Jumat, 05 Juni 2026

"fitnah Takfir" oleh syaikh Albani

kitab yang sangat penting dikaji akhir2 ini, karena maraknya syubhat takfir kepada pemerintah muslim
dan insya Allah bisa juga dijadikan kajian tematik sekali majlis mungkin bedah bukuatau sejenisnya

judulnya "fitnah Takfir" oleh syaikh Albani rahimahullah, saking pentingnya pembahasan ini, sampai2 kitab ini dikaji dan "dibedahbuku" (kalau bahasa kita) oleh dua Syaikh mujaddid abad ini yaitu Syaikh Bin Baz rahimahullah dan Syaikh Utsaimin rahimahullah

antm bayangkan 3 ulama besar rujukan umat saling sinergi dan bersatu membahas hal ini dikarenakan penting dan bahayanya syubhat takfir di masa kini apalagi banyka menjangkit pemuda dan remaja kaum muslimin

kajian lengkap bedah bukunya bisa antm dengar disini https://www.youtube.com/watch?v=P1VQ_ikxwTM

versi pdf hasil tafrigh (transkip) bisa didownload disini : https://t.me/Aallbany/4182

------------------------

ayolah para dai, ustadz, dan khatib, semarakkan kajian, tabligh akbar, dan bedah buku antm dengan materi2 yang urgent dibutuhkan umat terkait aqidah, manhaj, tauhid, syirik, bidah, dan sejenisnya

dulu kajian2 salafi sedikit dan jarang tapi yang dibahas kebanyakan masalah aqidah dan manhaj, sekarang kajian salafi dimana2 jamaah juga banyak mengapa yang dibahas kebanyakan hanya tazkiyah nufus, keluarga, dan akhlak?

alhamdulillah kuantitas sekarang sudah banyak, saatnya memperbaiki kualitas

Nasihat ini juga ana tujukan kepada para dkm, panitia kajian, dan tim dibalik layar tabligh akbar, antm2 punya andil besar dalam tersebar nya ilmu yang benar di tengah umat, sudah saatnya tema2 kajian yang antm usulkan dan ajukan mulai perbanyk bahas ttg aqidah, tauhid, dan manhaj, kajian tematik2 mawaidh yg umum2 sdh bnyk dimana, mereka aja ahlu batil dan penyebar fitnah ga malu2 bikin tema2 menggelegar dan di pinggir jurang, kenapa malah tema2 kajian yang diusung antm2 sekarang banyak yang "main aman"
Ustadz lutfi setiawan

(mengulang kembali) studi mengenai kriteria Ihsan menurut hadits jaringan jagal indonesia 5 juni 2026 hari jumat

[5/6, 08.48] Ust Prasetyo J Hertanto: (mengulang kembali) studi mengenai kriteria Ihsan menurut hadits.

Hadits Syadad bin Aus,
Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda,

*"Sesungguhnya Allah menetapkan Ihsan (kebaikan) pada segala hal, apabila kalian membunuh, bunuhlah dengan baik, apabila kalian menyembelih, sembelihlah dengan baik, _hendaknya ia menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya_".*

Dalam hadits ini, mari kita lihat. Bagaimana kriteria Ihsan yang diajarkan Rasulullah sholallohu'alaihiwasalam.

Pertama, kalimat diawali dengan kata *inna* (sesungguhnya) dengan mubtada Allah dan khobarnya dalam bentuk jumlah fi'liyah, kataba ihsana 'ala kulli syai'

_إن_ *الله* _*كتب* الإحسان على كل_ شيء

Kemudian diikuti oleh huruf athaf fa yang menjadi athaf nasaq dan bermakna tasabub (sebab akibat).

Artinya, ketika Allah menetapkan Ihsan, maka Ihsan di dalam hadits ini dirinci dengan menajamkan pisau.

Tandanya.
_Jika kalian membunuh, bunuhlah dengan baik_.

_Jika menyembelih sembelihan dengan baik_.

Hendaknya ia menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.

Ada dua keadaan menghilangkan nyawa yang diperintahkan dengan ihsan. Logikanya.

Membunuh dengan baik (semisal qisosh) tajamkan pedangnya, agar ia senang (karena cepat)

Jika ia menyembelih, maka sembelih dengan pisau yang tajam, karena itu menyenangkan sembelihan (cepat matinya).

Jangan Ihsan ditafsirkan dengan animal welfare atau kesrawan ala barat, karena agama kita sempurna dan tidak membutuhkan modifikasi dari ahli/ilmuwan barat. Baik yang atheist maupun yang kafir.

Standar Ihsan adalah bilah yang tajam, dan inilah yang disebutkan dalam teks hadits.

Adapun di luar itu, merupakan interpretasi yang sah2 saja, namun tidak bisa menjadi standar ukuran syariat. Sebab tidak ada teks yang tegas. Semua menjadi tambahan saja.

Cukupkan kita dengan Hadits dan penjelasan ulama, tidak perlu menjadi Mujtahid baru yang merumuskan ajaran baru dalam agama Islam.

Allahua'lam
[5/6, 08.51] Ust Prasetyo J Hertanto: Orang ribut dengan gaya menebas/membacok. Ihsan atau tidak 🤣🤣🤣.
Lalu nahr dengan cara menusuk dianggap tidak ihsan? Terus nahr seperti apa kalau tidak ditusuk? 😅.

Hapus semua pemikiran liar, dan kembalikan kepada teks dan pemahaman ulama.
[5/6, 08.59] Ust Prasetyo J Hertanto: Contoh lagi. Dalam fiqh ada bahasan ulama

Pertama.
*"Jika putus kepala terlepas karena sembelihan, maka sembelihan tidak haram"* (Zadul Mustaqni). 
Kira2, yang paling mungkin kepala terlepas adalah tehnik sayat atau tehnik tebas?
Kemudian,
"syarat ketika, memutus kerongkongan dan tenggorokan, dan tidak dipersyaratkan terpisah (cukup teriris" (dalil tholib dan itmam matholib). Kira2, potensi tidak putus itu bisa terjadi dalam tehnik tebas atau tidak? Atau bahkan tehnik tebas malah yang lebih aman? Dan kenapa ulama membuat bahasan itu?
Coba baca Syarhul Mumthi ala Zadul Mustaqni karya Ibnu Utsaimin Juz 15, hal 72-75 (cetakan lama) dar Ibnu Jauzi.
[5/6, 09.14] Ust Prasetyo J Hertanto: Kemudian, bagaimana ulama memahami hadits Syadad?
Berkata Utsman bin Qoid an Najdi.

(Al Buhuti: dan makruh hukumnya, menyembelih dengan pisau yang tumpul) An Najdi: berdasar hadits: "Sesungguhnya Allah menetapkan Ihsan pada segala hal..." (hadits Syadad). Hidayatr Raghib syarah Umdatul Thalib, Utsman An Najdi, h. 739, cet. Dar Auroq Ats Tsaqofiyah, 2017, KSA.
[5/6, 09.20] Ust Prasetyo J Hertanto: Hadits Syadad, yang menggunakan kata "kataba". Secara Ushul dipahami hukum wajib, karena perintah. Sebagaimana dalam kaidah.

_Asal dari perintah adalah wajib._

Namun dalam kasus ini, ulama tidak memaknai hukum wajib, artinya, Ihsan itu bukan perkara wajib, namun perkara kesunahan dan ada pihak yang mengatakan adab.

Alasanya, ada hadits tentang larangan mengasah di hadapan hewan. Mafhumnya ada dua tafsiran. Pertama kalau mau mengasah jangan di hadapan hewan.
Kedua, kalau sudah di hadapan hewan, langsung sembelih dengan pisau tersebut, tidak perlu diasah di depannya.

