Senin, 11 Mei 2026

kenapa banyak orang zaman ini mencukupkan tauhid rububiyah

Bagus risalah magister Syaikh Abdurrahim As-Sulami. Menjelaskan kenapa banyak orang zaman ini mencukupkan tauhid rububiyah. Alias klo ada yang berdoa, sujud, thowaf, menyembelih kepada selain Allah dianggap tidak membahayakan tauhid.

Nukilan Dari ibnu taimiyah :
​Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah - mengenai ahli kalam -: "Oleh karena itu, ada di antara pengikut mereka yang bersujud kepada matahari, bulan, dan bintang-bintang, serta berdoa kepadanya sebagaimana berdoa kepada Allah Ta'ala, berpuasa untuknya, menyembelih kurban untuknya, dan mendekatkan diri kepadanya.
​Kemudian ia berkata: 'Ini bukanlah kesyirikan. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah jika aku meyakini bahwa benda-benda itulah yang mengatur urusanku. Adapun jika aku menjadikannya sekadar sebagai sebab dan perantara, maka aku bukanlah seorang musyrik.'
​Padahal, telah diketahui secara pasti (ma'lum minad-din bidh-dharurah) di dalam agama Islam bahwa perbuatan ini adalah sebuah kesyirikan."
ustadz febrian fariansyah

Apa pendapat para ulama dan imam agama — semoga Allah meridhai mereka semuanya — mengenai seseorang yang ketika ditanya: ‘Apa mazhabmu?’

Pertanyaan
Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya:
“Apa pendapat para ulama dan imam agama — semoga Allah meridhai mereka semuanya — mengenai seseorang yang ketika ditanya: ‘Apa mazhabmu?’ lalu ia menjawab:
‘Aku Muhammadi, aku mengikuti Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Muhammad ﷺ.’
Kemudian dikatakan kepadanya:
‘Setiap mukmin seharusnya mengikuti suatu mazhab, dan siapa yang tidak memiliki mazhab maka ia adalah setan.’
Lalu orang itu berkata:
‘Apa mazhab Abu Bakar Ash-Shiddiq dan para khalifah setelah beliau radhiyallahu ‘anhum?’
Kemudian dikatakan lagi kepadanya:
‘Tidak pantas bagimu kecuali mengikuti salah satu dari mazhab-mazhab ini.’
Maka mazhab manakah di antara mereka yang benar?
Berilah kami fatwa, semoga kalian diberi pahala.”

Jawaban
Beliau menjawab:
“Segala puji bagi Allah. Sesungguhnya yang wajib atas manusia hanyalah menaati Allah dan Rasul-Nya. Adapun para pemegang kekuasaan (ulil amri) yang Allah perintahkan untuk ditaati dalam firman-Nya:
‘Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.’
(QS. An-Nisa: 59)
Maka kewajiban menaati mereka itu hanyalah sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan secara berdiri sendiri.
Kemudian Allah berfirman:
‘Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.’
(QS. An-Nisa: 59)
Apabila seorang muslim menghadapi suatu persoalan, maka hendaknya ia meminta fatwa kepada orang yang ia yakini memberi fatwa berdasarkan syariat Allah dan Rasul-Nya, dari mazhab mana pun dia berasal.
Dan tidak wajib atas seorang muslim untuk bertaklid kepada seseorang tertentu dari kalangan ulama dalam setiap apa yang ia katakan. Tidak pula wajib atas seorang muslim untuk terikat dengan mazhab seseorang tertentu selain Rasulullah ﷺ dalam segala hal yang ia wajibkan atau ia kabarkan.
Bahkan setiap manusia bisa diambil dan ditinggalkan perkataannya, kecuali Rasulullah ﷺ.
Adapun seseorang mengikuti mazhab tertentu karena ia tidak mampu mengetahui syariat kecuali melalui jalan tersebut, maka itu termasuk hal yang dibolehkan baginya. Namun itu bukan sesuatu yang wajib atas setiap orang, apabila ia mampu mengetahui syariat melalui jalan selain itu.
Akan tetapi, setiap orang wajib bertakwa kepada Allah semampunya, dan berusaha mempelajari ilmu tentang apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, lalu mengerjakan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang.
Dan Allah lebih mengetahui.”
— Majmu' al-Fatawa, Kitab Ath-Thaharah.

