Syaikh Dr. Shalih Sindi -hafidzahullah- menekankan sebuah kaidah
*ليس الشأن أن تعبدَ اللهَ بما تُحب، وإنما الشأن أن تعبدَ اللهَ بما يُحب*
“Bukan yang terpenting itu engkau beribadah kepada Allah dengan cara yang engkau sukai. Tetapi yang terpenting adalah engkau beribadah kepada Allah dengan cara yang Allah sukai.”
Kaidah ini mengajarkan bahwa agama tidak dibangun di atas perasaan dan selera manusia, tetapi di atas wahyu dan tuntunan Nabi ﷺ.
Artinya: bukan kita yang menentukan cara beribadah kepada Allah sesuka hati, tetapi Allah yang menentukan bagaimana Dia ingin disembah.
Kadang seseorang merasa:
- “Menurut saya ini bagus,”
- “Ini lebih menyentuh hati,”
- “Ini tradisi baik,”
namun dalam ibadah ukurannya bukan “menurut saya baik”, tapi: “apakah Allah dan Rasul-Nya mengajarkannya?”
*Contoh mudah:*
1. Kita tidak boleh menambah rakaat shalat wajib walaupun niatnya ingin lebih banyak ibadah.
2. Tidak boleh membuat dzikir dengan tata cara khusus yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ meskipun terasa khusyuk.
3. Tidak boleh mengadakan ritual tertentu lalu dianggap ibadah padahal tidak ada tuntunannya.
Sebaliknya, walaupun suatu amalan terlihat sederhana, kalau sesuai sunnah maka itulah yang paling dicintai Allah.
Karena inti ibadah adalah tunduk dan mengikuti, bukan berkreasi dalam agama.
Maka seorang muslim yang benar cintanya kepada Allah akan berkata: “Aku ingin beribadah sebagaimana yang Allah cintai, bukan sekadar sebagaimana yang aku sukai.”
Ust nurhadi nugroho