Banyak Melihat Kemungkaran dapat Menghilangkan Cahaya Hati
Berkata Ibnu an-Nahhas rahimahullah:
“Banyak melihat kemungkaran terkadang menyebabkan seseorang meremehkan untuk melakukannya, karena hati kehilangan cahaya kemampuan membedakan dan mengingkari.
Sebab kemungkaran itu, jika sering masuk ke dalam hati dan berulang kali dilihat oleh mata, sedikit demi sedikit akan hilang kebesarannya dari hati, hingga seseorang melihatnya namun tidak lagi terlintas dalam benaknya bahwa itu adalah kemungkaran.
Hal itu terjadi karena seringnya pengulangan, sehingga hati menjadi terbiasa dengannya.”
(Tanbih al-Ghafilin karya Ibnu an-Nahhas, hal 105)
Terkait kitab “Tanbih al-Ghafilin”, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:
أما "تنبيه الغافلين" فهما كتابان: أحدهما لابن النحاس، هو كتابٌ جيدٌ مفيدٌ، والثاني لأبي اللَّيث السَّمرقندي، وهذا كتابٌ فيه أحاديث موضوعة، وأحاديث ضعيفة، لا ينبغي التَّعويل عليه، وهو كتاب أبي الليث السمرقندي، أما ما يتعلق بكتاب النَّحاس فهو كتابٌ طيبٌ، فيه وصايا وتوجيه طيب
“Adapun “Tanbih al-Ghafilin”, maka ada dua kitab dengan nama itu:
1. Salah satunya karya Ibnu an-Nahhas, dan itu adalah kitab yang bagus lagi bermanfaat.
2. Yang kedua karya Abu al-Laits as-Samarqandi, dan ini adalah kitab yang di dalamnya terdapat hadis-hadis palsu dan hadis-hadis lemah, sehingga tidak pantas dijadikan sandaran (maksudnya kitab karya Abu al-Laits as-Samarqandi)
Adapun yang berkaitan dengan kitab karya an-Nahhas, maka itu adalah kitab yang bagus, di dalamnya terdapat wasiat-wasiat dan wejangan yang bagus.”
Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/4429/%D9%85%D8%A7-%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%A7%D9%8A-%D9%81%D9%8A-%D9%83%D8%AA%D8%A7%D8%A8-%D8%AA%D9%86%D8%A8%D9%8A%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%BA%D8%A7%D9%81%D9%84%D9%8A%D9%86