Juga hadits Ka'ab soal budah perempuan kecil yang menyembelih dengan batu. Dan secara urf, kita semua tahu bahwa batu tidak mungkin setajam dan sehalus pisau jika yang memecahkan adalah anak perempuan yang tergesa-gesa. Andai itu dilarang, akan menyebabkan sembelihan tidak sah dan tidak boleh dimakan, namun dalam hadits, Rasulullah sholallohu'alaihiwasalam memerintahkan Ka'ab untuk memakannya. Dan dalam hal ini ada riwayat lain yang menguatkan dari Ady bin Hatim.
[5/6, 09.25] Ust Prasetyo J Hertanto: Apa yang saya tulis, semuanya bisa dipertanggungjawabkan dari ucapan ulama. Saya menulis, bukan sekedar dengan ingatan, namun betul-betul saya buka buku2nya
[5/6, 09.46] Ust Prasetyo J Hertanto: 
Tambahan.
Syarat pertama sembelihan dalam Hanabilah adalah Ahli Menyembelih.
Apa kriteria Ahli tersebut.
Berkata Ibnu Qudamah dalam Al Umdah al Fiqh.
Penyembelih yang Ahli yaitu, hendaklah ia berakal, mampu untuk menyembelih, muslim atau ahli kitab.
(Al Umdah, bab Sembelihan, h 125, cet Dar Imam Ahmad).
Berkata Baha'uddin Abdurrahman Al Maqdisi dalam Al Uddah syarah Umdah:

Berakal adalah mengetahui sembelihan adalah ditujukan untuk disembelih, kalau seandainya ia tidak berakal seperti anak-anak, orang gila, orang mabuk, tidak halal sembelihannya karena tidak sah maksud dan tujuannya, maka semisal, seseorang menebaskan pedangnya dan memutus leher kambing (tidak sah, karena tidak ada unsur kesengajaan, mafhumnya kalau sengaja tidak masalah/sah). Demikian pula jika sesuatu yang tajam mengenai leher kambing (pentj: secara tidak sengaja, semisal kambing mengenai atap seng yang tajam) dan menyembelihnya, maka tidak halal (karena tidak ada unsur menyengaja dari siapapun). 
Al Uddah, h 490, Darul Hadits, Kairo).

Kamis, 04 Juni 2026

Rumah terakhir yang ditempati Imam Al-Albani di Yordania sebelum wafatnya رحمه الله

اخر بيت سكنه الامام الالباني في الاردن قبل وفاته رحمه الله 

بيت الشيخ الألباني قبل هدمه بسنتين تقريبا
 ( تصوير الشيخ إحسان العتيبي ).

بيوت الإمام الألباني رحمه الله

١- بيت والده في ألبانيا:

      سَكَن الشيخ الألباني رحمه الله أوّلاً مع والده، في مسقط رأسه (أشقودرة shkodra) وهي عاصمة (ألبانيا) قديمًا.

       وألبانيا: هي إحدى دول إقليم البلقان؛ الواقع في جنوب شرق أوروبا، وهي من أجمل البلاد. وقد وُلد الشيخ فيها عام ١٩١٤ م.

٢- بيت والده في دمشق:

      ثم هاجر مع والده إلى دمشق سنة ١٩٢٢م تقريبًا، وسكن في محلة الأرنؤوط في دمشق.

٣- بيته في دمشق (الديوانية):

      ثم استقلّ ببيتٍ في منطقة «الديوانية» بدمشق، في شارع بغداد، مقابل «مستشفى الحياة»، عند موقف حافلات (حرستا – دوما).

وعندما سافر للتدريس في «الجامعة الإسلامية بالمدينة النبوية» عام ١٣٨١، أجّر بيته لأحدِ الأشخاص، ثم أُزيل هذا البيتُ مِن قبَل السلطات، وأخضعته الدولة للاستملاك الحكومي.
      وأعطت المستأجرَ بيتًا مقابله، ولم يعوّضوا الشيخَ شيئًا!

وكان سَكَنُه في المدينة النبوية في منطقة «السحيمي»، قرب دار الحديث.
٤- أرضه في شارع الثورة:

      وكان للشيخ رحمه الله أرضٌ بدمشق في «شارع الثورة»، على امتداد «مستشفى ابن النفيس»، فاستأذنه شخصٌ اسمه صبري في أن يبنيَ غرفةً فيها، ثم ذهبَت هذه الأرض أيضًا في التنظيم الحكومي، وعوّضوا المستأجرَ فقط!

٥- بيته في دمشق (المهاجرين):

      وسكن الشيخ أيضًا في دمشق في منطقة «المهاجرين»، وبيتُه فيها تحت يد زوجته (بنت القادري)  كاملاً، بعد أن طلقها رحمهما الله.

٦- بيته في دمشق (مخيم اليرموك):

      وفي حدود سنة ١٩٦٤- ١٩٦٥ تقريبًا اشترى الشيخ الألباني رحمه الله بيتًا في «مخيم اليرموك» جنوبي دمشق، وكان ذلك بدعوةٍ من تلميذه الأستاذ علي خشان رحمه الله، وهو صهر أخيه ناجي رحمه الله على ابنته.

      ثم استأجرَ هذا البيتَ شخصٌ، وكان يدفع أجرته ستين ليرة سورية فقط، وبقي على ذلك، حتى أصبح هذا المبلغ فيما بعد لا يساوي إلا دولارًا واحدًا، والمستأجر يرفض أن يزيد في الدفع، ثم امتنع من دفع الأجرة! ظلمًا وعدوانًا.

      مع أن هذا البيت كبيرٌ وواسع.

      فما استفاد الشيخ رحمه الله من بيوته وأراضيه في دمشق شيئًا!!

٧- بيته في الأردن (عمّان):

      وعندما هاجر إلى الأردن، خرج بلا بيتٍ ولا مالٍ، فاستقرض مبلغًا من المال من بعض إخوانه -لعله هو الشيخ زهير الشاويش- وبنى دارًا في «جبل هَمْلان» جنوب شرق العاصمة عمّان.

قال رحمه الله في مقدمة تحقيقه لكتاب «رفع الأستار»:
      (هاجرتُ بنفسي وأهلي من دمشق الشام إلى عمّان في أول شهر رمضان سنة ١٤٠٠، فبادرتُ إلى بناء دارٍ لي فيها آوي إليها، ما دمت حيًّا، فيسّر الله لي ذلك بمنّه وفضله، وسكنتُها بعد كثيرٍ من التعب والمرض، الذي أصابني من جراء ما بذلت من جهد في البناء والتأسيس، ولا زلتُ أشكو منه قليلاً، والحمد لله على كل حال، والحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات). انتهى

       ثم بعد استقراره في هذه الدار أُخرِج الشيخ من الأردن إلى سورية ، وذلك نهار الأربعاء ١٩ شوال ١٤٠١، فمكث في دمشق ليلتين، وفي الثالثة سافر إلى لبنان، ونزل في دار أخيه وصديقه المخلص الشيخ زهير الشاويش، في الحازمية ببيروت. وقد أشار إلى ذلك في الكتاب المذكور آنفًا.

      ثم سافر من بيروت إلى الشارقة (بدولة الإمارات) صحبةَ أحدِ إخوانه، ونزلَ في منزله فيها. كما ذكر في مقدمة كتابه «صحيح السيرة النبوية».

      وهذا الأخ هو محمد أمين نَظَري، وكان قد أنزَل الشيخَ في بيته، وخرج هو منه، كما أخبرني الشيخ محمود عطية عافاه الله.

      ثم أُعيد الشيخ إلى الأردن بوساطةٍ كريمةٍ من تلميذه وصاحبه الوفي الشيخ محمد شقرة رحمه الله.

      ونزل الشيخُ الألباني في بيته الذي كان قد بناه سابقًا في عمّان، في جبل همْلان.

      وبقي فيه إلى أن توفي سنة ١٤٢٠ رحمه الله.

