Dalam banyak perdebatan publik, tidak jarang orang yang memilih pendekatan damai dalam konflik dituduh sebagai pecinta dunia atau dianggap kurang memiliki semangat perjuangan. Padahal dalam tradisi Islam, para ulama justru sangat berhati-hati dalam persoalan perang karena menyadari bahwa konflik bersenjata hampir selalu membawa kerusakan besar bagi masyarakat. Karena itu, keputusan antara perang dan perdamaian tidak semata ditentukan oleh semangat, tetapi oleh pertimbangan maslahat dan mudarat yang lebih luas.
1. Perdamaian dalam Islam bukan otomatis “cinta dunia”
Dalam banyak ayat, Islam justru mendorong perdamaian jika memungkinkan.
Al-Qur’an menyebutkan:
“Jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya.” (QS. Al-Anfal: 61)
Artinya, perdamaian bisa menjadi pilihan syar’i, bukan tanda kelemahan atau kecintaan berlebihan kepada dunia.
Contoh sejarah penting adalah perjanjian damai yang dilakukan oleh Muhammad dengan Quraisy, yang dikenal sebagai Treaty of Hudaybiyyah.
Saat itu banyak sahabat merasa perjanjian tersebut tampak merugikan, tetapi Nabi melihat manfaat jangka panjang bagi umat.
Dan memang setelah masa damai itu, Islam berkembang jauh lebih luas.
2. Ulama membedakan antara keberanian dan kecerobohan
Dalam fiqh siyasah (politik Islam), ulama sering membahas kaidah:
menimbang maslahah (manfaat)
dan mafsadah (kerusakan)
Jika sebuah tindakan:
hampir pasti menimbulkan kerusakan besar
korban sipil
kehancuran negara
maka menahan diri justru lebih sesuai dengan maqasid syariah (tujuan syariat).
Karena itu banyak ulama klasik seperti Ahmad ibn Hanbal dan Ibn Taymiyyah sangat berhati-hati terhadap konflik internal umat.
3. Tuduhan “cinta dunia” sering muncul dari cara pandang yang terlalu sederhana
Dalam retorika sebagian kelompok, logikanya sering seperti ini:
tidak perang = takut mati
takut mati = cinta dunia
Padahal realitas politik dan kemanusiaan jauh lebih kompleks.
Seseorang bisa memilih damai karena:
ingin menjaga nyawa masyarakat
mencegah perang saudara
menjaga stabilitas agar ilmu dan ibadah berkembang
atau menunggu waktu yang lebih tepat
Semua ini bukan cinta dunia, tetapi bentuk tanggung jawab terhadap umat.
4. Dalam sejarah, masa damai justru sering melahirkan peradaban
Banyak kemajuan ilmu Islam lahir bukan saat perang, tetapi saat stabilitas:
masa Abbasiyah awal
Andalusia pada masa keemasan
pusat-pusat ilmu seperti Baghdad dan Cordoba
Perang yang panjang justru sering menyebabkan:
keruntuhan ekonomi
hilangnya generasi ulama
dan kemunduran ilmu.
5. Sikap yang lebih adil adalah tidak mudah menuduh
Dalam tradisi ulama, niat seseorang tidak mudah dihukumi.
Menuduh orang lain “cinta dunia” hanya karena memilih strategi damai bisa menjadi bentuk penyederhanaan yang tidak ilmiah.
Yang lebih tepat adalah:
menilai situasi
menimbang maslahat dan mudarat
melihat konteks politik dan kekuatan yang ada.
✅ Jadi, dalam Islam:
perang bisa menjadi kewajiban dalam kondisi tertentu,
tetapi perdamaian juga bisa menjadi pilihan yang lebih bijak dalam kondisi lain.
Keduanya bukan masalah keberanian atau cinta dunia semata, tetapi soal hikmah dalam menimbang kemaslahatan umat.
Ustadz noor akhmad setiawan