Selasa, 30 Juni 2026

2 Sebab Perpecahan Umat

2 Sebab Perpecahan Umat

Pada dasarnya, semua hukum agama Islam berfungsi menghimpun, menyatukan, dan tidak memencah belah. Namun, perpecahan sesuatu yang sering kali tidak bisa dihindari.

Perpecahan ini bisa disebabkan oleh faktor syahwat, seperti:

- Berlomba-lomba dalam mengejar dunia 
- ⁠Berebut kepemimpinan 

Perpecahan di tengah umat bisa juga disebabkan oleh faktor syubhat, yaitu:

1. Syirik 

Syirik termasuk penyebab utama dalam menciptakan perpecahan. Maka dari itu Allah menggandengkan syirik dengan perpecahan. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ، مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍۭ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Dan janganlah kalian termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS Ar-Rum: 31–32)

2. Bid’ah

Karena hukum yang digunakan dalam perkara bid’ah itu cacat/lemah. Ia lahir dari pendapat semata tanpa landasan, sedangkan pendapat-pendapat itu menyebabkan perpecahan. Sebab setiap orang akan berdiri sendiri dengan pikirannya masing-masing.

Adapun Sunnah, maka ia mempersatukan, karena bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berbicara menurut hawa nafsu. Oleh sebab itu beliau mengabarkan akan terjadinya perselisihan di tengah umat, lalu memerintahkan agar berpegang teguh kepada Sunnah. Beliau bersabda:

إنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافًا كثيرًا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين… وإياكم ومحدثات الأمور؛ فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة

“Barang siapa di antara kalian hidup sepeninggalku, niscaya ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk lagi lurus. Jauhilah perkara-perkara baru dalam agama, karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR Abu Dawud no. 4607, At-Tirmidzi no. 2676, dan Ibnu Majah no. 43; hadis sahih)

(Faedah dari Syaikh Abdul Malik Ramadhani فضيلة الشيخ عبد المالك بن أحمد رمضاني الجزائري dalam Daurah Syariyyah ke-9, di Mahad Imam Bukhari Solo, 15 al-Muharram 1448 / 30 Juni 2026)
Ust muadz mukhadasin

Telah dibuka! Pembelajaran fikih dasar secara privat

📖 Telah dibuka! Pembelajaran fikih dasar secara privat

Rasulullah ﷺ bersabda:

طلبُ العِلمِ فريضةٌ على كلِّ مسلمٍ
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim." (HR. Ibnu Majah, no.224)

Di antara ilmu yang paling wajib dipelajari adalah fikih dasar, yaitu ilmu yang berkaitan dengan ibadah sehari-hari seperti thaharah, wudhu, mandi wajib, shalat, puasa, zakat, dan berbagai hukum yang setiap muslim membutuhkannya dalam kehidupan.

Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi belum mengetahui tata cara yang benar sesuai tuntunan syariat.

Alhamdulillah, beberapa alumni Ma'had Darussalam as-Syafi'i Yogyakarta siap membantu kaum muslimin untuk belajar fikih dasar berdasarkan madzhab Syafi'i melalui pembelajaran privat.

Daftar Pengajar:
1️⃣ Ust. Rifki Nur
📱 HP: 0877-3277-1183
📍 Area: Kota Bandung
📚 Kitab: Safinatun Najah / Al-Mukhtashar Al-Lathif

2️⃣ Ust. Yurifa Iqbal
📱 HP: 0812-5056-7316
📍 Area: Palangkaraya
📚 Kitab: Tanbih Dzawil Hija Ila Ma'ani Alfazhi Safinatin Najah

3️⃣ Ust. Adid Adep Dwiatmoko
📱 HP: 0813-1932-6646
📍 Area: Tangerang & Tangerang Selatan
📚 Kitab: Al-Mukhtashar Al-Lathif / Safinatun Najah

4️⃣ Ust. Mochamad Rido Rizki Ahad
📱 HP: 0817-7650-8186
📍 Area: Kota Serang
📚 Kitab: Al-Mukhtashar Al-Lathif / Safinatun Najah / Risalah Jami'ah

5️⃣ Ust. Susilo
📱 HP: 0857-9927-9999
📍 Area: Sleman, D.I. Yogyakarta
📚 Kitab: Safinatun Najah / Al-Mukhtashar Al-Lathif

6️⃣ Ust. Baktiar Noviansyah 
📱 HP: 0822-8029-4972
📍 Area: Tanjung Enim - Muara Enim 
📚 Kitab: Safinatun Najah / Al-Mukhtashar Al-Lathif / Al Yaqut An Nafis / Matan Abu Syuja'

7️⃣ Ust. Mochammad Wibisono 
📱 HP: 0812-5375-9968 
📍 Area: Cilandak/Cipete/Pondok Indah (Jakarta Selatan)
📚 Kitab: Safinatun Najah / Al-Mukhtashar Al-Lathif / Al Yaqut An Nafis / Matan Abu Syuja'

8️⃣ Ust. Muhammad Sholihin 
📱HP: 0857-4373-5015
📍Area: Bantul Selatan, Yogya Kota kota dan Sleman barat, D.I. Yogyakarta
📚 Kitab: Safinatun Najah 

Ketentuan:
✅Pembelajaran secara offline (tatap muka langsung)
✅Jumlah minimal peserta tidak dibatasi. Bisa satu orang, satu keluarga, atau beberapa orang sekaligus.
✅Peserta tidak disyaratkan bisa bahasa Arab. Bagi yang sudah bisa memahami teks Arab, bisa menyimak penjelasan atau dilakukan muzakarah (belajar bersama, tukar pikiran)
✅Gratis, tanpa dipungut biaya.
✅Pertemuan satu kali dalam satu pekan dengan durasi sekitar satu jam
✅Total 15 pertemuan untuk kitab Mukhtashar latif dan 20 pertemuan untuk Safinatun Naja 
✅Waktu dan tempat pembelajaran disesuaikan dengan kesepakatan.
✅Pendaftaran langsung ke nomor handphone pengajar 
✅Pendaftaran ditutup jika sudah ada yang mendaftar 

Mari manfaatkan kesempatan ini untuk memperbaiki ibadah kita dengan mempelajari ilmu yang menjadi kewajiban setiap muslim. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk beribadah di atas ilmu dan menerima seluruh amal kita.

Silakan menghubungi pengajar yang sesuai dengan area domisili Anda. Mohon turut membantu menyebarkan informasi ini agar semakin banyak kaum muslimin yang mendapatkan manfaat.

-----

Jadikan ilmu syar'i sebagai solusi dalam setiap urusan dunia dan kunci untuk keselamatan akhirat. Selain Fiqih Syafi'i, kami mengulas berbagai cabang ilmu diniyah untuk membekali keseharianmu. Mari bertumbuh dalam ilmu dan bergabung Bersama Mahad Darussalam Asy-Syafi’i Yogyakarta untuk pendalaman materi diniyah yang sistematis.

Yuk Segera Follow & Pantau Channel Kami:
Website: darussalam.or.id
Facebook: fb.me/darussalam.or.id
Instagram: instagram.com/darussalam.or.id
YouTube:  youtube.com/mahaddarussalam
WhatsApp: bit.ly/WAdarussalam

Menimba Ilmu Syar’i, Meniti Jejak Syafi'iyyah

Sikap Hasan bin Ali terhadap ayahnya.

Sikap Hasan bin Ali terhadap ayahnya...

Syaikhul Islam menyebutkan, 
والذين قعدوا عن القتال هم أعيان الصحابة كسعد وزيد وابن عمر، ومحمد بن مسلمة، وأبي بكرة، وهم يروون النصوص عن النبي صلى الله عليه وسلم  في القعود عن القتال في الفتنة… 
ولا يختلف أصحابنا أن قعود علي عن القتال كان أفضل لو قعد، وهذا ظاهر من حاله في تلومه في القتال وتبرمه به، مراجعة الحسن ابنه له في ذلك، وقوله ألم أنهك يا أبت؟…

“Orang-orang yang tidak ikut serta dalam perang saudara itu adalah para tokoh sahabat, seperti Sa'd bin Abi Waqqas, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar, Muhammad bin Maslamah, dan Abu Bakrah. Mereka meriwayatkan berbagai nash dari Nabi ﷺ tentang tidak ikut serta dalam peperangan ketika terjadi fitnah (kekacauan).

Dan para ulama madzhab kami tidak berbeda pendapat bahwa sikap Ali bin Abi Thalib untuk tidak ikut berperang akan lebih utama seandainya beliau tidak terlibat. Hal ini tampak dari keadaan beliau yang menunjukkan penyesalan karena perang saudara dan rasa tidak suka terhadapnya, serta kritikan dari putranya, Hasan bin Ali, kepada beliau dalam hal tersebut, dimana Hasan menyampaikan: 
‘Bukankah aku telah melarangmu, wahai ayahku?’…” (Majmu' al-Fatawa, 4/439-440)

Barang siapa mengenal Allah (dengan benar), maka setiap kesempitan akan menjadi lapang baginya.”

“Barang siapa mengenal Allah (dengan benar), maka setiap kesempitan akan menjadi lapang baginya.” (Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin, 3/317)

(Madarij as-Salikin, 3/317)
ustadz muadz mukhadasin

Syaikh Muhammad bin Utsaimin pernah ditanya di Makkah

Senyum sejenak
----
14. Syaikh Muhammad bin Utsaimin pernah ditanya di Makkah, ketika aku menyaksikannya di Masjidil Haram:
"Bagaimana hukum orang yang sengaja meninggalkan ihram dari miqat?"
Jawaban:
Syaikh berkata kepada penanya:
"Engkau wajib membayar dam (sembelihan)."
Lalu penanya berkata:
"Sekarang saya akan bepergian ke Qashim."
Syaikh menjawab:
"Dan siapa pun bisa menyembelihkan untukmu."
Penanya berkata:
"Saya tidak mengenal siapa pun. Semoga Allah menjaga Anda wahai Syaikh, tolong urus saja masalah ini."
Kemudian penanya menyerahkan lima ratus riyal (pecahan satu lembar) kepada Syaikh.
Syaikh berkata:
"Tidak mengapa. Akan tetapi harganya mungkin lebih murah, sementara kita berada di Masjid (Haram), dan tidak sah melakukan penukaran uang (ṣarf), karena penukaran uang itu termasuk jual beli."
Lalu penanya berkata:
"Sedekahkan saja sisanya, wahai Syaikh. Oke?"
Maka Syaikh menjawab:
"Oke."
Lalu Syaikh dan orang-orang yang hadir tersenyum.
Pada tahun 1402 H, kami pernah salat Tarawih bersama Syaikh pada beberapa malam di Masjidil Haram.
Sumber: Majmū‘ (6/125).
Ustadz noor akhmad setiawan

Haram hukumnya, melihat, membaca, dan menelaah kitab ahlu bidah

Haram hukumnya, melihat, membaca, dan menelaah kitab ahlu bidah

Apalagi sampai kepo, subscribe, sengaja dengerin kalam ahlu bidah agar menambah wawasan katanya

Seorang awalnya berada di atas aqidah, tauhid, dan iman yang kokoh, tapi karena ia iseng2 main di pinggir jurang, akhirnya jatuh dalam kesesatan

قال ابن مفلح رحمه الله :
وَيَحْرُمُ النَّظَر فِيمَا يُخْشَى مِنْهُ الضَّلَال وَالْوُقُوع فِي الشَّكِّ وَالشَّبْهَةِ، وَنَصَّ الْإِمَامُ أَحْمَدُ - رحمه الله - عَلَى الْمَنْعِ مِنْ النَّظَر فِي كُتُبِ أَهْلِ الْكَلَامِ وَالْبِدَعِ الْمُضِلَّة وَقِرَاءَتِهَا وَرِوَايَتِهَا
 (الآداب الشرعية : ١ / ٢٥٢)

Berkata Ibnu Muflih rahimahullah:

Dihaharamkan melihat, mempelajari, atau menelaah sesuatu yang dikhawatirkan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesesatan, keraguan, dan syubhat.

