Sabtu, 09 Mei 2026

Banyak pelajaran dari kisah ini, fitnah dan ujian saat ini hanya mengulangi masa lalu.

Banyak pelajaran dari kisah ini, fitnah dan ujian saat ini hanya mengulangi masa lalu.

----

Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah
Hasad dianggap sebagai sebab utama dari sebagian besar ujian dan cobaan yang menimpa para ulama umat ini. Biasanya hasad muncul karena kedudukan dan kemuliaan seorang alim di tengah manusia, kecintaan para pencari ilmu kepadanya, atau karena keberaniannya dalam menyampaikan kebenaran serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Sifat-sifat ini umumnya terdapat pada ulama rabbani. Namun, seorang alim justru didengki karena kecerdasan murid-muridnya dan keunggulan ilmiah mereka—itulah yang benar-benar mengherankan, dan inilah yang akan diceritakan di sini.
Biografinya
Beliau adalah imam, hafizh, hujjah, faqih, Syaikhul Islam, “Imam para imam”, salah satu pilar Ahlus Sunnah: Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah As-Sulami An-Naisaburi Asy-Syafi’i, صاحب banyak karya penting. Beliau lahir tahun 223 H.
Sejak muda beliau telah menuntut ilmu. Beliau sangat memperhatikan periwayatan hadis dan fikih hingga mendalam di keduanya, sampai menjadi perumpamaan dalam keluasan ilmu dan ketelitian. Ketika berhaji, beliau meminum air zamzam dengan niat memperoleh ilmu yang bermanfaat. Seakan Allah membuka mata hati dan pemahamannya dengan mata air ilmu dan hikmah. Beliau termasuk manusia paling cerdas dan paling dalam pemahamannya.
Di samping itu, beliau zuhud dan berpaling dari gemerlap dunia. Beliau tidak menyimpan harta; semua yang dimilikinya diinfakkan untuk أهل العلم. Bahkan disebutkan beliau tidak dapat membedakan antara uang sepuluh dan dua puluh, terkadang memberikan uang sepuluh dengan mengira itu lima.
Pujian Para Ulama Kepadanya
Ibnu Khuzaimah adalah mutiara zamannya dalam ilmu, fikih, zuhud, dan wara’. Karena itu beliau menjadi tokoh yang disepakati keutamaannya. Tidak ada seorang pun yang berselisih tentang kedudukannya. Semua orang, dekat maupun jauh, mengakui keutamaan dan kemuliaannya.
Di antara pujian para ulama:
Al-Hafizh Abu Ali An-Naisaburi berkata:
“Aku tidak pernah melihat orang seperti Ibnu Khuzaimah.”
Padahal beliau pernah melihat Imam An-Nasa’i, صاحب Sunan.
Ibnu Hibban Al-Busti berkata:
“Aku tidak melihat di muka bumi orang yang hafal ilmu sunan, lafaz-lafaz hadis shahih beserta tambahan-tambahannya, seakan seluruh sunan berada di depan matanya, selain Ibnu Khuzaimah.”
Ad-Daraquthni berkata:
“Ibnu Khuzaimah adalah imam yang kokoh, tidak ada tandingannya.”
Imam Ibnu Suraij berkata:
“Ibnu Khuzaimah mampu mengeluarkan mutiara-mutiara faedah dari hadis Rasulullah dengan pinset.”
Abu Utsman Al-Hairi berkata:
“Sesungguhnya Allah menolak bala dari penduduk kota ini (yakni Naisabur) karena keberadaan Abu Bakar bin Khuzaimah.”
Ketika Imam Jarh wa Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, ditanya tentang Ibnu Khuzaimah, beliau berkata kepada para penanya:
“Celaka kalian! Justru beliau yang bertanya tentang kami, bukan kami yang bertanya tentang beliau. Beliau adalah imam yang dijadikan teladan.”
Karya-Karyanya
Ibnu Khuzaimah memiliki lebih dari 140 kitab, selain masalah-masalah fikih yang jumlahnya sendiri mencapai lebih dari 100 juz.
