Minggu, 19 April 2026

semoga Allah merahmati mereka semua.Mereka menyifati Allah sesuai dengan apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri melalui perbuatan, ucapan, zuhud, dan ketakwaan. Mereka tidak menyibukkan diri dengan ilmu kalam (dialektika teologis) maupun perdebatan.


"... Takwil. Ketahuilah bahwa para Imam yang empat dan para pendahulu mereka dari kalangan Ahlussunnah, serta mayoritas tokoh sufi yang karamahnya tampak nyata di tengah manusia—seperti **Malik bin Dinar**, **Ibrahim bin Adham**, **Fudhail bin Iyadh**, **Dzun Nun al-Mishri**, **Sari al-Saqathi**, **Ma'ruf al-Karkhi**, **Sahl bin Abdullah al-Tustari**, dan tokoh-tokoh besar lainnya seperti **Junaid al-Baghdadi** dan **Abu Bakar al-Syibli**—semoga Allah merahmati mereka semua.
Mereka menyifati Allah sesuai dengan apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri melalui perbuatan, ucapan, zuhud, dan ketakwaan. Mereka tidak menyibukkan diri dengan ilmu kalam (dialektika teologis) maupun perdebatan. Mayoritas umat ini berada di atas jalan tersebut hingga munculnya kelompok **Mu'tazilah**.
Kemudian setelah mereka muncul **al-Asy'ari**, yang membawa mazhab yang menyelisihi jalan yang ditempuh al-Asy'ari sebelumnya (saat ia masih Mu'tazilah). Ia lahir sekitar 300 tahun setelah wafatnya **Imam al-Syafi'i**. Maka bagaimana mungkin pengikut mazhab Syafi'i mengikuti apa yang dibawa oleh al-Asy'ari, padahal ia baru muncul tiga ratus sekian tahun setelah masa Imam al-Syafi'i?
Bagaimana bisa diterima hal-hal yang dibawa oleh al-Asy'ari dan yang serupa dengannya, yang mengandung keburukan dan kebodohan? Karena ia menjadikan firman Allah: *'Dialah Allah yang Maha Mencipta, yang Mengadakan, yang Membentuk Rupa'* sebagai sebuah kedustaan dan sihir. Hal ini tampak jelas kelemahannya karena ia menjadikan Kalamullah itu tidak ada (maknanya secara harfiah)..."