Imam Ahmad rahimahullah secara tegas menyatakan larangan untuk melihat, membaca, dan meriwayatkan buku-buku Ahlul Kalam serta Ahlul Bid'ah yang menyesatkan.

Sumber: Al-Ādāb asy-Syar'iyyah (1/252).

INDAHNYA AKHLAK SYAIKH IBNU UTSAIMIN ROHIMAHULLAH

INDAHNYA  AKHLAK  SYAIKH IBNU  UTSAIMIN   ROHIMAHULLAH 

Suatu saat seorang wanita dari Maroko
menemuinya ketika di Masjidil Haram dan
mengatakan, “Anda Ibnu Utsaimin?”
tanyanya.
“Ya, saya,” jawab beliau.
Wanita itu pun menukas, “Orang-orang
mengatakan bahwa anda sudah mati dan
kami telah menyalati anda dengan shalat
gaib ba’da maghrib.”
“Tidak -wallahi- inilah saya,” tegas Ibnu
Utsaimin.
Wanita itu heran sambil mengatakan, “Jadi,
bagaimana?”
Dengan bercanda beliau mengatakan, “Ya,
saya setiap hari mati, lalu Rabbku
menghidupkanku.”
Terdiamlah wanita itu dan kaget. Sambil
berpaling wanita itu mengatakan, “Syaikh
telah pergi, syaikh telah pergi, syaikh telah
pergi.”
Sementara itu, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin
tersenyum melihatnya. Namun, Syaikh
khawatir wanita itu menanggapinya serius
dan salah paham, maka beliau utus
seseorang untuk memanggilnya. Setelah
wanita itu datang lagi, beliau menjelaskan,
“Saya tadi bercanda denganmu. Saya mati
lalu hidup tiap hari. Artinya, saya tidur lalu
bangun tiap hari, karena Allah berfirman,
“Allah memegang jiwa (orang) ketika
matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang
belum mati di waktu tidurnya; maka Dia
tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia
tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan
jiwa yang lain sampai waktu yang
ditentukan. Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda-tanda
kekuasan Allah bagi kaum yang
berpikir.” (az-Zumar: 42)
Menjadi tenanglah wanita tersebut. Ia
berterima kasih kepada syaikh lalu pergi.

Keindahan Akhlak dan Sifat Tawadhu Asy-
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
Tidak hanya ucapan, perbuatan beliau pun
menjadi bukti sifat tawadhu dan akhlak
mulianya. Beliau berkata, “Demikianlah
seorang dai, hendaknya bersifat lembut dan
wajah berseri serta berlapang dada.
Dengan demikian, ia lebih mudah diterima
oleh orang yang didakwahi menuju jalan
Allah Subhanahu wa Ta’ala … Maka dari itu,
nasihat saya kepada saudara-saudara saya
para dai, hendaknya memiliki perasaan ini.
Hendaknya mereka mendakwahi manusia
dengan perasaan kasih sayang kepada
mereka, dan dalam rangka mengagungkan
agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta
menolong agama-Nya.”
Inilah yang kemudian beliau terapkan
dalam diri beliau. Beliau adalah sosok yang
menyenangkan, sederhana, murah senyum,
tawadhu’, menghormati manusia, bahkan
kepada yang lebih muda sekali pun. Tidak
hanya itu, beliau juga suka bercanda
dengan mereka.
Dikisahkan bahwa suatu ketika beliau
datang ke Jeddah. Setelah pertemuan,
beliau diundang oleh sekian banyak orang-
orang berpangkat. Namun, dengan baik
beliau menolak tanpa menyinggung
perasaan mereka dan mengatakan,
“Undangan kalian telah didahului. Aku
sudah diundang oleh salah seorang anak
muda.”
Lalu beliau berjalan menuju seorang anak
muda yang masih sekolah di bangku
tsanawiyah (setingkat SMA di sini, -red.),
kemudian memegang tangannya dan
mengatakan kepada mereka, “Dia lebih
dahulu mengundangku daripada kalian, dan
aku menyambut undangannya.”
Orang-orang sangat heran terpana melihat
ketawadhuannya.

Di kesempatan yang lain, saat beliau di
Makkah di musim haji, seseorang bertemu
beliau dan mengundangnya, “Ya Syaikh,
saya berharap, anda mau menyambut
undangan saya walau sekali saja, dan anda
mau duduk bersama saudara-saudara dan
keluarga saya,” pinta orang itu.
Beliau pun menjawab, “Di mana
alamatmu?”
“Di Jeddah,” jawabnya.
Syaikh menyahut, “Kalau engkau mau
menunggu sampai selesai haji, saya akan
datang. Atau kalau engkau undang saya di
Makkah, saya juga akan datang.”
Akhirnya orang tersebut mengundang
beliau di Makkah seraya berucap, “Wahai
Syaikh, kapan saya mesti datang untuk
menjemput anda?” tanya orang itu.
Beliau justru mengatakan, “Tidak, aku yang
akan mendatangimu.” Lalu beliau
mengambil alamat rumahnya.
Pada waktu yang ditentukan beliau datang.
Beliau dipersilakan masuk. Tuan rumah pun
menyiapkan perekam untuk merekam
nasihat-nasihat beliau. Sejenak, tuan
rumah masuk untuk mengambil suguhan
teh dan memanggil saudara-saudaranya.
Setelah keluar, ternyata Syaikh telah
pindah dari tempat duduknya dan
menyiapkan sendiri alat rekam untuk
didekatkan ke stopkontak. Tuan rumah pun
begitu terkesan dengan sikap tawadhu
beliau.
Syaikh laku mengatakan, “Jangan kamu
memberat-beratkan diri. Bubur kacang di
Makkah ini enak. Itu sudah cukup untuk
makan malamnya.”
Tawadhu yang luar biasa. Ibarat sihir, kata-
kata dan sikap yang sangat mengena pada
jiwa tuan rumah.

Sesekali Bercanda
Walau asy-Syaikh Ibnu Utsaimin
berwibawa, terkadang kewibawaannya
diselingi oleh canda yang membuat orang-
orang dekatnya tidak merasa kaku bergaul
dengan beliau.
Pernah terjadi kejadian unik yang membuat
beliau tertawa. Suatu saat, datang kepada
beliau seseorang dari salah satu negara
Arab. Serta merta dia bertanya, “Anda asy-
Syaikh Ibnu Utsaimin?”
“Ya,” jawab beliau.
Orang itu pun menyambung dengan
pertanyaan, “Demi Nabi, wahai Syaikh, apa
hukumnya thawaf wada’?”
Sebelum menjawab, karena orang itu
bersumpah dengan selain nama Allah
Subhanahu wa Ta’ala, terlebih dahulu
Syaikh mengingkari kebiasaan tersebut dan
mengatakan, “Wahai saudara, semoga Allah
Subhanahu wa Ta’ala membalasi anda
dengan kebaikan. Tidak boleh bagimu
mengatakan, ‘Demi Nabi’. Anda harus
membiasakan diri meninggalkan kebiasaan
mengucapkan kata-kata ini, karena ini
adalah kalimat kesyirikan.”
Beliau juga menasihatinya dengan lembut
dan bagus. Orang itu pun berterima kasih
seraya berkata, “Siap, wahai syaikh. Tetapi,
apa hukum thawaf wada’ itu, demi Nabi?”
Akhirnya Syaikh tertawa. Ternyata lisan
orang tersebut memang terlalu terbiasa
mengucapkan sumpah yang salah.

Di waktu lain datang kepada beliau seorang
wartawan dan mengatakan, “Wahai Syaikh,
kami berharap, bisa menjalankan bersama
anda hiwar (maksud si wartawan:
wawancara, tetapi kata tersebut memiliki
makna lain, yaitu anak unta).”
Syaikh menjawab, “Wahai anakku, hiwar itu
kan anak unta. Bagaimana engkau akan
menjalankannya bersama saya?! Yang
mungkin, engkau ingin melakukan
muhawarah (wawancara) bersamaku.”

Rindu yang Terobati
Musim haji 1416 H.
Sebagaimana biasa, beliau menemui para
jamaah haji, bertanya dan menjawab
pertanyaan mereka. Beliau mencurahkan
perhatian kepada mereka.
Suatu saat di Bandara King Abdul Aziz
Jeddah, beliau masuk ke ruang tunggu. Di
sana ada rombongan jamaah haji dari salah
satu negara yang dahulu masuk wilayah Uni
Soviet. Yang paling kecil di antara mereka
berumur dua tahun. Tidak seorang pun dari
mereka yang bisa berbicara dengan bahasa
Arab.
Syaikh bertanya, kalau-kalau ada orang
yang bisa berbahasa Arab yang dapat
menerjemahkan apa yang hendak beliau
sampaikan. Ternyata tidak didapati selain
seorang anak muda warga negara Saudi
yang menyambut mereka. Dialah yang
kemudian menerjemahkan.
Di sela-sela ceramah, datang seorang anak
muda dari mereka sambil berlari kecil dan
meminta agar dia yang menerjemahkan.
Ternyata, anak muda ini pandai berbahasa
Arab dan kemudian diketahui bahwa dialah
pimpinan rombongan ini. Penerjemahan
lantas dia ambil alih.
Setelah selesai, barulah dia diberi tahu
bahwa syaikh yang dia terjemahkan
nasihatnya adalah asy-Syaikh Ibnu
Utsaimin. Terkejutlah dia. Kedua matanya
terbelalak sambil menatap Syaikh dengan
penuh keheranan. Rupa-rupanya, terjadi
sesuatu yang tidak pernah dia kira
sebelumnya.
Sambil terheran, dia memastikan, “Asy-
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin?”
Para pendamping Syaikh pun terheran-
heran, dari mana anak muda ini tahu nama
tersebut. Mereka pun mengiyakan.
Saat itulah, dengan segera, dia memeluk
Syaikh erat-erat. Air mata bercucuran dari
kedua matanya seraya berucap, “Asy-
Syaikh al-Utsaimin.” Berulang-ulang dia
ucapkan dengan penuh kebahagiaan.
Segera dia mengambil pengeras suara dan
mengumumkan kepada jamaah
rombongannya dengan bahasa mereka
yang tak terpahami, selain sebutan nama
Syaikh yang terulang-ulang. Linangan air
mata mereka berderai. Suara mereka
bersahutan, mengulang-ulang nama ‘asy-
Syaikh Ibnu Utsaimin’.
Anak muda itu lalu berkata, “Wahai Syaikh,
mereka adalah murid-muridmu. Mereka
bersama-sama mempelajari kitab-kitabmu
di persembunyian bawah tanah saat kami
dilarang mempelajari Islam. Mereka sangat
rindu untuk mengucapkan salam
kepadamu. Apakah anda mengizinkan?”
Syaikh pun mengizinkan. Segeralah mereka
mendatangi Syaikh, satu demi satu.
Mereka kecup dahi beliau dengan air mata
yang berlinangan dan mulut mereka yang
terus bergumam, “Syaikh Ibnu Utsaimin,
Syaikh Ibnu Utsaimin.”
Tidak ada seorang pun dari mereka yang
tidak menangis. Mereka sangat terkesan
dengan apa yang mereka dengar dan lihat.
(al-Imam az-Zahid hlm. 110)

