Rabu, 02 September 2026

rusaknya haji karena maksiat apa pun yang dilakukan oleh orang yang berhaji.


Halaman 6

...rusaknya haji karena maksiat apa pun yang dilakukan oleh orang yang berhaji. Di antara mereka adalah Imam Ibnu Hazm rahimahullah, di mana beliau berkata:

"Dan barang siapa yang sengaja melakukan maksiat—maksiat apa pun itu—dalam keadaan ia ingat akan hajinya, sejak ia berihram hingga menyelesaikan tawaf ifadhah dan melempar jumrah, maka batallah hajinya..."

Dan beliau berdalil dengan ayat yang telah disebutkan sebelumnya, maka periksalah kembali dalam kitabnya Al-Muhalla (7/186), karena itu penting.

Dari apa yang telah dipaparkan, jelaslah bahwa maksiat yang dilakukan oleh jamaah haji, bisa jadi merusak hajinya menurut pendapat Ibnu Hazm, atau ia berdosa karenanya. Namun dosa ini tidaklah seperti jika dilakukan oleh selain jamaah haji, bahkan jauh lebih bahaya. Sebab, di antara dampaknya adalah ia tidak kembali dari dosa-dosanya sebagaimana hari saat ia dilahirkan oleh ibunya, sehingga ia menjadi seperti orang yang rugi hajinya karena tidak mendapatkan buah dari haji tersebut, yaitu ampunan Allah Ta'ala. Maka Allah-lah tempat memohon pertolongan.

Jika hal ini telah jelas, maka aku harus memperingatkan dari sebagian kemaksiatan yang banyak melanda manusia saat berhaji, di mana mereka sama sekali tidak merasa wajib untuk meninggalkannya. Hal itu disebabkan karena kebodohan mereka, besarnya kelalaian yang menguasai mereka, serta sikap taklid (mengikuti secara buta) kepada nenek moyang mereka.

1. Syirik kepada Allah Azza wa Jalla Sesungguhnya di antara musibah terbesar yang menimpa sebagian kaum muslimin karena kebodohan mereka...

Halaman 7

...terhadap hakikat syirik—yang merupakan dosa terbesar, dan di antara sifatnya adalah menghapuskan pahala amal—sebagaimana firman-Nya:

{"Jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu..."} (QS. Az-Zumar: 65)

Sungguh, kami telah melihat banyak jamaah haji jatuh ke dalam kemaksiatan syirik padahal mereka berada di Baitullah Al-Haram (Ka'bah) dan di Masjid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka meninggalkan doa kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya, lalu beralih meminta bantuan (isti'anah) kepada para nabi dan orang-orang saleh, bersumpah atas nama mereka, serta berdoa kepada mereka selain kepada Allah Azza wa Jalla. Padahal Allah Azza wa Jalla berfirman:

{"...Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tidak memiliki apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu; dan sekiranya mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Maha Mengetahui."} (QS. Fathir: 13-14)

Ayat-ayat mengenai makna ini sangatlah banyak. Bagi orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk mendapat hidayah, cukuplah dengan ayat ini. Sebab, tujuan saat ini bukanlah riset ilmiah mendalam mengenai masalah ini, melainkan hanya sekadar peringatan.

Maka, aduhai alangkah indahnya jika aku tahu, manfaat apa yang diperoleh mereka dari haji ke Baitullah Al-Haram jika mereka terus-menerus melakukan syirik seperti ini, lalu mereka mengubah namanya dengan menyebutnya sebagai: Tawassul, Tasyaffu' (meminta syafaat), dan Wasithah (perantara)!

Bukankah perantara (wasithah) ini adalah hal yang sama dengan apa yang diklaim oleh kaum musyrikin terdahulu untuk membenarkan syirik dan peribadatan mereka kepada selain Allah Tabaraka wa Ta'ala? Sebagaimana firman-Nya:

{"...Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): 'Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya'..."} (QS. Az-Zumar: 3)


Pak AR dan Muhammad Nashiruddin Al Albani

Pak AR dan Muhammad Nashiruddin Al Albani

Setelah wafatnya Pak AR, buku buku beliau "dinggo rayahan" putra putrinya.

