Kamis, 19 Februari 2026

Perbedaan Memperbolehkan ( boleh ) Dengan Menghalalkan ( halal ) :::

بسم الله الرحمن الرحيم.

::: Perbedaan Memperbolehkan ( boleh ) Dengan Menghalalkan ( halal ) :::

Diantara perkara yang membuat orang terjebak pemahaman takfiry atau khowarij adalah tidak bisa membedakan penggunaan kata "memperbolehkan" atau "boleh" dengan "Menghalalkan" atau "halal" dalam penggunaan bahasa indonesia.

Ketika sang takfiry atau khowarij ini membaca kitab syarhu naqidhil islam karya ulama ahlussunnah dan dia mendapati kata :

يُجوّز الحاكم الحكم بغير ما أنزل الله.

Karena dia sering menterjemahkan kata جاز - يَجُوز dengan kata "boleh", maka dia menterjemahkan kata جوّز - يُجوّز dengan kata "memperbolehkan", kemudian langsung ditarik kepada pemahaman makna "boleh" atau "memperbolehkan" dalam bahasa indonesia, ini merupakan kekeliruan yang besar, karena makna ucapan ulama يُجوّز الحاكم الحكم بغير ما أنزل الله adalah :

استحلّ الحاكم الحكم بغير ما أنزل الله.

Makna يُجوّز disitu adalah menghalalkan, bukan memperbolehkan sebagaimana dalam bahasa indonesia, karena kata "memperbolehkan" dalam bahasa indonesia bermakna "mengizinkan", kata "mengizinkan" atau "memperbolehkan" dalam bahasa indonesia itu ihtimal ( mengandung dua kemungkinan ), mengadung kemungkinan kufur dan kemungkinan maksiat ( dosa ) saja jika yang diizinkan tersebut adalah maksiat dan bukan kufur akbar ( tidak serta merta berhukum dengan hukum selain Allah adalah kufur akbar ).

Tidak serta merta "memperbolehkan" itu bermakna "menghalalkan", karena kata tersebut ihtimal, tidak diketahui kecuali ditanyakan lebih detail apa maksudnya atau ada qorinah ( indikasi yang dibenarkan ), dan "memperbolehkan" atau "mengizinkan" terus menerus tidak menunjukkan penghalalan.

Contoh :

Jika ada seorang anak perempuan yang sudah baligh mengatakan kepada ayahnya : ayah, boleh ya nanti aku ke kondangan tidak pakai jilbab ( tidak menutup aurat ) ..?

Ayah menjawab : boleh, tidak apa - apa.

Disini ayah telah dikatakan "memperbolehkan" anaknya untuk tidak menggunakan jilbab, dalam artian "mengizinkan" bukan "menghalalkan",  dan makna "boleh" disitu maksudnya "diizinkan", saya yakin orang yang berakal waras tidak akan mengatakan bahwa sang ayah telah "menghalalkan" anak perempuannya untuk tidak menggunakan jilbab ( menutup aurat ), karena ini adalah menghalalkan yang haram dan ini adalah kufur akbar.

kecuali jika ditanya lagi kepada ayah : apa makna kata "boleh"  yang ayah maksud ?

Ayah jawab : maksud saya halal bagi kamu untuk tidak pakai jilbab.

Atau berkata : tidak menutup aurat bagi perempuan yang baligh hukumnya halal.

Atau berkata : saya menghalalkan perempuan yang baligh untuk tidak menutup aurat.

Atau contoh lainnya yang masih banyak lagi dilingkungan kita 

Maka disini ayah jatuh pada kufur akbar karena menghalalkan yang haram.

Jika sang takfiry atau khowarij memastikan makna  kata "memperbolehkan" atau "mengizinkan" dalam bahasa indonesia bermakna "menghalalkan", maka konsekuensinya dia banyak mengkafirkan kaum muslimin atau bahkan dia telah mengkafirkan dirinya sendiri, karena banyak dari kaum muslimin memperbolehkan anaknya atau keluarganya berbuat maksiat.

Maka tatkala pemerintah "memperbolehkan" atau "mengizinkan" bawahannya berhukum dengan hukum selain Allah bukan berarti terpastikan bahwa pemerintah menghalalkan berhukum dengan hukum selain Allah.

Terkait berhukum dengan hukum selain Allah ini ada perincian yang sangat detail dan perkara yang sangat detail ini sering disalahpahami oleh sang takfiry atau khowarij, mirip dengan permasalahan udzur bil jahl saking detailnya, jika tidak mendalami dengan sebenar - benarnya dimungkinkan tergelincir.

Kerancuan memahami inilah diantara sebab sebagian saudara kita ini menjadi takfiry atau khowarij dan mereka mengkafirkan pemerintah muslim yang sah.

Semoga kita semua istiqomah diatas Al-haq.
Ustadz abu uwais ibnu tirmizi

pendapat Syaikh Ahmad Syakir menjadikan Mekah sebagai acuan global.

Pembahasan fikih hisab terkait penentuan awal bulan yang disampaikan oleh Ust. Nidhol Babanya Shofia ini menarik. 

Dari informasi tersebut, menurut yang saya pahami, kriteria yang paling paten sekaligus paling simpel sebagai kriteria hisab adalah dengan konsep (so called) "Wujudul Hilal", sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam risalah Awail asy-Syuhur: 

فيكون أول الشهر الحقيقي الليلة التي يغيب فيها الهلال بعد غروب الشمس، ولو بلحظة واحدة

"Awal bulan yang hakiki adalah malam yang hilal tenggelam setelah tenggelamnya matahari, meskipun jedanya hanya sekejap." 

