Kamis, 19 Maret 2026

Pada saatnya semua berhisab.

Pada saatnya semua berhisab.

Ada yang hisab asap alias perokok, namun ini berhisab yang terlarang dan dosa.

Ada yang berhisab, setiap kali shalat, sehingga kerjaannya mengikuti penetapan jadwal shalat produk hisab, bukan hasil ru'yah perjalanan matahari.

Padahal dalilnya jelas : 
اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوۡكِ الشَّمۡسِ الى غسَقِ الَّيۡلِ وقُرۡاٰنَ الۡـفَجۡرِ​ؕ إنَّ قُرۡاٰنَ الۡـفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُوۡدًا‏
Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh.1 Sungguh, salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (Al Isra' 78)

Hayo siapakah yang kalau shalat zuhur lihat pergerakan matahari dulu? 

Dan siapa yang tidak menggunakan jadwal waktu shalat di HP, atau jam dinding di Masjid?

Mas dan mbak yang budiman, secara konsep dan keyakinan hati, saya tuh lebih memilih metode ru'yatul hilal dalam penetapan ied atau puasa atau lainnya.

Namun faktanya, penetapan persaksian ru'yatul hilal diserahkan kepada pemerintah, dan bisa jadi pemegang otoritas penetapan ini kurang obyektif, sehingga menerima atau menolak persaksian berdasarkan hawa nafsu dan kepentingan politik atau pesanan sponsornya, maka saya sih tetap ikut saja, dosanya biar mereka yang nanggung.

Sebagaimana dalam penetapan waktu shalat, bila ternyata muazzin yang azan salah penetapan waktu shalat karena satu atau lain hal, maka dosa ya ditanggung oleh muazzin....saya dan anda juga mungkin sama, ikut ikut saja, ndak cross cek keakuratan waktu azannya.

Hisab dalam penetapan waktu shalat bisa diterima karena dianggap memudahkan, kebanyakan kita sudah ndak mau repot repot memantau perjalanan matahari, dan dianggap akurat karena  didukung oleh kemajuan ilmu dan tekhnologi, padahal shalat terulang 5 x sehari...sedangkan ru'yatul hilal  hanya 1x sebulan, namun demikian ilmu dan tekhnologi dianggap belum cukup akurat untuk mengetahui waktu terbitnya hilal....pada saat gerhana matahari dan bulan juga pakai hisab tuh, dan ndak diributkan seperti ketika penetapan awal bulan....saya mikir serius sejak beberapa lama, kok nggak ngeh ngeh apa bedanya ya.

Eh, patut direnungkan juga seingat saya, sekali lagi seingat saya, hasil ru'yah yang ditetapkan pemerintah, selalu sesuai dengan kalender yang terpampang di dinding rumah kita......monggo dikoreksi, semoga saya salah ingat.

Lebih berat lagi, masalah seperti ini dan juga lainnya, memiliki 2 sudut kajian berbeda:
1. Kajian fiqih.
2. Kajian akidah/idiologi.

Sepatutnya diskusinya berhenti pada ranah kajian fiqih saja, sehingga dada anda tetqp bisa lapang menyikapi yang berbeda.

Namun bila anda memasuki kajian sisi akidah/idiologinya, niscaya dada anda mudah terasa sesak, dan hasilnya ponis sesat, mubtadi' bahkan bisa kelewat sampai kafir mengkafirkan.

Ada juga yang semua urusan dianggap taat atau tidak taat kepada waliyul amri....padahal waliyul amrinya sendiri merestui perbedaan....apalagi sekedar perbedaan penetapan awal ramadhan atau akhirnya....la yang jelas jelas beda agama saja pemerintah juga merestui alias mempersilahkannya......ehem ehem ehem.

Kawan! Selama anda masih bisa merawat persaudaraan, maka rawatlah, jangan sampai sejuta alasan bersatu diabaikan hanya karena kita lebih berselera mencari alasan berpecah dan bermusuhan.

Kawan, yuk kita belajar mengasah dada kita agar mudah lapang bukan sebaliknya mudah sesak oleh setiap perbedaan....silahkan bergabung di sini: https://pmb.stdiis.ac.id/
https://www.facebook.com/share/18UJFzMdKu/
Ustadz Dr muhammad arifin badri Ma 
Rektor stdi jember imam syafii