Salah satu kedustaan yang selalu diulang-ulang adalah bahwa salafi melarang kritik pemerintah. Yang ngomong begitu padahal berada di sirkel salafi juga -atau setidaknya pernah di dalamnya- yang tahu bahwa yang jadi masalah sebetulnya bukan kritik-nya tapi cara-nya mengkritik.
Cek saja di fatwa-fatwa para ulama seperti fatwa Syaikh Bin Baz, Utsaimin dll dan juga ceramah para asatidzah salafi, bahwa yang ditekankan adalah metode nasehatnya, yaitu diam-diam. Jikapun harus terang-terangan, maka dengan cara yang santun.
Sedangkan menyebarkan aib pemerintah di mimbar2 dan tempat umum bukanlah manhaj salaf. Clear as crystal.
Disebut bukan manhaj salaf juga tidak berarti auto khawarij sebagaimana anggapan orang-orang yang paranoid. Tapi yang jelas, memang di antara jenis khawarij ada yang disebut Al Qa'diyah, yang mana dia tidak terlibat dalam pemberontakan tapi menghasut dan memprovokasi orang untuk itu.
Tindakan senang menyebarkan aib pemerintah dan menebarkan kebencian ini akan membawa kepada pemberontakan, baik dia berniat untuk itu ataukah tidak. Dalam hal kerusakan yang ditimbulkan, syariat tidak mensyaratkan adanya niat jahat untuk suatu hal supaya menjadi terlarang.
Kembali ke masalah kritik. Kalau memang ilmiah dan santun, kenapa harus dilarang? Lha wong itu termasuk bagian dari "agama adalah nasehat" yang salah satunya untuk pemimpin. Tapi sebagaimana yang sering saya ulang, nasehat itu artinya tulus menginginkan kebaikan untuk yang dinasehati. Jika Anda saja bisa merasakan ketulusan orang yang menasehati Anda, dengan melihat cara dia mengkritik, maka begitu pula orang lain bisa menilai: Anda ini serius menasehati pemerintah atau lagi marah-marah dan ngejek? Kelihatan dan terasa.
So, lain kali kalau bikin narasi yang lebih sesuai dan jangan mengada-ada. Jangan sampai argumenmu hanya akan kuat kalau dilebih-lebihkan atau bahkan dibuat-buat.