Hal lain yang disebutkan oleh Syaikh Ahmad Syakir adalah menjadikan Mekah sebagai acuan tempat (bukan wilayah yang lain), berdalil dengan isyarat yang terdapat dalam Firman Allah Ta'ala: 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

"Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: 'Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.'" (QS al-Baqarah: 189)  

Beliau juga memungkas risalah tersebut dengan berkata: 

فلو ذهبنا إلى ما رأيته وفهمته، توحدت كلمة المسلمين في إثبات الشهور القمرية، وكانت مكة، وهي منبع الإسلام ومهبط الوحي، وهي ملتقى المسلمين في كل عام كأنهم على ميعاد، يتعارفون فيها ويتوادون، وفيها بيت الله الذي نحوه يتوجهون في صلاتهم، كانت مكة هذه مركز الدائرة لهم في تحديد مواقيتهم

"Sekiranya kita bisa sepakat dengan apa yang saya pahami, niscaya kalimat seluruh kaum muslimin (secara global) bersatu-padu dalam penetapan bulan-bulan Islam. Mekah adalah sumber Islam, tempat turunnya wahyu, dan tempat pertemuan kaum Muslim setiap tahun, seolah-olah mereka saling berjanji untuk bertemu di sana. Mekah adalah tempat kaum Muslim saling mengenal dan mencintai. Di Mekah, terdapat Baitullah yang seluruh kaum muslimin menghadap kepadanya di dalam shalat, sebagai simbol persatuan mereka. Dengan demikian, Mekah merupakan sentral untuk penentuan waktu bagi kaum muslimin." 

Secara konsep, saya pribadi cenderung kepada pendapat beliau (meskipun secara praktik, saya mengikuti masyarakat sekitar, yang mengacu pada ketetapan Pemerintah). Konsep "Wujudul Hilal" tersebut sebelumnya juga digunakan oleh Muhammadiyah (sebelum KHGT), hanya saja waktu itu peruntukan dan tempat acuannya masih bersifat lokal, sedangkan pendapat Syaikh Ahmad Syakir menjadikan Mekah sebagai acuan global. 

Allahu a'lam. 

adniku 260218 - 1 Ramadan 1447 H

Membela Saudara: Saat Berbuat Zalim maupun Dizalimi

Membela Saudara: Saat Berbuat Zalim maupun Dizalimi

​Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata:
Salah satu kaidah dasar dalam agama ini adalah prinsip 'tolonglah saudaramu, baik ia dalam posisi berbuat zalim maupun sedang dizalimi.'

​Menolongnya saat ia berbuat zalim dilakukan dengan cara:

● ​Mencegahnya dari perbuatan tersebut (menahan tangannya).
● ​Memberinya nasihat dan arahan yang tulus.
● ​Menyelamatkannya agar tidak membangun hukum hanya berdasarkan prasangka atau ilusi semata.
● ​Mendorongnya untuk mengedepankan keyakinan di atas dugaan, serta berpijak pada bukti nyata ketimbang keraguan.
● ​Membimbingnya agar diam dari melontarkan tuduhan batil yang berdosa.
● ​Menanamkan prinsip berbaik sangka (husnudzon) sebagai pengganti dari buruk sangka dan niat yang kotor.
● ​Serta mengingatkannya akan pedihnya siksa dan murka Allah.

​Sedangkan menolongnya saat ia dizalimi dilakukan dengan cara:

● ​Menghalau orang yang menzaliminya.
● ​Membantunya mendapatkan keadilan.
● ​Membela kehormatan dan martabatnya.
● ​Menghibur hatinya serta mengingatkannya akan besarnya pahala dan ganjaran yang luas di sisi Allah.
● ​Serta meyakinkannya bahwa Allah, dengan kehendak-Nya, pasti akan menolongnya, meski setelah beberapa waktu lamanya.

​Semoga Allah merahmati Syaikh Bakr Abu Zaid, mengampuninya, dan menempatkannya di surga-Nya yang luas. Amin.

📝 Tashiifun Naasi baynaz-Zhonni wal Yaqiin, hal.18
____________

قال الشيخ بكر ابو زيد «رحمه الله»:  من قواعد الملة "نصر المسلم اخاه المسلم ظالما او مظلوما" 

نصرته ظالما، بالاخذ على يده، وابداء النصح له، وإرشاده وتخليصه من بناء الحكم على الظنون والأوهام، واعمال اليقين مكان الظن، والبينة محل الوسوسة، والصمت عن القذف بالباطل والاثم، ومبدأ حسن النية، بدل سوء الظن والطوية، وتحذيره من نقمة الله وسخطه 

ونصرته مظلوما بردع الظالم عنه، والانصاف له منه، والدفع عن عرضه وكرامته، وتسليته وتذكيره بما له من الاجر الجزيل، والثواب العريض وان الله ناصره بمشيئته ولو بعد حين.«تصنيف الناس بين الظن واليقين (ص: 18)

رحم الله شيخنا الشيخ بكر ابو زيد وغفر له واسكنه فسيح الجنان

Credits هِدايــــةُ الحـيـــارى
Urbn

Fatwa Syaikh Bin Baz Agar Ikut Negeri Masing masing

Fatwa Syaikh Bin Baz Agar Ikut Negeri Masing masing

Syaikh bin Baz pernah ditanya oleh orang yang tinggal di Irak sedangkan di Saudi sudah terlihat hilal syawal sedangkan di irak belum. 
Beliau menjawab:

عليك أن تبقى مع أهل بلدك، فإن صاموا فصم معهم وإن أفطروا فأفطر معهم؛ لقول النبي ﷺ: الصوم يوم تصومون، والفطر يوم تفطرون، والأضحى يوم تضحون[1]، ولأن الخلاف شر، فالواجب عليك أن تكون مع أهل بلدك فإذا أفطر المسلمون في بلدك فأفطر معهم وإذا صاموا فصم معهم.
سؤال من برنامج (نور على الدرب)، (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 15/ 100). 

