Senin, 31 Agustus 2026

Diantara sebab membangkangnya sebagian anak yaituwali mereka terkadang tidak memperlakukan merekadengan baik dalam mendidik dan tidak menempatkan mereka pada kedudukan yang semestinya

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin Rohimahullahu Berkata
" Diantara sebab membangkangnya sebagian anak yaitu
wali mereka terkadang tidak memperlakukan mereka
dengan baik dalam mendidik dan tidak menempatkan 
mereka pada kedudukan yang semestinya, dan diantara
perkara yang telah diketahui bahwa memperhatikan 
kondisi anak yang dididik dan psikologisnya merupakan
bantuan terbesar untuk mengetahui bagaimana cara
mengobatinya karena diantara anak anak ada yang
memiliki jiwa yang mulia dan semangat yang tinggi dimana
ia bisa diyakinkan dengan perkataan yang jelas dan
 mencerahkan dan dia akan menjauh dari celaan dan
dipermalukan didepan kerabatnya maka anak yang
seperti ini harus diperlakukan dengan metode yang
tenang, meyakinkan dan mudah"
Adh Dhiya'ul Lami' 6/92

Catatan Ngaji Hasiyah Al-Qulyubi > Seorang ayah yang fasiq apakah sah jadi wali nikah ?

Catatan Ngaji Hasiyah Al-Qulyubi > Seorang ayah yang fasiq apakah sah jadi wali nikah ? 

Di tengah masyarakat sering muncul pertanyaan: Bagaimana hukum seorang ayah yang meninggalkan salat fardu atau dikenal melakukan kemaksiatan? Apakah ia masih berhak menjadi wali nikah bagi anak perempuannya?

Dalam literatur fikih Syafi‘iyyah, masalah ini berkaitan dengan ‘adalah (keadilan) yang menjadi salah satu syarat wali nikah. Orang yang melakukan dosa besar atau terus-menerus melakukan dosa kecil dapat dikategorikan sebagai fasik.

Karena itu, para ulama membahas secara khusus mengenai perwalian orang fasik dalam akad nikah.

Dalam Hasyiyah al-Qulyubi hal: 227, disebutkan:
> وَلَا وِلَايَةَ لِفَاسِقٍ عَلَى الْمَذْهَبِ
“Menurut pendapat yang kuat dalam mazhab, tidak ada hak perwalian bagi orang yang fasik.”

Kemudian disebutkan pula pendapat kedua:
> وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ يَلِي؛ لِأَنَّ الْفَسَقَةَ لَمْ يُمْنَعُوا مِنَ التَّزْوِيجِ فِي عَصْرِ الْأَوَّلِينَ
“Pendapat kedua menyatakan bahwa orang fasik tetap berhak menjadi wali, karena orang-orang fasik tidak pernah dilarang menjadi wali nikah pada masa generasi terdahulu.”

📌 Kesimpulan

Jadi, dalam masalah wali nikah yang fasik terdapat dua pendapat dalam mazhab Syafi‘i:

Maka, jika mengikuti pendapat mu‘tamad, apabila ayah yang seharusnya menjadi wali ternyata tidak memenuhi syarat karena kefasikannya, hak perwalian berpindah kepada wali nasab berikutnya yang memenuhi syarat, bukan langsung kepada wali hakim.

Wallohu a‘lam bish-shawab.
Semoga bermanfaat 
Oleh: Irwan Saleh

seseorang yang shalat di malam hari, Allah akan menjadikan pada wajahnya cahaya yang membuat setiap muslim mencintainya

قال سعيد بن المسيب رحمه الله :

" إنّ الرجل ليصلي بالليل ، فيجعل الله في وجهه نورًا يُحبه عليه كل مسلم ، فيراه مَن لم يره قط فيقول : إني لأحبُّ هذا الرجل ! ".

 فصل الخطاب في الزهد (٣٩٨/٩)
Sa'id bin al-Musayyib rahimahullah berkata:
"Sungguh, seseorang yang shalat di malam hari, Allah akan menjadikan pada wajahnya cahaya yang membuat setiap muslim mencintainya. Hingga orang yang belum pernah melihatnya sama sekali pun ketika melihatnya akan berkata: 'Sungguh, aku menyukai orang ini!'"
📚 Fashlul Khithab fiz-Zuhdi (9/398)

Keluar Rumah Melihat Ke Langit

Keluar Rumah Melihat Ke Langit

Ummu Salamah Radhiyallahu 'anha berkata:

ما خرج النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم من بيتي قَطُّ إلا رفع طَرْفَه إلى السماءِ فقال اللهم أعوذُ بك أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ أو أَزِلَّ أو أُزَلَّ أو أَظْلِمَ أو أُظْلَمَ أو أَجْهَلَ أو يُجْهَلَ عَلَيَّ

"Setiap kali Nabi Shallallaahu 'alaihi Wasallam keluar dari rumahku, beliau melihat ke langit seraya berdoa yang artinya, "Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari tersesat atau disesatkan. Dari tergelincir atau digelincirkan. Dari berbuat zalim atau dizalimi. Dan dari berbuat jahil atau dijahili." 
(Shahih Sunan Abi Dawud no 5094)
Ustadz badrusalam

wanita yang menjagakemuliaan dirinya tidak ingin menjadi tempatsinggah namun ingin menjadi tempat tinggaldan tempat menetap

Wanita Yang Menjaga kehormatannya menyembunyikan
rasa cintanya karena dua alasan
Pertama " karena rasa malu yaitu akhlak yang
diciptakan yang menjadi bagian dari dirinya"
Kedua " untuk menyampaikan pesan yang bermakna
yaitu aku bukanlah wanita yang mudah didapatkan
dan aku bukan pula termasuk wanita yang mudah
dipermainkan oleh orang orang yang sekedar
bersenang senang melampiaskan nafsunya
lalu meninggalkannya ( wanita yang menjaga
kemuliaan dirinya tidak ingin menjadi tempat
singgah namun ingin menjadi tempat tinggal
dan tempat menetap)

Istri yang sholihah akan selalu mendukung suaminya

Istri  yang  sholihah  akan  selalu  mendukung  suaminya

Seorang bujang bertanya kepada orang yang telah menikah
"Apakah benar  apa yang dikatakan bahwasanya seorang laki laki tidak akan mengetahui berbagai musibah kecuali ketika ia memiliki istri??!! "
Maka orang yang telah menikah pun berkata
"sebaliknya  ia  tidak  akan  mengetahui nilai istri sholihah  kecuali  ketika  berbagai  musibah  datang  menghampirinya"

wanita yang taat beragama merupakan sebaik baik penolong untuk kebaikan agama dan duniamu

Janganlah engkau tertipu dengan kecantikannya karena kecantikannya itu akan pudar
Jangan pula engkau mengharap dengan hartanya karena hartanya itu akan sirna
Jangan pula engkau bangga dengan keturunannya karena tidak ada nasab diantara seorang hamba dengan Robb nya kecuali ketaqwaan
Namun pilihlah wanita yang keshalihan dan ketaqwaannya itu dapat memberikan manfaat kepadamu
Ia akan menjadi penyejuk hatimu, Menjadi penentram jiwamu, Menjaga kehormatanmu, berbarokah,  dan mengelola hartamu, dan anakmu pun menjadi sholih dengannya, maka wanita yang taat beragama merupakan sebaik baik penolong untuk kebaikan agama dan duniamu

Kemiskinan dan kebutuhan mendesaknya seorang hamba tidak akan hilang kecuali dengan tauhid

"Kemiskinan dan kebutuhan mendesaknya seorang hamba tidak akan hilang kecuali dengan tauhid. Dan apabila tauhid tersebut disertai dengan istighfar, maka hamba tersebut akan memperoleh kecukupan serta kebahagiaannya, dan hilanglah darinya apa yang menyiksanya." 

(Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam al-Fatawa, 1/56)

Minggu, 30 Agustus 2026

ADA APA DI NEPAL?!

ADA APA DI NEPAL?! 

Pada tanggal 26 Agustus 2026, di sepanjang perbatasan antara Nepal (Distrik Rasuwa) dan wilayah Tibet, Tiongkok (County Gyirong), bongkahan es berukuran besar runtuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter dan meluncur jatuh lebih dari satu kilometer ke dasar lembah.

 Campuran es, batuan, dan salju ini membendung Sungai Lhindi Khola (anak sungai dari Sungai Bhote Koshi/Trishuli), sehingga membentuk bendungan alami sementara. 

Ketika bendungan tersebut jebol, terjadi pelepasan mendadak berupa volume air yang sangat besar, pecahan es, lumpur, dan material puing, yang menyebabkan aliran sungai melonjak dahsyat dalam hitungan detik atau menit.

Maka bencana dahsyat pun mengejutkan dunia. 

Jembatan patah dan
hanyut
Tumah-rumah tumbang, hancur dan hanyut
Ratusan  orang meninggal mengenaskan

Sebelum Anda meneteskan air mata untuk Nepal!

Tahukan Anda apa sebenarnya terjadi sebelum bencana itu. 

Mereka kaum Hindu ekstrimis menindas  umat Muslim yang minoritas (5%) ,termasuk kejadian  sebulan yang lalu! 

Hamed Al Aley menulis: Sebelum terjadinya banjir bandang yang menghancurkan di Nepal, sebuah masjid di distrik Siraha—tepatnya Masjid Chauharwa Jame di wilayah Golbazar—menjadi sasaran pembakaran dan vandalisme dalam sebuah serangan pada awal Agustus 2026; sejumlah mushaf Al-Qur'an dan teks keagamaan lainnya juga turut dibakar.

Mereka membakar rumah-rumah serta membunuh perempuan dan anak-anak. 
Mereka membakar tanaman pangan. 
Mereka membakar Masjid
Membakar mushaf al Quran. 
Mereka melakukan banyak kejahatan terhadap islam dan umat Islam. 
Kejadian itu persis sama dengan apa yang terjadi di Burma.

Maka kitapun ingat firman Allah: 

وَكَذٰلِكَ اَخْذُ رَبِّكَ اِذَآ اَخَذَ الْقُرٰى وَهِيَ ظَالِمَةٌۗ اِنَّ اَخْذَهٗٓ اَلِيْمٌ شَدِيْدٌ
Demikianlah siksaan Tuhanmu apabila Dia mengazab (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya siksaan-Nya sangat pedih lagi sangat berat. (QS Hud:102)

Lihat link link ini;

https://x.com/Hamedalalinew/status/2093295507149877682?s=20

https://x.com/Cool_Ustaz/status/2093296221725077572?s=20

https://x.com/a_alsarii90/status/2093170103437205860?s=20

https://x.com/i/status/2093832762906046479

https://x.com/i/status/2093729179871129820

https://x.com/i/status/2093450847908757520

https://x.com/i/status/2093969079518511110

https://x.com/i/status/2093721588013113419

Semoga Allah menolong umat Islam yang tertindas dimana saja
https://www.facebook.com/share/1M5i8QyrhW/

Tatkala Allah ingin menjadikan nama seorang alim itu harum dan terangkat kembali setelah mereka tiada adalah adanya orang-orang yang mencoreng kehormatan atau menusuk ilmu yang dibawa oleh sang alim

Tatkala Allah ingin menjadikan nama seorang alim itu harum dan terangkat kembali setelah mereka tiada adalah adanya orang-orang yang mencoreng kehormatan atau menusuk ilmu yang dibawa oleh sang alim. Hal itu juga bagian dari cara Allah untuk tetap terus memberikan limpahan rahmat serta pahala kepada sang alim dengan adanya lisan-lisan yang tak bertanggung jawab berbicara tentang dirinya. 

Itulah mengapa tatkala Ummul Mu'minin Aisyah mendengar adanya segerombolan manusia yang mencaci para shahabat, terkhusus mencaci Abu Bakar & Umar - yang mana mereka adalah para ulama umat dan mufti kaum muslimin-, maka Aisyah berkata; 

"Mengapa kalian heran dengan hal ini? Amal perbuatan mereka telah terputus (karena wafat), maka Allah ingin agar pahala mereka tidak terputus (dengan adanya celaan terhadap mereka -pent)." (HR. Muslim) 

Semoga Allah merahmati al Imam al Muhaddits Muhammad Nashiruddin al Albani dan mengampunkan kesalahan-kesalahan beliau serta memasukkan beliau kedalam surga Firdaus yang tertinggi.
Ustadz yami cahyanto

Tafsir dari Majmu' al-Fatawa karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah (5/309):

التفسير من مجموع الفتاوى لشيخ الإسلام ابن تيمية (5/ 309)


والمقصود هنا أن أئمة السنة ـ كأحمد بن حنبل وغيره ـ كانوا إذا ذكرت لهم أهل البدع الألفاظ المجملة، كلفظ الجسم والجوهر والحيز ونحوها، لم يوافقوهم لا على إطلاق الإثبات، ولا على إطلاق النفي . وأهل البدع بالعكس ابتدعوا ألفاظًا ومعاني، إما في النفي، وإما في الإثبات، وجعلوها هي الأصل المعقول المحكم، الذي يجب اعتقاده، والبناء عليه، ثم نظروا في الكتاب والسنة، فما أمكنهم أن يتأولوه على قولهم تأولوه، وإلا قالوا : هذا من الألفاظ المتشابهة المشكلة التي لا ندري ما أريد بها، فجعلوا بدعهم أصلًا محكمًا، وما جاء به الرسول فرعًا له ومشكلًا، إذا لم يوافقه . وهذا أصل الجهمية والقدرية وأمثالهم، وأصل الملاحدة من الفلاسفة الباطنية، جميع كتبهم توجد على هذا الطريق، ومعرفة الفرق بين هذا وهذا من أعظم ما يعلم به الفرق بين الصراط المستقيم الذي بعث اللّه به رسوله، وبين السبل المخالفة له، وكذلك الحكم في المسائل العلمية الفقهية، ومسائل أعمال القلوب وحقائقها وغير ذلك . كل هذه الأمور قد دخل فيها ألفاظ ومعان محدثة، وألفاظ ومعان مشتركة .