Setelah wafatnya beliau Pak AR, Putra tertua beliau, Pak Syukriyanto AR memanggil semua putra putri pak AR, 

Undangannya: "Mbagi Warisane Abah"

Putra putri Pak AR, tentu tersenyum lebar menerima undangan dengan tema yang terkesan Guyon. 

Lha sing Arep dibagi ki opo? Di batin mereka. Karena rumah saja, akan dikembalikan ke PP Muhammadiyah, mobil dari Pak Harto sudah pindah ke UMY. Paling motor butut yang dipakai gantian. 

Setelah rapat, masing2 mereka "rayahan" buku tinggalan Pak AR. 

Dari putra2 beliau, ada beberapa buku yang sampai ke cucu2 beliau pak AR. Diantaranya buku ini, 
Buku yang Pak AR terima dari putra beliau di tahun 1982, , beliau tulis .... ananda Lutfi Purnomo, yang memang tinggal di riyadh. 

Buku tulisan Nashiruddin Al Albani. حجة النبي

Lha kekhasan Pak AR jika membaca buku, beliau beri komentar atau tanda, seperti yang beliau tandai di paragraf tulisan syaikh albani : 
.. diantara musibah terbesar yang menimpa sebagian kum muslimin, yaitu ketidaktahuan mereka tentang hakikat syirik yang merupakan dosa terbesar, yang bisa menggugurkan amalan. ... 
Ctt : yang beliau maksud adalah fenomena jamaah haji yang beliau katakan meninggalkan doa kepada Allah, malah berdoa kepada Nabi dan sholihin di kuburan mereka. 

Ada pula di buku tersebut, pak AR beri tanda tanya, yang sangat mungkin ketidak setujuan beliau dengan pendapat Al Albani. 

Episode Nderek Pak AR
https://www.facebook.com/share/1MDeFL8gu2/
Ustadz dr muhammad arifudin

KABEH MENUNGSA NDUWENI MASA LALU

KABEH MENUNGSA NDUWENI MASA LALU

Nek kancamu wis dadi wong sing luwih apik, ojo mbok eling-elingke salahe jaman biyen terus-terusan.

التائب - Wong sing wis tobat

Wong sing tobat kuwi butuh kanca sing percoyo nek dheweke wis tenanan tobat, dudu sing malah nyalah-nyalahke terus."

Maksude piye:
Yen ana kanca sing biyen nakal utawa akeh salahe, terus saiki wis sadar lan dadi wong apik, awake 
dewe ojo saben ketemu kok ngungkit-ungkit masa lalune. Wong sing wis tobat tenan kuwi luwih butuh dirangkul lan dipercoyo, ora malah diadili.

Tidak Memperbesar Masalah dari Ukuran Sebenarnya



Tidak Memperbesar Masalah dari Ukuran Sebenarnya

Betapa banyak masalah kecil antara suami istri yang berubah menjadi kerumitan dan musibah. Bahkan sebagian besar masalah dan perselisihan awalnya sepele dan kecil, namun membesar dan menjadi rumit karena kurangnya kebijaksanaan dalam penyelesaiannya.

Bahkan sebagian suami atau istri ada yang membuat-buat masalah dari hal yang tidak ada sama sekali; baik karena prasangka buruk, hanya mendengarkan satu pihak tanpa pihak lainnya, atau menghakimi seseorang tanpa mau mendengarkan penjelasan darinya.

Maka orang yang berakal, jika terjadi masalah, ia mampu membatasinya agar tidak membesar dan melebar, serta bergegas menyelesaikannya bukan malah memperkeruhnya.

Di antara sebab terpenting untuk membatasi dan mengecilkan masalah:

  • 1. Berlindung kepada Allah Ta'ala dan memohon pertolongan-Nya untuk menyelesaikan dan mengakhiri masalah tersebut.
  • 2. Bersetuju/Bermusyawarah (Istisyarah), yaitu dengan meminta nasihat kepada orang berakal, berpengalaman, bijaksana, dan paham masalah ketika menghadapi kesulitan. (Bait syair): Pendapat itu bagaikan malam yang gelap gulita sisi-sisinya, Dan malam tidak akan terang kecuali dengan hadirnya pagi. Maka gabungkanlah lampu-lampu pendapat para sahabat ke dalam Lampu pendapatmu, niscaya engkau mendapat tambahan cahaya.
  • 3. Mencari orang terpercaya yang tulus memberi nasihat untuk curhat dan mengungkapkan keluh kesah serta masalah yang dialami. Sebab, mengungkapkan isi hati termasuk cara teragung untuk meringankan musibah dan menghilangkan bebannya dari hati. Salah seorang wanita berkata: "Sering kali aku tertimpa kecemasan serta masalah rumah tangga dan keluarga, maka aku segera menghubungi salah seorang saudari yang tidak pernah..."

