Sabtu, 12 September 2026

Di dalam kitab Al-Ihya': Dimakruhkan bersetubuh pada malam pertama awal bulan, malam terakhir bulan, dan malam pertengahan bulan (Nisfu). Dikatakan bahwa setan menghadiri persetubuhan pada malam-malam tersebut, dan dikatakan pula bahwa setan ikut bersetubuh.

فَصْلٌ إنَّمَا يَصِحُّ النِّكَاحُ بِإِيجَابٍ، وَهُوَ زَوَّجْتُكَ أَوْ أَنْكَحْتُك، وَقَبُولٌ: بِأَنْ يَقُولَ الزَّوْجُ تَزَوَّجْتُ أَوْ نَكَحْتُ أَوْ قَبِلْتُ نِكَاحَهَا أَوْ تَزْوِيجَهَا،

ــ

[مغني المحتاج]

صَاحِبِهِ، وَأَنْ يَقُولَ عِنْدَ الْجِمَاعِ: بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، وَفِي الْإِحْيَاءِ: يُكْرَهُ الْجِمَاعُ فِي اللَّيْلَةِ الْأُولَى مِنْ الشَّهْرِ، وَالْأَخِيرَةِ مِنْهُ، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْهُ فَيُقَالُ: إنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ الْجِمَاعَ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي: وَيُقَالُ: إنَّهُ يُجَامِعُ. قَالَ: وَإِذَا قَضَى وَطَرُهُ فَلْيُمْهِلْ عَلَيْهَا حَتَّى تَقْضِيَ وَطَرَهَا. قَالَ: وَفِي الْوَطْءِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَجْرَانِ. وَيُسَنُّ أَنْ لَا يَتْرُكَ الْجِمَاعَ عِنْدَ قُدُومِهِ مِنْ سَفَرِهِ، وَلَا يَحْرُمُ وَطْءُ الْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ.

[فَصْلٌ فِي أَرْكَانِ النِّكَاحِ]

ِ وَغَيْرِهَا وَأَرْكَانُهُ خَمْسَةٌ: صِيغَةٌ، وَزَوْجَةٌ، وَشَاهِدَانِ، وَزَوْجٌ، وَوَلِيٌّ، وَهُمَا الْعَاقِدَانِ، وَقَدْ بَدَأَ بِالْأَوَّلِ فَقَالَ: (إنَّمَا يَصِحُّ النِّكَاحُ بِإِيجَابٍ، وَهُوَ) قَوْلُ الْوَلِيِّ (زَوَّجْتُكَ أَوْ أَنْكَحْتُك) ابْنَتِي مَثَلًا إلَخْ (وَقَبُولٌ) وَهُوَ (بِأَنْ يَقُولَ الزَّوْجُ تَزَوَّجْتُ) هَا (أَوْ نَكَحْتُ) هَا إلَخْ، وَحَذَفَ الْمُصَنِّفُ مَفْعُولُ هَذَيْنِ الْفِعْلَيْنِ مَعَ أَنَّهُ لَا بُدَّ مِنْهُ فِي صِحَّةِ النِّكَاحِ لِمَا يُشِيرُ إلَيْهِ قَوْلُهُ (أَوْ قَبِلْتُ نِكَاحَهَا) وَهُوَ مَصْدَرٌ بِمَعْنَى الْإِنْكَاحِ أَيْ قَبِلْتُ إنْكَاحَهَا كَمَا صَرَّحَ بِهِ جَمْعٌ مِنْ اللُّغَوِيِّينَ، وَصَحَّ حِينَئِذٍ كَوْنَهُ قَبُولًا لِقَوْلِ الْوَلِيِّ أَنْكَحْتُكَ (أَوْ) قَبِلْتُ (تَزْوِيجَهَا) أَوْ هَذَا النِّكَاحَ أَوْ التَّزْوِيجَ. أَمَّا اعْتِبَارُ أَصْلِ الْإِيجَابِ وَالْقَبُولِ فَبِالِاتِّفَاقِ كَسَائِرِ الْعُقُودِ. وَأَمَّا هَذَا اللَّفْظُ فَلِمَا سَيَأْتِي، وَرَضِيتُ نِكَاحَهَا كَقَبِلْتُ نِكَاحَهَا كَمَا حَكَاهُ ابْنُ هُبَيْرَةَ الْوَزِيرُ عَنْ إجْمَاعِ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ وَإِنْ تَوَقَّفَ فِيهِ السُّبْكِيُّ، وَمِثْلُهُ أَرَدْتُ أَوْ أَحْبَبْتُ كَمَا قَالَهُ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ، وَقَدْ يَدُلُّ لِقَوْلِ ابْنُ هُبَيْرَةَ وَبَعْضِ الْمُتَأَخِّرِينَ قَوْلُ الْبُوَيْطِيِّ: وَمَتَى تَزَوَّجَ بِغَيْرِ اسْمِ التَّزْوِيجِ أَوْ الْإِنْكَاحِ لَا يَجُوزُ، فَإِذَا قَالَ الْوَلِيُّ: زَوَّجْتُكَ فَقَالَ: قَدْ قَبِلْتُ، أَوْ رَضِيتُ، أَوْ مَا أَشْبَهَ هَذَا لَمْ يَكُنْ شَيْئًا حَتَّى يَقُولَ: قَبِلْتُ النِّكَاحَ أَوْ التَّزْوِيجَ. قَالَ الْغَزَالِيُّ فِي فَتَاوِيهِ: وَكَزَوَّجْتُك زَوَّجْتُ لَكَ أَوْ إلَيْكَ فَيَصِحُّ؛ لِأَنَّ الْخَطَأَ فِي الصِّيغَةِ إذَا لَمْ يُخِلَّ بِالْمَعْنَى يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ كَالْخَطَأِ فِي الْإِعْرَابِ. اهـ.