"Hendaklah kamu ikut bersama penduduk negerimu. Jika mereka berpuasa maka berpuasalah bersama mereka. Jika mereka berbuka (iedul fithr) maka berbukalah bersama mereka. Berdasarkan hadits: "shoum itu pada hari kalian berpuasa, iedul fithr itu pada hari kalian berriedul fithr, dan iedul adha itu pada hari kalian beriedul adha."
Dikarenakan berselisih adalah buruk. Maka wajib atas kamu bersama penduduk negerimu. Apabila kaum muslimin di negerimu berbuka (iedul fithr) maka berbukalah bersama mereka. Dan jika mereka berpuasa maka berpuasalah bersama mereka."

Inilah kefaqihan ulama. Padahal beliau termasuk yang merojihkan wihdatul matholi' namun beliau tetap menyuruh ikut negeri masing masing. Sebagaimana ditunjukkan oleh kaidah: 
درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
Ustadz badrusalam

Biografi Ringkas Al Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Biografi Ringkas Al Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

- Nama dan Nasab
Beliau adalah Abu Ibrahim Muhammad bin Umar bin Ahmad As Sewed -Hafizhahullahu Ta’ala-.

- Kelahiran
Beliau lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada hari Rabu, 5 Jumadil Awal 1385 H, bertepatan dengan 1 September 1965 M.

- Riwayat Pendidikan dan Tholabul ilmi

Tahun 1971–1977

Sekolah Dasar Muhammadiyah Cirebon

Tahun 1978–1980

Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Cirebon

Tahun 1981–1983

Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Cirebon

Tahun 1984-1987

Kuliah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab di Indonesia (LIPIA) 

Tahun 1990-1993

Mulazamah ilmiah kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahiamahullah di Saudi Arabia

Penjelasan: Setelah lulus SMA, beliau berkeinginan untuk mempelajari ilmu agama dan pergi ke Jakarta untuk belajar bahasa Arab di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab di Indonesia (LIPIA) hingga lulus tahun 1987.
Kemudian, beliau mengajar di Ma’had Al-Irsyad Islamiyyah, Tengaran, Semarang pada tahun 1990. Setelah itu, beliau memutuskan untuk melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Arab Saudi dan belajar langsung dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hingga tahun 1993 di Kota Unaizah, Provinsi Al-Qassim, Saudi Arabia.

- Riwayat Dakwah dan Mengajar Beliau
Selama belajar dan bermulazamah di Kota Unaizah tersebut beliau juga mendapat penugasan resmi di Islamic center kota Unaizah untuk mengajar dan menyampaikan ilmu kepada para pekerja Indonesia yang berada di kota  tersebut dan beliau juga aktif menulis kajian ilmiah dalam bentuk buku, leaflet dan bulletin. Di antara kajian di sana  adalah beliau membahas Syarah Kitabut Tauhid yang alhamdulillah pada waktu itu direkam dan diperbanyak dalam bentuk kaset dan rekamanan. Dan di antara buku karya beliau pada waktu itu yang dicetak dan tersebar di internet adalah yang berjudul “Jangan Dekati Zina”.
Setelah menyelesaikan pendidikan dan bermulazamah dengan Syaikh Al-Utsaimin, beliau mengajar di Ma’had Ihyaus Sunnah, Yogyakarta.
Kemudian beliau mendirikan dan mengembangkan lembaga pendidikan Dhiyaus Sunnah, yang menaungi Ma’had Dhiyaus Sunnah serta radio Islam Indah Siar di tanah kelahirannya.
Saat ini, beliau aktif mengajar di dua ma’had:

Ma’had Dhiyaus Sunnah, Cirebon.
Ma’had Nurul Ilmi, Majalengka, yang berjarak satu jam dari Cirebon.

- Di ma’had, beliau mengajar berbagai kitab, di antaranya:

Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid – Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh
Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah – Syaikh Muhammad Khalil Haras
Taisir Al-‘Allam Syarh ‘Umdatul Ahkam – Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam
Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah – Ibn Abi Al-‘Izz Al-Hanafi
‘Awa’iq Ath-Thalab – Abdul Salam bin Barjis Al-Abdul Karim
At-Tuhfah As-Saniyyah Bi Syarh
Muqaddimah Al-Ajrumiyyah – Muhyiddin Abdul Hamid
Syarh Qatr An-Nada Wa Ball As-Sada – Ibn Hisham

- Beliau juga mengadakan pengajian umum dengan kitab-kitab seperti:

Ittihaf Al-Qari’ Bi Ta’liqati ‘Ala Syarh As-Sunnah Lil Imam Al-Barbahari – Syaikh Shalih Al-Fawzan
Syarh ‘Aqidah As-Salaf Wa Ashabul Hadith – Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali
Taisir Al-Karim Ar-Rahman Fi Tafsir Kalam Al-Mannan – As-Sa’di
Iqtida’ As-Sirat Al-Mustaqim – Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
Mukhtasar Sirah Ibnu Hisyam
Ighatsah Al-Lahfan – Ibnul Qayyim
- Pengajian khusus di radio Islam:

Riyadhus Shalihin – Imam Nawawi
‘Isyratun Nisa’ – Imam An-Nasa’i
Kajian Selasa di rumah beliau;