Perhatian Beliau Terhadap Nasib Muslimin
di Belahan Dunia
Suatu saat, dengan perasaan gundah, dan
kecemburuan terhadap Islam dan muslimin
terutama di Palestina, beliau naik mimbar
dan berkhutbah, “Wahai manusia, telah
berlangsung penjajahan Yahudi terhadap
Masjidil Aqsha selama lebih dari delapan
tahun. Selama itu pula mereka membuat
kerusakan di dalamnya dan menyiksa
penduduknya. Di hari-hari ini, mahkamah
Yahudi mengeluarkan keputusan tentang
bolehnya Yahudi melakukan peribadatan di
dalam Masjidil Aqsha. Keputusan thaghut
ini artinya menampilkan syiar-syiar
kekafiran di dalam masjid yang termasuk
salah satu masjid yang terbesar
kehormatannya dalam Islam.”
Di akhir khutbah, beliau mengatakan, “Ya,
Yahudi Israel tidak akan turun kecuali
dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan
kecuali dengan pertolongan dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak ada
pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala
kecuali bila kita menolong agamanya,
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu
menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu.” (Muhammad: 7)
Sungguh, pertolongan Allah Subhanahu wa
Ta’ala kepada kita bukan dengan pidato-
pidato yang menyilaukan dan meluap-luap,
yang mengubah persoalan Palestina
menjadi persoalan politik, kekalahan
materi, dan konflik regional. Masalah
Palestina, demi Allah, adalah masalah
agama Islam bagi muslimin
seluruhnya.” (al-Imam az-Zahid hlm 103)
Saat terjadi pembantaian terhadap
muslimin di Bosnia oleh Kristen Serbia,
beliau sangat sedih. Kesedihan beliau
terungkap dalam kata-katanya, “Tetapi
disayangkan, sebagaimana kalian lihat
sekarang, kaum muslimin tak acuh. Mereka
tidak punya kekuatan dan tekad yang
dengannya mereka dapat membela diri
mereka. Tidak ada yang lebih bisa
menunjukkan kepada kita tentang hal itu
daripada apa yang kita berada padanya
sekarang.
Di negeri-negeri Islam sekarang, ada yang
kehormatan mereka dihinakan, masjid
mereka dihancurkan, harta mereka
dirampas, dan anak-anak mereka ditawan
oleh orang-orang Nasrani, sedangkan kita
umat (Islam) tidak mengatakan sesuatu
yang harus kita katakan.
Apa yang diperbuat terhadap muslimin
sekarang di Bosnia adalah sesuatu yang
merobek-robek hati pada kenyataannya….
Orang-orang Nasrani bukan musuh Bosnia
saja, dan musuh itu bukan hanya Nasrani
Bosnia. Nasrani adalah musuh muslimin di
seluruh negeri Allah Subhanahu wa Ta’ala,
sama saja mereka dari Nasrani Serbia
Bosnia atau yang lain. Tetapi, sayang,
banyak kaum muslimin tidak tahu hal itu.”
Beliau sering menganjurkan kaum muslimin
untuk banyak berdoa siang dan malam
serta dalam qunut nazilah untuk kebaikan
muslimin di sana, selama belum terbuka
pintu untuk melakukan jihad fi sabilillah di
sana. (al-Imam az-Zahid hlm. 99)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, semoga Allah
Subhanahu wa Ta’ala senantiasa merahmati
anda dan menempatkan anda di surga-Nya,
surga Firdaus….

Sumber: Majalah Asy Syariah no. 91/
VII/1434 H/2013, hal. 27, 29 & 34; hal.
25-26.
Ustadz anton abdillah al atsari

Jangan jadikan ustadz, kiai, dan personil menjadi patokan kebenaran dan taklid buta kepadanya Tapi jadikan lah dalil sebagai patokan kebenaran maka engkau akan selamat

Jangan jadikan ustadz, kiai, dan personil menjadi patokan kebenaran dan taklid buta kepadanya 
Tapi jadikan lah dalil sebagai patokan kebenaran maka engkau akan selamat

قال الشاطبي رحمه الله :
وَلَقَدْ زَلَّ بِسَبَبِ الْإِعْرَاضِ عَنِ الدَّلِيلِ وَالِاعْتِمَادِ عَلَى الرِّجَالِ - أَقْوَامٌ خَرَجُوا بِسَبَبِ ذَلِكَ عَنْ جَادَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
 (الاعتصام : ٣ / ٣١٨)

Ibrahim bin Musa asy-Syathibi rahimahullah berkata:

Sungguh, karena berpaling dari dalil dan lebih mengandalkan pendapat manusia, telah tergelincir banyak orang. Akibatnya, mereka keluar dari jalan yang ditempuh oleh para sahabat dan tabi'in, lalu mengikuti hawa nafsu mereka tanpa ilmu, sehingga mereka tersesat dari jalan yang lurus.

Sumber: Al-I‘tiṣām (3/318).
ustadz lutfi setiawan

Bila ada orang antm sampaikan ilmu, dalil Qur'an dan sunnah dia langsung tunduk dan nerima tanpa tapi2 lagi, cintailah dia

Bila ada orang antm sampaikan ilmu, dalil Qur'an dan sunnah dia langsung tunduk dan nerima tanpa tapi2 lagi, cintailah dia

قال الشافعي رحمه الله :
مَا أَوْرَدْتُ الْحَقَّ وَالْحُجَّةَ عَلَى أَحَدٍ فَقَبِلَهَا مِنِّي إِلَّا هِبْتُهُ وَاعْتَقَدْتُ مَوَدَّتَهُ، وَلَا كَابَرَنِي أَحَدٌ عَلَى الْحَقِّ، وَدَفَعَ الْحُجَّةَ الصَّحِيحَةَ إِلَّا سَقَطَ مِنْ عَيْنِي وَرَفَضْتُهُ
 (صفة الصفوة : ٢ / ٥٥٢)

Muhammad bin Idris asy-Syafi'i rahimahullah berkata:

Aku tidak pernah menyampaikan kebenaran dan hujah kepada seseorang, lalu ia menerimanya dariku, melainkan aku semakin menghormatinya dan menaruh kasih sayang kepadanya.

Sebaliknya, tidaklah seseorang membantahku dengan sikap keras kepala terhadap kebenaran dan menolak hujah yang sahih, melainkan ia jatuh dari pandanganku dan aku pun tidak lagi menaruh penghargaan kepadanya.

Sumber: Shifatush Shafwah (2/552).
ustadz lutfi setiawan

Voice to text arabic

https://arabic.deli.web.id/?fbclid=IwdGRjcASwo-VjbGNrBLCjx2V4dG4DYWVtAjExAHNydGMGYXBwX2lkDDM1MDY4NTUzMTcyOAABHoRXoxE6TBKcyYP2QErkz8ut0zvzk2VG7arSn8Yc9UMtybB3sWT1te45AXti_aem_WIFM73FdJVleTg5D7-nzlQ

https://arabic.deli.web.id/?fbclid=IwdGRjcASwpANjbGNrBLCjx2V4dG4DYWVtAjExAHNydGMGYXBwX2lkDDM1MDY4NTUzMTcyOAABHoRXoxE6TBKcyYP2QErkz8ut0zvzk2VG7arSn8Yc9UMtybB3sWT1te45AXti_aem_WIFM73FdJVleTg5D7-nzlQ
Voice to text arabic 

Tak Perlu Anti Tarjih!

Tak Perlu Anti Tarjih!

Tarjih dalam kajian ilmu fikih adalah sebuah keniscayaan bagi seorang ulama atau pakar. Makna tarjih adalah menguatkan satu pendapat untuk diamalkan dan melemahkan pendapat yang lain. Kenapa ia sebuah keniscayaan? Karena ilmu fikih adalah ilmu yang sarat dengan perbedaan pendapat.

Objek tarjih tidak terbatas pada pendapat-pendapat lintas madzhab, tapi tarjih juga ada pada tarjih antara pendapat-pendapat satu imam yang kontradiksi, atau pendapat-pendapat ulama dalam satu madzhab yang kontradiksi, atau tarjih pendapat yang berbeda-beda dalam satu madzhab agar menjadi yang muktamad/patokan dalam madzhab.

Dari sinilah, tarjih itu merupakan hal yang tak terpisahkan, baik Anda belajar monoton dalam satu madzhab, ataupun belajar fikih perbandingan. Apa yang Anda pelajari dalam matan-matan fikih ringkas itu adalah hasil tarjih. Kita cuma mempelajari pendapat-pendapat yang ditarjihkan oleh para ulama atau penulis matan itu.

Selanjutnya, penuntut ilmu harus akrab dengan yang namanya tarjih. Bahkan harus terbiasa mempraktikkan yang namanya tarjih. Apalagi bila ia telah belajar usul fikih serta qawaid fikih atau usul; proses untuk terus belajar melakukan tarjih adalah sebuah latihan sangat urgen untuk memiliki skill dalam memahami basic pendapat madzhab atau para ulama.

Jadi, tarjih adalah praktik. Ilmu ushul fikih kalau tidak dipraktikkan dengan latihan tarjih; akan sekadar menjadi hafalan rumus, persis dengan hafalan kaidah nahwu tapi tak pernah digunakan dalam praktik nahwu secara bacaan atau percakapan. Atau persis menguasai jurus pedang, tapi takt lihai menggunakan pedang itu; karena tak pernah atau jarang latihan.

