Jumat, 21 Agustus 2026

orang yg sudah biasa mengalami kesulitan hidup , berbagai cobaan yg datang tidak akan membuatnya kaget

*"Di antara peribahasa Yaman yang indah:*
_*"Wajah kesialan/bencana sudah terbiasa dengan tamparan."*_

*Peribahasa ini biasanya digunakan untuk menggambarkan orang yang sudah sangat terbiasa menghadapi kesulitan, ujian, atau celaan hidup, sehingga berbagai cobaan yang datang tidak lagi membuatnya kaget atau goyah.*

Barang siapa tidak makan dari hasil kapaknya sendiri, maka keputusannya bukan dari kepalanya

_*“Barang siapa tidak makan dari hasil kapaknya sendiri, maka keputusannya bukan dari kepalanya.”*_


*Maknanya adalah nasihat tentang kemandirian dan kerja keras: seseorang yang tidak berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhannya akan kehilangan kebebasan dalam menentukan nasibnya.*

Pandangan mata tertuju pada banyak hal, tetapi hati hanya tertuju kepada yang dicintai

_*“Pandangan mata tertuju pada banyak hal, tetapi hati hanya tertuju kepada yang dicintai.”*_

*Ungkapan ini menggambarkan perbedaan antara pandangan mata dan pandangan hati — bahwa cinta membuat hati fokus pada satu arah, meski mata melihat banyak pilihan.*

KENALILAH LIMA ANGGOTA TUBUH KITA YANG YANG BIASANYA JIN SUKA MENETAP DI SITU !

Bismillah
KENALILAH LIMA ANGGOTA TUBUH KITA  YANG  YANG BIASANYA JIN SUKA MENETAP DI SITU ! 
By: Berik Said

Pertama
LUBANG MULUT

Yakni saat orang menguap dan tak menutup mulutnya, maka setan akan masuk lewat mulutnya.

Nabi shollalloohu ‘alayhi wa sallam bersabda :
عن أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (إِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ
“Apabila seseorang dari kalian menguap, letakkanlah tangannya pada mulutnya (tutuplah), karena SETAN AKAN MASUK (LEWAT MULUT) BERSAMA ORANG YANG MENGUAP.” 
(HSR. Muslim [2995])

Kedua
LUBANG HIDUNG

Nabi shollalloohu ‘alayhi wa sallam bersabda:
إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ
“Apabila salah seorang di antara engkau bangun tidur, hendaklah memasukan (istinsyaq) dan mengeluarkan air dari hidung (istinsyar) sebanyak tiga kali, karena SETAN MENGINAP PADA BATANG HIDUNGNYA.” 
(HSR. Bukhori [162] dan Muslim [238])

Ketiga
LUBANG TELINGA

Bahkan setan akan mengencingi telinga orang yang tak melakukan qiyamul lail.

Ibnu Mas’ud rodhialloohu ‘anhu menceritakan:
ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقِيلَ: مَا زَالَ نَائِمًا حَتَّى أَصْبَحَ، مَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ فَقَالَ: بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنِهِ
Disebutkan di sisi Nabi shollalloohu ‘alayhi wa sallam tentang seorang laki-laki yang selalu tidur sampai pagi tanpa mengerjakan shalat malam (Qiyamul Lail). Lalu beliau bersabda  “SETAN TELAH KENCING DI TELINGANYA”. 
(HSR. Bukhori [1144]; Muslim [774])

Keempat
LUBANG KEMALUAN MANUSIA

Nabi shollalloohu alayhi wa sallam bersabda:
لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا ، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا
“Jika salah seorang dari kalian menginginkan mendatangi (menyetubuhi) istrinya berdoa “Bismillaahi Alloohumma jannibnasy syaithoona wajannibisy syaithoona maa rozaqtanaa” maka jika Allah mentakdirkan memiliki anak melalui persetubuhan itu, maka ia (anak itu) tidak akan dibahayakan oleh syaitan selama-lamanya.” 
(HSR. Bukhori [7396] dan Muslim [1434]).

Mujahid rahimahullah berkata :
أَنَّ الَّذِي يُجَامِع وَلَا يُسَمِّي يَلْتَفّ الشَّيْطَان عَلَى إِحْلِيله فَيُجَامِع مَعَهُ
“Siapa yang berhubungan intim dengan istrinya lantas tidak mengawalinya dengan ‘bismillah’, maka setan akan menoleh pada pasangannya lalu akan turut dalam berhubungan intim dengannya” 
(Fathul Bari, [IX 229]).

Kelima
ALIRAN DARAH

Nabi shollalloohu ‘alayhi wa sallam bersabda :
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya setan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah
HSR. Bukhori [3281] dan Muslim [2175]).

Walhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin, wa shollalloohu ‘alaa Muhammadin …

Wahai Syaikh, apakah boleh berbicara dengan jin yang muslim?