Membahas Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam – Ibn Rajab Al-Hanbali.
Beliau juga mengajar di berbagai masjid di luar ma’had, di antaranya:

Masjid Jami’ Asy-Syafi’i (Cirebon) – Mukhtasar Sirah Ibnu Hisyam
Masjid Al-Ittihad Islamic Center (Tuparev Cirebon) – Kitab Fathul Majid
Masjid Jami’ Al-I’tisham (Jakarta) – Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam
Daerah Tegal – Mukhtasar Sirah Muhammad bin Abdul Wahhab
Daerah Pekalongan – Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid
Selain beliau aktif dalam memberikan ceramah dan mengisi berbagai kajian ilmiah di dalam dan luar kota, beliau juga pernah mendapat undangan untuk mengisi kajian ilmiah di luar negeri baik secara langsung ataupun via telepon.. Hafizhahullah wa ra’ah.

https://ponpesdhiyaussunnah.com/biografi-ustadz-muhammad-assewed/

🔗 Tautan kanal resmi Muhammad Umar As Sewed Hafizhahullah 

https://whatsapp.com/channel/0029VbApAiQBlHpkNUK3Vs2B

Kanal YouTube resmi : https://youtube.com/@muhammadbinumarassewedofficial?si=dxSTRWKgU4r_i5TC

FP Hadis Shahih

Syubhat Sebagian Penganut Wihdatul Mathla' (Rukyat Global)

~Syubhat Sebagian Penganut Wihdatul Mathla' (Rukyat Global) 

📝Sebagian orang yang terkena virus hizbi-haraki berusaha menggiring opini melalui kasus beberapa negara yang telah puasa lebih awal hari ini dengan menyebut bahwa berpuasa Hari Kamis mengikuti pemerintah RI berpuasa besok merupakan bentuk pemecah belahan umat. Lalu mengatakan bahwa batas negara yang ada sekarang bukan batas syar'i yang tidak dikenal sebelumnya. Ia hanya sekedar hukum berbasis politik yang tak ada landasannya dalam Islam. 

📚Kita katakan:
📙1) Berpuasa bersama penguasa kaum muslimin ada dasarnya di dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ini lah yang sesuai dengan maqashid syar'iyah dalam beribadah, yakni jama'ah. 

الصوم يوم يصوم الناس والفطر يوم يفطر الناس

"Hari berpuasa adalah hari ketika orang-orang berpuasa, dan hari raya adalah ketika orang-orang berhari raya." (H.R. Tirmidzi) 

📗2) Para ulama yang menganut pendapat wihdatul mathla' maupun ikhtilaful mathla' tidak pernah menyatakan bahwa berpuasa dengan pemimpin dapat memecah belah umat. Bahkan mereka lebih menganjurkan berpuasa bersama jama'ah kaum muslimin walaupun seseorang melihat hilal dengan sendirinya. 

Syaikh Bin Baz rahimahullah mengatakan:

الخلاف شر ، فالواجب عليك أن تكون مع أهل بلدك ، فإذا أفطر المسلمون في بلدك فأفطر معهم ، وإذا صاموا فصم معهم

"Perselisihan merupakan keburukan. Maka yang wajib atasmu adalah membersamai penduduk negerimu. Jika kamu muslimin di negerimu berhari raya maka berhari raya lah bersama mereka. Dan jika mereka berpuasa maka berpuasalah bersama mereka."

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan:

يصوم مع الإمام وجماعة المسلمين في الصحو والغيم. 

"Seseorang berpuasa bersama imam dan jama'ah kaum muslimin baik itu langit bersih maupun mendung."

📓3) Kondisi dahulu berbeda dengan kondisi sekarang. Informasi untuk sampai ke seluruh penjuru negeri masih memiliki hambatan. Oleh karena itu sebagian ulama berpuasa dengan rukyat daerah masing-masing, sedangkan yang di ibukota khilafah mengikuti khalifah. Adapun sekarang informasi bisa sampai dengan cepat sehingga tidak ada halangan untuk mengikuti pemerintah. Selagi mereka berpegang dengan metode syar'i dalam menentukan awal bulan maka layak untuk kita ikuti. 

✒️Kesimpulannya:
1) Puasa dan hari raya bersama pemimpin negara merupakan maqshad syar'i yang darinya dapat terealisasikan kesatuan kaum muslimin. 
2) Yang menganut wihdatul mathla' atau ikhtilaful mathla' silahkan berpegang dengan ijtihad masing-masing. Namun menggiring taat pemimpin kepada opini tidak baik seperti ini merupakan sebuah kesalahan. Andaikata Saudi belum liat hilal kemarin, mereka tidak akan berpuasa mengikuti negara yang sudah lihat hilal. Begitu lah seharusnya yang dilakukan, ikut penetapan hilal sesuai negara masing-masing. Wallahu Ta'ala a'lam.
Ustadz muhammad taufiq

Rabu, 18 Februari 2026

Ikhtilaful Mathali': Jika penduduk suatu negeri melihat hilal, sedangkan yang lain tidak, apakah seluruh umat Islam wajib berpuasa?

Ikhtilaful Mathali': Jika penduduk suatu negeri melihat hilal, sedangkan yang lain tidak, apakah seluruh umat Islam wajib berpuasa?

​Perbedaan tempat terbitnya bulan (Matlak) adalah realitas yang terjadi di antara negeri-negeri yang berjauhan, sebagaimana halnya perbedaan waktu terbitnya matahari. 

