KAUM MUSLIMIN DI MATA TAWANAN CINA ERA AWAL ABBASIYYAH
--------
Oleh: Wira Mandiri Bachrun)*
Pada Bulan Dzulhijjah tahun 133 H atau sekitar tahun 751 M terjadi peperangan antara Kekhilafahan Abbasiyyah versus Cina yang saat itu berada di bawah kekuasaan Dinasti Tang. Perang itu terjadi di tepian Sungai Thalas yang kini berada di perbatasan Kazakhstan- Kyrgystan.
Dalam sebuah ensiklopedi berjudul Tung Tien yang ditulis oleh seorang administrator di masa Dinasti Tang yang bernama Tu Yu (kadang dalam ejaan Inggris ditulis Du You), disebutkan bahwa setelah perang berakhir salah seorang prajurit Cina yang bernama Tu Huan atau Du Huan berhasil ditawan dan dibawa ke wilayah kekuasaan Abbasiyyah.
Setelah ditahan beberapa lama, Tu Huan kemudian dibebaskan dan kembali ke Cina tahun 762 M. Satu hal yang menarik, Tu Huan sempat menceritakan tentang apa yang dia lihat dari kaum muslimin saat itu. Berikut beberapa poin yang digambarkan oleh Tu Huan tentang mereka:
PENGUASA KAUM MUSLIMIN
Raja bangsa Arab disebut Amirul Mukminin dan ibu kotanya terletak di tempat ini, yaitu kota Kufah.
PENAMPILAN MASYARAKAT
Baik laki-laki maupun perempuan di sana berparas rupawan dan bertubuh tinggi; pakaian mereka bersih dan indah, sementara tata krama mereka pun halus. Apabila seorang perempuan keluar rumah, ia menutupi wajahnya, tanpa memandang apakah ia berasal dari kalangan atas ataupun bawah.
IBADAH DAN AKHLAQ KAUM MUSLIMIN
Mereka menunaikan ibadah shalat lima kali sehari. Mereka memakan daging, berpuasa, dan menganggap ibadah qurban sebagai amalan yang mulia. Mereka mengenakan sabuk perak di pinggang, tempat belati-belati digantungkan. Mereka melarang minum khamr dan tidak menyukai musik. Ketika terjadi pertengkaran di antara mereka, mereka menjauhi perkelahian fisik dan tidak sampai saling memukul.
MASJID DAN KHUTBAH
Tu Huan menceritakan bahwa mereka memiliki masjid besar yang dapat menampung puluhan ribu manusia . Setiap hari ketujuh dalam seminggu, raja (khalifah) berbicara kepada rakyatnya dari mimbarnya yang tinggi di Masjid dengan pesan:
“Hidup manusia sangatlah sulit, jalan kebenaran tidak mudah ditempuh, dan perbuatan zina adalah dosa. Merampok atau mencuri, menipu orang dengan kata-kata, menyelamatkan diri sendiri dengan mencelakakan orang lain, menipu orang miskin, atau menindas kaum lemah—tidak ada dosa yang lebih besar daripada semua itu. Siapa saja yang gugur dalam peperangan melawan musuh-musuh Islam, maka ia akan meraih surga. Dan siapa yang mengalahkan musuh tersebut, niscaya akan memperoleh kebahagiaan yang tak terhingga.”
PENERAPAN KEADILAN
Seluruh negeri itu telah berubah; manusia mengikuti ajaran Islam sebagaimana air mengalir mengikuti alurnya. Hukum ditegakkan dengan penuh belas kasih, dan jenazah dimakamkan dengan sederhana tanpa berlebih-lebihan.
KESEJAHTERAAN KAUM MUSLIMIN
Baik di kota besar maupun di desa-desa, penduduk tidak kekurangan apa pun dari hasil bumi. Negeri mereka laksana pusat dunia: berbagai barang dagangan melimpah dan murah, kain-kain mewah, mutiara, dan uang memenuhi toko-toko, sementara unta, kuda, keledai, dan bagal memenuhi jalan-jalan serta lorong-lorong. Mereka memotong tebu untuk membuat tandu atau seperti kereta usung di Cina.
KONDISI MEREKA DI HARI RAYA
Setiap kali datang hari raya, para bangsawan dihadiahi begitu banyak bejana kaca, botol, dan wadah kuningan hingga tak terhitung jumlahnya.
MAKANAN MEREKA
Beras putih dan tepung putih mereka tidak berbeda dengan yang ada di Cina. Buah-buahan mereka antara lain persik dan kurma yang sangat baik mutunya. Lobak mereka besarnya dapat mencapai satu takaran besar, bentuknya bulat, dan rasanya sangat lezat. Sayur-sayuran lainnya pun tidak berbeda dengan negeri-negeri lain. Buah anggur mereka besarnya seperti telur ayam.
HEWAN TUNGGANGAN
Mereka juga memiliki unta dan kendaraan yang ditarik kuda. Mitos mengatakan bahwa kuda-kuda yang lahir dari persatuan antara naga dan kuda betina di pantai Teluk Persia memiliki perut kecil dan kaki serta pergelangan kaki yang panjang; kuda-kuda yang bagus dapat menempuh 1000 li (500 km) sehari.
MINYAK WANGI
Minyak wangi yang paling mereka sukai adalah minyak wangi yang beraroma melati dan murr, getah harum yang biasa dipakai sebagai dupa.
Demikian kurang lebihnya paparan Tu Huan tentang masyarakat muslim. Dari catatan ini, kita bisa melihat peradaban Islam telah tampil di mata dunia dengan begitu menakjubkan. Masyarakatnya berpegang teguh pada syariat, berakhlak tinggi, dan maju dalam perdagangan.
Tentu, sejarah macam ini bukan sekadar untuk dibanggakan, kita dulu pernah begini dan begitu, tapi menjadi evaluasi bagi kita apakah kita masih tetap mewarisi kemuliaan tersebut? Kalau tidak, maka bagaimana cara mengembalikannya? Ini PR kita.
)* penulis adalah alumni Darul Hadits Syihr, Hadramaut dan pengajar serial sejarah Islam di ANB Channel.
Referensi:
- Seeing Islam as Other Saw It, Robert Hoyland.