[Adab tilawah yang jarang diperhatikan ketika membaca Al-Qur’an]
Di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang mengutip ucapan kekufuran orang-orang kafir, seperti firman Allah:
“Orang-orang Yahudi berkata: Uzair adalah anak Allah.”
“Orang-orang Nasrani berkata: Al-Masih adalah anak Allah.”
“Mereka berkata: Tangan Allah terbelenggu.”
“Mereka berkata: Ar-Rahman mengambil seorang anak.”
Semua ucapan ini disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an bukan untuk dibenarkan, tetapi untuk dibongkar, dijelaskan, dan dibantah.
Menariknya, para ulama dahulu memiliki adab yang sangat halus ketika membaca ayat-ayat seperti ini.
Disebutkan bahwa tabi’in besar Ibrahim al-Nakha'i رحمه الله merendahkan suaranya ketika membaca ayat yang memuat ucapan kufur, walaupun ayat tersebut adalah bagian dari Al-Qur’an sebagaimana disebutkan oleh Imam An Nawawi dalam kitabnya At-Tibyān fī Ādābi Ḥamalatil Qur’ān ketika beliau menjelaskan adab-adab membaca Al-Qur’an.
Mengapa demikian?
Karena hati para ulama tidak rela jika kalimat yang mengandung penghinaan kepada Allah dilantangkan dengan suara keras, meskipun dalam konteks membaca ayat.
Di sinilah terlihat betapa dalamnya pengagungan para ulama terhadap Al-Qur’an. Mereka tidak hanya menjaga tajwid, makhraj, panjang pendek bacaan, tetapi juga menjaga adab terhadap makna ayat yang mereka baca.
Berbeda dengan fenomena yang sering kita lihat hari ini…
Banyak orang sangat serius melatih lagu, nada, dan naik turunnya suara ketika membaca Al-Qur’an, tetapi sering kali tidak berhenti sejenak untuk merenungkan makna ayat yang sedang dilantunkan.
Seakan-akan yang lebih penting adalah indahnya suara, bukan kedalaman penghayatan terhadap kalam Allah.
Padahal bagi para ulama, membaca Al-Qur’an bukan sekadar melantunkan huruf, tetapi menghadirkan hati di hadapan Allah.
Mungkin suara mereka tidak selalu paling merdu, tetapi hati mereka penuh pengagungan kepada Allah dan kalam-Nya.
Inilah yang sering hilang dari tilawah kita hari ini.
🖌️Ayahnya Muallim