Rabu, 13 Mei 2026

"(Penjelasan Risalah Tauhid 29) | Oleh Syekh Saleh bin Humaid | Rabu 15-09-1447".

"(Penjelasan Risalah Tauhid 29) | Oleh Syekh Saleh bin Humaid | Rabu 15-09-1447"

Pendahuluan: Pembagian Tauhid

​Syekh Saleh bin Humaid menjelaskan bahwa tauhid terbagi menjadi tiga bagian utama [02:00]:

  1. Tauhid Rububiyah: Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya, seperti menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur alam semesta [06:03].
  2. Tauhid Uluhiyah: Mengesakan Allah dalam perbuatan hamba, yaitu semua ibadah kita (doa, rasa takut, harapan, sembelihan) hanya ditujukan kepada Allah semata [07:46].
  3. Tauhid Asma' wa Shifat: Mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya [10:36].

Definisi Tauhid Asma' wa Shifat

​Beliau menjelaskan bahwa tauhid ini adalah keyakinan bahwa Allah Esa dalam kesempurnaan mutlak dari segala sisi, baik dalam keagungan maupun kemuliaan [11:24]. Ini dilakukan dengan:

  • ​Menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dalam Al-Qur'an.
  • ​Menetapkan apa yang ditetapkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadis.
  • Tanpa melakukan tahrif (penyimpangan makna), ta'thil (penolakan), takyif (menanyakan "bagaimana" hakikatnya), atau tamtsil (menyerupakan dengan makhluk) [00:40].

Kaidah Penting: Menghindari Penyerupaan

​Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah bahwa penyimpangan dalam memahami sifat Allah sering kali muncul karena manusia menggunakan logika atau analogi berdasarkan apa yang mereka lihat pada makhluk [23:06].

  • ​Syekh menegaskan: "Jangan mengukur sifat Allah dengan apa yang biasa kita lihat pada manusia" [24:05].
  • ​Contohnya, ketika Allah menyebutkan memiliki "Tangan" atau "Turun ke langit dunia", kita menetapkan hakikatnya sesuai keagungan Allah tanpa membayangkan organ tubuh atau gerakan seperti manusia [24:30].
  • ​Kita menetapkan maknanya secara hakiki tetapi menyerahkan "bagaimana" (kaifiyah) bentuknya kepada Allah [26:35].

Landasan Utama

​Landasan utama dalam bab ini adalah firman Allah dalam Surah Asy-Syura ayat 11:

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [30:48]


​Ayat ini mengandung dua hal: peniadaan keserupaan dengan makhluk dan penetapan bahwa Allah memiliki sifat-sifat sempurna (Mendengar dan Melihat) [31:05].

Kesimpulan

​Beliau menutup dengan menyatakan bahwa pembahasan ini sangat penting bagi penuntut ilmu untuk menjaga kemurnian akidah, agar tidak terjatuh dalam kesalahan memahami sifat-sifat Allah yang Maha Agung [32:48].

​Video lengkapnya dapat Anda tonton di sini: https://youtu.be/hn9s9MGRrjc