Kita perlu menyoroti "kue pasar" yang masih sangat besar di sektor pembiayaan. Antum bayangkan saja, pengguna kartu kredit tradisional di Indonesia saat ini hanya sekitar 7 juta orang. Angka ini sangat kecil (kerdil) jika dibandingkan dengan pengguna kartu debit yang mencapai 150 juta nasabah, atau pengguna Paylater yang belakangan meledak.
Melihat celah ini, penyedia Kartu Kredit Non-Bank masuk dengan gagah berani. Mereka menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh bank tradisional: kecepatan, kemudahan berbasis aplikasi, tanpa syarat slip gaji yang ribet, dan integrasi langsung dengan QRIS. Anda tinggal scan, dan sistem akan meminjamkan uang saat itu juga.
Namun, kita harus membunyikan alarm keras. Kemudahan ini bagaikan pedang bermata dua. Tantangan terbesarnya adalah NPL (Non-Performing Loan) alias kredit macet. Ketika proses persetujuan dibuat terlalu mudah dan menargetkan masyarakat yang belum punya rekam jejak keuangan yang kuat (underbanked), risiko gagal bayarnya sangat tinggi. Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) mengingatkan agar pemain non-bank ini tidak mengulangi kesalahan industri Buy Now Pay Later (BNPL) yang berekspansi terlalu agresif namun akhirnya "berdarah-darah" menghadapi tumpukan kredit macet.
Jika kita membedah fenomena ini dari kacamata syariat, inovasi kartu kredit non-bank ini sesungguhnya memperhalus jalan menuju jebakan utang (dayn) dan riba. Dalam Islam, utang adalah perkara darurat yang sangat berat pertanggungjawabannya, bukan instrumen gaya hidup atau pembiayaan konsumtif sehari-hari.
Integrasi utang dengan QRIS membuat transaksi terasa sangat seamless (mulus) dan "tidak terasa seperti berutang". Seseorang bisa makan di kafe atau belanja e-commerce, lalu tinggal scan, tanpa menyadari bahwa ia baru saja mengikatkan diri pada skema bunga yang diharamkan. Fenomena ledakan NPL yang dikhawatirkan oleh para ekonom dalam berita ini, pada hakikatnya adalah konsekuensi logis dari sistem ekonomi yang memfasilitasi transaksi ribawi secara serampangan. Kemudahan underwriting yang disorot hanyalah pintu masuk bagi masyarakat untuk menggadaikan ketenangan masa depan mereka demi kepuasan instan.
https://www.facebook.com/share/16j2U4U81s/