Namun, apakah hal itu menjadi pertimbangan dalam menentukan awal puasa umat Islam, waktu Idulfitri, Iduladha, dan bulan-bulan lainnya sehingga terjadi perbedaan awal dan akhir bulan di antara mereka? 

Ataukah perbedaan itu tidak perlu dianggap, sehingga umat Islam bersatu dalam puasa dan hari raya mereka?

​Persoalan ini adalah: "Jika penduduk suatu negeri melihat hilal, sedangkan yang lain tidak." Para ahli fikih berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi dua pendapat:

● ​Pendapat Pertama:

​Mazhab Hanafi (dalam pendapat mu'tamad mazhab), mazhab Maliki (dalam pendapat mu'tamad mazhab), sebagian ulama Syafi'iyah, dan mazhab Hanbali (ini adalah pendapat yang mu'tamad dalam mazhab) berpendapat bahwa perbedaan matlak tidak dianggap. Jika penduduk suatu negeri melihat hilal, maka seluruh negeri wajib berpuasa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala:

​"Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu." (QS. Al-Baqarah: 185)

​Serta sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
​"Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya." (HR. Bukhari: 1810).

​Hadis ini mewajibkan puasa berdasarkan mutlaknya ru'yah (melihat hilal) bagi seluruh kaum muslimin tanpa dibatasi oleh sekat geografis.

​Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:
"Sesungguhnya hari ini adalah bagian dari bulan Ramadan berdasarkan kesaksian orang-orang tepercaya, maka wajib berpuasa bagi seluruh muslim. Karena Ramadan adalah masa yang dibatasi oleh dua hilal (awal dan akhir bulan), dan telah terbukti bahwa hari tersebut adalah bagian darinya dalam segala hukum; mulai dari jatuh temponya utang, jatuhnya talak, pembebasan budak, kewajiban nazar, dan hukum lainnya. Maka wajib berpuasa berdasarkan teks dalil (nash) dan ijma'. Dan karena bukti yang adil telah bersaksi melihat hilal, maka puasa menjadi wajib sebagaimana jika negeri-negeri tersebut letaknya berdekatan." (Al-Mughni: 4/122).

● ​Pendapat Kedua:

​Pendapat yang paling kuat (Al-Ashah) menurut Syafi'iyah, sebagian Hanafiyah, sebagian Malikiyah, dan merupakan satu riwayat dalam Hanbali yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa: Jika matlak berbeda dan negeri-negeri tersebut berjauhan, maka penduduk negeri lain tidak wajib berpuasa. 

Namun jika negeri-negeri tersebut berdekatan, maka hukumnya dianggap satu negeri, dan penduduk negeri tetangganya wajib ikut berpuasa tanpa ada perselisihan.

​Mereka berdalil dengan perbuatan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang tidak mengamalkan ru'yah penduduk Syam berdasarkan hadis Kuraib. Kuraib bercerita:

"Hilal Ramadan muncul saat aku masih di Syam, aku melihatnya pada malam Jumat. Kemudian aku tiba di Madinah pada akhir bulan. Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku: 'Kapan kalian melihat hilal?' Aku menjawab: 'Kami melihatnya malam Jumat.' 

Beliau bertanya: 'Kamu sendiri melihatnya?' Aku menjawab: 'Ya, orang-orang juga melihatnya dan mereka berpuasa, begitu pula Muawiyah.' Ibnu Abbas berkata: 'Tetapi kami melihatnya malam Sabtu, maka kami akan terus berpuasa sampai kami menyempurnakan tiga puluh hari atau kami melihat hilal.' Aku bertanya: 'Tidakkah cukup bagimu ru'yah Muawiyah dan puasanya?' 

Beliau menjawab: 'Tidak, begitulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami.'" (HR. Muslim: 1087).

​Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan 
dalam Al-Majmu':

"Masalah ketiga: Jika hilal terlihat di suatu negeri namun tidak di negeri lain; jika kedua negeri berdekatan, hukumnya satu dan negeri lain wajib puasa tanpa ada khilaf di kalangan mazhab (Syafi'i). Namun jika berjauhan, ada dua pendapat masyhur:

1. ​Pendapat paling sahih (Al-Ashah): Penduduk negeri lain tidak wajib berpuasa. Pendapat ini ditegaskan oleh penulis (Al-Syirazi), Syekh Abu Hamid, Al-Bandaniji, dan lainnya.

2. ​Pendapat kedua: Wajib puasa. Ini pendapat Ash-Shaimari, disahihkan oleh Al-Qadhi Abu Thayyib, dkk. Mereka menjawab hadis Kuraib bahwa bagi Ibnu Abbas ru'yah di negeri lain belum terbukti dengan kesaksian dua orang adil. Namun yang sahih adalah pendapat pertama (tidak wajib)."

​Mengenai batasan "jauh" dan "dekat", ada tiga sudut pandang:

1. ​Paling sahih: Diukur berdasarkan perbedaan matlak (seperti Hijaz, Irak, dan Khurasan dianggap jauh karena beda matlak).

2. ​Kedua: Patokannya adalah kesatuan wilayah (provinsi/iklim).

3. ​Ketiga: Jarak jauh adalah jarak qashar solat. Namun pendapat ini lemah karena hilal tidak berkaitan dengan jarak perjalanan.

​Secara total, Imam An-Nawawi menyimpulkan ada enam pendapat (wajah) dalam masalah ini:

1. ​Wajib bagi setiap tempat secara mutlak.
2. ​Wajib bagi penduduk dalam satu wilayah (iklim) negeri rukyah saja.
3. ​Wajib bagi negeri yang matlaknya sama dengan negeri rukyah (Ini yang paling sahih menurut Syafi'iyah).
4. ​Wajib bagi negeri yang secara logika hilal tidak mungkin tersembunyi dari mereka kecuali ada penghalang.
5. ​Wajib bagi yang berada dalam radius jarak qashar.
6. ​Tidak wajib bagi selain negeri yang melihat rukyah secara mutlak.