فالواجب أن يجعل ما أنزله اللّه من الكتاب والحكمة أصلًا في جميع هذه الأمور، ثم يرد ما تكلم فيه الناس إلى ذلك، ويبين مافي الألفاظ المجملة من المعاني الموافقة للكتاب والسنة فتقبل، وما فيها من المعاني /المخالفة للكتاب والسنة فترد .

Ustadz babanya sofia 

Tafsir dari Majmu' al-Fatawa karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah (5/309):

​Maksud di sini adalah bahwa para imam Sunnah—seperti Ahmad bin Hanbal dan lainnya—apabila para ahli bid'ah menyebutkan kepada mereka lafal-lafal yang bermakna samar (al-alfazh al-muj构lah), seperti lafal jism (tubuh/materi), jauhar (substansi asal), hayyiz (ruang/tempat), dan sejenisnya, mereka tidak akan menyetujui para ahli bid'ah tersebut, baik dalam menetapkannya secara mutlak maupun menafikannya secara mutlak.

​Sebaliknya, para ahli bid'ah telah membuat-buat lafal dan makna baru, baik dalam penafian maupun penetapan. Mereka menjadikannya sebagai landasan akal yang kukuh (al-asl al-ma'qul al-muhkam) yang wajib diyakini dan dijadikan pijakan. Setelah itu, barulah mereka melihat kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah; apa yang memungkinkan untuk mereka takwilkan agar sesuai dengan pendapat mereka, maka mereka takwilkan. Jika tidak memungkinkan, mereka akan berkata: "Ini termasuk lafal-lafal samar (mutasyabihat) dan rumit yang tidak kita ketahui apa maksudnya."

​Dengan demikian, mereka menjadikan bid'ah mereka sebagai landasan utama yang kukuh (aslan muhkaman), sedangkan apa yang dibawa oleh Rasul dijadikan sebagai cabang (far'an) baginya dan dianggap rumit apabila tidak sejalan dengannya. Ini merupakan metode dasar kaum Jahmiyah, Qadariyah, dan sejenisnya, serta metode dasar orang-orang mulhid dari kalangan filsuf dan kaum Batiniyah. Seluruh kitab mereka ditulis dengan cara seperti ini.

​Memahami perbedaan antara metode ini dan metode Ahlus Sunnah termasuk hal terbesar yang dengannya dapat diketahui perbedaan antara jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim) yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya, dengan jalan-jalan lain yang menyimpang darinya.

​Demikian pula hukum dalam masalah-masalah ilmu fikih, serta masalah-masalah amalan hati dan hakikatnya. Semua perkara ini telah disusupi oleh lafal-lafal dan makna-makna baru (muhdasah), serta lafal-lafal dan makna-makna yang berpotensi ganda (musytarakah).

​Maka, hal yang wajib dilakukan adalah menjadikan Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah) yang diturunkan oleh Allah sebagai landasan utama dalam seluruh perkara ini. Kemudian, mengembalikan apa yang diperbincangkan oleh manusia kepada landasan tersebut, serta menjelaskan makna-makna di dalam lafal-lafal samar (al-alfazh al-muj-malah) tersebut:

  • ​Makna yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah diterima.
  • ​Makna yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah ditolak

menghilang karena tidak sesuai seleranya

Kenikmatan dunia ada tiga

وينسب إليها أحمد بن الطيب السرخسي الحكيم الظريف الذي تظهر حكمته مع الظرافة. ذكر أنه سئل عن لذات الدنيا ثلاث، فقال: لذات الدنيا ثلاث: أكل اللحم، وركوب اللحم، وإدخال اللحم في اللحم؛ فسمع ذلك

Ahmad bin At-Thayyib as-Sarokhsiy pernah ditanya tentang kenikmatan dunia, maka dia menjawab,

"Kenikmatan dunia ada tiga : memakan daging, menunggangi daging, memasukan daging kedalam daging".

Atsarul Bilad wa Akhbarul Ibad, hal. 390

keluar mani lebih dulu

memberi hikmah dan pengalaman

Tanggapan Ulama Al-Azhar Terhadap Syaikh Al-Albani

Tanggapan Ulama Al-Azhar Terhadap Syaikh Al-Albani

Pada bulan Juni kemarin saya melihat postingan mengenai pujian guru besar kami (Dr. Ma'bad Abdul Karim) dalam bidang hadits yang sampai sekarang masih mengajar di Masjid Al-Azhar.

Pujian beliau pada Syaikh Al-Albani kurang lebih kalau diterjemahkan seperti ini:

 "Telah menyebutkan Al-Allamah Doktor Ahmad Ma'bad Abdil Karim -semoga Allah meridhoinya- dan beliau adalah Syaikhnya para ahli hadits di Al-Azhar Asy-Syarif: Bahwasanya Syaikh Al-Albani -semoga Allah meridhoinya- dahulu sudah menshahihkan dan mendha'ifkan (hadits) 50 tahun sebelum ilmu sanad dan ilmu 'ilal masuk ke Al-Azhar Asy-Syarif. Dan ilmu ini baru masuk ke Al-Azhar melalui tangan Syaikh Ahmad Ath-Thayyib sejak 10 tahun saja. Adapun Al-Albani -semoga Allah meridhoinya- maka beliau adalah Imam dunia di zaman ini dalam ilmu As-Sunnah, dan semoga Allah mengabadikan penyebutannya di kalangan orang-orang shalih. Dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi orang-orang yang ikhlas, karena sebutan yang baik itu tidak Allah jadikan kecuali untuk orang-orang yang ikhlas... Dan akan terus ada sampai hari kiamat di seluruh penjuru timur dan barat bumi (ucapan): "Dishahihkan oleh Al-Albani, Didha'ifkan oleh Al-Albani, Dihasankan oleh Al-Albani" Semoga Allah meridhoi Syaikh Al-Albani."

Kemudian saya pribadi sebagai orang yang banyak membaca fatwa-fatwa Syaikh Al-Albani dan banyak tidak setuju dengan fatwa-fatwanya, sedikit kaget karena pujian itu muncul dari guru kami dalam bidang hadits. Akhirnya saya bertanya langsung kepada dosen saya dalam bidang hadits juga, karena mungkin kedekatan beliau dengan Dr. Ma'bad akan lebih erat daripada penulis status.

Saya bertanya ( via chat) untuk mengkonfirmasi apakah pujian itu betul dinisbatkan kepada Dr. Ma'bad? Dosen kami menjawab singkat: ya (betul).

Namun hal yang menarik yang selalu diucapkan oleh dosen kami dalam bidang ushul dan bidang kalam ketika kami mengkaji kitab Minhaj (Ushul Fiqih), beliau menyindir Syaikh Al-Albani dengan pandangan rasional menurut saya, dan pandangan ini saya sudah pernah postingkan sebelumnya. Beliau berkata:

Hadits-hadits yang disahihkan oleh Syaikh Albani tidak keluar dari empat kemungkinan berikut:

1. Beliau mensahihkan dan ulama terdahulu juga mensahihkan. Maka ini tidak memberikan faedah baru, karena termasuk tahshilul hasil.

2.Beliau mendaifkan dan ulama terdahulu juga mendaifkan. Ini pun sama, termasuk tahshilul hasil.

3. Beliau mendaifkan sementara ulama terdahulu mensahihkan. Maka dalam hal ini perlu dilakukan pemilihan (tarjih) siapa yang lebih kuat, dan secara rasional ulama terdahulu lebih diunggulkan.

4. Ulama terdahulu mendaifkan, sedangkan beliau mensahihkan. Ini bisa saja diterima, karena mungkin hadis yang sebelumnya dinilai daif naik menjadi hasan dengan adanya metode atau penguat dari hadis lain.

Jadi berdasarkan yang saya perhatikan, guru-guru kami di Al-Azhar dalam bidang hadits memang memuji beliau. Tapi dalam bidang lain maka saya belum pernah mendengar pujian terhadap Syaikh Al-Albani.

Hal yang mudah saya cerna tanggapan mereka bahwa: "Syaikh Al-Albani memang sah menjadi imam dalam bidang hadits pada masanya, tapi dalam bidang lain beliau harus jadi makmum, tidak boleh memaksakan terhadap bidang lain."

Dan ungkapan seperti itu sering dilontarkan oleh ulama-ulama dulu dalam bab kritik, misalkan para ulama sering mengatakan: shaikh fulan memang pemimpin dalam bidang hadits tapi himar dalam bidang kalam.

Dan ucapan ini juga dikatakan oleh Imam Dzahabi terhadap ulama besar, dia berkata:
> فكم من إمام في فن مقصر عن غيره، كسيبويه مثلا إمام في النحو ولا يدري ما الحديث ووكيع إمام في الحديث ولا يعرف العربية، وكأبي نواس رأس في الشعر عري من غيره، وعبد الرحمن بن مهدي إمام في الحديث لا يدري ما الطب، وكمحمد بن الحسن رأس في الفقه ولا يدري ما القراءات، وكحفص إمام في القراءة تالف في الحديث، وللحروب رجال يعرفون بها

 "Betapa banyak seorang imam dalam satu bidang tapi kurang dalam bidang lainnya. Seperti Sibawaih misalnya, imam dalam Nahwu tapi tidak tahu apa itu hadits. Dan Waki' imam dalam hadits tapi tidak mengerti bahasa Arab. Dan seperti Abu Nawas, dia pemimpin dalam syair tapi kosong dari selainnya. Dan Abdurrahman bin Mahdi imam dalam hadits tapi tidak tahu ilmu kedokteran. Dan seperti Muhammad bin Al-Hasan, pemimpin dalam Fiqih tapi tidak tahu ilmu Qiraat. Dan seperti Hafsh, imam dalam Qiraah tapi lemah dalam hadits. Dan untuk peperangan ada orang-orang yang ahli di dalamnya."

Waulahualam
Labib nahwa um
https://www.facebook.com/share/18B6mpE6YP/

perhatian pada pembahasan tentang buku. Membicarakan ilmu adalah sebuah kesenangan, dan membicarakan buku adalah dua kesenangan sekaligus; dan membicarakan keduanya merupakan bagian dari kenikmatan surga yang disegerakan.

الأخ فيصل العلي يعرض على جداره العلمي كتب ابن تيمية؛ لو قدّر لشيخ الإسلام أن يقرأها لسرّ غاية السرور...
 نحب كثيرًا الصفحات التي تُعنى بالحديث عن الكتب، فالكلام عن العلم متعة وعن الكتب متعتان، وعنهما من نعيم الجنة المعجّل.

Saudara Faisal Al-Ali menampilkan pada laman (dinding) ilmiahnya buku-buku karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah; sekiranya beliau ditakdirkan untuk membacanya, niscaya beliau akan sangat gembira...
Kami sangat menyukai halaman-halaman yang menaruh perhatian pada pembahasan tentang buku. Membicarakan ilmu adalah sebuah kesenangan, dan membicarakan buku adalah dua kesenangan sekaligus; dan membicarakan keduanya merupakan bagian dari kenikmatan surga yang disegerakan.
https://www.facebook.com/share/17Uarz4SdD/

“Tidakkah engkau melihat bahwa nilai dan kedudukan pedang menjadi berkurang apabila dikatakan: ‘Pedang itu lebih tajam daripada tongkat.’”

Bismillah , saya heran dg kesibukan netizen dengan adanya seorang di zaman sekarang menilai bahwa syekh Al Albani bukan ahli hadis atau yang semisalnya … 

Saya ingat dengan perkataan Al-Mutanabbi penyair berasal dati kota kufah negeri iraq yang lahir tahun 915 M / 303 H 

أَلَمْ تَرَ أَنَّ السَّيْفَ يَنْقُصُ قَدْرُهُ
إِذَا قِيلَ إِنَّ السَّيْفَ أَمْضَى مِنَ العَصَا

Terjemahannya

“Tidakkah engkau melihat bahwa nilai dan kedudukan pedang menjadi berkurang apabila dikatakan: ‘Pedang itu lebih tajam daripada tongkat.’”

Ini adalah ungkapan sindiran yang sangat halus. Maksudnya:

Sesuatu atau seseorang yang tinggi nilainya tidak perlu dibandingkan dengan sesuatu yang jauh berada di bawahnya.

Sebab ketika kita mengatakan:

“Pedang lebih tajam daripada tongkat,”

secara lahiriah memang benar. Tetapi membandingkan pedang dengan tongkat justru dianggap menurunkan kedudukan pedang, karena tongkat memang bukan tandingannya.

Pelajaran dari bait ini

Ungkapan tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan:

* Orang yang berilmu tidak perlu terlalu sibuk menanggapi penilaian orang yang tidak memiliki ilmu yang memadai.
* Orang yang memiliki kapasitas tidak perlu membuktikan dirinya kepada orang yang tidak memahami kapasitas tersebut.
* Tidak semua kritik layak dijadikan ukuran.
* Membandingkan sesuatu yang tinggi dengan yang jauh di bawahnya terkadang justru merendahkan yang tinggi.

Dalam bahasa sederhana:

“Pedang tidak menjadi lebih mulia hanya karena dibandingkan dengan tongkat; justru perbandingan itu sendiri dianggap tidak sepadan.”

