blog ini berisikan kumpulan faedah faedah ilmu yang sangat bermanfaat kepada diri saya pribadi
Kamis, 30 April 2026
al-Iman****Karya Imam Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam (157 — 224 H)
Akidah Orang Awam Lebih Teguh Berbanding Ahli Kalam
Kok bisa ya banyak yang merasa kesambar kereta, eh syubhat?
Kawakib Ad-Durriyyah li Syarh Ad-Durrah Al-Mudhiyyah karya Muhammad bin Abdul Azis bin Maani
Syaikh abul hasan as sulaimani
Syaikh Abu Al-Hasan Musthafa bin Ismail As-Sulaimani : Batasan (Kriteria) Penisbatan kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ahYang dimaksud dengan Ahlus Sunnah
apabila hewan qurban cacat (karena insiden di tempat transit qurban) sebelum penyembelihan, namun saat pengiriman masih normal, bagaimana hukumnya
Ini kitab keren dan sangat bagus untuk ceramah, Berisi 331 pertanyaan-pertanyaan yang memperkaya wawasan.
Rabu, 29 April 2026
**Pembahasan Pertama: Metode Senyuman dan Candaan**
Jangan Pisahkan Negara Dengan Agama
Dahulu para salaf saling menghibur diantara mereka seraya mengatakan: Dunia ini hanya beberapa hari saja, adapun tempat tinggal sesungguhnya adalah surga".
Dan golongan Rafidhah (Syiah): Jika mereka memiliki kekuasaan, sesungguhnya mereka akan berloyalitas kepada orang-orang kafir dan menolong mereka, serta memusuhi setiap orang Islam yang tidak sejalan dengan pendapat mereka.
apakah Imam An-Nawawi dan Ibnu Katsir adalah penganut paham Asy'ariyah. Berikut adalah ringkasan penjelasan dari Syekh Dr. Usman Al-Khamis:
apakah Imam An-Nawawi dan Ibnu Katsir adalah penganut paham Asy'ariyah. Berikut adalah ringkasan penjelasan dari Syekh Dr. Usman Al-Khamis:
- Bukan Asy'ariyah Murni: Syekh menjelaskan bahwa menganggap mereka sebagai penganut Asy'ariyah sepenuhnya adalah tidak benar [00:00]. Masalahnya, banyak orang mengira perbedaan antara Asy'ariyah dan Ahli Sunnah hanya terletak pada masalah Nama dan Sifat Allah saja, padahal ada perbedaan di aspek lainnya [00:13].
- Manhaj Ahli Hadis: Imam An-Nawawi dan Ibnu Katsir adalah ulama hadis yang berada di atas manhaj Ahli Sunnah [00:31].
- Perbedaan antara Keduanya:
- Kesimpulan Penamaan: Beliau memberikan perumpamaan bahwa seseorang bisa saja memiliki "sifat" tertentu tanpa menjadi bagian dari kelompok tersebut secara keseluruhan [01:05]. Sama seperti seorang Muslim yang berbohong memiliki salah satu ciri orang munafik, namun ia tidak bisa langsung disebut sebagai orang munafik [01:24].
- Oleh karena itu, Imam An-Nawawi mungkin memiliki beberapa pemikiran yang sejalan dengan Asy'ariyah, tetapi tidak tepat jika ia disebut sebagai seorang penganut Asy'ariyah secara mutlak [01:50].
Video lengkapnya dapat Anda tonton di sini: https://youtu.be/HnqlVnJPuDs
Mengapa Allah mengkhususkan nama (As-Sami' dan Al-Bashir) setelah (Laisa Kamitslihi Syai'un)?" oleh Syekh Saleh al-Shaikh:
Mengapa Allah mengkhususkan nama (As-Sami' dan Al-Bashir) setelah (Laisa Kamitslihi Syai'un)?" oleh Syekh Saleh al-Shaikh:
Dalam video ini, Syekh menjelaskan alasan mendalam di balik struktur ayat Al-Qur'an tersebut:
- Persamaan Nama, Perbedaan Hakikat: Syekh menjelaskan bahwa sifat mendengar (Sami') dan melihat (Bashir) adalah sifat yang dimiliki oleh hampir semua makhluk hidup, mulai dari nyamuk dan semut hingga manusia [00:24].