https://ibntaymiyyah.org/fatwa/IT-00-01-9be9fc15fa41?fbclid=IwdGRjcARud6JjbGNrBG53mWV4dG4DYWVtAjExAHNydGMGYXBwX2lkDDM1MDY4NTUzMTcyOAABHpfSSDX6RizWKYnNrTKkVQiSQiB78zbnWTlC0lxMUxJNJHf_EX7OduxQ4HX3_aem_C9M-5eQBqmYIS5ALgMOMIw
Ustadz noor akhmad setiawan

Ahlul Kalam Hanya Fokus Pada Tauhid Rububiyah

Ahlul Kalam Hanya Fokus Pada Tauhid Rububiyah  

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan menjelaskan:

فليس التوحيد هو الإقرار بتوحيد الربوبية كما يقول ذلك علماء الكلام والنُّظّار في عقائدهم، فإنه يقررون بأن التوحيد هو الإقرار بأن الله هو الخالق الرازق المحيي المميت، فيقولون: (واحد في ذاته لا قسيم له، واحد في صفاته لا شبيه له، واحد في أفعاله لا شريك له) وهذا هو توحيد الربوبية

Maka tauhid itu bukanlah sekadar mengakui tauhid rububiyyah saja, sebagaimana keyakinannya para ahlul kalam dan ahli nazhor dalam kitab-kitab akidah mereka. Mereka menetapkan bahwa tauhid adalah sekedar meyakini bahwa Allah-lah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, Yang menghidupkan, dan Yang mematikan. Ahlul kalam mengatakan: “Allah itu Esa dalam dzat-Nya, tidak ada pembagi bagi-Nya; Esa dalam sifat-sifat-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya; dan Esa dalam perbuatan-perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya". Ini hanya sekedar tauhid rububiyyah.

ارجعوا إلى أي كتاب من كتب علماء الكلام تجدون لا يخرجون عن توحيد الربوبية، وهذا ليس هو التوحيد الذي بعث الله به الرسل، والإقرار بهذا وحده لا ينفع صاحبه، لأن هذا أقرّ به المشركون وصناديد الكفرة، ولم يخرجهم من الكفر، ولم يدخلهم في الإسلام، فهذا غلطٌ عظيم

Silakan merujuk kepada kitab apa pun dari kitab-kitab ahlul kalam, niscaya anda akan mendapati bahwa pembahasan mereka tidak keluar dari tauhid rububiyyah. Padahal ini bukanlah tauhid menjadi tujuan dakwah para rasul. Pengakuan terhadap tauhid rububiyah saja tidak bermanfaat bagi pelakunya, karena kaum musyrikin dan para pembesar orang kafir pun telah mengakuinya. Namun pengakuan tersebut tidak mengeluarkan mereka dari kekufuran dan tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Maka ini adalah kekeliruan yang besar.

فمن اعتقد هذا الاعتقاد ما زاد على اعتقاد أبي جهل وأبي لهب، فالذي عليه الآن بعض المثقّفين هو تقرير توحيد الربوبية فقط، ولا يتطرقون إلى توحيد الألوهية، وهذا غلط عظيم في مسمّى التوحيد

Barang siapa meyakini keyakinan seperti ini, maka keyakinannya tidak melebihi keyakinan Abu Jahal dan Abu Lahab. Apa yang dilakukan sebagian kalangan cendikia Muslim saat ini hanyalah menetapkan tauhid rububiyyah saja, dan mereka tidak membahas tauhid uluhiyyah. Ini adalah kesalahan besar dalam memahami makna tauhid.

