Al-Imam Ibn Nashrullah Al-Hanbali rahimahullah (765–844 H)
Nama dan Silsilah
Al-Imam Ahmad bin Nashrullah bin Ahmad bin Muhammad bin Umar bin Ahmad dikenal dengan beberapa gelar kehormatan, di antaranya Al-Muhibb (Muhibbuddin) dan Asy-Syihab (Syihabuddin).
Beliau juga memiliki beberapa kunyah yang disebutkan dalam sumber-sumber biografi, seperti Abu Al-Fadhl, Abu Yahya, dan Abu Yusuf.
Dari sisi nisbah, beliau dikenal dengan beberapa penyebutan yang menunjukkan asal-usul dan tempat tinggalnya:
● Al-Baghdadi, karena lahir dan berasal dari Baghdad.
● At-Tustari, menunjukkan asal keturunan keluarganya.
● Al-Qahiri, karena kemudian menetap dan berkiprah di Kairo.
Beliau berasal dari keluarga ulama terpandang. Kakeknya adalah Al-Siraj Abu Hafsh Al-Bazzar, seorang ulama besar di Baghdad yang dikenal sebagai murid dari Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, juga penulis produktif sekaligus imam yang disegani
Kelahiran dan Masa Pertumbuhan
Ibn Nashrullah lahir pada hari Sabtu, waktu dhuha, 17 Rajab 765 H di Baghdad.
Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terpandang, terhormat, dan berpendidikan. Ayahnya merupakan seorang syaikh di Madrasah Al-Mustansiriyah, salah satu lembaga pendidikan paling bergengsi di Baghdad pada masa itu.
Sejak kecil beliau telah mendapatkan pendidikan agama yang kuat, dimulai dengan menghafal Al-Qur’an dan mempelajari berbagai ilmu dasar seperti fiqih, hadis, dan bahasa Arab.
Perjalanan Menuntut Ilmu (Rihlah Ilmiah)
Sebagaimana tradisi para ulama besar, Ibn Nashrullah melakukan rihlah ilmiah ke berbagai pusat ilmu di dunia Islam.
Perjalanan ilmiahnya antara lain:
● Baghdad
Di kota kelahirannya ini beliau menghafal Al-Qur’an dan mendalami berbagai ilmu dasar agama.
● Aleppo (786 H)
Di sini beliau mendengar hadis dari Asy-Syihab bin Al-Murahhal.
● Baalbek
Beliau mempelajari fiqih kepada asy-Syams Ibn Al-Yuniniyyah.
● Damaskus
Di kota ini beliau melazimi Al-Hafizh Ibn Rajab Al-Hanbali, salah satu ulama besar dalam madzhab Hanbali.
● Kairo (787 H)
Di Kairo beliau belajar kepada sejumlah ulama besar, di antaranya Al-Bulqini, Ibn Al-Mulaqqin, dan Al-Izz bin Al-Kuwaik.
● Iskandariyah
Beliau mengambil ilmu dari Al-Baha’ Ad-Damamini.
● Haramain
Beliau juga menunaikan ibadah haji sekaligus mengambil sanad hadis dari para ulama di tanah suci.
Guru-Guru Utama
Di antara guru-guru penting yang memberikan pengaruh besar dalam keilmuan beliau adalah:
Dalam fiqih:
Al-Nahramari
Asy-Syaraf Ibn Busytaka
Al-Hafizh Ibn Rajab Al-Hanbali
Dalam hadis dan berbagai disiplin ilmu:
Al-Kirmani, penulis Al-Kawakib Al-Darari.
Al-Majd Al-Syirazi, penulis kamus terkenal Al-Qamus.
Ibn Hajar Al-Asqalani, yang selain menjadi guru juga dikenal sebagai rekan diskusi ilmiah beliau. Ibnu Hajar dalam Inba' al-Ghumr sangat memuji ketelitian Ibnu Nashrullah.
Karier Ilmiah dan Jabatan
Sepanjang hidupnya, Ibn Nashrullah tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga sebagai tokoh penting dalam dunia pendidikan dan peradilan.
Dalam bidang akademik, beliau pernah:
● Mengajar hadis di Madrasah Al-Zhahiriyah, menggantikan Maulana Zadah.
