Selasa, 30 Juni 2026

Bila ada orang antm sampaikan ilmu, dalil Qur'an dan sunnah dia langsung tunduk dan nerima tanpa tapi2 lagi, cintailah dia

Bila ada orang antm sampaikan ilmu, dalil Qur'an dan sunnah dia langsung tunduk dan nerima tanpa tapi2 lagi, cintailah dia

قال الشافعي رحمه الله :
مَا أَوْرَدْتُ الْحَقَّ وَالْحُجَّةَ عَلَى أَحَدٍ فَقَبِلَهَا مِنِّي إِلَّا هِبْتُهُ وَاعْتَقَدْتُ مَوَدَّتَهُ، وَلَا كَابَرَنِي أَحَدٌ عَلَى الْحَقِّ، وَدَفَعَ الْحُجَّةَ الصَّحِيحَةَ إِلَّا سَقَطَ مِنْ عَيْنِي وَرَفَضْتُهُ
 (صفة الصفوة : ٢ / ٥٥٢)

Muhammad bin Idris asy-Syafi'i rahimahullah berkata:

Aku tidak pernah menyampaikan kebenaran dan hujah kepada seseorang, lalu ia menerimanya dariku, melainkan aku semakin menghormatinya dan menaruh kasih sayang kepadanya.

Sebaliknya, tidaklah seseorang membantahku dengan sikap keras kepala terhadap kebenaran dan menolak hujah yang sahih, melainkan ia jatuh dari pandanganku dan aku pun tidak lagi menaruh penghargaan kepadanya.

Sumber: Shifatush Shafwah (2/552).
ustadz lutfi setiawan

Voice to text arabic

https://arabic.deli.web.id/?fbclid=IwdGRjcASwo-VjbGNrBLCjx2V4dG4DYWVtAjExAHNydGMGYXBwX2lkDDM1MDY4NTUzMTcyOAABHoRXoxE6TBKcyYP2QErkz8ut0zvzk2VG7arSn8Yc9UMtybB3sWT1te45AXti_aem_WIFM73FdJVleTg5D7-nzlQ

https://arabic.deli.web.id/?fbclid=IwdGRjcASwpANjbGNrBLCjx2V4dG4DYWVtAjExAHNydGMGYXBwX2lkDDM1MDY4NTUzMTcyOAABHoRXoxE6TBKcyYP2QErkz8ut0zvzk2VG7arSn8Yc9UMtybB3sWT1te45AXti_aem_WIFM73FdJVleTg5D7-nzlQ
Voice to text arabic 

Tak Perlu Anti Tarjih!

Tak Perlu Anti Tarjih!

Tarjih dalam kajian ilmu fikih adalah sebuah keniscayaan bagi seorang ulama atau pakar. Makna tarjih adalah menguatkan satu pendapat untuk diamalkan dan melemahkan pendapat yang lain. Kenapa ia sebuah keniscayaan? Karena ilmu fikih adalah ilmu yang sarat dengan perbedaan pendapat.

Objek tarjih tidak terbatas pada pendapat-pendapat lintas madzhab, tapi tarjih juga ada pada tarjih antara pendapat-pendapat satu imam yang kontradiksi, atau pendapat-pendapat ulama dalam satu madzhab yang kontradiksi, atau tarjih pendapat yang berbeda-beda dalam satu madzhab agar menjadi yang muktamad/patokan dalam madzhab.

Dari sinilah, tarjih itu merupakan hal yang tak terpisahkan, baik Anda belajar monoton dalam satu madzhab, ataupun belajar fikih perbandingan. Apa yang Anda pelajari dalam matan-matan fikih ringkas itu adalah hasil tarjih. Kita cuma mempelajari pendapat-pendapat yang ditarjihkan oleh para ulama atau penulis matan itu.

Selanjutnya, penuntut ilmu harus akrab dengan yang namanya tarjih. Bahkan harus terbiasa mempraktikkan yang namanya tarjih. Apalagi bila ia telah belajar usul fikih serta qawaid fikih atau usul; proses untuk terus belajar melakukan tarjih adalah sebuah latihan sangat urgen untuk memiliki skill dalam memahami basic pendapat madzhab atau para ulama.

