Selasa, 07 Juli 2026

Doktrin Penuh Kontradiksi

Doktrin Penuh Kontradiksi

Dalam Al-Jawab Ash-Shahih, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak mengkritik doktrin Inkarnasi Nasrani secara emosional, melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih mematikan, konsistensi logika.

Beliau membiarkan doktrin itu berdiri di atas kakinya sendiri, lalu menunjukkan bahwa kaki-kaki itu justru saling menjegal. Salah satu contohnya adalah ketika beliau mengangkat peristiwa Nabi Musa di Bukit Sinai. Allah menampakkan firman-Nya melalui sebatang pohon hingga gunung hancur luluh dan Musa tersungkur tak sadarkan diri.

Namun, tak seorang pun yang berakal menyimpulkan bahwa Allah telah menjelma menjadi pohon atau bersemayam di dalamnya. Jika manifestasi firman Allah melalui pohon saja menghasilkan guncangan semacam itu, lalu bagaimana mungkin Dzat Allah dikatakan berada dalam rahim selama sembilan bulan, lahir sebagai bayi, menyusu, tidur, dan tumbuh seperti manusia biasa tanpa meninggalkan jejak keagungan yang bahkan mampu membuat sebutir pasir bergetar?

Kontradiksi berikutnya bahkan lebih menarik. Ketika hendak membuktikan Inkarnasi, mereka bersikeras bahwa lahut (aspek ketuhanan) dan nasut (aspek kemanusiaan) telah melebur menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Persatuan itu digambarkan begitu erat hingga nyaris mustahil dibedakan.

Namun anehnya, ketika tiba pada kisah penyaliban, persatuan yang sebelumnya begitu kokoh mendadak berubah selembut lilin yang meleleh di bawah matahari. Yang menderita hanyalah kemanusiaannya. Yang disalib hanyalah kemanusiaannya. Yang mati pun hanyalah kemanusiaannya. Adapun ketuhanannya tetap utuh, aman, dan tak tersentuh sedikit pun. Seolah-olah persatuan itu memiliki tombol hidup dan mati yang dapat diaktifkan sesuai kebutuhan argumentasi.

Jika ketuhanan dapat dipisahkan dari rasa sakit dan kematian, mengapa tidak dapat dipisahkan pula dari rahim, darah, tangisan bayi, dan kebutuhan untuk menyusu?

Membolehkan pemisahan pada satu keadaan sambil menolaknya pada keadaan lain bukanlah misteri teologis. Tapi lebih menyerupai pintu belakang yang dibuka diam-diam setiap kali doktrin itu terjebak oleh kesimpulan kontradiksi yang lahir dari premis-premisnya sendiri.

Puncaknya, Ibnu Taimiyah memberikan sebuah sindiran yang sederhana sekaligus menghancurkan. Jika rahim seorang wanita dianggap layak menjadi jalan lahir Tuhan karena kemuliaannya, maka lisan para nabi yang menyampaikan wahyu Allah tentu jauh lebih mulia daripada itu.

Mengapa tidak dikatakan saja bahwa Tuhan keluar melalui mulut para nabi?

Pertanyaan ini memang terdengar absurd. Namun justru di situlah letak hantamannya. Sebab ketika premis yang keliru diterima sejak awal, kesimpulan yang lebih absurd pun tidak lagi memiliki alasan untuk ditolak.

Dengan cara inilah Ibnu Taimiyah membongkar doktrin Inkarnasi, bukan dengan luapan emosi, tetapi dengan membiarkan kontradiksi-kontradiksinya tumbuh hingga menjadi bantahan bagi dirinya sendiri. Dan ketika sebuah doktrin telah berubah menjadi bantahan bagi dirinya sendiri, biasanya tidak diperlukan bantahan yang panjang; cukup sebuah pertanyaan sederhana yang dijawab dengan jujur.

Allahul musta'an
Ibn Nashrullah
https://www.facebook.com/share/1ERy4UB37u/

perkataan Imam Ahmad mengenai sebuah riwayat yang berbunyi, فَخُذْ دُكَّانًا ، تَكُونُ جَنَازَةً ، يَكُونُ مَرِيضٌ yang artinya, "Ambillah (bukalah) toko; (supaya jika) ada jenazah (kamu bisa melayat), atau ada orang sakit (kamu bisa menjenguk)."

Perkataan para pendahulu kita (generasi Salaf), termasuk Imam Ahmad, itu punya ciri khas yang unik banget: super ringkas, lugas, tapi sarat makna. Bagi orang-orang yang hidup sezaman dengan mereka, ucapan itu bisa langsung dipahami tanpa ada keraguan. Tapi bagi kita yang hidup belakangan, sering kali kita butuh "bedah makna" ekstra supaya bisa menangkap esensi mendalam di baliknya.

​Salah satu contohnya adalah perkataan Imam Ahmad mengenai sebuah riwayat yang berbunyi,

 فَخُذْ دُكَّانًا ، تَكُونُ جَنَازَةً ، يَكُونُ مَرِيضٌ 

yang artinya, "Ambillah (bukalah) toko; (supaya jika) ada jenazah (kamu bisa melayat), atau ada orang sakit (kamu bisa menjenguk)."

Kalau dibaca sekilas, kesannya memang sederhana sekali, tapi maknanya ternyata sangat dalam terkait dengan etos kerja dan pengelolaan waktu ibadah.

​Maksud dari Imam Ahmad adalah jika kita bekerja berdagang atau memiliki usaha mandiri untuk diri sendiri, kita akan memiliki keleluasaan waktu yang longgar untuk menyalatkan atau mengiringi jenazah serta menjenguk orang sakit. Dengan kendali penuh atas waktu tersebut, kita jadi lebih mudah untuk mengamalkan berbagai macam amal saleh dan ketaatan yang dianjurkan. Sebaliknya, jika status kita adalah seorang pekerja atau karyawan yang digaji oleh orang lain, maka kita tidak memiliki kebebasan tersebut karena waktu kita sudah disewa dan terikat oleh kontrak kerja. Kita tidak bisa begitu saja meninggalkan tanggung jawab di tengah-tengah waktu kerja demi melakukan ibadah-ibadah sunah, sehingga kesempatan untuk meraih pahala-pahala tersebut menjadi terbatas.

​Catatan malam ini yang mengupas Kitab tentang Bekerja karya Imam Al-Khallal, yang diampu langsung oleh Ustadz  Yuana Ryan Tresna di Ma'had Khadimus Sunnah Bandung

 Barakallahu fiikum.

penuntut ilmu ibarat pohon

Hidayah bagi manusia terletak pada tiga perkara:

Hidayah bagi manusia terletak pada tiga perkara:

“Agama yang lurus, ilmu yang kokoh, dan akal yang lurus. Barang siapa dianugerahi ketiganya, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang sangat banyak.” 

(Faedah dari Syaikh Dr. Shalih al-Ushaimi)

Senin, 06 Juli 2026

Abu al-Ma'ali al-Juwayni

Abu al-Ma'ali al-Juwayni  beserta kedudukan ilmiahnya dalam mazhab Asy'ari dan Syafi'i. Syaikh Prof. Dr. Shalih Sindi menjelaskan poin-poin berikut:
 Kedudukan Al-Juwayni: Al-Juwayni dianggap sebagai tokoh terkemuka (0:00 - 0:29). Ketika para ahli fikih dan ulama Asy'ariyah menggunakan gelar *"Al-Imam"* di dalam kitab-kitab mereka, maka yang mereka maksud secara khusus adalah beliau.
 Peletakan Dasar Mazhab Asy'ari Kontemporer (Muta'akhkhirin): Al-Juwayni dianggap sebagai pendiri sejati bagi mazhab Asy'ari pada fase kontemporer/belakangan (0:31 - 0:56).
 Metode Ilmiahnya: Beliau sangat mengagungkan Al-Baqillani, berjalan di atas metodenya, dan menjelaskan kitab-kitabnya. Namun, beliau juga menambahkan dan mengembangkan metode tersebut hingga menjadi rujukan utama bagi generasi kontemporer/belakangan (0:57 - 1:33).
 Ketidakstabilan Metode (Pemikiran): Syaikh mengisyaratkan adanya fase ketidakstabilan dalam pemikiran Al-Juwayni. Pada masa-masa awalnya, beliau cenderung kepada metode *Ta'wil* (metafora), seperti yang terdapat dalam kitabnya yang terkenal, *Al-Irsyad* (1:34 - 1:51). Sementara di akhir hayatnya, beliau beralih kepada metode *Tafwidh* (menyerahkan makna hakiki kepada Allah), sebagaimana tampak dalam risalahnya, *Al-'Aqidah Al-Nizhamiyyah* (1:51 - 2:16), dengan catatan bahwa beliau tidak sepenuhnya terlepas dari metode *Ta'wil* secara total.
*Catatan teks pada gambar video (atas):*
> **"Al-Juwayni pendiri Mazhab Asy'ari Kontemporer (Muta'akhkhirin)"**
> Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz bin Utsman Sindi

HUKUM MENGOLOK-OLOK ORANG SHALIH DAN ORANG BERILMU

HUKUM MENGOLOK-OLOK ORANG SHALIH DAN ORANG BERILMU
Penjelasan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh 

تفصيل للشيخ محمد بن إبراهيم في حكم الاستهزاء بأهل الدين والخير /

أنه من أعظم العظائم ، وإن لم يكن ردة فإنه يجر إليها ، لكنه ليس بكفر ، فإنه لايلحق ب الثلاثة المذكورة (وهي الهزل بشيء فيه ذكر الله ، أو القرآن أو الرسول ) ، لكنه دليل نفاق ، ولاسيما من كان هذا ديدنه بالنسبة إلى أهل الخير ، فلا تجده يذكر له قوم من أهل الدين إلا ووقع فيهم ، أما لو كان لايقع إلا في شخص معين أو أشخاص معينين : لكان يمكن 

يعني (أن لايكون دليل نفاق ، ولايجر إلى ذات الكفر ) 

بخلاف الهزل باسم الله أو رسوله أو كتابه فإنه كفر محض ) ٠

شرح كتاب التوحيد للشيخ محمد بن إبراهيم ٣/ ٢٤٠

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Ibrahim mengenai hukum mengolok-olok ulama dan orang-orang saleh:

Mengolok-olok mereka termasuk sebesar-besarnya dosa. Meskipun hal itu tidak sampai menjadikan pelakunya murtad, namun ia dapat menyeret kepada kemurtadan.

Akan tetapi, perbuatan itu sendiri bukanlah kekufuran, karena tidak termasuk dalam tiga perkara yang telah disebutkan, yaitu bercanda atau mengolok-olok sesuatu yang berkaitan dengan Allah, Al-Qur'an, atau Rasul-Nya.

Namun, perbuatan tersebut merupakan indikasi kemunafikan, terlebih lagi apabila hal itu menjadi kebiasaan seseorang terhadap orang-orang yang berpegang teguh pada agama.

Engkau tidak akan mendapati ia menyebut sekelompok orang yang baik dalam agama melainkan ia mencela dan mengolok-olok mereka.

Adapun jika ia hanya mengolok-olok seorang tertentu atau beberapa orang tertentu saja, maka masih mungkin hal itu tidak menjadi tanda kemunafikan dan tidak menyeret kepada kekufuran itu sendiri.

Berbeda halnya dengan mengolok-olok nama Allah, Rasul-Nya, atau Kitab-Nya, maka itu adalah kekufuran yang nyata."

Sumber: Syarah Kitab at-Tauhid karya Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh, jilid 3, hlm. 240.
Ust abu musa al mizzy

الأشاعرة

-الأشاعرة من طوائف الضالة التي أفسدت الأمة...!!!
العقيدة الأشعرية التي يروج لها بعض دعاة الأزهر على أنها عقيدة أهل السنة والجماعة، هي عقيدة شركية ضالة فاسدة، بعيدة عن منهج السلف الصالح، ومن أبرز اعتقاداتهم :

(➊) تعطيل الصفات الإلهية :

• يعتقد الأشعري أن الله ليس على عرشه فوق سماواته كما أخبرنا سبحانه عن نفسه .

• يعتقد الأشعري أنه لا يجوز السؤال بـ "أين الله؟" مع أن النبي ﷺ سأل الجارية هذا السؤال وأقرها عليه .

• يعتقد الأشعري أن الله لا يتكلم بصوت يسمع، بل كلامه نفسي فقط، أي لا يتكلم حقيقةً .

• يعتقد الأشعري أن القرآن ليس كلام الله حقيقةً، بل هو "حكاية" عن كلام الله، أي أن الله لم يتكلم به مباشرة .

