Minggu, 19 April 2026

Islam itu pasti benar, namun orang islam beragam.

Islam itu pasti benar, namun orang islam beragam.

Islam sebagai ajaran dan cara menjalani hidup pasti benar tidak ada salahnya.

Namun orang yang mengaku sebagai ummmat Islam, ya beragam, ada yang berzina, ada yang mencuri, ada yang menipu, ada yang berbuat berbagai dosa lainnya.

Demikianlah seharusnya anda memahami salafy sebagai metode memahami dan mengamalkan agama Islam, yaitu mengikuti metode ulama; terdahulu dari para sahabat dan tabiin sebagai generasi terbaik ummat ini.

Namun menisbatkan diri kepada metode salaf bukan jaminan bahwa anda baik dalam segala urusan...... betapa banyak salafy yang berbuat dosa, sebagaimana ummat Islam juga banyak yang berbuat dosa.

Sebagaimana ummat Islam bertingkat tingkat, ada yang kuat iman, amal dan dakwahnya ada yang kuat ilmu namun lemah amalan, ada yang kuat amalan namun lemah ilmu.

Setatus sebagai sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga demikian, ada yang sempurna seperti 10 sahabat dijamin masuk surga, ada yang minim amalan namun kuat imannya, seperti lelaki yang datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengaku hanya akan mengamalkan yang wajib saja.

Dan ummat Islam ada yang seperti anda, silahkan diskripsikan sendiri kualitas keislaman anda. 

Iman itu naik dan turun, sebagaimana kesalafiyahan seseorang juga demikian, pasang dan surut, sempurna dan ada yang kurang.

Problem di lapangan, banyak orang yang mengira bahwa kesalafiyahan itu satu kesatuan yang utuh tidak bisa berkurang, berkurang sedikit auto exit, padahal iman yang merupakan pondasi keislaman saja berlevel level.

Masalah menjadi semakin runyam bila standar ideal adalah gurunya, padahal faktanya gurunya jelas tidak sempurna, akhirnya terjadi perang klaim bagaikan orang buta berdebat dengan orang tuli .......

Kedewasaan sikap, dan kelapangan dada itu sangat dibutuhkan, sebagaimana menyadari keterbatasan ilmu dan amalan masing masing itu juga penting, sehingga sumbu kita bisa lebih panjang tidak mudah meledak.

Suatu hari sahabat Umar bin Al Khatthab radhiallahu 'anhu mendengar sahabat Hisyam bin Hakim radhiallahu 'anhu membaca surat Al Furqan. Betapa terkejutnya sahabat Umar, karena Hisyam membaca surat tersebut berbeda dengan yang didengar langsung oleh sahabat Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Seusai sahabat Hisyam membaca surat itu, segera sahabat  Umar bin Al Khatthab memegang baju sahabat Hisyam dan membawanya menghadap kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Sahabat Umar berkata:Ya Rasulullah, orang ini membaca surat Al Furqan namun berbeda dengan yang yang pernah engkau ajarkan kepadaku.

Segera Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempersilahkan sahabat Hisyam untuk membaca surat Al Furqan. Setelah selesai, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Demikianlah surat ini diturunkan.

Selanjutnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meminta sahabat Umar untuk membaca surat yang sama. Seusai beliau membaca Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Demikianlah surat ini diturunkan. Lalu beliau bersabda:
نَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ».
Sesungguhnya Al Qur'an ini diturunkan dengan 7 dialek, maka silahkan kalian membacanya dengan salah satu dialek tersebut yang  paling sesuai/mudah bagi kalian. (Muttafaqun 'alaih)

Tergesa gesa mengingkari dengan keras apalagi dengan dada yang sempit, bisa menghasilkan dampak yang buruk .....

Anda bisa bayangkan, betapa sahabat Umar yang tegas, namun beliau tidak menjadikan ilmunya sebagai batasan final, beliau mencari referensi yang lebih berilmu untuk menengahi perbedaannya, dan endingnya beliau  tidak ego atau gengsi mengakui kebenaran.

Sebaliknya sahabat Hisyam tidak dendam dengan sikap sahabat Umar yang keras, karena keduanya menjadi bertambah ilmu.

Kegaduhan di dunia ini, salah satunya akibat dari sumbu yang pendek, dan perilaku mennjadikan guru bahkan dirinya sebagai standar final kebenaran, sehingga siapaun yang berbeda maka auto exit ... 

Inilah salah satu alasan pentingnya anda belajar lagi dan belajar lagi, monggo kesempatan masih terbuka: https://pmb.stdiis.ac.id/
Ustadz Dr muhammad arifin badri Ma