Selasa, 03 November 2026

ليس كل من ادعى السلفية يكون سلفياً، فقد ادعاها قوم جُهَّال لا يعرفون منهج السلف

قال ابن قدامة رحمه الله :
ثَبت وجوب اتباع السلف
بالكتاب والسنة والإجماع .

 قال العلامة صالح الفوزان حفظه الله:
*« ليس كل من ادعى السلفية يكون سلفياً، فقد ادعاها قوم جُهَّال لا يعرفون منهج السلف، وادعاها قومٌ مُخرِّبون ينتحلون منهج الخوارج في سفك الدماء والإفساد في الأرض، وادعاها قوم متعالمون لم يأخذوا العلم عن العلماء وإنما أخذوه من الكتب والمطالعات والإعتماد على حفظ النصوص مجرداً عن الفهم .*

*والله سبحانه يقول:* { والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان }. *أي: بإتقان ولا يكون ذلك إلا بالعلم والعمل بمنهجهم » .*

 |[ المصدر: حقيقة المنهج السلفي (٦٥) ]
https://www.facebook.com/share/p/18aSpX6Dzv/
Syaikh Al-Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah
1 jam yang lalu · 🌍
Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah:
"Telah tetap kewajiban mengikuti para Salaf berdasarkan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan Ijma'."
Berkata Al-Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah:
 * "Tidak semua orang yang mengaku salafi lalu ia benar-benar menjadi seorang salafi. Sungguh, klaim itu telah didaku oleh kaum yang bodoh yang tidak mengenal metode (manhaj) Salaf, didaku pula oleh kaum pengacau yang menganut manhaj Khawarij dalam hal menumpahkan darah dan melakukan kerusakan di muka bumi, serta didaku oleh kaum yang setengah matang dalam berilmu (muta'allimun) yang tidak mengambil ilmu dari para ulama, melainkan mengambilnya dari buku-buku dan bahan bacaan, serta hanya mengandalkan hafalan teks-teks tanpa pemahaman."
 * "Padahal Allah Subhaanahu berfirman: {Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik...} [QS. At-Taubah: 100]. Maksudnya: dengan sungguh-sungguh, dan hal itu tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu dan mengamalkan manhaj mereka."
[ Sumber: Haqiqah al-Manhaj as-Salafi (65) ]

Kenapa Aqidah Imam as-Saffarini masih diajarkan dan disyarah oleh masyayikh Ahlussunnah? Karena asalnya beliau adalah seorang yang beraqidah salaf, hanya saja di tulisannya terdampak oleh pemikiran ahlul kalam.

Kenapa Aqidah Imam as-Saffarini masih diajarkan dan disyarah oleh masyayikh Ahlussunnah? Karena asalnya beliau adalah seorang yang beraqidah salaf, hanya saja di tulisannya terdampak oleh pemikiran ahlul kalam. 

Bisa jadi ini karena faktor lingkungan tempat beliau belajar, sehingga mengira bahwa inilah aqidah Imam Ahmad rahimahullah. Disebutkan bahwa beliau orangnya banyak merujuk kepada para muridnya bahkan di permasalahan fiqih sekalipun. Beliau juga menyesal telah ikut-ikut mendalami ilmu kalam ini. Oleh karena itu Imam Ibnu Qasim an-Najdi mengatakan: 

لعله لم يتنبه له

"Bisa jadi karena beliau tidak menyadarinya."

Juga terjadi beberapa perbedaan di matan (Durrah Mudhiyah) dan syarah (Lawami' Anwar) yang menunjukkan inkonsistensi beliau dalam menganut aqidah kalamiyah ini. 

Beliau menegaskan dalam manzhumah nya bahwa beliau murni mengikuti manhaj salaf dalam beraqidah, di antaranya mengedepankan nash di atas apapun. Beliau merupakan orang yang berjasa menyebarkan aqidah salaf di Syam sebagaimana Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Nejd. Karena umur keduanya hanya terpaut setahun. 

Semoga Allah merahmati ulama kaum muslimin dan memberi balasan atas kebaikan yang telah mereka persembahkan kepada umat.
ustadz muhammad taufiq 

NIKAH TANPA WALI: BERLINDUNG DIBALIK KHILAFIYAH UNTUK MEMBENARKAN PENYIMPANGAN

NIKAH TANPA WALI: BERLINDUNG DIBALIK KHILAFIYAH  UNTUK MEMBENARKAN PENYIMPANGAN 

Para Ulama, telah sepakat ketika mendapatkan dalil, maka batal semua pendapat manusia. Karena kebenaran mutlak ada pada Wahyu, bukan pada pendapat dan madzhab tertentu. Tidak boleh bagi seorang ulama pun, menolak sebuah hadits yang shohih, tanpa alasan yang kuat untuk tidak mengamalkan hadits tersebut. 

