Jumat, 03 April 2026

Takut Dan Harap Kepada Allah

Takut Dan Harap Kepada Allah

Fudhail bin Iyadh berkata, "Rasa takut kepada Allah lebih utama daripada pengharapan selama seseorang itu masih dalam keadaan sehat, adapun ketika mendekati kematian maka pengharapan lebih utama."

("At-Takhwif Minan Nar", Ibnu Rajab, hal. 8)
ustadz al mizzi

Menimbang Akal dalam Timbangan Sahabat

Menimbang Akal dalam Timbangan Sahabat

​Pernahkah terbersit di benak kita, sejauh mana logika boleh mencampuri urusan agama?

​Para sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum punya sikap yang sangat tegas soal ini. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu misalnya. Beliau pernah berujar dengan penuh ketakutan bahwa ia tak rela bumi memikulnya jika ia sampai nekat menafsirkan ayat Allah hanya bermodalkan logika pribadi.

​Setali tiga uang, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu juga dikenal sangat keras terhadap mereka yang menjadikan rasio sebagai jalan pintas. Beliau bahkan memberi label cukup telak bagi golongan ini: "musuh-musuh Sunnah".

​Lantas, apakah ini artinya Islam anti-logika? Tentu tidak.

​Penulis Al-Madkhal al-Mufashshal ilal Fiqhil Hanafi menjelaskan bahwa yang dikritik para sahabat bukanlah akal itu sendiri, melainkan "logika liar". Yaitu akal yang berjalan tanpa sandaran nash (dalil), atau digunakan oleh mereka yang malas menimba ilmu tapi ingin cepat-cepat berfatwa.

​Membedah Dua Sisi Akal: Antara Racun dan Obat

​Penggunaan akal (ar-ra’yu) bisa dipetakan ke dalam dua koridor besar:

​1. Logika yang "Kebablasan" (Madzmum) 

​Bukannya jadi alat bantu, logika jenis ini malah jadi benalu dalam beragama. Cirinya:

● ​Asal Bunyi : Nekat bicara hukum agama tanpa modal pondasi ilmu yang mumpuni.
● ​Jalan Pintas Si Pemalas : Menjadikan rasio sebagai "pelarian" karena enggan menggali kedalaman Al-Qur'an dan Hadis.
● ​Menabrak Pakem : Memaksakan logika pada ranah ibadah yang sudah paten (tawqifi), padahal akal manusia punya batas privasi di sana.
● ​Tunggangan Nafsu : Bukannya dibimbing ilmu, akal justru disetir oleh keinginan pribadi agar agama tampak "cocok" dengan seleranya.

​2. Logika yang "Sehat" (Mamduh) 

​Inilah fungsi akal yang dirawat oleh para ulama; akal yang tajam namun tetap tahu tempatnya bersimpuh:

● ​Pengungkap Hikmah : Berperan penting dalam membedah maksud dan tujuan di balik setiap syariat.
● ​Tertib dan Sistematis : Bekerja dalam koridor bahasa Arab yang benar dan kaidah hukum yang baku.
● ​Analogi yang Bertuan : Menggunakan analogi (qiyas) yang akurat karena punya cantolan dalil yang jelas, bukan sekadar "cocoklogi".

​Pelajaran Penting dari Mengusap Sepatu (Khuff)

​Ada satu analogi cerdas dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang merangkum masalah ini dengan sangat apik:

​"Seandainya agama itu hanya mengikuti logika, tentu bagian bawah sepatu lebih pantas diusap (saat berwudu). Tapi aku melihat Rasulullah ﷺ justru mengusap bagian atasnya."

​Pesannya sederhana tapi dalam: Akal itu punya batas.

​Ada wilayah dalam agama yang sifatnya ta’abbudi (ritual murni) yang harus kita terima apa adanya. Di sini, akal bukan pemimpin, melainkan pengikut. Namun di luar wilayah itu, akal justru sangat berperan, selama ia tunduk pada wahyu dan tidak mencoba "menghakimi" ketetapan Allah.

Kesimpulannya,
​Sebenarnya, tidak ada pertentangan antara "kerasnya" pernyataan para sahabat dengan luasnya cakrawala ijtihad mereka. Masalahnya bukan pada akalnya, tapi pada bagaimana kita menempatkannya.

​Akal itu seperti lampu: ia menerangi jalan agar kita bisa melihat dengan jelas. Namun, jika lampu itu dipaksakan menjadi "penentu arah" sambil mengabaikan peta, ia justru bisa membuat kita buta terhadap rambu-rambu yang sudah dipasang tegas oleh syariat.

Allahu a'lam

Disarikan dari
​📚 Al-Madkhal al-Mufashshal ilal Fiqhil Hanafi

✍️ Reza Ibn Nashrullah

Kamis, 02 April 2026

33 DURUS/PELAJARAN DI SATU WAKTU-Markiz Darul Hadits Fuyush, Yaman-

33 DURUS/PELAJARAN DI SATU WAKTU
-Markiz Darul Hadits Fuyush, Yaman-

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات 

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Insya Allah mulai sabtu besok, 4 April 2026/15 Syawal 1447H, Markiz Darul Hadits Fuyush akan kembali memulai aktifitas belajar dan mengajar seperti biasa setelah libur Ramadhan. Malam kamis kemarin di umumkan Insya Allah sabtu ini akan dibuka 33 durus/pelajaran baik kitab² baru ataupun lanjutan dari pelajaran sebelumnya. Begitu juga halaqoh² quran dan kegiatan lainnya.

Atas nikmat Allah azza wa jalla, Markiz Fuyush adalah Markiz Salafiyyah terbesar di Yaman Selatan. Belasan ribu thullab belajar di markiz ini dari pagi sampai malam, datang dari berbagai penjuru dunia. Dibimbing oleh para masyaikh dan mustafidun yang kompeten dalam ulum syar'iyyah. Bahkan diantara para masyaikh mereka adalah murid² senior Syaikh Al-Allamah Muqbil Al-Wadi'i rahimahullah. 

