Ahlul Kalam Hanya Fokus Pada Tauhid Rububiyah
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan menjelaskan:
فليس التوحيد هو الإقرار بتوحيد الربوبية كما يقول ذلك علماء الكلام والنُّظّار في عقائدهم، فإنه يقررون بأن التوحيد هو الإقرار بأن الله هو الخالق الرازق المحيي المميت، فيقولون: (واحد في ذاته لا قسيم له، واحد في صفاته لا شبيه له، واحد في أفعاله لا شريك له) وهذا هو توحيد الربوبية
Maka tauhid itu bukanlah sekadar mengakui tauhid rububiyyah saja, sebagaimana keyakinannya para ahlul kalam dan ahli nazhor dalam kitab-kitab akidah mereka. Mereka menetapkan bahwa tauhid adalah sekedar meyakini bahwa Allah-lah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, Yang menghidupkan, dan Yang mematikan. Ahlul kalam mengatakan: “Allah itu Esa dalam dzat-Nya, tidak ada pembagi bagi-Nya; Esa dalam sifat-sifat-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya; dan Esa dalam perbuatan-perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya". Ini hanya sekedar tauhid rububiyyah.
ارجعوا إلى أي كتاب من كتب علماء الكلام تجدون لا يخرجون عن توحيد الربوبية، وهذا ليس هو التوحيد الذي بعث الله به الرسل، والإقرار بهذا وحده لا ينفع صاحبه، لأن هذا أقرّ به المشركون وصناديد الكفرة، ولم يخرجهم من الكفر، ولم يدخلهم في الإسلام، فهذا غلطٌ عظيم
Silakan merujuk kepada kitab apa pun dari kitab-kitab ahlul kalam, niscaya anda akan mendapati bahwa pembahasan mereka tidak keluar dari tauhid rububiyyah. Padahal ini bukanlah tauhid menjadi tujuan dakwah para rasul. Pengakuan terhadap tauhid rububiyah saja tidak bermanfaat bagi pelakunya, karena kaum musyrikin dan para pembesar orang kafir pun telah mengakuinya. Namun pengakuan tersebut tidak mengeluarkan mereka dari kekufuran dan tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Maka ini adalah kekeliruan yang besar.
فمن اعتقد هذا الاعتقاد ما زاد على اعتقاد أبي جهل وأبي لهب، فالذي عليه الآن بعض المثقّفين هو تقرير توحيد الربوبية فقط، ولا يتطرقون إلى توحيد الألوهية، وهذا غلط عظيم في مسمّى التوحيد
Barang siapa meyakini keyakinan seperti ini, maka keyakinannya tidak melebihi keyakinan Abu Jahal dan Abu Lahab. Apa yang dilakukan sebagian kalangan cendikia Muslim saat ini hanyalah menetapkan tauhid rububiyyah saja, dan mereka tidak membahas tauhid uluhiyyah. Ini adalah kesalahan besar dalam memahami makna tauhid.
(Syarah al-Qawa'id al-Arba, karya Syaikh Shalih bin Fauzan hal.19)
Fawaid Kangaswad | Support Media Dakwah Kami: trakteer.com/kangaswad