIMPANGAN 

Para Ulama, telah sepakat ketika mendapatkan dalil, maka batal semua pendapat manusia. Karena kebenaran mutlak ada pada Wahyu, bukan pada pendapat dan madzhab tertentu. Tidak boleh bagi seorang ulama pun, menolak sebuah hadits yang shohih, tanpa alasan yang kuat untuk tidak mengamalkan hadits tersebut. 

Imam Ibnu Abdil Bar berkata:

ليس أحد من علماء الأمة يثبت حديثاً عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ثم يردّه، دون ادّعاء نسخ ذلك بأثر أو بإجماع، أو بعمل يجب على أصله الانقياد، إليه أو طعن في سنده، ولو فعل ذلك أحد سقطت عدالته، فضلاً عن أن يتخذ إماماً ولزمه اسم الفسق

"Tidak ada seorang pun dari kalangan ulama umat ini yang menetapkan sahihnya suatu hadis dari Rasulullah ﷺ, kemudian menolaknya, tanpa mengemukakan alasan bahwa hadis tersebut telah dihapus hukumnya (mansukh) berdasarkan atsar atau ijmak, atau karena adanya amalan yang menurut prinsipnya wajib diikuti, atau karena mencela dan mengkritik sanad hadis tersebut.
Seandainya ada seseorang yang melakukan hal demikian, niscaya gugurlah sifat keadilannya (kredibilitasnya), terlebih lagi jika ia dijadikan sebagai imam panutan. Bahkan, ia berhak menyandang predikat fasik."
(Jami' Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, hal 422. Cet. Dar Ibn Hazm) 

Baru-baru ini, kita dikejutkan dengan seorang Dai yang sangat keras permusuhannya kepada dakwah salaf terjatuh dalam kasus pelecehan seksual dengan alasan nikah tanpa wali. Dia beralasan ada ulama yang berpendapat mensahkan nikah tanpa wali, sehingga menjerat korban yaitu santrinya yang mungkin sudah didoktrin bahwa itu bukanlah kesalahan.

Padahal, Dalil-dalil tentang tidak sahnya nikah tanpa wali, sangat jelas. Karenanya Jumhur ulama menganggap bathilnya nikah tanpa wali. Diantara dalil tersebut.

عن أبي موسى رَضِيَ اللهُ عنه، أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: ((لا نِكاحَ إلَّا بوَليٍّ))

Dari Abu Musa -Radhiyallahu 'anhu- sesungguhnya Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda: "Tidak sah nikah tanpa wali"
HR. Abu Daud (2085) Tirmidzi (1101) Ibnu Majah (1881)

Kemudian hadits: 
عن عائِشةَ رَضِيَ اللهُ عنها، أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: ((أيُّما امرأةٍ نَكَحَت بغيرِ إذنِ وَلِيِّها فنِكاحُها باطِلٌ، فنِكاحُها باطِلٌ، فنِكاحُها باطِلٌ، فإنْ دخَلَ بها فلها المَهرُ بما استحَلَّ مِن فَرجِها، فإن اشتَجَروا فالسُّلطانُ وَليُّ مَن لا وليَّ له ))
Dari Aisyah -radhiyallah 'anha- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya batal, pernikahannya batal, pernikahannya batal.
Apabila laki-laki tersebut telah menggaulinya, maka perempuan itu berhak mendapatkan mahar karena hubungan badan yang telah dihalalkan dengannya.
Apabila mereka berselisih (tentang urusan perwalian), maka penguasa adalah wali bagi perempuan yang tidak memiliki wali."
HR. Abu Daud (2083) Tirmidzi (1102) Ibnu Majah (1879)

Seringkali, kami menjelaskan tentang wajibnya ittiba', wajibnya tunduk kepada dalil, dan keharusan mengagungkan dalil. Karena memang ada sebagian orang yang lebih mengedepankan pendapat ulama dibandingkan dalil, terjebak dalam bingkai madzhab walaupun menyelisihi dalil. Dan tentu direspon negatif oleh fanatikus madzhab.

Akhirnya ada segelintir orang yang berdalil dengan pendapat ulama, untuk melegitimasi hawa nafsu dan kebusukannya. Berusaha mencari-cari pendapat yang sesuai hawa nafsunya. 
Para ulama berkata:

مَنِ اتَّبَعَ الرُّخَصَ تَزَنْدَقَ
"Barang siapa yang mencari-cari rukhsoh maka dia menjadi zindiq.

Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata:

[Tidak Boleh Memberikan Fatwa Berdasarkan Hawa Nafsu dan Memilih-milih Pendapat Sesuai Keinginan]

Faedah ke-28:
Seorang mufti (pemberi fatwa) tidak boleh mengamalkan pendapat atau berbagai pandangan hukum yang ia sukai tanpa mempertimbangkan mana yang lebih kuat (tarjih). Sikap seperti ini tidak dapat dibenarkan.
Tidak cukup bagi seorang mufti untuk sekadar mengetahui bahwa suatu pendapat pernah dikemukakan oleh seorang imam atau merupakan pandangan yang dianut oleh sekelompok ulama, lalu ia bebas memilih pendapat mana saja yang ia kehendaki.

Ketika ia menemukan suatu pendapat yang sesuai dengan keinginan dan kepentingannya, ia pun mengamalkannya. Dengan demikian, keinginan dan kepentingannyalah (hawa nafsu) yang menjadi tolok ukur, sekaligus dasar dalam menentukan pendapat yang dianggap lebih kuat. Perbuatan seperti ini hukumnya haram berdasarkan kesepakatan umat Islam..."

Kemudian beliau berkata:
"...Kesimpulannya, tidak boleh mengamalkan suatu pendapat atau memberikan fatwa dalam agama Allah Ta'ala berdasarkan hawa nafsu dan sikap memilih-milih pendapat sesuka hati demi memenuhi kepentingan pribadi.

Seseorang mencari pendapat yang sesuai dengan keinginannya atau kepentingan orang yang ingin ia istimewakan, lalu mengamalkan, memfatwakan, dan menetapkan hukum dengannya. Sementara itu, terhadap orang yang menjadi musuhnya, ia memberikan hukum dan fatwa yang bertolak belakang dengan pendapat tersebut.
Perbuatan seperti ini termasuk bentuk kefasikan yang paling buruk dan dosa besar yang paling besar.

Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan."

(I'lamul Muwaqqi'in, (V/124-125) Tahqiq: Syaikh Masyhur Alu Salman)

Dika Wahyudi 
4 November 2026
24 jumadal ula 1448 H

Dan dengan memuji Allah, tidaklah seseorang menyerang Ahlussunnah kecuali dia pasti jatuh

Syaikh Muqbil -رحمه الله- berkata:

وبحمد الله فما قام أحد يهاجم أهل السنة إلا سقط

Dan dengan memuji Allah, tidaklah seseorang menyerang Ahlussunnah kecuali dia pasti jatuh.

المصدر:

تحفة المجيب على أسئلة الحاضر والغريب ١/‏٣٦٩ — مقبل بن هادي الوادعي (ت ١٤٢٢)

UAN