Semoga bermanfaat
Ustadz muhammad elvi syam Lc Ma
https://www.facebook.com/share/19PFndgyMW/

تفسير (رب إني لما أنزلت إلي من خير فقير)

تفسير (رب إني لما أنزلت إلي من خير فقير)
1,149,401

السؤال 245013

ما تفسير الآية (رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ)؟ وهل يجوز دمجها مع أدعية قضاء الحاجة؟

ملخص الجواب

قال السعدي في تفسير قوله تعالى (رب إني لما أنزلت إلي من خير فقير): أي: إني مفتقر للخير الذي تسوقه إليَّ وتيسره لي. وهذا سؤال منه بحاله؛ والسؤال بالحال: أبلغ من السؤال بلسان المقال. وقال شيخ الإسلام ابن تيمية: هذا وصف لحاله بأنه فقير إلى ما أنزل الله إليه من الخير، وهو متضمن لسؤال الله إنزال الخير إليه.
ولا بأس أن يدعو العبد المسلم بذلك في قضاء حاجاته لأنه توسل إلى الله تعالى بالفقر إليه وهو وصف ذاتي للعبد وبغنى ربه وهو وصف ذاتي للرب فهذا التوسل يناسب الرغبة فيما عند الله من الخير والبركة.

الجواب

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:

تفسير (رب إني لما أنزلت إلي من خير فقير)

يقول الله تعالى عن موسى عليه السلام لما فرّ من فرعون وقومه، ووصل إلى مدين: وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ * فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ القصص/23، 24.

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ أي: قاصدا بوجهه مدين، وهو جنوبي فلسطين، حيث لا ملك لفرعون، قَالَ عَسَى رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ أي: وسط الطريق المختصر، الموصل إليها بسهولة ورفق، فهداه الله سواء السبيل، فوصل إلى مدين.
وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ مواشيهم، وكانوا أهل ماشية كثيرةوَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ أي: دون تلك الأمة امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ غنمَهما عن حياض الناس، لعجزهما عن مزاحمة الرجال، وبخلهم وعدم مروءتهم عن السقي لهما.
قَالَ لهما موسى مَا خَطْبُكُمَا أي: ما شأنكما بهذه الحالة، قَالَتَا لا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ أي: قد جرت العادة أنه لا يحصل لنا سقي حتى يصدر الرعاء مواشيهم، فإذا خلا لنا الجو سقينا، وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ أي: لا قوة له على السقي، فليس فينا قوة، نقتدر بها، ولا لنا رجال يزاحمون الرعاء.

فرقّ لهما موسى عليه السلام ورحمهما فَسَقَى لَهُمَا غير طالب منهما الأجرة، ولا له قصد غير وجه الله تعالى، فلما سقى لهما، وكان ذلك وقت شدة حر، وسط النهار، بدليل قوله: ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ مستريحا لتلك الظلال بعد التعب.
فَقَالَ في تلك الحالة، مسترزقا ربه:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ أي: إني مفتقر للخير الذي تسوقه إليَّ وتيسره لي. وهذا سؤال منه بحاله؛ والسؤال بالحال: أبلغ من السؤال بلسان المقال." انتهى. "تفسير السعدي" (ص 614)

وقال ابن عاشور رحمه الله:

 "لَمَّا اسْتَرَاحَ مِنْ مَشَقَّةِ الْمَتْحِ وَالسَّقْيِ لِمَاشِيَةِ الْمَرْأَتَيْنِ، وَالِاقْتِحَامِ بِهَا فِي عَدَدِ الرِّعَاءِ الْعَدِيدِ، وَوَجَدَ بَرْدَ الظِّلِّ، تَذَكَّرَ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ نِعَمًا سَابِقَةً أَسْدَاهَا اللَّهُ إِلَيْهِ، مِنْ نَجَاتِهِ مِنَ الْقَتْلِ، وَإِيتَائِهِ الْحِكْمَةَ وَالْعِلْمَ، وَتَخْلِيصِهِ مِنْ تَبِعَةِ قَتْلِ الْقِبْطِيِّ، وَإِيصَالِهِ إِلَى أَرْضٍ مَعْمُورَةٍ بِأُمَّةٍ عَظِيمَةٍ، بَعْدَ أَنْ قَطَعَ فَيَافِيَ وَمَفَازَاتٍ تَذَكَّرَ جَمِيعَ ذَلِكَ، وَهُوَ فِي نِعْمَةِ بَرْدِ الظِّلِّ وَالرَّاحَةِ مِنَ التَّعَبِ، فَجَاءَ بِجُمْلَةٍ جَامِعَةٍ لِلشُّكْرِ وَالثَّنَاءِ وَالدُّعَاءِ وَهِيَ: إِنِّي لِما أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ. وَالْفَقِيرُ: الْمُحْتَاجُ، فَقَوْلُهُ: إِنِّي لِما أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ: شُكْرٌ عَلَى نِعَمٍ سَلَفَتْ. وَقَوْلُهُ: إِنِّي لِما أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ: ثَنَاءٌ عَلَى اللَّهِ بِأَنَّهُ مُعْطِي الْخَيْرِ. وَأَحْسَنُ خَيْرٍ لِلْغَرِيبِ: وُجُودُ مَأْوًى لَهُ يَطْعَمُ فِيهِ وَيَبِيتُ، وَزَوْجَةٌ يَأْنَسُ إِلَيْهَا وَيَسْكُنُ. فَكَانَ اسْتِجَابَةُ اللَّهِ لَهُ، بِأَنْ أَلْهَمَ شُعَيْبًا أَنْ يُرْسِلَ وَرَاءَهُ، لِيُنْزِلَهُ عِنْدَهُ، وَيُزَوِّجَهُ بِنْتَهُ، كَمَا أَشْعَرَتْ بِذَلِكَ فَاءُ التَّعْقِيبِ فِي قَوْلِهِ: فَجاءَتْهُ إِحْداهُما". انتهى مختصرا من "التحرير والتنوير" (20/ 102)

Ibnu 'Asyur rahimahullah berkata:

"Ketika Musa telah beristirahat dari keletihan menimba dan memberi minum ternak kedua wanita tersebut, serta dari perjuangan menembus kerumunan penggembala yang banyak, lalu menemukan sejuknya naungan teduh, beliau teringat akan kenikmatan ini dan nikmat-nikmat sebelumnya yang telah Allah limpahkan: mulai dari penyelamatan dirinya dari pembunuhan, penganugerahan hikmah dan ilmu, pembebasan dari tuntutan atas terbunuhnya orang Qibthi, hingga penyampaian dirinya ke negeri yang makmur dengan masyarakat yang besar setelah melintasi padang pasir dan gurun sahara.

Beliau mengingat seluruh hal tersebut di tengah kenikmatan naungan yang sejuk dan rasa istirahat dari keletihan. Maka, beliau memanjatkan kalimat yang mencakup rasa syukur, pujian, sekaligus doa, yaitu: (Inni lima anzalta ilayya min khairin faqir).

Kata al-faqir berarti orang yang membutuhkan. Ucapan beliau (Inni lima anzalta ilayya min khair) merupakan bentuk syukur atas nikmat-nikmat yang telah berlalu, sekaligus pujian kepada Allah bahwa Dialah Sang Pemberi kebaikan. Dan kebaikan terbaik bagi seorang perantau/asing adalah menemukan tempat bernaung untuk makan dan menginap, serta seorang istri yang membuatnya merasa tenang dan tenteram.

Maka, bentuk pengabulan Allah atas doanya adalah dengan mengilhamkan kepada (Nabi) Syu'aib untuk mengutus utusan menjemput Musa, menampungnya di rumahnya, dan menikahkannya dengan putrinya—sebagaimana diisyaratkan oleh huruf Fa' ta'qibiyah (yang menunjukkan urutan kejadian yang cepat) dalam firman-Nya: (Fa ja'at-hu ihdahuma) — 'Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu...'."

Selesai secara ringkas dari "At-Tahrir wat-Tanwir" (20/

102).

Ternyata wanita-wanita terbaik sepanjang masa,pemimpin wanita di surga nanti adalah wanita dengan takdir yang nampaknya tidak sempurna di mata manusia.

Maryam tidak memiliki pasangan.
Aisyah tidak memiliki keturunan.
Khadijah baru mendapatkan jodoh terbaiknya di umur 40 tahun.
Fatimah diuji kesempitan ekonomi.
Asiyah memiliki suami Firaun.

Ternyata wanita-wanita terbaik sepanjang masa,
pemimpin wanita di surga nanti adalah wanita dengan takdir yang nampaknya tidak sempurna di mata manusia.

Adakah yang berani merendahkan Syekh Al Albany...?

Adakah yang berani merendahkan Syekh Al Albany...? 

Coba tengok ini

Perpustakaan Milik Syekh Al Albany ada di kampus Universitas Islam Madinah 

Kitab kitabnya terdiri dari:
210 Manuskrip tulisan beliau
5293 jilid dan kitab-kitab beliau
ustadz bisri tujang 

Di antara kekeliruan anak, dan ini termasuk bentuk durhaka, adalah melarang ayah/ibu menikah lagi setelah salah satunya wafat.

Di antara kekeliruan anak, dan ini termasuk bentuk durhaka, adalah melarang ayah/ibu menikah lagi setelah salah satunya wafat.

𝟭. 𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗮𝗻𝗮𝗸 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗮𝘆𝗮𝗵𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗶𝗸𝗮𝗵 𝘀𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗶𝗯𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹?

Jika seorang ayah membutuhkan pernikahan setelah istrinya meninggal, tidak boleh seorang pun dari anak-anaknya melarangnya menikah. Sebab, melarang ayah menikah merupakan bentuk kedurhakaan kepadanya, sedangkan durhaka kepada orang tua termasuk dosa-dosa besar.

Sebagaimana kebutuhan untuk menikah dapat dimiliki oleh orang-orang yang masih muda, demikian pula kebutuhan tersebut dapat dimiliki oleh orang-orang yang sudah lanjut usia. Tidak ada alasan yang membolehkan anak-anak melarang ayah mereka menikah, sekalipun ayah tersebut telah berusia lanjut.

Kebutuhan untuk menikah tidak harus semata-mata karena dorongan syahwat. Bahkan, seseorang yang telah lanjut usia terkadang membutuhkan perawatan, perhatian, dan pelayanan, yang tidak dapat dilakukan oleh siapa pun kecuali istrinya.

Pada umumnya, anak-anak akan berpisah dari orang tua mereka setelah beberapa waktu. Masing-masing kemudian menjalani kehidupannya sendiri. Sang ayah yang malang itu tinggal seorang diri, merasakan pahitnya kesendirian. Ia merasakan keterasingan seiring bertambahnya usia, sementara kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri semakin berkurang.

Pada usia seperti ini, ia membutuhkan seseorang yang dapat melayaninya dan menemaninya. Allah telah membolehkan sesuatu yang dapat menghilangkan keadaan tersebut darinya serta menjaga kehormatannya, yang dalam banyak keadaan dapat hilang ketika seseorang dibiarkan tanpa makanan, tanpa perhatian, tanpa teman yang menemani, dan tanpa orang yang duduk bersamanya.

Karena itu, jika anak-anak mendapati bahwa ayah mereka membutuhkan pernikahan setelah ibu mereka meninggal, hendaknya mereka membantu dan tidak menghalanginya. Mereka hendaknya membantu sang ayah memilih seorang istri yang sesuai, yang mampu menghargai kondisinya, melayaninya, dan mengurus keperluannya.

Dalam hadis tentang tiga orang yang pernah melakukan perjalanan, disebutkan bahwa:

“…datanglah seorang wanita kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah seorang tua yang telah lanjut usia dan tidak mempunyai seorang pelayan. Apakah engkau tidak suka jika aku menjadi pelayannya?’ Beliau menjawab: ‘Tidak, tetapi aku tidak melarangmu.’”

Beliau ﷺ menggambarkan Hilal sebagai seorang tua yang telah lanjut usia dan tidak memiliki orang yang melayaninya. Maka, betapa besar kebutuhan seseorang pada usia seperti itu terhadap orang yang mengurus urusannya, agar dirinya tidak terlantar dan akhirnya binasa.


𝟮. 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗮𝗻𝗮𝗸-𝗮𝗻𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗶𝗯𝘂 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗶𝗸𝗮𝗵 𝘀𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗮𝘆𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹

Ini juga tidak boleh, dan termasuk bentuk kedurhakaan dan kezaliman.

Seorang wanita boleh menikah setelah suaminya meninggal dan setelah selesai masa idahnya. Dahulu, di antara para wanita dari kalangan sahabat dan generasi salaf yang saleh, ada yang menikah kembali segera setelah masa idah mereka dari suami yang telah meninggal selesai.

Di antara contohnya adalah kisah Subai‘ah binti al-Harits رضي الله عنها. Ia sebelumnya berada di bawah pernikahan (istri dari -ed) Sa‘d bin Khaulah, seorang laki-laki dari Bani ‘Amir bin Lu’ayy. Ia termasuk orang yang turut menyaksikan Perang Badar.

Sa‘d kemudian meninggal dunia ketika sedang berada dalam perjalanan haji wada‘, sementara Subai‘ah dalam keadaan hamil. Ia kemudian melahirkan tidak lama setelah suaminya meninggal. Setelah itu, ia berhias untuk menerima pinangan.

Kemudian Abu as-Sanabil bin Ba‘kak, seorang laki-laki dari Bani ‘Abdid-Dar, masuk menemuinya. Ia berkata kepadanya:

“Mengapa engkau berhias seperti ini? Demi Allah, engkau belum boleh menikah sampai berlalu empat bulan sepuluh hari.”

