Selasa, 21 April 2026

Benarkah Kaidah "Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan" ?

Benarkah Kaidah "Semakin Banyak Ilmu, Semakin Sedikit Menyalahkan" ? 

Kaidah tersebut dalam bahasa Arab berbunyi:

من كثر علمه قل إنكاره

"Siapa yang banyak ilmunya, akan sedikit pengingkarannya".

Pertama, perkataan ini bukan ayat al-Qur'an, bukan hadits Nabi dan bukan perkataan para sahabat. Namun memang dikatakan oleh sebagian ulama baik secara tekstual atau secara makna. 

Dengan demikian, perkataan ini bisa bernilai benar dan juga bisa keliru, tergantung apakah sesuai dengan dalil atau tidak.

Kedua, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam adalah manusia yang PALING banyak ilmunya di muka bumi sejak awal hingga akhir dengan sepakat ulama. Namun apakah beliau sedikit mengingkari kemungkaran? Jawabnya: TIDAK. 

Bahkan beliau orang yang paling semangat dalam ingkarul mungkar, tentu disertai dengan ilmu dan cara yang hikmah. 

* Beliau menghancurkan berhala dengan tangannya sendiri 
* Beliau mengingkari kesyirikan dimana-mana 
* Beliau mengingkari orang yang memakai jimat dan mencopotnya
* Beliau mengingkari orang yang berlebihan memuji beliau 
* Beliau mengingkari orang yang sujud kepada beliau
* Beliau mengingkari shalat-nya buruk
* Beliau mengingkari wudhu-nya kurang sempurna 
* Beliau mengingkari orang yang terlihat tidak shalat
* Beliau mengingkari orang yang belum bayar zakat 
* Beliau mengingkari orang yang isbal 
dst. 

Dari sisi ini maka kaidah di atas sangat-sangat KELIRU. Bisa berkonsekuensi tuduhan bahwa Nabi sedikit dalam ingkarul mungkar atau justru sebaliknya, tuduhan bahwa Nabi kurang berilmu karena banyak ingkarul mungkar.

Ketiga, kaidah di atas bisa benar maknanya jika kita maknai:
* Jangan terburu-buru dalam mengingkari 
* Jangan mengingkari tanpa ilmu yang benar
* Jangan mengingkar tanpa cara yang hikmah 
* Jangan menjadi orang yang sombong dengan ilmunya dan merendahkan orang lain 

Keempat, semestinya seseorang ketika bertambah ilmunya maka ia semakin takut kepada Allah Ta'ala. Ia takut untuk melakukan dosa-dosa karena takut kepada Allah. Dan ia semangat untuk ingkarul mungkar terhadap kaumnya karena takut Allah timpakan adzab kepada kaumnya karena perbuatan dosa mereka. 

Tentunya ingkarul mungkar wajib dengan ilmu dan cara yang benar. 

Kelima, ketika orang berilmu diam terhadap kemungkaran, itu adalah dosa dan akan mendatangkan azab Allah.

Keenam, ketika orang berilmu diam, maka orang-orang jahil akan berbicara. Merekalah yang disebut ruwaibidhah.  

Ketujuh, para ulama menjelaskan bahwa kaidah di atas bisa bermakna benar dan bisa bermakna keliru. 

Syaikh Dr. Abdulkarim al-Khudhair menjelaskan:

أما إن كان يحكي عن واقع وأن العلماء لا ينزلون إلى الأسواق، ولا يباشرون محافل الناس لانشغالهم عن ذلك بما هو أهم؛ فهذا الكلام له حظ من النظر، يعني ما تجد كبار أهل العلم يغشون مجالس الناس ومحافلهم وأسواقهم التي يقع فيها المخالفات؛ لكثرة علمهم ولكثرة حاجة الناس إليهم، هذا من هذه الحيثية له وجه

Adapun jika yang dimaksud adalah menggambarkan kenyataan bahwa para ulama biasanya tidak turun ke pasar-pasar dan tidak langsung terjun ke keramaian masyarakat (untuk ingkarul mungkar) karena kesibukan mereka dengan hal-hal yang lebih penting, maka ucapan ini ada benarnya. Maksudnya, kita memang tidak banyak mendapati para ulama besar sering mendatangi majelis-majelis umum, keramaian masyarakat, atau pasar-pasar yang di dalamnya terjadi berbagai pelanggaran. Hal itu karena luasnya ilmu mereka dan besarnya kebutuhan manusia terhadap mereka. Dari sisi ini, pernyataan tersebut dapat diterima.