• يعتقد الأشعري أن الله لا يسمع الأصوات عند حدوثها، ولا يبصر المرئيات عند وجودها، بل سمعه وبصره قديمان فقط .

• يعتقد الأشعري أن الله لا يغضب على الكافر ولا يحب الطائع ولا يرضى عنه، بل هذه مجرد معانٍ مجازية تعني الثواب والعقاب .

• يعتقد الأشعري أن الله لا ينزل في الثلث الأخير من الليل، وإنما الذي ينزل هو الملك !

• يعتقد الأشعري أن الله لم يخلق آدم بيديه، ولم يتخذ إبراهيم خليلاً، لأنه لا يحب أحدًا .

• يعتقد الأشعري أن المؤمنين لا يرون "وجه" الله يوم القيامة، لأن الله ليس له وجه أصلًا !

(➋) الطعن في الأحاديث والاعتماد على العقل :

• يعتقد الأشعري أن أحاديث الآحاد (وهي غالب الأحاديث) لا يعتمد عليها في العقيدة، حتى لو كانت في الصحيحين .

• صرّح الرازي، وهو من أئمة الأشاعرة، بأن أحاديث الصفات في الصحيحين مكذوبة لأن ظاهرها التجسيم .

• يعتقد الأشعري أن آيات الصفات ظاهرها التشبيه، فلا يعتمد عليها، مما يعني إسقاط الاستدلال بالكتاب والسنة في العقيدة .

• يعتقد الأشعري أن العقل مقدم على النقل، فالنقل ظني والعقل يقيني، كما صرح الرازي .

• يعتقد الأشعري أن نصوص الصفات غير معلومة المعنى، ولم يفهمها السلف، مما يؤدي إلى إبطال كون القرآن بيانًا للناس .

• يعتقد الأشعري أن منهج الخلف (المتأخرين) أعلم وأحكم من السلف (الصحابة والتابعين)، لأن الخلف غاصوا في المعاني بينما السلف لم يفهموها !

(➌) تسويغ البدع والشركيات :

• يعتقد الأشعري أن الطواف حول قبور الأولياء وطلب المدد منهم والذبح لهم والتوسل بهم والنذر لهم جائز، لأنه "يقرب إلى الله زلفى" !

• يعتقد الأشعري أن الموالد والاحتفالات الصوفية والرقص والأذكار البدعية "بدعة حسنة"، رغم أن النبي ﷺ قال : « كل بدعة ضلالة » !

📜 بإختصار ؛ هذه هي العقيدة الأشعرية  : ↶ 

✔ تكذيب بالنقل 
✔ تناقض في العقل 
✔ تعطيل للنصوص 
✔ تعارض مع الفطرة السليمة 
✔ إهمال لقيمة الدليل الشرعي 

✋ لذلك ، فإن الأشاعرة ليسوا من أهل السنة والجماعة، بل هم فرقة مخالفة لمنهج السلف الصالح .

((الاضافة )):: اﻷشعرية أو الأشاعرة فرقة بدعية ضالة مخالفة لعقيدة السلف الصالح أهل السنة والجماعة  .
🔸 وهي فرقة كلامية تنتسب إلى أبي الحسن اﻷشعري في طوره الثاني من حياته والذي انتقل فيه إلى مذهب ابن كُلاب بعد انتسابه إلى اﻻعتزال في طوره اﻷول ، وهذا الطور الثاني قد تركه اﻷشعري أيضًا منتقلاََ إلى طوره الثالث واﻷخير والذي تبنى فيه عقيدة السلف الصالح ، فانتساب اﻷشاعرة إليه وزعمهم أنهم على معتقد اﻷشعري زور وكذب وافتراء عليه حيث إنهم ينتسبون إليه في طوره الثاني الذي تركه وتبرأ منه .
-------------
📖 مختصر العقيدة الأشعرية ومخالفتها لعقيدة أهل السنة والجماعة:
♦️ مصدر التلقي عندهم هو العقل لذا يقدمونه على النقل ( الكتاب والسنة ) بحجة أن أدلتهما ظنية ﻻ تفيد اليقين أما الأدلة العقلية فهي قطعية الدﻻلة !!
-------------
♦️ ﻻ يأخذون بآحاديث اﻵحاد وﻻ بحتجون بها في العقائد وإن كانت في الصحيحين وفي أعلى درجات الصحة !! 
-------------
▪️ أول واجب عندهم هو النظر أي في اﻷدلة العقلية وهذا يلزم منه تكفير أكثر الصحابة والتابعين باعتراف الرازي منظر اﻷشاعرة !!
-------------
🔹 القول المنصور عندهم أن إيمان المقلد ( وهو الذي ﻻ يحسن النظر في اﻷدلة العقلية ) ﻻ يصح وأن المقلد كافر ، وهذا يلزم منه تكفير أكثر المسلمين ، بل تكفير السلف الصالح كما سبق .
--------------
◾ التوحيد عندهم هو نفي التثنية أو التعدد ونفي التركيب والتجزئة بخلاف التوحيد عند السلف الذي هو إفراد الله تعالى بالعبادة .
--------------
🔸 اﻹله عندهم هو الخالق الرازق ( توحيد الربوبية الذي كان يقر به المشركون ) أما توحيد اﻷلوهية فﻻ يذكرونه وﻻ وجود له في كتبهم !
--------------
🔘 اﻹيمان عندهم هو التصديق فمن صدق بقلبه وإن لم ينطق بلسانه فهو مؤمن .
--------------
🔴 أكثر اﻷشاعرة صوفية قبورية .
--------------
🔵 ﻻ يثبتون من صفات الله تعالى سوى سبع صفات ويحرفون سائرها بما يسمونه التأويل !
--------------
🔳 عندهم اﻷخذ بظواهر القرآن أصل من أصول الكفر !!
--------------
🔸 ينفون علو الله على خلقه ، والذي دل عليه الكتاب والسنة واﻹجماع والعقل والفطرة !!
🔹 كفروا من أثبت العلو لله تعالى !!
🔶 ينفون استواء الله على عرشه .
▪️ يقولون بأن الله تعالى ﻻ يتكلم بكلام مسموع ، وإنما تكلم بكلام نفسي هو معنى أزلي أبدي قائم بالنفس ليس بحرف وﻻ صوت .
🔵 يقولون بأن كلامه تعالى شيء واحد في ذاته إن عبر عنه بالعربية فهو القرآن وإن عبر عنه بالعبرانية فهو التوراة وإن عبر عنه بالسريانية فهو اﻹنجيل !!
📖🖊️ القرآن المكتوب في المصاحف والذي يقرأه السلمون ليس هو كلام الله حقيقة وإنما هو عبارة عن كلام الله ، فهذا القرآن مخلوق ووصفه بأنه كلام الله مجاز !!
😥 هم وإن قالوا برؤية الله في اﻵخرة لكنهم اتفقوا على أنه ﻻ يرى باﻷبصار ويرى من غير مقابلة وﻻ جهة ، وحقيقة قولهم نفي الرؤية فهم في الحقيقة قد وافقوا المعتزلة في قولهم حتى قال بعض حذاقهم إن الخلاف بينهم وبين المعتزلة خلاف لفظي !!
🔹 يصفون الله تعالى بصفات المعدوم فيقولون بأنه ﻻ فوق وﻻ تحت وﻻ داخل العالم وﻻ خارجه وﻻ يمين وﻻ شمال وﻻ أمام وﻻ خلف  ، وصدق من قال فيهم : هؤﻻء قوم أضاعوا ربهم !! 
😥 يلقبون أهل السنة مثبتة الصفات بأبشع اﻷلقاب ( مشبهة ، مجسمة ... إلخ )
🔸 في باب القدر جبرية بنظرية الكسب التي ابتدعوها ؛ ﻷنها تنفي أي قدرة للعبد .
▪️ ينكرون اﻷسباب ويعطلونها ومن عباراتهم : ( يجوز ﻷعمى الصين أن يرى بقة اﻷندلس ) !!
🔹 ينفون الحكمة والتعليل في أفعال الله تعالى ، لذا قالوا يجوز أن يدخل أولياءه النار ويدخل أعداءه الجنة !!
🔸 ينكرون التحسين والتقبيح العقليين وإنما الشرع هو الذي يحسن ويقبح لذا قد يأتي الشرع بما يستقبحه العقل !!
◾ يخالفون أهل السنة في كثير من المسائل المتعلقة بالنبوات .
___________________
⚘ما وافق فيه الأشاعرة أهل السنة والجماعة:
🔘 يوافقون أهل السنة في قليل من المسائل مثل ( الصحابة واﻹمامة ، أمور اﻵخرة في الجملة ) .
_________________

🌻 الوصف اللائق والحكم الصحيح في الأشاعرة:
🔹 يتضح مما سبق أن مخالفة اﻷشاعرة ﻷهل السنة والسلف الصالح أكثر من موافقتهم لهم فوصف اﻷشاعرة بأنهم أهل السنة والجماعة مجانب للصواب وقلب للحقائق .
💎 الوصف الصحيح لﻷشاعرة أنهم من أقرب فرق المبتدعة إلى أهل السنة وخاصة متقدميهم .
_________________
📖 بعض المراجع والمصادر التي بينت زيف عقائد الأشاعرة :
■ قد كثرت المصنفات في بيان حقيقة اﻷشاعرة وعقائدهم ما بين مطول ومختصر وهذه بعضها :
* بيان تلبيس الجهمية على بدعهم الكلامية لشيخ الإسلام إبن تيمية رحمه الله تعالى وهو أعظم ما صنف في ذلك .
* الفتوى الحموية .  للحبر البحر شيخ الإسلام ابن تيمية
* اجتماع الجيوش اﻹسلامية على الجهمية.
* الصواعق المرسلة على الجهمية والمعطلة .  
كلاهما للعلامة اﻹمام ابن القيم.. 

-الفقير الى عفو ربه (( أبو حاتم الجزائري))

"Golongan Asya'irah termasuk dalam kelompok-kelompok yang sesat yang telah merosakkan umat...!!!"
Akidah Asya'irah yang dipromosikan oleh sebahagian pendakwah al-Azhar sebagai akidah Ahli Sunnah wal Jamaah ialah suatu akidah yang syirik, sesat dan rosak, serta jauh daripada manhaj salafus soleh. Antara pegangan mereka yang paling menonjol ialah:
(1) Menafikan sifat-sifat Allah
Penganut Asya'irah berpendapat bahawa Allah tidak berada di atas Arasy-Nya di atas langit-langit-Nya sebagaimana Allah sendiri mengkhabarkan tentang diri-Nya.
Penganut Asya'irah berpendapat bahawa tidak harus bertanya "Di manakah Allah?", sedangkan Nabi ﷺ pernah bertanya soalan itu kepada seorang hamba perempuan lalu Baginda membenarkan jawapannya.
Penganut Asya'irah berpendapat bahawa Allah tidak berbicara dengan suara yang boleh didengari, bahkan kalam Allah hanyalah kalam nafsi (kalam yang berada pada zat-Nya) sahaja, yakni Allah tidak benar-benar berbicara.
Penganut Asya'irah berpendapat bahawa al-Quran bukanlah kalam Allah yang sebenar, sebaliknya ia hanyalah "hikayat" (ceritaan) tentang kalam Allah, iaitu Allah tidak berbicara dengannya secara langsung.
Penganut Asya'irah berpendapat bahawa Allah tidak mendengar suara ketika suara itu berlaku, dan tidak melihat sesuatu yang dapat dilihat ketika ia wujud, sebaliknya pendengaran dan penglihatan-Nya hanyalah sifat yang azali semata-mata.
Penganut Asya'irah berpendapat bahawa Allah tidak murka kepada orang kafir, tidak mencintai orang yang taat dan tidak reda terhadapnya, bahkan semua itu hanyalah makna kiasan yang bermaksud pahala dan hukuman.
Penganut Asya'irah berpendapat bahawa Allah tidak turun pada sepertiga malam yang terakhir, sebaliknya yang turun ialah malaikat.
Penganut Asya'irah berpendapat bahawa Allah tidak menciptakan Adam dengan kedua-dua tangan-Nya dan tidak menjadikan Ibrahim sebagai khalil (kekasih yang sangat rapat), kerana Allah tidak mencintai sesiapa pun.
Penganut Asya'irah berpendapat bahawa orang-orang mukmin tidak akan melihat "wajah" Allah pada hari kiamat, kerana Allah pada asalnya tidak mempunyai wajah.
(2) Mempertikaikan hadis dan bergantung kepada akal
Penganut Asya'irah berpendapat bahawa hadis ahad (iaitu kebanyakan hadis) tidak dijadikan sandaran dalam akidah, walaupun hadis tersebut terdapat dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.
Ar-Razi, yang merupakan salah seorang imam dalam kalangan Asya'irah, telah menyatakan bahawa hadis-hadis sifat yang terdapat dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim adalah palsu kerana zahirnya menunjukkan tajsim (menyerupakan Allah dengan makhluk).
Penganut Asya'irah berpendapat bahawa ayat-ayat sifat pada zahirnya menunjukkan penyerupaan (tasybih), maka ia tidak dijadikan sandaran. Ini bererti menggugurkan pengambilan dalil daripada al-Quran dan as-Sunnah dalam perkara akidah.

