Mauqif Syaikh Rabî' dalam tabdî' tidak seserampangan imâm jarh wa ta'dîl lokalan.
Simak gambar itu adalah gambar salah satu halaman dari kitâb Al-Lubâb, Nashâihus Syaikh Rabî' Lis Syabâb hal 229, dan terjemahannya:
Pertanyaan:
"Apakah setiap orang yang terjatuh ke dalam bid'ah dianggap mubtadi' ?."
Jawab:
"Tidak setiap orang yang terjatuh ke dalam bid'ah menjadi mubtadi', karena terkadang ia berijtihâd mencari Al-Haq, ia mengerahkan segala kemampuannya, kemudian ia terjatuh ke dalam bid'ah, di mana ia tidak tahu karena salah satu sebab dari bermacam sebab, immâ karena hadîts dha'îf yang ia kira shahîh, immâ ia memahami dari nash dengan pemahaman yang salah yang ia kira benar, dan yang serupa itu, dan banyak ulamâ' dari kalangan salaf dan khalaf terjatuh dalam ini, maka tidak boleh tergesa-gesa mentabdî'.
Dan sesungguhnya hanyalah jika bid'ah wâdhihah jaliyyah dan para ulamâ' benar-benar telah mentahdzîr darinya seperti ucapan Al-Qurân itu makhlûq, atau menginkari melihat Allâh pada hari kiamat, atau ucapan ta'thîl (meniadakan) sifat-sifat Allâh 'azza wa jalla, dan apa saja yang serupa itu dari perkara jaliyyah wâdhihah, maka ia mubtadi'.
Jika ia mencela sahabat maka orang ini dikatakan Râfidhiy, jika ia mengajak kepada selain Allâh, beristighâtsah kepada selain Allâh, menyembelih untuk selain Allâh dikatakan mubtadi', bid'ah, syirk, tetapi ia tidak dikafirkan sampai ditegakkan hujjah kepadanya, dan jangan pula tergesa-gesa mentabdî', sebab orang yang terjatuh ke dalam bid'ah terkadang ia orang yang ikhlâsh karena Allâh menginginkan Al-Haq, lalu ia berbuat kesalahan, maka orang ini diingatkan kepada Al-Haq, dan jika ia termasuk orang yang menginginkan Al-Haq, maka kelak ia akan rujû', dan jika ia benar-benar telah mati, dan ia terjatuh dalam sesuatu dari kebid'ahan ini, maka ia dimintakan ampunan Allâh untuknya, dan tidak diyakini padanya bahwasanya ia mubtadi'."
[Kitâb Al-Lubâb hal 229]
Kekeliruan, kritik, dan saran terkait terjemahan sampaikan pada penerjemah
FB Penerjemah: Dihyah Abdussalam
IG Penerjemah: @mencari_jalan_hidayah
Komentar kami dari fâidah yang sudah kita dapatkan:
Sangat beda kalau kita ngambil langsung penjelasan para aimmah dengan penjelasan lokalan.
Kalau syaikh Rabî' ada sikap rahmat, tidak setiap orang jatuh dalam bid'ah dibid'ahkan, karena bisa jadi karena ada sebab-sebab yang diberi udzur, adapun imâm jarh wa ta'dîl lokalan bermudah-mudah sekali dalam bâb ini, tidaklah ketergesa-gesaan ini muncul melainkan karena kurang ilmu dan ada sikap tashaddur (ingin tampil jadi imâm rujukan).