Jumat, 08 Mei 2026

Mengejar Dunia

[ Mengejar Dunia ]

Sebagian orang mengartikan mengejar dunia itu dengan segala aktifitas bersungguh-sungguh dalam bekerja atau berbisnis. Misalnya lembur kejar deadline, bekerja sampai larut malam di proyek atau site, lembur mengerjakan pesanan customer, dsb. 

Yang benar mengejar dunia adalah bagi yang mengusahakannya dan membelanjakannya tanpa hak. Mari kita lihat perkataan Sa'id ibn Al Musayyab rahimahullah, 

أن الدنيا نذلة وهي إلى كل نذل أميل وأنذل منها من أخذها بغير حقها وطلبها بغير وجهها ووضعها في غير سبيلها

"Dunia ini penuh dengan kekejian, dan dunia akan condong mendatangi kepada setiap orang yang bejat. Diantaranya :
(1) orang yang mengambil yang bukan haknya
(2) mencarinya dengan cara yang tidak pada tempatnya 
(3) menggunakannya tidak pada jalannya"

Sehingga mereka yang lembur kerja, selama tidak melalaikan shalat, apalagi harta perolehannya ia gunakan untuk nafkah anak istri bahkan sebagiannya ia donasikan untuk dakwah, bahkan dipakai membangun misalnya sekolah tahfizh yang terjangkau, ini sama sekali tidak mengejar dunia. 

Lebih jauh bahwa cinta dunia itu tempatnya di hati. Tidak bisa divonis secara zhahir. Bahkan bisa jadi tampilan dan casingnya saja yang zuhud tapi dihatinya ia adalah orang yang paling cinta dunia. 

Ibn Taimiyah rahimahullah berkata, 
فحرص الرجل على المال والشرف يوجب فساد الدين فأما مجرد الحب الذي في القلب إذا كان الإنسان يفعل ما أمره الله به ويترك ما نهى الله عنه ويخاف مقام ربه وينهى النفس عن الهوى فإن الله لا يعاقبه على مثل هذا إذا لم يكن معه عمل وجمع المال إذا قام بالواجبات فيه ولم يكتسبه من الحرام لا يعاقب عليه لكن إخراج فضول المال والاقتصار على الكفاية أفضل وأسلم وأفرغ للقلب وأجمع للهم وأنفع في الدنيا والآخرة

"Ketamakan manusia akan harta dan kehormatan menyebabkan rusaknya agamanya. Namun, sekedar cinta dunia di dalam hati, jika seseorang tetap berusaha melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menghindari apa yang dilarang Allah, takut akan kedudukan Rabbnya, dan senantiasa menahan diri dari hawa nafsu, maka Allah tidak menghukumnya jika hal itu tidak disertai dengan amal perbuatan yang terlarang. Sekedar mengumpulkan kekayaan, jika seseorang tetap memenuhi kewajiban yang berkaitan dengannya dan tidak memperolehnya secara haram, maka ia tidak berdosa. Namun jika ia memberikan sebagian kekayaannya yang berlebih dan membatasi diri pada apa yang cukup maka itu lebih baik, lebih selamat, lebih menenangkan jiwa, lebih bermanfaat baginya di dunia dan akhirat."

Indikator paling mudah adalah walaupun lembur tetaplah memperhatikan shalat. Mathar al Warraq rahimahullah berkata, 

كانوا يبيعون ويشترون ولكن كان أحدهم إذا سمع النداء وميزانه في يده خفضه وأقبل إلى الصلاة

"Dahulu para salaf mereka berjual beli, tetapi jika salah seorang dari mereka mendengar seruan adzan dan sedang memegang timbangan di tangannya, ia akan meletakkan timbangannya dan bersegera untuk menunaikan shalat."
Ust yhouga pratama 

https://www.facebook.com/share/18sTLKMgjm/