Senin, 24 Agustus 2026

Di antara Tanda-Tanda Hari Kiamat: Maraknya Ilmu Melalui Tulisan


22 Juli 2017 M Muhammad Bazmool

Di antara Tanda-Tanda Hari Kiamat: Maraknya Ilmu Melalui Tulisan

Dari Thariq, ia berkata: "Kami pernah duduk di dekat 'Abdullah (bin Mas'ud). Lalu datanglah juru panggilnya dan berkata: 'Shalat telah ditegakkan (iqamah).' Maka ia berdiri dan kami pun berdiri bersamanya. Kami masuk ke dalam masjid, lalu ia melihat orang-orang ruku' di bagian depan masjid. Ia pun bertakbir dan ruku', lalu kami berjalan dan melakukan seperti apa yang ia lakukan. Tiba-tiba seorang laki-laki lewat dengan tergesa-gesa seraya berkata: 'Alaikassalam wahai Abu 'Abdirrahman. Maka 'Abdullah berkata: 'Maha benar Allah, dan Rasul-Nya telah menyampaikan.'

Setelah kami selesai shalat, ia pulang dan masuk ke rumah keluarganya. Kami pun duduk di tempat kami menunggunya sampai ia keluar. Sebagian dari kami berkata kepada yang lain: 'Siapa di antara kalian yang akan bertanya kepadanya?' Thariq berkata: 'Aku yang akan bertanya kepadanya.' Maka ia pun bertanya, lalu 'Abdullah berkata: Dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: 'Sesungguhnya di antara dekatnya Hari Kiamat adalah: ucapan salam hanya kepada orang tertentu (khusus), maraknya perdagangan hingga seorang wanita membantu suaminya dalam berdagang, terputusnya tali silaturahmi, maraknya pena (tulisan), munculnya kesaksian palsu, dan disembunyikannya kesaksian yang benar.'

Lafazh Ahmad dalam Al-Musnad: 'Sesungguhnya di antara dekatnya Hari Kiamat adalah ucapan salam hanya kepada orang tertentu, maraknya perdagangan hingga seorang wanita membantu suaminya dalam berdagang, terputusnya tali silaturahmi, kesaksian palsu, disembunyikannya kesaksian yang benar, dan munculnya pena (tulisan).'(1)

Makna Secara Keseluruhan: Ketika Ibnu Mas'ud dan orang-orang yang bersamanya berdiri untuk masuk ke masjid dan melaksanakan shalat, seorang laki-laki lewat di dekat mereka. Alih-alih mengucapkan salam kepada semua orang, ia justru mengkhususkan salamnya hanya kepada Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu tanpa menyertakan orang-orang yang mendampinginya, dengan berkata: "Alaikassalam wahai Abu 'Abdirrahman." Maka Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu teringat sebuah hadits yang pernah ia dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa di antara tanda kiamat adalah salam yang hanya ditujukan kepada orang-orang tertentu (taslimul khasshah)!

Pada dasarnya, tanda-tanda kiamat itu mengandung perubahan dan kerusakan. Jika terjadi pada sistem sosial, maka itu adalah tanda-tanda kecil (sughra), dan jika terjadi pada alam semesta, maka itu adalah tanda-tanda besar (kubra).

Oleh karena itu, apa yang terkandung dalam hadits ini berupa tanda-tanda kiamat—selain sebagai bukti kenabian—juga menggambarkan kondisi kerusakan dan perubahan dalam sistem sosial. Yang disebutkan dalam hadits ini adalah perkara-perkara berikut:

  • Salam yang hanya diberikan kepada orang tertentu.
  • Melimpah dan banyaknya harta.
  • Maraknya perdagangan hingga seorang wanita membantu suaminya dalam berdagang.
  • Terputusnya tali silaturahmi.
  • Maraknya pena (baca-tulis).
  • Munculnya kesaksian palsu.
  • Disembunyikannya kesaksian yang benar.

Apa Makna "Maraknya Pena" (Fushuwwul Qalam)? Sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam: "wa fushuwwul qalam" (maraknya pena), dan dalam riwayat lain: "wa zhuhurul qalam" (munculnya pena), maknanya adalah bertambah banyaknya orang yang mengetahui keterampilan menulis. Ini adalah salah satu tanda kiamat yang telah muncul sejak dahulu kala.

Abu 'Umar Ibnu 'Abdil Barr rahimahullah berkata: "Adapun sabda beliau dalam hadits ini: 'wa fushuwwal qalam', maksudnya adalah munculnya tulisan dan banyaknya penulis. Al-Mubarok bin Fudhalah meriwayatkan dari Al-Hasan, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu diangkat, harta melimpah, pena (tulisan) muncul, dan para pedagang bertambah banyak. Al-Hasan berkata: Sungguh telah datang suatu zaman kepada kami di mana hanya dikatakan: 'Pedagang bani Fulan, dan penulis bani Fulan.' Dalam satu pemukiman hanya ada satu pedagang dan satu penulis. Al-Hasan berkata: Demi Allah, dahulu seorang laki-laki mendatangi perkampungan yang besar namun ia tidak menemukan seorang penulis pun di dalamnya."(2)

Dan dari 'Amr bin Taghlib, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah melimpah dan banyaknya harta, maraknya perdagangan, dan munculnya ilmu, [ 'Amr berkata: hingga ] seorang laki-laki menjual barang dagangannya lalu berkata: Tidak, sampai aku meminta izin kepada pedagang bani Fulan, dan dicari seorang penulis di pemukiman yang besar namun tidak ditemukan."(3)

Jika Ada yang Bertanya: Di Mana Letak Kerusakan dari Maraknya Tulisan dan Tersebarnya Kemampuan Membaca-Menulis di Antara Manusia?