وَمِثْلُ ذَلِكَ جَوَّزْتُكَ وَنَحْوُهُ، أَوْ أَبْدَلَ الْكَافَ هَمْزَةً كَمَا أَفْتَى بِهِ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ، وَلَوْ قَالَ قَبِلْتُ النِّكَاحَ أَوْ التَّزْوِيجَ، أَوْ قَبِلْتُهَا فَعَنْ نَصِّ الْأُمِّ الصِّحَّةُ فِي قَبِلْتُ النِّكَاحَ أَوْ التَّزْوِيجَ، وَالْبُطْلَانُ فِي قَبِلْتُهَا، وَجَرَى عَلَيْهِ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَغَيْرُهُ.

تَنْبِيهٌ: لَا يُشْتَرَطُ تَوَافُقُ الْوَلِيِّ وَالزَّوْجِ فِي اللَّفْظِ، فَلَوْ قَالَ الْوَلِيُّ: زَوَّجْتُكَ فَقَالَ الزَّوْجُ: قَبِلْتُ نِكَاحَهَا صَحَّ، وَبِهَذَا يَتِمُّ صَحَّ كَوْنُ أَوْ فِي كَلَامِ الْمُصَنِّفِ لِلتَّخْيِيرِ مُطْلَقًا، وَقَوْلُ الزَّوْجِ: تَزَوَّجْتُ أَوْ نَكَحْتُ لَيْسَ قَبُولًا حَقِيقَةً، وَإِنَّمَا هُوَ قَائِمٌ مَقَامَهُ إذَا ضُمَّ إلَى ذَلِكَ الضَّمِيرُ كَمَا قَدَّرْتُهُ فِي كَلَامِهِ. أَمَّا إذَا اقْتَصَرَ عَلَى تَزَوَّجْتُ أَوْ نَكَحْتُ فَإِنَّهُ لَا يَكْفِي وَإِنْ أَفْهَمَ كَلَامُهُ خِلَافَهُ وَتَقَدَّمَ الِاعْتِذَارُ عَنْهُ فَكَانَ الْأَوْلَى تَقْدِيمَ الْقَبُولِ الْحَقِيقِيِّ، وَهُوَ قَبِلْتُ نِكَاحَهَا أَوْ تَزْوِيجَهَا، وَكَلَامُهُ يُفْهِمُ
https://shamela.ws/book/11444/1887

