Di antara penghalang besar meraih “Kebenaran” adalah Cinta Kedudukan/Dunia.
Kisah yang disampaikan oleh Ibnu al-Qayyim رحمه الله:
“Aku pernah berdebat dengan seorang ulama Nasrani hampir sepanjang hari. Ketika kebenaran mulai jelas baginya, ia tampak kebingungan. Saat kami berdua saja, aku bertanya: ‘Apa yang menghalangimu untuk mengikuti kebenaran sekarang?’
Ia menjawab: ‘Jika aku kembali kepada orang-orangku—ini benar-benar ucapannya—mereka akan memuliakanku, memberiku kedudukan, bahkan menyerahkan urusan harta dan wanita mereka kepadaku tanpa membantahku. Aku tidak memiliki keahlian lain, tidak hafal Al-Qur’an, tidak menguasai tata bahasa atau fikih. Jika aku masuk Islam, aku akan hidup dalam keadaan sulit, mungkin harus meminta-minta di pasar. Siapa yang sanggup menerima itu?’”
Aku pun berkata kepadanya:
“Ini tidak mungkin. Bagaimana mungkin engkau menyangka bahwa Allah akan menghinakan seseorang yang lebih memilih keridhaan-Nya daripada hawa nafsunya? Kalaupun hal itu terjadi, maka apa yang engkau dapatkan berupa kebenaran, keselamatan dari neraka, dan selamat dari murka Allah, jauh lebih besar daripada semua yang engkau tinggalkan.”
Ia menjawab: “Tunggu sampai Allah mengizinkan.”
Aku berkata:
“Takdir tidak bisa dijadikan alasan. Jika takdir bisa dijadikan hujah, maka orang Yahudi bisa menggunakannya untuk menolak Nabi Isa, dan orang-orang musyrik bisa menggunakannya untuk menolak para rasul. Apalagi engkau sendiri tidak meyakini takdir, lalu bagaimana engkau menjadikannya sebagai alasan?”
Ia berkata: “Baiklah, kita tinggalkan pembahasan ini dulu. Mari kita tunda.”
Kisah ini kami kutip di buku kecil kami ini.
Ketik “Minat” jika ingin mendapatkan Pdf Buku ini secara Gratis
Abu Yusuf Akhmad Ja’far