Edisi Bantahan
MELAFADZKAN NIAT
Melafadzkan niat, terjadi perbedaan pendapat ulama. Sebagian ulama membolehkan. Sebagian yang lain mengatakan bahwa itu bid’ah, makruh dan tidak disyariatkan. Perhatikan pendapat dari 4 madzhab tentang melafadzkan niat.
1. Hanafiyah.
قالوا إن النيّة محلّها القلب، ولا يُسنّ التلفظ بها، بل عده بعضهم من البدع، لأن النبي ﷺ وأصحابه لم يتلفظوا بالنية قبل العبادة.
Mereka berkata, sesungguhnya niat itu tempatnya di hati. Dan tidak disunnahkan Melafadzkannya. Bahkan sebagian mereka (ulama) menganggapnya (perkara tersebut) termasuk bid'ah. Karena bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya mereka tidak melafadzkan niat sebelum ibadah.
2. Malikiyah
عندهم أيضًا أن النية تكون بالقلب فقط، والتلفظ بها مكروه، لأنه لم يُنقل عن النبي ﷺ.
Menurut mereka juga, bahwasanya niat itu (cukup) di dalam hati saja. Sedangkan melafadzkannya makruh, karena sesungguhnya tidak dinukil dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.
3. Syafi’iyyah
قالوا إن النية في القلب واجبة، ويُستحب التلفظ بها باللسان لتثبيت ما في القلب ومساعدته على حضور النية.
Mereka berkata, sesungguhnya niat di dalam hati itu wajib, melafadzkannya dianjurkan dengan lisannya untuk menetapkan apa yang ada di dalam hati dan membantunya menghadirkan niat.
4. Hanabilah
مثل الحنفية والمالكية، قالوا: النية في القلب فقط، والتلفظ بها غير مشروع، بل قال بعضهم: هو بدعة لا أصل لها.
(Hanabilah berpendapat) seperti pendapat hanafiyyah dan malikiyah. Mereka berkata : Niat itu di dalam hati saja. Sedangkan melafadzkannya tidak disyari’atkan, bahkan sebagian mereka berkata, ia (hal tersebut) adalah bid'ah yang tidak ada dasarnya/asal-usulnya (dalam syariat).
الراجح (عند جمهور العلماء):
أن النية محلها القلب فقط، ولا يُشرع التلفظ بها، لأن النبي ﷺ لم يتلفظ بالنية في صلاته ولا في وضوئه ولا في غيرها من العبادات.
(Pendapat) yang rajih adalah pendapat jumhur ulama : Sesungguhnya niat itu tempatnya di hati saja, tidak disyariatkan melafadzkannya. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak melafadzkan niat di dalam shalat, wudhu dan yang lainnya diantara ibadah-ibadah.
"اتفق الفقهاء أن محل النية هو القلب، واتفقوا على أن الجهر بالنية لا يشرع. قال ابن الحاج في المدخل (٢/ ٢٧٤): «ولا يجهر بالنية فإن الجهر بها من البدع»."
Para Fuqaha telah sepakat bahwa tempatnya niat adalah di hati. Dan mereka sepakat bahwa menjahrkan niat tidak disyariatkan. Berkata Ibnul Hajj dalam kitab al-Madkhal : Dan tidak (perlu) mengeraskan niat, karena mengeraskannya termasuk perkara bid'ah.
Pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullah sama seperti pendapat hanafiyah dan hanabilah, bahwa melafadzkan niat adalah bid’ah.
Berkata Ibnu Taimiyyah rahimahullah,
“التلفظ بالنية بدعة لم يفعلها رسول الله ﷺ ولا أصحابه، ولا أمر بها أحداً من الأمة.
Melafalkan niat (dengan lisan) adalah bid'ah (perkara baru/mengada-ada dalam agama) yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, tidak juga oleh para sahabatnya, dan beliau tidak pernah memerintahkannya kepada seorang pun dari umat ini.