Subai‘ah رضي الله عنها berkata:

“Ketika ia mengatakan hal itu kepadaku, aku mengumpulkan pakaianku pada sore hari, lalu aku mendatangi Rasulullah ﷺ dan bertanya kepada beliau tentang masalah tersebut. Beliau ﷺ kemudian memberikan fatwa kepadaku bahwa aku telah halal ketika melahirkan kandunganku, dan beliau memerintahkanku untuk menikah jika aku menginginkannya.”

Kisah ini menunjukkan bahwa seorang wanita yang ditinggal wafat oleh suaminya tidak harus tetap menjanda, tetapi setelah selesai masa idahnya—bahkan bagi wanita hamil, masa idahnya berakhir dengan melahirkan—ia berhak menikah kembali.

Contoh lainnya adalah Asma’ binti ‘Umais رضي الله عنها. Ia termasuk wanita yang berhijrah ke Habasyah bersama suaminya, Ja‘far bin Abi Thalib رضي الله عنه. Setelah Ja‘far terbunuh, Asma’ kemudian menikah dengan Abu Bakar رضي الله عنه. Setelah Abu Bakar meninggal dunia, ia kemudian menikah dengan Ali رضي الله عنه.

Dengan demikian, anak-anak tidak berhak melarang ibu mereka menikah setelah ayah mereka meninggal, selama pernikahan tersebut dilakukan secara syar‘i. Menghalanginya tanpa alasan yang dibenarkan merupakan bentuk kedurhakaan dan kezaliman.

𝗸𝗲𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻:

Baik ayah maupun ibu yang ditinggal wafat oleh pasangannya tetap memiliki hak untuk menikah kembali. Anak bukanlah pemilik kehidupan orang tuanya. Jika orang tua membutuhkan pasangan, sikap yang semestinya dari seorang anak adalah membantu dan memudahkan, bukan menghalangi.
____
Dari kitab Ahkam Birrul Walidain karya syaikh Muhammad Shaleh al-Munajjid.

Sabtu, 29 Agustus 2026

E𝐧g𝐤a𝐮 𝐚k𝐚n m𝐞n𝐝a𝐩a𝐭i b𝐚n𝐲a𝐤 𝐦a𝐧u𝐬i𝐚 𝐲a𝐧g m𝐞m𝐛a𝐜a A𝐥-𝐐u𝐫`𝐚n n𝐚m𝐮n b𝐞r𝐬a𝐦a𝐚n i𝐭u m𝐞r𝐞k𝐚 𝐣u𝐠a t𝐞r𝐣a𝐭u𝐡 𝐝i d𝐚l𝐚m k𝐞s𝐲i𝐫i𝐤a𝐧 𝐝a𝐧 𝐦e𝐫e𝐦e𝐡k𝐚n t𝐚u𝐡i𝐝

E𝐧g𝐤a𝐮 𝐚k𝐚n m𝐞n𝐝a𝐩a𝐭i b𝐚n𝐲a𝐤 𝐦a𝐧u𝐬i𝐚 𝐲a𝐧g m𝐞m𝐛a𝐜a A𝐥-𝐐u𝐫`𝐚n n𝐚m𝐮n b𝐞r𝐬a𝐦a𝐚n i𝐭u m𝐞r𝐞k𝐚 𝐣u𝐠a t𝐞r𝐣a𝐭u𝐡 𝐝i d𝐚l𝐚m k𝐞s𝐲i𝐫i𝐤a𝐧 𝐝a𝐧 𝐦e𝐫e𝐦e𝐡k𝐚n t𝐚u𝐡i𝐝. P𝐚d𝐚h𝐚l p𝐞r𝐤a𝐫a t𝐚u𝐡i𝐝 𝐝a𝐧 𝐬y𝐢r𝐢k i𝐧i a𝐝a𝐥a𝐡 𝐩e𝐫k𝐚r𝐚 𝐲a𝐧g j𝐞l𝐚s d𝐢 𝐝a𝐥a𝐦 𝐊i𝐭a𝐛 𝐀l𝐥a𝐡 𝐝a𝐧 𝐝id𝐚l𝐚m S𝐮n𝐧a𝐡 𝐑a𝐬u𝐥u𝐥l𝐚h s𝐡a𝐥l𝐚l𝐥a𝐡u a𝐥a𝐢h𝐢 𝐰a s𝐚l𝐥a𝐦, H𝐚l i𝐧i d𝐢k𝐚r𝐞n𝐚k𝐚n m𝐞r𝐞k𝐚 𝐛e𝐫j𝐚l𝐚n d𝐢 𝐚t𝐚s a𝐝a𝐭 𝐤e𝐛i𝐚s𝐚a𝐧 𝐝a𝐧 𝐚p𝐚 𝐲a𝐧g m𝐞r𝐞k𝐚 𝐝a𝐩a𝐭i d𝐚r𝐢 𝐚y𝐚h-a𝐲a𝐡 𝐦e𝐫e𝐤a d𝐚n t𝐨k𝐨h-t𝐨k𝐨h m𝐞r𝐞k𝐚. S𝐞h𝐢n𝐠g𝐚 𝐲a𝐧g m𝐞n𝐣a𝐝i p𝐚t𝐨k𝐚n m𝐞n𝐮r𝐮t m𝐞r𝐞k𝐚 𝐚d𝐚l𝐚h a𝐩a y𝐚n𝐠 𝐦e𝐫e𝐤a d𝐚p𝐚t𝐢 𝐝a𝐫i b𝐚p𝐚k-b𝐚p𝐚k, 𝐭o𝐤o𝐡-𝐭o𝐤o𝐡, d𝐚n p𝐞n𝐝u𝐝u𝐤 𝐧e𝐠e𝐫i m𝐞r𝐞k𝐚. M𝐞r𝐞k𝐚 𝐭i𝐝a𝐤 𝐛e𝐫f𝐢k𝐢r w𝐚l𝐚u s𝐞b𝐞n𝐭a𝐫 𝐮n𝐭u𝐤 𝐦e𝐫e𝐧u𝐧g𝐢 𝐝a𝐧 𝐦e𝐧t𝐚d𝐚b𝐮r𝐢 𝐀l-Q𝐮r`a𝐧, k𝐞m𝐮d𝐢a𝐧 𝐦e𝐫e𝐤a 
𝐛a𝐧d𝐢n𝐠k𝐚n d𝐞n𝐠a𝐧 𝐩e𝐫i𝐥a𝐤u h𝐢d𝐮p m𝐚n𝐮s𝐢a, 𝐚p𝐚k𝐚h y𝐚n𝐠 𝐦e𝐫e𝐤a l𝐚k𝐮k𝐚n i𝐭u b𝐞n𝐚r a𝐭a𝐮 𝐭i𝐝a𝐤.

_____
Faidah dari Ta'lim 
kitab Ushulus sittah

Faedah daurah Lum'atul I'tiqad tadi malam

|| Faedah daurah Lum'atul I'tiqad tadi malam

📚Syaikhuna Dr. Mahir Khaujah hafizhahullah menyebutkan kepada kami cara simple mengenal orang yang terjangkit virus khawarij:

"Lihat kemana statemen yang ia tuturkan bermuara. Jika ujung ucapannya adalah naz'ul hakim (mencopot penguasa) maka ketahuilah ia berada di atas manhaj khawarij."

Hal ini beliau ulang beberapa kali pas kajian, juga di sejumlah kajian lainnya beliau menyinggung kaedah ini. 

📝Ciri seperti ini banyak kita temui pada orang-orang zaman sekarang. Mereka menyelinap di balik jubah Ahlussunnah namun nyatanya membawa virus merah jambu. 

Oleh karena itu ulama Ahlussunnah terkadang menyebutkan ciri spesifik khawarij adalah "al-khuruj" (keluar dari ketaatan) bukan takfir. Karena ga selamanya orang yang menyerukan kepada khuruj itu mengkafirkan pemimpin yang sedang berkuasa. 

🔎Awal diskusi biasanya mereka membahas persoalan umum seperti sistem demokrasi, negara Islam, berhukum kepada selain syariat, ketaatan, kezhaliman penguasa, dll, namun di akhir cerita antum akan dapati kesimpulan ucapan mereka adalah penguasa sekarang tak layak menjabat. Mereka ingin penguasa diganti, jika tidak mereka ga akan puas. 

🖋Isi postingannya akan sering ditemukan membahas politik dan meng-ghibah penguasa dengan dalih rakyat berhak bersuara. Itulah makanan sehari-hari mereka setiap bergantinya penguasa negeri ini. Mereka tak mengubah keadaan, cuma modal koar-koar tanpa ilmu. 

⚠️Orang-orang seperti ini harus dihindari. Jika antum tidak punya asas ilmu aqidah yang kuat dalam masalah ini antum bisa terbuai dengan syubhat halus mereka. 
نسأل الله السلامة والتوفيق
Ustadz muhammad taufiq

Jumat, 28 Agustus 2026

■ من فقه #الخطيب ألا يجعل طول الخطبة مقياساً لعلمه وبلاغته، فإن خير الكلام ما قل ودل، وأصاب موضع الحاجة.

■ من فقه #الخطيب ألا يجعل طول الخطبة مقياساً لعلمه وبلاغته، فإن خير الكلام ما قل ودل، وأصاب موضع الحاجة.

● قال النبي ﷺ: (إنَّ طولَ صلاةِ الرجلِ و قِصَرَ خُطبتِه مَئِنَّةٌ من فقهِه ، فأَطيلوا الصلاةَ ، و أَقصِروا الخُطبةَ)
📚 صحيح مسلم (869)

فجعل ﷺ قصر #الخطبة علامةً على الفقه؛ لأن الفقيه يعرف قدر الحاجة، ويعلم أن المقصود من الخطبة هداية القلوب وتذكيرها، لا استنفاد الوقت، ولا استعراض المحفوظات.

وإذا كان هذا هو الأصل، فإن الفقه يزداد ظهوراً عند تغير الأحوال ونزول المشقات؛ ففي أيام اشتداد الحر
و #انقطاع_التيار_الكهربائي عن كثير من #المساجد، وما يصحب ذلك من شدة على المصلين، يكون تقصير الخطبة مع استيفاء مقصودها من تمام الفقه وحسن الرعاية.

فما أبعد #الفقه عمن يرى الناس في شدة، ثم يطيل عليهم بحجة أنه قد أعد كلاماً كثيراً !

إن #المنبر ليس موضعاً ليقول الخطيب كل ما عنده، وإنما موضعٌ ليقول ما يحتاج إليه الناس، بالقدر الذي يبلغ القلوب ولا يرهق الأبدان.

■ الفقيه في خطبته من جمع بين قوة الموعظة، وقلة التكلف، ومراعاة أحوال الناس.

ومن #فقه_النص أن تقصر الخطبة، ومن #فقه_الواقع أن تراعي مشقة المصلين.

فلا إخلال بالمقصود، ولا إطالة تورث السآمة والمشقة؛ وإنما بيانٌ بليغ، وموعظةٌ نافعة، ورفقٌ بالناس.

https://t.me/mashayikhlibia

■ Di antara fikih (pemahaman) seorang khatib adalah tidak menjadikan panjangnya khutbah sebagai ukuran bagi keilmuan dan kebalagahannya (keluwesan berbahasanya). Sebab, sebaik-baik perkataan adalah yang singkat namun padat (qalla wa dalla) serta tepat mengenai sasaran kebutuhan.
● Nabi ﷺ bersabda:
(“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan singkatnya khutbah merupakan tanda dari pemahamannya (fikihnya). Maka panjangkanlah shalat dan persingkatlah khutbah.”)
📚 Sahih Muslim (869)
Beliau ﷺ menjadikan singkatnya khutbah sebagai tanda keilmuan/pemahaman; karena seorang yang ahli fikih (faqih) mengetahui kadar kebutuhan jemaah. Ia menyadari bahwa tujuan khutbah adalah untuk memberi hidayah dan peringatan bagi hati, bukan untuk menghabiskan waktu atau memamerkan hafalan.
Jika ini adalah hukum asalnya, maka pemahaman fikih tersebut dituntut untuk lebih tampak lagi ketika keadaan berubah dan muncul kesulitan. Misalnya, pada hari-hari ketika cuaca sangat panas dan terjadi pemadaman listrik di banyak masjid, yang disertai dengan rasa berat/gerah pada para jemaah, maka mempersingkat khutbah—tanpa mengurangi tujuannya—merupakan bagian dari kesempurnaan fikih dan bentuk pengayoman yang baik.
Betapa jauhnya fikih dari seseorang yang melihat jemaahnya berada dalam kesulitan, namun ia justru memperpanjang khutbahnya dengan alasan telah menyiapkan materi yang banyak!
Sesungguhnya mimbar bukanlah tempat bagi khatib untuk menyampaikan semua hal yang ia miliki, melainkan tempat untuk menyampaikan apa yang dibutuhkan oleh jemaah, dengan kadar yang dapat meresap ke dalam hati tanpa menyiksa fisik.
■ Seorang yang faqih dalam khutbahnya adalah orang yang menggabungkan antara kuatnya nasihat, minimnya sikap memaksakan diri (tikalluf), serta perhatian terhadap kondisi jemaah.
Di antara fikih terhadap dalil/teks (fiqh an-naṣṣ) adalah mempersingkat khutbah, dan di antara fikih terhadap realita (fiqh al-wāqi') adalah memperhatikan kesulitan para jemaah.
Maka, tidak boleh ada pengurangan pada tujuan khutbah, tidak boleh pula ada pemanjangan khutbah yang memicu rasa bosan dan kesulitan; melainkan penjelasan yang lugas (balīgh), nasihat yang bermanfaat, serta sikap lembut kepada sesama.