(Syarah al-Qawa'id al-Arba, karya Syaikh Shalih bin Fauzan hal.19)

Fawaid Kangaswad | Support Media Dakwah Kami: trakteer.com/kangaswad

Minggu, 10 Mei 2026

Keseimbangan Al-Qur’an dalam Mengatur Kecepatan

Keseimbangan Al-Qur’an dalam Mengatur Kecepatan

1. Untuk mencari rezeki dan urusan dunia

Allah berfirman:

    {فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا}

“Maka berjalanlah di segala penjurunya.”

*Maksudnya: cukup berjalan dengan tenang dan penuh keyakinan, karena rezeki sudah ditetapkan.

2. Untuk salat

Allah berfirman:

    {فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ}

“Maka bersegeralah menuju zikir kepada Allah.”

*Maksudnya: berjalan dengan perhatian, kesungguhan, dan fokus.

3. Untuk meraih surga

Allah berfirman:

    {وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ}

“Dan bersegeralah menuju ampunan.”

*Di sini kecepatannya bertambah dan perlombaan pun dimulai.

4. Untuk kembali kepada Allah

Allah berfirman:

    {فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ}

“Maka larilah menuju Allah.”

*Maksudnya: berlari secepat mungkin tanpa menoleh lagi.
ustadz muadz mukhadasin 

Lagi dzikir habis salam, tiba-tiba kepikiran: "Eh, tadi shalatnya 3 rakaat apa 4 ya? Sujudnya tadi dua kali atau cuma sekali?" Pernah ngalamin overthinking kayak gini habis shalat? 🥲

Lagi dzikir habis salam, tiba-tiba kepikiran: "Eh, tadi shalatnya 3 rakaat apa 4 ya? Sujudnya tadi dua kali atau cuma sekali?" Pernah ngalamin overthinking kayak gini habis shalat? 🥲

Tenang, kamu nggak sendiri! Banyak dari kita yang sering kena jebakan "ragu" justru setelah shalat selesai. Kalau udah gini, shalatnya batal nggak ya? Harus diulang atau biarin aja?

Syaikh Labib Najib hafizhahullah ngasih kaidah emas yang gampang banget diingat:

"Keraguan yang datang SETELAH ibadah selesai, itu TIDAK BERPENGARUH."

kalau kamu udah salam, terus ragu soal jumlah rakaat, bacaan Al-Fatihah, atau sujud, abaikan aja! Shalatmu insyaAllah tetap sah. Hukum asalnya adalah shalat sudah selesai dengan sempurna.

TAPI... ada pengecualiannya nih! 🚨
Keraguan itu berpengaruh (bikin shalat nggak sah dan harus diulang) kalau ragunya di dua hal ini:

Niat: Ragu tadi udah niat shalat Dzuhur atau belum.

Takbiratul Ihram: Ragu tadi di awal udah takbir "Allahu Akbar" atau lupa.

Kenapa? Karena dua hal ini adalah kunci pembuka shalat. Kalau pembukanya aja ragu, ibadahnya dianggap belum dimulai.

Coba ngaku, siapa di sini yang paling sering diganggu setan lewat rasa ragu pas lagi shalat? Biasanya ragu di bagian apa nih? Tulis di komentar ya, kita saling menguatkan! 👇

Biar shalat makin khusyuk dan paham ilmunya, yuk Save postingan ini buat pengingat, dan Follow @rafiiilhamuba untuk tips Fiqih praktis lainnya! ✨
https://www.facebook.com/share/r/1GMjFtufVX/

Bismillah…Antum pengelola rumah tahfizh,,, ini lah yang anda cari selama ini , klik https://tasmiquran.com

Bismillah…
Antum pengelola rumah tahfizh,,, ini lah yang anda cari selama ini , klik https://tasmiquran.com

Ayo tunggu apa lagi…
ustadz muhammad elvi syam 

Karya Besar Syaikhuna wa Waliduna Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron رحمه الله تعالى

Karya Besar Syaikhuna wa Waliduna Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron رحمه الله تعالى

Di antara anugerah terbesar yang Allah Ta’ala karuniakan kepada seorang hamba setelah iman dan ittiba’ kepada sunnah, adalah ketika Allah menjadikan hidupnya terus berbuah meski jasadnya telah kembali ke tanah.

