Cinta dalam Kesederhanaan: Kisah Setia Buya Hamka dan Siti Raham yang Teruji oleh Kemiskinan dan Perjuangan
Di balik kebesaran nama Buya Hamka sebagai ulama, sastrawan, dan tokoh besar bangsa, tersimpan kisah cinta yang sederhana namun penuh kehormatan bersama istrinya tercinta, Siti Raham. Sebuah cinta yang tidak dibangun dengan kemewahan, tetapi ditempa oleh perjuangan, kesabaran, dan pengorbanan tanpa pamrih.
Kisah mereka bermula pada 5 April 1929, ketika Buya Hamka yang masih berusia 21 tahun mempersunting Siti Raham yang saat itu baru berusia 15 tahun. Pernikahan di usia muda itu bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan menjadi awal perjalanan panjang penuh ujian. Demi membiayai pernikahan, Buya Hamka bahkan menulis sebuah roman berbahasa Minang berjudul Si Sabariyah. Dari hasil penjualan buku itulah, ia mengumpulkan biaya untuk memulai rumah tangga—sebuah bukti bahwa perjuangan telah menjadi bagian dari cinta mereka sejak awal.
Hari-hari awal pernikahan tidak selalu mudah. Mereka hidup dalam keterbatasan, bahkan dalam kondisi kemiskinan yang begitu terasa. Pernah suatu masa, di rumah mereka hanya tersedia sehelai kain untuk salat, sehingga harus digunakan bergantian. Namun di tengah kesederhanaan itu, Siti Raham tetap tegar. Ia tidak pernah mengeluh, tidak pula menyalahkan keadaan.
Saat anak-anak mulai lahir dan kebutuhan keluarga semakin besar, cobaan pun semakin berat. Ketika anak ketiga mereka lahir di sebuah kamar sederhana di lingkungan pendidikan di Padang Panjang, kondisi ekonomi keluarga benar-benar berada di titik terendah. Namun justru di saat-saat sulit itulah kesetiaan Siti Raham semakin tampak nyata.
Ketika Buya Hamka harus merantau dan bekerja di Medan untuk menulis dan berdakwah, Siti Raham tetap berdiri kokoh menjaga rumah tangga. Ia mengurus anak-anak seorang diri, mendidik mereka dengan penuh kasih, sekaligus menjaga kehormatan suaminya.
Ada satu kisah yang begitu menyentuh tentang pengorbanan Siti Raham. Demi memastikan anak-anaknya tetap bisa makan dan bersekolah, ia rela menjual perhiasan dan kain-kain kesayangannya satu per satu. Kalung emas, gelang, hingga kain batik halus yang pernah dibelinya dengan susah payah, semua dilepas tanpa ragu. Baginya, kebahagiaan anak-anak jauh lebih berharga daripada harta benda.
Ketika melihat istrinya terus mengorbankan miliknya, Buya Hamka sempat berniat menjual kain Bugis kesayangannya. Namun Siti Raham dengan lembut menolak.
"Kain Angku Haji jangan dijual, biar kain saya saja," ujarnya.
"Karena Angku Haji sering keluar rumah. Jangan sampai di luar Angku Haji terlihat sebagai orang miskin."
Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa besar cinta dan penghormatan seorang istri kepada suaminya. Bahkan dalam kesulitan, ia tetap menjaga martabat sang suami di hadapan masyarakat. Baginya, cinta bukan sekadar perasaan, tetapi juga kehormatan.
Suatu ketika, dalam sebuah kunjungan dakwah di Makassar, Siti Raham diminta menyampaikan pidato. Dengan sederhana ia berkata di hadapan hadirin,
"Saya bukan pandai berpidato seperti Buya Hamka. Tugas saya hanya mengurus tukang pidato, dari memasakkan makanan hingga menjaga kesehatannya."
Ucapan yang tulus itu justru membuat ribuan orang terharu. Sorak-sorai menggema, memanggil namanya dengan penuh hormat. Dan di saat itulah, Buya Hamka tak kuasa menahan air mata. Ia menangis—bukan karena kelemahan, tetapi karena menyadari betapa besar pengorbanan istrinya selama ini.
Tangis itu adalah bukti bahwa di balik kesuksesan seorang lelaki besar, selalu ada perempuan hebat yang berdiri diam-diam di belakangnya.
Kisah cinta Buya Hamka dan Siti Raham mengajarkan bahwa cinta sejati bukan tentang kemewahan, bukan pula tentang kata-kata indah semata. Cinta sejati adalah tentang kesetiaan dalam kesulitan, tentang pengorbanan tanpa pamrih, dan tentang menjaga kehormatan satu sama lain dalam setiap keadaan.
Karena pada akhirnya, cinta bukan hanya rasa—
cinta adalah perjuangan, dan cinta adalah kehormatan. ❤️