Jawabannya: Kemampuan menulis memudahkan manusia untuk merujuk pada buku-buku dan membaca. Ketika orang-orang kembali/merujuk kepada buku, tidak ada lagi orang—kecuali yang dirahmati Allah—yang peduli untuk merujuk kepada para ulama, sehingga para ulama pun ditinggalkan. Bahkan, seseorang yang memiliki pandangan sendiri akan bangga dengan pendapatnya; ia menganggap apa yang dibaca dan dicapainya melalui membaca buku lebih utama daripada apa yang ditetapkan oleh seorang alim (ulama), dan lebih utama dari perkataan orang lain. Ia menyetarakan dirinya dengan para ahli ilmu dan mendebat mereka dalam apa yang mereka katakan tanpa hak! Bahkan perkara ini bisa sampai pada tahap menuduh para ulama menyembunyikan ilmu, atas dasar bahwa ia telah membaca di dalam buku apa yang tidak disebutkan oleh ulama tersebut!

Ma'mar meriwayatkan dari 'Ali bin Badzimah, dari Yazid bin Al-Asham, dari Ibnu 'Abbas, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada 'Umar, lalu 'Umar mulai bertanya kepadanya tentang keadaan orang-orang. Laki-laki itu menjawab: "Wahai Amirul Mukminin, telah membaca (menghafal) Al-Qur'an dari kalangan mereka sekian dan sekian." Ibnu 'Abbas berkata: Maka aku berkata: "Demi Allah, aku tidak suka mereka bersegera menghafal Al-Qur'an dengan ketergesaan seperti ini pada hari ini." Ia berkata: Maka 'Umar membentakku seraya berkata: "Diamlah!" Ibnu 'Abbas berkata: Aku pun pulang ke rumah keluargaku dalam keadaan muram dan sedih. Aku berkata pada diriku: "Dahulu aku memiliki kedudukan di mata laki-laki ini ('Umar), namun sekarang aku merasa telah jatuh dari pandangannya." Ia melanjutkan: Maka aku kembali ke rumahku dan berbaring di tempat tidurku sampai wanita-wanita dari keluargaku menjengukku padahal aku tidak sakit, tidak lain hanya karena perlakukan 'Umar kepadaku tadi.

Ia berkata: Ketika aku dalam keadaan demikian, datanglah seorang laki-laki seraya berkata: "Penuhi panggilan Amirul Mukminin." Aku pun keluar dan ternyata ia sedang berdiri menungguku. Ia memegang tanganku lalu menyendiri bersamaku dan berkata: "Apa yang tidak engkau sukai dari apa yang dikatakan laki-laki tadi?" Aku menjawab: "Wahai Amirul Mukminin, jika aku telah berbuat buruk, aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya, dan dudukkanlah aku di mana pun yang engkau sukai." 'Umar berkata: "Engkau harus menceritakan kepadaku apa yang tidak engkau sukai dari ucapan laki-laki tadi." Maka aku berkata: "Wahai Amirul Mukminin, kapan pun mereka bersegera dengan ketergesaan ini, mereka akan berbuat zalim (menilai diri paling benar/berlebihan). Kapan pun mereka berbuat zalim, mereka akan berbantah-bantahan. Kapan pun mereka berbantah-bantahan, mereka akan berselisih. Dan kapan pun mereka berselisih, mereka akan saling membunuh." Maka 'Umar berkata: "Luar biasa engkau! Sungguh aku tadinya menyembunyikan (pikiran) ini dari orang-orang sampai engkau menyampaikannya."(4)

Aku (penulis) katakan: Perkataannya: "Kapan pun mereka bersegera dengan ketergesaan ini, mereka akan berbuat zalim..." Kalimat ini memiliki sisi penafsiran, karena maknanya adalah jika mereka tergesa-gesa dalam menghafal Al-Qur'an, mereka akan jatuh ke dalam al-haif (kezaliman/ketidakadilan), di mana seseorang menganggap dirinya lebih berilmu dari yang lain karena apa yang ditagkap/dihafalkannya dari Al-Qur'an. Jika hal ini terjadi, ia akan berbantah-bantahan dengan orang lain, dan jika terjadi perbantahan maka timbullah perselisihan dan perpecahan, hingga terjadilah pertumpahan darah.