Para Masyaikh حفظهم الله yang aktif mengajar di markiz diantara nya; Syaikh Basyar Al-Adeni, Syaikh Nabil Masyrof, Syaikh Ahmad Al-Barkani, Syaikh Ahmad Al-Makhrami, ​Syaikh Khalid Marjah, Syaikh Anis Al-Yafi'i, ​Syaikh Yaslam Asy-Syabwi, Syaikh Abdullah Salim Ar-Radfani, ​Syaikh Ridwan Az-Za'uri, ​Syaikh Ahmad At-Thabaqi, ​Syaikh Khalid Al-Hibshi, ​Syaikh Muhammad Al-Haswi, ​Syaikh Ahmad Al-Wahthi, ​Syaikh Shalih Al-Kailah, ​Syaikh Abdul Hakim An-Nakhibi, Syaikh Munir An-Nakhibi, ​Syaikh Hussain Al-Baraki, ​Syaikh Muhammad Shalah, ​Syaikh Shadiq As-Saqqaf, Syaikh Wadi' Muhaim,  dan para masyaikh dan mustafidun yang lainnya. Semoga Allah ta'ala membalas kebaikan² dan jasa² mereka.

Dalam setahun ini (Syawal 1446 - Syawal 1447) sudah dibuka dan berjalan lebih dari 100 durus dan kitab² dari setiap bidang Ilmu syar'i yang ada. Banyak yang sudah selesai dan tamat dan ada juga yang masih berlanjut sampai sekarang. 

Pelajaran² ini akan diumumkan setiap rabu malam. Dan tiap pekan alhamdulillah pasti ada saja durus baru yang dibuka oleh para masyaikh atau mustafid lainnya. Setiap pekan itu bisa ada belasan pelajaran yang dibuka. Kalau awal musim seperti ba'da ramadhan atau nanti awal muharram itu bisa puluhan durus yang dibuka walillahil hamd. 

Paling minimal pelajaran yang diambil oleh tholib itu 2 durus khos diawal belajar dan itu secara bertahap akan bertambah sesuai dengan kemampuan tholib tersebut. Belum lagi ditambah 3 durus 'aam yang berjalan di 3 waktu bada sholat (dzuhur - ashar - maghrib). Yang artinya minimal tholib yang baru itu dia bisa belajar 5 durus setiap hari nya alhamdulillah. 

Semoga kebaikan² ini bisa terus berlanjut kedepannya dan semoga Allah Azza wa Jalla membalas setiap kebaikan para masyaikh, asatidzah, mustafidun dan mereka² yang telah berjuang dalam dakwah di jalan Allah yang mulia ini apapun bidang dan profesi nya. 

Dan juga semoga Allah Azza wa Jalla membalas kebaikan pendiri markiz ini As-Syaikh Al-Allamah Abdurrahman bin Mar'i Al-Adeni رحمه الله dan saudara serta khalifah beliau As-Syaikh Al-Allamah Abdullah bin Mar'i Al-Adeni حفظه الله atas khidmat² mereka dalam dakwah dijalan Allah azza wa jalla. Aamiin ya Rabbal 'alamin 

Berikut daftar² durus dan kutub dalam setahun ini:

I. BIDANG AQIDAH DAN TAUHID:
 1. Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Berbagai Syarah: Al-Barrak, Al-Utsaimin, Al-Fauzan)
 2. Al-Qawaid Al-Arba'
 3. Nawaqidul Islam
 4. Kasyfu Syubuhat
 5. Kitab At-Tauhid (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab)
 6. Al-Aqidah Al-Wasithiyyah (Syarah Al-Utsaimin, Al-Fauzan, & Al-Harras)
 7. Al-Aqidah At-Thahawiyyah
 8. Al-Aqidah Al-Safariniah
 9. Al-Fatwa Al-Hamawiyah
10. At-Tadmuriyah (Serta kitab Taqrib At-Tadmuriyah)
11. Al-Ibanah 'an Ushulid Diyanah (Al-Asy’ari)
12. Lum’atul I’tiqad (Serta Syarah Al-Fauzan & Al-Utsaimin)
13. Al-Durrah Al-Mudhiyyah
14. Al-Mudzakkirah Al-Mufidah fit Tauhid wal Aqidah
15. Aqidah As-Salaf Ashabul Hadits (Ash-Shabuni)
16. Ha’iyah Ibnu Abi Daud
17. Lamiyah Syaikhul Islam
18. Al-Ushul As-Sittah
19. Ad-Durus Al-Muhimmah li 'Ammatil Ummah
20. Fadhlul Islam
21. Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Al-Utsaimin)
22. Al-Qawaid Al-Mutsla (Al-Utsaimin)
23. Kasyful Kurub fi Ma'rifati 'Allamil Ghuyub
24. Syarah As-Sunnah (Al-Muzani)
25. Ushulus Sunnah (Al-Humaidi & Imam Ahmad)
26. Naqdu Ad-Darimi 'ala Al-Marisi
27. Tathhirul I’tiqad (Ash-Shan’ani)
28. Al-I'tiqad Al-Akmaliyyah (Ibnu Taimiyah)
29. Radd 'ala Al-Jahmiyyah
Dan kutub² lainnya.

