Kamis, 26 Maret 2026

mencintai karena Allah itu lebih langka


 
Asy-Syaukani —semoga Allah merahmatinya— berkata:
"Suatu malam, aku berbaring di tempat tidur sambil memikirkan hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
> 'Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat para Nabi dan Syuhada iri kepada mereka.'
Aku terus memikirkan bagaimana maksud dari hadis ini! Bagaimana mungkin cinta karena Allah bisa membuat para nabi dan syuhada merasa iri atas mimbar-mimbar cahaya tersebut?!
Lalu aku bergumam, bahwa cinta yang ada di antara manusia saat ini sebagian besar bukanlah cinta karena Allah.
 * Suami mencintai istrinya, bukan karena Allah.
 * Istri mencintai suaminya, bukan karena Allah.
 * Orang tua mencintai anak-anaknya, bukan karena Allah.
 * Anak-anak mencintai orang tua mereka, bukan karena Allah.
Begitu pula:
Engkau mencintai pemimpin, mencintai pedagang, atau mencintai pejabat; engkau mencintai si fulan karena ketampanannya, karena suaranya, atau karena hartanya.
Maka aku menyadari bahwa mencintai karena Allah itu lebih langka daripada belerang merah (sesuatu yang sangat sulit ditemukan)!"
(Kitab Al-Fathur Rabbani, Jilid 9)
Intisari Pesan