Tadi malam kita ada kumpul bersama temen-temen dari Riau (Mahasiswa UIM, Taibah & Kuliah Nabawi)
Alhamdulillah cukup banyak yang hadir, dari berbagai jenjang pendidikan, dari mulai S1 hingga Doktoral.
Di sesi Nasihat, disampaikan oleh guru kita bersama Ustadz Dr. Ariful Bahri, MA Hafidzahullah Ta’ala
Singkat aja yang beliau sampaikan, tentang Kisah yang sangat luar biasa.
“Mubarok” seorang budak dari Turki, dia dipekerjakan sebagai penjaga kebun “Delima” oleh seorang yang sangat kaya raya di Khurosan sana.
Suatu ketika tuannya mengunjungi kebunnya, ia ingin mencicipi buah miliknya, dipetiklah buah itu oleh “Mubarok”, namun rasanya asem sehingga tuannya ingin dipetikkan lagi biar dapat yang manis, hingga beberapa kali tetap saja rasa yang didapat itu asem.
Tuannya bertanya : Apakah kamu tidak tau bedanya yang manis dan asem? Dia menjawab : Tidak
Bagaimana bisa? Kamu kan sudah lama menjaga kebun ini.
Ya, tugas saya kan hanya menjaga. Saya tidak pernah makan buah disini satu kali pun.
Kenapa kamu tidak pernah makan buahnya? Ya karena kamu belum mengizinkan itu.
Awalnya tuannya tidak percaya, akhirnya ia tanya sama temennya sesama petugas. Mereka memberi kesaksian bahwa memang “Mubarak” tidak pernah makan buah di kebun ini.
Hal ini membuat takjub tuannya, bagaimana mungkin ada seorang seperti dia.
Beberapa waktu berikutnya, Tuannya bertanya;
“Bagaimana pendapatmu wahai Mubarok, banyak yang melamar anakku (dari berbagai macam kalangan)? Menurutmu laki-laki yang seperti apa yang bisa saya terima untuk jadi menantuku.”
“Mubarok” menjawab :
“- Kalau Orang Jahiliyah itu ukurannya memilih pasangan adalah Kedudukan Sosial (Jabatan)
- Kalau orang Yahudi itu ukurannya harta
- Kalau orang Nasrani itu ukurannya Ketampanan
- Kalau umat Nabi Muhammad itu ukurannya Agama”
Tercengang tuannya mendengar jawaban yang berkelas dari budaknya ini.
Kalau begitu kamu saja yang menikah dengan putriku.
Singkat cerita, akhirnya Mubarok dibebaskan dari budak menjadi orang yang merdeka, lalu menikahlah ia dengan putri seorang yang kaya raya tersebut.
Lahir dari pernikahan itu seorang anaknya namanya Abdullah bin Mubarok, seorang ulama ahli hadits yang sangat terkenal sekali dari kalangan Tabiin. Beliau adalah gurunya Ma’mar bin Rasyid, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Main, Baqiyah bin Walid dan yang lainnya.
Abdullah bin Mubarok tidak tiba-tiba jadi ulama, ia lahir dari orang tua yang sangat menjaga dirinya dari perbuatan haram. Sangat berhati-hati sekali dalam memakan harta yang bukan haknya.
Pelajarannya adalah makanan yang halal membuat semangat beribadah kepada Allah dan akan melahirkan keberkahan dalam kehidupan.
Sebaliknya makanan haram akan membuat malam menuntut ilmu/ibadah, dan jauh dari keberkahan.
Jaga makanan yang masuk ke perut kita, agar kita dimudahkan dalam menuntut ilmu dan ilmu kita berkah.
Abu Yusuf Akhmad Ja’far
Madinah, 29 Syawwal 1447 H