II. BIDANG FIQIH:
30. Bidayatul Mujtahid (Kitab Al-Hajj, Al-Buyu', & Nikah)
31. Al-Fiqh Al-Muyassar (Thaharah, Shalah, Zakat, Shiyam, Haji, Muamalat, Nikah, Thalaq)
32. Ad-Durar Al-Bahiyyah (Thaharah, Shalah, Janaiz, & Muamalah)
33. Bulughul Maram (Ibnu Hajar)
34. Manhajus Salikin (As-Sa'di)
35. Shifatu Shalatin Nabi ﷺ (Talkhis Al-Albani)
36. Syarah Al-Nuraniah (Al-Mahdzari)
37. Al-Tahqiq wal Idhah (Ibnu Baz - Masalah Haji & Umrah)
38. Risalah Mukhtasharoh fil Hajj wal Umrah (As-Sa'di)
39. Al-Ghurar As-Sawaifir (Az-Zarkasyi)
40. Ad-Durrah Ats-Tsaminah (Ibnu Hamdan)
41. Al-Mukhtashar Al-Mumti’ fi Nusuk Al-Mutamatti’
42. Talkhis Ahkam Al-Adhahi (Al-Utsaimin)
43. Masail Ahkam At-Thaharah & Shifatu Wudhu
44. Syurutu Shalah wa Arkanuha wa Wajibatuha
45. Taysirul ‘Allam Syarah ‘Umdatul Ahkam
46. Sujud As-Sahwi (Al-Utsaimin)
47. Dan kutub fiqih lainnya.

III. BIDANG USHUL FIQH DAN QAWAID FIQHIYYAH:
48. Al-Ushul min 'Ilmil Ushul (Al-Utsaimin)
49. Matan Al-Waraqat (Serta Syarah Al-Fauzan)
50. Al-Nubadz fi Ushulil Fiqh (Ibnu Hazm)
51. Qawaidul Ushul wa Ma’aqidul Fushul
52. Mukhtashar At-Tahrir
53. Al-Qawaid wal Ushul Al-Jami'ah (As-Sa'di)
54. Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah (As-Sa'di - Matan & Manzhumah)
55. Ar-Risalah (Imam Asy-Syafi'i)
56. Al-Qawaid Al-Kulliyah Al-Kubra
57. Tuhfatu Ahli Thalab fi Tajrid Qawaid Ibnu Rajab
Dan kutub² lainnya.

IV. BIDANG HADITS & MUSTHALAH HADITS:
58. Al-Arba’un An-Nawawiyyah (Syarah Al-Badr)
59. Nukhbatul Fikar (Serta Syarah Nuzhatun Nadzar)
60. Al-Ba’its Al-Hatsits fii Ikhtishar 'Ulumil Hadits (Ibnu Katsir)
61. Tadribur Rawi (As-Suyuthi)
62. Muqaddimah Ibnu Shalah
63. Al-Manzhumah Al-Baiquniyah
64. Dhawabith Al-Jarh wa Ta’dil
65. Muwaththa' Imam Malik
66. Al-Muqizhah (Adz-Dzahabi)
67. Ar-Rihlah fi Thalabil Hadits (Al-Khathib Al-Baghdadi)
68. Sunan Tirmidzi 
Dan kutubul Hadits lainnya. 

V. BIDANG BAHASA ARAB (Nahwu, Shorof, Balaghah, Imla)
69. Matan Al-Ajrumiyyah (Serta At-Tuhfatun Saniyyah & At-Tuhfah Al-Washabiyyah)
70. Mutammimah Al-Ajrumiyyah
71. Qathrun Nada wa Ballush Shada
72. Muushil Thullab ila Qawaidul I’rab
73. Miftahun Nahwu lil Baadi-in
74. Asas At-Ta’allum An-Nahwu
75. 'Unwanuz Zharf fi Fannis Sharf
76. Shaza Al-'Arf (Ilmu Shorof)
77. Ash-Shorfu Ash-Shaghir
78. Syarah Alfiyyah Ibnu Malik
79. Al-Awamil Al-Mi’ah (Al-Jurjani)
80. Al-Balaghah Al-Wadhihah
81. Mabadi' fi 'Ilmil Balaghah & Zubdatul Balaghah
82. Al-Madkhal ila 'Ilmil Balaghah
83. Durusul Balaaghah
84. Qawaid fil Imla' (Abdul Salam Harun)
85. La'ali Al-Imla' & At-Ta'sis fil Imla'
86. Al-Qawaid Adz-Dzahabiyah & It-haf Al-Qari-in fil Imla'
87. Ushulul Insya’ wal Khithabah

VI. BIDANG AL-QUR'AN, TAJWID & TAFSIR:
88. Tafsir As-Sa'di (Taisir Karimir Rahman)
89. Tafsir Al-Jalalain
90. Tafsir Surah Al-Fatihah, Al-Mulk, &v Juz 'Amma
91. Matan Al-Jazariyah (Serta Fathu Rabbil Bariyah)
92. Tuhfatul Athfal
93. Kitab Azh-Zha-at fil Qur'anil Karim (Abu 'Amr Ad-Dani)
94. Al-Qa'idah An-Nuraniyah & Al-Qa'idah Al-Madaniyah
95. Al-Fawaid Al-Abiniyah (Tashil Qa'idah Nuraniyah)
96. Daf’u Iehamil Idhthirab (Asy-Syanqithi)
97. Manzhumah As-Sakhawiyyah & Al-Khaqaniyyah
98. Al-Waqf wal Ibtida’

VII. BIDANG ILMU FARAID & HISAB
99. Talkhis Fiqh Al-Faraid (Al-Utsaimin)
100. Manzhumah Ar-Rahabiyah
101. Ar-Raid fi 'Ilmil Faraid
102. Qawaid wa Dhawabith fi Fiqhil Faraid
103. Al-Ihtisab fi Qawaidil Hisab (Ilmu Hitung)

