Saya cukup skeptis terhadap berbagai perdebatan yang berusaha membenarkan tuduhan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berakidah tajsim. Demikian pula terhadap berbagai tuduhan yang terus diarahkan kepada beliau dan para ulama Ahlul Hadis yang sejalan dengannya hingga hari ini.
Mengapa? Karena yang sering saya temui hanyalah pengulangan kisah, tuduhan, dan polemik yang sama dari masa lalu terhadap para imam dan ulama Ahlul Hadis. Saya telah membaca dan menelaah banyak rincian perdebatan tersebut sejak akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Materinya berulang-ulang, seakan tidak pernah habis diangkat kembali.
Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk mempelajari akidah melalui kitab-kitab para ulama hadis yang memiliki sanad keilmuan yang jelas, bukan melalui kaidah-kaidah ahli kalam dan filsafat. Bagi saya, ini adalah nikmat besar yang wajib disyukuri.
Apa pun tuduhan yang terus diulang dan disebarkan, saya tetap bersyukur kepada Allah atas nikmat mengenal dan mempelajari agama melalui jalan para ulama hadis. Alhamdulillah.
----
Bab: Kumpulan Kritik dan Celaan Kaum Asy'ari terhadap Para Imam Islam dari Kalangan Salaf
Dengan nama Allah, segala puji bagi-Nya, dan shalawat serta salam kepada Rasulullah.
Berikut ini adalah sebagian yang berhasil saya kumpulkan dari ucapan-ucapan kaum Asy'ari yang menunjukkan apa yang tersimpan dalam hati mereka berupa kebencian terhadap para salaf dan sikap berlepas diri dari mereka.
Semua ini membatalkan klaim mereka bahwa mereka mengikuti salaf. Sebab tidak mungkin kecintaan kepada salaf, pembenaran terhadap mereka, dan mengikuti mereka dapat berkumpul dengan tindakan mencela para imam mereka yang telah disepakati keutamaannya pada zamannya.
1. Celaan mereka terhadap Imam Bukhari, Imam Muslim, dan ahli hadis secara umum
Ucapan Fakhruddin ar-Razi
Ar-Razi berkata dalam Asās at-Taqdīs:
"Telah masyhur di tengah umat bahwa sekelompok orang zindiq telah membuat hadis-hadis mungkar dan berupaya menyebarkannya kepada para ahli hadis. Para ahli hadis, karena baiknya hati mereka, tidak mengenali kepalsuan hadis-hadis itu, bahkan menerimanya.
Kemungkaran apa yang lebih besar daripada menisbatkan kepada Allah sifat-sifat yang mencederai ketuhanan dan membatalkan rububiyah-Nya?
Maka wajib dipastikan bahwa hadis-hadis semacam itu adalah hadis palsu.
Adapun al-Bukhari dan al-Qusyairi (Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi), mereka bukanlah orang yang mengetahui perkara gaib. Mereka hanya berijtihad dan berhati-hati sesuai kemampuan mereka.
Adapun keyakinan bahwa keduanya mengetahui seluruh keadaan yang terjadi sejak zaman Rasulullah ﷺ hingga zaman kita, maka tidak ada orang berakal yang mengatakannya.
Paling jauh yang dapat dikatakan adalah kita berbaik sangka kepada mereka dan para perawi mereka.
Namun apabila kita menemukan sebuah riwayat yang mengandung kemungkaran yang mustahil dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ, maka kita memastikan bahwa riwayat itu termasuk rekayasa orang-orang zindiq dan keberhasilan mereka dalam menipu para ahli hadis tersebut.
Anehnya, para ahli hadis itu mencacat perawi dengan sebab-sebab yang ringan; misalnya karena seseorang terlalu mencintai Ali sehingga dianggap Rafidhi lalu riwayatnya ditolak, atau karena Ma'bad al-Juhani berpendapat tentang qadar sehingga riwayatnya ditolak.