• Penganut Asya'irah berpendapat bahawa akal didahulukan daripada nas (al-Quran dan as-Sunnah). Menurut mereka, nas bersifat zanni (tidak mencapai tahap kepastian), manakala akal bersifat qat'i (pasti), sebagaimana yang dinyatakan oleh ar-Razi.
• Penganut Asya'irah berpendapat bahawa nas-nas berkaitan sifat-sifat Allah tidak diketahui maknanya, dan para salaf juga tidak memahaminya. Hal ini membawa kepada pembatalan hakikat bahawa al-Quran merupakan penjelasan bagi manusia.
• Penganut Asya'irah berpendapat bahawa manhaj golongan khalaf (ulama terkemudian) lebih berilmu dan lebih bijaksana daripada salaf (para sahabat dan tabi'in), kerana menurut mereka golongan khalaf menyelami makna-maknanya sedangkan golongan salaf tidak memahaminya.
(3) Mengharuskan amalan-amalan bidaah dan kesyirikan
• Penganut Asya'irah berpendapat bahawa tawaf mengelilingi kubur para wali, meminta pertolongan daripada mereka, menyembelih untuk mereka, bertawassul melalui mereka dan bernazar kepada mereka adalah harus, kerana kononnya ia "mendekatkan diri kepada Allah".
• Penganut Asya'irah berpendapat bahawa sambutan maulid, perayaan-perayaan sufi, tarian dan zikir-zikir bidaah merupakan "bidaah yang baik", sedangkan Nabi ﷺ bersabda: "Setiap bidaah adalah kesesatan."
Ringkasnya, inilah akidah Asya'irah:
✔ Mendustakan nas.
✔ Percanggahan dalam penggunaan akal.
✔ Menolak atau menafikan nas-nas.
✔ Bertentangan dengan fitrah yang sejahtera.
✔ Mengabaikan nilai dalil syarak.
Oleh itu, golongan Asya'irah bukan daripada Ahli Sunnah wal Jamaah, bahkan mereka ialah satu golongan yang menyelisihi manhaj salafus soleh.
(Tambahan):
Asya'irah atau al-Asha'irah ialah satu golongan bidaah yang sesat serta menyelisihi akidah salafus soleh, iaitu Ahli Sunnah wal Jamaah.
Mereka ialah satu golongan ahli ilmu kalam yang menisbahkan diri kepada Abu al-Hasan al-Asy'ari pada fasa kedua kehidupannya, iaitu ketika beliau berpindah kepada mazhab Ibn Kullab setelah sebelumnya berpegang kepada fahaman Muktazilah pada fasa pertama kehidupannya. Kemudian Abu al-Hasan al-Asy'ari juga meninggalkan fasa kedua tersebut dan berpindah kepada fasa ketiga, iaitu fasa terakhir kehidupannya, di mana beliau menerima pakai akidah salafus soleh. Oleh itu, dakwaan golongan Asya'irah bahawa mereka berada di atas akidah al-Asy'ari adalah suatu pendustaan, pembohongan dan fitnah terhadap beliau, kerana mereka menisbahkan diri kepada pendiriannya pada fasa kedua yang telah beliau tinggalkan dan beliau berlepas diri daripadanya.
Ringkasan akidah Asya'irah dan percanggahannya dengan akidah Ahli Sunnah wal Jamaah:
♦️ Sumber pengambilan agama menurut mereka ialah akal. Oleh itu mereka mendahulukan akal daripada nas (al-Quran dan as-Sunnah) dengan alasan bahawa dalil-dalil daripada kedua-duanya bersifat zanni (tidak memberikan keyakinan yang pasti), manakala dalil-dalil akal pula bersifat qat'i (pasti dari sudut petunjuknya).

♦️ Mereka tidak menerima hadis-hadis ahad dan tidak berhujah dengannya dalam perkara akidah, walaupun hadis tersebut terdapat dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim serta berada pada darjat kesahihan yang paling tinggi.
▪️ Kewajipan pertama menurut mereka ialah melakukan nazar (pemerhatian dan penelitian terhadap dalil-dalil akal). Hal ini, menurut penulis, membawa kepada pengkafiran terhadap kebanyakan sahabat dan tabi'in, sebagaimana diakui oleh ar-Razi yang dianggap sebagai tokoh Asya'irah.
🔹 Pendapat yang dianggap paling kuat dalam kalangan mereka ialah bahawa iman seorang muqallid (iaitu orang yang tidak mampu meneliti dalil-dalil akal) tidak sah, dan bahawa orang yang bertaqlid adalah kafir. Hal ini, menurut penulis, membawa kepada pengkafiran terhadap kebanyakan umat Islam, bahkan juga terhadap salafus soleh sebagaimana yang telah disebutkan.
◾ Tauhid menurut mereka ialah menafikan adanya dua atau banyak (pada zat Allah), serta menafikan susunan dan pembahagian. Berbeza dengan tauhid menurut salaf yang bermaksud mengesakan Allah Taala dalam ibadah.
🔸 Ilah (tuhan) menurut mereka ialah Pencipta dan Pemberi rezeki (iaitu tauhid rububiyyah yang turut diakui oleh orang-orang musyrik). Adapun tauhid uluhiyyah, maka mereka tidak membincangkannya dan ia tidak terdapat dalam kitab-kitab mereka.
🔘 Iman menurut mereka ialah tasdiq (membenarkan dalam hati). Maka sesiapa yang membenarkan dengan hatinya walaupun tidak melafazkannya dengan lidah, dia tetap dianggap sebagai seorang mukmin.
🔴 Kebanyakan golongan Asya'irah ialah pengikut tasawuf yang mengagungkan kubur.
🔵 Mereka tidak menetapkan daripada sifat-sifat Allah Taala melainkan tujuh sifat sahaja, manakala sifat-sifat yang lain mereka selewengkan melalui apa yang mereka namakan sebagai takwil.
🔳 Menurut mereka, berpegang kepada makna zahir al-Quran merupakan salah satu asas kekufuran.
🔸 Mereka menafikan ketinggian Allah di atas makhluk-Nya, sedangkan perkara itu ditunjukkan oleh al-Quran, as-Sunnah, ijmak, akal dan fitrah.
🔹 Mereka mengkafirkan sesiapa yang menetapkan sifat ketinggian (al-'uluww) bagi Allah Taala.
🔶 Mereka menafikan bahawa Allah beristiwa di atas Arasy-Nya.
▪️ Mereka mengatakan bahawa Allah Taala tidak berbicara dengan kalam yang boleh didengari. Sebaliknya Allah hanya berbicara dengan "kalam nafsi", iaitu suatu makna yang azali lagi abadi yang berdiri pada zat-Nya, bukan berupa huruf dan bukan berupa suara.
🔵 Mereka mengatakan bahawa kalam Allah Taala pada hakikatnya adalah satu sahaja pada zat-Nya. Jika diungkapkan dalam bahasa Arab, maka itulah al-Quran. Jika diungkapkan dalam bahasa Ibrani, maka itulah Taurat. Jika diungkapkan dalam bahasa Suryani, maka itulah Injil.

📖🖊️ Al-Quran yang tertulis di dalam mushaf-mushaf dan yang dibaca oleh umat Islam bukanlah kalam Allah yang sebenar. Sebaliknya ia hanyalah ungkapan yang mewakili kalam Allah. Oleh itu, al-Quran ini adalah makhluk, dan penyifatannya sebagai kalam Allah hanyalah secara majazi (kiasan).
😥 Walaupun mereka mengatakan bahawa Allah akan dilihat di akhirat, mereka tetap bersepakat bahawa Allah tidak dilihat dengan mata, bahkan dilihat tanpa berhadapan dan tanpa arah. Hakikat pegangan mereka ialah menafikan ru'yah (melihat Allah). Oleh itu, pada hakikatnya mereka telah bersetuju dengan pegangan Muktazilah, sehingga sebahagian tokoh mereka mengatakan bahawa perselisihan antara mereka dengan Muktazilah hanyalah perselisihan pada lafaz sahaja.
🔹 Mereka menyifatkan Allah Taala dengan sifat-sifat yang menyerupai sesuatu yang tidak wujud. Mereka mengatakan bahawa Allah tidak berada di atas, tidak di bawah, tidak di dalam alam dan tidak di luarnya, tidak di sebelah kanan, tidak di sebelah kiri, tidak di hadapan dan tidak di belakang. Benarlah kata orang yang berkata tentang mereka: "Mereka ialah kaum yang telah kehilangan Tuhan mereka."
😥 Mereka menggelarkan Ahli Sunnah yang menetapkan sifat-sifat Allah dengan gelaran-gelaran yang paling buruk seperti "golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk (musyabbihah)", "golongan yang menjisimkan Allah (mujassimah)" dan sebagainya.
🔸 Dalam bab qada' dan qadar, mereka dianggap sebagai Jabariyyah melalui teori al-kasb yang mereka ciptakan, kerana teori tersebut menafikan sebarang kemampuan bagi hamba.
▪️ Mereka mengingkari sebab-sebab (asbab) dan membatalkan fungsinya. Antara ungkapan mereka ialah: "Harus bagi orang buta di China melihat seekor nyamuk di Andalusia."
🔹 Mereka menafikan hikmah dan sebab (ta'lil) dalam perbuatan Allah Taala. Oleh itu mereka berkata bahawa harus bagi Allah memasukkan para wali-Nya ke dalam neraka dan memasukkan musuh-musuh-Nya ke dalam syurga.
🔸 Mereka mengingkari bahawa akal dapat menentukan baik dan buruk. Menurut mereka, hanya syariat yang menentukan sesuatu itu baik atau buruk. Oleh sebab itu, menurut mereka syariat boleh sahaja datang dengan sesuatu yang dipandang buruk oleh akal.
◾ Mereka menyelisihi Ahli Sunnah dalam banyak masalah yang berkaitan dengan kenabian.
🌷 Perkara yang dipersetujui oleh Asya'irah dengan Ahli Sunnah wal Jamaah
🔘 Mereka bersetuju dengan Ahli Sunnah dalam sebahagian kecil masalah, seperti berkaitan para sahabat, imamah (kepimpinan), dan secara umum perkara-perkara yang berkaitan dengan hari akhirat.
🌻 Sifat dan penilaian yang dianggap tepat terhadap Asya'irah
🔹 Daripada apa yang telah disebutkan, jelas bahawa percanggahan Asya'irah dengan Ahli Sunnah dan salafus soleh lebih banyak daripada persetujuan mereka. Oleh itu, menyifatkan Asya'irah sebagai Ahli Sunnah wal Jamaah adalah tidak tepat dan merupakan suatu pembalikan terhadap hakikat.
💎 Gambaran yang dianggap benar mengenai Asya'irah ialah bahawa mereka merupakan antara kelompok ahli bidaah yang paling hampir dengan Ahli Sunnah, khususnya golongan Asya'irah yang terdahulu.
📖 Sebahagian rujukan dan sumber yang menurut penulis menjelaskan kesalahan akidah Asya'irah
■ Telah banyak ditulis karya-karya yang menjelaskan hakikat golongan Asya'irah dan akidah mereka, sama ada yang panjang mahupun yang ringkas. Antaranya ialah:
"Bayan Talbis al-Jahmiyyah fi Bida'ihim al-Kalamiyyah" karya Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah رحمه الله, yang menurut penulis merupakan karya paling agung dalam bidang tersebut.
"Al-Fatawa al-Hamawiyyah" karya ulama besar Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah.
"Ijtima' al-Juyush al-Islamiyyah 'ala al-Jahmiyyah".
"As-Sawa'iq al-Mursalah 'ala al-Jahmiyyah wal-Mu'attilah".
Kedua-dua karya terakhir tersebut adalah hasil tulisan al-'Allamah Imam Ibn al-Qayyim.
"Seorang hamba yang sangat mengharapkan keampunan Tuhannya: Abu Hatim al-Jaza'iri."

Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad ( Termasuk Ahli hadits Madinah, Bapak nya Syaikh Abddurrazaq Al Badr ) Pernah berkunjung ke Gontor ketika Masih Muda .

