Selasa, 07 April 2026

Malik bin Dinar

Berkata Malik bin Dinar," Aku memulai hidupku sebagai orang yang tersesat, pemabuk, dan suka bermaksiat. Aku menzalimi orang lain, memakan hak orang, memakan riba, menyakiti orang, dan melakukan berbagai kezaliman. Tidak ada maksiat kecuali aku pernah melakukannya. Aku sangat durhaka sampai orang-orang menjauhiku karena kemaksiatanku.

Suatu hari aku ingin menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Maka aku menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan yang aku beri nama Fatimah. Aku sangat mencintainya. Setiap kali Fatimah bertambah besar, iman di hatiku ikut bertambah dan maksiatku mulai berkurang.
Terkadang ketika Fatimah melihatku memegang gelas khamr, ia mendekat lalu menyingkirkannya, padahal usianya belum genap dua tahun. Seolah-olah Allah menjadikannya melakukan itu.
Semakin besar Fatimah, semakin bertambah imanku dan semakin aku mendekat kepada Allah, semakin aku menjauh dari maksiat. Hingga ketika Fatimah berusia 3 tahun, ia meninggal dunia. Aku pun kembali menjadi lebih buruk dari sebelumnya, karena aku tidak memiliki kesabaran seperti orang beriman dalam menghadapi musibah. Aku kembali kepada maksiat dan setan mempermainkanku.

Suatu hari setan membisikkan,
“Hari ini kamu harus mabuk seberat-beratnya, seperti belum pernah kamu mabuk sebelumnya.”
Maka aku minum khamr sepanjang malam sampai tertidur. Lalu aku bermimpi melihat hari kiamat: matahari menjadi gelap, lautan menjadi api, bumi berguncang, dan manusia dikumpulkan berkelompok-kelompok. Aku berada di antara mereka dan mendengar panggilan, “Wahai fulan bin fulan, kemarilah untuk dihisab di hadapan Allah Yang Maha Perkasa.”

Aku melihat orang-orang yang dipanggil wajahnya menjadi hitam karena ketakutan. Lalu aku mendengar namaku dipanggil. Semua manusia menghilang seakan aku sendirian di padang mahsyar. Tiba-tiba aku melihat seekor ular yang sangat besar dan ganas mengejarku dengan mulut terbuka.
Aku lari ketakutan lalu bertemu seorang lelaki tua yang sangat lemah.
Aku berkata: “Tolong selamatkan aku dari ular ini!”
Ia berkata, “Aku lemah, aku tidak mampu. Tapi larilah ke arah sana, semoga kamu selamat.”
Aku berlari ke arah yang ditunjukkan, tetapi aku melihat api neraka di depanku. Aku kembali berlari karena ular hampir menangkapku. Aku kembali kepada lelaki tua itu dan memohon pertolongan. Ia menangis karena kasihan kepadaku dan berkata,"Aku lemah, aku tidak bisa menolongmu. Tapi larilah ke arah gunung itu, semoga kamu selamat.”

Aku berlari ke arah gunung dan ular hampir menangkapku. Di atas gunung aku melihat anak-anak kecil. Mereka semua berteriak," Wahai Fatimah! Tolong ayahmu! Tolong ayahmu!” Aku pun tahu bahwa itu adalah putriku. Ia datang, memegang tangan kananku dan mengusir ular itu dengan tangan kirinya. Aku hampir mati karena ketakutan. Lalu ia duduk di pangkuanku seperti ketika di dunia dan membaca ayat
ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع 
قلوبهم لذكر الله؟؟

Blm datangkah waktunya bagi orang-orang beriman untuk khusyuk mengingat Allah?” 
(QS. Al-Hadid: 16)

Aku bertanya," Wahai anakku, apa ular itu?”
Ia menjawab, “Itu adalah amal burukmu. Kamu yang membesarkannya hingga hampir memakanmu. Tidakkah engkau tahu bahwa amal di dunia akan datang dalam bentuk nyata pada hari kiamat?”
Aku bertanya, “Lalu siapa lelaki tua yang lemah itu?”
Ia menjawab, “Itu adalah amal baikmu. Kamu melemahkannya sehingga ia tidak mampu menolongmu. Kalau bukan karena engkau memiliki aku dan aku meninggal saat kecil, maka tidak ada yang bisa menolongmu.”
Aku pun terbangun sambil berteriak:
“Sudah waktunya wahai Tuhanku… sudah waktunya wahai Tuhanku…”
Aku mandi lalu pergi shalat Subuh untuk bertaubat kepada Allah. Ketika masuk masjid, imam sedang membaca ayat yang sama," Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk khusyuk mengingat Allah?”

Itulah Malik bin Dinar, seorang ulama besar dari kalangan tabi’in. Diriwayatkan Ia sering berdiri di pintu masjid dan menyeru, “Wahai hamba yang bermaksiat, kembalilah kepada Tuhanmu.
Wahai hamba yang lalai, kembalilah kepada Tuhanmu.
Wahai hamba yang lari dari Tuhan, kembalilah kepada Tuhanmu.
Tuhanmu memanggilmu siang dan malam…”

#Copas
ash