Senin, 15 Juni 2026

video ceramah Syekh Abdul Razzaq al-Badr mengenai "Kisah Islamnya Thumamah bin Uthal رضي الله عنه":

https://youtu.be/C0n1Kzn9W3A?si=xW9wfRUzcsmni4Vn
video ceramah Syekh Abdul Razzaq al-Badr mengenai "Kisah Islamnya Thumamah bin Uthal رضي الله عنه":
Penangkapan Thumamah bin Uthal
Pasukan berkuda Rasulullah ﷺ diutus ke arah wilayah Najd dan berhasil menangkap seorang pria dari Bani Hanifah bernama Thumamah bin Uthal [00:01].
Thumamah bukanlah orang biasa, melainkan seorang pemimpin/sayyid dari kaumnya di wilayah Al-Yamamah [00:15].
Setelah dibawa ke Madinah, ia diikat di salah satu tiang masjid Nabawi [00:29]. Hal ini menjadi dalil diperbolehkannya mengikat tawanan di dalam masjid untuk sebuah maslahat [00:39].
Hikmah Diikat di Dalam Masjid
Menahan tawanan di tiang masjid merupakan salah satu metode dakwah [00:59]. Selama tiga hari, Thumamah bisa melihat langsung bagaimana kaum muslimin bersuci dan melaksanakan salat lima waktu [01:08]. Ia menyaksikan ibadah, ketundukan, dan ketaatan kepada Allah yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya [01:32].
Selain itu, ia juga mendengarkan lantunan ayat Al-Qur'an secara langsung [01:39]. Al-Qur'an memiliki keagungan dan pengaruh yang sangat besar dalam menggerakkan hati manusia, di mana banyak sahabat yang masuk Islam hanya karena mendengar satu ayat saja [01:46].
Dialog Santun Rasulullah ﷺ dengan Thumamah
Rasulullah ﷺ menemui Thumamah dengan penuh kelembutan tanpa ada kekerasan atau ucapan yang kasar [02:36]. Rasulullah bertanya: "Apa yang kamu miliki (harapkan), wahai Thumamah?" [02:48].
Thumamah menjawab: "Jika engkau membunuhku, engkau membunuh orang yang memiliki darah (memiliki kaum yang menuntut balas). Jika engkau memberi maaf, engkau memberi maaf kepada orang yang tahu berterima kasih. Dan jika engkau menginginkan harta, mintalah niscaya akan kuberi sebanyak yang engkau mau." [03:23].
Rasulullah ﷺ membiarkannya agar ia bisa mendengar Al-Qur'an lebih lama [04:09]. Dialog yang sama persis terulang kembali di hari kedua [04:20] dan hari ketiga [04:38].
Pembebasan dan Masuk Islamnya Thumamah
Pada hari ketiga, setelah Rasulullah ﷺ merasa Thumamah sudah mendapatkan pengaruh yang cukup dari dakwah (melihat orang salat dan mendengar Al-Qur'an), beliau memerintahkan para sahabat: "Lepaskan Thumamah!" [05:57].
Setelah dibebaskan, Thumamah pergi ke kebun kurma dekat masjid untuk mandi, kemudian kembali masuk ke masjid [07:09].
Ia langsung mengikrarkan syahadat: "Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh" [07:33].
Thumamah lalu mengungkapkan perubahan drastis di hatinya: "Wahai Muhammad, demi Allah, dahulu tidak ada wajah di muka bumi ini yang paling aku benci selain wajahmu, namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai." [08:58]. Ia juga menyatakan hal yang sama tentang agama Islam dan kota Madinah yang awalnya paling ia benci kini menjadi yang paling ia cintai [09:47].
Melaksanakan Umrah dan Memboikot Kaum Quraisy
Thumamah menyampaikan bahwa ia ditangkap saat sedang dalam perjalanan untuk melaksanakan umrah [12:00]. Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira kepadanya dan memerintahkannya untuk melanjutkan umrahnya [12:15].
Setibanya di Makkah, ia mengumumkan keislamannya secara terang-terangan di hadapan kaum musyrik Quraisy [13:17].
Sebagai bentuk pembelaan kepada Islam, Thumamah bersumpah: "Demi Allah, tidak akan datang kepada kalian satu biji gandum pun dari Yamamah sampai Rasulullah ﷺ mengizinkannya." [14:00].
Boikot ekonomi ini membuat kaum Quraisy kelaparan dan menderita, hingga akhirnya mereka menyurati Rasulullah ﷺ memohon atas nama hubungan kekerabatan agar beliau memerintahkan Thumamah membuka kembali pasokan makanan, dan Rasulullah ﷺ pun memenuhinya [14:35].

DOA MEMASUKI TAHUN BARU

DOA MEMASUKI TAHUN BARU

Dari Abdullah bin Hisyam radhiyallahu anhu, beliau mengatakan bahwa dahulu sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam mempelajari doa sebagaimana mereka belajar Al Quran. Apabila mereka memasuki bulan atau TAHUN yang baru, mereka berdoa...