Hakikat Kehidupan Dunia dan Perumpamaannya

[Hakikat Kehidupan Dunia dan Perumpamaannya]

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

 «مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا»

"Ada urusan apa aku dengan dunia ini? Tidaklah aku di dunia ini melainkan hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya." [H.R. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim]

Dan dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، وَمَا لِلدُّنْيَا وَلِي، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مَثَلِي وَمَثَلُ الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ سَارَ فِي يَوْمٍ صَائِفٍ، فَاسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا»

 "Ada urusan apa aku dengan dunia, dan ada urusan apa dunia dengan diriku? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini melainkan hanyalah seperti seorang pengendara yang berjalan di hari yang sangat panas, lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon sesaat di siang hari, kemudian ia pergi dan meninggalkannya." 

Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily hafizhahullah di kajian Masjid Nabawy menjelaskan:

​Makna «مَا لِي وَلِلدُّنْيَا» (ada urusan apa aku dengan dunia ini) adalah: aku tidak memiliki rasa cinta kepada dunia yang dapat mengikatku padanya dan menjadikanku lupa akan apa yang menantiku di hadapanku setelah kematianku. "Ada urusan apa aku dengan dunia ini"; aku tidak memiliki rasa cinta kepada dunia yang mengikatku padanya dan menjadikanku lupa akan apa yang menantiku di negeri akhirat kelak.

​Hal tersebut tidak akan benar-benar terealisasi (di dalam hati) melainkan bagi orang yang mengetahui kadar (nilai) dunia dan menimbangnya dengan timbangan yang benar. Ia yakin bahwa selama apa pun hari-harinya, dunia itu sangatlah pendek dan cepat berlalu, dan seindah apa pun ia, dunia pasti akan sirna. Segala sesuatu yang ada di dalamnya akan berlalu; manisnya akan berlalu, pahitnya pun akan berlalu, dan ia tidak akan pernah menetap pada satu keadaan.

​Ia juga mengetahui dan meyakini bahwa sejak ia dilahirkan, ia terus berjalan menuju akhirat. Sebagaimana ia keluar menuju dunia dari kegelapan rahim, ia juga akan berpisah darinya menuju kegelapan kubur. Di dunia ini, ia berada di antara dua kegelapan. Dan kuburan tidak akan pernah diterangi untuknya kecuali jika ia telah mengetahui nilai dunia (yang sebenarnya) dan tidak mengutamakannya di atas akhirat.

Qultu:

Dalam realita kehidupan, ini mirip dengan orang yang sedang melakukan perjalanan jauh lintas kota (misalnya mudik), lalu ia singgah di rest area untuk beristirahat sebentar, minum, dan buang air. Tidak ada orang berakal yang akan menghabiskan seluruh tabungannya untuk membeli material dan membangun rumah permanen yang mewah di rest area tersebut, karena ia tahu ia akan segera pergi melanjutkankan perjalanan ke kampung halaman. Begitulah dunia, ia hanya perbekalan sementara untuk negeri akhirat.

Syaikh menjelaskan bahwa "manisnya akan berlalu, pahitnya pun akan berlalu".

Na'am. Manisnya akan berlalu, pahitnya pun akan berlalu.