Sejarah 
Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad ( Termasuk Ahli hadits Madinah, Bapak nya Syaikh Abddurrazaq Al Badr ) Pernah berkunjung ke Gontor ketika Masih Muda .
Ust ilman yaqin 

Perintah kepada semua orang yang bangun tidur agar melakukan istinsar (menyemburkan air dari hidung) untuk menghilangkan bekas setan dari hidungnya.

Bagi orang-orang yang suka ngupil, memasukkan jari jentik ke dalam lubang hidung dan menggerak-gerakannya adalah merupakan suatu kenikmatan tersendiri, apa lagi kalau yang diupil didapatkan, serasa dunia menjadi padang dan pandangan muka menjadi gamblang. 

Namun di balik keasyikannya mengupil, tidak banyak yang menyadari bahwa lubang hidung adalah merupakan tempat yang nyaman bagi setan untuk bercengkerama

Mengapa hidung dijadikan tempat peristirahatan bagi setan? Jawabnya adalah karena hidung merupakan anggota tubuh manusia yang relatif sedikit melakukan fungsi ibadah, atau menurut istilah sebagian ulama’ salaf “hidung adalah merupakan anggota tubuh yang sangat jauh dari nilai ibadah”

Memang keberadaannya berbeda dengan mata, telinga, atau mulut yang sering digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Kalau mata bisa menjadi pintu masuknya ilmu agama dan pengetahuan, kalau telinga bisa mendengarkan taushiyah dan pengajaran, dan kalau mulut bisa melafalkan dan mengajarkan serta tersenyum untuk sebuah kebajikan.

Maka hidung tetap pasif dalam peribadatan dan di sinilah setan merasa aman untuk berdiam. Rasulullah bersabda: 

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ، فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثًا، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ.
"Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, hendaklah ia mengeluarkan air dari hidungnya (beristintsar) sebanyak tiga kali. Karena sesungguhnya setan bermalam di dalam rongga hidungnya." (HR. Bukhari Muslim) 

Nabi ﷺ menganjurkan orang yang bangun tidur agar melakukan istinsar tiga kali. Istinsar adalah mengeluarkan air dari hidung setelah memasukkannya karena setan bermalam di dalam hidung seluruhnya.

Perintah kepada semua orang yang bangun tidur agar melakukan istinsar (menyemburkan air dari hidung) untuk menghilangkan bekas setan dari hidungnya. Apabila ia akan berwudu, maka perintah istinsar lebih ditekankan.

📚 Bulugul maram 
Wallohu a'lam semoga bermanfaat ✍️
#Ngaji

Bahkan menurut Imam ar-Ramli, boleh menggabungkan niat qabliyah dan ba'diyah dalam satu shalat (satu takbiratul ihram), seperti menggabungkan qabliyah Zuhur dan ba'diyah Zuhur.

Rugi bila di skip tanpa di baca ! 

Sering terjadi, ketika iqamah sudah dikumandangkan sementara kita belum sempat melaksanakan shalat sunnah qabliyah. Lalu muncul pertanyaan: apakah masih boleh dikerjakan setelah shalat fardhu? Dalam fikih dijelaskan bahwa:

فَيَجُوزُ أَنْ تَكُونَ الْقَبْلِيَّةُ بَعْدَ فِعْلِ الْفَرِيضَةِ وَتَكُونُ أَدَاءً، وَلَا يَجُوزُ أَنْ تَكُونَ الْبَعْدِيَّةُ قَبْلَ فِعْلِ الْفَرِيضَةِ.

Maka boleh shalat sunnah qabliyah dikerjakan setelah shalat fardu, dan shalat qabliyah tersebut tetap dihukumi sebagai adā' (ditunaikan pada waktunya, bukan qadha'). Adapun shalat sunnah ba'diyah tidak boleh dikerjakan sebelum melaksanakan shalat fardu.

Dengan demikian, jika seseorang tertinggal qabliyah, ia masih memiliki kesempatan untuk mengerjakannya setelah fardhu. Adapun ba'diyah memang harus berada setelah shalat fardhu dan tidak sah jika didahulukan. Bahkan dalam sebagian pendapat ulama disebutkan:

بَلْ يَجُوزُ عِنْدَ الرَّمْلِيِّ أَنْ يَنْوِيَ الْقَبْلِيَّةَ وَالْبَعْدِيَّةَ بِإِحْرَامٍ وَاحِدٍ، كَقَبْلِيَّةِ الظُّهْرِ وَبَعْدِيَّتِهَا، لَا سُنَّةِ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ.

Bahkan menurut Imam ar-Ramli, boleh menggabungkan niat qabliyah dan ba'diyah dalam satu shalat (satu takbiratul ihram), seperti menggabungkan qabliyah Zuhur dan ba'diyah Zuhur. Namun tidak boleh menggabungkan niat sunnah Zuhur dengan sunnah Asar, karena keduanya merupakan dua shalat sunnah yang berbeda.

Kesimpulannya, qabliyah masih bisa "dikejar" setelah fardhu, sedangkan ba'diyah tidak boleh didahulukan sebelum fardhu. Ini menunjukkan bahwa dalam ibadah sunnah, Islam memberikan keluasan agar seseorang tetap bisa meraih keutamaannya meskipun dalam kondisi terbatas.

📚 Taqriratus Sadidah

Semoga bermanfaat wallohu a'lam ✍️

KELEBIHAN ILMU SYARAK DAN TUJUANNYA

KELEBIHAN ILMU SYARAK DAN TUJUANNYA

ٱلْعُلُومُ ٱلشَّرْعِيَّةُ تَجْعَلُ مِنْكَ إِنْسَانًا مَصْقُولًا ذَكِيًّا، قَوِيَّ ٱلْحُجَّةِ، مُنْضَبِطَ ٱلنَّفْسِ، ذَلِقَ ٱللِّسَانِ، وَاضِحَ ٱلْفِكْرِ، مُسْتَقِيمَ ٱلنَّظَرِ، قَرِيبًا مِنَ ٱللَّهِ، وَٱلْأَخِيرَةُ هِيَ ٱلْغَايَةُ.

Ilmu-ilmu syariah menjadikan seseorang itu:

insan yang terasah dan cerdas,
kuat hujahnya,
terkawal jiwanya,
fasih lisannya,
jelas pemikirannya,
lurus pandangannya,
dekat dengan Allah,

dan yang terakhir itulah tujuan utama.

PENGAJARAN

1. ILMU MEMBINA KEPERIBADIAN

Ilmu syariah bukan sekadar maklumat, tetapi membentuk akal, akhlak dan jiwa.

2. KEKUATAN HUJAH DAN FIKIRAN

Orang berilmu mampu berfikir dengan teratur dan berhujah dengan benar tanpa emosi.

3. PENGAWALAN NAFSU

Ilmu yang benar membantu seseorang mengawal diri daripada mengikuti hawa nafsu.

4. KEDEKATAN DENGAN ALLAH

Matlamat akhir ilmu bukan dunia, tetapi mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.

5. TUJUAN TERAKHIR ILMU

Semua kelebihan ilmu kembali kepada satu tujuan utama:

menjadi hamba Allah yang dekat dengan-Nya.

KESIMPULAN

Ilmu-ilmu syariah bukan sekadar kecerdasan intelek, tetapi pembentukan insan yang seimbang antara akal, akhlak dan hubungan dengan Allah ﷻ.
Ustadz abid anuriyy

Minggu, 05 Juli 2026

𝐻a𝑑i𝑠 𝑖n𝑖 𝑚e𝑛e𝑘a𝑛k𝑎n p𝑒n𝑡i𝑛g𝑛y𝑎 𝑏e𝑟a𝑔a𝑚a I𝑠l𝑎m, 𝑟e𝑧e𝑘i y𝑎n𝑔 ℎa𝑙a𝑙 𝑑a𝑛 𝑐u𝑘u𝑝, s𝑒r𝑡a r𝑎s𝑎 𝑞a𝑛a'aℎ 𝑠e𝑏a𝑔a𝑖 𝑘u𝑛c𝑖 𝑘e𝑏e𝑟u𝑛t𝑢n𝑔a𝑛 𝑠e𝑜r𝑎n𝑔 𝑀u𝑠l𝑖m

S𝑢n𝑔g𝑢h b𝑒r𝑢n𝑡u𝑛g o𝑟a𝑛g y𝑎n𝑔 𝑡e𝑙aℎ 𝑚a𝑠u𝑘 𝐼s𝑙a𝑚, d𝑖b𝑒r𝑖k𝑎n r𝑒z𝑒k𝑖 𝑦a𝑛g c𝑢k𝑢p d𝑎n A𝑙l𝑎h m𝑒m𝑏e𝑟i𝑛y𝑎 𝑞a𝑛a'aℎ (r𝑎s𝑎 𝑐u𝑘u𝑝) d𝑒n𝑔a𝑛 𝑎p𝑎 𝑦a𝑛g t𝑒l𝑎h d𝑖b𝑒r𝑖k𝑎n k𝑒p𝑎d𝑎n𝑦a".

𝑃e𝑛j𝑒l𝑎s𝑎n "وَ رُزِقَ كَفَافًا":
A𝑟t𝑖n𝑦a r𝑒z𝑒k𝑖 𝑦a𝑛g h𝑎l𝑎l d𝑎n m𝑒n𝑐u𝑘u𝑝i k𝑒b𝑢t𝑢h𝑎n, 𝑡i𝑑a𝑘 𝑏e𝑟l𝑒b𝑖h𝑎n d𝑎n t𝑖d𝑎k k𝑒k𝑢r𝑎n𝑔a𝑛.
P𝑒n𝑗e𝑙a𝑠a𝑛 "وَ قَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ":
A𝑟t𝑖n𝑦a A𝑙l𝑎h m𝑒n𝑔a𝑛u𝑔e𝑟aℎk𝑎n k𝑒p𝑎d𝑎n𝑦a r𝑎s𝑎 𝑞a𝑛a'aℎ (p𝑢a𝑠/𝑐u𝑘u𝑝) d𝑒n𝑔a𝑛 𝑟e𝑧e𝑘i y𝑎n𝑔 𝑡e𝑙aℎ 𝑑i𝑏e𝑟i𝑘a𝑛 𝑘e𝑝a𝑑a𝑛y𝑎.

𝐾e𝑠i𝑚p𝑢l𝑎n:
𝐻a𝑑i𝑠 𝑖n𝑖 𝑚e𝑛e𝑘a𝑛k𝑎n p𝑒n𝑡i𝑛g𝑛y𝑎 𝑏e𝑟a𝑔a𝑚a I𝑠l𝑎m, 𝑟e𝑧e𝑘i y𝑎n𝑔 ℎa𝑙a𝑙 𝑑a𝑛 𝑐u𝑘u𝑝, s𝑒r𝑡a r𝑎s𝑎 𝑞a𝑛a'aℎ 𝑠e𝑏a𝑔a𝑖 𝑘u𝑛c𝑖 𝑘e𝑏e𝑟u𝑛t𝑢n𝑔a𝑛 𝑠e𝑜r𝑎n𝑔 𝑀u𝑠l𝑖m

___
___

ucapan Al Imam As Safarini yg dibawakan dalam acara Kajian Manhaj Aqidah Muhammadiyah kemarin oleh Ust Nur Fajri Romadhon

Diantara ucapan Al Imam As Safarini yg dibawakan dalam acara Kajian Manhaj Aqidah Muhammadiyah kemarin oleh Ust Nur Fajri Romadhon adalah yg tertera di dalam "Lawaihul Anwar" cetakan terbaru ini
#ahlussunnah #atsariyyah #asyairoh #maturidiyyah #muhammadiyah
Noor ahyadi rahman

Bersabarlah, karena tidak akan datang kepada kalian suatu masa melainkan masa setelahnya lebih buruk daripadanya, hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian",

#WASIAT_BERSABAR

Az Zubair bin Adi rahimahullah berkata:

أتَينا أنَسَ بنَ مالِكٍ، فشَكَونا إليه ما نَلقى مِنَ الحَجَّاجِ، فقال: اصبِروا؛ فإنَّه لا يَأتي علَيكُم زَمانٌ إلَّا الذي بَعدَه شَرٌّ منه، حتَّى تَلقَوا رَبَّكُم. سَمِعتُه مِن نَبيِّكُم صلَّى اللهُ عليه وسلَّم.

