Salafy itu metode beragama bukan kelompok.
Salafy itu berrarti mengikuti pemahaman dan praktek beragama generasi salaf. Sehingga yang menjadi fokus salafy adalah gagasan, diskusiya tentang gagasan atau pemikiran, bukan tentang brand tertentu baik ormas atau partai politik atau lainnya.
Namun ada tangan tangan yang sedang berusaha menggiring agar salafy di indonesia kembali menjadi kelompok, yang bisa dikendalikan dari balik "daun pisang', sebagaimana yang pernah terjadi ketika brand salafy diceburkan ke ambon, dengan brand baru "LJ" bukan RJ atau STMJ.
Hari ini, salafy sedang dipersiapkan ke arah yang sama, makanya sering dibuatkan ring, agar latihan perang perangan melawan ormas..... bukan sibuk berdiskusi tentang gagasan dan pemikiran..... makanya para oknum di balik "daun pisang" itu doyan menanyakan: apa pendapat antum tentang Muhammadiyah, PKS, atau NU, atau MUI dan sejenisnya.
Diskusi tentang ied, bergeser ke tuduhan ke ormasnya, bukan gagasannya....padahal yang berhari raya tidak bersama pemerintah itu banyak, bukan hanya MU, namun oknum oknum itu fokus ke ormasnya.
Kawan! Yuk kembali ke labtop, bahwa salafy itu metode berpikir dan mengamalkan agama, sehingga fokus membicarakan pemikiran dan amalan, bukan ormas atau partai atau lainnya.
Kok gitu? Karena ormas atau partai itu benda, sedangkan islam itu ngurusi perbuatan dan ucapan manusia, sehingga mari kembali ke labtop, diskusi tentang gagasan, pemikiran, amalan, karena itulah obyek hukum dalam Islam.
Sedangkan ormas atau partai atau lembaga bisa berubah seiring dengan perubahan oknumnya..... la yang pegang Al Qur'an, bawa Al Hadits, menimbun kitab kitab ulama' saja tidak serta merta amalan dan ucapannya sesuai, UU, atau AD ART atau lainnya juga bernasib serupa tidak serta merta dijalankan, tidak serta merta mencerminkan oknumnya .
Coba ingat, dahulu para sahabat menjadi generasi terbaik, dengan islam mereka bersatu, untuk islam mereka berjuang, berbagai perbedaan, suku, kepentingan dan lainnya mereka lupakan demi kejayaan Islam.
Sedangkan saat ini, dengan semakin lama belajar dan dengan alasan manhaj salaf kita berpecah belah, dari hari ke hari semakin banyak varian perpecahannya, bukan semakin bersatu....... Benarkah manhaj salaf itu tidak bisa mempersatukan? Benarkan manhaj salaf itu memang berdampak memecah belah dan memperbanyak perpecahan?
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ
وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ
فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ
فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran 103)
Apa anda kira para sahabat tidak memiliki perbedaan metode memahami agama, atau mengamalkan agama?
Di antara mereka terjadi banyak perbedaan, ada metode tekstual dan ada pula metode kontekstual, sebagaimana pada kisah perjalanan para sahabat ketika berperang melawan suku Quraizhoh.
Kawan! Sekali lagi salafy itu metode, karena fokus berdiskusi tentang pemikiran dan amalan, bukan brand tertentu...sehingga kondusif, tidak terjebak pada fanatisme kelompok.....
Kawan! Bukalah mata, bahwa perpecahan, atau perbedaan antara para syikeh di timur tengah ternyata tidak luput dari aspek aspek personal, masak harus diinpor utuh utuh seperti perilaku para pengimpor pakaian bekas?
Anda ndak percaya, simak saja 2 link berikut:
https://www.youtube.com/watch?v=hNWXBMi4mm8
https://www.youtube.com/watch?v=icxr0J_Fka0
Semoga mencerahkan.