● Mengajar fiqih madzhab Hanbali di beberapa madrasah besar di Kairo, seperti:
Madrasah Al-Mu’ayyidiyah
Madrasah Al-Manshuriyah
Madrasah Al-Syaikhuniyah
Dalam bidang yudikatif, beliau juga meniti karier penting dalam lembaga peradilan.
Beliau pernah menjadi wakil hakim pada masa Al-Majd Salim dan Ibn Al-Mughli.
Kemudian beliau diangkat sebagai Qadhi Al-Qudhat (Hakim Agung) madzhab Hanbali secara mandiri pada tahun 828 H, dan memegang jabatan tersebut dalam dua periode dengan total masa jabatan sekitar 14 setengah tahun.
Kepribadian dan Karakter
Ibn Nashrullah dikenal memiliki keahlian yang sangat kuat dalam fiqih (furu’), serta ushul fiqih.
Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat teliti dalam detail hukum dan kuat dalam argumentasi dalil.
Dari sisi kepribadian:
● Beliau memiliki wibawa tinggi di hadapan para penguasa.
● Dikenal jujur, tenang, dan sangat tertata dalam menyusun fatwa.
● Fatwa-fatwanya terkenal indah secara redaksi dan kuat secara dalil.
Dalam ibadah, beliau dikenal sebagai seorang yang:
● Berpegang teguh pada manhaj salaf.
● Tekun dalam tahajud.
● Sering menangis karena takut kepada Allah.
● Sangat menjaga sunnah-sunnah Nabi ﷺ dalam kehidupannya.
Karya-Karya Ilmiah
Ibn Nashrullah dikenal aktif menulis, terutama dalam bentuk hasyiyah (catatan pinggir) dan ringkasan ilmiah terhadap kitab-kitab besar.
Di antara karya dan kontribusinya adalah penyempurnaan syarah Mukhtashar Ibn Hajib karya Al-Kirmani.
Beliau juga menulis hasyiyah pada sejumlah kitab penting, seperti:
● Al-Tanqih karya Al-Zarkasyi
● Al-Furu’ karya Ibn Muflih
Selain itu, beliau juga memberikan hasyiyah pada kitab-kitab besar madzhab Hanbali seperti:
● Al-Wajiz
● Al-Muharrar
● As-Syarh
● Ar-Ri’ayah
● Al-Kafi
● Al-Mughni
● Al-Muntaqa (dalam bidang hadis)
Beliau juga menulis karya berjudul Mukhtashar Adz-Dzail ‘ala Thabaqat Al-Hanabilah, yang berkaitan dengan biografi ulama Hanbali.
Wafatnya
Ibn Nashrullah wafat pada hari Rabu, 15 Jumadil Ula 844 H, dalam usia hampir 73 tahun.
Beliau mengalami sakit kolik (nyeri perut) yang berlangsung sekitar dua bulan. Meski dalam kondisi sakit, beliau tetap berusaha menjaga ibadahnya. Bahkan disebutkan bahwa beliau masih melaksanakan shalat subuh dengan isyarat menjelang wafatnya.
Jenazah beliau dimakamkan di luar Bab Al-Nashr, Kairo, tepatnya di Pemakaman Al-Baghdadah.
Ada kedekatan tersendiri yang terasa ketika menyelami biografi beliau. Terinspirasi dari kunyah beliau yang mulia, saya pun menyematkan nama kunyah yang sama: Ibn Nashrullah.
Sebuah tafa’ul (harapan baik), semoga keberkahan ilmu, ketelitian, kefaqihan, dan pengabdian beliau terhadap madzhab Imam Ahmad bin Hanbal sedikit banyak turut mengalir kepada kami.
Tanpa hasyiyah (catatan kaki) beliau, kita mungkin akan kesulitan membedah kerumitan kitab Al-Furu’ karya Ibn Muflih.
Tidak mengherankan jika tokoh-tokoh besar madzhab Hanbali seperti Al-Mardawi, Al-Hajjawi, Al-Futuhi, Al-Buhuti, bahkan Al-Qu’aimi menjadikan karya-karyaya sebagai rujukan utama dalam meneliti dan mentahqiq berbagai persoalan rumit dalam madzhab Hanbali.
Semoga Allah merahmatinya dan memudahkan langkah kita untuk meniti jalan para ulama Hanabilah.
Reza Ibn Nashrullah Al-Hanbali
Bahan Bacaan:
As-Suhub Al-Wabilah ‘ala Dhara’ih Al-Hanabilah