Rabu, 15 April 2026

Larangan duduk bersama dan bergaul dengan orang-orang yang menganut paham bid'ah (dalam agama).

 

## **Bab: Larangan Duduk Bersama Pelaku Bid'ah dan Bergaul dengan Mereka**
**Allah Ta'ala berfirman:**
> "Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur'an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka." (QS. An-Nisa: 140)
**Allah Ta'ala juga berfirman:**
> "Dan apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikanmu lupa, maka janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim itu setelah teringat (akan larangan itu)." (QS. Al-An'am: 68)
**Dari Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:**
> "Barangsiapa mendengar (kedatangan) Dajjal, maka hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, sesungguhnya ada seseorang yang mendatanginya dan ia mengira bahwa dirinya adalah seorang mukmin, lalu ia malah mengikutinya karena syubhat (keragu-raguan/kesesatan) yang ia (Dajjal) tebarkan." (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
**Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:**
> "Seseorang itu tergantung pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang ia jadikan teman." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
**Abu Qilabah berkata:**
> "Janganlah kalian duduk bersama pengikut hawa nafsu (ahli bid'ah), dan janganlah mendebat mereka. Karena sesungguhnya aku tidak merasa aman jika mereka akan menenggelamkan kalian dalam kesesatan mereka, atau mencampuradukkan apa yang telah kalian ketahui (dari kebenaran)."
**Hisyam berkata bahwa Al-Hasan (Al-Bashri) dan Muhammad (bin Sirin) keduanya berkata:**
> "Janganlah kalian duduk bersama pengikut hawa nafsu, jangan mendebat mereka, dan jangan pula mendengarkan (ucapan) dari mereka."
**Mufadhdhal bin Muhalhal berkata:**
> "Seandainya pelaku bid'ah itu ketika engkau duduk bersamanya langsung menceritakan bid'ahnya kepadamu, niscaya engkau akan waspada dan lari darinya. Namun, pada awal majelis ia menceritakan kepadamu hadis-hadis As-Sunnah, kemudian ia memasukkan bid'ahnya kepadamu. Barangkali hal itu akan menempel di hatimu, lalu kapankah ia bisa keluar dari hatimu?"
**Tsabit bin Al-Ajlan berkata:**
> "Aku menjumpai Anas bin Malik, Ibnu Al-Musayyib, Al-Hasan Al-Bashri, Sa'id bin Jubair, Asy-Sya'bi, Ibrahim An-Nakha'i, Atha bin Abi Rabah, Thawus, Mujahid, Abdullah bin Abi Mulaikah, Az-Zuhri, Makhul, Al-Qasim Abu Abdurrahman, Atha Al-Khurasani, Tsabit Al-Bunani, Al-Hakam bin Utbah, Ayyub As-Sakhtiyani, Hammad, dan Muhammad bin Sirin... (semuanya memperingatkan dari ahli bid'ah)."


dan Abu Amir—ia telah menjumpai Abu Bakar Ash-Shiddiq—, Yazid Ar-Raqasyi, dan Sulaiman bin Musa; semuanya memerintahkanku untuk tetap bersama jamaah (kaum muslimin) dan melarangku dari pengikut hawa nafsu (ahli bid'ah)." (1)
Dan dari Sufyan Ats-Tsauri, beliau berkata: "Barangsiapa yang duduk (bergaul) dengan pelaku bid'ah, maka ia tidak akan selamat dari salah satu dari tiga hal:
Menjadi fitnah (ujian/kesesatan) bagi orang lain.
Sesuatu (keraguan) jatuh ke dalam hatinya, lalu ia tergelincir karenanya dan Allah memasukkannya ke dalam neraka.
Ia berkata: 'Demi Allah, aku tidak peduli dengan apa yang mereka ucapkan, karena aku percaya pada diriku sendiri.' Padahal barangsiapa yang merasa aman atas agamanya meskipun sekejap mata, maka Allah akan mencabut (iman) darinya." (2)
Poin-Poin Pelajaran (Fiqh Masail):
Pertama: Larangan duduk bersama ahli bid'ah serta menjadikan mereka sebagai teman dan sahabat karib.
Kedua: Orang yang duduk bersama ahli bid'ah dan menemani mereka akan dianggap termasuk bagian dari mereka.
Ketiga: Semangat para Salaf (generasi terdahulu) untuk menjauhi pelaku bid'ah demi menjauhkan diri dari keburukan dan sebab-sebabnya, serta karena takut tertimpa kemurkaan dan kebencian Allah.
Keempat: Pelaku bid'ah adalah seburuk-buruk teman duduk, karena besarnya bahaya dan buruknya dampak yang ditimbulkan.
Kelima: Duduk bersama ahli bid'ah dapat memperindah bid'ah di mata manusia dan mengajak mereka kepadanya.
Keenam: Pelaku bid'ah terkadang menipu manusia dengan menyebutkan sedikit perkara dari Sunnah.
Catatan Kaki:
(1) Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Musnad ash-Syamiyyin (3/279), dan al-Lalika’i (1/132).
(2) Diriwayatkan oleh Ibnu Waddhah dalam Al-Bida’, hal. 89.