Akan tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang mengatakan: 'Orang ini menyifati Allah dengan sesuatu yang merusak uluhiyah dan rububiyah-Nya, maka riwayatnya harus ditolak.'
Sungguh ini termasuk hal yang mengherankan."
Ucapan Ibnul Jama'ah
Ibnul Jama'ah berkata dalam Idhāh ad-Dalīl:
"Kebanyakan ahli hadis hanya sibuk dengan periwayatan dan memperbanyak riwayat-riwayat ganjil, sementara mereka tidak mengetahui sifat-sifat yang wajib bagi Allah dan yang mustahil bagi-Nya berdasarkan dalil-dalil yang pasti menurut para ahli nazhar dan ilmu.
Mereka merasa cukup dengan sekadar periwayatan. Padahal hakikatnya, sebagaimana dikatakan sebagian imam, itu hanyalah keterbatasan ilmu."
Ucapan Ibnul Qayyim
Ibnul Qayyim berkata:
"Sebagian ulama mutaakhirin mereka — yang dianggap paling utama oleh mereka — pernah berusaha memusnahkan kitab-kitab Sunnah yang membahas sifat-sifat Allah, menyembunyikannya, dan menghilangkannya.
Bahkan sampai kepadaku berita tentang banyak dari mereka bahwa ketika pembacaan Shahih al-Bukhari mencapai bagian 'Kitab at-Tauhid wa ar-Radd 'ala al-Jahmiyyah', ia ingin bangkit dan pergi.
Pernah pula terdengar darinya celaan terhadap Muhammad bin Ismail al-Bukhari.
Apa dosa al-Bukhari? Bukankah ia hanya menyampaikan apa yang disabdakan Rasulullah ﷺ?
Sebagian yang lain berkata: 'Al-Bukhari telah merusak kitab shahihnya dengan pembahasan yang ia letakkan di bagian akhirnya ini.'"
2. Celaan mereka terhadap Imam ad-Daraquthni
Ibnul Jama'ah berkata dalam Idhāh ad-Dalīl:
"Sungguh telah diingkari ad-Daraquthni dan Ibn Khuzaimah karena meriwayatkan hadis-hadis semacam ini dan mencantumkannya dalam karya-karya mereka.
Kebanyakan ahli hadis hanya tenggelam dalam periwayatan dan memperbanyak riwayat-riwayat ganjil, sementara mereka tidak mengetahui apa yang wajib dan mustahil bagi Allah berdasarkan dalil-dalil yang pasti menurut para ahli ilmu dan nazhar.
Mereka merasa cukup dengan sekadar periwayatan.
Sebagaimana dikatakan sebagian imam, sekadar mengumpulkan hadis adalah pekerjaan orang-orang yang dangkal pemahamannya."
3. Celaan mereka terhadap Imam Ibn Khuzaimah
Ucapan Fakhruddin ar-Razi
Ar-Razi berkata:
"Ketahuilah bahwa Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah menyebutkan argumentasi sahabat-sahabat kami dengan ayat ini dalam kitab yang ia beri nama Kitab at-Tauhid.
Padahal pada hakikatnya kitab itu adalah kitab kesyirikan."
Ucapan Ibnul Jama'ah
Ibnul Jama'ah berkata:
"Jika seseorang berhujah dengan kitab Ibn Khuzaimah dan apa yang ia cantumkan di dalamnya berupa perkara-perkara besar ini — dan sungguh buruk apa yang ia lakukan dengan memasukkan riwayat-riwayat lemah dan palsu tersebut —
maka kami katakan: tidak ada kemuliaan baginya maupun pengikutnya apabila mereka menyelisihi dalil-dalil akal dan dalil-dalil syariat yang menunjukkan penyucian Allah dari sifat-sifat yang dinisbatkan melalui hadis-hadis lemah tersebut.
Ibn Khuzaimah, meskipun seorang imam dalam bidang hadis dan periwayatan, namun dalam pembahasan rasional dan penelitian mendalam ia jauh dari bidang tersebut.