السائل : يَا شَيْخُ هَلْ يَجُوْزُ الكَلَامُ مَعَ الجِنِّ المـُسْلِمِ ..؟
الألباني : نَحْنُ نَجِدُ صُعُوْبَةً فِي التَّعَامُلِ مَعَ البَشَرِ .. فَمَا بَالُكَ التَّعَامُلُ مَعَ مَخْلُوْقَاتٍ أُخْرَى ..؟ .... لَا يَجُوْزُ

Penanya: "Wahai Syaikh, apakah boleh ?berbicara dengan jin yang muslim
Al-Albani: "Kita saja mengalami kesulitan saat berinteraksi dengan sesama manusia.. lantas bagaimana lagi berinteraksi dengan makhluk lainnya..? .... Tidak boleh."

Hukum Mengkritik/Menyampaikan Pengingkaran Secara Terbuka Terhadap Instansi Pemerintah dan Para Pejabatnya

https://youtu.be/WWlHzvx4AnY?si=kE-fB_SkYOYr-Nlb 

 "حكم الإنكار العلني على الدوائر الحكومية والقائمين عليها" (Hukum Mengkritik/Menyampaikan Pengingkaran Secara Terbuka Terhadap Instansi Pemerintah dan Para Pejabatnya) [00:00]:
Pertanyaan yang Diajukan:
Apakah boleh mengkritik instansi pemerintah dan para pejabatnya (seperti menteri) secara terbuka di hadapan khalayak umum dengan alasan perbaikan dan menjelaskan kekurangan/kerusakan? [00:00]
Jawaban/Penjelasan:
Perbaikan Fasilitas & Pembangunan Instansi:
Jika yang dimaksud adalah perbaikan fisik, pembenahan, atau pembangunan sarana/prasarana instansi pemerintah yang rusak, maka hal tersebut tidak mengapa (boleh) [00:29].
Kritik/Celaan Terhadap Pejabat/Penguasa di Hadapan Orang Banyak:
Jika yang dimaksud dengan kritik adalah pencelaan, menjatuhkan kehormatan (tajrih), atau merendahkan para pejabat di hadapan umum, maka tidak diperbolehkan [00:59].
Berbicara dan mengkritik instansi atau pejabat di hadapan khalayak ramai termasuk perbuatan ghibah dan dapat menimbulkan kerusakan [01:24].
Hal ini karena tindakan tersebut dapat memicu ketidaktaatan kepada penguasa, merendahkan pemerintah, dan tindakan semacam ini merupakan ciri/cara kaum Khawarij [01:39].
Cara Mengkritik/Menyampaikan Saran yang Diperbolehkan:
Kritik atau penyampaian kekurangan/kerusakan hendaknya disampaikan langsung kepada pejabat yang berwenang atau pemegang kekuasaan (waliyul amr) agar dapat diperbaiki dengan baik [01:12].

Hukum Mengkritik Instansi Pemerintah Melalui Media Sosial

*🔥حكم انتقاد  الدوائر الحكومية عن طريق شبكات المواقع والتواصل الاجتماعي؟🔥*
أحسن الله إليكم، السؤال الثالث عشر: هل يجوز انتقاد بعض الدوائر الحكومية عن طريق شبكات التواصل الاجتماعي؟

جواب الشيخ :
الدوائر الحكومية نائبة عن ولي الأمر في حيز اختصاصها، فوزارة التربية والتعليم نائبة عن ولي الأمر سواء كان ملك أو رئيس الدولة أو أمير البلد أو غير ذلك، ووزارة التجارة كذلك، والتخطيط كذلك إلى آخرها.
وفي الحديث الصحيح ما يفصل في هذه القضية، قال-عليه الصلاة والسلام- : ((من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية، فليخلو به، وليأخذ بيده، فإن قبلها قبلها، وإن لا كان قد أدى ما عليه)) فهذا الحديث يفيد:
أولًا: وجوب السرية التامة في مناصحة ولي الأمر، فالمرافق التعليمية ولي الأمر النائب عن الإمام هو وزير فإذا لم ينصف، فرئيس الوزراء، فإذا لم يجد الإنصاف مَن فوقهم سواء كان الحاكم الأصل الإمام الأكبر أو نائبه.نعم.
الثاني: براءة الذمة بنصيحة ولي الأمر أو مَن ينوب عنه حسب اختصاصه على هذا الوجه الذي جاء في الحديث.نعم.
وبهذا يُعلم أنّه لا وجه ثالث، وتجميع أخطاء ولاة الأمر وما تفرع عنهم من الدوائر التي تنوبه وإشاعتها في أي محفل كان، سواء في الإنترنت، مواقع التواصل الاجتماعي، أو في الندوات، أو في المحاضرات، أو في الخطب، فهذا  ليس مسلك أهل السنة والجماعة، بل هو مسلك الخوارج القعدية.
والخوارج القعدية نسبوا إلى القعود، وسموا خوارج لأنهم يحرضون بهذا المسلك وأمثاله على ولي الأمر حتى ينحط قدره أو من قدره فيصبح لا هيبة له.نعم.
والواجب على مَن يملك النصيحة أن يسلك هذا المسلك الذي جاء عن المعصوم-صلى الله عليه وسلم- ولا مسلك غيره، وهذا الحديث رواه ابن أبي عاصم، وهو صحيح بمجموع طرقه.
فلا يغرنكم أنّ هؤلاء المتفزلكة المتفلسفة المتحزبة يسلكون هذا المسلك زعمًا منهم للنصيحة، حتى سمعنا بعض من ينتسب عندنا للعلم لما قيل له كيف هذا يا شيخ؟  قال: لا أستطيع الوصول إليهم، قلنا: أنت في عافية إن استطعت النصح على هذا الوجه فاسلكه وإلا فعهدتك بريئة، أما أنك تتكلم في ولي الأمر، أو تتكلم فيمن هو منه بمكان علنًا سواء كتابة في الصحف أو غير ذلك فأنت تسلك مسلك الخوارج القعدية من حيث تشعر أو لا تشعر.نعم.
[٢٣‏/٥، ٦:٢٢ ص] بن مشتاق: المصدر : العنوان: اللقاء المفتوح الثاني مع فضيلة الشيخ عبيد الجابري حفظه الله والذي عقد مساء الجمعة 27 جمادى الاولى 1435هـ
الشيخ: عبيد بن عبد الله الجابري
القسم: | لقاء مفتوح
تاريخ الفتوى: 28/03/2014

