"... Takwil. Ketahuilah bahwa para Imam yang empat dan para pendahulu mereka dari kalangan Ahlussunnah, serta mayoritas tokoh sufi yang karamahnya tampak nyata di tengah manusia—seperti **Malik bin Dinar**, **Ibrahim bin Adham**, **Fudhail bin Iyadh**, **Dzun Nun al-Mishri**, **Sari al-Saqathi**, **Ma'ruf al-Karkhi**, **Sahl bin Abdullah al-Tustari**, dan tokoh-tokoh besar lainnya seperti **Junaid al-Baghdadi** dan **Abu Bakar al-Syibli**—semoga Allah merahmati mereka semua.
Mereka menyifati Allah sesuai dengan apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri melalui perbuatan, ucapan, zuhud, dan ketakwaan. Mereka tidak menyibukkan diri dengan ilmu kalam (dialektika teologis) maupun perdebatan. Mayoritas umat ini berada di atas jalan tersebut hingga munculnya kelompok **Mu'tazilah**.
Kemudian setelah mereka muncul **al-Asy'ari**, yang membawa mazhab yang menyelisihi jalan yang ditempuh al-Asy'ari sebelumnya (saat ia masih Mu'tazilah). Ia lahir sekitar 300 tahun setelah wafatnya **Imam al-Syafi'i**. Maka bagaimana mungkin pengikut mazhab Syafi'i mengikuti apa yang dibawa oleh al-Asy'ari, padahal ia baru muncul tiga ratus sekian tahun setelah masa Imam al-Syafi'i?
Bagaimana bisa diterima hal-hal yang dibawa oleh al-Asy'ari dan yang serupa dengannya, yang mengandung keburukan dan kebodohan? Karena ia menjadikan firman Allah: *'Dialah Allah yang Maha Mencipta, yang Mengadakan, yang Membentuk Rupa'* sebagai sebuah kedustaan dan sihir. Hal ini tampak jelas kelemahannya karena ia menjadikan Kalamullah itu tidak ada (maknanya secara harfiah)..."