Halaman 39

...aku pikirkan selain dirinya karena kelebihannya dalam mendengarkan dan menyimak secara baik. Ia tidak menambah nasihatnya kepadaku selain dengan bersabar dan mengharap pahala. Begitu aku menutup telepon, seluruh beban yang kurasakan telah sirna. Bahkan aku merasa nuraniku menyiksaku karena takut telah menggunjing orang yang aku keluhkan darinya. Maka jika aku bertemu dengannya, aku memohon agar ia memaafkan dan memaklumi aku!"

  • 4. Sikap tenang, lemah lembut, meninggalkan tergesa-gesa, menjauhi kecerobohan, serta memikirkan dengan matang langkah-langkah yang akan diambil.
  • 5. Tidak menyebarkan berita masalah tersebut dan tidak membicarakannya di majelis-majelis/forum umum.
  • 6. Meremehkan/mengecilkan masalah dalam dirinya sendiri dan tidak memikirkannya secara terus-menerus. Ini adalah salah satu hal terpenting dalam mengobati masalah, kecemasan, dan tekanan hidup.

Kenyataannya, sebagian besar kesalahan—seberapa pun besarnya dalam pandangan kita—ketika disikapi dengan keobjektifan dan akal sehat, ukurannya tidaklah sebesar yang kita rasakan saat masalah itu terjadi. Namun, setan pada saat itu sibuk membesar-besarkan dan memprovokasinya, serta mengingatkan pada kesalahan-kesalahan lama dari pelaku kesalahan tersebut, sehingga ia hampir melihat kesalahan itu lebih besar dari gunung dan lebih pahit dari empedu.

  • 7. Memberi kemungkinan bahwa kesalahan berasal dari dirinya sendiri, meskipun hanya sebesar 1%, sehingga ia mau mencari uzur (pemakluman) dan berprasangka baik.