Sebab itu, marilah belajar melakukan tarjih; tarjih antar pendapat-pendapat satu imam yang kontradiksi, tarjih antar pendapat-pendapat dalam satu madzhab, atau tarjih lintas pendapat madzhab-madzhab yang ada. Adapun output tarjih Anda; maka tidak mesti dipublikasikan, cukup dijadikan sebagai konsumsi pribadi, atau diberikan kepada Guru Anda agar beliau bisa menilai benar tidaknya kaidah tarjih yang Anda gunakan.

Lagipula, rata-rata ulama itu bisa melakukan tarjih karena mereka belajar dan latihan menggunakan ilmu-ilmu alat dalam praktik tarjih terlebih dahulu. Tidak mungkin mereka langsung bisa mentarjih tanpa banyak belajar dulu seperti itu. Sebab itu, mari membiasakan diri untuk tarjih, minimal agar kita terbiasa berpikir dan memiliki skill dalam menggunakan ushul fikih atau kaidah-kaidah ushul.

Kesalahan para pengkritik tarjih adalah gebyah uyah, menganggap semua kelompok tarjih sebagai anti madzhab. Padahal sebetulnya ada dua, pertama kelompok yang sama sekali menafikan madzhab. Kedua, kelompok yang tidak menisbatkan kepada salah satu madzhab, tapi tidak anti madzhab. 

Kelompok kedua ini, pertama, merumuskan metodologi istinbat dengan inspirasi metodologi dari para ulama madzhab dengan mengumpulkan, merefleksikan dan mertarjih diantara kaidah tersebut. Kedua, menjadikan argumentasi para imam madzhab sebagai inspirasi dalam perumusan fikih bukan sebagai aspirasi. Dengan demikian ada kesinambungan dan dialetika dengan para ulama madzhab sebelumnya secara wacana pemikiran dan manhaji.

Semoga dapat dipahami.

Ayahnya Abu Hanifah menikah dengan madzhab apa?

Ayahnya Abu Hanifah menikah dengan madzhab apa?

Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily -حفظه الله- berkata: "Di antara hal yang menggelikan adalah ketika ada seorang awam ingin menikah, lalu seorang syaikh yang mengakadkannya berkata kepadanya:

"Katakanlah: Aku menerima nikah dengan Fulanah menurut mazhab Abu Hanifah."

Maka pemuda yang awam itu berkata:

"Aku menerima nikah dengan Fulanah."

Syaikh itu berkata:

"Katakan: menurut mazhab Abu Hanifah An-Nu'man."

Ia menjawab:

" Tidak, tidak!! Aku menerima nikah dengan Fulanah. Ini sudah cukup"

Syaikh berkata:

"Tidak! Tidak sah, engkau harus mengatakan: menurut mazhab Abu Hanifah."

Lalu pemuda itu mengucapkannya:

"Baiklah, akan tetapi ayah Abu Hanifah, bagaimana bisa sah nikahnya, padahal ia tidak berada di atas mazhab Abu Hanifah?!"

Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah Al-Muta'alliqah Bil Buyu', (hlm. 17)

Dika Wahyudi

Senin, 29 Juni 2026

Syaikhuna Abdul Malik Ramadhani جزاه الله خيرا di Muqaddimah kitabnya ini menyebutkan nama-nama kitab yang pernah ditulis para ulama sebelumnya berkaitan dengan pembahasan yang ada kesamaan, diantaranya:

#DAUROH_KITAB_MANHAJ_9

Syaikhuna Abdul Malik Ramadhani  جزاه الله خيرا di Muqaddimah kitabnya  ini menyebutkan nama-nama kitab yang pernah ditulis para ulama sebelumnya berkaitan dengan pembahasan yang ada kesamaan, diantaranya:

- Kitab Ad Da'wah ila Allah baina At Tajammu' Al Hizbi wat Ta'awun As Syar'i, karya Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi رحمه الله
- Kitab Hukum Intima' ilal Firaq wal Ahzab wal Jama'at, karya Syaikh Bakar Abu Zaid رحمه الله
- Kitab Al Amru bi Luzumi Jama'atil Muslimin, karya Syaikh Abdus Salam bin Barjas رحمه الله
- Kitab Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, karya Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad حفظه الله
- Kitab Al Ibadah an Kaifiyyati At Ta'amuli ma'al Khilaf baina Ahlis Sunnah, karya Syaikh Muhammad Al Imam حفظه الله
- Kitab Tanbih Dzawil Adham ila Ra-bi As Shad'i wal Wi-am, karya Syaikh Shaleh As Suhaimi حفظه الله. 

Diantara pembahasan dalam kitab Syaikh Abdul Malik Ramadhani حفظه الله adalah:
1. Pengertian Al Jama'ah dan nama lainnya
2. Hadits-hadits seputar Al Jama'ah
3. Macam-macam Al Jama'ah
4. Sebab-sebab perpecahan
5. Klaim firqah Ikhwan Muslimin dan kelompo-kelompok bid'ah bahwa mereka adalah Al Jama'ah?!! 
6. At Ta'awun Syar'i dan Bid'i
7. Pengertian Hizbiyyah
8. Kerusakan-kerusakan Hizbiyyah
9. Macam-macam Hizbiyyah
10. Perbedaan antara Ahlis Sunnah dan Ahlul bid'ah. 
-----------------------------
Kitab ini belum dicetak di Madinah, baru pertama dicetak untuk Dauroh Syar'iyyah Imam Bukhari, jazaaAllahu khairan Syaikhana Aba Abdillah Abdul Malik Ramadhani Al Jazaairi,.

Al-'Aqīdah aṣ-Ṣaḥīḥah wa Mā Yuḍādduhā (Akidah yang benar vs Akidah yang batil)

| Al-'Aqīdah aṣ-Ṣaḥīḥah wa Mā Yuḍādduhā (Akidah yang benar vs Akidah yang batil)

Salah satu kitab ringkas yang membahas intisari Akidah Islam adalah kitab yang berjudul: 

العقيدة الصحيحة وما يضادها

Al-'Aqīdah aṣ-Ṣaḥīḥah wa Mā Yuḍādduhā (Akidah yang benar vs Akidah yang batil)

Karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz -Rahimahumullah- 

Kitab ini membahas tentang pentingnya Akidah Islam, pembahasan rukun iman dan Akidah yang bertentangan dengan Islam. Kitab ini cocok dibaca oleh para pemula yang ingin mengetahui dasar-dasar Akidah Islam yang benar dan Akidah yang bertentangan dengannya.
ust lanlan tuhfatul 

Lalu untuk apa kami mempelajari ilmu ini jika bukan untuk mengamalkannya?'"

"Seseorang mencela Imam Waki' ibnu al-jarroh Arruaasy رحمه الله, namun beliau tidak membalasnya. Lalu dikatakan kepada beliau: 'Tidakkah engkau membalas celaannya?' Beliau menjawab: 'Lalu untuk apa kami mempelajari ilmu ini jika bukan untuk mengamalkannya?'"
( Kitab Raudhtul 'uqalaa' : 166 )

Maksudnya: 
1- ilmu yang dipelajari seorang muslim seharusnya membentuk akhlak dan kesabaran, bukan hanya menambah pengetahuan. 
2- Orang yang berilmu mampu menahan diri ketika dihina dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.

PEMBUKAAN_DAUROH_9

#PEMBUKAAN_DAUROH_9

Cuplikan nasehat Syaikhin tadi malam dalam pembukaan Dauroh Syar'iyyah ke-9:

1. Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani حفظه الله dalam sambutan pembukaannya beliau mengingatkan kepada para asatidzah:

"Seorang dai harus punya perhatian kuat terhadap Tauhid berdasarkan ilmu, bagaimana jadinya jika seorang dai malah jatuh pada kesyirikan atau rancu Aqidahnya? Bagaimana ia akan mendakwahi manusia..??"

2. Adapun diantara nasehat Syaikh Dr. Muhammad Hisyam Thahiri حفظه الله adalah:

تَخَلَّقُوا بِأَخْلَاقِ البُخَارِيِّ فِي طَلَبِ العِلْمِ

"Berakhlaqlah dengan akhlaqnya Imam Bukhari dalam menuntut ilmu". 

Yaitu semangat dalam belajar, membaca, mencatat ilmu dan faidah. Seperti yang diceritakan oleh Al Farabri bahwa Imam Bukhari sampai 16 kali terbangun dalam semalam, setiap kali bangun beliau mencatat faidah yang diingat. 
_____________________

وفق الله الجميع للعلم النافع والعمل الصالح
Ustadz alif el qibty
Pp imam al bukhori 

Minggu, 28 Juni 2026

Mengenal Al-Jama’ah Secara Benar

Mengenal Al-Jama’ah Secara Benar

Kata Al-Jama’ah ada dalam nash-nash syariat Islam bahkan banyak dijumpai pengulangan dari kata tersebut, sampai-sampai para ulama menganggap bahwa berpegang kepada Al-Jama’ah merupakan salah satu pokok agama ini. 

Di antara nash syari yang menyebutkan kata Al-Jama’ah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ، فَمَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ

“Hendaklah kalian berpegang kepada al-Jama’ah dan jauhilah perpecahan. Barang siapa menginginkan bagian tengah (tempat yang paling mulia) dari surga, maka hendaklah ia tetap berpegang kepada al-Jamaah.” (HR at-Timidzi, 2165)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

الجماعةُ رَحمةٌ والفُرقةُ عذابٌ

“Al-Jama’ah (persatuan) adalah rahmat, dan perpecahan adalah azab.” (HR Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah, 667)

Tetap Akan Ada Al-Jama’ah hingga Menjelang Hari Kiamat

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

لا تَزالُ طائفةٌ من أُمَّتي قائمةً بأمرِ اللهِ، لا يَضُرُّهم مَن خذلهم، أو خالفهم، حتى يأتىَ أمرُ اللهِ، وهم ظاهِرُونَ على الناسِ

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak di atas perintah Allah. Mereka tidak akan dapat dibahayakan oleh orang yang menyelisihi atau menelantarkan mereka, hingga datang keputusan Allah, sementara mereka tetap berada di atas kebenaran.” (HR al-Bukhari & Muslim)

Keberadaan mereka akan terus ada hingga Allah menetapkan berakhirnya kehidupan di bumi. Ketika saat itu tiba, Allah akan mengirimkan angin yang lembut, lalu angin itu mencabut ruh orang-orang mukmin yang dahulu merupakan Al-Jama’ah. Yang tersisa setelah mereka hanyalah seburuk-buruk manusia, dan atas merekalah Hari Kiamat akan terjadi.