​Kesimpulan & Pandangan Penulis

​Pendapat yang rajih adalah pendapat pertama: Bahwa jika penduduk suatu negeri melihat hilal, maka wajib puasa bagi seluruh umat Islam. 

Perbedaan pendapat ulama terdahulu sangat bisa dimaklumi karena dahulu tidak ada sarana komunikasi cepat untuk menginformasikan ru'yah ke seluruh penjuru dunia dalam satu malam, dan Allah tidak membebani manusia di luar kemampuannya.

​Namun sekarang, alhamdulillah, jika hilal terlihat di satu titik di bumi, seluruh dunia langsung mengetahuinya seketika. 

Mengambil pendapat ini (ru'yah global) akan menyatukan puasa, hari raya, hingga ibadah Haji. Bukan seperti yang kita saksikan sekarang berupa kekacauan yang tidak selayaknya terjadi, jika saat ini kita melihat jamaah haji sedang wukuf di Arafah, sementara di sebagian negeri masih tanggal 8 Dzulhijjah, dan di tempat lain sudah Iduladha. Mengikuti pendapat persatuan ini jauh lebih utama demi menyatukan kaum muslimin.

​Referensi :
Hasyiyah Ibnu Abidin (2/393), Al-Badai' (2/598), Al-Ikhtiyar (1/129, 130), Syarh Fathul Qadir (2/313), Adz-Dzakhirah (2/296), Ahkamul Qur'an li Ibn Al-Arabi (1/121), Al-Inshaf (3/273), Majmu' al-Fatawa (25/104), Al-Majmu' karya An-Nawawi (7/456, 458), Nailul Authar (4/267).

​Dr. Yasser An-Najjar
______________

اختِلافُ المَطالِعِ: (إذا رأى الهِلالَ أهلُ بَلدٍ دونَ غَيرِهم هل يلزم الجميع الصيام أم لا)

اختِلافُ مَطالِعِ الهِلالِ أمرٌ واقِعٌ بينَ البِلادِ البَعيدةِ، كاختِلافِ مَطالِعِ الشَّمسِ، لكنْ هل يُعتبَرُ ذلك في بَدءِ صيامِ المُسلِمين وتَوقيتِ عيدَيِ الفِطرِ والأضحى وسائِرِ الشُّهورِ فتَختلِفَ بينَهم بَدءًا ونِهايةً أو لا يُعتبَرُ بذلك ويَتوحَّدُ المُسلِمون في صَومِهم وفي عيدِهم؟

وهذه المَسألةُ هي: «إذا رأى الهِلالَ أهلُ بَلدٍ دونَ غَيرِهم»؛ فقد اختَلفَ الفُقهاءُ فيها على قولَيْن:

القول الأول:
ذهَب الحَنفيَّةُ في المَذهبِ والمالِكيَّةُ في المَذهبِ وبَعضُ الشافِعيَّةِ والحَنابِلةُ في المَذهبِ (وهو الصحيح) إلى أنَّه لا عِبرةَ باختِلافِ المَطالِعِ، فإذا رأى الهلالَ أهلُ بَلدٍ لَزِم جَميعَ البِلادِ الصَّومُ؛ لِقَولِ اللهِ تَعالى: ﴿ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ﴾ [البقرة: 185]، وقَولِ النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم: «صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ» رواه البخاري (1810).
فقد أوجَب هذا الحديثُ الصَّومَ بمُطلَقِ الرُّؤيةِ لِجَميعِ المُسلِمين دونَ تَقَيُّدِها بمَكانٍ.

وقال ابنُ قُدامةَ رحمه الله: إنَّ هذا اليَومَ من شَهرِ رَمضانَ بشَهادةِ الثِّقاتِ فوجَب صَومُه على جَميعِ المُسلِمين؛ ولأنَّ شَهرَ رَمَضانَ ما بينَ الهِلالَيْن، وقد ثبَت أنَّ this اليَومَ منه في سائِرِ الأحكامِ من حُلولِ الدَّيْنِ ووُقوعِ الطَّلاقِ والعِتاقِ ووُجوبِ النُّذورِ وغَيرِ ذلك من الأحكام؛ فيَجِبُ صيامُه بالنَّصِّ والإجماعِ؛ ولأنَّ البَيِّنةَ العادِلةَ شَهِدت برُؤيةِ الهِلالِ؛ يَجِبُ الصَّومُ كما لو تَقارَبت البُلدانُ. «المغني» (4/122)

القول الثاني:
وذهَب الشافِعيَّةُ في الأصَحِّ عندَهم وبَعضُ الحَنفيَّةِ وبَعضُ المالِكيَّةِ وهو قَولٌ لِلحَنابِلةِ اختارَه شَيخُ الإسلامِ ابنُ تَيميَّةَ رحمه الله إلى أنَّه إذا اختلَفت المَطالِعُ وتباعَدت البُلدانُ لا يَجِبُ الصَّومُ على أهلِ البَلدِ الآخَرِ، وإنْ تَقارَبت البُلدانُ فحُكمُهما بَلدٌ واحِدٌ، ويَلزَمُ أهلَ البَلدِ الآخَرِ الصَّومُ بلا خِلافٍ.