Kami mendatangi Anas bin Malik, lalu kami mengadukan kepadanya penderitaan yang kami alami akibat kedzaliman Al Hajjaj bin Yusuf. Maka beliau berkata, "Bersabarlah, karena tidak akan datang kepada kalian suatu masa melainkan masa setelahnya lebih buruk daripadanya, hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian", aku mendengar hal itu langsung dari Nabi kalian shallallahu alaihi wasallam. [ HR. Bukhari, no. 7068]
----------------
- Wajib kembali kepada ulama yang terpercaya manhaj dan ilmunya, terlebih di zaman fitnah.
- Hadits ini menunjukkan kebenaran sabda Nabi, bahwa akan datangnya pemimpin dan penguasa dzalim. 
- Wasiat Anas bin Malik sesuai wasiat Nabi supaya umat bersabar.
Ustadz alif el qibty

Hal yang menyebabkan kelompok-kelompok Islam menyimpang dari jalan yang lurus adalah karena mereka mengabaikan satu rukun ketiga yang telah ditegaskan dalam kedua wahyu (Al-Qur'an dan As-Sunnah), yaitu pemahaman generasi salaf yang saleh terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah."

"Hal yang menyebabkan kelompok-kelompok Islam menyimpang dari jalan yang lurus adalah karena mereka mengabaikan satu rukun ketiga yang telah ditegaskan dalam kedua wahyu (Al-Qur'an dan As-Sunnah), yaitu pemahaman generasi salaf yang saleh terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah."

Syaikhuna Abdul Malik Ramadhany hafidzahullahu ta'ala 

Sittudduror min ushuli ahlil atsar
Ustadz adi abdul jabar 

RANGKUMAN: MANHAJ AQIDAH MUHAMMADIYAH(Salafi, Asy'ari, Maturidi, atau Akomodasi?)

RANGKUMAN: MANHAJ AQIDAH MUHAMMADIYAH
(Salafi, Asy'ari,  Maturidi, atau Akomodasi?)

Ini adalah rangkuman intisari dari Seminar Manhaj Aqidah Muhammadiyah yang diselenggarakan pada hari Ahad 5 Juli 2026 oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Temanggung, Jawa Tengah, dengan 2 pemateri ;  Ust. Wahyudi Abdurrahim, LC., M.A. dan Ust. Nur Fajri Romadhon, LC., M.A

🔴Ust. Wahyudi Abdurrahim, L.c., M.M.
(Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah)

1️⃣K.H. Ahmad Dahlan memiliki semangat pembaharuan dengan tetap berpegang pada Kitab Turos (Kitab "kuning" ulama masa silam)
2️⃣Kembali kepada Turos Maksudnya adalah kembali kepada kitab2 beraqidah Asy'ari dengan melihat guru2nya saat di Nusantara (spt KH. Soleh Darat, Kyai Fakih, dll) dan di Mekkah (spt Syaikh Ahmad Khotib, Syaikh Bakr Satha, Syaikh Nawawi Al Bantani, dll)
3️⃣Sedangkan semangat pembaharuan maksudnya adalah menerima pemikiran modern Barat (rujukan: Syaikh Muhammad Abduh, Syaikh Jamaluddin Al Afghani, dan Syaikh Rasyid Ridho dari Mesir)
4️⃣Arsip kitab "Aqoidul Iman" beraqidah Asy'ari, tulisan Jawa Pegon, konon buah pemikiran KH Ahmad Dahlan, ditulis oleh muridnya 
5️⃣Ushul Aqidah HPT: Taslim/Tafwidh dan Ta'wil dalam membahas sifat Allah, menggunakan Nash mutawatir dalam aqidah sedangkan hadits Ahad sbg bayan tafsil (keterangan rincian)

🔴Ust. Nur Fajri Romadhon, Lc.M.A
(Majelis Tarjih PP Muhammadiyah)

1️⃣KH Ahmad Dahlan sebelum berhadapan dengan gerakan Zending, Sekulerisme, & paham kontemporer beliau terlebih dahulu menguasai aqidah dan kitab Turos
2️⃣Penguasaan kitab Turos yang dibawa KH Ahmad Dahlan bersifat akomodatif, tidak membawa isu2 sektarian, baik Salafi/Atsari, Asy'ari, maupun maturidi, KH Ahmad Dahlan berhasil mempertemukan ke-3 "aliran" Ahlussunnah tsb setelah beliau belajar dan melakukan perjalanan ilmiah dari Nusantara, Mekkah, hingga bertemu tokoh pembaharu dari Mesir. Demikian dengan ormas Muhammadiyah yang beliau dirikan
3️⃣KH Ahmad Dahlan yang pertama kali membawa pemikiran Syaikh Rasyid Ridho (Salafi/Atsari) ke Nusantara dengan memasukkan majalah "Al Manar", memuat wawasan tentang Aqidah dan pemurnian Ibadah (Tajdid), dinamisasi/ keterbukaan dalam muamalah, dan tidak berafiliasi kepada 1 madzhab
3️⃣Ormas Muhammadiyah mengakomodasi istilah2 penting dalam pembahasan Aqidah, spt "Firqotun Najiyah", "Ahlussunah", "Ahlul Haq wa Sunnah" dipakai oleh Atsari/Salafi, Asy'ari, & Maturidi, semua diakomodasi dalam kitab HPT
4️⃣Istilah tauhid Rububiyyah/Uluhiyyah/sifat maupun 20 sifat pada sisi Muhammadiyah tidak menerimanya secara persis melainkan diakomodasi dengan tujuan meminimalisir isu2 sektarian
5️⃣Muhammadiyah bukan Wahabi maksudnya adalah tidak berafiliasi, adapun manhaj aqidahnya sama2 di atas Ahlussunnah (lihat buku: Muhammadiyah dan Wahabisme)
6️⃣Selesai pembahasan Aqidah di internal Muhammadiyah akan lebih memfokuskan diri untuk menghadapi dan menjawab isu2 Aqidah kontemporer, spt: pluralisme, Atheisme Agnostisme, Deisme, Saintisme, & Nativisme.

👉Link Seminar Manhaj Aqidah Muhammadiyah, silahkan buka:
https://www.youtube.com/live/G2YSIbCmTyM?si=Vx3aOh_xUIgay4jL

jangan mencatat segala hal

sebab keruhnya kehidupan ada tiga

Bersihkanlah diri kalian semampu yang kalian bisa, karena sesungguhnya Allah Ta'ala membangun Islam di atas kebersihan, dan tidak akan masuk surga kecuali setiap orang yang bersih."

"Bersihkanlah diri kalian semampu yang kalian bisa, karena sesungguhnya Allah Ta'ala membangun Islam di atas kebersihan, dan tidak akan masuk surga kecuali setiap orang yang bersih."
Dhaif / lemah 

“Keanehan” di Masjidil Haram & Masjid An Nabawi.

“Keanehan” di Masjidil Haram & Masjid An Nabawi.

Banyak keunikan dan keajaiban yang bisa anda saksikan di kedua masjid itu.

Animo kaum muslimin untuk beribadah di keduanya begitu besar.

Dan salah satunya ialah adanya kajian syeikh syeikh dengan berbagai tema dan disiplin keilmuaannya.

Audiensnya juga beragam, ada majlis yang dihadiri banyak jamaah, dan ada yang minimalis.

Semua majlis itu secara bersamaan berlangsung di satu masjid.

Kondisi tersebut berjalan tanpa ada masalah yang berarti, baik antara para syeikh pemateri maupun jamaah.

Bahkan infonya, semasa Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengajar di Masjid Nabawi, yang hadir di majlis beliau hanya beberapa puluh pelajar saja.

Kondisi serupa terjadi pada majlis Syeikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullah dan juga majlis syeikh Umar Al Fallatah rahimahullah. 

Pada awal saya kuliah di UIM, majlis beliau hanya dihadiri puluhan orang...... di saat majlis yang lain, dihadiri ratusan bahkan mungkin mencapai ribuan orang.

Syeikh Umar Fallatah  mengkaji kitab Shahih Al Bukhari rahimahullah, dan bertempatkan tepat di belakang Raudhoh, sehingga bukan hanya sedikit yang hadir namun juga dalam kebisingan jamaah umrah dan haji yang berebut kesempatan shalat dan berdoa di Ar Raudhoh.

Kondisi lebih parah terjadi pada majlis Syeikh Abdul Aziz As Syibly, kadang kala hanya dihadiri oleh pwtugas perekam kajiannya, dan kadang hanya saya yang menemani petugas perekamnya, yang menghadiri majlis beliau.

Dan subhanallah di akhir hayat, beliau rahimahullah mendapat kemuliaan meninggal dunia saat sedang shalat maghrib berjamaah. Brliau shalat tepat di belakang imam Masjid Nabawi Syeikh Ali Al Huzaifi, dan tatkala ruku' pada rakaat pertama, Syeikh Abdul Aziz As Syibly tersungkur dan meninggal dunia.

Subhanallah betapa besar jiwa jiwa para syeikh di kedua masjid mulia tersebut..... semoga Allah berkenan melimpahkan nikmat serupa kepada kita semua, aamiin.
https://www.facebook.com/share/1DFBCWPpGk/

Sabtu, 04 Juli 2026

Memanggil Orangtua dengan Namanya Saja

Memanggil Orangtua dengan Namanya Saja 

Malam Jumat kemarin, majelis al-Uqūl al-Nayyirah yang saya dan teman-teman bermuzakarah Ushūl al-Syāsyī, ushul al-fiqh fuqaha yang dipakai mazhab Hanafi, baru saja menyelesaikan pembahasan tentang al-Nash dan perangkat yang terkait, mulai dari 'ibārah al-nash, isyārah al-nash, dilālah al-nash dan muqtadha al-nash. 

Pas pembahasan tentang dilālah al-nash, al-Syāsyī mencontohkan surah al-Isrā ayat 23 tentang ayat larangan menyakiti orangtua dengan berkata uff. Jadi, dilālah al-nash itu kalau dalam ushul al-fiqh mutakallimīn sama kayak mafhūm muwāfaqah. Bedanya, kalau dilālah al-nash dipahami dari bahasa teks, dan dianggap qath'ī bagi Hanafi, kalau mafhūm muwāfaqah pakai qiyās, dan dianggap zhanni.

Sesuatu yang qath'ī ternyata bisa berubah bila melihat pendapat Abu Zaid, ulama mazhab Hanafi Bukhārā berikut: 

"Jika suatu masyarakat menilai mengatakan uff itu termasuk pemuliaan kepada kedua orangtua, maka itu tidak haram." 

Hal serupa juga bisa berlaku pada kasus anak memanggil orangtua dengan namanya aja. Kalau kita di Indonesia, manggil orangtua dengan namanya aja bisa dianggap enggak sopan, dan bisa-bisa enggak dikasih jajan tuh anak sama orangtuanya :D 

Kalau di suatu negara manggil nama orangtua, guru, itu pakai namanya aja enggak masalah, ya berarti manggil namanya aja itu mubah enggak haram.

Karena itu, kesimpulan fatwa al-Azhar menyatakan bahwa kalau memanggil namanya saja itu tidak sesuai dengan tradisi setempat dan orangtua bisa merasa tersakiti, maka haram. Jika tidak tersakiti dengan panggilan namanya aja, itu mubah. Begitupun kasus murid kepada guru.
ustadz ibnu kharis

Surga di bawah Kilatan Pedang

Surga di bawah Kilatan Pedang

عن عبد الله بن أبي عوفى رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: يا أيها الناس لا تتمنوا لقاء العدو واسالوا الله العافية فإذا لقيتموهم فاصبروا واعلموا أن الجنة تحت ظلال السيوف، ثم قال النبي صلى الله عليه وسلم: اللهم منزل الكتاب ومجري السحاب وهازم الأحزاب اهزمهم وانصرنا عليهم (رواه الشيخان)

Dari Abdullah bin Abi Aufa Radhiyallahu Anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi wa Salam bersabda, "Wahai manusia, jangan bercita-cita bertemu dengan musuh. Mintalah keselamatan kepada Allah. Jika bertemu dengan musuh maka bersabarlah. Ketahuilah bahwa surga berada di bawah kilatan pedang. Lantas beliau berdoa:

Ya Allah, wahai yang menurunkan Kitab. Menggerakkan awan. Yang menghancurkan tentara ahzab. Hancurkan mereka. Berilah kemenangan kepada kami. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jihad di jalan Allah merupakan syiar agama Islam. Jihad adalah kemuliaan umat dan bentengnya yang paling kuat. Jika umat telah meninggalkannya, maka hinalah umat ini.

Meski jihad merupakan ibadah yang suci dan mulia, namun di sana ada beberapa kaidah yang perlu diperhatikan. Salah satunya, larangan berangan-angan berjumpa dengan musuh. Sabar ketika sedang berada di kancah pertempuran.

Secara hukum asal, seorang muslim hendaknya meminta keselamatan dan kebaikan. Tidak meminta bala' dan fitnah.

Namun, ketika tidak ada pilihan selain pertempuran dan peperangan, maka ia harus bersabar dan tidak lari dari medan peperangan.