Imam Ibnu Abdil Bar berkata:

ليس أحد من علماء الأمة يثبت حديثاً عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ثم يردّه، دون ادّعاء نسخ ذلك بأثر أو بإجماع، أو بعمل يجب على أصله الانقياد، إليه أو طعن في سنده، ولو فعل ذلك أحد سقطت عدالته، فضلاً عن أن يتخذ إماماً ولزمه اسم الفسق

"Tidak ada seorang pun dari kalangan ulama umat ini yang menetapkan sahihnya suatu hadis dari Rasulullah ﷺ, kemudian menolaknya, tanpa mengemukakan alasan bahwa hadis tersebut telah dihapus hukumnya (mansukh) berdasarkan atsar atau ijmak, atau karena adanya amalan yang menurut prinsipnya wajib diikuti, atau karena mencela dan mengkritik sanad hadis tersebut.
Seandainya ada seseorang yang melakukan hal demikian, niscaya gugurlah sifat keadilannya (kredibilitasnya), terlebih lagi jika ia dijadikan sebagai imam panutan. Bahkan, ia berhak menyandang predikat fasik."
(Jami' Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, hal 422. Cet. Dar Ibn Hazm) 

Baru-baru ini, kita dikejutkan dengan seorang Dai yang sangat keras permusuhannya kepada dakwah salaf terjatuh dalam kasus pelecehan seksual dengan alasan nikah tanpa wali. Dia beralasan ada ulama yang berpendapat mensahkan nikah tanpa wali, sehingga menjerat korban yaitu santrinya yang mungkin sudah didoktrin bahwa itu bukanlah kesalahan.

Padahal, Dalil-dalil tentang tidak sahnya nikah tanpa wali, sangat jelas. Karenanya Jumhur ulama menganggap bathilnya nikah tanpa wali. Diantara dalil tersebut.

عن أبي موسى رَضِيَ اللهُ عنه، أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: ((لا نِكاحَ إلَّا بوَليٍّ))

Dari Abu Musa -Radhiyallahu 'anhu- sesungguhnya Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda: "Tidak sah nikah tanpa wali"
HR. Abu Daud (2085) Tirmidzi (1101) Ibnu Majah (1881)

Kemudian hadits: 
عن عائِشةَ رَضِيَ اللهُ عنها، أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: ((أيُّما امرأةٍ نَكَحَت بغيرِ إذنِ وَلِيِّها فنِكاحُها باطِلٌ، فنِكاحُها باطِلٌ، فنِكاحُها باطِلٌ، فإنْ دخَلَ بها فلها المَهرُ بما استحَلَّ مِن فَرجِها، فإن اشتَجَروا فالسُّلطانُ وَليُّ مَن لا وليَّ له ))
Dari Aisyah -radhiyallah 'anha- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya batal, pernikahannya batal, pernikahannya batal.
Apabila laki-laki tersebut telah menggaulinya, maka perempuan itu berhak mendapatkan mahar karena hubungan badan yang telah dihalalkan dengannya.
Apabila mereka berselisih (tentang urusan perwalian), maka penguasa adalah wali bagi perempuan yang tidak memiliki wali."
HR. Abu Daud (2083) Tirmidzi (1102) Ibnu Majah (1879)

Seringkali, kami menjelaskan tentang wajibnya ittiba', wajibnya tunduk kepada dalil, dan keharusan mengagungkan dalil. Karena memang ada sebagian orang yang lebih mengedepankan pendapat ulama dibandingkan dalil, terjebak dalam bingkai madzhab walaupun menyelisihi dalil. Dan tentu direspon negatif oleh fanatikus madzhab.

Akhirnya ada segelintir orang yang berdalil dengan pendapat ulama, untuk melegitimasi hawa nafsu dan kebusukannya. Berusaha mencari-cari pendapat yang sesuai hawa nafsunya. 
Para ulama berkata:

مَنِ اتَّبَعَ الرُّخَصَ تَزَنْدَقَ
"Barang siapa yang mencari-cari rukhsoh maka dia menjadi zindiq.

Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata:

[Tidak Boleh Memberikan Fatwa Berdasarkan Hawa Nafsu dan Memilih-milih Pendapat Sesuai Keinginan]

Faedah ke-28:
Seorang mufti (pemberi fatwa) tidak boleh mengamalkan pendapat atau berbagai pandangan hukum yang ia sukai tanpa mempertimbangkan mana yang lebih kuat (tarjih). Sikap seperti ini tidak dapat dibenarkan.
Tidak cukup bagi seorang mufti untuk sekadar mengetahui bahwa suatu pendapat pernah dikemukakan oleh seorang imam atau merupakan pandangan yang dianut oleh sekelompok ulama, lalu ia bebas memilih pendapat mana saja yang ia kehendaki.

Ketika ia menemukan suatu pendapat yang sesuai dengan keinginan dan kepentingannya, ia pun mengamalkannya. Dengan demikian, keinginan dan kepentingannyalah (hawa nafsu) yang menjadi tolok ukur, sekaligus dasar dalam menentukan pendapat yang dianggap lebih kuat. Perbuatan seperti ini hukumnya haram berdasarkan kesepakatan umat Islam..."

