BAGAIMANA AKIDAH BISA BERUBAH?
Oleh Syaikh Abdullah Al Ubailan hafidzahullahu
Allah Ta'ala berfirman:
“Dan di antara orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang Nasrani,’ Kami telah mengambil perjanjian mereka. Namun mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari Kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al-Ma’idah: 14)
Ibnu Qayyim rahimahullahu berkata:
“Kemudian agama Al-Masih mulai mengalami penggantian dan perubahan hingga ajaran tersebut berganti dari generasi ke generasi dan lenyap. Tidak ada lagi yang tersisa di tangan orang-orang Nasrani darinya. Bahkan mereka merangkai suatu agama yang berada di antara agama Al-Masih dan agama para filsuf penyembah berhala. Dengan cara itu mereka bermaksud bersikap lembut terhadap berbagai bangsa agar mereka masuk ke dalam agama Nasrani. Mereka memindahkan mereka dari penyembahan kepada berhala-berhala yang tampak menuju penyembahan kepada berhala-berhala yang tersembunyi.” Selesai kutipan dari kitab Hidayatul Hayara.
𝟭. 𝗔𝘄𝗮𝗹 𝗠𝘂𝗹𝗮 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗶𝗺𝗽𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗸𝗶𝗱𝗮𝗵
Di antara perkataan Ibnu Qayyim yang paling kuat maknanya adalah: “Dengan cara itu mereka bermaksud bersikap lembut terhadap berbagai bangsa agar mereka memasukkan mereka ke dalam agama Nasrani.” Beliau tidak hanya menggambarkan hasil akhirnya, tetapi juga mengungkap bagaimana proses perubahan itu terjadi.
Akidah tidak selalu berubah melalui keputusan terang-terangan yang diucapkan seseorang, “Kami ingin mengubah agama kami.”
𝘼𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙩𝙖𝙥𝙞, 𝙥𝙚𝙧𝙪𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙠𝙖𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙖𝙬𝙖𝙡𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙠 𝙗𝙖𝙞𝙠: “𝙆𝙖𝙢𝙞 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖, 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖, 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙡, 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙠𝙚 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙜𝙖𝙢𝙖.”
Kemudian dimulailah berbagai bentuk kelonggaran sedikit demi sedikit:
⦁ 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖𝙣𝙜𝙖𝙥 𝙧𝙚𝙢𝙚𝙝 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢𝙣𝙮𝙖,
⦁ 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙣𝙖𝙨𝙝 𝙙𝙞𝙩𝙖𝙠𝙬𝙞𝙡,
⦁ 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙥𝙧𝙞𝙣𝙨𝙞𝙥 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙥𝙧𝙞𝙣𝙨𝙞𝙥-𝙥𝙧𝙞𝙣𝙨𝙞𝙥 𝙖𝙠𝙞𝙙𝙖𝙝 𝙙𝙞𝙙𝙞𝙖𝙢𝙠𝙖𝙣,
⦁ 𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙙𝙞𝙠𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣, “𝙄𝙣𝙞 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙝𝙖𝙥𝙖𝙣,” 𝙖𝙩𝙖𝙪 “𝙄𝙣𝙞 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙝𝙞𝙠𝙢𝙖𝙝,” 𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙟𝙪𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙙𝙖𝙝𝙪𝙡𝙪.
Kemudian datang generasi setelahnya dan mendapati sesuatu yang dahulu merupakan keringanan untuk sementara waktu telah menjadi agama yang ditetapkan. Lalu datang generasi ketiga yang tidak lagi mengetahui bahwa gagasan tersebut pada asalnya merupakan sesuatu yang masuk dari luar.
𝟮. 𝗣𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗔𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗛𝗶𝗸𝗺𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗹𝘂𝗻𝗮𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗔𝗴𝗮𝗺𝗮
Demikianlah, sikap lembut kepada manusia berubah menjadi sikap melunakkan agama, dan perbedaan antara keduanya sangat besar.