Beliau dianggap salah satu tokoh terpenting dalam penjelasan akidah yang benar, yaitu akidah Salafush Shalih. Kitab At-Tauhid miliknya termasuk kitab akidah salafiyah paling terkenal pada abad ketiga hijriah.
Dalam kitab tersebut beliau menggunakan ungkapan-ungkapan yang kuat dan tegas terhadap mazhab yang menyelisihi akidah salaf. Di antaranya perkataannya yang terkenal:
“Barang siapa tidak mengakui bahwa Allah beristiwa di atas Arsy-Nya di atas tujuh langit-Nya, maka ia kafir, halal darahnya, dan hartanya menjadi fai’.”
Beliau juga berkata:
“Al-Qur’an adalah kalam Allah Ta’ala. Barang siapa mengatakan bahwa ia makhluk maka ia kafir. Ia diminta bertaubat; jika bertaubat maka diterima, jika tidak maka dibunuh, dan tidak dikuburkan di pemakaman kaum muslimin.”
Fitnah yang Menimpanya
Ibnu Khuzaimah memiliki kewibawaan besar di jiwa manusia dan kedudukan tinggi di hati mereka karena ilmu, agama, dan ittiba’ beliau kepada sunnah. Beliau mencapai derajat ijtihad, unggul atas ulama sezamannya dalam usia dan ilmu.
Beliau memiliki murid-murid yang pada masa hidupnya telah menjadi bintang zaman dan imam-imam besar yang didatangi manusia dari berbagai negeri untuk belajar kepada mereka. Mungkin karena itulah beliau dijuluki “Imam para Imam”.
Di antara murid-murid besar beliau:
Abu Ali Ats-Tsaqafi
Abu Bakar Ash-Shabghi
Abu Bakar bin Abi Utsman
Abu Muhammad Yahya bin Manshur
Mereka semua menjadi tokoh besar dalam ilmu dan dakwah.
Awal Fitnah
Fitnah bermula ketika datang ke Naisabur seorang Mu’tazilah rusak akidah dan manhajnya bernama Manshur Ath-Thusi. Ia menghadiri majelis-majelis Ibnu Khuzaimah untuk mendengar pandangan beliau tentang akidah.
Ketika melihat kehebatan empat murid utama Ibnu Khuzaimah tadi, timbullah hasad dalam dirinya. Hatinyapun dipenuhi kedengkian. Ia mulai merancang cara untuk memecah hubungan antara imam dan murid-muridnya.
Ia bersekongkol dengan seorang lain yang serupa dengannya, yaitu Abu Abdurrahman Al-Wa’izh Al-Qadari Al-Mu’tazili. Mereka menyusun rencana dan mulai menyebarkan fitnah kepada Ibnu Khuzaimah tentang murid-muridnya, menuduh mereka terjerumus dalam pembahasan akidah dan berada di atas mazhab Kullabiyah.
Keduanya terus menghasut Ibnu Khuzaimah terhadap murid-murid beliau.
Peristiwa yang Memperuncing
Suatu hari Abu Ali Ats-Tsaqafi berbicara tentang masalah “kalamullah” setelah terjadi perdebatan di salah satu majelis ilmu. Padahal Ibnu Khuzaimah melarang murid-muridnya membahas masalah tersebut secara mendalam dan melarang ilmu kalam secara umum.
Manshur Ath-Thusi memanfaatkan kesempatan itu dan segera berkata kepada Ibnu Khuzaimah:
“Bukankah aku sudah mengatakan kepada syaikh bahwa mereka menganut mazhab Kullabiyah?”
Ibnu Khuzaimah lalu mengumpulkan murid-muridnya dan berkata:
“Bukankah aku telah berulang kali melarang kalian membahas ilmu kalam?”
Beliau tidak menambah selain itu pada hari tersebut.
Fitnah Semakin Membesar
Ath-Thusi terus mengulang-ulang fitnahnya di telinga Ibnu Khuzaimah hingga membuat beliau mulai menjauh dari murid-muridnya. Keadaan semakin buruk dengan campur tangan pihak luar.