واستدَلُّوا على ذلك بأنَّ ابنَ عَباسٍ رضي الله عنهما لم يَعمَلْ برُؤيةِ أهلِ الشامِ لِحَديثِ كُرَيْبٍ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إلى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ، قال: فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ، وأنا بِالشَّامِ، فَرَأَيْتُ الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ في آخِرِ الشَّهْرِ، فَسَأَلَنِي عَبدُ اللَّهِ بنُ عَباسٍ رضي الله عنهما ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ، فقال: «مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ؟» فقُلتُ: رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فقال: «أنتَ رَأَيْتَهُ؟»، فقُلتُ: نَعَمْ، وَرَآهُ الناسُ وَصَامُوا، وَصَامَ مُعَاوِيَةُ، فقال: «لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فلا نَزَالُ نَصُومُ حتى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ أو نَرَاهُ»، فقُلتُ: أَوَلَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ؟ فقال: «لَا، هَكَذَا أَمَرَنَا رَسولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم » رواه مسلم (1087).

وقال الإمامُ النَّوَويُّ رحمه الله: المَسألةُ الثالِثةُ: إذا رأوُا الهِلالَ في رَمضانَ في بَلدٍ ولم يَرَوْه في غَيرِه، فإنْ تقارَبَ البَلَدانِ فحُكمُهما حُكمُ بَلدٍ واحِدٍ، ويَلزَمُ أهلَ البَلدِ الآخَرِ الصَّومُ بلا خِلافٍ، وإنْ تباعَدا فوَجهان مَشهورانِ في الطَّريقَتَيْن:

أصَحُّهما: لا يَجِبُ الصَّومُ على أهلِ البَلدِ الآخَرِ، وبهذا قطَع المُصنِّفُ والشَّيخُ أبو حامِدٍ والبَندَنيجيُّ وآخَرون، وصَحَّحه العَبدَريُّ والرافِعيُّ والأكثَرون.

والثاني: يَجِبُ، وبه قال الصَّيمَريُّ وصَحَّحه القاضي أبو الطَّيِّبِ والدارِميُّ وأبو علِيٍّ السِّنجيُّ وغَيرُهم، وأجابَ هؤلاء عن حَديثِ كُرَيبٍ عن ابنِ عَباسٍ أنه لم يَثبُتْ عندَه رُؤيةُ الهِلالِ في بَلدٍ آخَرَ بشَهادةِ عَدلَيْن، والصَّحيحُ الأولُ.

وفيما يُعتبَرُ به البُعدُ والقُربُ ثَلاثةُ أوجُهٍ:

أصَحُّها وبه قطَع جُمهورُ العِراقيِّين والصَّيدلانيُّ وغَيرُهم: أنَّ التَّباعُدَ يَختلِفُ باختِلافِ المَطالِعِ، كالحِجازِ والعِراقِ وخُراسانَ، والتَّقارُبُ ألَّا يَختلِفَ، كبَغدادَ والكُوفةِ والرَّيِّ وقَزوينَ؛ لأنَّ مَطلِعَ هؤلاء مَطلِعُ هؤلاء، فإذا رآه هؤلاء فعَدمُ رُؤيتِه لِلآخَرين لِتَقصيرِهم في التأمُّلِ أو لِعارِضٍ، بخِلافِ مُختلِفي المَطلِعِ.

والثاني: الاعتبارُ باتِّحادِ الإقليمِ واختِلافِه، فإنِ اتَّحَد فمُتقارِبان وإلا فمُتباعِدان، وبهذا قال الصَّيمَريُّ وآخَرون.

والثالِثُ: أنَّ التَّباعُدَ يَكونُ مَسافةَ القَصرِ، والتَّقارُبَ دُونَها، وبهذا قال الفَورانيُّ وإمامُ الحَرَمَيْن والغَزاليُّ والبَغَويُّ وآخَرون من الخُراسانيِّين، وادَّعى إمامُ الحَرَمَيْن الاتِّفاقَ عليه؛ لأنَّ اعتبارَ المَطالِعِ يُحوِجُ إلى حِسابٍ وتَحكيمِ المُنجِّمين، وقَواعِدُ الشَّرعِ تأبى ذلك، فوجَب اعتبارُ مَسافةِ القَصرِ التي علَّق الشَّرعُ بها كَثيرًا من الأحكامِ، وهذا ضَعيفٌ؛ لأنَّ أمرَ الهِلالِ لا تَعلُّق له بمَسافةِ القَصرِ، فالصَّحيحُ اعتبارُ المَطالِعِ كما سبَق.

فعلى هذا لو شَكَّ في اتِّفاقِ المَطالِعِ لم يَلزَمِ الصَّومُ الذين لم يَرَوُا؛ لأنَّ الأصلَ عَدمُ الوُجوبِ، ولأنَّ الصَّومَ إنَّما يَجِبُ بالرُّؤيةِ لِلحَديثِ، ولم تَثبُتِ الرُّؤيةُ في حَقِّ هؤلاء، لِعَدمِ ثُبوتِ قُربِهم من بَلدِ الرُّؤيةِ، هذا الذي ذَكرتُه هو المَشهورُ لِلأصحابِ في الطَّريقَتَيْن.

وانفرَد الماوَرديُّ والسَّرخَسيُّ بطريقَتَيْن أُخرَيَيْن، فقال الماوَرديُّ:
إذا رأوه في بَلدٍ دون بَلدٍ فثَلاثةُ أوجُهٍ:

أحَدُها: يَلزَمُ الذين لم يَرَوْا؛ لأنَّ فَرضَ رَمَضانَ لا يَختلِفُ باختِلافِ البِلادِ، وقد ثبَت رَمَضانُ.