VIII. BIDANG ADAB, AKHAQ, MANHAJ & SIROH
104. Ad-Da’wah ilallah wa Akhlaqud Du’at (Ibnu Baz)
105. Min Musykilatisy Syabab (Al-Utsaimin)
106. Al-Adab 'Unwanus Sa'adah
107. Arju-zah Al-Mi-iyah (Sirah Nabawiyah)
108. Aujazul Siyar fi Sirati Khairil Basyar ﷺ
109. Dharuriyat At-Tafakkur (Al-Mu’allimi)
110. Al-Istidad lil Akhirah (Riqaq)
111. Iqtidhaul ‘Ilmi Al-‘Amal (Al-Khathib Al-Baghdadi)
112. Khulashah Ta’zhimil ‘Ilmi (Al-Ushaimi)
113. Al-Faraj Ba’da Syiddah & Kitabul Hulm (Ibnu Abi Dunya)
114. Asy-Syama’il Al-Muhammadiyah (At-Tirmidzi)
115. An-Naqdu Al-Adabi & Fiqhul Lughah
116. Al-'Arudh (Ibnu Jinni)
117. Mu-jaz fi Tarikh Al-Adab Al-Arabi
118. Buhur Asy-Syi’r Al-Arabi

Masih banyak yang belum disebutkan karna beberapa durus itu ada yang berupa dauroh ilmiah atau durus² yang berjalan di masjid² blok. Artinya masih lebih banyak lagi durus² yang selama setahun ini berjalan di Markaz Fuyush حرسها الله 

Semoga dengan informasi ini bisa bermanfaat dan memberikan gambaran bagi teman² para asatidz dan ikhwah² yang ingin melanjutkan belajar ilmu syar'i, memperluas khazanah keilmuan nya, Yaman bisa jadi tempat yang cocok buat antum sekalian. Biidznillah banyak kebaikan² yang akan antum dapatkan di negeri iman ini jika antum betul² ikhlas dan sungguh-sungguh karna Allah azza wa jalla.

Semoga Allah ta'ala mudahkan kita agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Aamiin

✍️ Jumat, 14 Syawal 1447H
Markiz Darul Hadits Fuyush, Yaman حرسها الله
@sorotan
Al akh rafi safilah

AKU ANAK DUA KHALIFAH

AKU ANAK DUA KHALIFAH

Salah satu fitnah besar kaum Syi’ah adalah anggapan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu hidup dalam permusuhan mendalam. Padahal, fakta sejarah justru menunjukkan adanya hubungan yang harmonis antara dua keluarga mulia ini. Di antara buktinya adalah pernikahan Umar bin Khattab dengan Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, putri Fatimah Az-Zahra radhiyallahu ‘anhum.

Dari pernikahan itu lahirlah Zaid bin Umar. Ia adalah putra Umar dari jalur ayah, dan cucu Ali dari jalur ibu. Karena itu, ungkapan “Aku anak dua khalifah” sangat menggambarkan kemuliaan nasabnya. Pada diri Zaid bertemu dua rumah besar dalam Islam: rumah Umar dan rumah Ali. Ini menjadi bukti bahwa hubungan keduanya bukan hubungan kebencian, tetapi hubungan cinta, kepercayaan, dan pertalian keluarga.

Lebih indah lagi, sosok Zaid sendiri menjadi simbol hidup dari keharmonisan itu. Ia tidak lahir dari dua keluarga yang saling bermusuhan, tetapi dari dua keluarga yang terhubung oleh pertalian mulia. Karena itu, ungkapan “Aku anak dua khalifah” bukan sekadar kebanggaan nasab, tetapi juga bantahan telak terhadap semua cerita dusta yang ingin memisahkan antara keluarga Umar dan keluarga Ali. Pada diri Zaid, sejarah seolah berbicara dengan sangat jelas: yang ada bukan kebencian, tetapi kasih sayang; bukan permusuhan, tetapi kedekatan; bukan dendam turun-temurun, tetapi warisan kemuliaan.

Allah berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama beliau keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”
(QS. Al-Fath: 29)

Ayat ini sangat sesuai dengan kenyataan sejarah para sahabat. Hubungan mereka dibangun di atas iman dan kasih sayang, bukan di atas dendam sektarian. Sejarah pun menunjukkan bahwa keluarga Umar dan keluarga Ali terhubung dalam pernikahan yang mulia. Kisah Zaid bin Umar adalah salah satu bukti paling indah tentang itu. Ia adalah anak Umar, cucu Ali, dan saksi hidup bahwa hubungan kedua keluarga itu berdiri di atas keharmonisan dan kemuliaan. 

Wallahu a'lam.
ustadz abul abbas aminullah 

Wajibkah belajar mantiq atau filsafat ?

Wajibkah belajar mantiq atau filsafat ?

kata ibnu taimiyah ndak wajib, karena mantiq hanya Salah satu alat untuk mengukur "kebenaran" bukan satu satunya. itupun didalamnya ada perbedaan pendapat seperti ilmu lain. Bahkan yang ada justru larangan para salaf untuk mempelajari ilmu ini.
Salah satu analogi beliau banyak cabang ilmu lain yang bisa mendapatkan "pencerahan" tanpa pakai mantiq misal kedokteran mereka pakai tajribah/ percobaan/ penelitian. Matematika pakai rumus rumusnya dan ilmu lainnya.

Beliau mencontohkan produk ilmu mantiq dalam ketuhanan yaitu konsep ketuhanan menurut aristoteles. ana cocokkan dengan Gemini hasilnya mirip.

Recommended untuk dibaca majmu fatwa ibnu taimiyah bagian mantiq. biar kita ndak silau dengan bahasa muter muternya orang filsafat. 