Jadi, tarjih adalah praktik. Ilmu ushul fikih kalau tidak dipraktikkan dengan latihan tarjih; akan sekadar menjadi hafalan rumus, persis dengan hafalan kaidah nahwu tapi tak pernah digunakan dalam praktik nahwu secara bacaan atau percakapan. Atau persis menguasai jurus pedang, tapi takt lihai menggunakan pedang itu; karena tak pernah atau jarang latihan.

Sebab itu, marilah belajar melakukan tarjih; tarjih antar pendapat-pendapat satu imam yang kontradiksi, tarjih antar pendapat-pendapat dalam satu madzhab, atau tarjih lintas pendapat madzhab-madzhab yang ada. Adapun output tarjih Anda; maka tidak mesti dipublikasikan, cukup dijadikan sebagai konsumsi pribadi, atau diberikan kepada Guru Anda agar beliau bisa menilai benar tidaknya kaidah tarjih yang Anda gunakan.

Lagipula, rata-rata ulama itu bisa melakukan tarjih karena mereka belajar dan latihan menggunakan ilmu-ilmu alat dalam praktik tarjih terlebih dahulu. Tidak mungkin mereka langsung bisa mentarjih tanpa banyak belajar dulu seperti itu. Sebab itu, mari membiasakan diri untuk tarjih, minimal agar kita terbiasa berpikir dan memiliki skill dalam menggunakan ushul fikih atau kaidah-kaidah ushul.

Kesalahan para pengkritik tarjih adalah gebyah uyah, menganggap semua kelompok tarjih sebagai anti madzhab. Padahal sebetulnya ada dua, pertama kelompok yang sama sekali menafikan madzhab. Kedua, kelompok yang tidak menisbatkan kepada salah satu madzhab, tapi tidak anti madzhab. 

Kelompok kedua ini, pertama, merumuskan metodologi istinbat dengan inspirasi metodologi dari para ulama madzhab dengan mengumpulkan, merefleksikan dan mertarjih diantara kaidah tersebut. Kedua, menjadikan argumentasi para imam madzhab sebagai inspirasi dalam perumusan fikih bukan sebagai aspirasi. Dengan demikian ada kesinambungan dan dialetika dengan para ulama madzhab sebelumnya secara wacana pemikiran dan manhaji.

Semoga dapat dipahami.

Ayahnya Abu Hanifah menikah dengan madzhab apa?

Ayahnya Abu Hanifah menikah dengan madzhab apa?

Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily -حفظه الله- berkata: "Di antara hal yang menggelikan adalah ketika ada seorang awam ingin menikah, lalu seorang syaikh yang mengakadkannya berkata kepadanya:

"Katakanlah: Aku menerima nikah dengan Fulanah menurut mazhab Abu Hanifah."

Maka pemuda yang awam itu berkata:

"Aku menerima nikah dengan Fulanah."

Syaikh itu berkata:

"Katakan: menurut mazhab Abu Hanifah An-Nu'man."

Ia menjawab:

" Tidak, tidak!! Aku menerima nikah dengan Fulanah. Ini sudah cukup"

Syaikh berkata:

"Tidak! Tidak sah, engkau harus mengatakan: menurut mazhab Abu Hanifah."

Lalu pemuda itu mengucapkannya:

"Baiklah, akan tetapi ayah Abu Hanifah, bagaimana bisa sah nikahnya, padahal ia tidak berada di atas mazhab Abu Hanifah?!"

Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah Al-Muta'alliqah Bil Buyu', (hlm. 17)

Dika Wahyudi

Senin, 29 Juni 2026

Syaikhuna Abdul Malik Ramadhani جزاه الله خيرا di Muqaddimah kitabnya ini menyebutkan nama-nama kitab yang pernah ditulis para ulama sebelumnya berkaitan dengan pembahasan yang ada kesamaan, diantaranya:

#DAUROH_KITAB_MANHAJ_9

Syaikhuna Abdul Malik Ramadhani  جزاه الله خيرا di Muqaddimah kitabnya  ini menyebutkan nama-nama kitab yang pernah ditulis para ulama sebelumnya berkaitan dengan pembahasan yang ada kesamaan, diantaranya:

- Kitab Ad Da'wah ila Allah baina At Tajammu' Al Hizbi wat Ta'awun As Syar'i, karya Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi رحمه الله
- Kitab Hukum Intima' ilal Firaq wal Ahzab wal Jama'at, karya Syaikh Bakar Abu Zaid رحمه الله
- Kitab Al Amru bi Luzumi Jama'atil Muslimin, karya Syaikh Abdus Salam bin Barjas رحمه الله
- Kitab Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, karya Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad حفظه الله
- Kitab Al Ibadah an Kaifiyyati At Ta'amuli ma'al Khilaf baina Ahlis Sunnah, karya Syaikh Muhammad Al Imam حفظه الله
- Kitab Tanbih Dzawil Adham ila Ra-bi As Shad'i wal Wi-am, karya Syaikh Shaleh As Suhaimi حفظه الله. 

Diantara pembahasan dalam kitab Syaikh Abdul Malik Ramadhani حفظه الله adalah:
1. Pengertian Al Jama'ah dan nama lainnya
2. Hadits-hadits seputar Al Jama'ah
3. Macam-macam Al Jama'ah
4. Sebab-sebab perpecahan
5. Klaim firqah Ikhwan Muslimin dan kelompo-kelompok bid'ah bahwa mereka adalah Al Jama'ah?!! 
6. At Ta'awun Syar'i dan Bid'i
7. Pengertian Hizbiyyah
8. Kerusakan-kerusakan Hizbiyyah
9. Macam-macam Hizbiyyah
10. Perbedaan antara Ahlis Sunnah dan Ahlul bid'ah. 
-----------------------------
Kitab ini belum dicetak di Madinah, baru pertama dicetak untuk Dauroh Syar'iyyah Imam Bukhari, jazaaAllahu khairan Syaikhana Aba Abdillah Abdul Malik Ramadhani Al Jazaairi,.

Al-'Aqīdah aṣ-Ṣaḥīḥah wa Mā Yuḍādduhā (Akidah yang benar vs Akidah yang batil)

| Al-'Aqīdah aṣ-Ṣaḥīḥah wa Mā Yuḍādduhā (Akidah yang benar vs Akidah yang batil)

Salah satu kitab ringkas yang membahas intisari Akidah Islam adalah kitab yang berjudul: 

العقيدة الصحيحة وما يضادها

Al-'Aqīdah aṣ-Ṣaḥīḥah wa Mā Yuḍādduhā (Akidah yang benar vs Akidah yang batil)

Karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz -Rahimahumullah- 

Kitab ini membahas tentang pentingnya Akidah Islam, pembahasan rukun iman dan Akidah yang bertentangan dengan Islam. Kitab ini cocok dibaca oleh para pemula yang ingin mengetahui dasar-dasar Akidah Islam yang benar dan Akidah yang bertentangan dengannya.
ust lanlan tuhfatul 

Lalu untuk apa kami mempelajari ilmu ini jika bukan untuk mengamalkannya?'"

"Seseorang mencela Imam Waki' ibnu al-jarroh Arruaasy رحمه الله, namun beliau tidak membalasnya. Lalu dikatakan kepada beliau: 'Tidakkah engkau membalas celaannya?' Beliau menjawab: 'Lalu untuk apa kami mempelajari ilmu ini jika bukan untuk mengamalkannya?'"
( Kitab Raudhtul 'uqalaa' : 166 )

Maksudnya: 
1- ilmu yang dipelajari seorang muslim seharusnya membentuk akhlak dan kesabaran, bukan hanya menambah pengetahuan. 
2- Orang yang berilmu mampu menahan diri ketika dihina dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.