fiqh usroh


Halaman 36
...akal dan agama, tetapi bagaimana bisa dibenarkan jika masalah rumah tangga justru bersumber dari pihakmu, padahal engkau lebih dekat pada kesempurnaan akal?
Sebab, Allah Ta'ala telah memberikan kepada laki-laki kelebihan/kematangan akal bukan untuk disombongkan di hadapan kekurangan akal wanita, dan bukan pula untuk mencelanya. Melainkan agar ia menggunakan kematangan akalnya itu untuk membantu mengobati kekurangan istrinya dan meluruskan penyimpangannya.
Sebab, mayoritas wanita secara tabiat sering bergunjing (qila wa qala), tergesa-gesa, dan kurang bijaksana. Jika suami tidak menyikapinya dengan kematangan akal, kebijaksanaan, dan ketenangan atas tindakan mereka yang lahir dari kekurangan akal dan kelemahan tersebut, lalu apa gunanya kelebihan akal yang dimilikinya saat itu?
3. Kelembutan dan Toleransi yang Berlebihan
Di antara sifat teragung seorang laki-laki adalah ketegasan dan mendidik orang yang berbuat salah. Jika ia seorang yang lemah, tidak tegas terhadap kesalahan anak-anak dan keluarganya, maka berkuranglah nilai kemaskulinannya (rojulah) serta kelayakannya untuk memimpin dan mengayomi. Jika kedua pasangan memiliki tabiat seperti ini, maka rumah tangga akan rusak secara luas.
4. Tidak Adanya Rasa Cemburu
Hal ini dapat menyebabkan wanita bersolek di luar rumah (tabarruj) dan membuka aurat (sufur), serta dapat menimbulkan hubungan-hubungan haram yang berujung pada banyak masalah dan perselisihan besar.
Hilangnya rasa cemburu pada laki-laki merupakan sifat yang hina. Setan dapat menyeretnya secara bertahap hingga ia menjadi seorang dayyuts (suami yang tidak punya rasa cemburu/membiarkan kemaksiatan keluarganya). Laa haula wa laa quwwata illa billahil 'azhim.
Di antara contoh berlebihan dalam sifat kewanitaan (kefemininan):
 * Tidak menuntut hak-haknya dan takut terhadap kemarahan suami atau keluarga.
 * Kelembutan yang berlebihan terhadap anak-anak, bahkan terhadap suami yang banyak melakukan kesalahan, kebodohan, dan keburukan. Kelembutan kepada orang-orang seperti ini justru memperparah kesesatan mereka.
 * Berlebihan dalam rasa cemburu, yang merupakan penyakit yang mengancam keutuhan rumah tangga. Ada seorang wanita yang meminta cerai dari suaminya hanya karena sang suami menikah lagi demi mendapatkan keturunan, padahal ia tahu bahwa dirinya...
Halaman 37
...mandul! Sang suami telah berusaha meyakinkannya agar mengubah pendapatnya, namun ia menolak. Padahal ia adalah orang yang paling dicintai suaminya. Wanita itu berkata: "Aku mencintaimu, tetapi aku tidak sanggup hidup bersamamu sementara engkau memiliki wanita lain." Ia lebih memilih hidup sendiri daripada hidup bersama suami yang dicintainya! Ini adalah bagian dari godaan dan bisikan setan. Kita berlindung kepada Allah darinya.
Di antara contoh kelalaian/kekurangan dalam sifat kewanitaan (kefemininan):
 * Berteriak dan Meninggikan Suara dengan Keras
   Rasa malu adalah sifat terpenting bagi wanita untuk memikat hati laki-laki, menjaga kehormatannya, dan memperkuat kasih sayangnya. Wanita yang dicintai, memiliki sifat kewanitaan, dan lemah lembut akan menawan hati laki-laki, khususnya ketika ia membuat suami merasa akan kemaskulinannya.
Adapun wanita yang berkurang rasa malunya, sering marah, berteriak keras, dan tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya—ia tidak ragu untuk berselisih dan meninggikan suara di hadapan suaminya atau siapa pun yang menentangnya karena alasan apa pun.
 * Enggan Meminta Maaf dan Enggan Memohon Pengampunan (Gengsi)
 * Terlalu Blak-blakan (Sarkastik) serta Tidak Adanya Keramahan dan Basa-basi yang Baik
 * Keras Kasar dan Tidak Adanya Kelembutan serta Kasih Sayang
Sifat-sifat ini menafikan (menghilangkan) kewanitaan seorang wanita dan memudarkan keindahannya di mata suaminya.

Dua Warisan

🔹 [Dua Warisan] 🔹❗

Iblis mewariskan kepada para pengikutnya sifat hasad dan kesombongan. Sedangkan Adam mewariskan sikap tunduk kepada Allah, merasa sangat membutuhkan-Nya, dan memohon ampun kepada-Nya.

Jika kita merenungkan Surah Al-Fatihah yang dibaca pada setiap rakaat dalam shalat, di dalamnya terdapat firman Allah:

(إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ)
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Kalimat pertama menjadi penawar dari penyakit riya, sedangkan kalimat kedua menjadi penawar dari penyakit kesombongan.

Dalam sehari semalam, seorang Muslim bersujud dengan meletakkan hidung dan dahinya di tanah lebih dari lima puluh kali.

Jika seseorang tidak menjadi tunduk dan bersih dari kesombongan setelah berulang kali membaca Al-Fatihah dan melakukan sujud tersebut, maka ia berada dalam bahaya yang besar.

Maka, marilah kita senantiasa memeriksa hati dan keimanan kita.

Nabi ﷺ bersabda:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji.”