 dari kutipan kitab Matan Minhaj at-Thalibin (karya Imam an-Nawawi) beserta penjelasannya dalam Mughni al-Muhtaj (karya Syekh al-Khatib asy-Syirbini):
Teks Matan (Minhaj at-Thalibin)
[Fasal] Akad nikah hanya sah dengan adanya Ijab, yaitu ucapan wali: "Zawwajtuka" (Aku nikahkan engkau) atau "Ankahtuka" (Aku kawinkan engkau). Dan Qabul, yaitu ucapan suami: "Tazawwajtu" (Aku menikahinya), "Nakahtu" (Aku mengawininya), atau "Qabiltu nikahaha" (Aku terima nikahnya), atau "Qabiltu tazwijaha" (Aku terima perkawinannya).

[Adab Bersetubuh & Sunnah Nikah]
...dan bagi pasangannya, hendaknya ia membaca doa ketika hendak bersetubuh: "Bismillahi, Allahumma jannibnas-syaithana wa jannibis-syaithana ma razaqtana" (Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau rezekikan kepada kami).
Di dalam kitab Al-Ihya': Dimakruhkan bersetubuh pada malam pertama awal bulan, malam terakhir bulan, dan malam pertengahan bulan (Nisfu). Dikatakan bahwa setan menghadiri persetubuhan pada malam-malam tersebut, dan dikatakan pula bahwa setan ikut bersetubuh. Beliau (Al-Ghazali) berkata: "Apabila suami telah menuntaskan hajatnya, hendaknya ia memberi waktu (menunggu) istrinya sampai menuntaskan hajatnya pula." Beliau juga berkata: "Bersetubuh pada malam Jumat mendapatkan dua pahala." Disunnahkan pula untuk tidak meninggalkan jema/bersetubuh sekembalinya dari bepergian (safar). Tidak haram bersetubuh dengan istri yang sedang hamil maupun menyusui.
[Fasal tentang Rukun-Rukun Nikah]
Rukun nikah ada 5 (lima):
 * Sighah (lafaz akad)
 * Istri
 * Dua orang saksi
 * Suami
 * Wali (suami dan wali adalah dua pihak yang berakad)
Penulis (Imam an-Nawawi) memulai dengan rukun pertama (Sighah), beliau berkata:
(Hanya sanya sah nikah itu dengan Ijab, yaitu) ucapan wali: (Aku nikahkan engkau atau Aku kawinkan engkau) dengan putriku (misalnya), dan seterusnya. (Dan Qabul) yaitu (dengan ucapan suami: Aku menikahinya atau Aku mengawininya) dan seterusnya.
Mushannif (Imam an-Nawawi) menghapus objek (maf'ul) dari kedua kata kerja tersebut padahal hal itu wajib ada demi sahnya nikah, karena telah diisyaratkan oleh ucapan selanjutnya: (atau Aku terima nikahnya). Kata nikah di sini adalah masdar yang bermakna inkah (penikahan/pengawinan), yaitu "Aku terima penikahannya" sebagaimana ditegaskan oleh sekelompok ahli bahasa. Dengan demikian, sah kedudukannya sebagai jawaban Qabul atas ucapan wali "Ankahtuka". (Atau) aku terima (perkawinannya), atau aku terima nikah ini, atau perkawinan ini.