أما كون الإنسان مع كثرة علمه..، كثرة علمه تؤثر في إنكاره المنكر الذي يراه فمن وجه دون وجه 

Namun jika maksudnya seseorang yang memiliki banyak ilmu, banyaknya ilmu dia mempengaruhi sikapnya ingkarul mungkar yang ia lihat, maka ini bisa benar dan bisa keliru.

الذي عنده شيء من العلم بالأقوال بأدلتها لا شك أن عنده من السعة أكثر مما عند طالب العلم المبتدئ أو العامي ... الذي يعرف هذا المنكر، والراجح فيه أنه حرام؛ لكن القول الثاني له حظ من النظر وله وجه لاسيما في حال دون حال، وهذه الحال لا ينطبق عليها القول بالتحريم من كل وجه؛ تجد هناك سعة عند من عنده شيء من العلم؛ لكن إذا ترجح عنده أن هذا الأمر محرم يلزمه إنكاره، ولو كان مباحاً عند غيره ، ولو رأى غيره أنه مباح لأنه إنما يفعل ما يدين الله به، عليه أن يفعل وينكر ما يعتقد

Orang yang memiliki pengetahuan tentang berbagai pendapat beserta dalil-dalilnya, tentu ia memiliki keluasan pandangan yang tidak dimiliki oleh penuntut ilmu pemula atau orang awam.

Orang yang mengetahui bahwa suatu perkara pada dasarnya haram menurut pendapat yang lebih rajih, tetapi juga mengetahui bahwa ada pendapat lain yang memiliki dasar dan pertimbangan, terutama dalam kondisi tertentu di mana tidak semua keadaan masuk dalam keharaman secara mutlak, maka ia akan memiliki kelonggaran dalam menyikapi hal tersebut karena ilmunya.

Meski demikian, jika telah jelas baginya bahwa perkara itu haram, maka ia wajib mengingkarinya, walaupun orang lain menganggapnya boleh. Karena ia beramal berdasarkan apa yang ia yakini sebagai kebenaran di hadapan Allah. Ia wajib beramal dan mengingkari sesuai dengan keyakinannya, bukan mengikuti keyakinan orang lain.

لكن ليس إنكاره بالمستوى الذي ينكر فيه الأمور القطعية المجمع عليها، أو الأمور التي الخلاف فيها شاذ أو ضعيف.

Namun, cara pengingkarannya tidak boleh sama dengan pengingkaran terhadap perkara-perkara yang bersifat pasti dan disepakati (ijma’), atau perkara yang perbedaannya sangat lemah dan tidak mu'tabar.

[ Sumber: Web Resmi Syaikh Al-Khudhair, https://shkhudheir.com/faeda/2068 ]

Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan menjelaskan:
"Justru yang benar adalah sebaliknya, semakin banyak ilmu seseorang ia seharusnya semakin banyak mengingkari kemungkaran. Karena orang berilmu lebih mengetahui mana yang perkara yang mungkar, daripada orang selainnya. Dan tanggung jawab ia lebih besar daripada orang selainnya. Demikian".

[Ditranskrip dari : https://www.youtube.com/watch?v=cq3cdcYTT6Q ]

Syaikh DR. Shalih bin Sa'ad as-Suhaimi mengatakan: 

"Kaidah bahwa siapa yang banyak ilmunya, akan sedikit pengingkarannya, ini tidak benar. Karena manusia terhadap ilmu itu ada 3 golongan. 
Golongan pertama, orang yang ilmunya membuat ia sombong
Golongan kedua, orang yang ilmunya membuat ia takut kepada Allah
Golongan ketiga, orang yang ilmunya membuat ia tawadhu'. 
Oleh karena itu, perkataan bahwa bertambahnya ilmu akan mengantarkan kepada sedikitnya ingkarul mungkar, maka ini tidak benar. Karena ilmu seharusnya membuat orang takut kepada Allah. Semakin bertambah ilmunya, semakin takut ia kepada Allah (dan melakukan ingkarul mungkar)".

[Ditranskrip dengan peringkasan dari : https://www.youtube.com/watch?v=TI2FYcqRpYY ]

Wallahu ta'ala a'lam. 

Fawaid Kangaswad | Support Media Dakwah Kami: trakteer.com/kangaswad