Beberapa waktu lalu
saya bertanya kepada gurunda Pak Kiai Nidlol Masyhud yg dikenal kepakaran tentang Asyariyah, Ibnu Taimiyah dan aliran² pemikiran di dunia Islam.
Saya bertanya sederhana
“Pembagian tauhid tiga itu dari Ibnu Taimiyah, ya?”
Beliau tersenyum
“Justru Ibn Taymiyah membaginya dua
Rububiyah dan ibadah”
Saya terdiam
“Lalu yang tiga itu istiqra ( konstruksi bacaan ulama) ?”.
Karena alasan istiqra itu kita repot menangkis tuduhan bahwa pembagian tauhid selama ini ijtihadi ibnu Taimiyah yg diteruskan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahab.
Namun beliau meluruskan dengan tenang
“Bukan istiqra
Tapi ini dalil naqli punya dasar nash ”
Lalu beliau membaca firman Allah
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
(QS. Maryam: 65)
Di ayat ini ada isyarat
Tauhid Rububiyah
“Rabb langit dan bumi”
Tauhid Uluhiyah
“Maka sembahlah Dia”
Dan tauhid asma wasifat ada keunikan nama dan sifat-Nya
“Apakah engkau mengetahui ada yang sebanding dengan-Nya?”
Dari sini
pembagian tauhid tidak sekadar ijtihadi
Tapi terbaca dari nash teks Al-Qur’an.
Saya lanjut bertanya
“Kalau di toko sebelah ( maksudnya Asyariyah)
Mereka tidak membagi tauhid?”
Beliau tersenyum lagi
“Justru mereka juga membagi tiga
Bahkan sampai empat”
Saya kaget
“Empat?”
“Iya
Dzat-Nya
Sifat-Nya
Perbuatan-Nya"
Oleh ulamanya tiga tauhid itu terlihat kurang karena hanya menyentuh tauhid Rububiyah. Sedangkan esensi dari tauhid untuk mengesakan ibadah hanya untuk Allah tidak ada, sehingga mereka tambahkan dengan tauhid ke empat tauhid ibadah”
Saya pun tersenyum
Ternyata
perbedaannya bukan pada dibagi atau tidak
Tapi pada cara menjelaskan
Yang satu menegaskan ibadah sejak awal
Yang lain sampai kepadanya di akhir
Dan keduanya Sunni ( ahli Hadits dan Asyariyah )
sedang berusaha menjaga tauhid
Kadang justru mempertemukan
Jika kita mau melihat lebih jernih
Wallahu a’lam