Syaikh Dr. Sulaiman Ar-Ruhayli menjelaskan konsep at-taghaful (sikap pura-pura tidak tahu atau mengabaikan kesalahan kecil) dalam kehidupan berumah tangga.
Berikut adalah terjemahan poin-poin penting dari penjelasan beliau:
1. Definisi dan Batasan At-Taghaful
-
Tiada Batasan dalam Kebaikan: Seseorang yang menanyakan "apa batasan dalam mengabaikan kesalahan istri" sebenarnya belum benar-benar ingin mempraktikkan sikap tersebut. At-Taghaful seharusnya tidak memiliki batasan dalam kehidupan sehari-hari, kecuali dalam tiga hal:
- Kemungkaran: Jika terjadi pelanggaran syariat.
- Meninggalkan Kewajiban: Jika kewajiban agama atau rumah tangga diabaikan.
- Hal yang Membahayakan: Jika perbuatan tersebut membahayakan diri atau keluarga.
2. Esensi Kehidupan
- Para pendahulu (Salaf) mengatakan bahwa sembilan persepuluh (90%) akhlak yang baik ada pada sikap at-taghaful.
- Jika seseorang tidak menerapkan sikap ini dalam berinteraksi dengan orang lain (terutama pasangan), maka hidupnya akan terasa sempit, menderita, dan ia pun akan menyengsarakan orang lain.
3. Strategi dalam Menegur (Kisah Garam)
Syaikh menceritakan sebuah kisah tentang seorang suami yang istrinya sering lupa memasukkan garam ke dalam masakan.
- Sikap Suami: Ia tidak langsung memarahi istrinya di depan meja makan. Ia memilih untuk bersabar dan "pura-pura tidak tahu" saat itu agar tidak merusak suasana.
- Cara Menegur yang Cerdas: Suatu ketika, sang suami bercerita kepada istrinya tentang "seorang teman" yang mengeluh karena istrinya tidak pernah menaruh garam di makanan. Si suami kemudian berkata (seolah menasihati temannya), "Semoga Allah membantumu dan memberimu istri yang baik, yang mengerti apa yang kamu sukai."
- Hasilnya: Sang istri langsung paham pesan tersirat tersebut tanpa merasa dipojokkan, dan kemudian memperbaiki masakannya.
- https://www.facebook.com/share/v/1CPWfcDZjR/