Sabtu, 23 Mei 2026

KETIKA MUSADDAD MENGIRIM SURAT PADA IMAM AHMAD

KETIKA MUSADDAD MENGIRIM SURAT PADA IMAM AHMAD

Tak ada di zamannya yang meragukan kapasitas keilmuan dan keimaman dari Imam Musaddad bin Musarhad bin Musarbal al-Bashriy rahimahullah, baik ummat Islam secara umum, muridnya, bahkan gurunya. Semua memuji dan membanggakannya.

Tak pernah Al-Bukhariy menuliskan pujian di Shahih-nya selain pada Musaddad bin Musarhad ini. Yang lebih ajib lagi adalah Yahya bin Sa'id al-Qaththan yang dikenal "garang" dalam irusan rawi, begitu terkesan pada kecerdasan dan keilmuan Musaddad, sampai rela andaikata harus ke rumahnya mengajari tanpa harus Musaddad yang datang padanya. Ini kedudukan mulia di tengah manusia.

Namun, MaaSyaaAllah, tatkala ia merasa ISYKAL dalam masalah FITNAH [kekacauan] di tubuh ummat tentang Qadar [Qadariyyah & Jabariyyah], Rafdh [Syi'ah Rafidhah], I'tizal [Mu'tazilah], Khalq Al-Quran, Irja' [Murjiah], maka beliau pun MENULIS SURAT untuk KONSULTASI pada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullāh,

اكتب إلي بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم

"[Wahai Syaikh], Tuliskan untukku bagimana menyikapi fitnah ini dengan SUNNAH Rasulillāh shallallahu 'alaihi wasallam".

Tatkala surat tersebut sampai dan dibaca Imam Ahmad, maka Sang Imam pun menangis sembari berkata,

إنا لله وإنا إليه راجعون, يزعم هذا البصري أنه قد أنفق على العلم مالاً عظيماً وهو لا يهتدي إلى سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم

"[Istirja'], Sang Bashriy [orang Bashrah] ini menyangka bahwasanya ia SETERKENAL ITU merasa dirinya telah menafkahkan harta yang banyak untuk mendapatkan Ilmu, ternyata ia belum tertunjuki pada Sunnah Rasulillāh shallallahu 'alaihi wasallam." 

Kemudian Imam Ahmad pun menuliskan risalah jawaban dari pertanyaan Musaddad bin Musarhad ini. Sebuah risalah yang terus menerus dibahas di kalangan para Ahli Hadits dan dikenal di kalangan Thullabul Hadits. Di-talaqqi-kan dari masa ke masa. Diajarkan oleh para Aimmah dan Masyayikh di halaqah-halaqah mereka.

Risalah tersebut diabadikan dalam ath-Thabaqat nya Abu Ya'la, al-Manāqib nya Ibn al-Jawzi, al-Ibānah al-Kubrā nya Ibn Baththah, juga yang lainnya.

"Kok bisa seperti ini?" Mungkin demikian kira-kira ekspresi Imam Ahmad ketika menerima surat itu. Sekaliber dan sepopuler Musaddad masih merasakan Isykal dalam menghadapi fitnah tersebut; secerdas itu masih belum memahami bagaimana Sunnah mengajarkan dalam menghadapi perkara-perkara seperti itu. Padahal Sunnah begitu terang benderang di masa tersebut.

Coba kita perhatikan sampai sini dahulu. Ada faedah-faedah besar dari kejadian ini, diantaranya:

- Keluhuran ilmu tak melazimkan akan memahami segala hal. Tetap saja akan menghadapi persoalan yang di luar kemampuan dirinya.
- Sikap para Ulama Ahlissunnah di masa Salaf tidak memahami dan bersikap "dari kantongnya sendiri", melainkan ditanyakan dan dikonsultasikan pada yang lebih 'Alim darinya; dari kalangan Ulama Ahlissunnah. Terlebih lagi ketika menghadapi urusan yang menyangkut Agama dan Orang banyak.
- Kepopuleran seorang 'Alim tak menjamin kefahaman akan Manhaj Salaf yang mulia ini. Tak menjamin pula akan sslamat dalam menghadapi Fitnah, tanpa taufiq dari Allah melalui bimbingan para Ulama Ahlissunnah.
- Para Aimmatussalaf mengobati fitnah yang berkobar dengan Sunnah Rasulillah shallallahu 'alaihi wasallam, bukan dengan pendapat-pendapat pribadi.
- Kesedihan para Aimmah ketika melihat kenyataan sebagian ummat Islam belum memahami Ushul Sunnah, padahal ianya lebih terang benderang dari pembahasan fiqih ashghar.
- Pembahasan Sunnah, Aqidah yang lurus, Tauhid, dan semisalnya begitu diperhayikan di masa generasi Salaf.
- Ketawadhuan Musaddad serta kewara-annya. Ia begitu berhati-hati dalam bersikap sehingga perlu konsultasi dulu pada Imam Ahlissunnah di zamannya.
- Keluasan ilmu serta bashirah Imam Ahmad terkait Sunnah.
- Dan fawaid lainnya...

Semoga bermanfaat...

✒️ Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., MA.