Akhirnya, Ibnu Khuzaimah—yang saat itu telah berusia lebih dari delapan puluh tahun dan merasa lelah serta sempit dadanya—pernah mengumumkan di hadapan para penuntut ilmu bahwa empat muridnya itu pendusta, dan haram bagi siapa pun menerima riwayat mereka dari beliau.
Padahal mereka bukan pendusta. Mereka adalah imam-imam yang terpercaya. Semua itu hanyalah akibat ulah Ath-Thusi yang menyebarkan namimah dan dusta hingga memalingkan hati sang syaikh dari murid-murid terdekatnya.
Upaya Perdamaian
Ath-Thusi dan Abu Abdurrahman memanfaatkan fitnah itu untuk menyebarkan paham Mu’tazilah. Beberapa orang hasad seperti Al-Barda’i dan Abu Bakar bin Ali membantu mereka memperbesar api fitnah.
Kemudian Al-Hafizh Abu Amr Al-Hairi bangkit mendamaikan kedua pihak. Ia menjelaskan kepada Ibnu Khuzaimah tujuan kaum Mu’tazilah dalam merusak keadaan.
Akhirnya beliau berhasil mempertemukan Ibnu Khuzaimah dan murid-muridnya dalam satu majelis. Mereka berdamai, lalu para murid menuliskan akidah mereka secara resmi, dan Ibnu Khuzaimah menandatangani dokumen itu sebagai benar dan selamat dari penyimpangan.
Dokumen tersebut disimpan oleh Al-Hairi agar tidak ada lagi orang yang berbicara sembarangan.
Akhir yang Menyedihkan
Belum sehari berlalu setelah perdamaian itu, Ath-Thusi dan kelompok Mu’tazilah kembali mendatangi Ibnu Khuzaimah dan berkata:
“Mereka telah mengkhianatimu dan mengubah isi dokumen agar sesuai dengan akidah Ibnu Kullab.”
Ibnu Khuzaimah marah besar. Karena beliau sudah sangat tua, beliau meminta Abu Amr Al-Hairi menyerahkan dokumen tersebut untuk diperiksa. Namun Al-Hairi menolak.
Hal itu justru menguatkan prasangka Ibnu Khuzaimah bahwa dokumen tersebut memang telah diubah. Maka beliau terus marah dan memutus hubungan dengan murid-muridnya hingga wafat tidak lama setelah itu.
Pelajaran dari Kisah Ini
Demikianlah kita melihat bagaimana para pengusung akidah batil dan mazhab rusak dahulu maupun sekarang memainkan peran berbahaya dalam merusak hubungan sesama kaum muslimin dan menimbulkan fitnah terhadap ulama rabbani.
Dan cobaan apa yang lebih berat bagi seorang alim selain harus memutus hubungan dengan murid-muridnya dan memusuhi sahabat-sahabat terdekatnya—yang dahulu menjadi sumber kebanggaan dan sebab kemasyhurannya?
Wallahu a’lam bish-shawab.
 link :
https://www.alukah.net/culture/0/106326/%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%85%D8%A7%D9%85-%D8%A3%D8%A8%D9%88-%D8%A8%D9%83%D8%B1-%D9%85%D8%AD%D9%85%D8%AF-%D8%A8%D9%86-%D8%A5%D8%B3%D8%AD%D8%A7%D9%82-%D8%A8%D9%86-%D8%AE%D8%B2%D9%8A%D9%85%D8%A9/?fbclid=IwdGRjcARrvn5jbGNrBGu-d2V4dG4DYWVtAjExAHNydGMGYXBwX2lkDDM1MDY4NTUzMTcyOAABHsDMrhdXQpe4JBGnIUA1gAIhzOgGbyJ5PYs9XqjjSdseI6IN3mFHJa2Qug14_aem_aBKOYR-ZVzF1F_yVTSmTaA
Diposting oleh ustadz noor akhmad setiawan