Hukum Mengkritik Instansi Pemerintah Melalui Media Sosial
Pertanyaan:
Semoga Allah berbuat baik kepada Anda. Pertanyaan ke-13: Bolehkah mengkritik sebagian instansi pemerintah melalui media sosial?
Jawaban Syaikh:
Instansi pemerintah adalah perwakilan dari penguasa (waliyyul amr) dalam lingkup kewenangannya masing-masing. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah wakil penguasa, baik itu raja, presiden, amir, maupun selainnya. Demikian pula Kementerian Perdagangan, Kementerian Perencanaan, dan seterusnya.
Dalam hadis yang sahih, terdapat rincian yang menyelesaikan permasalahan ini. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
> "Barang siapa yang ingin menasihati orang yang memiliki kekuasaan (penguasa), maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan. Akan tetapi, hendaklah ia mengambil tangannya dan menyendiri bersamanya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diharapkan. Jika tidak diterima, maka ia telah menunaikan kewajibannya."
Hadis ini memberikan faedah:
 * Kewajiban Kerahasiaan Total: Nasihat kepada penguasa harus disampaikan secara rahasia. Pada fasilitas pendidikan, wakil dari imam (penguasa) adalah menteri. Jika tidak mendapatkan keadilan dengannya, maka ke Perdana Menteri. Jika belum mendapatkan keadilan, maka kepada pihak di atasnya, baik itu penguasa tertinggi (imam akbar) maupun wakilnya.
 * Bebasnya Tanggung Jawab (Lepas Kewajiban): Kewajiban telah gugur dengan memberikan nasihat kepada penguasa atau wakilnya sesuai kewenangan mereka melalui cara yang dijelaskan dalam hadis ini.
Dengan demikian, diketahui bahwa tidak ada cara ketiga. Mengumpulkan kesalahan-kesalahan penguasa beserta instansi pemerintah yang menjadi wakilnya, lalu menyebarkannya di forum apa pun—baik di internet, media sosial, seminar, ceramah, maupun khotbah—bukanlah jalan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, melainkan jalan Khawarij Qa'adiyyah.
Dikatakan Khawarij Qa'adiyyah (yang duduk) karena mereka memprovokasi masyarakat melalui metode ini dan sejenisnya terhadap penguasa, sehingga wibawa dan kedudukan penguasa jatuh di mata rakyat.
Wajib bagi siapa saja yang ingin memberikan nasihat untuk menempuh jalan yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak menggunakan cara lain. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Abi 'Ashim dan berstatus sahih dengan penguat jalur-jalur periwayatannya.
Janganlah kalian terperdaya oleh orang-orang yang sok pintar, berfilsafat, dan berfaksi (hizbiyyah) yang menempuh cara ini dengan dalih memberikan nasihat. Sampai-sampai kami mendengar sebagian orang yang dinisbatkan kepada ilmu ketika ditanya, "Bagaimana bisa melakukan ini, wahai Syaikh?" Dia menjawab, "Saya tidak bisa menjangkau/menemui mereka."
Kami katakan: Kamu berada dalam keselamatan! Jika kamu mampu menasihati dengan cara ini (secara rahasia), lakukanlah. Jika tidak mampu, maka tanggung jawabmu sudah lepas. Adapun kamu membicarakan penguasa atau instansi yang mewakilinya secara terbuka—baik melalui tulisan di koran atau media lainnya—maka kamu telah menempuh jalan Khawarij Qa'adiyyah, baik kamu menyadarinya maupun tidak.
Sumber:
 * Judul: Al-Liqa' al-Maftuh (Pertemuan Terbuka) ke-2 bersama Yang Mulia Syaikh 'Ubaid al-Jabari hafizhahullah, diselenggarakan pada Jumat malam, 27 Jumadil Ula 1435 H.
 * Penceramah: Syaikh 'Ubaid bin 'Abdillah al-Jabari
 * Kategori: Pertemuan Terbuka (Liqa' Maftuh)
 * Tanggal Fatwa: 28 Maret 2014
https://www.facebook.com/share/p/1EkBFuoaj8/