 * Landasan Hukum: Keberadaan pokok Ijab dan Qabul disepakati (ijmak) sebagaimana akad-akad lainnya. Adapun kekhususan lafaz ini akan dijelaskan nanti.
 * Penggunaan Lafaz Lain: Ucapan "Radhiitu nikahaha" (Aku ridha nikahnya) sama kedudukannya dengan "Qabiltu nikahaha", sebagaimana dihikayatkan oleh Wazir Ibn Hubairah dari ijmak Empat Imam Madzhab, meskipun Imam as-Subki memberikan catatan (tawaqquf). Begitu pula ucapan "Aradtu" (Aku menghendaki) atau "Ahbabtu" (Aku menyukai) sebagaimana dikatakan sebagian ulama muta'akhkhirin (generasi belakangan).
 * Pendapat Al-Buwaithi: Pendapat Ibn Hubairah dan ulama muta'akhkhirin didukung oleh pernyataan Al-Buwaithi: "Jika seseorang menikah tanpa lafaz tazwij atau inkah, maka tidak boleh. Apabila wali berkata 'Zawwajtuka', lalu suami menjawab 'Qad qabiltu' (Sungguh aku telah menerima), 'Radhiitu' (Aku telah ridha), atau lafaz sejenisnya, maka hal itu belum dianggap apa-apa sampai ia mengucapkan 'Qabiltu an-nikah' atau 'at-tazwij'."
 * Pendapat Al-Ghazali: Imam Al-Ghazali dalam Fatawa-nya menyatakan: Kata "Zawwajtuka" (Aku nikahkan engkau) yang diucapkan "Zawwajtu laka" atau "Zawwajtu ilaika" tetap sah. Sebab, kesalahan lafaz selama tidak merusak makna hendaknya disamakan dengan kesalahan i'rab (tata bahasa).
 * Variasi Lafaz Lain: Begitu pula lafaz "Jawwajtuka" dan sejenisnya, atau mengganti huruf Kaf dengan Hamzah (sebagaimana difatwakan sebagian ulama muta'akhkhirin). Jika suami mengucapkan "Qabiltu an-nikah", "Qabiltu at-tazwij", atau "Qabiltuha", maka menurut nash kitab Al-Umm:
   * Sah pada ucapan "Qabiltu an-nikah" atau "at-tazwij".
   * Batal (tidak sah) pada ucapan "Qabiltuha" (Aku menerima wanita itu saja). Hal ini diikuti oleh Syekh Abu Hamid dan lainnya.
Peringatan (Tanbih):
Tidak disyaratkan kesamaan lafaz antara wali dan suami. Jika wali berkata "Zawwajtuka" (menggunakan derivasi tazwij), lalu suami menjawab "Qabiltu nikahaha" (menggunakan derivasi nikah), maka akadnya tetap sah.
Dengan penjelasan ini, sempurnalah makna kata "aw" (atau) pada perkataan mushannif sebagai bentuk pilihan (takhyir) secara mutlak. Ucapan suami "Tazawwajtu" atau "Nakahtu" hakikatnya bukanlah Qabul murni, melainkan berkedudukan menggantikannya jika disambung dengan kata ganti (dhamir), sebagaimana yang saya takdirkan dalam teksnya. Adapun jika suami hanya meringkas ucapan "Tazawwajtu" atau "Nakahtu" saja (tanpa kata ganti/objek), maka itu tidak mencukupi, meskipun zahir ucapan mushannif mengesankan sebaliknya. Oleh karena itu, yang lebih utama adalah mendahulukan lafaz Qabul yang hakiki, yaitu "Qabiltu nikahaha" atau "tazwijaha".