Semoga bermanfaat.
Uhaj

Ensiklopedi Akhlak Penguasa dalam Syariat islam

قراءة لكتاب
"موسوعة أخلاق الحكام في الشريعة الإسلامية"
للعلّامة الشيخ أبي عبد الرحمن عبد الباقي حقّاني
.
بقلم فضيلة الشيخ الدكتور:
علي محمَّد محمَّد الصلَّابي
.
.
بسم الله الرحمن الرحيم
.
هذه قراءة متأنية لكتاب "موسوعة أخلاق الحكام في الشريعة الإسلامية"، للعلّامة الشيخ أبي عبد الرحمن عبد الباقي حقّاني، وهو العالم الأفغاني الجليل الذي جمع بين سموّ العلم وصلابة العمل، وكرّس جهوده لبيان أسس السياسة والإدارة في الإسلام. وقد ألّف كتباً نافعة كانت ولا تزال الأمة في أشدّ الحاجة إليها، خاصة في هذا العصر.
وأنا أكتب عن هذا الكتاب تذكرّت كتاب "الأمير" للكاتب والسياسي الإيطالي نيكولو مكيافيلي، والذي اهتمّ به الحكام والأمراء والملوك منذ أن خرج وتربّت عليه أجيال وأجيال من الحكام المسلمين وغير المسلمين، فقلت لعلّ الله عزّ وجل وباسمه الفتّاح العليم أن يفتح بهذا الكتاب قلوب الحكّام المسلمين، ويكون سبباً في هداية غيرهم لمعرفة عظمة هذا الدين من خلال أخلاق الحكّام في الشريعة الإسلامية.
فالشيخ الدكتور عبد الباقي وضع على صفحة الكتاب: (القائد لا يمكن أن يكون عظيماً مالم يكن على خلق عظيم؛ فإنّ قوّة الخُلُقْ كانت دائماً في مقدّمة خصائص القادة العظام)
واعتبر الشيخ أنّ النبيّ ﷺ قائداً للحكم الرشيد، ومعلماً لمبادئ الشريعة الإسلامية، وأنّ الأخلاق ركيزة أساسية في بناء الدولة واستقرارها. وأنّ الحكم في الإسلام ليس تسلطاً ولا استعباداً، بل هو أمانة ومسؤولية كما قال رسول الله ﷺ (كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته).
ودعا الشيخ في كتابه إلى الحاجة الملحّة إلى العودة إلى الأصول الشرعية في الحكم والسياسة وإحياء المنظومة الأخلاقية، التي أرساها الإسلام حتّى تستعيد الأمة مكانتها، وتتمكن من إقامة نظام سياسي رشيد يحقق العدل ويضمن الحقوق ويحفظ الدين والدنيا معاً.
ولا شكّ أنّ مستقبل الأمة الإسلامية مرهون بإعداد قادة مؤهلين لإقامة نظام سياسي وإداري، قائم على هدي النبّوة والخلافة الراشدة والحكم الرشيد. فالسياسة في الإسلام منوطٌ بها الحفاظ على الضرورات الخمس في حفظ الدين والنفس والعقل والمال والعرض.
وللسياسة أهداف عظيمة بيّنها القرآن الكريم ومارسها الرسول ﷺ وهي علم وفن قائم على أسس شرعية متينة تجمع بين الفقه الشرعي، وفقه الواقع والموازنات، ودفع المفاسد وجلب المصالح. وتحتاج إلى مهارات قياديّة وأخلاق راسخة في الحاكم والأمير أو الرئيس لتتيح للقادة إدارة شؤون الشعوب وفق منهج الإسلام الشامل المبنيّ على العدل والحكمة والرحمة والمصلحة.
إنّ الكتاب يبيّن حاجة الأمّة إلى مناهج تربوية وعلمية في السياسة والإدارة والأخلاق ليعتمد عليها قادة المستقبل وحكام الأمة. وهذا دور العلماء والمفكرين والفقهاء لكي يساهموا في إعداد قادة أكفّاء متضلعين في السياسة الشرعية. وهذا من الركائز المهمة لإقامة حكم رشيد قادر على التصدّي للأفكار الدخيلة، والسياسات الإبليسية التي تهدد هوية وعقيدة وقيم ومرتكزات الشعوب الإسلامية.
إن الشيخ عبد الباقي قدّم دراسة عميقة تعمل على سدّ الفجوة بين الفقه السياسي والواقع المعاصر، وقدم رؤية شرعية تعين القادة والمسؤولين على اتّباع نهج النبوة في إدارة شؤون الأمة، واستند في دراسته الواسعة على القرآن الكريم والسنة النبويّة وسير الخلفاء الراشدين واسترشد بآراء واجتهادات العلماء في السياسة الشرعية.
إنّ هذه الدراسة جمعت بين التأصيل الشرعي والتحليل التاريخي وبين المقاربة الفكرية والتطبيق المؤسسي. وهذه الدراسات نادرة في مكتبتنا المعاصرة، فجاءت هذه الموسوعة لتسدّ هذا النقص، وتكوّن لبنة في بناء مرجعيّة علميّة شرعية ثقافية حضارية تاريخية تعتني بأخلاق الحكام والساسة والقادة والإداريين في الإسلام.
وقد قدّم الدكتور العلامة عبد الباقي حقاني دراسة اهتمت بالتأصيل النظري في تحرير المفاهيم الأخلاقية في الإسلام، وبيان مراتبها وأنواعها ومصادرها واستجلاء فضائلها وطرق اكتسابها وفق منهج علمي جمع بين النصوص الشرعية والتحليلات الفقهية والقيادية التي ينبغي أن يتحلى بها الحاكم ومسؤول الإدارة، كالأمانة والعدل والرحمة والشورى والمحاسبة وتوزيع الأعمال بعدالة.
واهتم بالبناء التطبيقي وقدم اقتراحاً علمياً لإدماج الأخلاق في مؤسسات الحكم والإدارة في العصر الحديث؛ بما يضمن الشفافية والمساءلة ويعيد الثقة بين الأمة وحكامها.
ولا شك أنّ الدراسة إضافة علمية وأثرت الدراسات الإسلاميّة بمرجع موسوعي يخاطب العقل الأكاديمي ويقدم مادته بلغة تراثية أصيلة تستجيب لمقتضيات البحث المعاصر.
وقد استخدم العلامة عبد الباقي حقاني الأفغاني مناهج متعددة تتكامل وتتساند وتتعاون في خدمة مقاصد وأهداف هذا البحث الموسوعي، فقد ركّز على:
- المنهج النصّي الشرعي: لتحليل الآيات القرآنية والأحاديث النبويّة وأقوال العلماء أي: الأساس النظري للأخلاق الإسلامية وهذا الغالب في الفصل الأول.
- المنهج التاريخي الوصفي: باستقراء سير الخلفاء والحكام، وتحليل ممارساتهم الأخلاقية والسياسية ويظهر ذلك في الفصل الثاني (الخصائص الأخلاقية والفكرية لمسؤول الإدارة الإسلامية).
- المنهج التحليلي المقارن: بمقابلة الأطر الإسلامية بنماذج الإدارة الحديثة، لاستخلاص ما يمكن تكييفه بما لا يخالف مقاصد الشريعة وهو حاضر في الفصلين الثاني والثالث.
- المنهج التطبيقي الإصلاحي: يطرح آليات واقعية لتنمية الأخلاق ومعالجة الانحراف في الحكم والإدارة.
- المنهج التركيبي النظري: بجمع نتائج المناهج السابقة في إطار جامع يُقدّم نموذجاً متماسكاً لأخلاق الحكم الإسلامي.
وسار الشيخ عبد الباقي حقاني حفظه الله في خط منهجي متناسق: من التأصيل إلى الوصف والتحليل، ثمّ إلى التطبيق والإصلاح.
إنّ حكام المسلمين ملوك وأمراء وسلاطين ورؤساء، على خطر عظيم إذا لم يتقوا الله في أنفسهم وشعوبهم وأمته. وهذه الدراسة تفتح لهم آفاقاً واسعة، وترسم لهم طريقاً بيّناً في أداء مهمتهم التي ابتلاهم الله بها، لكي يقوموا بعبادة الله من خلال منصب الحكم الذي يعتبر من أعظم العبادات إذا اتقى الحاكم فيها الله عزّ وجل، فيكون سبباً في دخول جنان الله الواسعة ورضوان الله ورفقة النبيين والصديقين والشهداء والصالحين، أو العكس والعياذ بالله عندما يسير على نهج إبليس في الحكم ويتقمّص الأخلاق الشيطانية، ويتبع وسائل الفراعنة في الحكم فيقع في قول الله تعالى: ﴿وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ ۝٩٦ إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَاتَّبَعُوا أَمْرَ فِرْعَوْنَ وَمَا أَمْرُ فِرْعَوْنَ بِرَشِيدٍ ۝٩٧ يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ ۝٩٨ وَأُتْبِعُوا فِي هَذِهِ لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ بِئْسَ الرِّفْدُ الْمَرْفُودُ ۝٩٩﴾.
وفي هذا الكتاب بصائر وهدايات ترسم طرق النجاة لمن اختبرهم الله بمنصب الحكم. وقسم الشيخ عبد الباقي كتابه إلى فصول، فكان الفصل الأول: الأساس النظري للأخلاق الإسلامية؛ فتحدث عن ماهية الأخلاق، وعن المقصود بالأخلاق الحسنة، وأنواع الأخلاق وأصولها وفوائدها، ومكارم الأخلاق، ومصادرها من القرآن والسنة النبوية.
وفي المبحث الثاني: مكانة الأخلاق وأهميتها، وتحدّث عن فضائل الأخلاق في سلوك الفرد والمجتمع والأمة، وأن مكارم الأخلاق ضرورة اجتماعية، وأنها تدخل في كل القطاعات الإنسانية، ودور الأخلاق في قيام الدول والحضارات، وضرورة تهذيب الأخلاق في السياسة والأخلاق.
وتكلم عن وسائل اكتساب الأخلاق وذكر أهمها: تصحيح العقيدة والعبادات ومصاحبة الأخيار وأهل الأخلاق الفاضلة، والعيش في البيئات الصالحة، والذهاب إلى أهل العلم والفضل وذوي المروءات، وصلاح المجتمع وضغطه على أفراده، وإدامة النظر في القرآن الكريم والسيرة النبوية، والنظر في سير الصحابة الكرام وأهل الفضل والعلم، من التابعين وخير الأمة عبر العصور، وسلطان الدولة الإسلامية، فللدولة الأثر الفعال في إلزام الأفراد والجماعات بالمنهج الأخلاقي الذي رسمه الإسلام للناس، وفي تربية نفوسهم وقلوبهم على الفضائل الأخلاقية. وكما جاء في الأثر: إن الله ليزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآن.
وفي (الفصل الثاني): الخصائص الأخلاقية والفكرية لمسؤول الإدارة الإسلامية.
وفي المبحث الأول: الخصائص الدينية والإيمانية وذكر منها:
1- الإسلام: فلا يجوز أن يتولى الحاكم أمر المسلمين، وهو غير مؤمن بالله ورسوله ولا بشريعة الإسلام. وأن يكون الحاكم معتقداً بضرورة تطبيق أحكام الشريعة الإسلامية القائمة على العدل والحكمة والرحمة والمصلحة في الدنيا والآخرة. وهذا الشرط يعتبر أساساً لضمان العدالة واستقرار الحكم وفقاً لقيم الإسلام، فقد كان الخلفاء الراشدون، مثل أبي بكر وعمر وعثمان وعلي رضي الله عنهم مسلمين ملتزمين بالشريعة كلها. وقد جرت أحكامهم في دولة الخلفاء الراشدين وفقاً لأحكام الإسلام. والمراد من ضرورة وصف الإسلام في الحاكم، هو أن الحاكم يجب أن يكون مسلماً. وهذا شرط شرعي في الفقه الإسلامي، لضمان تطبيق الشريعة وتحقيق مصلحة الأمة.
2- التفقه بأحكام الدين: وهو من الخصائص الأخلاقية، والفكرية لمسؤول الإدارة الإسلامية. والمراد هو أن يكون الحاكم (ولي الأمر، القاضي، الإمام، أي مسؤول يتولى شؤون الحكم) عالماً بالأحكام الشرعية وفقهياً في الدين ليتمكن من إدارة شؤون الناس وفق الشريعة الإسلامية، والحكم بينهم بالعدل واتخاذ القرارات على أساس أصول الشريعة، فمن واجب الحاكم أن يتفقه في دينه، وأن يتّبع سيرة النبي ﷺ في حكمة واعتدال لتحقيق المصالح العامة. ويمكن أن يساعد الملك أو الأمير أو الرئيس مجالس استشارية ولجان فنية وخبراء في كافة علوم المعرفة، يحيطون به ويساعدونه على أن يقوم بعلم ومعرفة وفقه في الأمور.
قال عمر بن عبد العزيز – رحمه الله -: من عمل بغير علم كان ما يهدم أكثر مما يبني.
إنّ الشيخ عبد الباقي حقاني حفظه الله يؤكد على أنّ قيام الحكم الإسلامي يستوجب أن تؤلَّف الحكومات من الذين يؤمنون بالنظام الإسلامي، وممن لاهمّ لهم إلا إقامة الإسلام. واستدل على ذلك بأقوال العلماء السابقين واللاحقين، وبيّن من خلال أقوالهم التي نقلها في كتابه أنّ التجارب أثبتت أن الحكام المسلمين الذين يجهلون الإسلام، ولا يعملون على إقامة أحكامه كانوا ومازالوا حرباً على الإسلام وآلة طيّعة في يد أعداء الله الذين يكيدون للمسلمين والإسلام. وفي عهود هؤلاء الحكام الجهال استبيحت حرمات الإسلام، فحرّم ما أحل الله، وأحل ما حرم الله وانتشر الفساد في المجتمع الإسلامي، وشاعت الفاحشة وانحسر مدّ الإسلام وذهبت ريحه. واستدل بكلام عبد القادر عودة – رحمه الله – في كتابه (المال والحكم في الإسلام) الذي بيّن أن هذا منطق البشر ومنطق الواقع ومنطق التجارب.
3- الإخلاص لله تعالى: والمراد أن يكون مخلصاً في نيته وعمله لله وحده، لا يبتغي بعمله سلطاناً أو شهرة أو منفعة دنيوية، بل يقصد رضا الله وخدمة الناس وفق شرع الله وقانونه السماوي. واستدل بالآيات والأحاديث على ذلك وبأقوال العلماء وذكر من بينها قول العلامة القلعي المتوفي سنة 360ه من كتابه (تهذيب الرياسة وتهذيب السياسة) قوله:" من مكنه الله في أرضه وبلاده وائتمنه في خلقه وعباده وبسط يده وسلطانه ورفع محله ومكانه فحقيق عليه أن يؤدي الأمانة ويخلص الديانة ويحمل السيرة ويحسن السريرة ويجعل العدل دأبه المعهود والأجر غرضه المقصود".