Banyaknya Kelompok karena Banyaknya Klaim

Sebagian kelompok-kelompok kontemporer yang menyimpang, mereka mengklaim dan menisbatkan juga diri mereka sebagai Al-Jama’ah. Tentunya dengan definisi dan pengakuan menurut mereka semata, tidak sesuai yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara kelompok menyimpang yang kerap mengklaim sebagai Al-Jama’ah adalah:

1. Kaum Khawarij
2. ⁠Kaum Syiah Rafidhah
3. ⁠Jamaah Tabligh
4. ⁠Kelompok Ghulat Tajrih
5. ⁠Takfiriyyun
6. ⁠Ikhwanul Muslimin

Masih banyak kelompok-kelompok lainnya, namun Syaikh hanya menyebutkan beberapa saja yang memang dikenal banyak orang.

Adapun istilah dan gelar-gelar lain dari Al-Jama’ah yang masyhur di kalangan ilama salaf adalah:

1. Ahlussunnah wal Jamaah 
2. ⁠Al-Firqah An-Najiyah
3. ⁠Ahlul Hadits
4. ⁠Ath-Thaifah Al-Manshurah
5. ⁠Ahlul Atsar
6. ⁠As-Salafiyyah

(Diringkas dari pelajaran ke-1 kitab “Alaikum bil Jama’ah”, Syaikh Abdul Malik Ramadhani, Daurah ke-9 Mahad Imam Bukhari Solo, 14 Al-Muharram 1448 / 28 Juni 2026)
Ust muadz mukhadasin

jauhilah bergaul dengan mereka

امْنَعُوا الصِّبْيَانَ مِنْ مُخَالَطَةِ الْمُبْتَدِعَةِ
قال ابن الجوزي رحمه الله :
الله اللهَ مِنْ مُصَاحَبَةِ هَؤُلَاءِ، وَيَجِبُ مَنْعُ الصِّبْيَانِ مِنْ مُخَالَطَتِهِمْ لِئَلَّا يَثْبُتَ فِي قُلُوبِهِمْ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ وَاشْغَلُوهُمْ بِأَحَادِيثِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لِتُعْجَنَ بِهَا طَبَائِعُهُمْ
 (الآداب الشرعية : ٣ / ٥٧٨)

Ibn al-Jawzi رحمه الله berkata:

Jauhilah, jauhilah bergaul dengan mereka. Anak-anak wajib dijauhkan dari pergaulan dengan para pelaku bidah agar tidak ada sedikit pun pengaruh dari mereka yang menetap di dalam hati anak-anak.

Sibukkanlah mereka dengan hadis-hadis Muhammad ﷺ, sehingga tabiat dan karakter mereka tumbuh serta terbentuk di atas hadis-hadis tersebut.

Sumber: Al-Ādāb asy-Syar‘iyyah (3/578).

Bukanlah syarat bagi orang yang melarang (kemungkaran) harus terbebas dari maksiat

Ibnu Athiyyah rahimahullah berkata:

ليس مِن شرط الناهي أن يكون سليمـًا من معصيـة، بل ينهى العُصـاةُ بعضهم بعضًا

“Bukanlah syarat bagi orang yang melarang (kemungkaran) harus terbebas dari maksiat. Bahkan orang-orang yang bermaksiat pun tetap harus saling melarang satu sama lain (dari kemaksiatan).” (Tanbih al-Ghafilin, 1/23)
Ustadz muadz mukhadasin

Bab tentang Mendengar dan Taat kepada Pemimpin Kaum Muslimin, Bersabar atas (Kezaliman) Mereka Meskipun Mereka Berbuat Lalim, serta Larangan Memberontak terhadap Mereka Selama Mereka Menegakkan Shalat


9 - Bab tentang Mendengar dan Taat kepada Pemimpin Kaum Muslimin, Bersabar atas (Kezaliman) Mereka Meskipun Mereka Berbuat Lalim, serta Larangan Memberontak terhadap Mereka Selama Mereka Menegakkan Shalat
Al-Hasan berkata: (Pada masa) hari-hari Yazid bin Al-Muhallab—ketika sekelompok orang mendatanginya—dia memerintahkan mereka untuk tetap tinggal di rumah mereka dan mengunci pintu rumah mereka.
Kemudian dia berkata: "Demi Allah, seandainya manusia ketika diuji oleh penguasa mereka mau bersabar, niscaya tidak lama kemudian Allah akan mengangkat (ujian) itu dari mereka. Hal itu karena mereka (yang memberontak) justru lari menuju pedang (peperangan), sehingga mereka diserahkan kepada pedang tersebut. Dan demi Allah, mereka tidak pernah mendatangkan kebaikan sama sekali walau sehari saja."
Halaman Kedua (Bagian Tengah)
Kemudian beliau membaca (ayat):
"Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah mereka bangun."** (QS. Al-A'raf: 137).

Dari Ummu Salamah *radhiyallahu 'anha*, dari Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam*, beliau bersabar:
"Akan ada untuk kalian para pemimpin yang kalian kenal (kebaikan mereka) dan kalian ingkari (kemungkaran mereka). Maka barangsiapa yang membencinya, ia telah berlepas diri (dari dosa), dan barangsiapa yang mengingkarinya, ia telah selamat. Akan tetapi, (yang berdosa adalah) orang yang ridha dan mengikuti mereka."Para sahabat bertanya: "Apakah tidak sebaiknya kami memerangi mereka?"* Beliau menjawab: "Tidak, selama mereka masih shalat."

Dari Anas bin Malik *radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* bersabar:
 "Dengarkanlah dan taatilah, meskipun yang dipimpin (menjadi pemimpin) atas kalian adalah seorang budak Habasyi (Etiopia) yang kepalanya seperti kismis."

Wail Al-Hadhrami berkata: Yazid bin Salamah Al-Ju'fi bertanya kepada Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam*: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika memimpin atas kami para penguasa yang meminta hak mereka kepada kami, namun mereka menahan (tidak memberikan) hak kami? Apa yang engkau perintahkan kepada kami?"* Rasulullah berpaling darinya. Kemudian ia bertanya lagi untuk kedua atau ketiga kalinya, lalu Al-Asy'ats bin Qais menariknya dan Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* bersabda:
"Dengarkanlah dan taatilah, karena sesungguhnya mereka akan memikul dosa atas apa yang dibebankan kepada mereka, dan kalian akan memikul dosa atas apa yang dibebankan kepada kalian."

Dari Suwaid bin Ghafalah, ia berkata: Umar bin Al-Khattab *radhiyallahu 'anhu* berkata kepadaku:
Barangkali engkau akan tetap hidup sepeninggalku, maka taatilah pemimpin meskipun ia seorang budak Habasyi. Jika ia memukulmu, maka bersabarlah. Jika ia menahan hakmu, maka bersabarlah. Dan jika ia mengajakmu kepada perkara yang mengurangi urusan duniamu, maka katakanlah: 'Aku mendengar dan taat, darahku demi agamaku (aku rela berkorban harta/dunia demi menjaga agama)'.

Muhammad bin Al-Husain berkata:
Jika ada seseorang yang bertanya: *"Apa makna yang terkandung dari perkataan Umar radhiyallahu 'anhu di atas?
Maka dikatakan kepadanya: Maknanya—Wallahu a'lam—adalah: Siapa pun yang memimpinmu—baik dari orang Arab maupun selain Arab, hitam maupun putih, atau ajam (non-Arab)—maka taatilah dia dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah.
Jika ia menahan hak yang seharusnya milikmu, atau memukul punggungmu secara zalim, atau menodai kehormatanmu, atau mengambil hartamu, maka janganlah hal itu membuatmu mengangkat pedangmu melawannya hingga engkau memeranginya. Dan janganlah engkau keluar (memberontak) bersama orang Khawarij yang memeranginya, serta janganlah memprovokasi orang lain untuk memberontaknya, melainkan bersabarlah atas hal tersebut.
Namun, bisa jadi perkataan tersebut juga bermakna: Jika ia mengajakmu kepada perkara yang mengurangi agamamu dari sisi lain—misalnya ia memerintahkanmu untuk membunuh orang yang tidak berhak dibunuh, memotong anggota tubuh orang yang tidak berhak dipotong, memukul orang yang tidak halal dipukul, atau mengambil harta orang yang tidak halal diambil hartanya, atau menzalimi orang yang tidak halal dizalimi—maka dalam hal ini **engkau tidak boleh menaatinya**.
Jika pemimpin itu berkata kepadamu: *"Jika engkau tidak melakukan apa yang aku perintahkan, maka aku akan membunuhmu atau memukulmu,"* maka katakanlah: *"Darahku demi agamaku (silakan ambil nyawaku, tapi aku tidak mau melanggar agama)."*
Hal ini karena sabda Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam*:
> *"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah) Azza wa Jalla."*
Dan sabda beliau:
> *"Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma'ruf (baik)."*

39 DURUS/PELAJARAN DI AWAL BULAN MUHARRAM 1448 H-Markiz Darul Hadits Fiyush, Yaman

39 DURUS/PELAJARAN DI AWAL BULAN MUHARRAM 1448 H
-Markiz Darul Hadits Fiyush, Yaman-

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات 

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Insya Allah mulai Ahad ini, 28 Juni 2026/14 Muharram 1448 H, Markiz Darul Hadits Fiyush akan kembali memulai aktifitas belajar dan mengajar seperti biasa setelah libur hari raya Idul Adha. Sabtu malam kemarin di umumkan Insya Allah mulai ahad hari ini akan dibuka dan dilanjutkan 39 durus/pelajaran baik kitab² baru ataupun lanjutan dari pelajaran sebelumnya. Begitu juga halaqoh² quran dan kegiatan lainnya.

Atas nikmat Allah azza wa jalla, Markiz Fiyush adalah Markiz Salafiyyah terbesar di Yaman Selatan. Belasan ribu thullab belajar di markiz ini dari pagi sampai malam, datang dari berbagai penjuru dunia. Dibimbing oleh para masyaikh dan mustafidun yang kompeten dalam ulum syar'iyyah. Bahkan diantara para masyaikh mereka adalah murid² senior Syaikh Al-Allamah Muqbil Al-Wadi'i rahimahullah. 

Para Masyaikh حفظهم الله yang aktif mengajar di markiz diantara nya; Syaikh Basyar Al-Adeni, Syaikh Nabil Masyrof, Syaikh Ahmad Al-Barkani, Syaikh Ahmad Al-Makhrami, ​Syaikh Khalid Marjah, Syaikh Anis Al-Yafi'i, ​Syaikh Yaslam Asy-Syabwi, Syaikh Abdullah Salim Ar-Radfani, Syaikh Ahmad At-Thabaqi, ​Syaikh Khalid Al-Hibshi, ​Syaikh Muhammad Al-Haswi, ​Syaikh Ahmad Al-Wahthi, ​Syaikh Shalih Al-Kailah, ​Syaikh Abdul Hakim An-Nakhibi, Syaikh Munir An-Nakhibi, ​Syaikh Hussain Al-Baraki, ​Syaikh Muhammad Shalah, ​Syaikh Shadiq As-Saqqaf, Syaikh Wadi' Muhaim,  dan para masyaikh dan mustafidun yang lainnya. Semoga Allah ta'ala membalas kebaikan² dan jasa² mereka.