Min Kunuzis Sunnah, Muhammad Ali ash Shabuni, Hal 165-167

AAAA

sikap bijak

berikan udzur

tawadhu

Ustadz ali sutan sanusi

Jumat, 03 Juli 2026

Berapa jumlah ayat Al-Quran?

Berapa jumlah ayat Al-Quran?

Jumlahnya enam ribu dua ratus sekian ayat. Persisnya, menurut perhitungan versi Kufah jumlahnya 6236. tetapi banyak versi perhitungan lain yang membuat bilangan jumlahnya berbeda, walaupun yang dihitung itu isi dan susunan ayatnya sama, sebagai berikut.

Versi Madani A: 6217
Versi Madani Z: 6214 atau 6210
Versi Makki: 6219 / 6210 / 6216
Versi Kufi: 6236
Versi Bashari: 6204 / 6205 / 6206 / 6210 / 6210
Versi Syami: 6226 / 6225 / 6227 // 6232
(Mencakup versi Dimasyqi dan Himshi)

Ini terjadi karena perbedaan dalam menentukan batas akhir suatu ayat. Misalnya, ungkapan "Lam yalid walam yûlad" dalam surah Al-Ikhlas dalam perhitungan versi Kufi, Madani, dan Bashari dihitung sebagai 1 ayat, sedangkan dalam Makki dan Dimasyqi dihitung sebagai 2 ayat ("Lam yalid" itu ayat 3 dan "walam yûlad" itu ayat 4).

Bila perhitungan versi Kufi itu dibandingkan dengan versi-versi lain yang populer, maka ada 112 tambahan perhitungan ayat oleh versi lain yang oleh versi Kufi tidak dihitung. Kalau digabungkan semuanya maka jumlahnya: 6236 + 112 = 6348.

Semuanya kompak menghitung surah pertama, yaitu Al-Fatihah sebagai 7 ayat, walaupun berbeda dalam penghitungan Basmalah dan bagian akhir Al-Fatihah. Versi-versi yang tidak menghitung Basmalah sebagai ayat 1 Al-Fatihah (yaitu Versi Madani, Bashari, dan Dimasyqi) itu menghitung ungkapan "Shirâtha-lladzîna an‘amta ‘alaihim – Ghairi-l maghdhûbi ‘alaihim wala-dh dhâllîn" sebagai 2 ayat, bukan hanya 1 ayat seperti pada versi Kufi dan Makki.

Intinya, semau versi kompak menghitung Al-Fatihah yang merupakan surah pertama Mushaf Al-Quran itu 7 ayat. Dan, jumlah semua ayat dalam gabungan perhitungan gabungan antara versi Kufi dan lainnya di atas adalah 6236 + 112 = 6348 ayat.

Kalau kedua jumlah tersebut dibagi 7, maka hasilnya:

6236 / 7 = 890,857142857142857142857142857142...
6348 / 7 = 906,857142857142857142857142857142...

Ternyata hasilnya adalah 890 dan 906 tetapi masing-masing lebih sedikit. 890 dan 906 itu angkanya sama semua kecuali angka 8 dan angka 6, sementara itu adalah dua angka yang mengapit angka 7 dalam urutannya! [8--7--6]

Lalu, kelebihan dari pembagian bilangan di atas ternyata sama! Sama-sama menghasilkan bilangan desimal yang unik:

0,857142857142857142857142857142...

Ini adalah pengulangan dari barisan angka 857142. Perhatikan:

0, 857142__857142__857142__857142__857142...

Terus berulang melimpah tanpa henti walaupun dihitung sampai Kiamat!

Lalu perhatikan angka-angka unsurnya: 857142.

Kalau unsur-unsurnya ini pisahkan berimbang secara rata, kemudian hasilnya kita tambahkan (memisahkan dan menambahkan adalah aktivitas vital kehidupan), maka hasilnya:

857+142 = 999
8+1 = 9
5+4 = 9
7+2 = 9

Luar biasa! Satu keunikan yang amat menakjubkan!

Nah, lantas apa arti dari ini semua?

Tidak ada. Al-Quran adalah kitab suci yang mengandung pesan-pesan penting dari Sang Maha Sempurna sebagai petunjuk bagi umat manusia. AL-Quran terlalu mulia untuk diseret-seret pada urusan angka, bilangan, apalagi numerologi semacam ini, seberapa unik dan memikatnya sajian ataupun bisikan yang diberikan.

Perhitungan jumlah ayat itu sendiri adalah hanya perhitungan. Memang ada gunanya, termasuk secana Fikih dan Manajemen, juga secara pemahaman dari hadis-hadis mengenail Al-Quran,  termasuk mengenai masa depan:

يُقالُ لصاحِبِ القرآنِ اقرأ وارتَقِ ورتِّل كما كنتَ ترتِّلُ في الدُّنيا فإنَّ منزلَكَ عندَ آخرِ آيةٍ تقرؤُها

Akan tetapi, itu hanyalah perhitungan, yaitu praktisnya untuk memudahkan. Yang terpenting tetaplah bunyi ayatnya dan kandungannya. Makanya, dalam mushaf-mushaf usmani yang asli pun sama sekali tidak ada penomoran ayat. Bahkan tidak ada pengharokatan, tidak ada penulisan hamzah, dan tentu saja tidak ada penulisan Titik Ba' yang dihebohkan banyak orang itu.

Apakah menjadi tidak seru..?
Seru atau tidak, hidup itu yang penting benar dan berguna.

Wallâhu waliyu-t Taufîq.
Ustadz nidlol mas'ud

Apakah jika kita menggibah seseorang, kita harus meminta maaf kepada orang yg kita ghibahi agar dosa kita gugur dan terlepas dari hak manusia?

Apakah jika kita menggibah seseorang, kita harus meminta maaf kepada orang yg kita ghibahi agar dosa kita gugur dan terlepas dari hak manusia?

1. Jika orang yg kita ghibahi tidak tahu bahwa kita menggibahnya, maka di sini cukup minta ampun sama Allah dan mendoakan orang yg kita ghibahi.

2. Jika orang yg dighibahi tau klo kita menggibahnya, maka di sini tidak cukup hanya istighfar, kita harus minta maaf langsung ke orangnya, kita sampaikan klo kita sudah menggibahnya, tidak berhenti di sana, kita juga dituntut untuk menyampaikan apa yg kita ghibahkan, bahkan jika kita menggibahnya di depan orang-orang yg ia segani, seperti gurunya, bapaknya, pejabat, dll, maka kita harus menyebutkan mereka.

Hak manusia berat..

Diambil dari dars Fathul Muin-nya Syaikh Labib Najib
Yahya an nawawi
https://www.facebook.com/share/p/1FLsNccah9/

متوفر_في_مكتبة_طالب_العلم

#متوفر_في_مكتبة_طالب_العلم:

🔴 «التنبيهات السنية على العقيدة الواسطية».

▪️تأليف: العلامة عبد العزيز الناصر الرشيد -رحمه الله- (ت: ١٤٠٨).

▪️حققه وعلق عليه و خرج أحاديثه: أبو العباس ياسين العدني -رحمه الله-.

🌐 تجليد كرتوني على ورق أصفر شامواه باللونين الأسود والأحمر في 698 صفحة. 

🌓 التنبيهات السنية على العقيدة الواسطية "، للشيخ العلامة عبد العزيز بن ناصر الرشيد المتوفى سنة (١٤٠٨هـ) - رحمه الله تعالى -، كتبه بناء على طلب بعض طلبة المعهد العلمي، وغالب استمداده من كتب شيخ الإسلام ابن تيمية وتلميذه العلامة ابن القيم - رحمهما الله تعالى -، فرغ من تأليفه في اليوم الأول من ذي الحجة سنة (١٣٧٧هـ)

🔴 قالوا عن الشرح :

▪️قال فضيلة الشيخ صالح آل الشيخ في شرحه على العقيدة الواسطية: 

- « هذه العقيدة المباركة لها شروح كثيرة، ومن أعظمها نفعا وأدقها لفظا، الشرح المسمى بـ: "التنبيهات السَّنية على العقيدة الواسطية" للشيخ العلامة عبد العزيز بن رشيد (رحمه الله)، فإن هذا الشرح من أنفس شروح هذه العقيدة الواسطية، فقد بين من مسائل هذه العقيدة ومن ألفاظها ما يكفي طالب العلم في هذا الباب -أعني: باب الاعتقاد- لأنه ذكر فيها من العلم الواسع الغزير ما لو اكتفى به طالب العلم في بيان عقيدة أهل السنة والجماعة لكفاه. ولهذا أحض من أراد شرحا لهذه العقيدة على هذا الكتاب، ألا وهو: "التنبيهات السنية على العقيدة الواسطية" للشيخ ابن رشيد (رحمه الله). » 

▪️قال الشيخ عبد الكريم الخضير -عفا الله عنه-:

- « من أفضل شروحات العقيدة الواسطية ، شرح الشيخ عبدالعزيز بن ناصر الرشيد - رحمه الله - وهو ( التنبيهات السنية ) ».

- « شرح ابن رشيد اسمه « التنبيهات السنية على العقيدة الواسطية »، وهو شرح موسع ومتقن ومحرر ومضبوط شرح تحليلي للواسطية ».

🚫 تنبيه: لا يسمح بحذف رابط القناة
أو تغيير أي شيء في المنشور إلا بإذن مسبق من مالك القناة.

🚚 #ابق_مكانك_يصلك_كتابك.

🌐 أينما كنت، وحيثما وجدت، نسعى لتوصيل الكتب إليك بإذن الله-عز وجل-. 

💳 متوفر الدفع عبر الحساب البريدي أو عند الاستلام. 

❖⸞⸞⸞⸞⸞⸞❖    📞 للتواصل معنا:     ❖⸞⸞⸞⸞⸞⸞⸞❖ 

📠 أرقام هاتف مكتبة طالب العلم:

1⃣ رقم المبيعات: 
▪️0665631957.(للإتصال).
▪️0792994559.(واتساب، تليجرام، فايبر).
2⃣ رقم الإدارة: 
▪️0666621783.(للإتصال،واتساب، تليجرام).

▪️رابط موقع مكتبة طالب العلم:
https://bit.ly/4173var
▪️رابط قناة مكتبة طالب العلم على التليجرام:
https://bit.ly/3VCF43A
▪️رابط حساب مكتبة طالب العلم على التويتر: 
https://bit.ly/3Wc2jAV 
▪️رابط صفحة مكتبة طالب العلم على الفيسبوك:
http://bit.ly/2jAFmHH 
▪️ رابط حساب مكتبة طالب العلم على الإنستغرام:
https://bit.ly/3Z6BKPo
▪️موقع مكتبة طالب العلم على الخريطة:
https://goo.gl/maps/hKmRWAmRhKx 
▪️البريد الالكتروني لمكتبة طالب العلم:
maktabat.talib.alilm@gmail.com

Kisah ulama' yang mungkin belum pernah anda dengar atau baca, kali saja.

Kisah ulama' yang mungkin belum pernah anda dengar atau baca, kali saja.

Kalau sudah juga ndak apa apa, namanya juga judul, ya sengaja dibuat yang iseng gitu. 

Imam Ibnu Abdil Bar Al Andalusi, sering dikritik oleh sebagian orang atas sikapnya menerima hadiah dari para penguasa di zamannya.

Beliau merespon kritik tersebut dengan menggubah satu bait syair:
قل لمن ينكر أكلي ... لطعام الأمراءِ
 
أنت من جهلك هذا ... في محلّ السفهاء
Katakan kepada orang yang nyinyir sikapku menerima makanan hadiah dari para penguasa.
Sikap bodohmu ini bukti engkau bukti engkau adalah orang pandir.

Pada kisah lain seorang ulama' bernama Ahmad bin Khalid, pakar fikih dari negri Andalus juga mengalami kondisi serupa, karena ia berkenan menjadi guru sepiritual Abdurrahman Ad Dakhil pendiri dinasti Umawiyah di negri Andalus, bahkan beliau mau dipindahkan dari negri asalnya untuk menghuni salah satu rumah dekat dengan Abdurrahman Ad Dakhil, dan menerima banyak fasilitas dan harta darinya.

Merespon kritikan mereka, Ahmad bin Khalid menulis satu risalah menjelaskan sikapnya ini secara tinjauan dalil dan hukum syari'at. (Jami' Al Masa'il Ibnu Taimiyyah 3/309-312)

Patut anda ketahui bahwa Abdurrahman Ad Dakhil merintis dinasti Umawiyah di negri Andalus, setelah berperang cukup panjang hingga akhirnya berhasil mengalahkan guburnur perwakilan Dinasti Abbasiyah yang bernama 'Ala' bin Mughis Al Hadhrami.

