[Adab Lebih Tinggi Dari Ilmu ?]
Menimbang Etika dan Kebenaran dalam Menyikapi Kasus Syekh AM.
Fenomena penyimpangan yang dilakukan oleh figur keagamaan menimbulkan kegelisahan serius dalam masyarakat Muslim. Ketika seseorang yang dikenal sebagai pengajar Al-Qur’an dan pendakwah justru terjerat dalam kasus pelanggaran moral yang berat, yaitu pelecehan seksual sesama jenis, hal ini bukan hanya mencederai kepercayaan publik, tetapi juga memunculkan pertanyaan konseptual:
➡️Apakah benar adab lebih tinggi daripada ilmu? ➡️Bagaimana semestinya prinsip tersebut dipahami serta diterapkan?
Menurut pribadi saya tidak tepat jika dinyatakan bahwa adab “lebih tinggi” dari ilmu secara mutlak. Ilmu merupakan sarana epistemologis untuk mengetahui kebenaran (ma‘rifah al-ḥaqq), sedangkan adab adalah dimensi etis dalam mengamalkan dan menyampaikan ilmu tersebut. Keduanya bersifat komplementer dan tidak dapat dipisahkan.
Sebagian ulama memang menekankan pentingnya adab dalam proses pembelajaran. Imam Malik bin Anas berkata:
"تَعَلَّمِ الأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ"
“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.”
Ungkapan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan kedudukan ilmu, tetapi sebagai penegasan bahwa adab merupakan fondasi dalam proses pembentukan kepribadian penuntut ilmu. Tanpa adab, ilmu berpotensi melahirkan kesombongan dan penyimpangan dalam praktik.
Hal ini dipertegas oleh Abdullah ibn al-Mubarak yang mengatakan:
"نَحْنُ إِلَى قَلِيلٍ مِنَ الأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْعِلْمِ"
“Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.”
Pernyataan ini merupakan kritik terhadap fenomena ilmu yang tidak disertai dengan adab, bukan penegasan bahwa adab dapat menggantikan fungsi ilmu dalam menentukan kebenaran.
Lalu apakah benar ungkapan “Orang Beradab Pasti Berilmu”❓❓❓
Pernyataan bahwa “orang beradab pasti berilmu” merupakan generalisasi yang tidak tepat. Secara empiris dan konseptual, seseorang dapat memiliki perilaku yang tampak santun, namun tidak memiliki landasan ilmu yang benar. Sebaliknya, seseorang yang berilmu pun dapat tergelincir dalam penyimpangan jika tidak menjaga adab dalam dirinya.
Oleh karena itu, formulasi yang lebih tepat adalah:
✅Ilmu merupakan fondasi untuk mengetahui kebenaran.
✅Adab adalah mekanisme untuk menjaga dan mengarahkan ilmu agar tidak menyimpang.
Dalam menyikapi penyimpangan termasuk yang dilakukan oleh tokoh agama tidak dibenarkan menjadikan “adab” sebagai dalih untuk membungkam kritik atau menutupi kesalahan.
Islam menempatkan kebenaran sebagai prinsip utama yang harus ditegakkan berdasarkan dalil.
Namun demikian, cara menyampaikan kebenaran tersebut harus tetap berada dalam koridor adab. Hal ini dicontohkan oleh Imam Syafi’i yang berkata:
"مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا إِلَّا أَحْبَبْتُ أَنْ يُوَفَّقَ وَيُسَدَّدَ وَيُعَانَ، وَيَكُونَ عَلَيْهِ رِعَايَةٌ مِنَ اللَّهِ"
“Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali aku berharap ia diberi taufik, kebenaran, dan pertolongan dari Allah.”
Pernyataan beliau menunjukkan bahwa adab dalam diskursus ilmiah tercermin pada kemurnian niat dan etika penyampaian, bukan pada sikap menutup-nutupi kesalahan.
Dalam praktiknya, keseimbangan antara ilmu dan adab dapat diwujudkan melalui beberapa prinsip:
☑️Berbasis Ilmu dalam Penilaian
☑️Setiap kritik harus didasarkan pada dalil dan analisis ilmiah, bukan emosi atau prasangka.
Membedakan antara Penghormatan dan Pembenaran :
⏺️Menghormati ulama tidak berarti membenarkan seluruh pendapat atau perbuatannya.
⏺️Proporsionalitas Sikap
Tidak berlebihan dalam mengagungkan, dan tidak pula meremehkan.
⏺️Orientasi pada Ishlah
Tujuan utama kritik adalah perbaikan bukan menjatuhkan atau mempermalukan.
Kesimpulan ungkapan “adab lebih tinggi dari ilmu” tidak tepat jika dipahami secara mutlak.
📎Ilmu berfungsi sebagai penentu kebenaran, sedangkan adab mengarahkan bagaimana kebenaran tersebut ditegakkan dan disampaikan. Memisahkan keduanya hanya akan melahirkan dua ekstrem:
📌ketegasan tanpa hikmah,
📌atau kelembutan tanpa prinsip.
🖋️Ayahnya Muallim
Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Al Quran dan Tafsir Pascasarjana Universiatas PTIQ Jakarta.