Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim (1/452) karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
Terjemahan Teks
"Wajib bagi seorang Muslim, apabila ia melihat atau berbicara tentang keutamaan-keutamaan (suatu kaum), untuk menempuh jalan orang yang berakal lagi taat beragama; yang tujuannya adalah untuk mengetahui kebenaran dan berusaha mencapainya dengan sungguh-sungguh. Tujuannya bukanlah untuk berbangga diri di hadapan orang lain, tidak pula untuk meremehkan siapa pun. Imam Muslim telah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari 'Iyadh bin Himar al-Mujasyi'i radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
> 'Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu (rendah hati), hingga tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas yang lain, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim (melampaui batas) terhadap yang lain.'
>
Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui lisan Rasul-Nya melarang dua jenis sikap menyombongkan diri terhadap makhluk, yaitu: Al-Fakhr (berbangga diri) dan Al-Baghyu (kezaliman/melampaui batas). Hal ini dikarenakan orang yang menyombongkan diri, jika ia melakukannya berdasarkan kebenaran (kelebihan yang nyata), maka ia telah berbangga diri (fakhr); dan jika ia melakukannya tanpa kebenaran, maka ia telah berbuat zalim (baghyu). Maka, kedua hal ini tidaklah halal.
Jika seseorang berasal dari golongan yang utama—misalnya menyebutkan keutamaan Bani Hasyim, Quraisy, Arab, atau sebagian dari mereka—janganlah bagian (porsi) yang ia ambil dari hal tersebut adalah merasakan keutamaan dirinya sendiri dan terus memandang hal itu. Sebab, ia telah salah dalam hal ini; karena keutamaan suatu jenis (nasab/kelompok) tidak serta-merta memastikan keutamaan personal (pribadi), sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Betapa banyak orang Habasyi (Etiopia) yang lebih mulia di sisi Allah daripada mayoritas kaum Quraisy. Terlebih lagi, pandangan (ujub) semacam ini justru akan mengakibatkan kekurangannya dan keluarnya ia dari keutamaan, apalagi jika ia merasa tinggi atau menyombongkan diri dengannya.
Sebaliknya, jika ia berasal dari golongan yang lain—seperti kaum 'Ajam (non-Arab), atau selain Quraisy dan Bani Hasyim—maka ketahuilah bahwa pembenarannya terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada apa yang beliau kabarkan, ketaatannya pada apa yang beliau perintahkan, kecintaannya kepada orang yang dicintai Allah, meniru orang-orang yang dilebihkan Allah, serta tegak di atas agama yang hak (yang dengannya Allah mengutus Muhammad); semua itu mewajibkan dirinya menjadi lebih utama daripada mayoritas golongan yang (secara nasab) diutamakan tersebut. Inilah keutamaan yang hakiki.
Lihatlah kepada Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, ketika beliau menyusun Diwan (catatan administrasi negara/penerima tunjangan). Orang-orang berkata kepadanya: 'Mulailah dengan diri Amirul Mukminin sendiri.' Beliau menjawab: 'Tidak, tetapi tempatkanlah Umar di mana Allah telah menempatkannya.' Maka beliau memulai dengan ahli bait Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian orang-orang yang terdekat dengan mereka, hingga sampailah giliran beliau pada Bani 'Adi, padahal mereka termasuk kabilah yang urutannya di belakang dibandingkan kebanyakan suku Quraisy lainnya.
Kemudian, karena pengikutannya terhadap kebenaran dan hal serupa, (kedudukan) Umar pun didahulukan atas kaum Bani Hasyim secara umum, apalagi dibandingkan suku Quraisy lainnya."
Poin Penting dari Teks Ini:
* Keutamaan Nasab vs. Amal: Kelebihan suatu suku (seperti Quraisy) adalah keutamaan secara umum (jins), namun secara individu (syakhsh), ketakwaan adalah penentu utama.
* Bahaya Kesombongan: Ibnu Taimiyah menekankan bahwa merasa hebat karena keturunan justru merusak nilai keutamaan itu sendiri.
* Keadilan Umar bin Khattab: Beliau mendahulukan keluarga Nabi karena memuliakan Rasulullah, bukan karena kepentingan pribadi, namun secara kedudukan agama, Umar tetap melampaui mereka karena amalnya.
اقتضاء الصراط المستقيم (1/ 452)
الذي يجب على المسلم إذا نظر في الفضائل، أو تكلم فيها، أن يسلك سبيل العاقل الدين، الذي غرضه أن يعرف الخير، ويتحراه جهده، وليس غرضه الفخر على أحد، ولا الغمص من أحد، فقد روى مسلم في صحيحه عن عياض بن حمار المجاشعي رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إنه أوحي إلي أن تواضعوا، حتى لا يفخر أحد على أحد، ولا يبغي أحد على أحد».
فنهى سبحانه على لسان رسوله عن نوعي الاستطالة على الخلق، وهي: الفخر والبغي؛ لأن المستطيل إن استطال بحق فقد افتخر، وإن كان بغير حق فقد بغى، فلا يحل لا هذا ولا هذا، فإن كان الرجل من الطائفة الفاضلة، مثل: أن يذكر فضل بني هاشم أو قريش أو العرب أو بعضهم، فلا يكن حظه استشعار فضل نفسه، والنظر إلى ذلك، فإنه مخطئ في هذا؛ لأن فضل الجنس لا يستلزم فضل الشخص كما قدمناه، فرب حبشي أفضل عند الله من جمهور قريش، ثم هذا النظر يوجب نقصه وخروجه عن الفضل، فضلا عن أن يستعلي بهذا، أو يستطيل.
وإن كان من الطائفة الأخرى، مثل العجم، أو غير قريش، أو غير بني هاشم، فليعلم أن تصديقه لرسول الله صلى الله عليه وسلم فيما أخبر وطاعته فيما أمر، ومحبة من أحبه الله، والتشبه بمن فضل الله، والقيام بالدين الحق، الذي بعث الله به محمدا؛ يوجب له أن يكون أفضل من جمهور الطائفة المفضلة، وهذا هو الفضل الحقيقي.
وانظر إلى عمر بن الخطاب رضي الله عنه، حين وضع الديوان، وقالوا له: يبدأ أمير المؤمنين بنفسه فقال: لا، ولكن ضعوا عمر حيث وضعه الله. فبدأ بأهل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم من يليهم، حتى جاءت نوبته في بني عدي وهم متأخرون عن أكثر بطون قريش.
ثم هذا الاتباع للحق ونحوه، قدمه على عامة بني هاشم، فضلا عن غيرهم من قريش.
Ustadz nidlol mas'ud