Sabtu, 28 Maret 2026

Berikut apa yang dapat disimpulkan dari pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullaah tentang hisab pada Majmu' Fatawa 25/284

Berikut apa yang dapat disimpulkan dari pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullaah tentang hisab pada Majmu' Fatawa 25/284

1. Hisab tidak bisa memastikan rukyat hilal
Perhitungan hanya bisa menentukan posisi bulan & matahari (ijtimā‘, jarak, derajat)
Tapi tidak bisa memastikan terlihat atau tidaknya hilal
➡️ karena rukyat adalah fenomena empiris (fisik), bukan matematis murni
2. Visibilitas hilal dipengaruhi banyak faktor non-hisab
Seperti:
ketajaman mata 👁️
jumlah pengamat 👥
lokasi (tinggi/rendah) ⛰️
waktu pengamatan ⏱️
kondisi atmosfer 🌫️
➡️ Semua ini tidak bisa dipastikan dalam rumus tetap
3. Klaim “pasti terlihat / pasti tidak terlihat” adalah keliru
Karena realitasnya tidak punya hukum yang konsisten
Maka klaim kepastian dari hisab dalam rukyat = kesalahan ilmiah
4. Astrologi (mengaitkan langit dengan nasib) ditolak
Secara akal: terlalu banyak variabel → tidak bisa dipastikan
Secara syariat: haram dijadikan dasar hukum/keputusan
5. Gerakan langit bisa jadi sebab, tapi bukan penentu mutlak
Boleh diakui sebagai bagian dari sebab
Tapi tidak boleh diyakini sebagai penentu pasti kejadian di bumi
6. Islam memberi alternatif yang lebih kuat
Daripada spekulasi:
gunakan rukyat (pengamatan nyata)
lakukan ibadah (doa, shalat, sedekah, istighfar)
➡️ karena itu benar-benar berpengaruh dalam kehidupan

Selanjutnya jika dibandingkan dengan perkembangan ilmu astronomi sampai hari ini asumsi beliau menjadi tidak sepenuhnya tepat 

🌙 1. Apakah benar hisab tidak bisa memastikan rukyat?
👉 Dulu: benar (100%)
👉 Sekarang: tidak sepenuhnya
Dalam astronomi modern:
Kita bisa menghitung dengan sangat presisi:
elongasi (jarak sudut bulan–matahari)
tinggi bulan saat sunset
umur bulan
iluminasi (persentase cahaya)
Bahkan ada kriteria visibilitas hilal seperti:
kriteria Danjon limit
kriteria Bernard Yallop
kriteria Odeh, dll
➡️ Jadi sekarang kita bisa bilang:
“hampir pasti terlihat”
“hampir pasti tidak terlihat”
TAPI…
👉 tidak pernah 100% pasti
➡️ Ini penting: di sini justru Ibnu Taimiyah masih benar secara prinsip
👁️ 2. Faktor non-hisab masih berlaku?
Ibnu Taimiyah menyebut:
mata manusia
jumlah pengamat
lokasi
atmosfer
👉 Dalam astronomi modern: SEMUA ini masih diakui, bahkan dimodelkan!
Contoh:
turbulensi atmosfer → “seeing”
polusi cahaya
transparansi udara
kontras langit
➡️ Jadi bagian ini:
💯 masih sangat relevan dan terbukti ilmiah
⚖️ 3. Apakah klaim “tidak bisa dipastikan” masih valid?
👉 Jawaban modern:
❌ Salah jika dimaknai: “tidak bisa diprediksi sama sekali”
✅ Benar jika dimaknai: “tidak bisa dipastikan secara absolut”
➡️ Astronomi sekarang bekerja dengan:
probabilitas
model visibilitas
Bukan kepastian mutlak.
🔭 4. Di mana letak perbedaan besar dengan sains modern?
Ibnu Taimiyah:
melihat hisab hanya sampai “posisi”
tidak punya model visibilitas
Astronomi modern:
punya model visibilitas empiris + statistik
berbasis ribuan data rukyat global
➡️ Jadi upgrade-nya adalah: 👉 dari “tidak bisa dihitung” → menjadi “bisa diperkirakan dengan probabilitas tinggi”
🚫 5. Tentang astrologi
Ibnu Taimiyah menolak astrologi.
👉 Ini justru: 💯 sejalan dengan sains modern
Astronomi modern juga memisahkan:
✔️ astronomy (ilmiah)
❌ astrology (tidak ilmiah)
🎯 Kesimpulan jujur & seimbang
👉  Ibnu Taimiyah benar dalam prinsip, tapi terbatas dalam tools.
Kalau diringkas:
✔️ Benar: rukyat tidak bisa dipastikan mutlak
✔️ Benar: banyak faktor non-matematis
✔️ Benar: astrologi tidak valid
⚠️ Kurang lengkap: belum mengenal model probabilistik modern

Nah pengguna hisab bukan menolak pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullaah tapi menolak asumsi beliau karena hanya berlaku saat itu sedangkan sains berkembang maka sudah semestinya kita tidak jumud dalam teks klasik,  semua teks klasik ada asumsi dan kondisi yang sesuai zamannya sehingga kita perlu sesuaikan dengan realita dan kondisi saat ini.

Demikian renungan malam ini, matur nuwun.
Ustadz noor akhmad setiawan