      وبقي هذا البيت قائمًا حتى هذه السنة، ولم يسكنْه أحدٌ، حتى تصدع زَقْفه وجدرانه، وأصبح آيلا للسقوط.

      فهُدِم في جمادى الأولى سنة ١٤٤٠.

      أي: بعد وفاة الشيخ الألباني رحمه الله بعشرين سنة.

     فرحم اللهُ العلامةَ الألباني، وعوّضه عن بيوته بيوتًا وغرفًا في جنته.

وكتب
حسام بن محمد سيف الضُّمَيْري

المشرف العام على 
موقع الامام الالباني 
الشيخ محمد عبد اللطيف
https://www.facebook.com/share/p/1Ba5SgKKi9/
Rumah terakhir yang ditempati Imam Al-Albani di Yordania sebelum wafatnya رحمه الله
(Foto rumah Syaikh Al-Albani sekitar dua tahun sebelum dibongkar, diambil oleh Syaikh Ihsan Al-Utaibi).
Rumah-rumah Imam Al-Albani رحمه الله
1. Rumah ayahnya di Albania
Syaikh Al-Albani رحمه الله pertama kali tinggal bersama ayahnya di kampung halamannya, yaitu kota Shkodra (Asyqūdarah), yang dahulu merupakan ibu kota Albania.
Albania merupakan salah satu negara di kawasan Balkan yang terletak di Eropa Tenggara, dan termasuk negeri yang indah. Di sanalah Syaikh dilahirkan pada tahun 1914 M.
2. Rumah ayahnya di Damaskus
Kemudian beliau berhijrah bersama ayahnya ke Damascus sekitar tahun 1922 M, dan tinggal di kawasan Al-Arna'uth di Damaskus.
3. Rumah beliau di Damaskus (Ad-Diwaniyyah)
Setelah itu beliau memiliki rumah sendiri di daerah Ad-Diwaniyyah, Damaskus, di Jalan Baghdad, berhadapan dengan Rumah Sakit Al-Hayah, dekat halte bus Harasta–Douma.
Ketika beliau pergi mengajar di Islamic University of Madinah pada tahun 1381 H, rumah tersebut disewakan kepada seseorang.
Kemudian rumah itu dibongkar oleh pemerintah dan diambil alih untuk kepentingan negara.
Pemerintah memberikan rumah pengganti kepada penyewanya, tetapi Syaikh tidak mendapatkan ganti rugi sedikit pun.
Adapun ketika tinggal di Madinah, beliau menetap di daerah As-Suhaimi, dekat Darul Hadits.
4. Tanah beliau di Jalan Ats-Tsaurah
Beliau juga memiliki sebidang tanah di Damaskus, di Jalan Ats-Tsaurah, dekat Rumah Sakit Ibnu Nafis.
Seseorang bernama Shabri meminta izin kepada beliau untuk membangun sebuah kamar di atas tanah tersebut.
Namun tanah itu kemudian juga terkena proyek penataan kota oleh pemerintah, dan yang diberi kompensasi hanyalah orang yang menempatinya.
5. Rumah beliau di Damaskus (Al-Muhajirin)
Syaikh juga pernah tinggal di kawasan Al-Muhajirin, Damaskus.
Rumah tersebut tetap berada dalam penguasaan mantan istrinya (putri Al-Qadiri) setelah keduanya bercerai. Semoga Allah merahmati keduanya.
6. Rumah beliau di Damaskus (Kamp Yarmuk)
Sekitar tahun 1964–1965, Syaikh Al-Albani رحمه الله membeli sebuah rumah di Kamp Yarmuk, sebelah selatan Damaskus.
Pembelian rumah itu dilakukan atas dorongan murid beliau, Ustadz Ali Khasyan رحمه الله.
Rumah tersebut kemudian disewa oleh seseorang dengan harga sewa hanya 60 lira Suriah.
Penyewa itu terus membayar dengan nominal yang sama hingga bertahun-tahun kemudian, ketika nilainya bahkan tidak setara kecuali sekitar satu dolar AS.
Penyewa tersebut menolak menaikkan uang sewa, lalu akhirnya berhenti membayar sama sekali, secara zalim dan melampaui batas.
Padahal rumah itu besar dan luas.
Dengan demikian, Syaikh رحمه الله hampir tidak memperoleh manfaat apa pun dari rumah-rumah dan tanah miliknya di Damaskus.
7. Rumah beliau di Yordania (Amman)
Ketika beliau berhijrah ke Jordan, beliau keluar tanpa rumah dan tanpa harta.
Beliau meminjam sejumlah uang dari sebagian saudaranya—kemungkinan dari Syaikh Zuhair Asy-Syawisy—lalu membangun sebuah rumah di daerah Jabal Hamlan, tenggara ibu kota Amman.
Beliau berkata dalam muqaddimah tahqiq kitab Raf‘ul Astar:
“Aku berhijrah bersama diriku dan keluargaku dari Damaskus ke Amman pada awal Ramadan tahun 1400 H. Lalu aku segera membangun sebuah rumah untukku agar aku dapat berlindung dan tinggal di dalamnya selama aku masih hidup. Allah memudahkan hal itu bagiku dengan karunia dan keutamaan-Nya. Aku menempatinya setelah banyak kelelahan dan sakit yang menimpaku akibat usaha keras dalam pembangunan dan pondasinya. Hingga sekarang aku masih merasakan sedikit dampaknya. Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan, dan segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya sempurnalah amal-amal saleh.”
Namun setelah menetap di rumah tersebut, beliau dikeluarkan dari Yordania dan dipulangkan ke Suriah pada Rabu siang, 19 Syawal 1401 H.
Beliau tinggal dua malam di Damaskus, kemudian pergi ke Beirut dan tinggal di rumah saudaranya sekaligus sahabat setianya, Syaikh Zuhair Asy-Syawisy, di daerah Hazmiyah.
Setelah itu beliau pergi ke Sharjah di United Arab Emirates bersama salah seorang saudaranya dan tinggal di rumahnya.
Saudara tersebut adalah Muhammad Amin Nazhari.
Menurut penuturan Syaikh Mahmud Athiyyah, Muhammad Amin bahkan meninggalkan rumahnya sendiri agar Syaikh Al-Albani dapat tinggal di sana.
Kemudian Syaikh Al-Albani diizinkan kembali ke Yordania melalui perantaraan baik murid sekaligus sahabat setianya, Syaikh Muhammad Syuqrah رحمه الله.
Beliau lalu kembali menempati rumah yang telah dibangunnya di Jabal Hamlan, Amman.
Beliau tinggal di rumah itu hingga wafat pada tahun 1420 H رحمه الله.
Rumah tersebut tetap berdiri hingga beberapa tahun lalu, tetapi tidak dihuni oleh siapa pun. Atap dan dindingnya retak-retak hingga menjadi bangunan yang terancam roboh.
Akhirnya rumah itu dibongkar pada bulan Jumadal Ula tahun 1440 H.
Artinya, rumah itu masih berdiri sekitar dua puluh tahun setelah wafatnya Syaikh Al-Albani رحمه الله.
Semoga Allah merahmati Al-'Allamah Al-Albani dan mengganti rumah-rumah beliau dengan rumah-rumah dan kamar-kamar yang lebih baik di surga-Nya.
Ditulis oleh: Husam bin Muhammad Saif Adh-Dhumairi
Atas supervisi: Syaikh Muhammad Abdul Lathif
Ust noor akhmad setiawan