Kalimat ini juga datang dengan harakat/lafazh lain: Dalam Masa'il Al-Imam Ahmad riwayat putranya, Abu Al-Fadhl Shalih(5): "Wahai Amirul Mukminin, kapan pun mereka bersegera dengan ketergesaan ini, mereka akan merasa paling benar (yah-taqquu). Kapan pun mereka merasa paling benar, mereka akan berbantah-bantahan. Kapan pun mereka berbantah-bantahan, mereka akan berselisih. Dan kapan pun mereka berselisih, mereka akan saling membunuh." Makna (yah-taqquu) adalah: ia melihat dirinya lebih berhak untuk diikuti dan diambil perkataannya, bahkan ia melihat bahwa kebenaran itu ada padanya dan miliknya. Jika hal ini terjadi, mereka akan berbantah-bantahan sehingga timbul perselisihan, dan jika perselisihan terjadi, maka pertempuran/saling membunuh pun meletus.

Telah datang pula hal yang menafsirkan hal tersebut dalam Kitab At-Tafsir dari Sunan Sa'id bin Manshur(6). Sa'id bin Manshur berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-'Awwam bin Hausyab menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim At-Taimi menceritakan kepada kami, ia berkata: Suatu hari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu menyendiri dan berbicara kepada dirinya sendiri. Lalu ia mengutus utusan kepada Ibnu 'Abbas dan berkata: "Bagaimana umat ini bisa berselisih padahal Nabinya satu, Kitabnya satu, dan Kiblatnya satu?" Ibnu 'Abbas menjawab: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan kepada kami, lalu kami membacanya dan kami mengetahui dalam hal apa ia diturunkan. Namun akan ada setelah kami kaum-kaum yang membaca Al-Qur'an tetapi tidak mengetahui dalam hal apa ia diturunkan, sehingga setiap kaum akan memiliki pandangan (pendapat) sendiri mengenainya. Jika setiap kaum memiliki pandangan sendiri, mereka akan berselisih, dan jika mereka berselisih, mereka akan saling membunuh." Maka 'Umar membentaknya dan menghardiknya, sehingga Ibnu 'Abbas pun pergi. Kemudian 'Umar memanggilnya kembali setelah itu karena menyadari kebenaran apa yang dikatakannya, lalu berkata: "Lanjutkan, ulangi kembali kepadaku."

Wabillahit-taufiq!

( Catatan Footnote )

  1. Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (6/415, no. 3870), Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (hal. 474) bab Orang yang Membenci Salam Khusus (no. 1049). Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad dan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (no. 2767), serta dihasankan oleh para peneliti Al-Musnad.
  2. At-Tamhid lima fil Muwaththa' min Al-Ma'ani wal Asanid (17/297-298).
  3. Dikeluarkan oleh An-Nasa'i dalam Kitab Al-Buyu', bab At-Tijarah (no. 4380). Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah wa Syai'un min Fiqhiha wa Fawa'idiha (no. 2767). Peringatan: Terjadi kekurangan (gugur teks) pada riwayat hadits di Sunan An-Nasa'i setelah sabda beliau: "wa yazharal 'ilm", yang membuat matan (teks) berlawanan secara logika. Teks yang gugur adalah: " 'Amr berkata: [hingga] seorang laki-laki menjual barang dagangannya...". Hal ini ditunjukkan oleh kontradiksi pada matan; bagaimana mungkin beliau bersabda "ilmu akan muncul", lalu bercabang darinya kalimat "dan seorang laki-laki menjual barang dagangannya seraya berkata: Tidak, sampai aku meminta izin kepada pedagang bani Fulan, dan dicari seorang penulis di pemukiman yang besar namun tidak ditemukan". Hal ini membuat sebagian pensyarah terpaksa mentawilkan kata "ilmu" pada kalimat "munculnya ilmu" sebagai ilmu duniawi agar tidak bertentangan dengan kalimat setelahnya yang menunjukkan kebodohan terhadap ilmu syar'i! Sedangkan matan hadits ini datang tanpa ada gugur teks dalam Musnad Ahmad dan Al-Ahad wal Masani. Dalam hadits-hadits yang gugur dari Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal (hal. 22, no. 24296) dan dalam Al-Ahad wal Masani karya Ibnu Abi 'Ashim (3/284, no. 1664) dari 'Amr bin Taghlib radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Di antara tanda-tanda kiamat adalah melimpahnya harta, maraknya perdagangan, dan munculnya ilmu atau pena." 'Amr berkata: "Hingga seorang laki-laki menjual barang dagangannya lalu berkata: Sampai aku meminta izin kepada pedagang bani Fulan, dan dicari seorang penulis di pemukiman yang besar namun tidak ditemukan."
  4. Dikeluarkan oleh 'Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf (11/217, pada Jami' Ma'mar yang dilampirkan di akhirnya, no. 20368), dikeluarkan oleh Al-Harawi dalam Dzamml Kalam wa Ahlih (2/38-40, no. 198). Dari jalur Ibnu Al-Mubarok dari Ma'mar, dikeluarkan oleh Al-Fasawi dalam Al-Ma'rifah wat-Tarikh (1/516-517), dan Al-Khallal dalam As-Sunnah (7/28-29, no. 2013). Sanadnya shahih.
  5. (2/432).
  6. (1/176, no. 42), sanadnya shahih.