Cuma masyaikh kita kadang membolehkan belajar mantiq seperti Syaikh Sulaiman Ar-ruhaili klo ada keperluan misal untuk mendalami ushul fiqh atau membantah kelompok menyimpang.
ust febrian fahriansyah

Syaikh al-Albani :tentang Baiat dan Keluar dari Ketaatan (Khuruj)

 rekaman suara dari ulama ahli hadis ternama, **Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani** *rahimahullah*. 
##  Syaikh al-Albani :tentang Baiat dan Keluar dari Ketaatan (Khuruj)
**Penanya:**
"Pertama wahai Syaikh, mengenai masalah baiat. Banyak dari guru-guru kami berpendapat akan wajibnya baiat kepada penguasa yang ada di negeri-negeri kami. Namun, sebagian ikhwan mengadopsi pendapat ketidaksahan baiat tersebut. Tentu di balik pendapat ketidaksahan baiat ini, ada seruan untuk keluar dari ketaatan (*khuruj*) terhadap penguasa tersebut atau seruan untuk mengafirkan mereka. Mereka menganggap penguasa ini tidak layak dibaiat karena syarat-syaratnya tidak terpenuhi.
Sebagian guru kami menyimpulkan bahwa jika Anda tidak berbaiat kepada penguasa ini, berarti Anda setuju untuk memberontak (*khuruj*), sehingga orang tersebut dicap sebagai 'Khawarij'. Hal ini sangat tersebar di tempat kami. Apakah baiat kepada penguasa saat ini yang syarat-syaratnya belum terpenuhi itu jenisnya sama dengan baiat kepada jamaah-jamaah Islam yang ada di lapangan?"
**Syaikh al-Albani Menjawab:**
"Pendapat saya adalah: **Tidak ada baiat bagi penguasa mana pun kecuali jika ia dibaiat oleh jamaah kaum muslimin di seluruh dunia Islam**, bukan hanya di satu negara atau satu wilayah saja. Inilah baiat untuk Khalifah yang dipilih oleh *Ahlul 'Ilmi wal Fadhl* (orang-orang yang berilmu dan utama), kesalehan, dan ketakwaan. Bukan dipilih oleh rakyat jelata yang di dalamnya tercampur antara orang baik dan buruk, sebagaimana sistem yang sekarang disebut parlemen atau Majelis Ummah. Majelis Ummah seharusnya tidak diwakili oleh orang-orang bodoh dan fasik, melainkan oleh ahli ilmu dan kesalehan.
Majelis semacam ini, sangat disayangkan, tidak ada wujudnya saat ini di dunia Islam. **Oleh karena itu, tidak ada baiat.**
Namun, perlu ditambahkan pada peniadaan (baiat) ini: Bahwa konsekuensi yang mereka tetapkan—bahwa tidak adanya baiat berarti membolehkan keluar dari ketaatan (*khuruj*)—adalah kesimpulan yang salah. Kami katakan di sini: **Masalah keluar dari ketaatan (*khuruj*) kepada penguasa tidak ada kaitannya dan tidak terikat dengan ada atau tidak adanya baiat.**
Mengapa? Karena tidak ada keterkaitan antara ketiadaan baiat dengan pembolehan pemberontakan. Begini penjelasannya:
 1. Seseorang bisa saja sudah dibaiat dengan baiat yang sah secara syar'i, namun tetap boleh (bahkan wajib) dikeluarin dari ketaatannya. Kapan? Yaitu ketika kita melihat kekafiran yang nyata (*kufran bawahan*) sebagaimana disebutkan secara tegas dalam hadis. Jadi, adanya baiat tidak lantas menghalangi *khuruj* (jika syarat kafir nyata terpenuhi).
 2. Begitu juga sebaliknya, tidak adanya baiat tidak berarti boleh melakukan pemberontakan. Tidak ada hubungan antara keduanya, baik secara positif maupun negatif.
Saya katakan sekarang: Di dunia Islam saat ini, sepanjang pengetahuan saya, tidak ada satu pun pemerintahan Arab yang dibaiat dengan baiat syar'i (kecuali di tempat kalian menurut sebagian ulama). Lalu, apakah boleh bagi rakyat di negara-negara Arab tersebut untuk memberontak kepada penguasa mereka dengan alasan mereka belum membaiatnya?
Jika mereka (orang-orang yang mewajibkan baiat) berkata bahwa 'tidak berbaiat berarti membolehkan pemberontakan', maka secara logika mereka harus membolehkan rakyat di seluruh negeri Arab untuk memberontak karena tidak adanya baiat syar'i tersebut. Dan saya yakin, mereka sendiri pun tidak akan membolehkan pemberontakan di negara-negara Arab lainnya.
Keyakinan saya adalah: **Masalah memberontak atau tidak, bukan didasari oleh ada atau tidak adanya baiat.** Seandainya ada seorang Khalifah yang dibaiat secara sah, namun kemudian ia menunjukkan kekafiran yang nyata, maka tidak ada ulama yang mengatakan tidak boleh keluar darinya. Sebaliknya, jika ada penguasa muslim yang menjalankan sebagian isi Al-Qur'an dan meninggalkan sebagian lainnya—bukan dalam konteks mengafirkan ayat tersebut, tapi sekadar tidak mengamalkannya—meskipun ia tidak dibaiat secara syar'i, hal itu tidak berarti boleh memberontak kepadanya.
Sebab, keluar dari ketaatan kepada penguasa—meskipun mereka itu pemberontak (*bughat*) yang merebut kekuasaan dari Khalifah sah dengan pedang dan senjata lalu mereka berkuasa di tengah manusia—**maka tetap tidak boleh memberontak kepada penguasa (yang sudah mapan) tersebut demi menjaga darah kaum muslimin.**
Jadi, mengaitkan kewajiban baiat dengan 'jika tidak baiat berarti boleh memberontak' adalah logika yang tidak nyambung (*la talazuma*). Saya katakan dengan sangat jelas: Selama para ulama belum berkumpul di negeri-negeri Islam untuk membaiat seseorang yang berhak, maka tidak ada baiat (syar'i universal).
Meskipun demikian, saya tegaskan: **Tidak boleh keluar dari ketaatan (memberontak) kepada para penguasa ini.** Karena dampaknya adalah apa yang kita lihat sekarang. Di Palestina, mereka dikuasai oleh Yahudi. Apakah ada yang lebih buruk dari Yahudi? Meskipun begitu, kami katakan (jangan gegabah), jangan sampai darah muslim tumpah sia-sia karena dorongan orang-orang yang lalai, atau saya sebut orang-orang bodoh. Mereka mendorong pemuda kita berjuang dengan batu dan sebagainya (tanpa persiapan), jika situasi ini terus berlanjut, rakyat Palestina akan habis dan negara Palestina akan menjadi santapan empuk bagi Yahudi. Ini bertolak belakang dengan keinginan orang-orang yang hanya bisa menyemangati tapi tidak membantu dengan perbaikan, personel, maupun harta.
Maka, wahai saudaraku, tidak boleh kita menghubungkan antara baiat dengan pemberontakan.
 * Bisa jadi baiatnya sah, tapi wajib keluar darinya jika ditemukan sebab syar'i (kekafiran nyata).
 * Bisa jadi tidak ada baiat, tapi tetap tidak boleh keluar darinya karena tidak ditemukan sebab syar'i.
Sebab syar'i itu adalah kekafiran yang nyata (*al-kufru al-bawah*). Bahkan saya katakan: Seandainya pun ditemukan kekafiran yang nyata (seperti contoh di Aljazair baru-baru ini), apakah boleh memberontak jika belum dipersiapkan kekuatannya (*i'dad*)? Jawabannya: **Tidak boleh.** Ini adalah perkara yang disepakati.
Jadi, argumen mereka itu tidak ilmiah. Saya sampaikan ini dengan jujur, semoga saya telah menjawab pertanyaanmu. Jazakallahu khair."
**Ringkasan Inti:**
 1. **Baiat Syar'i:** Saat ini tidak ada sistem kekhalifahan tunggal yang dibaiat oleh seluruh ulama dunia Islam, sehingga secara teknis "Baiat Kubra" itu tidak ada.
 2. **Larangan Memberontak:** Meski baiat syar'i tidak ada, bukan berarti rakyat boleh memberontak (*khuruj*). Menjaga keamanan dan darah kaum muslimin jauh lebih utama.
 3. **Syarat Khuruj:** Pemberontakan hanya dibahasakan dalam agama jika penguasa melakukan kekafiran yang nyata, itu pun harus dengan syarat memiliki kemampuan fisik dan persiapan yang matang agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