Tidak semua manusia diberi kemuliaan seperti ini. Ada yang hidup lalu dilupakan. Ada yang pergi lalu terputus seluruh jejaknya. Namun ada pula hamba-hamba pilihan yang Allah abadikan pengaruhnya melalui warisan-warisan kebaikan.

Warisan itu bukan sekadar harta, bukan pula kemegahan dunia yang akan usang dimakan zaman. Tetapi warisan yang tetap hidup di hati manusia, terus mengalir pahalanya siang dan malam.

Tiga warisan agung itu adalah:

1. Anak-anak shalih yang menjadi penyejuk mata, yang berbakti kepada kedua orang tuanya semasa hidup maupun setelah wafatnya.

2. Murid-murid dan generasi ilmiyyah yang mewarisi ilmu, lalu menyebarkannya dengan amanah kepada umat. 

3. Karya ilmiah yang terus dibaca, dipelajari, ditelaah, dan menghidupkan hati manusia dari generasi ke generasi.

Dan insya Allah, Syaikhuna wa Waliduna Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron رحمه الله تعالى termasuk di antara hamba yang Allah muliakan dengan tiga warisan tersebut.

Beliau tidak hanya meninggalkan putra-putri dan para santri yang tumbuh dalam bimbingan ilmu dan sunnah, tetapi juga meninggalkan jejak ilmu yang begitu dalam bagi umat ini.

Siapa yang tidak mengenal kitab nahwu beliau:
مختارات قواعد اللغة العربية

Sebuah kitab yang — dengan izin Allah — telah menjadi teman belajar ribuan penuntut ilmu di negeri ini. Dibaca di pesantren-pesantren, diajarkan dari generasi ke generasi, dan menjadi pintu awal banyak orang dalam memahami bahasa Al-Qur’an.

Kini…
di hadapan kita hadir kembali mutiara lain peninggalan beliau.

📚 MUTIARA KALAM ILAHI

Saat memandang deretan jilid kitab ini, seakan kita tidak sedang melihat lembaran-lembaran kertas biasa. Di sana ada umur yang dihabiskan untuk menulis, ada keikhlasan yang disimpan dalam diam, ada nasihat seorang ayah untuk umatnya, dan ada cinta seorang alim kepada Al-Qur’an dan dakwah.

Kitab ini merupakan kumpulan tulisan tafsir beliau di rubrik tafsir Majalah Al Furqon, yang kini dihimpun menjadi sebuah karya besar dalam 5 jilid tebal, masing-masing sekitar 500–600 halaman.

Pembahasannya disusun menjadi tema-tema penting kehidupan seorang muslim:

1. Kitab Iman dan Tauhid
2. Kitab Ilmu
3. Kitab Ibadah
4. Kitab Harta dan Dunia
5. Kitab Akhlaq dan Hubungan Sosial
6. Kitab Doa, Infaq dan Dzikir
7. Kitab Fitnah dan Musibah
8. Kitab Manhaj dan Dakwah

Betapa indahnya apabila seorang alim telah wafat, namun lisannya masih terus berbicara melalui tulisan-tulisannya.
Tangannya telah berhenti menulis, namun nasihatnya masih mengetuk hati manusia.
Jasadnya telah dikuburkan, namun pahala ilmunya tetap mengalir tanpa henti.

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat yang luas kepada beliau, menerima seluruh amalnya, melapangkan kuburnya, dan menjadikan kitab ini sebagai cahaya bagi beliau di alam barzakh.

Dan semoga Mutiara Kalam Ilahi menjadi warisan ilmiah yang penuh keberkahan, sebagaimana kitab-kitab beliau sebelumnya telah memberi manfaat besar bagi umat.
https://www.facebook.com/share/p/1J8sPz1epj/