Kamis, 21 Mei 2026

Hukum Membaca Al-Qur'an secara Bersama-sama (Jamaah) menurut Madzhab Maliki

Hukum Membaca Al-Qur'an secara Bersama-sama (Jamaah) menurut Madzhab Maliki

​Diriwayatkan dari Imam Malik bahwa beliau memakruhkannya. Al-Allamah Al-Kharashi rahimahullah menyebutkan dalam kitab Syarh Mukhtashar Khalil (1/352, cet. Dar al-Fikr):

​Imam Malik memakruhkan berkumpulnya para pembaca Al-Qur'an untuk membaca satu surah yang sama secara bersama-sama. Beliau menegaskan: 'Hal itu bukanlah amalan para pendahulu (salaf),' dan beliau memandangnya sebagai perkara bid'ah. 
Selesai kutipan.
___

Bid'ahnya Membaca Al-Qur'an secara Bersama-sama, dan Bid'ahnya Membaca Surah Al-Kahfi secara Berjamaah pada Hari Jumat.
​ 
​Al-Allamah Ibnul Hajj rahimahullah berkata dalam kitab Al-Madkhal (2/281):

​Telah dijelaskan sebelumnya mengenai larangan membaca Al-Qur'an dan berzikir secara bersama-sama (koor/jamaah). Jika ketentuannya demikian, maka sudah semestinya masyarakat dilarang dari perkara baru yang mereka ada-adakan, yaitu membaca surah Al-Kahfi secara bersama-sama di dalam masjid atau tempat lainnya pada hari Jumat.

​Meskipun memang ada dalil yang menganjurkan untuk membaca surah Al-Kahfi secara utuh pada hari Jumat, anjuran tersebut harus dipahami sesuai dengan apa yang diamalkan oleh generasi salaf radhiyallahu 'anhum, bukan dengan cara yang kita saksikan hari ini.

​Seseorang hendaknya membaca surah tersebut secara mandiri, baik dibaca lirih (sirr) di dalam masjid atau tempat lain, maupun dibaca keras (jahr) selama tidak mengganggu orang lain di sekitarnya. 

Membacanya secara lirih tentu lebih utama. Adapun berkumpulnya mereka untuk membaca surah tersebut secara bersama-sama (koor), maka hukumnya adalah bid'ah.

Allahu a'lam
ibn nashrullah