Hukum Berkuliah di Fakultas Hukum

1. Hukum Berkuliah di Fakultas Hukum

  • ​Syekh al-Albani menjelaskan bahwa jika tidak ada percampuran lawan jenis (ikhtilat) di kampus tersebut, dan mahasiswa tersebut sudah memiliki dasar pemahaman hukum syariat yang kuat (terutama terkait masalah muamalah dan jual beli), maka ia diperbolehkan mempelajari hukum positif 
  • Tujuan belajarnya adalah sekadar untuk mengetahui, memperluas wawasan, serta memahami sistem hukum yang digunakan oleh negara-negara saat ini .
  • ​Namun pada realitasnya, Syekh menilai kondisi ideal ini sangat sulit terwujud 
  •  Mahasiswa sering kali belum memiliki dasar agama yang kokoh, sehingga dikhawatirkan hukum positif tersebut justru mempengaruhi hati dan menyimpangkannya dari agama  Oleh karena itu, pada akhirnya beliau tidak menyarankan (tidak menasihati) untuk mengambil studi tersebut 

2. Menolak Prinsip "Tujuan Menghalalkan Cara"

  • ​Muncul argumen bahwa jika umat Islam tidak mempelajari hukum positif, hak-hak kaum muslimin akan hilang, atau tidak ada pengacara yang bisa membela umat Islam dalam persidangan .
  • ​Syekh al-Albani menegaskan bahwa argumen tersebut lahir dari kaidah non-Islam, yaitu "Tujuan menghalalkan segala cara"  Beliau mengumpamakannya dengan larangan wanita muslimah kuliah kedokteran di tempat yang terjadi ikhtilat parah dengan alasan "umat butuh dokter wanita" 
  • ​Menurut beliau, umat Islam yang taat (seperti kalangan salafi) harus tetap menjaga prinsip agama dan tidak boleh merendahkan moral atau menerobos larangan demi kemaslahatan tersebut  Urusan profesi pengacara atau dokter tersebut pasti akan tetap dipenuhi oleh kaum muslimin lainnya yang mungkin tidak terlalu ketat atau belum terlalu memperhatikan masalah halal-haram seperti mereka sehingga kebutuhan publik akan tetap terpenuhi tanpa harus mengorbankan prinsip agama kita 

3. Hukum Menggunakan Jasa Pengacara untuk Mengambil Hak

  • ​Di akhir video, penanya bertanya mengenai situasi di mana seorang muslim terzalimi (misalnya dalam kasus sengketa lalu lintas, penipuan cek, atau uangnya dirampas) dan ia membutuhkan bantuan hukum 
  • ​Penanya memastikan apakah boleh mendatangi pengacara untuk membela haknya di hadapan pengadilan tersebut 
  • ​Syekh al-Albani menjawab bahwa jika tujuannya adalah untuk mengambil hak yang terzalimi dalam rincian masalah seperti yang disebutkan, maka hal itu diperbolehkan dan tidak ada larangan sama sekali 
  • https://youtu.be/FFvrj3Wdmek?si=TSsXuyn8pUhfBvJp

قصة ابڪت الشيخ الألباني رحمه اللّٰه Kisah yang Membuat Syaikh Al-Albani رحمه الله Menangis

*✍🏻 قصة ابڪت الشيخ الألباني رحمه اللّٰه*
حڪى ‎#عصام_هادي الذي لازم الشيخ محمد ناصر الدين الألباني  رحمه اللّٰه في مڪتبته مدَّة خمس سـنوات؛ يُعينه ويخدمه، فذگر قصته مع الشيخ فقال: "ڪان الشيخ الألباني رحمه اللّٰه قد طلب مني أثناء عملي علىٰ (ابن حبان) و(تاريخ ابن عساڪر) 
إذا مررت بفائدة أن أقرأها عليه، فلما قرأتُ في ‎#ثقات_ابن_حبان ترجمة
#أبي_قلابة في أول المجلد الخامس، ذڪر فيها قصة عجيبة في صبره، فلما قرأتُها عليه، فما ڪدت أنهي ڪلماتي وأرفع رأسي، وإذ بإمامنا يبڪي، وقد  أجهشه البڪاء حتىٰ رفع صوته فيه، ثم قام، فدخل إلىٰ حجرته، وبعد دقائق عاد، فسلَّم بصوت فيه نحيب، ثم جلس، 
وتابع عمله.. 

💡ومن باب الفائدة أذڪر هذه القصة التي
 أبڪت الشيخ الألباني رحمه ﷲ

 ✍🏻قال #ابن_حبان:
عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ مُحَمَّدٍ، قَالَ: خَرَجْتُ إِلَىٰ سَاحِلِ الْبَحْرِ 
مُرَابِطاً، وَڪانَ رَابِطُنَا يَوْمَئِذٍ عَرِيشَ مِصْرَ، قَالَ:
 فَلَمَّا انْتَهَيْتُ إِلَىٰ السَّاحِلِ، فَإِذَا أَنَا بِبَطِيحَةٍ، وَفِي الْبَطِيحَةِ خيمة فِيهَا رجل قد ذهب يَدَاهُ وَرجلَاهُ وَثقل سَمعه 
وبصره، وَمَا لَهُ من جارحة تَنْفَـعهُ إِلَّا لِسَانه، وَهُوَ يَقُولُ: 
"اللَّهُمَّ أَوْزِعْنِي أَن أحمدگ حمداً أڪافىء بِهِ شُڪرَ
 نِعْمَتِگ الَّتِي أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيَّ وَفَضَّلْتَنِي علىٰ ڪثِيرٍ مِمَّنْ
 خَلَقْتَ تَفْضِيلاً"