4- التقوى وتمكسه الشديد بالشريعة: إن من يتولى الحكم يجب أن يتصف بصفات أخلاقية ودينية عالية، وعلى رأسها التقوى والتي تعني: الخوف من الله في السر والعلن والتزام أوامره واجتناب نواهيه، وهي صفة ضرورية للحاكم حتى يحكم بالعدل، قال الإمام الماوردي – رحمه الله -:" ينبغي للملك أن يأنف من أن يكون في رعيته من هو أفضل ديناً منه كما يأنف أن يكون في رعيته من هو أنفذ أمراً منه"
وفوائد تقوى الله لكل مسلم وللحاكم أو الرئيس أو الأمير أو المسؤول؛ كثيرة، منها: معية الله تعالى، وتكفير الذنوب، وتعظيم الأجر، واليسر والسهولة، والعون والنصرة من الله، والأمن من البلية، ونيل الوصال والقربة وعزّ الفوقيّة الربانية، والخروج من الهم والمحنة والوعد بالرزق الواحد، والنجاة من العذاب، والفوز بالجنة، ومحبة الله عز وجل. وفي هذه الفوائد والثمار آيات كثيرة تدل على ذلك. ومما يترتب على تقوى الحاكم:
 ضمان العدل والنزاهة.
 حماية مصالح الأمة.
 القدوة الحسنة.
 الاستقرار والطمأنينة بين الحاكم والمحكوم والراعي والرعية والرئيس والمرؤوس.
5- الاستقامة التامة: ينبغي أن يكون شخصاً عادلاً ملتزماً بالأخلاق، والشريعة والعدل وأداء الحقوق وترك الظلم والفساد. والمراد أن يكون الحاكم متصفاً بكمال العدالة والاستقامة في الدين والسلوك بحيث لا يُعرف عنه انحراف في العقيدة، أو فجور في السلوك، أو ظلم في المعاملة، بل يكون قدوة حسنة في أخلاقه وأفعاله ملتزماً بأوامر الشريعة مجتنباً نواهيها. واستدل بآيات وأحاديث عن أهمية الاستقامة للحاكم وبين أن انحراف الحاكم عن الاستقامة يؤدي إلى الظلم والفساد، وانهيار الدولة وتمزق المجتمع فالاستقامة ليست مجرد صفة كمالية للحاكم، بل هي شرط ضروري لشرعية حكمه وصحة قراراته واستمرار ثقته لدى الناس، ونجاحه في إقامة العدل وحفظ الأمن وتقدم الأمة. قال عمر بن الخطاب (رضي الله عنه): الاستقامة: أن تستقيم على الأمر والنهي ولا تروغ روغان الثعالب. إن صاحب الاستقامة يثق به الناس ويحبه شعبه ومواطنيه، وهي من أعظم الكرامات للناس ومن بينهم الحكام وهي دليل اليقين ومرضات رب العالمين.
6- تنفيذ الأحكام على نفسه وعشيرته وأقاربه ومن حوله أولاً: إن الحاكم العادل يجب أن يبدأ بتطبيق القوانين والعدالة على نفسه وأقاربه قبل غيره من الناس حتى يكون ثقة ويكسب ثقة الرعية ويثبت للجميع أن القانون لا يستثني أحداً مهما علت منزلته أو قربه من السلطة، قال تعالى: ﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾.
كان عمر بن الخطاب (رضي الله عنه) إذا نهى الناس عن شيء دخل على أهله فقال: إني نهيت الناس عن كذا وكذا، وإن الناس ينظرون إليكم كما ينظر الطير إلى اللحم، فإن وقعتم وقعوا، وإن هبتم هابوا وإني والله لا أوتي برجل منكم وقع مما نهيت الناس عن، إلا ضاعفت له العذاب لمكانه مني، فمن شاء منكم فليتقدم ومن شاء فليتأخر. إن تنفيذ الحاكم الأحكام على نفسه وعشيرته وأقاربه هو علامة على عدله ونزاهته وهو ضرورة لبناء دولة قائمة على الثقة والمساواة والاحترام للقانون.
7- الإصرار على إصلاح نفسه: فحاجة الحاكم إلى إصلاح نفسه أشد من حاجته إلى إصلاح رعيته لأن ذلك يترتب عليه إصلاح الرعية، قال أبو بكر الصديق (رضي الله عنه) في وصيته لعمر: أعلم أنهم لن يزالوا منك خائفين ما خفت الله ولك مستقيمين ما استقامت طريقتك. وقال عمر (رضي الله عنه): فإذا رتع الإمام رتعوا. وكتب إلى أبي موسى الأشعري: واعلم أن العامل إذا زاغ زاغت رعيته وأشقى الناس من شقيت به رعيته. ولا يمكن إصلاح الرعية والحاكم في فساد عريض وموغلاً فيه ولا ينجح في الإرشاد من كان من زعماء الغواية ولا يكون معلماً للهداية من كان من أئمة الضلال. إن الحرص على إصلاح الحاكم نفسه طريق النجاة لدولته وشعبه ودنياه وآخرته، لأن الحكم ليس منصباً للزينة أو الوجاهة بل مسؤولية عظيمة أمام الله والناس تتطلب شخصية متمسكة بالمحاسبة الذاتية الدائمة.
8- الأسوة والقدوة الحسنة للرعية: في السلوك والأخلاق والعبادة والتقوى والعدل والرحمة والحكمة والإدارة والحزم والعفو والعمل والاجتهاد، فالحاكم قدوة للوزراء ومسؤولي الدولة وأفراد المجتمع وقد امتلأت صفحات التاريخ الراشدي في عهد أبي بكر وعمر وعثمان وعلي بالأسوة الحسنة، في الصدق والأمانة والتواضع والزهد والشجاعة والثبات على الحق، وحسن المعاملة للناس، فقد كان الخلفاء الراشدون يعيشون بين الناس ويتحملون المسؤولية أمام الله وأمام الأمة وقدموا نموذجاً للاقتداء بهم والسير على منهجهم. وذكر الدكتور العلامة عبد الباقي الحقاني الكثير من الأمثلة الدالة على ذلك.
وفي المبحث الثاني، كان حديثه عن الخصائص والأخلاق القيادية والإدارية فذكر منها:
1. القوة وأداء الأمانة.
2. حسن الولاية والتفوق في الدراية السياسية.
3. الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر.
4. الطاعة في المعروف وشرائط الطاعة للحاكم المسلم.
5. اتباع الحق والعمل به.
6. عدم الخوف من لومة لائم وانتقادات الآخرين.
7. السكينة والوقار.
8. الاعتدال والوسطية في كل الأمور في العبادة والأخلاق والإنفاق والحب والبغض والطعام والشراب واللباس وفي السير وفي النوم...إلخ.
9. العدالة الاجتماعية عن أنواعها وأهميتها وطرق تنفيذها وفوائدها.
10. الإحسان: وعن عاقبته وتعميمه ومظاهره.
11. الرحمة والشفقة وصورها وضرورتها وأسبابها وأهميتها للحكام.
12. الصدق في الأقوال والأفعال، وأثره في الحاكم وانعكاس ذلك على الشعوب.
13. الوفاء بالعهود، وأهميته للحكام وفوائده.
14. القدرة على التوجيه والفصاحة.
15. مراعاة التخطيط المنظّم والانضباط السليم.
16. الخبرة والشجاعة.
17. الجهاد وكفالة المجاهدين وأسرهم.
18. الكرم والجود والسخاء والإيثار.
19. إنجاز شؤون الدولة وتحقيق أهدافها.
20. العفة والعفاف.
21. الحلم.
22. الصبر وتحمّل المشاق.
23. الحياء.
24. الصفح والعفو عند المقدرة.
25. سلامة الصدر.
26. الرفق ولين الجانب.
27. المداراة مع المخالفين وحل مشاكلهم.
28. الأناة والتبين وعدم المبادرة في معاقبة المجرم.
29. إنزال الناس منازلهم.
30. الشكر والتقدير.
31. الثناء وتحفيز العاملين.
32. تسهيل لقاء الناس والتيسير عليهم.
33. توزيع الأعمال وفق الكفاءة العملية.
34. التواضع وعدم الترفع على الآخرين بسبب نمط حياة الشخص.
35. تحديد الاختصاصات وفق العدل والمصلحة.
36. عدم الاعتماد على التزكية وحدها (حتى من الثقات) في التوظيف والتعيين.
37. الإشراف المباشر والمحاسبة الدائمة.
38. الاعتراف بالخطأ وعدم الإصرار عليه.
39. حسن التعامل والتعاون على البر والتقوى.
40. إنجاز العمل بنفسه.
41. إنجاز الأعمال في حينها وميعادها.
42. الإتقان في العمل.
43. تفقد أحوال الرعية وحل مشاكلها.
44. قبول الشفاعة الحسنة.
45. استشارة من يكون أهلاً لها.
46. الحزم والعزم والإرادة القوية في الحكم.
47. الرغبة في الرقي والتطوير والترغيب في ذلك.
48. التواضع وهضم النفس.
49. مباشرة الأعمال الشخصية بنفسه دون الإيكال إلى الغير.
50. تقدير الكرام ووجوه الناس.
51. السياسة الحكيمة تُرعب الأعداء وتحافظ على هيبة الدولة.
52. البصيرة والفطنة والفراسة.
53. الإصغاء للشكاوى على الولاة والموظفين وعدم الاستماع للوشاة.
54. الشعور بالمسؤولية.
55. الحفاظ على بيت المال.
56. علو الهمة.
57. المعاملة مع ولاته ورعيته معاملة الأولاد.
58. اختيار خشونة العيش.
59. الانشغال بأهم الأعمال وعدم الانشغال بالترف.
60. مراعاة الصحة ومزاولة الأعمال قدر الاستطاعة.
61. حفظ الأسرار وعدم إفشائها.
62. الرضا بنصح المصلحين ونقدهم للحاكم.
هذه موسوعة أخلاق الحكام في الشريعة الإسلامية التي قدمها الدكتور عبد الباقي الحقاني للمهتمين بهذا النوع من الدراسات فالأمة في أشد الحاجة إلى معرفة أخلاق الحكام في الشريعة الإسلامية. وكل خلق تحدث عنه الشيخ أصّل له من القرآن الكريم والسنة النبوية الشريفة وهدي الخلفاء الراشدين، وأيّد ما وصل إليه من خلال أقول العلماء الذين اهتموا بهذا الفن من علوم السياسة الشرعية، وجمع بين المصادر القديمة والمراجع الحديثة بأسلوب عصره.
وفي نهاية الكتاب عقد الفصل الثالث: الأخلاق ومعالجة الانحراف الأخلاقي. وتحدث في المبحث الأول: عن تنمية الأخلاق وطرق تحصيل الأخلاق الحسنة، وفقه الخلق، وفوائده وأسباب التخلي عن الأخلاق الحسنة.
وفي المبحث الثاني: معالجة الانحراف الأخلاقي وأساليب معالجته بتصحيح العقيدة والمداومة على العبادات، والتدريب العملي والرياضة النفسية، والنظر في عواقب سوء الخلق، والقدوة الحسنة والتواصي بحسن الخلق.
وفي المبحث الثالث: فوائد اختيار الكفء وأضرار اختيار غير الكفء.
وفي المبحث الرابع: آداب الموظف المرؤوس.
إن هذه الموسوعة المباركة تبين لعلماء الأمة وقادتها في كافة المجالات السياسية والاقتصادية والاجتماعية والعسكرية والأمنية، وهو أن:
1- الأخلاق في الحاكم أصل في شرعية ولايته، وليست أمراً ثانوياً أو تجميلياً.
2- العدالة والشورى والأمانة قيم لا تقوم بذاتها بل تحتاج إلى ترجمة مؤسسية وإجراءات عملية.
3- الانحراف الأخلاقي لا يعالج بالوعظ وحده، بل منظومة متكاملة تشمل التربية والتشريع والرقابة.
4- معالجة هذا الانحراف، لا تكون بالتربية فقط، بل بإنشاء أنظمة رقابية وقانونية ومجتمعية متكاملة.
5- اختيار المسؤولين على أساس الأمانة والكفاءة فرض شرعي وضرورة حضارية، لضمان صلاح الحكم واستقامة الإدارة.
إن هذا العمل الموسوعي الكبير الذي قام به أحد أعلام الأمة الكبار من علماء العالم الإسلامي، يدخل في صميم المشروع الحضاري لهذه الأمة، وتعتبر سلسلة الشيخ عبد الباقي في السياسة والإدارة في الإسلام، وكتابه حفظ الأسرار وإفشاؤها في الشريعة الإسلامية، وهذه الموسوعة؛ من المراجع والمصادر المهمة في فقه السياسة الشرعية، وإدارة الدولة، ونظم الحكم، وطبيعة الحكومات وزعمائها الذين يريدون السير على نهج الشريعة الإسلامية في إدارة الحكم الرشيد. وهذه الدراسات تساهم مساهمة عملية جادة من خلال:
- إعداد مدوّنات أخلاقية ملزمة في مؤسسات الحكم والإدارة تحدد السلوكيات المقبولة وتحاسب على الانحرافات.
- في إدماج التربية الأخلاقية في برامج إعداد القادة والموظفين لتكون جزءاً من التكوين المهني لا مجرد توجيه نظري.
- في تفعيل آليات الشورى والمحاسبة والشفافية على نحو مؤسسي يضمن الرقابة الداخلية والخارجية على أداء المسؤولين.
- في تعزيز التعاون بين العلوم الشرعية والإدارية والسياسية لبناء علم تطبيقي يسمّى (فقه الخلق) يخدم الحكم ويُرشد السياسات.
- في دعم الأبحاث التطبيقية التي تربط بين القيم الإسلامية ومتطلبات الإدارة الحديثة لتقديم نماذج عملية قابلة للتنفيذ.
هذه قراءة متأنية لهذه الموسوعة التي أتمنى أن ترى النور، وتصل إلى قادة الأمة وحكامها، لكي يستفيدوا منها في حياتهم وقبل رحيلهم إلى عالم البرزخ، ويوم يقوم الأشهاد. كما أنني أدعو إلى نشرها وتعميمها على أكبر نطاق ممكن في العالم الإسلامي، وعلى المستوى الإنساني، وترجمتها إلى أقصى ما يمكن من اللغات، لكي تنظر الحضارات والدول والثقافات الإنسانية ما عند المسلمين من قيم وأخلاق متعلقة بالحكام، وإدارة الدول، ونظم الحكم.
ونسأل الله عز وجل بأسمائه الحسنى وصفاته العلى أن يبارك في جهود شيخنا الدكتور عبد الباقي الحقاني، ويتقبل منه، ويجعله من مفاتيح الخير والبركات، ويستخدمه للدفاع عن الإسلام ونشر رسالته الخالدة في الآفاق، وفي مشارق الأرض ومغاربها، وأن ينفع بعلمه أجيالاً وأجيالاً، إلى أن يرث الله الأرض ومن عليها، ويكتبها له من الصدقات الجاريات بمنّه وكرمه وجوده سبحانه وتعالى.
.
.
(وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين)
.
الأمين العام للاتحاد العالمين لعلماء المسلمين
د. عليّ محمّد محمّد الصلَّابي