(HR. Muslim)
Ustadz nurhadi 

Keseimbangan dalam Maskulinitas dan Feminitas)


Halaman 33
(Judul Atas: Keseimbangan dalam Maskulinitas dan Feminitas)

Keseimbangan dalam Maskulinitas dan Feminitas
Sesungguhnya sifat maskulinitas (rujulah) pada pria dan feminitas (anuthah) pada wanita termasuk hal terpenting yang diciptakan pada diri mereka, serta termasuk pilar terpenting dalam kehidupan rumah tangga, bahkan dalam kehidupan secara umum.
Allah Ta'ala telah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan perhatian yang agung, serta membedakan masing-masing dari keduanya dengan sifat-sifat yang layak bagi mereka. Jika salah satu dari keduanya merusak sifat tersebut, maka hal itu akan berdampak pada yang lain.
Sifat maskulinitas pada pria adalah hal yang tidak boleh terpisah darinya; jika berkurang atau berlebihan, hal itu akan menyebabkan kehancuran dan kebinasaan dalam kehidupan pernikahan.
Demikian pula sifat feminitas pada wanita; kapan pun ia berlebihan atau berkurang, maka ia akan rusak dan menyebabkan kehancuran serta kebinasaan dalam kehidupan pernikahan.
Yang dimaksud dengan maskulinitas adalah tersedianya sifat-sifat keperkasaan pada pria, seperti kedermawanan/jiwa ksatria, keberanian, cemburu yang positif (ghirah), harga diri, dan sifat-sifat baik lainnya.
Yang dimaksud dengan feminitas adalah tersedianya sifat-sifat kewanitaan pada wanita, seperti rasa malu, kelembutan, suara yang pelan, dan sifat-sifat kewanitaan lainnya yang telah menjadi fitrahnya.
Jika suami memiliki sifat-sifat maskulinitas tanpa berlebihan (ifrath) atau meremehkan (tafrith), dan istri memiliki sifat-sifat feminitas tanpa berlebihan atau meremehkan, maka kehidupan mereka akan menjadi kehidupan terbaik dan paling indah dengan izin Allah Ta'ala.
Kerusakan kehidupan pernikahan dan rumah tangga hanya terjadi karena terganggunya kedua sifat ini:
 * Baik dengan berlebihannya suami dalam sifat maskulinitas atau meremehkannya...

Halaman 34
(Judul Atas: Kehidupan Pernikahan yang Bahagia)
 * ...Ataupun dengan berlebihannya wanita dalam sifat feminitas atau meremehkannya.
Di antara contoh sikap berlebihan dalam sifat maskulinitas (ifrath):
 * Tidak mau toleran terhadap kesalahan istri, karena menganggap bahwa kesalahan istri tersebut meruntuhkan maskulinitas dan kepemimpinannya.
 * Tidak mengizinkannya keluar rumah dan tidak mengizinkan siapa pun masuk ke rumahnya kecuali atas izin dirinya dalam segala keadaan.
 * Berlebihan dalam cemburu (ghirah). Cemburu memang termasuk sifat pria yang paling agung, tetapi jika berlebihan, hal itu justru akan menimpa orang-orang di sekitarnya dengan penderitaan dan siksaan, serta membuat pria tersebut dihinggapi rasa was-was dan kecemasan.
Di antara mereka ada yang melarang istrinya mencium mahramnya sendiri karena cemburu yang berlebihan. Ada pula yang enggan pergi bersama istri dan keluarganya untuk membeli kebutuhan di pasar, atau pergi bertamasya ke tempat selain lokasi yang sangat sepi dan terisolasi, dengan dalih menyembunyikannya dari pandangan orang—padahal sang istri sudah memakai hijab syar'i yang sempurna. Bahkan ada yang tidak membiarkan siapa pun melihat abaya (pakaian luar) istrinya, sampai-sampai ia memasukkan mobil ke dalam garasi rumah agar keluarganya bisa naik, secara berlebihan dalam menyembunyikan diri sang istri yang padahal sudah berhijab, seolah-olah bagian luar abayanya saja sudah menjadi aurat!
Sebagian mereka juga melarang istrinya menghadiri acara-acara keluarga yang penting tanpa alasan yang jelas.
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "Dan para wanita yang melakukan perbuatan keji..." [QS. An-Nisa': 15] dan firman-Nya: "Jika mereka telah bersaksi, maka tahanlah mereka (wanita-wanita itu) di dalam rumah"; artinya: kurunglah mereka di dalam rumah dan cegah mereka untuk keluar sebagai hukuman atas perbuatan keji tersebut, sekaligus menjadi penghalang antara mereka dan perbuatan keji itu. Hal ini menjadi dalil atas diharamkannya mengurung wanita di dalam rumah dan melarang mereka keluar saat dibutuhkan dalam kondisi normal seperti ini (tanpa adanya pelanggaran keji).