✍️قال  #الأَوْزَاعِيُّ: 
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: قُلْتُ: وَاللَّهِ لآتِيَنَّ هَذَا الرَّجُلَ وَلأَسْأَلَنَّهُ 
أَنَّىٰ لَهُ هَذَا الْڪلامُ، فَهْمٌ أم عِلْمٌ أم إِلْهَامٌ أُلْهِمَ ؟!!! 
فَأَتَيْتُ الرَّجُلَ، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَقُلْتُ: سَمِعْتُگ وَأَنْتَ تَقُولُ:
"اللَّهُمَّ أَوْزِعْنِي أَنْ أحمدگ حمداً أڪافىء بِهِ شُڪرَ نِعْمَتِگ الَّتِي أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيَّ وَفَضَّلْتَنِي علىٰ ڪثِيرٍ من خَلَقْتَ 
تَفْضِيلاً"  
فَأَيُّ نِعْمَةٍ مِنْ نِعَمِ اللّٰهِ عَلَيْگ تَحْمَدُهُ عَلَيْهَا ؟! 
وَأَيُّ فَضِيلَةٍ تَفَضَّلَ بِهَا عَلَيْگ تَشْڪُرُهُ عَلَيْهَا ؟!
قَالَ: وَمَا تَرَىٰ مَا صَـنَعَ رَبِّي؟! وَاللّٰهِ لَوْ أَرْسَلَ السَّمَاءَ عَلَيَّ
 نَاراً فَأَحْرَقَتْنِي وَأَمَرَ الْجِبَالَ فَدَمَّرَتْنِي وَأَمَرَ الْبِـحَارَ فَغَرَّقَتْنِي وَأَمَرَ الأَرْضَ فَبَلَعَتْنِي، مَا ازْدَدْتُ لِرَبِّي إِلا شُڪراً لِمَا أَنْعَمَ عَلَيَّ مِنْ لِسَانِي هَذَا، وَلَڪنْ يَا عَبْدَ اللّٰهِ إِذْ أَتَيْتَنِي لِي إِلَيْگ حَاجَةٌ قَدْ تَرَانِي علىٰ أَيِّ حَالَةٍ أَنَا، أَنَا لَسْتُ أَقْدِرُ لِنَفْسِي علىٰ ضُرٍّ وَلا نَفْعٍ، وَلَقَدْ ڪانَ مَعِيَ بُنَيٌّ لِي يَتَعَاهَدُنِي فِي وَقت صَلَاتي فيوضيني، وَإِذَا جُعْتُ أَطْعَمَنِي وَإِذَا عَطِشْتُ سَقَانِي، وَلَقَدْ فَقَدْتُهُ مُنْذُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فَتَحَسَّسْهُ لِي رَحِمَگ اللّٰهُ، فَقُلْتُ: 
وَاللّٰهِ مَا مَشَىٰ خَلْقٌ فِي حَاجَةِ خَلْقٍ ڪانَ أَعْظَمَ عِنْدَ اللّٰهِ
 أَجْراً مِمَّنْ يَمْشِي فِي حَاجَةِ مِثْلِگ فَمَضَيْتُ فِي طَلَبِ الْغُلامِ، فَمَا مَضَيْتُ غَيْرَ بَعِيدٍ حَتَّىٰ صِرْتُ بَيْنَ ڪثْبَانٍ مِنَ الرَّمْلِ، فَإِذَا أَنَا بِالْغُلامِ قَدِ افْتَرَسَهُ سَـبُعٌ وَأَڪلَ لَحْمَهُ، فَاسْتَرْجَعْتُ،
 وَقُلْتُ: أَنَّىٰ لِي وَجْهٌ رَقِيقٌ آتِيَ بِهِ الرَّجُلَ، فَبَيْنَمَا أَنَا مُقْـبِلٌ نَحْوَهُ إِذْ خَطَرَ علىٰ قَلْبِي ذِڪرُ أَيُّوبَ النَّبِيِّ ﷺ ، فَلَمَّا أَتَيْتُهُ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيَّ السَّلامَ 
فَقَالَ: أَلَسْتَ بِصَاحِبِي ؟ قُلْتُ: بَلَىٰ، 
قَالَ: مَا فَعَلْتَ فِي حَاجَتِي ؟ 
فَقُلْتُ: أَنْتَ أَڪرَمُ علىٰ اللّٰهِ أَمْ أَيُّوبُ النَّبِيُّ ؟ 
قَالَ : بَلْ أَيُّوبُ النَّبِيُّ 
قُلْتُ: هَلْ عَلِمْتَ مَا صَنَعَ بِهِ رَبُّهُ ؟ 
أَلَيْسَ قَدِ ابْتَلاهُ بِمَالِهِ وَآلِهِ وَوَلَدِهِ ؟ 
قَالَ: بَلَىٰ
قُلْتُ: فَڪيْفَ وَجَدَهُ ؟ 
قَالَ: وَجَدَهُ صَابِراً شَاڪراً حَامِداً 
قُلْتُ: ألَمْ يَرْضَ مِنْهُ ذَلِگ حَتَّىٰ أَوْحَشَ مِنْ أَقْرِبَائِهِ وَأَحِبَّائِهِ ؟ 
قَالَ: نَعَمْ
قُلْتُ: فَڪيْفَ وَجَدَهُ رَبُّهُ ؟ 
قَالَ: وَجَدَهُ صَابِراً شَاڪراً حَامِداً  
قُلْتُ : فَلَمْ يَرْضَ مِنْهُ بِذَلِگ حَتَّىٰ صَيَّرَهُ عَرَضاً لِمَارِّ
 الطَّرِيقِ هَلْ عَلِمْتَ ؟ 
قَالَ : نَعَمْ 
قُلْتُ : فَڪيْفَ وَجَدَهُ رَبُّهُ ؟
قَالَ : صَابِراً شَاڪراً حَامِداً، أَوْجِزْ رَحِمَگ اللّٰهُ 
قُلْتُ لَهُ: إِنَّ الْغُلامَ الَّذِي أَرْسَلْتَنِي فِي طَلَبِهِ وَجَدْتُهُ بَيْنَ 
ڪثْبَانِ الرَّمْلِ وَقَدِ افْتَرَسَهُ سَـبُعٌ فَأَڪلَ لَحْمَهُ فَأَعْظَمَ اللّٰهُ
 لَگ الأَجْرَ، وَأَلْهَمَگ الصَّبْرَ ،فَقَالَ الْمُبْتَلَىٰ: 
‏الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي لَمْ يَخْلُقْ مِنْ ذُرِّيَّتِي خَلْقاً يَعْصِيهِ 
فَيُـــعَذِّبَهُ بِالنَّارِ ثُمَّ اسْـتَرْجَعَ وَشَهَقَ شَهْقَةً فَمَاتَ 

فَقُلْتُ: إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، عَظُمَتْ مُصِيبَتِي، 
رَجُلٌ مِثْلُ هَذَا إِنْ تَرَڪتُهُ أَڪلَتْهُ السِّـبَاعُ وَإِنْ قَعَدْتُ 
لَمْ أَقْدِرْ علىٰ ضُرٍّ وَلا نَفْعٍ فَسَجَّيْتُهُ بِشَمْلَةٍ ڪانَتْ عَلَيْهِ 
وَقَعَدْتُ عِنْدَ رَأْسِهِ بَاڪياً، فَبَيْنَمَا أَنَا قَاعِدٌ إِذْ تَهَجَّمَ عَلَيَّ 
أَرْبَعَةُ رِجَالٍ، فَقَالُوا: 
يَا عَبْدَ اللّٰهِ مَا حَالُگ وَمَا قِصَّتُگ ؟ 
فَقَصَصْتُ عَلَيْهِمْ قِصَّتِي وَقِصَّتَهُ، 
فَقَالُوا لِي: اڪشِفْ لَنَا عَنْ وَجْهِهِ، فَعَسَىٰ أَنْ نَعْرِفَهُ، فَڪشَفْتُ عَنْ وَجْهِهِ، فَانْڪبَّ الْقَوْمُ عَلَيْهِ يُقَبِّلُونَ عَيْنَيْهِ مَرَّةً وَيَدَيْهِ أُخْرَىٰ وَيَقُولُونَ: بِأَبِي عَيْنٌ طَالَ مَا غَضَّتْ عَنْ مَحَارِمِ اللّٰهِ، 
وَبِأَبِي وَجِسْمُهُ طَالَ مَا ڪنْتَ سَاجِداً وَالنَّاسُ نِيَامٌ،
فَقُلْتُ : مَنْ هَذَا يَرْحَمُڪمُ اللّٰهُ ؟ 
فَقَالُوا : هَذَا ‎#أَبُو_قِلابَةَ_الْجرْمِي صَاحب ابن عَبَّاسٍ، 
لَقَدْ ڪانَ شَدِيدَ الْحُبِّ لِلّٰهِ وَلِلنَّبِيِّ ﷺ، فَغَسَّلْنَاهُ وَڪفَّنَّاهُ بِأَثْوَابٍ ڪانَتْ مَعَنَا وَصَلَّيْنَا عَلَيْهِ وَدَفَنَّاهُ، 
فَانْصَرَفَ الْقَوْمُ وَانْصَرَفْتُ إِلَىٰ رِبَاطِي، فَلَمَّا أَنْ جَنَّ عَلَيَّ
 اللَّيْلُ وَضَعْتُ رَأْسِي فَرَأَيْتُهُ فِيمَا يَرَىٰ النَّائِمُ فِي رَوْضَةٍ
 مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ، وَعَلَيْهِ حُلَّتَانِ مِنْ حُلَلِ الْجَنَّةِ، وَهُوَ 
يَتْلُو الْوَحْيَ.. 
سَلامٌ عَلَيْڪمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَىٰ الدَّارِ" 
فَقُلْتُ: أَلَسْتَ بِصَاحِبِي؟!
قَالَ بَلَىٰ
قُلْتُ أَنَّىٰ لَگ هَذَا ؟!
قَالَ : إِنَّ للّٰهِ دَرَجَاتٍ لَا تُنَالُ ‎#إِلا_بِالصَّبْرِ عِنْدَ الْبَلاءِ
 وَالشُّڪرِ عِنْدَ الرَّخَاءِ مَعَ خَشْيَةِ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ
 فِي السِّرِّ وَالْعَلانِيَةِ..

📚الثقات_لابن_حبان أول المجلد الخامس 
[ترجمة أبي قلابة رحمه اللّٰه غفر اللّٰه لنا ولڪم].