- Keunikan di Setiap Makhluk: Meskipun banyak makhluk yang memiliki pendengaran dan penglihatan, pendengaran manusia tidak sama dengan pendengaran hewan, dan penglihatan semut tidak sama dengan penglihatan manusia [01:20]. Ada perbedaan besar dalam keluasan dan kekuatan indra tersebut di antara makhluk sendiri [01:30].
- Tujuan Pengkhususan: Allah menyebutkan "As-Sami'" (Maha Mendengar) dan "Al-Bashir" (Maha Melihat) tepat setelah menyatakan "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya" untuk menegaskan bahwa meskipun makhluk-Nya memiliki sifat dengan nama yang sama, hakikat pendengaran dan penglihatan Allah sama sekali tidak bisa disetarakan dengan makhluk-Nya [01:41].
- Kesimpulan Akidah: Menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah harus dilakukan sesuai dengan makna lahiriahnya, namun dengan keyakinan penuh bahwa Allah tidak ada bandingannya dan kita tidak akan pernah bisa menjangkau bagaimana hakikat (kaifiyah) dari sifat-sifat tersebut [02:06].
Video lengkapnya dapat Anda tonton di sini: https://www.youtube.com/watch?v=WYUK-OKl_Rw
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengenai sikap kaum Salaf terhadap pemberian dari penguasa:
ringkasan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengenai sikap kaum Salaf terhadap pemberian dari penguasa:
- Pernyataan Sufyan Ats-Tsauri: Beliau menyebutkan bahwa dahulu ia dianugerahi pemahaman Al-Qur'an, namun setelah ia menerima kantong uang dari penguasa, pemahaman tersebut dicabut darinya [00:00].
- Alasan Penolakan: Kaum Salaf sangat berhati-hati terhadap hadiah dari penguasa karena mereka beranggapan bahwa hadiah tersebut seringkali bertujuan untuk "membeli agama dengan dunia" [00:26].
- Status Harta: Mereka juga khawatir bahwa harta penguasa mungkin diperoleh dengan cara yang tidak benar, sehingga mereka memilih untuk menahan diri demi menjaga kesucian agama mereka [00:43].
- Hukum Menerima Hadiah: Syaikh menjelaskan bahwa seorang ulama tidak diperbolehkan menerima hadiah jika penguasa tersebut bertujuan menjadikannya sebagai alat atau "kendaraan" untuk kepentingan politiknya [00:54].
-
Syarat Menerima Harta: Sesuai dengan pesan Nabi SAW kepada Umar bin Khattab, harta dari penguasa boleh diterima jika:
- Harta tersebut datang tanpa diminta.
- Penerima tidak memiliki ambisi atau harapan terhadap harta tersebut. Jika kedua syarat ini tidak terpenuhi, maka seseorang tidak perlu mengejarnya [01:10].
Tindakan Sufyan Ats-Tsauri tersebut dimaksudkan sebagai peringatan keras bagi diri sendiri dan orang lain agar tidak tergiur oleh pemberian yang dapat merusak integritas seorang penuntut ilmu atau ulama [01:39].
Video tersebut dapat ditonton di sini: https://www.youtube.com/watch?v=FMS7f39RGgY
Menakut-nakuti Umat
Menyikapi Desas-Desus
Hindarilah beraktivitas ketika waktu shalat tiba. Barang siapa mengabaikannya, maka ia akan lebih lalai lagi terhadap ritual-ritual Islam lainnya
Apabila kalian melihat seorang dari kalian berbuat dosa, maka janganlah mendoakan keburukan baginya atau memakinya, namun doakan agar Allah memberinya keselamatan dan taufik untuk bertobat
Pemberitahuan bagi siapa saja yang terbiasa menunaikan puasa **Ayyamul Bidh** bahwa bulan **Dzulqa'dah** (untuk tahun **1447 H** ini) berdasarkan hasil rukyat, mengalami keterlambatan satu hari dari kalender Ummu al-Qura.
Syaikh Abdurrazzaq Al Badr bercerita tentang Kakak Perempuannya yang sangat beliau sayangi.