Mereka yang menguatkan pendapat bahwa niat di dalam hati dan dikuatkan dengan lisan itu lebih utama sebagaimana pendapat Imam Syafi’i rahimahullah dan ulama Syafi'iyah lainnya seperti Imam Nawawi rahimahullah.
Disebutkan dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab,
ويجب أن ينوي بقلبه لأن النية هي القصد. تقول العرب : نواك الله بحفظه أي قصدك الله بحفظه ، فإن تلفظ بلسانه وقصد بقلبه فهو آكد. المجموع شرح المهذب.
Dan wajib berniat di dalam hatinya, karena niat itu adalah maksud (tujuan). Orang arab mengatakan: Semoga Allah mengarahkan penjagaan-Nya kepadamu (menjagamu), yakni semoga Allah menujukan perlindungan-Nya kepadamu. Maka jika ia melafazkan dengan lisannya dan menyengaja (berniat) dengan hatinya, maka itu lebih kuat (lebih utama). (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab).
Namun perkataan di tempat lain, masih di kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Imam Nawawi rahimahullah berkata,
ومحل النية القلب ، فإن نوى بقلبه دون لسانه أجزأه . ومن أصحابنا من قال : ينوي بالقلب ويتلفظ باللسان ، وليس بشيء ; لأن النية هي القصد بالقلب.
Tempatnya niat dihati. Maka jika ia berniat dalam hatinya tanpa (mengucapkannya dengan) lisannya, itu sudah mencukupi. Sebagian dari sahabat-sahabat kami (ulama Syafi'iyah) ada yang berpendapat: Berniat dengan hati, sedangkan dilafazkan (diucapkan) dengan lisan tidak bernilai apa-apa (bukan niat yang sebenarnya), karena sesungguhnya niat itu adalah maksud (keinginan) di dalam hati. (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab).
Berkata juga Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab Raudhatut Thalibin,
لَا يَصِحُّ الصَّوْمَ إِلَّا بِالنِّيَّةِ وَمَحَلُّهَا القَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلاَ خِلَافٍ
“Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan. Masalah ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Raudhotuth Tholibin, 1/268).
Kemudian Muhammad Al-Khatib Asy-Syirbini (wafat 977 H) rahimahullah menjelaskan perkataan Imam Nawawi tersebut,
إنما الأعمال بالنيات ومحلها القلب ولا تكفي باللسان قطعا ولا يشترط التلفظ بها قطعا كما قاله في الروضة
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Namun niat letaknya di hati. Niat tidak cukup di lisan. Bahkan tidak disyaratkan melafazhkan niat. Sebagaimana telah ditegaskan dalam Ar Roudhoh.” (Al Iqna’, 1: 404).
Dan berkata pula Muhammad Al-Khatib Asy-Syirbini (wafat 977 H) rahimahullah di dalam Al-Mughnil Muhtaj,
وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ ، وَلَا تَكْفِي بِاللِّسَانِ قَطْعًا ، وَلَا يُشْتَرَطُ التَّلَفُّظُ بِهَا قَطْعًا كَمَا قَالَهُ فِي الرَّوْضَةِ
Niat letaknya dalam hati dan tidak perlu sama sekali dilafadkan. Niat sama sekali tidak disyaratkan untuk dilafadzkan sebagaimana ditegaskan oleh An Nawawi dalam Ar Roudhoh. (Mughnil Muhtaj, 1/620) .
Maka jelaslah sudah kebenaran ada di ustadz-ustadz salafi yang mengutip perkataan Imam Nawawi rahimahullah bahwa niat itu dihati dan tidak disyaratkan untuk dilafadzkan, yang dijelaskan oleh Muhammad Al-Khatib Asy-Syirbini ulama Syafi'iyah. Tidak sebagaimana tuduhan orang yang ada penyakit dalam hatinya, bahwa ustadz-ustadz salafi itu berdusta.
AFM
Copas dari berbagai sumber