المشرف العام
 على موقع الامام الالباني 
الشيخ محمد عبد اللطيف

Patut direnungkan 
------

✍🏻 Kisah yang Membuat Syaikh Al-Albani رحمه الله Menangis
Diceritakan oleh Issam Hadi yang selama lima tahun mendampingi Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani di perpustakaannya.
Ia berkata:
"Syaikh Al-Albani رحمه الله pernah memintaku ketika kami sedang mengerjakan Tsiqāt Ibn Hibban dan Tarikh Ibn Asakir, agar setiap kali aku menemukan sebuah faedah, aku membacakannya kepada beliau.
Ketika aku membaca biografi Abu Qilabah al-Jarmi pada awal jilid kelima Tsiqāt Ibn Hibban, yang di dalamnya terdapat kisah menakjubkan tentang kesabarannya, aku membacakannya kepada beliau.
Belum sempat aku menyelesaikan bacaanku dan mengangkat kepalaku, ternyata imam kami menangis. Tangisnya semakin menjadi hingga terdengar isakannya. Kemudian beliau berdiri dan masuk ke kamarnya.
Beberapa menit kemudian beliau kembali. Beliau mengucapkan salam dengan suara yang masih terdengar isak tangis, lalu duduk dan melanjutkan pekerjaannya."
💡 Sebagai faedah, berikut kisah yang membuat Syaikh Al-Albani رحمه الله menangis.
Kisah Abu Qilabah رحمه الله
✍🏻 Ibn Hibban berkata:
Dari Abdullah bin Muhammad, ia berkata:
"Aku keluar menuju pantai untuk berjaga di perbatasan. Saat itu tempat penjagaan kami berada di Arisy, Mesir.
Ketika aku sampai di pantai, aku melihat sebuah tanah lapang. Di tanah lapang itu terdapat sebuah kemah.
Di dalam kemah itu ada seorang laki-laki yang kedua tangannya dan kedua kakinya telah hilang. Pendengarannya dan penglihatannya telah sangat lemah. Tidak ada anggota tubuh yang masih bermanfaat baginya selain lisannya.
Ia mengucapkan:
'Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku agar aku memuji-Mu dengan pujian yang dengannya aku dapat menunaikan syukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan yang dengannya Engkau telah melebihkanku atas banyak makhluk yang Engkau ciptakan.'"
Abdullah berkata:
"Demi Allah, aku akan mendatangi orang ini dan bertanya kepadanya dari mana ia memperoleh ucapan seperti ini. Apakah karena pemahaman, ilmu, atau ilham yang diberikan kepadanya?"
Lalu aku mendatanginya dan mengucapkan salam.
Aku berkata:
"Aku mendengarmu berdoa:
'Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku agar aku memuji-Mu dengan pujian yang dengannya aku dapat menunaikan syukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan yang dengannya Engkau telah melebihkanku atas banyak makhluk yang Engkau ciptakan.'
Nikmat Allah yang mana yang engkau syukuri? Dan keutamaan apa yang Allah berikan kepadamu sehingga engkau memuji-Nya atas hal itu?"
Ia menjawab:
"Tidakkah engkau melihat apa yang telah diperbuat Rabbku kepadaku?
Demi Allah, seandainya Dia menurunkan api dari langit kepadaku lalu membakarku, atau memerintahkan gunung-gunung lalu menghancurkanku, atau memerintahkan lautan lalu menenggelamkanku, atau memerintahkan bumi lalu menelanku, niscaya hal itu tidak akan menambahku kecuali rasa syukur kepada Rabbku atas nikmat yang telah Dia anugerahkan kepadaku berupa lisan ini.
Akan tetapi, wahai Abdullah, karena engkau telah datang kepadaku, aku memiliki satu kebutuhan kepadamu.
Sebagaimana engkau lihat keadaanku, aku tidak mampu mendatangkan manfaat atau menolak mudarat bagi diriku sendiri.
Dahulu aku memiliki seorang anak laki-laki yang mengurusku. Ketika masuk waktu shalat, ia membantuku berwudhu. Jika aku lapar, ia memberiku makan. Jika aku haus, ia memberiku minum.
Namun aku telah kehilangannya sejak tiga hari yang lalu. Tolong carikan dia untukku, semoga Allah merahmatimu."
Abdullah berkata:
"Demi Allah, tidak ada seorang pun yang berjalan untuk memenuhi kebutuhan seseorang yang lebih besar pahalanya di sisi Allah daripada orang yang berjalan memenuhi kebutuhan orang seperti ini."
Maka aku pergi mencari anak itu.
Tidak lama kemudian aku sampai di antara gundukan-gundukan pasir.
Ternyata anak itu telah diterkam seekor binatang buas dan dagingnya telah dimakan.
Aku mengucapkan:
'Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn.'
Lalu aku berkata dalam hati:
"Bagaimana mungkin aku sanggup menyampaikan berita ini kepadanya?"
Ketika aku kembali, terlintas dalam hatiku kisah Nabi Ayyub.
Setelah aku sampai dan mengucapkan salam, ia menjawab salamku.
Lalu ia berkata:
"Bukankah engkau orang yang tadi datang kepadaku?"
Aku menjawab:
"Benar."
Ia berkata:
"Bagaimana dengan kebutuhanku?"
Aku berkata:
"Menurutmu, siapakah yang lebih mulia di sisi Allah, engkau atau Nabi Ayyub?"
Ia menjawab:
"Tentu Nabi Ayyub."
Aku berkata:
"Tahukah engkau apa yang dilakukan Rabbnya terhadap beliau? Bukankah Allah mengujinya dengan harta, keluarga, dan anak-anaknya?"
Ia menjawab:
"Ya."
Aku berkata:
"Bagaimana Allah mendapatinya?"
Ia menjawab:
"Sabar, bersyukur, dan memuji Allah."
Aku berkata:
"Bukankah Allah juga menjauhkannya dari kerabat dan orang-orang yang dicintainya?"
Ia menjawab:
"Ya."
Aku berkata:
"Bagaimana Allah mendapatinya?"
Ia menjawab:
"Sabar, bersyukur, dan memuji Allah."
Aku berkata:
"Bukankah Allah juga menjadikannya bahan pembicaraan orang-orang yang lewat?"
Ia menjawab:
"Ya."
Aku berkata:
"Bagaimana Allah mendapatinya?"
Ia menjawab:
"Sabar, bersyukur, dan memuji Allah. Ringkaskanlah, semoga Allah merahmatimu."
Maka aku berkata:
"Anak yang engkau suruh aku mencarinya, aku menemukannya di antara gundukan-gundukan pasir. Ia telah diterkam seekor binatang buas yang memakan dagingnya.
Semoga Allah membesarkan pahalamu dan mengilhamkan kesabaran kepadamu."
Orang yang tertimpa ujian itu berkata:
"Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan dari keturunanku seorang makhluk yang bermaksiat kepada-Nya lalu Dia mengazabnya dengan neraka."
Kemudian ia mengucapkan:
"Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn."
Lalu ia menarik napas panjang...
dan wafat.
Abdullah berkata:
"Aku berkata:
'Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn.'
Musibahku sungguh besar.
Jika aku meninggalkannya, binatang-binatang buas akan memakannya.
Jika aku tetap di sampingnya, aku tidak mampu berbuat apa-apa.
Maka aku menutup tubuhnya dengan kain yang ada padanya dan duduk di samping kepalanya sambil menangis."
Ketika itu datang empat orang lelaki.
Mereka bertanya tentang keadaanku dan kisah yang terjadi.
Aku pun menceritakan semuanya.
Mereka berkata:
"Bukalah wajahnya untuk kami. Barangkali kami mengenalnya."
Ketika aku membuka wajahnya, mereka langsung menunduk mencium kedua matanya dan kedua tangannya.
Mereka berkata:
"Dengan ayahku, inilah mata yang lama menunduk dari perkara-perkara yang diharamkan Allah."
"Dengan ayahku, inilah tubuh yang lama bersujud kepada Allah ketika manusia sedang tidur."
Aku bertanya:
"Siapakah orang ini?"
Mereka menjawab:
"Ini adalah Abu Qilabah Al-Jarmi, sahabat Ibnu Abbas. Ia sangat mencintai Allah dan Nabi ﷺ."
Mereka lalu memandikannya, mengafaninya dengan pakaian yang mereka bawa, menyalatinya, dan menguburkannya.
Abdullah berkata:
"Ketika malam tiba dan aku meletakkan kepalaku untuk tidur, aku melihatnya dalam mimpi berada di sebuah taman dari taman-taman surga.
Ia mengenakan dua pakaian dari pakaian surga.
Ia membaca firman Allah:
﴿سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ﴾
'Keselamatan atas kalian karena kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.' (QS. Ar-Ra'd: 24)
Aku berkata:
"Bukankah engkau sahabatku itu?"
Ia menjawab:
"Benar."
Aku bertanya:
"Bagaimana engkau memperoleh semua ini?"
Ia menjawab:
"Sesungguhnya Allah memiliki derajat-derajat yang tidak dapat diraih kecuali dengan kesabaran ketika tertimpa musibah, bersyukur ketika memperoleh kelapangan, dan takut kepada Allah عز وجل dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan."
📚 Tsiqāt Ibn Hibban, jilid 5, biografi Abu Qilabah رحمه الله.
Ust noor akhmad setiawan