الاول يا شيخ في قضيه البيعه يعني كثير من مشايخنا يرى وجوب
0.11 للحاكم الموجود في بلادنا وبعض الاخوان تبنى راي عدم حقيه
0.20 للبيعه طبعا ما وراء هذا عدم احقيته للبيعه يعني وراها مثلا الدعوه للخروج على
0.29 الحاكم هذا او الدعوه الى تكفيره لكن هذا الحاكم ليس اهل للبيعه لان ما توفرت فيه
0.37 الشروط بعض مشايخنا يرتب على عدم بيعتك لهذا الحاكم انك ترى
0.46 الخروج عليه ومن ثم يطلق على هذا الشخص انه خارجي وهذا منتجر كثير جدا جدا
0.56 عندنا فهل بيعت الحكام الموجودين الان الذين لم تتوفر فيهم الشروط
1.03 ا لم تتوفر الشروط لبيعته من جنس البيعه للجماعات الاسلاميه الموجوده في
1.11 الساحه انا رايي ليس هناك
1.21 بيعه لاي حاكم الا اذا بيع من جماعه المسلمين
1.31 في العالم الاسلامي وليس في بلد
1.37 واحد او في اقليم واحد هذه هي البيعه للخليفه
1.46 الذي يختار من قبل اهل العلم والفضل والصلاه
1.53 والتقوى وليس من الله الحاد م الله الناس الذين فيهم
1.53 والتقوى وليس من عامه الناس الذين فيهم الص
2.01 والطالح كما هو الان طريق ما يسمون ببرلمان
2.07 او فسروا هذه الكلمه الاجنبيه الى مجلس الامه فمجلس
2.15 الامه لا يمثله الرعاء والجهله
2.20 والفسق وانما يمثله اهل العلم والفضل والصلاح
2.28 ومثل هذا المج مع الاسف الشديد لا وجود له اليوم في العالم
2.35 الاسلامي ولذلك فلا بيعه
2.42 ولكن لابد من اضافه الى هذا النفي ان
2.42 ولكن لابد من اضافه الى هذا النفي ان
المحظور الذي
2.51 رتبو او الالزام الذي الجموهريه
3.00 عدم البيعه أن معنى ذلك انه يجيز
3.06 الخروج على هذا او ذاك الحاكم الذي لم
3.16 يبايع فنحن نقولها هنا الخروج على
3.23 الحاكم ليس منوطا ولا مربوطا
3.32 بالبيعه او بعدمها ذلك
3.40 لانه لا تلازم بين السلب والايجاب
3.47 احد يكون رجل مبايع بيعه
3.47 ا قد يكون رجل مبايع بيعه
3.56 شرعيه ومع ذلك يجوز الخروج عليه
4.02 بويع بيعه شرعيه مع ذلك يجوز الخروج عليه متى
4.10 حينما نرى كفرا بواحا كما جاء في الحديث صراحه
4.15 اذا لا يلزم من البيعه عدم الخروج كذلك على العكس
4.22 تماما لا يلزم من عدم البيعه جواز الخروج فلا ارتباط بين الامرين سلبا او
4.32 ايجابا فانا اقول الآن ليس هناك في العالم
لا توجد بيعة لحكام هذا الزمان ولا يلزم من ذلك. ز الخروج عليهم
مز موجد بيعة لحكام هذا الزموجد بيعة لحكام هذا الزموجد بيعة حكام هذا الزموجد بيعة لحكام هذا الزموجد بيعة لحكام هذا الله زم من ذلك جواز الخروج م من ذلك جواز الخروج ترم من ذلك جواز الخروج أم من ذلك جواز الخروج م من ذلك جواز الخروج
4.32 ايجابا فانا اقول الان ليس هناك في العالم الاسلامي فيما
4.42 اعلم حكومه من الحكومات العربيه بيعت بیعه
4.50 شرعيه الا عندكم فيما يقول بعض أهل العلم كما
4.57 تنقل فهل يجوز على هذه الشعوب الخروج على هؤلاء
5.05 الحكام بحجه انهم لم يبايعوا أولئك الذين
5.13 يستلزم وجوب البيعه لانهم يقولون اذا لم يبايع معنى
5.20 ذلك انه يجيز الخروج اذا معنى كلامهم انه يجوز على هؤلاء
5.28 الشعوب الذي يعيشون في بلاد العربيه وفي
