Barang siapa diberi taufik oleh Allah untuk meminta pada Allah, sesungguhnya ia sedang dikehendaki untuk diberi. Begitulah makna yang pernah saya dengar dari para ulama.
Suatu hari, begitu saya tiba di masjid, syahdan hujan turun. Padahal sepanjang perjalanan, hujan itu belum hadir. Saya menengok jam digital di dinding masjid. Waktu menuju ikamah Zuhur ternyata masih cukup lama.
Saya langsung membatin: masyaallah, Allah sedang memberikan taufik kepada saya untuk berdoa di tengah bertumpuknya sebab-sebab terkabulnya doa. Hujan sedang turun. Pintu langit tengah terbuka (waktu zawal). Jeda antara azan dan ikamah masih terbentang. Tiga sebab ijabah ini ada dalam satu waktu.
Saya pun salat, bersujud, lalu membuka doa di dalam sujud tersebut dengan pembuka doa yang datang dari Nabi ﷺ, yang beliau menjanjikan pengabulan bagi yang membaca kalimat-kalimat tersebut. Sekali lagi saya membatin, Allah kembali memberi saya taufik untuk mengerjakan dua tumpukan sebab terkabulnya doa yang lainnya: ketika sujud dan membuka doa dengan apa yang diajarkan oleh kekasih-Nya ﷺ.
Rasanya, puas sekali berdoa dalam sujud ketika itu. Tidak tergesa-gesa karena waktu yang terasa panjang. Semua atas taufik dari Allah.
Dan, tak lama, besok paginya Allah kirimkan pengabulan doa tersebut secara kontan. Saya seperti tersergah di pagi buta itu. Pengabulan yang bagi kami sekeluarga adalah sesuatu yang sangat besar dalam kehidupan kami.
Sesuatu yang kemarin saya pintakan dalam sujud atas taufik-Nya, pagi itu telah Allah hadirkan di hadapan kami dengan kuasa-Nya. Sekali lagi, barang siapa yang digerakkan untuk meminta, artinya ia memang ingin diberi.
Rabbana, semoga Engkau berkenan memaafkan kami jika pernah terbesit sekejap saja keraguan atas pengabulan doa dari-Mu. Kami beriman bahwa Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui apa yang kami butuhkan, dan Engkau Maha Mampu mengabulkan doa-doa hamba-Mu.
Ust muhammad rezki hr