Paling minimal pelajaran yang diambil oleh tholib itu 2 durus khos diawal belajar dan itu secara bertahap akan bertambah sesuai dengan kemampuan tholib tersebut. Belum lagi ditambah 3 durus 'aam yang berjalan di 3 waktu bada sholat (dzuhur - ashar - maghrib). Yang artinya minimal tholib yang baru itu dia bisa belajar 5 durus setiap hari nya alhamdulillah. 

Syaikhuna Dr. Abdullah Mar'i Al-Adeni hafizhahullah beliau mengajar langsung pelajaran² umum الدروس العامة yaitu Tafsir Jalalain (Juz 30) Ba'da Dzuhur, Al-Istigotsah Fii roddi 'alal Bakri Ba'da Ashar dan As-Siyasah As-Syar'iyah Libni Taimiyyah Ba'da Maghrib. 

Semoga kebaikan² ini bisa terus berlanjut kedepannya dan semoga Allah Azza wa Jalla membalas setiap kebaikan para masyaikh, asatidzah, mustafidun dan mereka² yang telah berjuang dalam dakwah di jalan Allah yang mulia ini apapun bidang dan profesi nya. 

Dan juga semoga Allah Azza wa Jalla membalas kebaikan pendiri markiz ini As-Syaikh Al-Allamah Abdurrahman bin Mar'i Al-Adeni رحمه الله dan saudara serta khalifah beliau As-Syaikh Al-Allamah Abdullah bin Mar'i Al-Adeni حفظه الله atas khidmat² mereka dalam dakwah dijalan Allah azza wa jalla. Aamiin ya Rabbal 'alamin 

Berikut adalah daftar durus pelajaran yang diumumkan sabtu malam kemarin:

I. BIDANG AQIDAH & TAUHID:
1. Al-Qawaid Al-Arba': Syaikh Bashar Al-Adani
2. Al-Qawaid Al-Mutslah: Syaikh Anis Al-Yafi'i
3. Aqidah Wasithiyyah (Syarah Al-Fauzan): Syaikh Abdullah Salim
4. Fathul Majid (Syarah Kitab Tauhid): Syaikh Muhammad Bawajih
5. Tajridut Tauhid (Al-Maqrizi): Syaikh Husain Al-Baraki
6. Lum'atul I'tiqad: Syaikh Husain Al-Baraki
7. Lamiyyah Syaikhil Islam: Ustadz Jamil Al-Lahji
8. Al-Ushul Ats-Tsalatsah: Syaikh Thamir bin Fuhaid
9. Al-Ushul Ats-Tsalatsah: Ustadz Muhammad Salim
10. Al-Ha'iyyah: Ustadz Muhammad Salim 
11. Nawaqidul Islam: Ustadz Ahmad As-Sulaimani

II. BIDANG FIQIH & USHUL FIQIH: 
12. Qawaidul Ushul wa Ma'aqidul Fushul: Syaikh Khalid Al-Hibsyi
13. Manzhumah Qawaid Fiqhiyyah: Syaikh Khalid Al-Hibsyi
14. Al-Fiqhu Al-Muyassar: Syaikh Khalid Marjah
15. Ad-Durar Al-Bahiyyah (Asy-Syaukani): Syaikh Abdullah Salim
16. Kitab Al-Ijarah wal Syarikah (dari Ad-Durar Al-Bahiyyah): Ustadz Rafiq Al-Lahji
17. Mukhtashar Shifatush Salah: Syaikh Shadiq As-Saqqaf
18. Ahlam Masail wal Ahkam fi Shifatish Salah: Ustadz Muhammad Sa'id Al-Abyani
19. Mukhtashar At-Tahrir (Ushul Fiqih): Syaikh Munir An-Nakhibi
20. Al-Ushul min 'Ilmil Ushul: Imam Umar Adh-Dhali'i
21. Kitab Zakat (dari Al-Fiqhu Al-Muyassar): Imam Umar Adh-Dhali'i
22. Al-Ushul min 'Ilmil Ushul (lanjutan): Ustadz Shalih Al-Musaimiri
23. Talkhish Fiqhil Faraidh: Ustadz Abdul Basith Ash-Shubaihi
24. Wudhu dan Nawaqidnya: Ustadz Ahmad As-Sulaimani

III. BIDANG BAHASA ARAB (NAHWU & SHARAF):
25. Mutammimah Al-Ajurrumiyyah: Syaikh Muhammad Al-Haswi
26. Qathrun Nada: Syaikh Muhammad Al-Haswi
27. Syarah Ibnu Aqil: Syaikh Muhammad Al-Haswi
28. Syadza Al-'Urf: Syaikh Muhammad Al-Haswi
29. Qathrun Nada: Syaikh Muhammad Bawajih
30. Qathrun Nada: Syaikh Wadi' Muhayim
31. Matan Al-Ajurrumiyyah: Syaikh Shadiq As-Saqqaf
32. Matan Al-Ajurrumiyyah (untuk pemula): Ustadz Faris Al-Jahafi
33. Mutammimah Al-Ajurrumiyyah: Syaikh Ahmad Al-Wahthi
34. Alfiyyah Ibnu Malik (Syarah Ibnu Aqil): Syaikh Ahmad Al-Wahthi
35. Mutammimah Al-Ajurrumiyyah: Ustadz Fawaz Al-Adani

IV. BIDANG HADITS & SIRAH:
36. Taysirul 'Allam: Syaikh Khalid Marjah
37. Al-Ba'itsul Hatsits: Syaikh Muhammad Bawajih
38. Muqaddimah Ilmiyyah Sirah Nabawiyyah: Syaikh Shadiq As-Saqqaf
39. Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyyah: Ustadz Fawaz Al-Adani

Semoga dengan informasi ini bisa bermanfaat dan memberikan gambaran bagi teman² para asatidz dan ikhwah² yang ingin melanjutkan belajar ilmu syar'i, memperluas khazanah keilmuan nya, Yaman bisa jadi tempat yang cocok buat antum sekalian. Biidznillah banyak kebaikan² yang akan antum dapatkan di negeri iman ini jika antum betul² ikhlas dan sungguh-sungguh karna Allah azza wa jalla.

Semoga Allah ta'ala mudahkan kita agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Aamiin

✍️  Ahad, 14 Muharram 1448 H
Muhammad Rafi Syafilah 
Markiz Darul Hadits Fiyush, Yaman حرسها الله
@sorotan
Al akh rafii safilah

𝗦𝘆𝗮𝗶𝗸𝗵 𝗣𝗿𝗼𝗳. 𝗗𝗿. 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗶𝗻 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱 𝗛𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗗𝘂𝗺𝗳𝘂

𝗦𝘆𝗮𝗶𝗸𝗵 𝗣𝗿𝗼𝗳. 𝗗𝗿. 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗶𝗻 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱 𝗛𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗗𝘂𝗺𝗳𝘂

𝘜𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢 𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘋𝘰𝘮𝘱𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘪𝘱𝘳𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘳𝘰𝘧𝘦𝘴𝘰𝘳 𝘥𝘪 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘢𝘣 𝘚𝘢𝘶𝘥𝘪, 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘪𝘭𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘵𝘶𝘥𝘪 𝘐𝘴𝘭𝘢𝘮, 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘥𝘦𝘥𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘪𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘥𝘦𝘮𝘪𝘴𝘪.

𝗣𝗿𝗼𝗳𝗶𝗹 𝗦𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 𝗧𝗼𝗸𝗼𝗵

Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Hasan Dumfu merupakan salah satu ulama kontemporer di Kerajaan Arab Saudi yang memiliki garis keturunan Indonesia. Kedua orang tuanya berasal dari Kabupaten Dompu, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, sedangkan beliau lahir di Kota Thaif pada tahun 1378 Hijriah (sekitar 1958 Masehi).

Di lingkungan akademik Timur Tengah, beliau dikenal sebagai pakar ilmu hadis dan studi Islam yang mengabdikan sebagian besar perjalanan hidupnya di dunia pendidikan tinggi. Kiprahnya lebih banyak berlangsung di ruang-ruang akademik daripada di panggung publik. Meski tidak banyak tampil di media, kontribusinya dalam membina mahasiswa, mengembangkan pendidikan tinggi, dan menghasilkan karya ilmiah menjadikan beliau sebagai salah satu tokoh keturunan Indonesia yang memiliki posisi penting di lingkungan akademik Arab Saudi.

«"Kemuliaan ilmu tidak hanya terletak pada banyaknya pengetahuan yang dimiliki, tetapi pada manfaat yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya."»

𝗟𝗮𝘁𝗮𝗿 𝗕𝗲𝗹𝗮𝗸𝗮𝗻𝗴 𝗞𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮

Syaikh Abdullah lahir dan dibesarkan di Kota Thaif, sebuah kota yang terletak di kawasan pegunungan sebelah tenggara Makkah. Walaupun lahir di Arab Saudi, beliau berasal dari keluarga perantau Indonesia. Ayah dan ibunya merupakan keturunan asli Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Nama belakang "Dumfu" merupakan bentuk pelafalan bahasa Arab dari nama Dompu, yang hingga kini tetap menjadi identitas keluarga beliau. Nama tersebut menjadi simbol keterikatan dengan tanah leluhurnya di Pulau Sumbawa sekaligus mencerminkan jejak diaspora Indonesia di Timur Tengah.

𝗟𝗮𝘁𝗮𝗿 𝗕𝗲𝗹𝗮𝗸𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗻𝗱𝗶𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻

Seluruh pendidikan tinggi Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Hasan Dumfu ditempuh di Kerajaan Arab Saudi.

Beliau meraih gelar Doktor (Ph.D.) dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Su'ud Al-Islamiyah (Imam Muhammad ibn Saud Islamic University/IMSIU), Riyadh, salah satu universitas Islam paling bergengsi di dunia yang dikenal sebagai pusat pengembangan ilmu syariah, hadis, akidah, dan bahasa Arab.

Melalui perjalanan akademik yang panjang, beliau kemudian mencapai jenjang Profesor (Ustadz/أستاذ) pada Departemen Studi Islam, Fakultas Sastra dan Humaniora, Universitas Thaibah, Madinah. Dalam sistem pendidikan tinggi Arab Saudi, jabatan profesor merupakan jenjang akademik tertinggi yang diperoleh melalui proses penilaian ketat berdasarkan publikasi ilmiah, penelitian, pengabdian akademik, serta pengalaman mengajar.

𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗿𝗶𝗲𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗢𝗿𝗴𝗮𝗻𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶

Sebagian besar perjalanan akademik beliau berlangsung di Universitas Thaibah (Taibah University), Madinah, salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Kerajaan Arab Saudi.