5.35 بحكومات لم تبايع الشعوب اذا يجوز الخروج على هذه الحكومات
5.43 واعتقد ان نفس اولئك الذين استلزم من عدم البيعه الخروج لا يجيزون
5.52 الخروج في البلاد العربيه الاخرى وانا هذا اعتقادي
6.01 الخروج وعدمه ليس منوط بالبيعه سلبا او
6.01 الخروج وعدمه ليس منوطا بالبيعه سلبا او ایجابا أي لا يعني انه
6.11 اذا وجد خليفه نقول بويع بيعا مبايعه شرعيه
6.19 لكنه اظهر الكفر الصريح انه لا يجوز الخروج عليه هذا ما يقول عالم كذلك العكس
6.27 تماما اذا كان هناك حاكم مسلم يحكم ببعض الكتاب ولا يحكم بالبعض الآخر لا اقول
6.36 يحكم ببعض الكتاب ويكفر بالبعض لا يحكم ببعض الكتاب ولا يحكم بالبعض الآخر فهو لم
6.46 يبايع وهذا لا يعني انه يجوز الخروج لان
6.36 يحكم ببعض الكتاب ويكفر بالبعض لا يحكم ببعض الكتاب ولا يحكم بالبعض الآخر فهو لم
6.46 يبايع وهذا لا يعني انه يجوز الخروج لان الخروج على
6.54 الحكام مهما كان شانهم لنفترض انهم
7.01 بغاه وخرجوا على الخليفه الشرعي وبالقوه بالسيف بالبارود
7.10 بالسلاح وضع يده على الحكم وحكم بين الناس فلا يجوز الخروج على هذا
7.18 الباغي كل ذلك للمحافظه على دماء المسلمين اذا تعليل وجوب البيعه بانه اذا
7.18 الباغي كل ذلك للمحافظه على دماء المسلمين اذا تعليل وجوب البيعه بانه اذا
7.29 لم يب يبايع معنى ذلك انه يجيد الخروج لا تلازم انا اقول الان بكل صراحه ما لم
7.38 يجتمع علماء المسلمين في البلاد الاسلاميه لمبايعه انسان يستحق البيعه فلا بيعه مع
7.49 ذلك مع ذلك اقول لا يجوز الخروج على هؤلاء الحكام لان من وراء ذلك ما نراه الان في
7.59 فلسطين فلسطين يحكمون من اليهود وهل اخبث من اليهود مع ذلك نقول تذهب دماء المسلمين
8.09 هكذا هدرا بتشجيع اهل الغفله وقد اقول
8.09 هكذا هدرا بتشجيع اهل الغفله وقد اقول احيانا اهل الجهل هدون
8.18 شبابنا ودون المجاهدين بالحجاره والى اخره واذا استمر الوضع على هذه الطريقه سيفنا الشعب
8.27 الفلسطيني وتبقى الدوله الفلسطينيه هي لليهود لقمه سائغه خلاف ما
8.36 يريد هؤلاء الناس الذين يشجعون ثم لا يمدون لا
8.43 بالصلاح ولا بالرجال ولا بالاموال ولا الى اخره
8.49 فاذا لا يجوز يا اخي أن نربط بين البيعه
8.49 فاذا لا يجوز يا اخي ان نربط بين البيعه وبين
8.55 الخروج قد تكون البيعه شرعيه ويجب الخروج حينما يوجد ايش سببه
9.02 الشرعي وقد لا تكون بيعه ولا يجوز الخروج لانه لم يوجد السبب
9.10 الشرعي السبب الشرعي هو الكفر البواححتى انا اقول
9.16 هب انه وجد الكفر البواهر مثلا ثم الجزائر اخيرا فهل يجوز
9.26 الخروج وما اعدوا له عدته هو الجواب لا
9.02 الشرعي وقد لا تكون بيعه ولا يجوز الخروج لانه لم يوجد السبب
9.10 الشرعي السبب الشرعي هو الكفر البواححتى انا اقول
9.16 هب انه وجد الكفر البواهر مثلا ثم الجزائر اخيرا فهل يجوز
9.26 الخروج وما اعدوا له عدته هو الجواب لا هذا امر متفق عليه اذا ايش معنى هذا
9.35 الكلام هذا كلام غير علمي انا اقول بصراحه لعلي اجبتك عن سؤالك وجزاك الله خير وص
9.43 سجل صوتك بالموافقه نعم
https://youtu.be/xbmjk84dLIM?si=HlZAEEZVzNejlCW5
Syaikh albani

