Minggu, 17 Mei 2026

“mengikuti pemahaman salaf” dipahami hanya sebagai slogan identitas atau label kelompok. Padahal secara metodologis, konsep fahm as-salaf jauh lebih luas dan lebih ilmiah daripada sekadar klaim “kembali kepada salaf”.

Kadang istilah “mengikuti pemahaman salaf” dipahami hanya sebagai slogan identitas atau label kelompok. Padahal secara metodologis, konsep fahm as-salaf jauh lebih luas dan lebih ilmiah daripada sekadar klaim “kembali kepada salaf”. Dalam tradisi keilmuan Islam, salaf yang dimaksud adalah generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, yaitu generasi yang dipuji oleh Nabi ﷺ. Namun yang lebih penting bukan hanya siapa mereka, melainkan bagaimana metode mereka dalam memahami agama.
Metode salaf tidak hanya berbicara tentang “mengambil hadis”, tetapi juga bagaimana menetapkan suatu riwayat sebagai benar dan bagaimana memahami maknanya. Karena itu para ulama menjelaskan bahwa manhaj salaf mencakup dua sisi besar: kaidah penetapan dalil dan kaidah istinbath hukum. Kaidah penetapan dalil berkaitan dengan ilmu sanad, kritik hadis, dan validasi riwayat. Agama tidak dibangun di atas mimpi, ilham, pengalaman spiritual pribadi, atau perasaan semata, tetapi di atas riwayat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di sinilah pentingnya ilmu hadis dan sanad dalam tradisi Islam.
Di sisi lain, setelah dalil dinyatakan sahih, muncul tahap berikutnya: bagaimana memahaminya. Inilah wilayah istinbath yang dibahas dalam ushul fikih. Para ulama salaf dan penerusnya membangun perangkat metodologis seperti pembahasan umum-khusus, mutlak-muqayyad, nasikh-mansukh, qiyas, dan berbagai kaidah bahasa Arab untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah secara tepat. Maka seseorang tidak cukup hanya mengatakan “dalilnya sahih”, tetapi juga harus memahami bagaimana para ulama memahami dalil tersebut.
Hal penting lain yang sering dilupakan adalah bahwa para salaf sendiri tidak selalu sepakat dalam seluruh persoalan cabang. Ada masalah yang memang telah menjadi ijma’, tetapi ada pula masalah yang sejak dahulu diperselisihkan oleh para sahabat dan tabi’in. Karena itu, tidak semua perbedaan otomatis dianggap sesat atau bid’ah. Dalam tradisi ilmiah Islam dikenal adanya khilaf mu’tabar, yaitu perbedaan yang lahir dari metodologi ilmiah yang sah dan memiliki dasar argumentasi yang kuat. Sikap ini melahirkan keluasan dalam fikih Islam dan menghindarkan umat dari fanatisme sempit.
Para imam besar seperti Imam Ahmad juga menunjukkan keluasan metodologis ini. Beliau sering menyebut banyak pendapat dalam satu masalah karena menghargai atsar sahabat dan tabi’in yang sampai kepadanya. Ini menunjukkan bahwa tradisi salaf bukan tradisi penyederhanaan hitam-putih, tetapi tradisi ilmu yang kaya, teliti, dan penuh kehati-hatian. Bahkan dua ulama yang sama-sama ikhlas, sama-sama berpegang pada hadis, dan sama-sama mengikuti metode salaf tetap bisa berbeda kesimpulan dalam sebagian masalah ijtihad.
Karena itu, memahami manhaj salaf seharusnya melahirkan sikap ilmiah dan rendah hati, bukan merasa paling benar atau paling mewakili Islam. Generasi salaf adalah generasi yang dipuji Nabi ﷺ, sehingga generasi setelah mereka hanya bisa berusaha mendekati metode mereka, bukan mengklaim setara dengan mereka. Dari sini lahir adab penting dalam tradisi keilmuan Islam: menghormati ulama, memahami sebab perbedaan pendapat, tidak mudah menyesatkan pihak lain, dan tetap menjadikan Al-Qur’an, Sunnah, serta metodologi ilmiah para generasi awal sebagai rujukan utama.

Disarikan dari fatwa Syaikh Masyhur Hasan Salman, link pada komentar
Ustadz noor akhmad setiawan
https://meshhoor.com/fatwa/f1372/?fbclid=IwdGRjcAR3OtxjbGNrBHc6ymV4dG4DYWVtAjExAHNydGMGYXBwX2lkDDM1MDY4NTUzMTcyOAABHjFaUQTlJpyKUjXRSEWrc6uiA4ue001QMbxAlcppZaIhL3dvFJYSXTlHVROt_aem_o7nn9LyqsJKRVE9_nZCZHg