Kemudian beliau berkata:
"...Kesimpulannya, tidak boleh mengamalkan suatu pendapat atau memberikan fatwa dalam agama Allah Ta'ala berdasarkan hawa nafsu dan sikap memilih-milih pendapat sesuka hati demi memenuhi kepentingan pribadi.

Seseorang mencari pendapat yang sesuai dengan keinginannya atau kepentingan orang yang ingin ia istimewakan, lalu mengamalkan, memfatwakan, dan menetapkan hukum dengannya. Sementara itu, terhadap orang yang menjadi musuhnya, ia memberikan hukum dan fatwa yang bertolak belakang dengan pendapat tersebut.
Perbuatan seperti ini termasuk bentuk kefasikan yang paling buruk dan dosa besar yang paling besar.

Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan."

(I'lamul Muwaqqi'in, (V/124-125) Tahqiq: Syaikh Masyhur Alu Salman)

Dika Wahyudi 
4 November 2026
24 jumadal ula 1448 H

Dan dengan memuji Allah, tidaklah seseorang menyerang Ahlussunnah kecuali dia pasti jatuh

Syaikh Muqbil -رحمه الله- berkata:

وبحمد الله فما قام أحد يهاجم أهل السنة إلا سقط

Dan dengan memuji Allah, tidaklah seseorang menyerang Ahlussunnah kecuali dia pasti jatuh.

المصدر:

تحفة المجيب على أسئلة الحاضر والغريب ١/‏٣٦٩ — مقبل بن هادي الوادعي (ت ١٤٢٢)

UAN


Larangan Syamatah

Larangan Syamatah
(Berbahagia atas musibah orang lain)

Pengingat buat kita semua.

لَا تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لِأَخِيكَ، فَيَرْحَمَهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ
"Janganlah engkau menampakkan kegembiraan/kebahagiaan atas musibah yang menimpa saudaramu, karena boleh jadi Allah akan mengasihinya dan justru mengujimu (dengan musibah/dosa tersebut)." (HR. Tirmidzi)

Apa yang diselisihi oleh Abu Hasan al-Asy'ari dari mayoritas 'Ahlus Sunnah wal Jamaah'."

:
  "Apa yang diselisihi oleh Abu Hasan al-Asy'ari dari mayoritas 'Ahlus Sunnah wal Jamaah'."
 "Berkata 'Ahlus Sunnah wal Jamaah': 'Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki perbuatan-perbuatan, yaitu menciptakan, memberi rezeki, dan rahmat. Dan Allah Ta'ala itu qadim (terdahulu) dengan seluruh perbuatan-perbuatan-Nya, dan perbuatan-perbuatan Allah Ta'ala tidaklah baru (hadits), serta tidak pula baru (sebagai makhluk), bukan pula Zat Allah Ta'ala, dan bukan pula selain Allah Ta'ala, seperti halnya sifat-sifat yang lain'."
 "Dan Abu Hasan al-Asy'ari mengingkari bahwa Allah Ta'ala memiliki perbuatan, dan ia berkata: 'Perbuatan dan yang diperbuat adalah satu.' Dan ia menyetujui dalam hal ini golongan 'Qadariyah' dan 'Jahmiyah', serta di atas pendapat inilah kebanyakan para pengikutnya, dan ini adalah kesalahan yang murni."
 "Dan berkata 'Ahlus Sunnah wal Jamaah': 'Kemaksiatan dan kekafiran bukanlah keridaan Allah Ta'ala dan bukan pula kecintaan-Nya, melainkan hal itu terjadi dengan kehendak Allah Ta'ala'."
 "Dan Abu Hasan berkata: 'Allah Ta'ala rida terhadap kekafiran dan kemaksiatan serta mencintainya.' Dan ini adalah kesalahan yang murni pula."
  Ustadz nidlol mas'ud 

Senin, 02 November 2026

Sunnahnya Memberi Nama Barang

Sunnahnya Memberi Nama Barang

Nabi Shallallaahu 'alaihi Wasallam menamai barang barang yang beliau miliki.

Nama pedang pedang milik Nabi Shallallaahu 'alaihi Wasallam : Al Adlob, al qol'a, al battar, al hatf, ar rusub, al mikhdzam, al qodhib dan dzul fiqor.

Nabi mempunyai tujuh baju besi. Namanya dzatul fudhul yang pernah digadaikan kepada Yahudi untuk membeli 30 sho gandum. Kemudian Dzatul wisyah, dzatul hawasyi, sa'diyah, fidhoh, al batro dan al khirniq.

Nabi Shallallaahu 'alaihi Wasallam memeliki dua perisai yaitu az zaluq dan al fataq.

Beliau memiliki lima tombak yaitu al matswa, al matsna, an nab'ah, al baidha ini nama tombak besar beliau dan satu lagi tombak kecil al anazah.

Beliau memiliki gelas yang dinamai: Ar Royyan dan mughits.

Beliau mempunyai nampan untuk makan bernama al gorro.

Unta beliau bernama al qoshwa.
Keledainya bernama Ufair.
Bigholnya bernama duldul.
Dan beliau memilki beberapa kuda yaitu as sakab, al murtajaz, al lahif, al lazzaz, az zorib, subhah dan al ward.