Dalam perjalanan kariernya, beliau dipercaya mengemban berbagai jabatan strategis, antara lain sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah, Dekan Pascasarjana, serta Dekan Fakultas Sastra dan Humaniora (Adab wa Ulum Insaniyah) Universitas Thaibah pada periode 1434–1437 Hijriah.

Selain menjalankan tugas sebagai profesor, beliau juga aktif sebagai anggota berbagai dewan ilmiah universitas, pembimbing mahasiswa program magister dan doktor, serta penguji tesis dan disertasi di sejumlah perguruan tinggi di Arab Saudi.

Kepercayaan tersebut menunjukkan pengakuan terhadap kapasitas akademik dan integritas beliau dalam mengembangkan pendidikan tinggi Islam.

𝗞𝗼𝗻𝘁𝗿𝗶𝗯𝘂𝘀𝗶 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗠𝗮𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝗸𝗮𝘁

Kontribusi terbesar Syaikh Prof. Dr. Abdullah Dumfu berada pada bidang pendidikan tinggi dan pengembangan ilmu keislaman.

Selama bertahun-tahun beliau mengabdikan diri untuk mendidik mahasiswa, membimbing penelitian, mengembangkan kurikulum, serta meningkatkan mutu pendidikan Islam di lingkungan Universitas Thaibah. Banyak mahasiswa yang pernah dibimbingnya kemudian berkiprah sebagai dosen, peneliti, hakim, pendidik, maupun ulama di berbagai negara.

Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Barat, kiprah beliau menjadi bukti bahwa putra keturunan Indonesia mampu memberikan kontribusi nyata di tingkat internasional melalui jalur pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

𝗣𝗲𝗺𝗶𝗸𝗶𝗿𝗮𝗻 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗚𝗮𝗴𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗧𝗼𝗸𝗼𝗵

Syaikh Abdullah dikenal sebagai sosok yang sederhana, rendah hati, dan lebih memilih mengabdikan hidupnya di ruang kuliah daripada mengejar popularitas.

Pendekatan akademiknya menekankan pentingnya ketelitian dalam penelitian, penguasaan sumber-sumber klasik Islam, serta kesinambungan tradisi keilmuan. Bagi beliau, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan pembentukan karakter ilmuwan yang menjunjung integritas, objektivitas, dan tanggung jawab terhadap masyarakat.

𝗞𝗮𝗿𝘆𝗮 𝗜𝗹𝗺𝗶𝗮𝗵

Sebagai profesor di bidang studi Islam dan hadis, beliau dikenal produktif menghasilkan karya ilmiah yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit akademik di Timur Tengah. Di antaranya:

• Marwiyyāt al-Imām al-Zuhrī al-Mu‘allah fī Kitāb al-‘Ilal li al-Dāraquṭnī.

• Ibrāhīm bin Muḥammad bin Sufyān: Riwāyatuhu wa Ziyādātuhu wa Ta‘līqātuhu ‘alā Ṣaḥīḥ Muslim.

• Ibnu Abī al-Dunyā wa Muṣannafātuhu al-Maṭbū‘ah: ‘Arḍ wa Naqd.

Karya-karya tersebut memperlihatkan konsistensi beliau dalam bidang ilmu hadis, biografi ulama, kritik naskah, dan studi keislaman.

𝗣𝗿𝗲𝘀𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗿𝗴𝗮𝗮𝗻

Beberapa capaian penting yang terdokumentasi dalam sumber-sumber publik antara lain:

• Profesor Departemen Studi Islam, Fakultas Sastra dan Humaniora Universitas Thaibah.

• Doktor lulusan Universitas Islam Imam Muhammad bin Su'ud Al-Islamiyah, Riyadh.

• Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Thaibah.

• Dekan Pascasarjana Universitas Thaibah.

• Dekan Fakultas Sastra dan Humaniora Universitas Thaibah.

• Anggota berbagai dewan ilmiah universitas.

• Pembimbing dan penguji tesis maupun disertasi program magister dan doktor.

• Penulis sejumlah buku dan karya ilmiah di bidang hadis dan studi Islam.

𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽 𝗜𝗻𝘀𝗽𝗶𝗿𝗮𝘁𝗶𝗳

Perjalanan hidup Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Hasan Dumfu menunjukkan bahwa dedikasi terhadap ilmu pengetahuan dapat melampaui batas negara, budaya, maupun asal-usul.

Sebagai putra keturunan Dompu yang lahir dan berkiprah di Tanah Suci, beliau membuktikan bahwa ketekunan menuntut ilmu, integritas akademik, dan pengabdian dalam dunia pendidikan mampu menghadirkan manfaat yang luas bagi umat.

Kiprahnya menjadi inspirasi bahwa membangun peradaban tidak selalu dilakukan dari panggung yang ramai, tetapi juga melalui ruang kuliah, perpustakaan, penelitian, dan proses panjang mendidik generasi penerus dengan ilmu yang bermanfaat.

𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝘂𝗹𝗶𝘀

Tulisan ini disusun berdasarkan sumber-sumber publik yang dapat ditelusuri, meliputi pemberitaan media, publikasi universitas, dokumentasi akademik, katalog karya ilmiah, serta sumber terbuka lainnya yang relevan. Penulisan difokuskan pada rekam jejak, karya, dan aktivitas publik yang terdokumentasi. Informasi yang belum ditemukan dalam sumber yang memadai atau belum dapat diverifikasi secara independen tidak diuraikan lebih lanjut demi menjaga akurasi.

Foto yang digunakan dalam publikasi ini merupakan hasil penyuntingan digital berbasis foto tokoh yang telah tersedia di ruang publik dan digunakan untuk kepentingan ilustrasi profil.

Profil ini merupakan bagian dari upaya Desa Smart untuk mendokumentasikan tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi, gagasan, karya, maupun peran dalam kehidupan sosial, budaya, pendidikan, pemerintahan, ekonomi, dan pembangunan masyarakat.

Sabtu, 27 Juni 2026

Bagaimana kira-kira kepatuhanmu terhadap apa yang diminta darimu? Dan bagaimana pula kebahagiaanmu saat melihat wajahnya?


"Bayangkan sejak kamu lahir, ada seseorang yang selalu mengirimkan uang kepadamu, menanggung makanan, minuman, pakaian, pendidikan, dan semua kebutuhanmu. Setelah sekian tahun berlalu dalam hidupmu, dikatakan kepadamu: 'Jika kamu mengenakan (pakaian) ini dan meninggalkan hal itu, kamu akan melihat orang yang baik dan mulia ini besok.' Bagaimana kira-kira kepatuhanmu terhadap apa yang diminta darimu? Dan bagaimana pula kebahagiaanmu saat melihat wajahnya?
Jika ini saja berlaku untuk seorang manusia yang darinya kamu mendapatkan sebagian kebaikan, lalu bagaimana dengan (Allah) yang telah menciptakanmu, mengasuhmu dengan nikmat-nikmat-Nya, yang setiap kebaikan yang kamu rasakan berasal dari-Nya, dan setiap keburukan yang kamu hindari dialah yang menjagamu darinya, serta memberikan kepadamu segala hal yang kamu minta? Bagaimana kiranya kebahagiaanmu saat melihat wajah-Nya? Demi Allah, tidak ada kenikmatan yang menandinginya, dan tidak ada kelezatan yang menyerupai indahnya melihat wajah-Nya. Dan tidak ada satu pun pemberian yang pernah diberikan kepadamu yang lebih kamu cintai daripada memandang wajah-Nya yang Mulia.
Ketahuilah—semoga Allah menjagamu—bahwa tidak ada jarak antara dirimu dan kenikmatan tersebut melainkan kamu harus menjadi seorang yang bertauhid, menjauhkan diri dari bid'ah, melaksanakan kewajiban-kewajiban dan memperbanyak amalan-amalan sunah semampumu, meninggalkan hal-hal yang haram dan bersungguh-sungguh dalam meninggalkan hal-hal yang makruh, serta senantiasa bersabar dan bersyukur."
تخيل أنك منذ ولادتك وهناك إنسان يرسل لك مالا ، ويتكفل بأكلك وشربك ولباسك ودراستك وجميع ماتحتاج إليه ، وبعد ماقطعت سنين من عمرك ، قيل لك إن لبست كذا وتركت كذا سترى هذا الإنسان المحسن الكريم غدا ، كيف سيكون التزامك بما طُلب منك ، وكيف تكون فرحتك عند رؤية وجهه .
إذا كان هذا في إنسان نالك منه بعض الإحسان ، فكيف بمن خلقك ، ورباك بنعمه ، وكل خير أنت فيه منه ، وكل شر حُفظت منه هو الذي حفظك ، وأعطاك من كل ماسألته كيف سيكون فرحك عند رؤية وجهه ، والله لانعيم يقاربه ، ولالذة تماثل رؤية وجهه ، وما أعطيت شيئا قط أحب إليك من النظر إلى وجهه الكريم .
واعلم رعاك الله أنه ليس بينك وبين ذلك النعيم إلا أن تكون موحدا ، بعيدا عن البدع، فاعلا الواجبات ومكثرا من المستحبات ما استطعت ، وتاركا للمحرمات ومجتهدا في ترك المكروهات ، صابرا شاكرا

https://x.com/i/status/2070785533274435677

Syaikh Dr. Ibrahim bin 'Amir ar-RuhailiPokok-pokok dan Keistimewaan Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam

الأصل الثالث عشر : من أصول ومزايا منهج أهل السنة والجماعة في التَّلَقِّي والاستدلال| من  كتاب أصـــــول وقواعد منهج التلقي والاستدلال عند أهل السنة والجماعة  للشيخ أبي الحسن مصطفى بن إسماعيل السليماني المأربي – حفظه الله
لمتابعة كل حسابات الشيخ واخر الأعمال كل القنوات هنا
https://linktr.ee/allmarebe
Kaidah penting!
----

Kutipan-kutipan Sulaimaniyyah
Syaikh Dr. Ibrahim bin 'Amir ar-Ruhaili
Pokok-pokok dan Keistimewaan Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam Menerima Ilmu dan Berdalil
Prinsip ke-13:
Di antara pokok dan keistimewaan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menerima ilmu dan berdalil.
Loyalitas (al-walā') dan berlepas diri (al-barā') menurut Ahlus Sunnah dibangun di atas prinsip-prinsip yang tetap, kaidah-kaidah yang telah disepakati, serta ukuran syariat. Tanpa sikap berlebihan dan tanpa meremehkan. Mereka tidak menjadikan al-walā' dan al-barā' berdasarkan persoalan-persoalan ijtihadiyyah—yang bentuknya sangat banyak. Inilah manhaj Ahlul Haq wal Hudā, bukan manhaj orang-orang yang menyimpang dan mengikuti hawa nafsu.
Sumber:
Kitab Ushūl wa Qawā'id Manhaj at-Talaqqī wal-Istidlāl 'inda Ahlis Sunnah wal-Jamā'ah, hlm. 190.
Ust noor akhmad setiawan

