Minggu, 26 April 2026

Gurumu hari ini tak sehebat mereka, namun demikian ..

Gurumu hari ini tak sehebat mereka, namun demikian ....

ٍSuatu hari nama Yahya bin Abi Katsir disebut di majlis pada Qatadah As Sadusi, sepontan ia berkata: Sejak kapan ilmu agama dipelari dari penjual ikan.

Di lain hari, nama Qatadah disebut di hadapan Yahya bin Abi Katsir, sepontan ia berkata: Penduduk Basra akan terus dalam keburukan selama ada Qatadah di tengah mereka . (Siyar A'alam An Nubala 5/275)

Suatu hari Imam Ibnu Abi Zi'bi mendengar laporan bahwa imam Malik menyelisihi hadits yang beliau riwayatkan sendiri, yaitu hadits perihal ketetapan adanya hak pilih melanjutkan atau membatalkan pembelian selama pembeli masih satu majlis dengan penjual. Beliau berkata:
 يستتاب، فإن تاب، وإلا ضربت عنقه.
Sepatutnya Malik segera diminta bertobat, bila ia bertaubat maka selesai masalahnya, namun bila ia enggan bertaubat maka ia pantas untuk dipenggal lehernya.

Seusai imam Az Zahabi mengisahkan polemik yang terjadi antara Imam Malik dengan Ibnu Abi Zi'bi, beliau berkata:
وبكل حال فكلام الاقران بعضهم في بعض لا يعول على كثير منه، فلانقصت جلالة مالك بقول ابن أبي ذئب فيه، ولا ضعف العلماء ابن أبي ذئب بمقالته هذه، بل هما عالما المدينة في زمانهما - رضي الله عنهما - ولم يسندها الامام أحمد، فلعلها لم تصح.
Bagaimanapun juga keadaannya, kebanyakan ucapan sebagian ulama' perihal ulama' lain yang satu masa tidak pantas untuk dipertimbangkan/ sepatutnya diabaikan. Karena itu kehormatan Imam Malik tidak berkurang karena ucapan Ibn Abi Zi'bi tentang masalah ini, sebaliknya tidak seorang ualam'pun yang menjatuhkan martabat Ibn Abi Zi'bi karena ucapannya perihal Imam Malik ini. Keduanya adalah dua ulama Madinah pada masa mereka - semoga Allah meridhoi mereka,- Imam Ahmad tidak menyebutkan sanad riwayat kisah ini, semoga saja kisah ini tidak valid. (SIiyar A'alam An Nubala' 7/143)

Hem, anda bisa saja berkata; kenapa sih kisah kisah semacam ini terus diangkat, apa tidak kawatir orang orang awam tidak respek lagi kepeda ulama'.

Kawan! Kisah kisah semacam ini banyak didapat pada kitab kitab biografi para ulama', namun demikian kehormatan mereka tidak menjadi hilang.

Kenapa demikian? Karena mereka senantiasa mengingatkan murid murid mereka dan orang orang awam di zamannya untuk mengabaikan sikap sikap semacam ini, dan tetap fokus menimba ilmu dari semua ulama'.

Berbeda dengan kondisi hari ini, ketika tata cara menyikapi semua perseteruan antara ulama' atau ahlil ilmu di zaman sekarang dianggap sebagai bentuk kekokohan dalam menyuarakan kebenaran, maka kejadiannya kegaduhan, dan perebutan ponis sesat dan sejenisnya.

Ulama' seluas apapun ilmu dan setinggi apapaun ketaqwaannya, tetaplah manusia biasa yang memiliki perasaan, dosa, dan kesalahan..... so belajarlah bersikap woles dalam hal hal semacam ini agar urat leher anda tidak kaku kaku. 

Agar semakin cepat leher anda mengendur, ada baiknya anda belajar bersama ratusan penuntut ilmu di sini: https://pmb.stdiis.ac.id/