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah (Al-Hafiz Zainuddin Abdul Rahman bin Ahmad bin Rajab) adalah seorang imam dan ulama besar, namun beliau merupakan sosok yang sangat zuhud, warak, dan rendah hati

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah (Al-Hafiz Zainuddin Abdul Rahman bin Ahmad bin Rajab) adalah seorang imam dan ulama besar, namun beliau merupakan sosok yang sangat zuhud, warak, dan rendah hati 

​Salah seorang muridnya menceritakan sebuah kisah:

Suatu hari, ketika kami sedang berada di salah satu majelis ilmu bersama syekh kami (Ibnu Rajab), beliau menjelaskan sebuah permasalahan agama secara mendalam dengan penjelasan yang sangat luar biasa menakjubkan 

​Kemudian di hari yang sama, kami diundang bersamanya untuk menghadiri majelis salah seorang hakim agung (pembesar qadhi) . Di majelis tersebut, orang-orang yang hadir mulai membahas permasalahan agama yang sama dengan yang dibahas oleh Syekh Ibnu Rajab sebelumnya .Namun, penjelasan mereka sama sekali tidak ada apa-apanya dan tidak mendekati keindahan penjelasan yang disampaikan oleh syekh kami di majelisnya .

​Kami pun memandangi syekh kami, berharap beliau akan angkat bicara, menjelaskan kepada mereka, dan memberikan faedah agar keutamaan ilmu beliau tampak di hadapan mereka . Sebagai murid, tentu kami ingin keutamaan guru kami terlihat dan kami merasa bangga dengannya. Akan tetapi, beliau memilih untuk diam saja .

​Ketika kami beranjak pergi, saya dan beberapa teman mendekati beliau dan berkata, "Semoga Allah membalas kebaikan Anda dan menambah keutamaan Anda. Anda telah menjelaskan permasalahan ini kepada kami dengan begitu rinci di masjid, namun ketika masalah ini dibahas di majelis tadi, Anda sama sekali tidak menyampaikan apa pun kepada mereka. Mengapa Anda tidak memberi tahu mereka?" .

​Mendengar hal itu, beliau mengucapkan sebuah kalimat yang mencerminkan jiwa yang bersih dari kesombongan ilmu .Beliau berkata:

"Majelis bersama kalian (di masjid) adalah karena Allah, sedangkan majelis tadi adalah majelis yang diinginkan untuk urusan dunia." 

https://youtu.be/yDj6--4bqoc?si=TqN0yiytaItspzyM

Disibukkan dengan Dunia Melemahkan Tauhid

Disibukkan dengan Dunia Melemahkan Tauhid

[00:00] Tidak diragukan lagi bahwa kesibukan dengan urusan dunia dapat melemahkan tauhid. Sebab, tauhid bukanlah sekadar perkara logika atau akal saja; tauhid adalah ilmu dan amal, serta ketundukan kepada Allah Azza wa Jalla.

[00:12] Semakin kuat dunia masuk ke dalam hati dan seseorang semakin disibukkan dengan syahwat—baik yang mubah (diperbolehkan), apalagi yang diharamkan—maka perhatian terhadap tauhid akan semakin melemah.

[00:27] Ambil contoh, berapa persentase orang yang peduli dan mempelajari buku-buku para ulama dakwah? Setiap orang mungkin berkata, "Kami tahu Kitab Tauhid dan kami tahu kitab-kitab penjelasannya." Namun, ketika Anda bertanya kepada mereka tentang rincian masalah di dalamnya, mereka tidak tahu. Bahkan terkadang orang tersebut dinisbatkan sebagai ahli ilmu atau penuntut ilmu. Hal ini tentu menunjukkan adanya kekurangan dalam banyak masalah.

[00:44] Banyak masalah yang dibahas oleh para ulama dakwah di dalam kitab-kitab mereka, seperti dalam kitab Ad-Durar As-Saniyyah atau kitab-kitab risalah lainnya, yang belum pernah dilihat atau dibaca oleh sebagian orang. Padahal, hubungan dengan kitab-kitab ini adalah hubungan dengan dakwah itu sendiri, karena hubungan dengan dakwah adalah hubungan dengan tauhid.

[01:04] Hubungan ini dapat dibangun melalui beberapa cara utama:

  1. ​Generasi muda dan para penuntut ilmu harus menaruh perhatian besar pada kitab-kitab para ulama dakwah.
  2. [01:16] Mereka harus terhubung dengan para ulama yang dapat menjelaskan makna dari perkataan para ulama dakwah tersebut, karena membaca sendiri saja tidaklah cukup.

Penyebaran Praktik Syirik dan Sihir

[01:27] Ada banyak masalah yang wajib disebarluaskan dan dijelaskan di tengah masyarakat. Ambil contoh, masalah sihir. Saat ini, para wanita kerap didatangi oleh orang-orang tertentu yang mempermudah mereka untuk pergi ke tukang sihir atau dukun. Terkadang para suami tidak menyadarinya. Sang istri mungkin beralasan, "Saya mau pergi ke pak kiai/ustaz untuk dirukyah," tanpa memberi tahu kenyataan sebenarnya tentang apa yang ia lihat atau apa yang dilakukan oleh orang tersebut.

[01:50] Banyak orang yang mempraktikkan perdukunan, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Sihir kini semakin tersebar, dan cara membantahnya hanyalah dengan tauhid.

[02:02] Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: "Setiap kali pengamalan terhadap peninggalan para nabi (yaitu tauhid dan keimanan) melemah di suatu negeri, maka para penyihir akan semakin kuat di sana." Hal ini karena para penyihir bekerja sama dengan setan untuk menimbulkan penyakit atau ikatan sihir. Hukuman bagi penyihir adalah hukuman bagi seorang murtad, karena ia memang telah murtad dan kafir. [02:35] Seorang penyihir adalah kafir, karena tidak mungkin seseorang bisa menyihir kecuali dengan melakukan kesyirikan.

[02:44] Memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai hal ini termasuk memberikan pemahaman tentang pokok agama (usuluddin). Banyak orang meremehkan urusan penyihir dan dukun dengan dalih "dia hanya mengobati atau meramal". Padahal ketika kita melihat apa yang ada di tempat mereka, kita mendapati kemenyan dan ritual seperti yang dilakukan para dukun.

