Tanggapan simpelnya, kalau sudah belajar saja masih bersikap demikian, apalagi kalau tidak belajar. Itu mungkin mirip dengan pernyataan semisal: "sudah belajar tapi target nilai ujian belum tercapai" maka apalagi kalau tidak belajar. Hehe.
😀
Tapi, kenapa bisa terjadi demikian? Saya percaya faktor utama penyebabnya adalah mindset (framework). Ilustrasinya, aneka ragam pandangan ulama berikut argumentasinya itu seperti pemandangan yang berwarna-warni. Sedangkan mindset adalah kacamata. Kalau kacamatanya jernih, maka aneka warna itu tampak dengan jelas. Tapi kalau kacamatanya buram, atau katakanlah berwarna biru, maka yang tampak hanyalah warna biru saja, tidak terlihat warna lainnya. Demikianlah terjadi filterisasi informasi.
☆☆☆
Saya ingin ceritakan kembali di sini: seorang kawan lama saya (dari Persis) pernah bilang kalau ia dulunya ia sangat keras terhadap bid'ah: tidak ada bid'ah yang bisa ditolerir dengan alasan khilafiah. Pokoknya semuanya sesat. Titik. Namun setelah beliau belajar kitab Bidayatul Mujtahid yang memuat aneka ragam pendapat ulama berikut argumentasinya, sikapnya berubah menjadi lebih toleran, dari narrow-minded ke arah broad-minded.
Apakah di antara rekan-rekan di sini ada yang punya pengalaman mirip seperti itu?
—adniku 260406