Al Hasan Al Bashri dan As Sya'bi dua orang tabi'in menerima hadiah dari Umar bin Hubairah penguasa Iraq, yang galau karena mendapat mandat dari Khalifah Yazid bin Abdul Malik memerintahkannya melakukan sesuatu yang melanggar syari'at.

Mendapat mandat ini, Ibnu Hubairah bingung, dan meminta saran dari keduanya. 

Semula As Sya'bi membela Ibnu Hubairah yang dianggap terpaksa menuruti perintah Khalifah.

Sedangkan Al Hasan Al Bashri sebaliknya, beliau berkata tegas, dan mencegah Ibnu Hubairah, dan memotovasinya agar tidak tunduk kepada penrintah Yazid bin Abdil Malik yang jelas jelas menyimpang . Diantara yang diucapkan oleh Al Hasan Al Bashri:
يا عمر بن هبيرة إن تتق الله يعصمك من يزيد بن عبد الملك ولا يعصمك يزيد بن عبد الملك من الله عز وجل .
Wahai Umar bin Hubairah, jika kamu takut kepada Allah, maka takutmu akan melindungimu dari murka Yazid bin Abdul Malik, sedangkan  Yazid bin Abdul Malik tidak bisa melindungimu dari murka Allah Yang Maha Kuasa. (Hilyatul Auliya' oleh Abu Nu'aim Al Ashbahani 2/149-150)

Bagi yang tertarik membaca pendapat Ibnu Taimiyah dalam masalah ini monggo dibaca risalah beliau di atas.... beliau sangat moderat dalam urusan ini. ....semoga sumbu sumbu kita semua bisa lebih panjang .
Ustadz Dr muhammad arifin badri Ma 
https://www.facebook.com/share/18noJuvRUd/

tingkatan syukur yg paling rendah

Sabar dalam mempengaruhi.

Sabar dalam mempengaruhi...

Orang yang berbicara halus meski menyimpan niat buruk, kerap kali lebih diterima dengan baik, dari pada orang yang bicara benar, tetapi dirasa menyerang perasaan. 
Iblis datang mendekati Adam dengan menampakkan wajah teman, meskipun sebenarnya menyimpan permusuhan. 
Allah berfirman, 
وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ 
Iblis bersumpah di hadapan keduanya, bahwa aku sang pemberi nasihat bagi kalian berdua. (al-A'raf: 21) 

Iblis menyebut dirinya sebagai sosok yang mau berbagi. Di sinilah perasaan akan lebih tersentuh. Pesan menyesatkan sekalipun akan mudah diterima karena suasana kerukunan. 

Menjaga perasaan sering dianggap lebih penting dari pada mengungkapkan kenyataan secara telanjang. Sebab konflik terbuka dianggap sangat mengganggu keseimbangan hubungan. 

koneksi baru komunikasi... 

Akhirnya kita butuh belajar untuk mengemas kebenaran lebih santun, bernuansa tata krama, tanpa menghilangkan esensinya. Sekalipun dalam kondisi tertentu juga perlu menunjukkan ketegasan dalam rangka menjaga wibawa. 

Di sinilah kita perlu sepakat, hukum asal menyampaikan kebenaran adalah sopan dan lemah lembut. 
Suatu Ketika ada orang yang mau menasehati Harun al-Rasyid, namun dia minta izin untuk menyampaikannya dengan kalimat pedas level atas, 
يا أمير المؤمنين، إني أريد أن أكلمك بكلامٍ فيه غلظة، فاحتمله مني
Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku ingin berbicara kepadamu dengan perkataan yang agak keras, maka bersabarlah menerimanya dariku.

Spontan Khalifah Harun langsung keberatan, 
'Aku gak mau, kau tidak lebih baik dari pada Musa dan aku tidak lebih jahat dari pada Firaun. Sementara Allah perintahkan Musa untuk menyampaikan pesan dengan lemah lembut kepada Fir'aun.'

Itulah firman Allah, 
اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى ( ) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى 
“Pergilah kalian berdua kepada Fir‘aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau menjadi takut (kepada Allah).”

اللَّهُمَّ اجعَلنا إِلَيكَ مُخبِِتا

Selamat beristirahat...
Ustadz ammi nur baits

حقيقة الإيمان ونواقضهمع تفصيل لضوابط التكفير والعذر بالجهل)

Sunnah Bacaan dalam Salat Isya

 Syaikh Khalid al-Musyaiqih *hafizhahullah* 
### **(Sunnah Bacaan dalam Salat Isya: Surah-Surah *Awasith al-Mufashshal* sebagaimana Petunjuk Nabi ﷺ 🌿)**
Guru kami, **#Khalid_al_Musyaiqih** *hafizhahullah*, berkata:
"Perkara salat Isya sudah sangat jelas, bahwasanya dianjurkan untuk membaca surah-surah dari *Awasith al-Mufashshal* (surah-surah berukuran sedang di bagian akhir Al-Qur'an).
Lihatlah apa yang dipetunjukkan oleh Nabi ﷺ kepada Mu'adz bin Jabal ketika ia memanjangkan bacaan salatnya. Nabi ﷺ mengarahkannya untuk membaca surah-surah *Awasith al-Mufashshal* dalam salat Isya.
Beliau (Mu'adz) diarahkan untuk membaca: *Wasy-syamsi wa dhuhāhā*, *Wal-layli idzā yagsyā*, *Sabbihisma rabbikal-a'lā*, *Iqra' bismi rabbikalladzī khalaq*, dan yang sejenisnya.
Maka dalam salat Isya, surah yang dibaca adalah *Awasith al-Mufashshal*. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Sulaiman bin Yasar juga: *'Dan pada salat Isya membaca awasith-nya (surah mufashshal yang sedang)'*. Namun, jika seseorang membaca surah yang diriwayatkan dari para sahabat *radhiyallahu 'anhum*—seperti surah Muhammad, al-Fath, dan Yusuf—maka hal itu juga baik, karena perkara tersebut tsabit (sah) riwayatnya dari para sahabat *radhiyallahu 'anhum*."
**#Salat_Isya #Al_Mufashshal #Sunnah_Bacaan #Khalid_al_Musyaiqih**
(السنة في قراءة صلاة العشاء.. أواسط المفصل كما أرشد النبي ﷺ🌿 )

قال شيخنا #خالد_المشيقح حفظه الله 

صلاة العشاء أمرها ظاهر أنه يُستحب أن يُقرأ فيها بالوصل فصل.

وانظر إلى ما أرشده النبي ﷺ معاذ بن جبل لما أطال في القراءة، أرشده النبي ﷺ أن يقرأ في صلاة العشاء بالوصل فصل.

يقرأ: والشمس وضحاها ، والليل إذا يغشى ، سبح اسم ربك الأعلى ، اقرأ باسم ربك الذي خلق إلى آخره.

في صلاة العشاء يُقرأ فيها بالوصل فصل ، حيث سلمان بن يسار أيضًا، وفي العشاء بأواسطه، وإن قرأ ما ورد عن الصحابة رضي الله تعالى عنهم من قراءة سورة محمد والفتح ويوسف فهذا أيضًا حسن، لأنه ثابت عن الصحابة رضي الله تعالى عنهم."

#صلاة_العشاء #المفصل #سنة_القراءة #خالد_المشيقح
https://www.facebook.com/share/p/1EafU9j3sb/

Sifat-Sifat Penuntut Ilmu

 Syaikh Prof. Dr. Shalih Sindi *hafizhahullah* 
### **[Sifat-Sifat Penuntut Ilmu]**
Syaikh Prof. Dr. Shalih Sindi *hafizhahullah* berkata:
> "Seorang penuntut ilmu itu tampak berwibawa, berjiwa mulia, bersih hatinya, tinggi cita-citanya, dan matang akalnya. Mengalir di dalam urat nadinya darah kesatriaan dan semangat untuk berlari menuntaskan perkara-perkara penting. Ia tidak berdiri kecuali di pintu keutamaan, dan tidak mengulurkan tangannya melainkan untuk urusan-urusan yang besar. Ia adalah seorang yang bertakwa, cerdas, pemalu, lagi suci jiwanya.
> Seorang penuntut ilmu tidak dikhawatirkan bahayanya. Manusia merasa tenang darinya, sementara dirinya sendiri terus bersusah payah (dalam kebaikan). Orang yang bergaul dengannya merasa aman akan kebaikannya, dan orang yang bersahabat dengannya senantiasa mengharapkan kebaikannya. Ia bersikap adil terhadap dirinya sendiri, mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, berhati bersih terhadap kaum muslimin, dan selalu berbaik sangka kepada orang-orang beriman. Ia tidak mencari-cari kesalahan, tidak menyebarkan keburukan, dan tidak membocorkan rahasia. Ia dicintai oleh manusia; hati mereka condong kepadanya dan jiwa mereka merindukannya. Ia bukanlah seorang penjilat, bukan orang yang riya, bukan pula orang yang sombong. Tidak hasad, tidak pendendam, dan tidak bodoh (kurang akal). Tidak kasar, tidak kaku, dan tidak keras kepala. Bukan pencela, bukan pengadu domba, bukan pula pengumpat. Ia jauh dari segala hal yang dapat mencoreng agamanya, menjatuhkan wibawanya, dan mengundang kemurkaan terhadapnya.
> Seorang penuntut ilmu itu tunduk kepada kebenaran, kokoh di hadapan kebatilan, dan mampu menahan amarah. Ia menjawab orang bodoh dengan diam, dan menyambut orang berilmu dengan menerima (ilmunya). Ia tenang lagi berwibawa, menjauhi sikap murahan, kekonyolan, dan kecanduan bercanda yang tidak berguna. Padanya ada harga diri tanpa kesombongan, dan kemuliaan tanpa keangkuhan. Ia tidak mendatangi tempat-tempat syubhat (yang mencurigakan) dan tidak menginjakkan kaki di majelis-majelis yang sia-sia. Ia teguh dan selalu ber-tabayyun (memastikan kebenaran), terutama dalam menghadapi perkara-perkara besar dan genting. Di saat genting ia tetap tenang, dan di saat lapang ia banyak bersyukur. Ia berbicara agar paham, dan ia diam agar selamat.
> Seorang penuntut ilmu, setiap kali ilmunya bertambah, maka bertambah pula ketawaduan (kerendahan hati) nya. Ia membenci pujian dan ambisi untuk menjadi pemimpin. Ia selalu waspada terhadap hal-hal yang dapat mengotori niatnya, seperti sifat ingin tampil dan ingin merasa lebih unggul dari teman-temannya. Ia tidak menuntut ilmu untuk riya, tidak mendebat untuk bersilat lidah, dan tidak merasa gengsi untuk mengucapkan: *(Aku tidak tahu)*.
> Seorang penuntut ilmu tidak pelit dalam berbagi faedah (ilmu), karena berkah ilmu yang paling pertama adalah dengan membagikannya. Tidaklah seseorang pelit dengan ilmunya, melainkan ilmunya itu tidak akan mendatangkan manfaat."
◄ **[Dikutip dari khotbah beliau yang berjudul: *Raunaq al-'Ilm* (Keindahan Ilmu)]**
💡[صفات طالب العلم]
يقول الشَّيخ أ. د. صالح سندي حفظه الله:
   ”طالب العلم ظاهر الوَقار، شريف النَّفس، نقيُّ السَّريرة، سامِي الهمًَة، راجح العقل، تجري في عروقه دمُ الشَّهامة والرَّكض في مُهمَّات الأمور، لا يقف إلا على باب الفضائل، ولا يَبسُط يديه إلا في مُهمّٕات الأمور، تقيٌّ ذكيّ، حيِيٌّ زكيّ. 

  طالب العلم لا تُخاف منه غَائلة، النَّاس منه في راحة، ونفسُه منه في جُهد، يأمَن خيرَه من خالطه، ويأمُل خيرَه من صاحبَه، يُنصِفُ من نفسه ويُحِبُّ لأخيه ما يحبٌ لنفسه، سليم القلب للمسلمين، حسنُ الظنُّ بالمؤمنين، لا يُؤاخذ بالعثَرات، ولا يُشِيع القبائح، ولا يُفشِي الأسرار، محبوبٌ عند النَّاس، تحِنُّ إليه قلوبُهم وتشتاق إلى ذلك نفوسُهم، لا مُداهنٌ ولا مُراءٍ ولا مُختال، ولا حَسُودٌ ولا حَقُود ولا سفيه، لا جافٍ ولا فظٌّ ولا غَليظ، لا سبَّاب ولا نمًَامٌ ولا مُغتَاب، بعيدٌ عن كل ما يَشِين ديانتَه ويُسْقِط هيبتَه ويَسْتدعي مَقْتَه. 