Dalam berbagai persoalan yang sulit dipahami, wajib bagi kita untuk berbaik sangka kepada para ahli ilmu.

Betapa indah perkataan Ibnu ‘Ashim dalam kitab Al-Murtaqa Al-Wushul:

“Dalam berbagai persoalan yang sulit dipahami, wajib bagi kita untuk berbaik sangka kepada para ahli ilmu.”

Di antara persoalan yang sulit adalah bagaimana menyikapi kekeliruan para ulama serta membantah perkataan-perkataan batil dari kalangan ahli bid’ah dan orang-orang yang menyelisihi kebenaran. Persoalan seperti ini dibahas oleh para ulama yang kokoh ilmunya, sebagaimana dijelaskan oleh Asy-Syathibi dalam Al-Muwafaqat dan Ibnu Rajab dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam.

Apabila para pemula dan orang-orang awam ikut terjun ke dalam persoalan ini, akan muncul berbagai fitnah dan bencana, sebagaimana yang dapat disaksikan pada zaman kita. Banyak fitnah muncul ketika sebagian pemula yang masih mentah dan belum matang dalam ilmu berusaha membantah kekeliruan para ulama dan perkataan-perkataan yang menyelisihi syariat. (Ta’dhimul Ilm - Syaikh Al-Ushoimi)
Ustadz maryono abdul muhsin

الخلاصة في اعتقاد أهل السنة والجماعة.جمع وترتيب لأقوال الإمام الآجري من كتابه الشريعة.

الخلاصة في اعتقاد أهل السنة والجماعة.
جمع وترتيب لأقوال الإمام الآجري من كتابه الشريعة.
رابط التحميل:
https://drive.google.com/file/d/1VJfGHqclIq-8F4UPK18KvKwn1yPtcZte/view?usp=sharing

Hukum mengenakan emas melingkar bagi wanita muslimah.

Hukum mengenakan emas melingkar bagi wanita muslimah.

Semisal gelang, kalung, afau cincin.

Mayoritas ulama' membolehkan, berbeda dengan Syeikh Al Albani rahimahullah, beliau mengharamkannya atas wanita muslimah.

Beliau mendasarkan pendapatnya pada hadits berikut:
 : ( من أحب أن يطوِّق حبيبَه بطوقٍ من نار فليطوِّقه بطوقٍ من ذهب ، ومن أحبَّ أن يسوِّر حبيبه بسوارٍ من نار فليسوِّره بسوارٍ من ذهب ، ومن أحبَّ أن يحلِّقَ حبيبَه بحلقةٍ من نار فليحلِّقه بحلقةٍ من ذهب ، وأما الفضة ؛ فالعبوا بها ، فالعبوا بها ، فالعبوا بها.
 "Barangsiapa ingin mengalungkan kalung api pada orang yang dicintainya, silahkan ia mengalungkan kalung emas padanya 

Barangsiapa ingin memakaikan gelang api pada orang yang dicintainya, silahkan ia memakaikan gelang emas padanya.

Dan arangsiapa ingin memakaikan cincin api pada orang yang dicintainya, silahkan ia memakaikan cincin emas padanya. 

Adapun perak—silakan bermain-main dengannya, silakan bermain-main dengannya, silakan bermain-main dengannya." 

https://www.al-albany.com/audios/content/10550/%D9%85%D8%A7-%D9%87%D9%88-%D8%A7%D9%84%D8%B0%D9%87%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%AD%D9%84%D9%82-%D9%88%D9%85%D8%A7-%D8%AD%D9%83%D9%85-%D9%84%D8%A8%D8%B3%D9%87-%D9%84%D9%84%D9%86%D8%B3%D8%A7%D8%A1

Tema tema ilmiyah semacam ini lebih layak didiskusikan dibanding status duda atau perjaka tingting, imam atau bukan imam, muhaddits atau sekedar bahits, karena menurut hemat ana tema tema ini akan membangkitkan fanatisme buta pada personal syeikh Al Albani.... sudah banyak komentar yang mengatakan bahwa menolak status muhaddits Syeikh Al Albani berdampak akan banyak masyarakat awam yang menolak hadits, ada pula yang berkata, masyarakat akan mengikuti para habib atau lainnya.

Geli saja bacanya: la sebelum syeikh al Albani, hingga zaman para sahabat,  apa ummat dalam kesesatan ?

Berbeda bila tema diskusinya tentang isu isu keilmuan, menambah cerdas, ilmu dan kedewasaan.

La bukankah bila beliau tidak diakui sebagai muhaddits berarti itu pelecehan? Sehingga sebagai bentuk loyalitas kepada ulama kita harus membela marwah para ulama?

Simak status selanjutnya.

Malah ia lebih takut dengan omongan istrinya yang berada di bawah kekuasaan dia di rumah. Subhanallah betapa lemahnya engkau wahai anak Adam!!

Terkadang beberapa manusia saking lemahnya iman mereka tak ada yang bisa menghentikannya dari perbuatan mungkar kecuali melalui hukuman duniawi, baik melalui penguasa, masyarakat, maupun keluarga. 

