Video Syaikh Shalih Sindi yang membahas mengenai kedudukan Imam An-Nawawi dan Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kaitannya dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Berikut adalah ringkasan poin-poin penting dari penjelasan beliau:
Perbedaan antara Ibnu Hajar dan An-Nawawi: Syaikh menjelaskan bahwa Ibnu Hajar tidak sama dengan An-Nawawi dalam hal metodologi akidah [00:21]. Ibnu Hajar dinilai mengalami "kegoncangan" (idhtirab) dalam bab sifat; terkadang mengikuti manhaj Salaf, terkadang mengikuti Asy'ariyah (tawil atau tafwid), dan terkadang hanya menukil perkataan ahli kalam tanpa memberi komentar [00:33].
Metodologi An-Nawawi: Imam An-Nawawi dinilai lebih konsisten pada satu jalur dalam menyikapi hadits-hadits sifat, yaitu jalur tawil (menafsirkan secara metaforis) [01:28]. Oleh karena itu, Ibnu Hajar dianggap memiliki kondisi yang "lebih baik" dalam masalah sifat dibandingkan An-Nawawi [01:53].
Sikap Pertengahan (Tawasut): Syaikh menekankan pentingnya sikap moderat. Kita tidak boleh menjatuhkan mereka sepenuhnya karena jasa besar mereka terhadap Sunnah, namun kita juga tidak boleh menyebut mereka sebagai "Imam Ahlus Sunnah wal Jama'ah" dalam masalah akidah secara mutlak karena adanya kesalahan tersebut [04:11].
Menghormati namun Tetap Mengkritisi: Para ulama Ahlus Sunnah (seperti Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab) menghormati kedua tokoh ini atas kontribusi besar mereka dalam ilmu hadits, namun tetap memperingatkan kesalahan akidah mereka jika diperlukan [02:45].
Kesimpulan: Kebenaran lebih dicintai daripada siapapun. Kesalahan mereka harus dijelaskan agar tidak membingungkan orang awam, namun tetap dengan mendoakan rahmat bagi mereka dan menghargai ilmu yang mereka wariskan [03:59].
Tonton video lengkapnya di sini: https://youtu.be/1tKNqVn6dJs