𝙎𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙞 𝙙𝙞𝙥𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙗𝙞𝙟𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙡𝙚𝙢𝙗𝙪𝙩. 𝙉𝙖𝙢𝙪𝙣 𝙝𝙞𝙠𝙢𝙖𝙝 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠, 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙗𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖. 𝙈𝙚𝙣𝙮𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙣𝙟𝙪𝙠, 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙣𝙟𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣.
Di sinilah letak bahaya perkataan Ibnu Qayyim: “Mereka merangkai suatu agama di antara agama Al-Masih dan agama para filsuf penyembah berhala.” Dalam gambaran beliau, penyimpangan itu bukan berupa penolakan total terhadap agama, melainkan berupa pencampuran: sebagian dari kebenaran dan sebagian dari gagasan manusia. Kemudian, seiring berjalannya waktu, campuran tersebut menjadi agama yang dibela oleh para penganutnya.
𝟯. 𝗣𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝗞𝗮𝘂𝗺 𝗠𝘂𝘀𝗹𝗶𝗺𝗶𝗻
𝙋𝙚𝙧𝙞𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙡𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙪𝙢𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙚𝙣𝙩𝙪. 𝙆𝙖𝙪𝙢 𝙈𝙪𝙨𝙡𝙞𝙢𝙞𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙡𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙣𝙪𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙣𝙣𝙖𝙩𝙪𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞: 𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙨𝙪𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙮𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞𝙖𝙣 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙝𝙖𝙢𝙞 𝙠𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙖𝙣, 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙟𝙪𝙨𝙩𝙧𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙨𝙪𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙥𝙪𝙖𝙨?
Yang pertama adalah dakwah dan hikmah, sedangkan yang kedua adalah awal dari perubahan.
Oleh karena itu, menjaga akidah tidak hanya dilakukan dengan memerangi penyimpangan yang jelas, tetapi juga dengan memperhatikan penyimpangan kecil yang dibenarkan dengan alasan niat yang baik. Sebab, banyak perubahan besar bermula dari suatu pandangan yang pada awalnya tampak lembut dan dapat diterima: “Kami ingin bersikap lembut terhadap berbagai bangsa agar kami dapat memasukkan mereka ke dalam agama.”
𝟰. 𝗛𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗻𝘆𝗮 𝗜𝗹𝗺𝘂 𝗠𝗲𝘀𝗸𝗶 𝗡𝗮𝘀𝗵 𝗔𝗴𝗮𝗺𝗮 𝗠𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗔𝗱𝗮
Demikianlah, ilmu tentang wahyu ditinggalkan dan pengamalan terhadapnya pun ditinggalkan.
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Ziyad bin Labid, ia berkata: Nabi ﷺ menyebutkan sesuatu, kemudian beliau bersabda, “Itu akan terjadi ketika ilmu telah pergi.”
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana ilmu akan pergi, sedangkan kita membaca Al-Qur’an, mengajarkannya kepada anak-anak kita, dan anak-anak kita akan mengajarkannya kepada anak-anak mereka sampai hari Kiamat?”
Beliau bersabda, “Semoga ibumu kehilanganmu (kalimat untuk memperhatikan ucapan selanjutnya), wahai Ziyad. Sungguh, dahulu aku menganggapmu termasuk orang yang paling memahami agama di Madinah. Bukankah orang-orang Yahudi dan Nasrani membaca Taurat dan Injil, tetapi mereka tidak mengamalkan sedikit pun dari apa yang ada di dalam keduanya?”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih.
Hal ini termasuk dalam firman Allah Ta'ala:
“Dan di antara mereka ada orang-orang yang buta huruf, yang tidak mengetahui Kitab kecuali angan-angan belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga.”
Keberadaan kitab semata tidak cukup untuk menjaga agama. Sebab, nash-nash dapat tetap ada, sementara pengetahuan tentangnya melemah. Kemudian pengamalan terhadap konsekuensinya juga melemah. Setelah itu, berbagai penakwilan dan warisan pemikiran yang turun-temurun masuk sedikit demi sedikit, hingga manusia menjauh dari pokok agama, sementara mereka mengira bahwa mereka masih tetap berpegang teguh kepadanya.