Tak mempan kalau kita sodorkan ayat-ayat suci maupun hadits-hadits nabawi. Karena nyatanya pelaku maksiat melakukan kemaksiatan karena ada reward duniawi yang ia kejar seperti harta, kesohoran, jabatan, dll. Kecanduannya terhadap maksiat tidak dapat menghentikannya kecuali dengan hukuman yang tampak, bukan sekedar ancaman ukhrawi yang tidak ia saksikan. 

Diriwayatkan dari dua sahabat yang mulia Utsman bin Affan dan Umar bin Khattab radhiyallahu anhuma sebuah atsar masyhur:

إن الله يزع بالسلطان ما لا يزعه بالقرآن

"Sesungguhnya Allah menghentikan kemungkaran melalui perantara penguasa apa-apa yang tidak dihentikan melalui perantara al-Qur'an."

Tapi yang parahnya kita saksikan di sini bahwa pelaku tidak takut ancaman pemimpin. Malah ia lebih takut dengan omongan istrinya yang berada di bawah kekuasaan dia di rumah. Subhanallah betapa lemahnya engkau wahai anak Adam!!
https://www.facebook.com/share/19LGT9KVAb/

dengan memutus hubungan

Wasiat Bagi Wanita yang Baru Menikah terhadap Suaminya:

وصايا للمرأة حديثة العهد بالزواج تجاه زوجها:


 قال العلامة ابن باز رحمه الله عز وجل: 


نوصي الحديثات العهد بالزواج  

نوصيهن بحسن الخلق و طيب العشرة مع الزوج و التحمّل لما يقع من تقصير من الزوج حتى تستقيم الأحوال ، و أن تكون حسنة الأخلاق حديثها مع زوجها طيّب ، تقوم بواجبها في منزلها ، تعتني بنفسها من جهة النظافة و الطيب ، و الحديث الطيّب مع زوجها ، لأن هذا من أسباب ثبات الزواج و بقائه و استمراره . 


ونحذِّرها من العنف و الشدة ، أو عدم تنفيذ أوامره التي لا محذور فيها ، بل المشروع لها أن تعتني بأوامره و تنفّذها له إذا كان ليس فيها محذور شرعًا ، أن تكون طيّبة في الكلام معه و الحديث بالإبتسام و الضحك المناسب ، و تنفيذ الأوامر و طيب المعاشرة ، و طيب المخالقة 

 مع التطيب مع النظافة ، مع إكرامه أهله كأمه و أخواته و أبيه و نحو ذلك ، كل هذا نوصي به الزوجات الجديدات و غيرهنّ . 


 [ دليل الزوجين ]


Wasiat Bagi Wanita yang Baru Menikah terhadap Suaminya:

Al-Allamah Ibn Baz rahimahullah berkata:

"Kami berwasiat kepada para wanita yang baru menikah agar berakhlak mulia dan bergaul dengan baik bersama suami, serta bersabar menanggung kekurangan yang terjadi dari pihak suami hingga keadaan menjadi harmonis. Hendaklah ia berakhlak baik, bertutur kata yang lembut kepada suaminya, menunaikan kewajiban di rumahnya, serta merawat diri dalam hal kebersihan dan wewangian. Bertutur kata yang baik kepada suami merupakan salah satu sebab kokoh, bertahan, dan berlanjutnya usia pernikahan.

Kami juga memperingatkan sang istri dari sikap kasar, keras, atau tidak menjalankan perintah suami yang tidak bertentangan dengan syariat. Justru yang disyariatkan baginya adalah memperhatikan perintah-perintah suaminya dan melaksanakannya selama tidak mengandung hal yang dilarang agama. Hendaklah ia senantiasa berkata baik saat berbincang dengannya, menyambutnya dengan senyuman dan tawa yang proporsional, mentaati perintahnya, bergaul dengan santun, serta berakhlak mulia. Hal itu disempurnakan dengan memakai wewangian, menjaga kebersihan, serta memuliakan keluarga suami seperti ibu, saudara perempuan, ayah, dan kerabatnya. Semua hal ini kami wasiatkan kepada para istri yang baru menikah maupun para istri secara umum."

[ Dalil az-Zawjayn ]