Bentuk-Bentuk Syirik yang Diremehkan

[02:55] Contoh lain dari meremehkan bentuk kesyirikan adalah masalah zodiak/ramalan bintang. Seseorang membawa majalah yang berisi ramalan zodiak ke rumahnya. Kemudian anak muda, wanita, atau bahkan kepala rumah tangga membaca ramalan tersebut: "Zodiak Gemini: Anda akan mendapatkan uang, kebahagiaan, atau Anda akan bepergian."

[03:13] Ketahuilah, ini adalah perdukunan (keperamalan)! Barangsiapa yang membacanya, maka ia sama saja telah mendatangi dukun. Ketika Anda mendatangi dukun, pilihannya adalah Anda sekadar bertanya atau Anda memercayainya. [03:36] Barangsiapa yang membaca ramalan tersebut, hukumnya sama dengan orang yang mendatangi dukun. Jika ia memercayainya, maka ia dihukumi telah memercayai dukun. Dan barangsiapa memercayai apa yang dikatakan dukun, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah bentuk syirik asghar (syirik kecil) atau perdukunan yang masuk ke dalam rumah-rumah. Di manakah para ahli tauhid untuk mengingkari hal ini?

[03:52] Masalah lainnya adalah ucapan syirik yang sering digunakan oleh anak-anak maupun orang dewasa (syirik asghar). Banyak orang yang menyandarkan nikmat atau keselamatan kepada manusia. Misalnya ucapan: "Kalaulah bukan karena pilot, pasti akan terjadi begini," atau "Kalaulah bukan karena si fulan, pasti akan begini." Ini tidak diragukan lagi termasuk jenis kesyirikan yang ditolak oleh dakwah tauhid.

[04:15] Saya sendiri pernah melihat di sebuah tempat di Riyadh, seekor domba disembelih di depan pintu sebuah rumah oleh pemiliknya yang termasuk orang awam atau jahil. Saya meminta pemilik rumah untuk keluar, namun ia tidak keluar, dan kemudian terjadi hal-hal lainnya. Intinya, bagaimana kejahilan (kebodohan terhadap agama) ini bisa sampai ke tingkat ini?

[04:36] Seseorang datang kepadanya dan berkata, "Kita harus menyembelih sesuatu di sini." Sebagian kontraktor atau pekerja bangunan juga melakukan hal serupa; ketika mereka menuangkan semen pertama untuk tiang atau atap rumah, mereka berkata, "Kita harus menyembelih hewan." [04:51] Apa ini? Ini semua adalah penyembelihan yang ditujukan untuk menolak gangguan atau kejahatan jin.

​Ada banyak masalah tauhid yang tidak diketahui oleh penduduk negeri ini, padahal mereka berada di atas fitrah, tetapi mereka tidak mengetahuinya karena kebodohan.

Pentingnya Al-Wala' wal Bara' dan Menjaga Tauhid Tetap Hidup

[05:02] Yang lebih besar dari itu adalah masalah Al-Wala' wal Bara' (loyalitas dan berlepas diri). Ada orang yang mencintai pelaku syirik, atau hatinya tidak merasa benci dan asing terhadap orang musyrik. Ia melihat kesyirikan, namun hatinya tidak merasa marah atau cemburu karena Allah. Bagaimana orang seperti ini bisa menjadi seorang muwahhid (ahli tauhid) yang jujur, yang mengerti dan paham tentang tauhid?

[05:22] Mengapa demikian? Karena syirik adalah bentuk penghinaan dan celaan terhadap Allah Jalal wa Ala. Seseorang jika ayahnya atau dirinya sendiri dihina, ia pasti akan marah dan bertindak. Lalu bagaimana bisa hatinya tidak merasa marah ketika Allah Jalal wa Ala yang dicela dan dihina? Ia melihat peribadatan kepada selain Allah, namun ia biasa saja.

[05:37] Sebagian orang juga menonton berbagai saluran televisi yang menayangkan hal-hal yang bertentangan dengan tauhid, seperti sihir, perdukunan, penyembahan, atau kisah-kisah karomah wali yang menyimpang, urusan sufi, dan sejenisnya. Ia melihatnya seolah-olah itu adalah hal yang biasa. Sebagian orang juga meremehkan kehadiran di acara-acara maulid (yang menyimpang).

[05:54] Intinya, ada banyak hal yang masuk ke dalam kehidupan kita yang membutuhkan edukasi. Tauhid itu jika tidak disuarakan dan dijelaskan secara terus-menerus terang-terangan, maka ia akan dilupakan.

[06:03] Ingatlah hadis Ibnu Abbas di dalam Shahih Al-Bukhari tentang sebab awal mula penyembahan berhala di zaman Nabi Nuh 'alaihis salam (seperti berhala Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr). Berhala-berhala itu awalnya dibuat berupa patung-patung orang saleh untuk menghormati mereka. [06:19] Namun, ketika ilmu agama telah sirna (terhapus), patung-patung tersebut akhirnya disembah. Ketika ilmu telah hilang, manusia akan mewarisi sesuatu tanpa ada lagi yang melarangnya.

​Generasi berikutnya akan berkata, "Orang tua kami tidak pernah melarang kami, kami tidak tahu apa-apa." Anda dapati orang-orang tua saat ini masih memiliki pemahaman tauhid yang istimewa, tetapi pertanyaannya, apakah tauhid ini sudah diwariskan kepada anak-anak kecil mereka?

Kewajiban Para Pendakwah dan Keutamaan Tauhid

[06:34] Harus ada keberlanjutan dalam mengajarkan tauhid. Perkara terbesar yang harus ditanamkan di dalam hati generasi muda dan manusia adalah tauhid. Karena barangsiapa yang menghadap Allah dalam keadaan bertauhid dan tidak berbuat syirik sedikit pun, maka dosa-dosanya akan diampuni.

[06:44] Allah berfirman (dalam hadis qudsi): "Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan membawa dosa seisi bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan mendatangi-mu dengan ampunan seisi bumi pula."

​Maka sarana terbesar untuk mendapatkan ampunan dosa dan kebaikan yang paling agung adalah tauhid. Dan pembahasan mengenai hal ini sangatlah panjang.

[07:08] Oleh karena itu, wajib bagi para khatib untuk menelusuri fenomena-fenomena kesyirikan ini, menyampaikannya kepada masyarakat, serta memperingatkan mereka darinya. Wajib bagi para khatib dan dai untuk menyampaikan masalah tauhid. Tauhid itu didakwahkan secara global maupun secara teperinci dalam setiap permasalahannya.

[07:20] Jelaskan tentang tauhidul qulub (tauhidnya hati), ketundukan kepada Allah, rasa cinta (mahabbah), harap (raja'), kembali bertaubat (inabah), tawakal, dan rasa takut (khauf) kepada Allah Jalal wa Ala. Banyak orang saat ini yang kehilangan rasa takut kepada Allah. Jenazah lewat di hadapannya, namun tidak ada rasa takut. Musibah terjadi, tidak ada rasa takut. Ayat-ayat Al-Qur'an diperdengarkan, tidak ada rasa takut. Rasa takut telah melemah, padahal takut adalah salah satu bab dan ibadah yang agung dalam tauhid.

[07:45] Para malaikat yang bertauhid pun takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka. Allah berfirman: "Hingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata: 'Apakah yang telah difirmankan oleh Rabbmu?'" Maka menumbuhkan rasa takut kepada Allah Jalal wa Ala adalah ibadah yang agung. Masyarakat harus dididik di atas masalah tauhid ini.

[08:05] Namun, barangsiapa yang hidupnya tidak bersama tauhid, ia tidak akan mampu berdakwah kepadanya dengan baik, baik secara global maupun secara teperinci. Oleh karena itu, kita harus hidup bersama tauhid agar kita bisa mendakwahkannya dengan cara yang terbaik.

​Ya, demikian.

Tautan Video: Https://youtu.be/jfopd3t_O24?si=t_v3JJaNKXBpQ3jZ