Sabtu, 02 Mei 2026

KETIKA USTADZ ABDUL HAKIM MENYURUH BACA KITAB DI DEPANNYA

KETIKA USTADZ ABDUL HAKIM MENYURUH BACA KITAB DI DEPANNYA

"Iqra ya Ustadz". Suara beliau menggelegar di telinga saya. Tentu bikin menciut hati ini. Mau bagaimana lagi, saya mengamini permintaan beliau.

Kitab karya Ibnu Shalah tersebut ditunjukkannya pada saya di waktu makan siang dari HP beliau langsung. Tentu format PDF. Saya bacakan untuk beliau.

"Hasbuk, ya Ustadz! Faedah apa yang bisa antum ambil darinya?" Tanyanya menguji saya.

"Sanad di zaman beliau untuk melestarikan tradisi keberkahan dalam penukilan riwayat-riwayat, bukan lagi memastikan tashhih dan tadh'if seperti dahulu". Jawab saya secara ringkas.

"Jadi, apakah artinya sangat penting di masa beliau?"

"Boleh dikatakan sudah tidak begitu dihajatkan lagi jika yang dimaksd adalah memastikan kualitas dan status keshahihanya." Jawab saya.

"Itu di masa beliau. Apalagi di masa kita. Oleh karenanya sanad-sanad di masa kita sebenarnya tidak se-urgen di masa sebelum Ibnu Shalah. Terbayang kalau kaidah zaman dulu dipakai di masa sekarang, sanad-sanad di masa sekarang kita periksa, tentu para rawinya tidak akan se-kredibel zaman dulu. Sehingga, tradisi tersebut tetap dijaga hingga sekarang [itu kebaikan], namun menjadikannya sebagai tolok ukur ilmu dan kebanggaan tentu tidak benar."

Demikian hasil adaptasi dari bahasa beliau. Saya mengangguk. Yang lain menyimak. Barulah setelah itu obrolan mengalir ke sejarah-sejarah. Tradisi literasi yang kuat itu begitu terasa. Makan siang kala itu seperti kuliah 2 SKS bagi saya dan beberapa yang hadir. Serius, renyah, tapi santai. Sebab sesekali kami menyeruput minuman yang ada dan menikmati sayur asam yang dipesan.

Beliau akan datang kembali ke Majalengka, InSyaaAllah. Jika Allah beri kesempatan saya untuk membersamai beliau lagi, tentu itu disyukuri. Meski dilema tetap terjadi; sebab Qadarullah saya telah daftar mengikuti Daurah Syaikh Akram Ziyadah al-Fallujiy. Semoga saya bisa mengatur watu seefektif mungkin sehingga bisa mengambil manfaat dari kedua Syaikh yang datang ini...

—Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar al-Atsariy—