Sebenarnya ia tidak membutuhkan untuk memasukkan riwayat-riwayat mungkar dan lemah itu ke dalam kitabnya."
Ucapan Syihab al-Halabi
Syihab al-Halabi berkata saat membantah Ibnu Taimiyah:
"Dinukil dari Ibn Khuzaimah bahwa siapa yang tidak mengatakan Allah berada di atas langit-langit-Nya, di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, maka ia wajib diminta bertaubat; jika tidak mau, maka dipenggal lehernya lalu dilempar ke tempat sampah agar tidak mengganggu kaum Muslimin maupun ahlu dzimmah.
Maka dijawab: pembahasan tentang hal ini telah berlalu sebelumnya.
Lagi pula, orang awam maupun kalangan khusus telah mengetahui pandangan Ibn Khuzaimah dalam masalah akidah, serta kitab yang ia susun tentang tasybih yang ia namai at-Tauhid.
Para imam telah banyak membantahnya, terlalu banyak untuk disebutkan."
4. Celaan mereka terhadap Imam al-Ajurri
Abul Ma'ali al-Juwaini berkata tentang al-Ajurri dan kitabnya yang mengumpulkan hadis-hadis sifat:
"Tidaklah seseorang sengaja mengumpulkan bab-bab seperti ini dan menyusun pembahasan-pembahasan seperti ini kecuali ia benar-benar seorang musyabbihah (penyerupa Allah dengan makhluk), atau seorang zindiq yang bermain-main dengan agama."
5. Celaan mereka terhadap Harb al-Kirmani
Yaqut al-Hamawi berkata:
"Di antara mereka ada Harb bin Ismail yang bertemu Ahmad bin Hanbal dan menjadi sahabatnya.
Ia memiliki beberapa karya dalam fikih, di antaranya Kitab as-Sunnah wal-Jama'ah.
Dalam kitab itu ia mencela berbagai kelompok dari kalangan umat Islam.
Kitab tersebut telah dibantah oleh Abu al-Qasim Abdullah bin Ahmad bin Mahmud al-Ka'bi al-Balkhi."
Penulis berkata:
"Al-Balkhi yang dibanggakan kaum Asy'ari karena bantahannya terhadap Ahlus Sunnah itu adalah salah satu tokoh besar Mu'tazilah dan pemimpin firqah al-Ka'biyyah."
7. Celaan mereka terhadap Ibn Abi Hatim
Al-Kautsari berkata:
"Ibn Abi Hatim yang malang itu — yang dikatakan bahwa malaikat pencatat amal buruk tidak menemukan sesuatu untuk ditulis tentang dirinya —
telah dirusak oleh Harb bin Ismail as-Sirjani ketika berada di penjara.
Akibatnya ia menjadi memusuhi para mutakallim yang berada di atas kebenaran.
Ia sampai mengatakan bahwa ucapan 'lafazhku terhadap Al-Qur'an adalah makhluk' merupakan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama.
Dalam kitab ar-Radd 'ala al-Jahmiyyah ia juga menuliskan hal-hal yang menunjukkan kerusakan akalnya."
8. Celaan mereka terhadap Abdullah bin Ahmad, al-Khallal, Ibn Abi 'Ashim, Abu Syaikh, al-'Assal, ath-Thabarani, Ibn Mandah, al-Hakam bin Ma'bad, as-Sijzi, al-Anshari, dan lainnya
Al-Kautsari berkata dalam mukadimah kitab al-Baihaqi:
"Lihatlah kitab al-Istiqamah karya Khasyisy bin Ashram, kitab-kitab yang bernama as-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad, al-Khallal, Abu Syaikh, al-'Assal, Abu Bakar bin Abi 'Ashim, ath-Thabarani, kitab al-Jami', as-Sunnah wal-Jama'ah karya Harb bin Ismail, at-Tauhid karya Ibn Khuzaimah dan Ibn Mandah, ash-Shifat karya al-Hakam bin Ma'bad al-Khuza'i, an-Naqdh karya Utsman bin Sa'id ad-Darimi, asy-Syari'ah karya al-Ajurri, al-Ibanah karya Abu Nashr as-Sijzi dan Ibn Baththah, Naqdh at-Ta'wilat karya Abu Ya'la al-Qadhi, serta Dzamm al-Kalam dan al-Faruq karya penulis Manazil as-Sairin.