اعْتِقَاد الإِمَامِ الشَّافِعِيِّ
Syaikh Ahmad Ibn Yahya an-Najmi رحمه الله di dalam kitabnya AL-MAWRID AL-ADZBU ADZ-DZULAL FIMANTUQIDA 'ALA BA'DHIL MANAHIJ AD-DA'AWIYYAH MINAL 'AQOID WAL A'MAL
Metode Perceraian
Selasa, 28 April 2026
Kitab Aqidah Imam Asy Syafii dari riwayat Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Raaziy. Beliau menetapkan sifat sifat Allah yang tolak oleh firqoh Asy'ariyah maturidiyah dll.
Dulu praktik perdukunan sangat banyak dan tersebar di negeri Arab. Ketika tauhid (mengesakan Allah) tampak dan kuat, maka setan-setan pun lari, sehingga praktik itu hilang atau berkurang
Menjadi salafi jangan hanya aqidah saja, tapi juga akhlaq harus salafi juga
Kesempatan Amal Jariyah Melalui Pembangunan Masjid
Majelis Sama secara daring / jarak jauh, langsung dari Masjid Nabawi, Madinah, KSA
Sebab itu harus dibangun di atas dalil Syar'i atau Tajribi (eksperimen ilmiyah)."
Perdebatan Ibnu Taimiyah dengan Yahudi Khaibar
Sampai kapan anak perempuan wajib dinafkahi orang tuanya?
Makhluk itu akan mati dan punya ajal masing-masing. Bila ajal tiba berarti rezekinya telah habis dan amalannya telah berakhir.”
Tips berdakwah kepada Istri Dari Syaikh Sholeh Alu Syaikh
Senin, 27 April 2026
Syaikh Shalih Al-Ushaimi berpendapat bahwa Imam An-Nawawi telah menarik kembali (ruju') pandangan-pandangan Asy'ariyahnya di akhir hayatnya dan kembali kepada akidah Ahli Sunnah wal Hadits, sehingga beliau layak menyandang gelar Imam dalam segala aspek
"Apakah Imam An-Nawawi menarik kembali akidah Asy'ariyahnya?" oleh Syaikh Shalih Al-Ushaimi:
Poin-Poin Utama Video:
- Gelar Imam untuk An-Nawawi: Syaikh menjelaskan bahwa pada awalnya ada kehati-hatian dalam memberi gelar "Imam" secara mutlak kepada An-Nawawi karena ada beberapa masalah dalam hal keyakinan (akidah) yang menyelisihi metode Ahli Sunnah wal Hadits [01:14].
- Adanya Kitab yang Menunjukkan Perubahan: Hal tersebut disampaikan sebelum adanya informasi mengenai sebuah kitab karya Imam An-Nawawi yang menunjukkan bahwa beliau telah kembali kepada akidah yang lama (akidah Salaf) [01:32].
- Kitab tentang Kalamullah: Kitab tersebut membahas tentang masalah Kalamullah (Firman Allah). Di dalamnya, beliau secara tegas menetapkan sifat-sifat Allah dan membantah pendapat Asy'ariyah mengenai masalah Kalamullah [01:34].
- Keaslian Kitab: Syaikh menegaskan bahwa kitab ini asli karya An-Nawawi. Terdapat tiga naskah tulisan tangan di dunia, dan beliau menyatakan di akhir kitab tersebut bahwa jalannya adalah jalan Ahli Sunnah wal Hadits [02:04].
- Bukti dari Muridnya: Hal ini juga diperkuat oleh murid terdekatnya, Ibnu Al-Attar, yang menulis kitab akidah sesuai manhaj Salaf. Biasanya, akidah seorang guru dapat terlihat dari apa yang dipegang oleh murid-murid terdekatnya [02:19].
- Waktu Penulisan: Kitab yang berisi tentang penetapan sifat huruf dan suara (dalam Kalamullah) ini ditulis sekitar tiga bulan sebelum wafatnya Imam An-Nawawi. Oleh karena itu, kitab ini dianggap sebagai keyakinan terakhir yang beliau anut [03:36].
Kesimpulan:
Syaikh Shalih Al-Ushaimi berpendapat bahwa Imam An-Nawawi telah menarik kembali (ruju') pandangan-pandangan Asy'ariyahnya di akhir hayatnya dan kembali kepada akidah Ahli Sunnah wal Hadits, sehingga beliau layak menyandang gelar Imam dalam segala aspek [02:38].
Video lengkap dapat ditonton di sini: https://www.youtube.com/watch?v=Z_Pg7x08tN4