والثاني: لا يَلزَمُهم؛ لأنَّ الطَّوالِعَ والغَوارِبَ قد تَختلِفُ لِاختِلافِ البُلدانِ، وإنَّما خُوطِبَ كلُّ قَومٍ بمَطلَعِهم ومَغرِبِهم، ألَا تَرى الفَجرَ قد يَتقدَّمُ طُلوعُه في بَلدٍ ويَتأخَّرُ في بَلدٍ آخَرَ، وكذلك الشَّمسُ قد يَتعجَّلُ غُروبُها في بَلدٍ ويَتأخَّرُ في آخَرَ، ثم كلُّ بَلدٍ يُعتبَرُ طُلوعُ فَجرِه وغُروبُ شَمسِه في حَقِّ أهلِه فكذلك الهِلالُ.

الثالِثُ: إنْ كانا من إقليمٍ لَزِمهم، وإلا فلا، هذا كَلامُ الماوَرديِّ.

وقال السَّرخَسيُّ: إذا رآه أهلُ ناحِيةٍ دونَ ناحِيةٍ، فإنْ قَرُبت المَسافةُ لَزِمهم كلَّهم، وضابِطُ القُربِ أنْ يَكونَ الغالِبُ أنَّه إذا أبصَره هؤلاءِ لا يَخفى عليهم إلا لِعارِضٍ، سَواءٌ في ذلك مَسافةُ القَصرِ أو غَيرُها، قال: فإنْ بَعُدت المَسافةُ فثَلاثةُ أوجُهٍ:

أحَدُها: يَلزَمُ الجَميعَ، واختارَه أبو علِيٍّ السِّنجيُّ.

والثاني: لا يَلزَمُهم.

والثالِثُ: إنْ كانت المَسافةُ بينَهما بحيث لا يُتصوَّرُ أنْ يُرى ولا يَخفى على أولئك بلا عارِضٍ لَزِمهم، وإنْ كانت بحيث يُتصوَّرُ أنْ يَخفى عليهم فلا.

فحصَل في المَسألةِ سِتُّ وُجوهٍ:

أحَدُها: يَلزَمُ كلَّ مَوضِعٍ منها.

والثاني: يَلزَمُ أهلَ إقليمِ بَلدِ الرُّؤيةِ دونَ غَيرِهم.

والثالِثُ: يَلزَمُ كلَّ بَلدٍ يُوافِقُ بَلدَ الرُّؤيةِ في المَطلِعِ دونَ غَيرِه، وهذا أصَحُّها.

والرابِعُ: يَلزَمُ كلَّ بَلدٍ لا يُتصوَّرُ خَفاؤُه عنهم بلا عارِضٍ دونَ غَيرِهم، وهو فيما حَكاه السَّرخَسيُّ.

والخامِسُ: يَلزَمُ مَن دونَ مَسافةِ القَصرِ دونَ غَيرِهم.

والسادِسُ: لا يَلزَمُ غَيرَ بَلدِ الرُّؤيةِ، وهو فيما حَكاه الماوَرديُّ، واللهُ تبارك وتعالى أعلَمُ.

فَرعٌ في مَذاهِبِ العُلماءِ فيما إذا رأى الهِلالَ أهلُ بَلدٍ دونَ غَيرِهم:
مَذهَبُنا، ونقَل ابنُ المُنذِرِ عن عِكرِمةَ والقاسِمِ وسالِمٍ وإسحاقَ بنِ رَاهَوَيْهِ أنَّه لا يَلزَمُ غَيرَ أهلِ بَلدِ الرُّؤيةِ، وعن اللَّيثِ والشافِعيِّ وأحمدَ: يَلزَمُ الجَميعَ، قال: ولا أعلَمُه إلا قَولَ المَدنيِّ والكُوفيِّ، يَعني مالِكًا وأبا حَنيفةَ. «المجموع» (7/456، 458)

والصحيح القول الأول أنه إذا رأى أهل بلد الهلال وجب الصوم على جميع المسلمين والخلاف القديم عند العلماء ممكن أن يكون معتبراً لأنه لم يكن هناك طريقة إذا رآه أهل بلد أن يعلم جميع البلدان الآخرى في نفس الليلة والله لا يكلف الناس فوق طاقتهم أما ولله الحمد إذا روي الآن في بلد من البلدان فجميع المسلمين في العالم يعرفون ذلك في نفس الوقت وفيه أيضاً جمع المسلمين في صيامهم وعيدهم وكذا يقال في سائر الشهور وفي الحج وليس كما نراه الآن من العبث أن الحجاج يكونون في عرفات وبعض البلاد يكون عندها الثامن من ذي الحجة وبعضهم يكون عندهم يوم العيد والناس على عرفات فالأخذ بهذا القول فيه جمع لكلمة المسلمين.

ويُنظَر: «حاشية ابن عابدين» (2/393)، و«البدائع» (2/598)، و«الاختيار» (1/129، 130)، و«شرح فتح القدير» (2/313)، و«الذخيرة» (2/296)، و«أحكام القرآن» لابن العربي (1/121)، و«الإنصاف» (3/273) (3/273)، و«مجموع الفتاوى» (25/104)، و«المجموع» للنووي (7/456، 458)، و«نيل الأوطار» (4/267).

#الدكتور_ياسر_النجار 
#فتاوى_فقهية #Doctor_Yaser_AlNajjar #موسوعة_الفقه_على_المذاهب_الأربعة 
#فقه_إسلامي #الصوم #الهلال

Credits الدكتور ياسر النجار - Dr. Yaser Al Najjar