السؤال:بعض الفرق المعاصرة تعقد البيعة لأمرائها الذين يختارونهم من أنفسهم، ويرون وجوب السمع والطاعة لهم، وعدم نقض بيعتهم، وهم تحت ولاة الأمراء الشرعيين الذين بايعهم عموم المسلمين. هل يجوز ذلك؟ أي بمعنى أن يكون في عنق الفرد أكثر من بيعة، وما مدى صحة هذه البيعات؟/Sebagian kelompok kontemporer (masa kini) mengadakan baiat kepada pemimpin-pemimpin yang mereka pilih sendiri. Mereka berpendapat bahwa wajib hukumnya untuk mendengar dan taat kepada pemimpin tersebut, serta tidak boleh membatalkan baiatnya, padahal mereka berada di bawah kekuasaan para penguasa syar'i yang telah dibaiat oleh kaum muslimin secara umum.​Apakah hal tersebut diperbolehkan? Dalam artian, apakah boleh bagi seseorang memiliki lebih dari satu baiat di lehernya? Dan sejauh mana keabsahan baiat-baiat semacam ini?

حكم من عقد بيعة لغير ولاة الأمور - موقع الشيخ ابن باز https://share.google/cMrGBsUXcKJhY6l3J

الجواب:
هذه البيعة باطلة ولا يجوز فعلها؛ لأنها تفضي إلى شق العصا، ووجود الفتن الكثيرة، والخروج على ولاة الأمور بغير وجه شرعي، وقد صح عن النبي ﷺ أنه قال: أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافًا كثيرًا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة[1].
وصح عنه ﷺ أنه قال: على المرء السمع والطاعة فيما أحب وكره، ما لم يؤمر بمعصية الله، فإن أمر بمعصية الله فلا سمع ولا طاعة[2].
وقال ﷺ: إنما الطاعة في المعروف[3].
وقال ﷺ: من رأى من أميره شيئًا من معصية الله فليكره ما يأتي من معصية الله ولا ينزعن يدًا من طاعة[4].
والأحاديث في ذلك كثيرة جدًا، كلها دالة على وجوب السمع والطاعة لولاة الأمر في المعروف، وعدم جواز الخروج عليهم، إلا أن يأتوا كفرًا بواحًا عند الخارجين عليهم فيه من الله برهان.
ولا شك أن وجود البيعة لبعض الناس يفضي إلى شق العصا، والخروج على ولي الأمر العام فوجب تركه، وحرم فعله.
ثم إنه يجب على من رأى من أميره كفرًا بواحًا أن يناصحه حتى يدع ذلك، ولا يجوز الخروج عليه، إذا كان الخروج يترتب عليه شرًا أكثر؛ لأن المنكر لا يزال بأنكر منه، كما نص على ذلك أهل العلم رحمهم الله، كشيخ الإسلام ابن تيمية، والعلامة ابن القيم رحمة الله عليهما، والله ولي التوفيق[5].
 
أخرجه الترمذي في كتاب العلم، باب ما جاء في الأخذ بالسنة واجتناب البدع برقم 2676، وابن ماجه في المقدمة، باب اتباع سنة الخلفاء الراشدين المهديين برقم 42، وأحمد في مسند الشاميين، حديث العرباض بن سارية عن النبي صلى الله عليه وسلم برقم 16694.
أخرجه مسلم في كتاب الإمارة؛ باب وجوب طاعة الأمراء في غير معصية الله برقم 1839.
أخرجه البخاري في كتاب المغازي، باب سرية عبدالله بن حذافة السهمي برقم 4340، ومسلم في كتاب الإمارة، باب وجوب طاعة الأمراء في غير معصية الله برقم 1840، واللفظ لمسلم.
أخرجه مسلم في كتاب الإمارة، باب خيار الأئمة وشرارهم برقم 1855.
من ضمن الأسئلة الموجهة لسماحته من (جريدة المسلمون). (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 28/250).


 **Jawaban:**
Baiat (janji setia) semacam ini **batil dan tidak boleh dilakukan**; karena hal itu dapat memicu perpecahan (memecah belah tongkat ketaatan), menimbulkan banyak fitnah, dan keluar dari ketaatan terhadap penguasa (*ulul amri*) tanpa alasan syar’i yang benar. Telah shahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
> *"Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup (lama), ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan geraham. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan."* [1]
Telah shahih pula dari beliau ﷺ bahwa beliau bersabda:
> *"Wajib bagi setiap Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam hal yang ia sukai maupun yang ia benci, selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat kepada Allah. Jika diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar maupun taat."* [2]
Beliau ﷺ juga bersabda:
> *"Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang makruf (baik)."* [3]
Dan beliau ﷺ bersabda:
> *"Barangsiapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang berupa maksiat kepada Allah, maka bencilah kemaksiatan yang ia lakukan tersebut, namun janganlah ia melepas tangan dari ketaatan (kepadanya)."* [4]
Hadis-hadis mengenai hal ini sangat banyak, semuanya menunjukkan **wajibnya mendengar dan taat kepada penguasa dalam hal yang baik**, serta tidak bolehnya memberontak atau keluar dari ketaatan mereka, kecuali jika mereka melakukan kekufuran yang nyata (*kufrun bawwah*), yang di sisi kalian terdapat bukti yang nyata dari Allah atas kekufuran tersebut.
Tidak diragukan lagi bahwa adanya baiat (rahasia/khusus) kepada sebagian orang dapat memicu perpecahan dan pembangkangan terhadap penguasa umum, maka wajib untuk meninggalkannya dan haram hukumnya dilakukan.
Selanjutnya, bagi siapa saja yang melihat kekufuran yang nyata dari pemimpinnya, wajib baginya untuk menasihatinya hingga ia meninggalkan hal tersebut. Namun, **tidak diperbolehkan memberontak jika tindakan tersebut justru mengakibatkan keburukan (kerusakan) yang lebih besar**; karena suatu kemungkaran tidak boleh dihilangkan dengan kemungkaran yang lebih parah, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama rahimahumullah, seperti Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dan Al-Allamah Ibnul Qayyim *rahmatullahi 'alaihima*. Hanya Allah-lah pemberi taufik. [5]
### **Referensi:**
 1. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Ilmu (2676), Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah (42), dan Ahmad (16694).
 2. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Al-Imarah (1839).
 3. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Al-Maghazi (4340) dan Muslim dalam Kitab Al-Imarah (1840).
 4. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Al-Imarah (1855).
 5. Diambil dari kumpulan pertanyaan yang diajukan kepada Syekh bin Baz oleh surat kabar *Al-Muslimun*. (*Majmu’ Fatawa wa Maqalat Asy-Syaikh Ibn Baz 28/250*).