Engkau akan menemukan di dalamnya hal-hal yang ditolak sekaligus oleh syariat dan akal."
Tentang kitab as-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad, ia berkata:
"Ia tidak mampu berjalan di atas metode ayahnya untuk tidak mencampuri hal-hal yang bukan urusannya.
Setelah wafat ayahnya, ia menulis kitab ini di bawah tekanan kelompok Hasyawiyah.
Dengan sangat disayangkan ia memasukkan ke dalamnya hal-hal yang bertentangan dengan agama Allah dan keimanan kepada-Nya, berupa penyifatan Allah dengan apa yang tidak layak bagi-Nya.
Maka ia menyesatkan para pengikutnya.
Para ulama dahulu enggan menampakkan kitab ini agar aib-aibnya tidak diketahui orang.
Kitab itu adalah kitab keberhalaan.
Kekufuran tetaplah kekufuran, siapa pun yang mengucapkannya."
Mereka Memenjarakan Orang karena Membaca Kitab-Kitab Salaf
Riwayat dari Ibn Katsir
Ibn Katsir berkata dalam al-Bidayah wan-Nihayah:
"Terjadi bahwa al-Hafizh Jamaluddin al-Mizzi membaca satu bagian dari kitab Khalq Af'al al-'Ibad karya al-Bukhari yang berisi bantahan terhadap Jahmiyyah di bawah Kubah an-Nasr setelah majelis pembacaan Shahih al-Bukhari dalam rangka istisqa.
Sebagian fuqaha yang hadir marah lalu mengadukannya kepada qadhi Syafi'i Ibn Shashra, yang merupakan musuh al-Mizzi.
Maka al-Mizzi pun dipenjara."
Riwayat dari Ibn Hajar
Ibn Hajar berkata dalam Inba' al-Ghumr pada peristiwa tahun 803 H:
"Pada tanggal 15 Muharram dibacakan kepada muhaddits Jamaluddin Abdullah bin asy-Syara'ihi kitab ar-Radd 'ala al-Jahmiyyah karya Utsman ad-Darimi di masjid jami'.
Lalu hadir Zainuddin Umar al-Kafiri.
Ia mengingkari majelis tersebut, mengecamnya, mengambil satu salinan kitab itu dan membawanya kepada qadhi Maliki.
Qadhi kemudian memanggil pembacanya, yaitu Ibrahim al-Malkawi, lalu memarahinya dengan keras.
Setelah itu ia memanggil Ibn asy-Syara'ihi, menyakitinya dengan ucapan, memerintahkan agar ia dipenjara, bahkan merobek salinan kitab miliknya.
Kemudian ia kembali memanggil sang pembaca, menanyakan akidahnya.
Pembaca itu menjawab:
'Aku beriman kepada apa yang datang dari Rasulullah ﷺ.'
Mendengar jawaban itu sang qadhi justru marah.
Ia memerintahkan agar orang itu dihukum ta'zir, lalu ia dipukul dan diarak.
Setelah itu ia kembali dipanggil dan dipenjara selama sebulan."
Dan dalam biografi qadhi tersebut, Ibn Hajar berkata:
"Dialah orang yang menyakiti al-Hafizh Jamaluddin asy-Syara'ihi karena dibacakan di hadapannya kitab ar-Radd 'ala al-Jahmiyyah karya Utsman ad-Darimi. Bahkan ia memerintahkannya dipenjara, merobek naskah kitab tersebut, dan sangat keras menyakiti sang pembaca."
Sumber dari link pada komentar