#الصلابي

Ulasan Buku
"Ensiklopedi Akhlak Penguasa dalam Syariat Islam"
(Mawsu'ah Akhlaq al-Hukkam fi asy-Syari'ah al-Islamiyyah)
Karya Ulama Besar Sheikh Abu Abdurrahman Abdul Baqi Haqqani
Oleh Sheikh Dr. Ali Muhammad Muhammad ash-Sallabi
Bismillahirrahmanirrahim.
Ini adalah ulasan mendalam terhadap buku "Mawsu'ah Akhlaq al-Hukkam fi asy-Syari'ah al-Islamiyyah" karya ulama besar Sheikh Abu Abdurrahman Abdul Baqi Haqqani—seorang ulama Afghanistan yang mulia, yang memadukan keluhuran ilmu dengan keteguhan amal, serta mencurahkan tenaganya untuk menjelaskan asas-asas politik dan administrasi dalam Islam. Beliau telah menulis buku-buku bermanfaat yang sangat dibutuhkan oleh umat, khususnya pada zaman ini.
Saat menulis ulasan ini, saya teringat akan buku "Il Principe" (Sang Penguasa) karya penulis dan politisi Italia, Niccolò Machiavelli, yang menjadi perhatian para penguasa, pangeran, dan raja sejak pertama kali diterbitkan, serta menjadi bahan ajaran bagi generasi demi generasi penguasa, baik Muslim maupun non-Muslim. Maka saya berdoa, semoga Allah Azza wa Jalla dengan nama-Nya Al-Fattah (Maha Pembuka) dan Al-'Alim (Maha Mengetahui), membuka hati para penguasa Muslim melalui buku ini, serta menjadi sebab hidayah bagi selain mereka untuk mengenal keagungan agama ini melalui akhlak para penguasa dalam syariat Islam.
Sheikh Dr. Abdul Baqi menuliskan di sampul bukunya: (Seorang pemimpin tidak akan bisa menjadi agung kecuali jika ia memiliki akhlak yang agung; karena kekuatan akhlak senantiasa berada di barisan terdepan dari karakteristik para pemimpin besar).
Beliau menempatkan Nabi Muhammad ﷺ sebagai teladan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan pengajar prinsip-prinsip syariat Islam, serta menegaskan bahwa akhlak adalah pilar utama dalam pembangunan dan stabilitas negara. Kekuasaan dalam Islam bukanlah sarana untuk kesewenang-wenangan atau perbudakan, melainkan sebuah amanah dan tanggung jawab, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: "Kalian semua adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya."
Dalam bukunya, Sheikh menekankan kebutuhan mendesak untuk kembali kepada prinsip-prinsip syariat dalam pemerintahan dan politik serta menghidupkan kembali tatanan moral yang telah diletakkan oleh Islam, agar umat dapat merebut kembali posisinya dan menegakkan sistem politik bijak yang mewujudkan keadilan, menjamin hak-hak, serta menjaga urusan agama dan dunia secara bersamaan.
Tidak diragukan lagi bahwa masa depan umat Islam sangat bergantung pada penyiapan para pemimpin yang qualified untuk menegakkan sistem politik dan administrasi yang berlandaskan petunjuk kenabian, Khulafaur Rasyidin, dan tata kelola yang bijaksana. Politik dalam Islam bertugas menjaga Ad-Daruriyyat al-Khamsah (lima kebutuhan pokok): menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan.
Politik memiliki tujuan-tujuan agung yang dijelaskan oleh Al-Qur'an dan dipraktikkan oleh Rasulullah ﷺ. Politik adalah ilmu dan seni yang berdiri di atas fondasi syariat yang kokoh, menggabungkan antara pemahaman syariat (figh syar'i), pemahaman realitas (figh al-waqi'), pertimbangan maslahat-mudarat (figh al-muwazanat), serta prinsip menolak kerusakan dan menarik kemaslahatan. Politik membutuhkan keterampilan kepemimpinan dan akhlak yang tertanam kuat pada diri penguasa, pangeran, atau presiden, sehingga memungkinkan mereka mengelola urusan rakyat sesuai dengan manhaj Islam yang komprehensif, yang dibangun di atas keadilan, hikmah, kasih sayang, dan kemaslahatan.
Buku ini menjelaskan kebutuhan umat akan kurikulum pendidikan dan ilmiah dalam bidang politik, administrasi, dan etika untuk dijadikan pegangan bagi para calon pemimpin masa depan dan penguasa umat. Inilah peran para ulama, pemikir, dan ahli fikih untuk berkontribusi menyiapkan para pemimpin yang kompeten dan menguasai Siyasah Syar'iyyah (politik Islam). Ini merupakan salah satu fondasi penting untuk menegakkan pemerintahan yang bijaksana yang mampu menghadapi pemikiran-pemikiran asing dan politik "setan" yang mengancam identitas, akidah, nilai, dan sendi-sendi masyarakat Muslim.
Sheikh Abdul Baqi menyajikan studi mendalam yang menjembatani jurang antara fikih politik dan realitas kontemporer. Beliau memberikan visi syariat yang membantu para pemimpin dan pejabat untuk mengikuti jejak kenabian dalam mengelola urusan umat, berlandaskan Al-Qur'an, Sunnah Nabawiyah, dan rekam jejak Khulafaur Rasyidin, serta berpandukan pada pandangan dan ijtihad para ulama dalam politik syariah.
Studi ini memadukan antara landasan syariat (ta'shil syar'i), analisis sejarah, pendekatan pemikiran, dan penerapan institusional. Studi semacam ini sangat langka dalam perpustakaan kontemporer kita, sehingga ensiklopedi ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dan menjadi batu bata dalam membangun rujukan ilmiah, syari, kultural, peradaban, dan sejarah yang memperhatikan akhlak penguasa, politisi, pemimpin, dan administrator dalam Islam.
Dr. Sheikh Abdul Baqi Haqqani menyajikan studi yang berfokus pada penguatan teoritis dalam merumuskan konsep-konsep etika dalam Islam, menjelaskan tingkatan, jenis, sumber, serta keutamaan dan cara mengutarakannya sesuai metodologi ilmiah yang memadukan teks syariat dan analisis fikih/kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang penguasa dan pejabat administrasi—seperti amanah, keadilan, kasih sayang, musyawarah, akuntabilitas, dan pembagian kerja secara adil.
Beliau juga memperhatikan aspek penerapannya dengan mengajukan usulan ilmiah untuk mengintegrasikan etika ke dalam lembaga-lembaga pemerintahan dan administrasi era modern, demi menjamin transparansi dan akuntabilitas serta mengembalikan kepercayaan antara umat dan penguasanya.
Studi ini tentu merupakan tambahan bernilai ilmiah yang memperkaya khazanah studi Islam dengan referensi ensiklopedis yang menyapa pemikiran akademis dan menyajikan materinya dengan bahasa warisan (turats) yang otentik namun tetap merespons tuntutan penelitian kontemporer.
Sheikh Abdul Baqi Haqqani menggunakan berbagai metodologi yang saling melengkapi dan mendukung dalam melayani tujuan penelitian ensiklopedis ini, yaitu:
 * Metode Teks Syariat (Manhaj Nashshi Syar'i): Menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an, hadis Nabi, dan perkataan ulama sebagai dasar teoritis etika Islam (mendominasi Bab Pertama).
 * Metode Historis Deskriptif (Manhaj Tarikhi Washfi): Menginduksi rekam jejak para khalifah dan penguasa, serta menganalisis praktik etika dan politik mereka (terlihat pada Bab Kedua: Karakteristik Etis dan Pemikiran Pejabat Administrasi Islam).
 * Metode Analitis Komparatif (Manhaj Tahlili Muqaran): Membandingkan kerangka kerja Islam dengan model administrasi modern untuk menyerap apa yang bisa diadaptasi selama tidak bertentangan dengan maqashid syariah (hadir pada Bab Kedua dan Ketiga).
 * Metode Terapan Reformatif (Manhaj Tathbiqi Ishlahi): Menawarkan mekanisme realistis untuk mengembangkan etika dan mengatasi penyimpangan dalam pemerintahan dan administrasi.
 * Metode Sintetis Teoritis (Manhaj Tarkibi Nazhari): Mengumpulkan hasil dari metode-metode sebelumnya ke dalam satu kerangka komprehensif yang menyajikan model etika pemerintahan Islam yang kohesif.
Sheikh Abdul Baqi Haqqani berjalan dalam alur metodologis yang konsisten: mulai dari pemancangan asas (ta'shil), deskripsi, analisis, hingga aplikasi dan reformasi.
Para penguasa Muslim—baik raja, pangeran, sultan, maupun presiden—berada dalam bahaya besar jika tidak bertakwa kepada Allah dalam mengurus diri mereka, rakyat, dan umatnya. Studi ini membuka ufuk yang luas dan membentangkan jalan yang terang bagi mereka dalam menjalankan tugas yang diujikan Allah kepada mereka. Dengan begitu, mereka dapat beribadah kepada Allah melalui jabatan kekuasaan—yang mana kekuasaan termasuk ibadah teragung jika penguasa bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla di dalamnya, sehingga menjadi sebab masuk ke dalam surga Allah yang luas, meraih keridaan-Nya, serta berdampingan dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Atau sebaliknya—wal 'iyadzubillah—ketika ia berjalan di atas jalan Iblis dalam memerintah, mengadopsi akhlak setan, dan mengikuti cara-cara Firaun dalam berkuasa, sehingga ia jatuh ke dalam firman Allah Ta'ala:
“Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan bukti yang nyata, kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, tetapi mereka mengikuti perintah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun bukanlah (perintah) yang benar. Dia (Fir'aun) berjalan di depan kaumnya pada hari Kiamat, lalu membawa mereka masuk ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang dimasuki. Dan mereka diikuti dengan laknat di dunia ini dan pada hari Kiamat. (Laknat itu) seburuk-buruk pemberian yang diberikan.” (QS. Hud: 96-99)
Di dalam buku ini terdapat pandangan mendalam dan petunjuk yang meretas jalan keselamatan bagi siapa saja yang diuji Allah dengan jabatan kekuasaan. Sheikh Abdul Baqi membagi bukunya menjadi beberapa bab:
Bab Pertama: Dasar Teoritis Etika Islam
Bahasan mengenai hakikat etika, apa yang dimaksud dengan akhlak terpuji, jenis-jenis akhlak, asas, manfaat, keutamaan akhlak, serta sumber-sumbernya dari Al-Qur'an dan Sunnah Nabawiyah.
 * Bagian Kedua: Kedudukan dan Pentingnya Akhlak
   Membahas keutamaan akhlak dalam perilaku individu, masyarakat, dan umat; bahwa akhlak terpuji adalah kebutuhan sosial yang masuk ke seluruh sektor kehidupan manusia; peran akhlak dalam berdirinya negara dan peradaban; serta pentingnya penataan etika dalam politik.
 * Sebab/Saran Memperoleh Akhlak Terpuji:
   Perbaikan akidah, ibadah, bersahabat dengan orang-orang baik dan berakhlak mulia, tinggal di lingkungan yang saleh, berguru kepada ulama dan ulul albab, kontrol sosial masyarakat, melanggengkan tadabbur Al-Qur'an dan Sirah Nabawiyah, meneladani Sahabat dan Tabi'in, serta peran kekuasaan negara Islam. Negara memiliki pengaruh efektif dalam mewajibkan individu dan kelompok untuk terikat pada tatanan moral Islam, sebagaimana riwayat: "Sesungguhnya Allah mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak dicegah dengan Al-Qur'an."
Bab Kedua: Karakteristik Etis dan Pemikiran Pejabat Administrasi Islam
Bagian Pertama: Karakteristik Keagamaan dan Keimanan
 * Islam: Penguasa umat Islam tidak boleh dijabat oleh orang yang tidak beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan Syariat Islam. Penguasa harus meyakini kewajiban menerapkan hukum Syariat Islam yang berbasis keadilan, hikmah, kerahiman, dan kemaslahatan. Syarat ini merupakan fondasi untuk menjamin keadilan dan stabilitas pemerintahan.
 * Memahami Hukum Agama (At-Tafaqquh fi ad-Din): Penguasa (wali amri, hakim, imam, atau pejabat) harus berilmu tentang hukum syariat agar dapat mengelola urusan masyarakat sesuai syariat, memutuskan perkara secara adil, dan mengambil keputusan berbasis prinsip syariat. Umar bin Abdul Aziz berkata: "Barangsiapa beramal tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkannya lebih banyak daripada kebaikan yang dibangunnya."
 * Ikhlas karena Allah Ta'ala: Murni berniat karena Allah, tidak mencari kekuasaan, popularitas, atau keuntungan duniawi.
 * Ketakwaan dan Berpegang Teguh pada Syariat: Bertakwa dalam sembunyi maupun terang-terangan. Imam Al-Mawardi berkata: "Hendaknya raja merasa malu jika di antara rakyatnya ada yang lebih unggul agamanya daripada dirinya."
 * Istikamah Sempurna: Menjadi sosok yang adil, jujur, berakhlak, dan jauh dari penyimpangan. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata: "Istikamah adalah engkau lurus di atas perintah dan larangan, dan tidak berbelit-belit seperti culasnya musang."
 * Menerapkan Hukum pada Diri Sendiri, Keluarga, dan Kerabat Terlebih Dahulu: Umar bin Khattab jika melarang masyarakat dari sesuatu, beliau masuk ke rumahnya dan berkata kepada keluarganya: "Aku telah melarang masyarakat dari ini dan itu... Demi Allah, tidaklah dihadapkan kepadaku salah seorang dari kalian yang melanggarnya melainkan akan aku lipatgandakan hukumannya karena kedudukannya dariku."
 * Tekun Memperbaiki Diri Sendiri: Kebutuhan penguasa untuk memperbaiki dirinya lebih besar daripada kebutuhannya untuk memperbaiki rakyatnya, karena kebaikan rakyat bergantung pada kebaikannya.
 * Menjadi Teladan yang Baik (Uswah Hasanah): Dalam perilaku, ibadah, ketakwaan, keadilan, ketegasan, dan keampunan.
Bagian Kedua: Karakteristik dan Etika Kepemimpinan & Administrasi
Beliau menyebutkan 62 poin kepemimpinan, di antaranya:
 * Kekuatan dan penunaian amanah.
 * Kepemimpinan yang baik dan keunggulan wawasan politik.
 * Amar ma'ruf nahi munkar.
 * Ketaatan dalam kebaikan (Ta'ah fi al-Ma'ruf) beserta syarat-syaratnya.
 * Mengikuti kebenaran dan mengamalkannya.
 * Tidak takut pada celaan orang yang mencela.
 * Ketenangan dan wibawa (Sakinah & Waqar).
 * Moderasi (Wasathiyah) dalam segala hal.
 * Keadilan sosial (jenis, urgensi, dan penerapannya).
 * Ihsan (kebaikan yang melampaui standar minimal).
 * Kasih sayang dan kelembutan (Ar-Rahmah & Asy-Syafaqah).
 * Kejujuran dalam perkataan dan perbuatan.
 * Menepati janji.
 * Kemampuan mengarahkan dan kelancaran berkomunikasi (Fashahah).
 * Perencanaan yang terstruktur dan disiplin yang baik.
 * Pengalaman dan keberanian.
 * Jihad serta menjamin kehidupan para pejuang dan keluarga mereka.
 * Kedermawanan dan pengorbanan (Itsar).
 * Menyelesaikan urusan negara dan mencapai tujuannya.
 * Menjaga kesucian diri ('Iffah).
 * Menahan amarah (Hilm).
 * Kesabaran dan ketabahan menanggung beban.
 * Rasa malu (Haya').
 * Pemaaf saat mampu membalas.
 * Kelapangan dada.
 * Kelembutan (Rifq).
 * Diplomasi/sikap ramah (Mudarah) terhadap pihak yang berseberangan untuk menyelesaikan masalah.
 * Kehati-hatian (Anat & Tabayyun) dan tidak terburu-buru menghukum.
 * Menempatkan manusia sesuai kedudukannya.
 * Rasa syukur dan apresiasi.
 * Pujian dan motivasi untuk bawahan.
 * Mempermudah akses rakyat untuk bertemu dan mengadu.
 * Pembagian tugas berdasarkan kompetensi kerja.
 * Kerendahan hati (Tawadhu').
 * Penentuan spesialisasi jabatan berdasarkan keadilan dan maslahat.
 * Tidak hanya bergantung pada rekomendasi (Tazkiyah) belaka dalam rekrutmen.
 * Pengawasan langsung dan akuntabilitas berkala.
 * Mengakui kesalahan dan tidak persisten dalam kekeliruan.
 * Kerja sama dalam kebajikan dan takwa.
 * Menyelesaikan pekerjaan secara langsung.
 * Tepat waktu dalam menuntaskan tugas.
 * Profesionalisme (Itqan).
 * Memeriksa kondisi rakyat dan menyelesaikan masalah mereka.
 * Menerima rekomendasi baik (Syafa'ah Hasanah).
 * Bermusyawarah dengan ahlinya.
 * Ketegasan dan tekad bulat (Hazm & 'Azm).
 * Keinginan untuk maju dan berkembang.
 * Rendah hati dan tidak ujub.
 * Mengurus tugas-tugas pribadi sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
 * Menghargai tokoh dan pemuka masyarakat.
 * Politik bijak yang menggentarkan musuh dan menjaga wibawa negara.
 * Ketaajaman mata hati, kecerdasan, dan intuisi (Firasat).
 * Mendengarkan aduan terhadap para wali/pejabat dan tidak mendengarkan adu domba.
 * Rasa tanggung jawab yang tinggi.
 * Menjaga Kas Negara (Baitul Maal).
 * Cita-cita yang tinggi ('Uluww al-Himmah).
 * Memperlakukan pejabat dan rakyat seperti anak sendiri.
 * Memilih pola hidup sederhana.
 * Fokus pada pekerjaan-pekerjaan vital dan menjauhi kemewahan.
 * Menjaga kesehatan dan bekerja sesuai kapasitas.
 * Menjaga kerahasiaan negara.
 * Menerima nasihat dan kritik dari para pengkritik yang membangun.
Bab Ketiga: Etika dan Penanganan Penyimpangan Moral
 * Bagian Pertama: Pengembangan etika, pemahaman fikih etika (fiqh al-khuluq), serta sebab-sebab ditinggalkannya akhlak terpuji.
 * Bagian Kedua: Penanganan penyimpangan moral melalui perbaikan akidah, kontinuitas ibadah, latihan jiwa (riyadhah nafsiyyah), merenungi dampak buruk akhlak tercela, serta saling menasihati.
 * Bagian Ketiga: Manfaat memilih pejabat yang kompeten (Kafu') dan bahaya memilih yang tidak kompeten.
 * Bagian Keempat: Etika pegawai/bawahan (Adab al-Muwazhhaf al-Mar'us).
Kesimpulan Ulasan
Karya ensiklopedis besar ini menegaskan bahwa:
 * Akhlak pada diri penguasa adalah syarat utama keabsahan kepemimpinannya, bukan sekadar hal sekunder atau pelengkap.
 * Keadilan, musyawarah, dan amanah memerlukan penerjemahan ke dalam bentuk kelembagaan dan prosedur praktis.
 * Penyimpangan moral tidak cukup diatasi dengan ceramah/nasihat saja, melainkan dengan sistem terpadu yang mencakup pendidikan, regulasi, dan pengawasan.
 * Memilih pejabat berdasarkan amanah dan kapabilitas adalah fardu syar'i dan kebutuhan peradaban.
Studi ini menyumbang kontribusi nyata untuk:
 * Menyusun kode etik mengikat di lembaga pemerintahan.
 * Mengintegrasikan pendidikan etika dalam program pelatihan kepemimpinan.
 * Mengaktifkan mekanisme musyawarah, akuntabilitas, dan transparansi secara institusional.
 * Memperkuat kolaborasi antara ilmu syariat, administrasi, dan politik untuk membangun ilmu terapan baru bernama Fikih Akhlak (Fiqh al-Khuluq).
Saya berharap karya ini dapat terbit, sampai ke tangan para pimpinan dan penguasa umat, disebarluaskan, serta diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia agar peradaban luar dapat melihat keagungan nilai-nilai Islam dalam tata kelola negara.
Semoga Allah Azza wa Jalla memberkahi usaha Sheikh Dr. Abdul Baqi Haqqani, menerima amalnya, dan menjadikannya amal jariyah yang bermanfaat hingga akhir zaman.
Wa akhiru da'wana anil hamdulillahi Rabbil 'alamin.
Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS)
Dr. Ali Muhammad Muhammad ash-Sallabi