اللهم أدخله علينا بالأمن والإيمان، والسلامة والإسلام، وجِوارٍ من الشيطان، ورضوان من الرحمن

Allahumma adkhilhu alaina bil amni wal imaan, wassalamatu wal islaam, wa jiwaarin minasy syaithan, wa ridhwaanun minar Rahmaan

Ya Allah, masukkanlah bulan/tahun ini kepada kami dengan disertai keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman, perlindungan dari syaithan dan keridhaan dari Ar Rahmaan..

Diriwayatkan oleh Al Baghawi dalam Mu'jamus Shahabah, dan sanadnya shahih. 

-Faidah dari Syaikh Al Ushaimi, terjemah WMB-

PENJELASAN SYAIKH UTSAIMIN TENTANG UCAPAN SELAMAT TAHUN BARU ISLAM

PENJELASAN SYAIKH UTSAIMIN TENTANG UCAPAN SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 

Setiap kali memasuki tahun baru Islam, perdebatan mengenai boleh atau tidaknya mengucapkan selamat tahun baru hijriyyah dan saling mendoakan kembali mencuat. 

Sebenarnya, ketika argumen disampaikan dengan baik dan tanpa merendahkan pihak yang berbeda pendapat, suasana diskusi akan menjadi lebih membangun. 

Ini tidak hanya memperkaya khazanah pengetahuan kita, tetapi juga menjaga hubungan baik antar sesama. Tak ada yang merasa tersinggung atau dirugikan oleh hujatan dan celaan.

Dalam artikel ini, kami menyajikan penjelasan dari para ulama yang dikutip dari fatwa-fatwa mereka mengenai ucapan selamat dan doa tahun baru. Semoga yang sedikit ini dapat menambah wawasan kita semua. Barakallahu fiikum.

-----------

Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsamin pernah ditanya dalam Liqo' Bab Al Maftuh No 93 tahun 1415 H

فضيلة الشيخ: ما رأيكم في تبادل التهنئة في بداية العام الهجري الجديد؟

Fadhilatus Syaikh, apa pendapatmu dengan saling mengucapkan selamat tahun baru hijriyah?

Beliau menjawab

أرى أن بداية التهنئة في قدوم العام الجديد لا بأس بها ولكنها ليست مشروعة بمعنى: أننا لا نقول للناس: إنه يسن لكم أن يهنئ بعضكم بعضاً، لكن لو فعلوه فلا بأس

Aku berpendapat tidak mengapa memulai mengucapkan selamat tahun baru, akan tetapi ini tidak disyariatkan. Maksudnya, kita tidak mengatakan kepada manusia bahwa disunnahkan bagi kalian untuk saling mengucapkan selamat. Akan tetapi kalau dilakukan, ya tidak ada masalah.

وإنما ينبغي له أيضاً إذا هنأه في العام الجديد أن يسأل الله له أن يكون عام خيرٍ وبركة فالإنسان يرد التهنئة. 

Hanya saja, lebih baik kalau dia mengucapkan selamat tahun baru, dia meminta kepada Allah agar tahun ini menjadi tahun kebaikan dan keberkahan, dan kemudian hendaknya ucapan selamat itu dibalas.

هذا الذي نراه في هذه المسألة، وهي من الأمور العادية وليست من الأمور التعبدية.

Ini pandangan kami terhadap masalah ini, ini masalah adat tradisi saja, bukan masalah ta'abudiyyah (ibadah yg diatur syariat -pen).

Demikian yang dinukil dari fatwa beliau rahimahullah.

Sebagai tambahan, terdapat atsar dari sebagian sahabat tentang doa kebaikan saat memasuki tahun baru.  

Asy Syaikh Shalih Al Ushaimi pernah menyampaikan sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Al Baghawi dalam Mu'jamus Shahabah dari Abdullah bin Hisyam, 

 كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَتَعَلَّمُونَ هَذَا الدُّعَاءَ كَمَا يَتَعَلَّمُونَ القُرآنَ إِذَا دَخَل الشَّهْرُ أَوِ السَّنَةُ: اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ، وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ، وَالْإِسْلَامِ، وَجوار مِنَ الشَّيْطَانِ، وَرِضْوَانٍ مِنَ الرَّحْمَنِ 

Para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mempelajari doa ini sebagaimana mereka mempelajari Al Quran. Apabila mereka memasuki bulan atau TAHUN YANG BARU, mereka berdoa...

اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ، وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ، وَالْإِسْلَامِ، وَجوار مِنَ الشَّيْطَانِ، وَرِضْوَانٍ مِنَ الرَّحْمَنِ

Allahumma adkhilhu alaina bil amni wal imaan, wassalamati wal islaam, wa jiwaarin minasy syaithan, wa ridhwaanin minar Rahmaan

Ya Allah, masukkanlah bulan/tahun ini kepada kami dengan disertai keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman, perlindungan dari syaithan dan keridhaan dari Ar Rahmaan.

