Kalau kenangan saya dengan beliau hanya sedikit, tapi tentunya sangat berkesan dalam hidup saya, Pertama pada tahun 2008 saya pernah membawa beliau dari Kapuas ke rumah saya di Amuntai bersama 2 ustadz lain yaitu kanda M.Marda Tarsyida dan kanda Febriansyah Reza, selama menginap di rumah kami beliau sangat memperhatikan kayu2 yang ada di rumah, karena rumah kami dari kayu, beliau sangat bersemangat menanyakan tentang nama2 kayu yg beliau lihat dan konstruksinya kepada ayah kami yang juga seorang pakar kayu dan pertukangan, beliau membandingkannya dengan kayu2 di jawa dan kontruksinya, di hati saya bergumam terkagum dengan ustadz aun "ternyata beliau seorang mujahid luar dalam yang suka kemandirian dan kelelakian".
Pada saat sesi tanya jawab setelah beliau menyampaikan kajian tentang tauhid dan mengikuti Sunnah, ada seorang penanya yang menanyakan tentang MLM, kemudian ustadz menjawabnya dengan gamblang diantaranya adanya unsur gharar, maysir, dan zhulm pada bisnis itu, setelah itu sang penanya (belakangan saya kenal nama beliau Pak Isro) berdiri dan memproklamirkan taubat beliau dari bisnis itu, dan memberitahu ke jamaah tentang level beliau yg sudah sangat tinggi di MLM itu, dan beliau dengan segala kesadaran mengakui apa yang dikatakan oleh ustadz Aun, setelah itu ustadz Aun mengucap tahmid dan mendoakan penanya agar diampuni dosanya, Istiqomah di atas yang halal, dan digantikan dengan yang lebih baik. Alhamdulillah sampai saat ini penanya insyaAllah masih dalam kondisi Istiqomah, dan biasa menjadi muazzin pada shalat Jum'at dan lima waktu.
Kemudian ustadz diajak seorang ustadz lokal Rahimahullah asal Lamongan (yg sebenarnya junior beliau di pesantren karang asem, adapun kakak beliau semasa dengan ustadz Aun) untuk mengunjungi pesantren beliau di Alabio HSU, saat sampai di mihrab masjid, ustadz Aun mengomentari luasnya mihrab yang ada, kata beliau : masyaAllah luas sekali, ini masih bisa dibikin ruangan lagi, kl seperti ini namanya isrof, kita tidak ingin ada isrof dalam hidup kita. Ustadz itu pun mengangguk dan membenarkan apa yang dikatakan ustadz Aun.
Terakhir, kesan saya yang paling mendalam adalah tatkala saya bertanya kepada beliau tentang bagaimana ceritanya ustadz menjadikan ustadz Yusuf Abu Ubaidah itu seperti anak sendiri dan mendidik beliau sejak kecil, akhirnya beliau cerita awal pertemuan beliau dan motivasi di balik itu yaitu karena ingin menyelamatkan anak ini dari kemusyrikan, karena sang kakek(ayah dari ibunya) adalah seorang dukun di kampung Sidayu. Allahu Akbar. Betapa luasnya hati beliau untuk menyelamatkan satu jiwa dari kemusyrikan.
Sebenarnya saya masih ada beberapa kesan lagi bersama beliau selama di jawa, seperti saat berkunjung ke rumah beliau dan saat daurah di batu dan tempat2 sebelumnya. Tapi cukuplah yang saya ceritakan yang di KALSEL saja.
Ustadz Ayman abdillah
https://www.facebook.com/share/1PvpamkP1g/