  طالب العلم ذليلٌ للحقِّ، عزيزٌ عن الباطل، كاظمٌ للغيظ، يُجيب السّفيه بالصَّمت عنه، والعالمَ بالقَبُول منه، وقُورٌ رزين، يجتنب التَّبذُّل والسُّخف وإدمْان تافهِ المِزاح، فيه أنَفةٌ من غير كِبرياء، وعِزّةٌ من غير جَبُروت، لا يَغشى مواطن الرّيب، ولا يَطأ مجالس اللَّغو، ثابتٌ مُتثبِّت لا سيَّما في المُلمّات والمُهمَّات، في الشَّدائد وقُور، وفي الرَّخاء شَكور، يَنطق ليفهم ويسكت ليسْلم.  

  طالب العلم كلما ازداد علمًا ازداد تواضعًا، يكره المدح والتَّرؤُّس، يقِظٌ لما يشُوب نيّتَه من حبِّ الظهور والتفوُّق على الأقران، لا يتفقّه للرياء، ولا يُحاجُّ للمراء، ولا يستنكف عن قول: (لا أعلم).
طالب العلم لا يبخل بالإفادة، لأن أول بركة العلم الإفادة، ولم يبخل أحد بعلمه إلا لم يُنتفع به“.

◄ [مقتبس من خطبته: رونق العلم]

Shalawat Nariyah dikarang oleh Ibrahim bin Muhammad bin Ali at-Tazi yang berasal dari kota Taza, Maroko (Zahasfan, Shalawat Nariyah Sejarah dan Khasiatnya, [Surabaya, Imtiyaz: 2021], halaman 1). Jadi bukan sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam, bukan sunnah khulafaur rasyidin dan bukan pula amalan para sahabat.

Shalawat Nariyah dikarang oleh Ibrahim bin Muhammad bin Ali at-Tazi yang berasal dari kota Taza, Maroko (Zahasfan, Shalawat Nariyah Sejarah dan Khasiatnya, [Surabaya, Imtiyaz: 2021], halaman 1). Jadi bukan sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam, bukan sunnah khulafaur rasyidin dan bukan pula amalan para sahabat.

sunnah dan dakwah lebih utama dari harta, lebih utama dari nasab, dan lebih utama dari segala sesuatu

Al-Imâm Muqbil Al-Wâdi'iy rahimahullâh berkata:

"Salafiy itu tidak akan jualan sunnah, tidak pula jualan dakwah, dan seandainya ia diberikan apa saja yang telah diberikan, maka sunnah dan dakwah lebih utama dari harta, lebih utama dari nasab, dan lebih utama dari segala sesuatu."

[Al-Imâm Al-Alma'iy 235]

Kekeliruan, kritik, dan saran terkait terjemahan sampaikan pada penerjemah

FB Penerjemah: Dihyah Abdussalam 
IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah

Aqidah Syaikh Abdul Qadir Al-Jaylani (Al-Jilani):

Aqidah Syaikh Abdul Qadir Al-Jaylani (Al-Jilani):
Allah berisitiwa di atas 'arsy, sesuai dalam kitab beliau Al-Ghun-yah
Ustadz asmon nurijal

Kamis, 02 Juli 2026

Pekerjaan Sebagian Sahabat Nabi

Pekerjaan Sebagian Sahabat Nabi 

Syaikh Ahmad bin Ahmad ath-Thawil dalam kitab Ittiqaa-ul Haram was Syubuhaat fi Thalabir Rizqi mengatakan:

وهذا خباب بن الأرت كان حدادًا، وعبد الله بن مسعود كان راعيًا، وسعد بن أبي وقاص كان يصنع النبال، والزبير بن العوام كان خياطًا، وبلال بن رباح وعمار بن ياسر كانا خادمين، وسلمان الفارسي كان حلاقًا ومؤبرًا للنخل، وخبيرًا بفنون الحرب، والبراء بن عازب وزيد بن أرقم كانا تاجرين

"Inilah Khabbab bin Al-Aratt, beliau adalah seorang pandai besi. Abdullah bin Mas'ud adalah seorang penggembala. Sa'ad bin Abi Waqqash adalah seorang pembuat anak panah. Az-Zubair bin Al-'Awwam adalah seorang penjahit. Bilal bin Rabah dan Ammar bin Yasir bekerja sebagai pembantu. Salman Al-Farisi adalah seorang tukang cukur, penyerbuk pohon kurma, serta ahli dalam berbagai strategi dan teknik peperangan. Adapun Al-Bara' bin 'Azib dan Zaid bin Arqam adalah pedagang"
(Ittiqaa-ul Haram was Syubuhaat fi Thalabir Rizqi, hal.64).

Fawaid Kangaswad | lynk.id/kangaswad

Jadi, Al-Qur'an memang tertulis di Lauhul Mahfuzh tanpa ada keraguan, akan tetapi Jibril tidak mengambilnya dari Lauhul Mahfuzh –sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Asy'ariyyah– melainkan menerimanya dari Allah Jalla wa 'Ala


**عقيدة السلف في كلام الله عز وجل**
> **Akidah Salaf tentang Kalamullah (Firman Allah) 'Azza wa Jalla**
### **Isi Teks Utama**
والْكَلَامُ إِنَّمَا يُضَافُ إِلَى مَنْ قَالَهُ مُبْتَدِئاً، لَا إِلَى مَنْ قَالَهُ مُبَلِّغاً مُؤَدِّياً(١)؛ لِأَنَّهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ مِنْ ثَلَاثَةٍ، فَاللهُ أَخْبَرَ أَنَّهُ كَلَامُهُ. وَأَضَافَهُ إِلَى الرَّسُولِ الْمَلَكِيِّ، وَإِلَى الرَّسُولِ الْبَشَرِيِّ مِنْ بَابِ إِضَافَةِ التَّبْلِيغِ فَحَسْبُ، وَهُوَ كَلَامُ اللهِ ابْتِدَاءً، وَهُوَ كَلَامُ جِبْرِيلَ وَمُحَمَّدٍ ﷺ تَبْلِيغاً عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
> Dan suatu perkataan itu hanyalah disandarkan kepada orang yang pertama kali mengucapkannya (sumber aslinya), bukan kepada orang yang sekadar menyampaikannya(1). Karena tidak mungkin satu perkataan berasal dari tiga pihak sekaligus. Allah telah mengabarkan bahwa itu adalah firman-Nya. Adapun penyandaran perkataan tersebut kepada rasul dari kalangan malaikat (Jibril) dan rasul dari kalangan manusia (Muhammad) hanyalah dari sisi penyampaian (tabligh) saja. Maka, ia adalah firman Allah pada asalnya, dan menjadi perkataan Jibril serta Muhammad ﷺ dalam hal penyampaian dari Allah 'Azza wa Jalla.
لَا يَشُكُّ الْمُسْلِمُونَ فِي هَذَا، أَنَّهُ كَلَامُ اللهِ، مُنَزَّلٌ غَيْرُ مَخْلُوقٍ، قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ﴾ [الزمر: ٢]، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿تَنزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ﴾ [الزمر: ١]، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿مُنَزَّلٌ مِّن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ﴾ [الأنعام: ١١٤].
> Kaum muslimin tidak meragukan hal ini, bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah, yang diturunkan dan bukan makhluk. Allah Ta'ala berfirman: *"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab"* [QS. Az-Zumar: 2], dan Allah Ta'ala berfirman: *"Diturunkannya Kitab ini dari Allah"* [QS. Az-Zumar: 1], serta Allah Ta'ala berfirman: *"Bahwa Al-Qur'an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar"* [QS. Al-An'am: 114].
وَاللهُ -جَلَّ وَعَلَا- وَصَفَهُ بِأَنَّهُ كَلَامُهُ، فَقَالَ تَعَالَى: ﴿حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ﴾ [التوبة: ٦]، ﴿يُرِيدُونَ أَن يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ﴾ [الفتح: ١٥]، فَوَصَفَهُ بِأَنَّهُ كَلَامُهُ، وَأَنَّهُ هُوَ الَّذِي أَنْزَلَهُ.
> Dan Allah –Jalla wa 'Ala– menyifati Al-Qur'an sebagai firman-Nya. Allah Ta'ala berfirman: *"..agar dia sempat mendengar firman Allah"* [QS. At-Tawbah: 6], dan *"Mereka hendak mengubah firman Allah"* [QS. Al-Fath: 15]. Maka Allah menyifatinya sebagai firman-Nya, dan Dialah yang telah menurunkannya.
أَمَّا الْأَشَاعِرَةُ فَيَقُولُونَ: إِنَّهُ مَكْتُوبٌ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ، وَإِنَّ جِبْرِيلَ أَخَذَهُ مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ، وَنَزَلَ بِهِ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ!
> Adapun kaum Asy'ariyyah, mereka mengatakan: "Sesungguhnya Al-Qur'an itu tertulis di Lauhul Mahfuzh, dan sesungguhnya Jibril mengambilnya dari Lauhul Mahfuzh, lalu turun membawanya kepada Muhammad ﷺ!"
وَهَذَا قَوْلٌ بَاطِلٌ؛ فَإِنَّ جِبْرِيلَ لَمْ يَأْخُذْهُ عَنِ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ، وَإِنَّمَا أَخَذَهُ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. نَعَمْ هُوَ مَكْتُوبٌ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ * فِي لَوْحٍ مَّحْفُوظٍ﴾ [البروج: ٢١-٢٢]، ﴿وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ﴾ [الزخرف: ٤]، يَعْنِي: الْقُرْآنَ، فَهُوَ مَكْتُوبٌ فِي اللَّوْحِ بِلَا شَكٍّ، وَلَكِنَّ جِبْرِيلَ لَمْ يَأْخُذْهُ مِنَ اللَّوْحِ -كَمَا تَقُولُ الْأَشَاعِرَةُ- وَإِنَّمَا أَخَذَهُ عَنِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا، فَيَنْبَغِي مَعْرِفَةُ هَذَا؛ لِأَنَّ هَذَا مَذْكُورٌ فِي عَقَائِدِ الْأَشَاعِرَةِ، وَقَدْ رَدَّ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ -رَحِمَهُ اللهُ- عَلَى هَذَا الْقَوْلِ فِي رِسَالَةٍ مَطْبُوعَةٍ -وَهِيَ
> Dan ini adalah pendapat yang batil (keliru); karena Jibril tidak mengambilnya dari Lauhul Mahfuzh, melainkan ia menerimanya langsung dari Allah 'Azza wa Jalla. Benar bahwa Al-Qur'an tertulis di Lauhul Mahfuzh, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: *"Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauhul Mahfuzh"* [QS. Al-Buruj: 21-22], dan *"Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu dalam Induk Kitab (Lauhul Mahfuzh) di sisi Kami, benar-benar tinggi dan penuh hikmah"* [QS. Az-Zukhruf: 4], maksudnya adalah Al-Qur'an. Jadi, Al-Qur'an memang tertulis di Lauhul Mahfuzh tanpa ada keraguan, akan tetapi Jibril tidak mengambilnya dari Lauhul Mahfuzh –sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Asy'ariyyah– melainkan menerimanya dari Allah Jalla wa 'Ala. Perkara ini harus diketahui, karena hal ini disebutkan dalam kitab-kitab akidah Asy'ariyyah, dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim –rahimahullah– telah membantah pendapat ini dalam sebuah risalah (buku saku) yang dicetak –yaitu... *(teks terputus)*
### **Catatan Kaki (Footnote)**
(١) انظر: الواسطية (ص١٣٦) بشرح المؤلف حفظه الله، ط. مكتبة المعارف بالرياض.
> (1) Lihat: *Al-Wasithiyyah* (hal. 136) dengan syarah (penjelasan) oleh penulis –semoga Allah menjaganya–, cetakan Maktabah al-Ma'arif, Riyadh

Dan barang siapa yang tidak merasa cukup dengan apa yang telah mencukupinya, maka tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat membuatnya merasa cukup.'"


> قال أبو سليمان: قال بعض الحكماء: من اشتَغَلَ بما لا يعنيه فاته ما يعنيه، ومن لم يَستغْنِ بما يكفيه فليس في الدنيا شيءٌ يُغْنِيه.
> > **Abu Sulaiman berkata:"Sebagian ahli hikmah (orang bijak) berkata: 'Barang siapa yang sibuk dengan hal-hal yang tidak penting baginya (tidak bermanfaat), maka akan luput darinya hal-hal yang penting baginya. Dan barang siapa yang tidak merasa cukup dengan apa yang telah mencukupinya, maka tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat membuatnya merasa cukup.'"