Sanadnya atsar ini shahih insyaAllah, diishahihkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Ishobah (6/407-408).

Demikian semoga dapat menambah wawasan keilmuan kita.

Akhukum,
Wira Bachrun.

apakah metode/sarana dakwah (wasail ad-da'wah) bersifat ijtihadiah (berdasarkan ijtihad/pemikiran manusia) atau tauqifiyah (harus berdasarkan dalil syariat)

apakah metode/sarana dakwah (wasail ad-da'wah) bersifat ijtihadiah (berdasarkan ijtihad/pemikiran manusia) atau tauqifiyah (harus berdasarkan dalil syariat) 

​Berdasarkan penjelasan Syaikh Prof. Dr. Ibrahim Al-Ruhaili, terdapat tiga pendapat ulama kontemporer mengenai masalah ini:

  1. Pendapat Pertama: Sarana dakwah bersifat ijtihadiah dan bukan taufiqiyah . Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama besar, di antaranya Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, dan Syaikh Shalih Al-Fauzan 
  2. Pendapat Kedua: Sarana dakwah bersifat tauqifiyah dan bukan ijtihadiah . Pendapat ini dipegang oleh Syaikh Bakr Abu Zaid dan Syaikh Abdus Salam al-Barjis yang bahkan menulis buku khusus untuk mendukung pendapat ini 
  3. Pendapat Ketiga (Pendapat yang Kuat): Pendapat yang memberikan perincian (tafshil), yaitu sebagian sarana bersifat taufiqiyah dan sebagian lagi bersifat ijtihadiah  Pendapat ini dipegang oleh Syaikh Al-Albani, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Abdul Rahman al-Barrak, dan Syaikh Shalih Alu Syaikh https://youtu.be/fHToK58J7tY?si=cLmcE9E8pJLi02NJ

Dia menganugerahkan taufik kepadanya untuk bersesuaian (taat) dengan syariat.

Di antara nikmat Allah bagi manusia adalah Dia menganugerahkan taufik kepadanya untuk bersesuaian (taat) dengan syariat. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah nikmat yang paling besar; karena bersesuaian dengan syariat itu mengandung makanan (nutrisi) bagi badan sekaligus ruh. Sedangkan nikmat-nikmat fisik (duniawi) lainnya, di dalamnya hanya ada makanan untuk badan saja.
Terlebih lagi, nikmat fisik tersebut terkadang bisa menjadi kebaikan bagi manusia dan terkadang bisa menjadi keburukan. Sebab, di antara hamba-hamba Allah ada orang yang jika Allah buat dia kaya, maka kekayaan itu akan merusaknya; dan di antara mereka ada yang jika Allah buat dia miskin, maka kemiskinan itu akan merusaknya.
📖 (Al-Ta'liq 'ala Sahih al-Bukhari, Jilid 2, Halaman 620)
#Ibnu_Utsaimin

Tidak ada riwayat yang sahih (tetap) dari para pendahulu yang saleh (Salaf) mengenai ucapan selamat menyambut Tahun Baru Hijriah

"Tidak ada riwayat yang sahih (tetap) dari para pendahulu yang saleh (Salaf) mengenai ucapan selamat menyambut Tahun Baru Hijriah. Adapun argumen yang dijadikan sandaran oleh sebagian ulama belakangan (muta'akhirin) dari perkataan Imam Ahmad rahimahullah:
'Aku tidak akan memulai mengucapkan selamat kepada siapa pun, tetapi jika ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya, maka aku akan membalasnya.'
Maka sesungguhnya ucapan beliau tersebut adalah tentang ucapan selamat hari raya (Idulfitri/Iduladha), bukan tentang ucapan selamat Tahun Baru Hijriah."
Fadhilatus Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin 'Amir Al-Ruhaili

Lembaran ini adalah lembaran terakhir dalam kalender tahun 1447 Hijriah

https://www.facebook.com/share/1CvbziLW4C/
هذه الورقة آخر ورقة في تقويم عام ١٤٤٧هـ .. مضت أيامه ولياليه سراعًا، وهكذا تمضي الأعمار، حتى تُطوى صحيفة العمل، وتأتي لحظة التوقف للقاء الله، والانتقال من دار الفناء إلى دار البقاء. يَا أَيُّهَا الإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ).

Prof. Dr. Saad Al-Khathlan (@saad_alkhathlan) ✨
"Lembaran ini adalah lembaran terakhir dalam kalender tahun 1447 Hijriah... Hari-hari dan malam-malamnya telah berlalu dengan cepat, dan begitulah jalannya umur manusia berlalu, hingga lembaran amal ditutup, dan tibalah momen berhentinya kehidupan untuk menghadap Allah, serta berpindah dari negeri yang fana (dunia) ke negeri yang kekal (akhirat).
{Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu pasti akan menemui-Nya.} [QS. Al-Inshiqaq: 6]"