Takkan beruntung seseorang, yang dari dalam dirinya, tercium aroma haus kekuasaan"

قال يحيى بن معاذ - رحمه الله - : 

" لا يفلح من شممتَ رائحةَ الرّياسةِ منه "

【 سير أعلام النبلاء  -  الذهبي 】
قال يحيى بن معاذ -رحمه الله- : 
" لا يفلح من شممتَ رائحةَ الرّياسةِ مِنه "
"Takkan beruntung seseorang, yang dari dalam dirinya, tercium aroma haus kekuasaan"
【 Yahya ibn Mu'adz 】
Ubfs

Akhir zaman

📜Akhir zaman

Imam Taqiyyud-din As-Subkiy dalam kitab nya "Fashlul-maqal fi hadayal-'ummal" beliau adakalanya meriwayatkan dari kitab yang itu sudah mafqud pada hari ini seperti kitab "Al-Farqu bainal-wulat al-jairah wal-'adilah" karya Imam An-Naqqasy, yang beliau meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada 'Abs Al-Ghifariy bahwasanya Nabi صلى الله bersabda :

 "Bersegeralah kalian sebelum kematian sebelum datangnya enam perkara :
1️⃣ Kepemimpinan orang-orang bodoh
2️⃣ Banyaknya aparat/polisi
3️⃣ Diperjual-belikannya hukum
4️⃣ Murahnya darah manusia
5️⃣ Putusnya tali silaturahim
6️⃣ Anak muda yang menjadikan Qur'an bagai seruling sehingga manusia mendahulukan qari yang menyanyikan Qur'an, walaupun ia adalah yang paling sedikit fiqh nya"
uvgh

Syekh Shaleh alu-Syekh yang menjelaskan tentang hakikat "Khaufus Sirr" (Takut Tersembunyi/Rahasia) dan jenis-jenis rasa takut dalam Islam

https://youtu.be/QZvAfzsVrEU?si=zvnL8Ygx_TLGio-d

dari Syekh Shaleh al-Syekh yang menjelaskan tentang hakikat "Khaufus Sirr" (Takut Tersembunyi/Rahasia) dan jenis-jenis rasa takut dalam Islam [00:00].


​1. Khaufus Sirr (Takut Rahasia) – Syirik Akbar [00:55]

​Ini adalah jenis rasa takut yang wajib ditujukan hanya kepada Allah. Jika seseorang menujukan rasa takut ini kepada selain Allah, maka ia telah melakukan syirik akbar (kesyirikan besar) yang menyebabkan kekafiran [00:39].

  • Definisi: Rasa takut kepada selain Allah terhadap sesuatu yang tidak ada yang mampu mengendalikannya kecuali Allah [00:55]. Seseorang takut bahwa sesuatu/makhluk tersebut dapat menimpakan musibah atau marabahaya secara langsung pada dirinya tanpa sebab-sebab lahiriah yang jelas [01:09].
  • Contoh Kasus Nyata: Penulis menceritakan kisah seorang penuntut ilmu yang naik taksi di kota Tanta, Mesir (tempat makam Al-Badawi) [03:27]. Ada seorang pengemis meminta sedekah dan bersumpah demi Al-Badawi agar diberi lebih [04:01]. Karena penuntut ilmu itu tahu bersumpah selain nama Allah adalah syirik, ia menolak memberikan uang [04:45].
  • ​Sopir taksi tersebut langsung ketakutan luar biasa, wajahnya pucat, dan sepanjang jalan (lebih dari 100 km) terus bergumam, "Sembunyikan/selamatkan kami..." karena takut Al-Badawi akan mendatangkan kecelakaan atas mereka akibat "menghina" Al-Badawi [05:00], [05:49]. Rasa takut dalam hati sopir taksi kepada orang mati di kuburan inilah yang disebut Khaufus Sirr [06:40].
  • ​Hal serupa juga terjadi pada kaum Nabi Hud yang takut kepada berhala-berhala mereka karena mengira berhala tersebut bisa menimpakan penyakit gila atau cacat [07:25].

​2. Khauf Thabi'i (Takut Alami/Manusiawi) – Mubah/Boleh [08:11]

​Ini adalah rasa takut yang wajar dan didasari oleh sebab-sebab duniawi yang nyata yang telah Allah ciptakan [08:11].

  • Contoh: Takut pada api yang membakar, takut pada hewan buas yang menerkam, takut pada kalajengking yang menyengat, atau takut pada penguasa yang zalim [08:22].
  • ​Rasa takut ini tidak mengurangi iman seseorang karena merupakan tabiat dasar manusia [08:44].

​3. Khauf Muharram (Takut yang Diharamkan) [08:57]

​Rasa takut kepada makhluk yang menyebabkan seseorang meninggalkan kewajiban yang telah ditetapkan Allah [08:57].

  • Contoh: Seseorang enggan berdiri untuk menunaikan salat karena takut dicela, diejek, atau dikucilkan oleh orang-orang di sekitarnya [09:10].
  • ​Rasa takut ini timbul dari bisikan setan [09:57]. Hukumnya haram dan dilarang karena mendahulukan rasa takut kepada manusia daripada menunaikan perintah Allah, meskipun belum termasuk syirik akbar karena alasannya adalah hal yang tampak (bukan hal gaib/rahasia) [10:07].

Kesimpulan:

Syekh menekankan pentingnya memahami ketiga batasan ini, karena banyak penuntut ilmu yang masih bingung membedakan mana rasa takut yang termasuk syirik, mana yang haram, dan mana yang boleh (alami) [10:22], [10:41].

tanda kebahagiaan

wafatnya Khalifah Umar bin Khattab *radhiyallahu 'anhu

 wafatnya Khalifah Umar bin Khattab *radhiyallahu 'anhu*.

## Detik-Detik Terakhir Wafatnya Umar bin Khattab
Ketika Umar bin Khattab *radhiyallahu 'anhu* ditikam, dibawakanlah susu kepadanya. Beliau meminumnya, namun susu tersebut keluar lagi dari pinggangnya. Maka tabib berkata kepadanya, *"Berwasiatlah wahai Amirul Mukminin, karena sesungguhnya Anda tidak akan selamat (akan wafat)."*
Lalu beliau memanggil putranya, Abdullah, dan berkata kepadanya, *"Bawalah Hudzaifah bin al-Yaman kepadaku..."*
Maka datanglah Hudzaifah, ia adalah sahabat yang telah diberi tahu oleh Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* mengenai nama-nama kaum munafik, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, Rasul-Nya, dan Hudzaifah.
Umar berkata—sementara darah terus mengalir dari pinggangnya—, *"Wahai Hudzaifah bin al-Yaman, aku memohon kepadamu demi Allah, apakah Rasulullah menyebutkan namaku di antara kaum munafik...?"*
Hudzaifah terdiam dan air matanya menetes, lalu berkata, *"Beliau memercayakan rahasia itu kepadaku, aku tidak bisa mengatakannya, wahai Umar."*
Umar berkata lagi, *"Demi Allah, katakan padaku, apakah Rasulullah menyebutkan namaku di antara mereka...?"*
Maka Hudzaifah pun menangis dan berkata, *"Aku akan mengatakannya kepadamu dan tidak akan mengatakannya kepada orang lain setelahmu; demi Allah, namamu tidak pernah disebutkan kepadaku (di antara kaum munafik)."*
### Izin untuk Dimakamkan di Samping Rasulullah
Umar berkata kepada putranya, Abdullah, *"Tersisa satu urusan lagi bagiku di dunia ini."*
Abdullah bertanya, *"Apa itu, wahai ayahku?"*
Beliau menjawab, *"Pergilah menemui Aisyah Ummul Mukminin, lalu katakan: 'Umar menyampaikan salam kepadamu.' Dan jangan katakan 'Amirul Mukminin', karena hari ini aku bukan lagi pemimpin bagi orang-orang beriman. Katakanlah bahwa Umar bin Khattab meminta izin agar bisa dimakamkan bersama kedua sahabatnya (Rasulullah dan Abu Bakar)."*
Maka Abdullah pun mengucapkan salam dan meminta izin (untuk masuk), lalu ia menemui Aisyah dan mendapatinya sedang duduk menangis.
Abdullah berkata, *"Umar bin Khattab menyampaikan salam kepadamu, dan meminta izin agar dimakamkan bersama kedua sahabatnya?"*
Aisyah menjawab, *"Tadinya aku menginginkan tempat itu untuk diriku sendiri, namun hari ini aku akan lebih mengutamakannya (Umar) daripada diriku sendiri."*
Maka Abdullah kembali dengan perasaan gembira.
### Ketundukan dan Ketakutan kepada Allah
Abdullah berkata, *"Wahai ayahku, beliau telah mengizinkan."* Kemudian Abdullah melihat pipi Umar berada di atas tanah. Abdullah segera duduk dan meletakkan pipi ayahnya di atas pahanya.
Umar menoleh kepada putranya dan berkata, *"Mengapa engkau menghalangi pipiku dari tanah?"*
Abdullah menjawab, *"Wahai ayahku..."*
Umar berkata, *"Letakkan pipi ayahmu ini di atas tanah agar wajahnya berlumuran debu. Celakalah Umar jika Rabb-nya tidak mengampuninya esok (di hari kiamat)."*
### Wasiat Terakhir dan Pemakaman
Umar wafat sebagai syahid setelah memberikan wasiat kepada putranya. Beliau berkata, *"Jika engkau telah mengusungku dan menyalatkanku di masjid Rasulullah, perhatikanlah Hudzaifah. Bisa jadi ia hanya ingin menenangkan perasaanku saat mengatakannya (tadi). Jika Hudzaifah ikut menyalatkanku, maka usunglah aku menuju rumah Rasulullah.*
*Kemudian berdirilah di depan pintu dan katakan: 'Wahai Ibu kami, anakmu Umar ada di depan pintu,' dan jangan katakan 'Amirul Mukminin', karena bisa jadi dulu ia mengizinkanku karena merasa sungkan kepadaku. Jika ia tidak mengizinkan, maka makamkanlah aku di pemakaman kaum muslimin'."*
Maka Abdullah mengusungnya dan melihat ke dalam masjid, ternyata Hudzaifah datang dan ikut menyalatkannya. Abdullah bin Umar pun merasa lega, lalu mengusung jenazah ayahnya ke rumah Aisyah.
Abdullah berkata, *"Wahai Ibu kami, anakmu Umar ada di depan pintu, apakah engkau mengizinkannya?"*
Aisyah menjawab, *"Masukkanlah ia."*
Maka dimakamkanlah Umar *radhiyallahu 'anhu* di samping kedua sahabatnya... Semoga Allah merahmati Umar bin Khattab dan meridhainya.
> Beliau telah memenuhi bumi dengan keadilan dan sangat takut kepada Allah dengan ketakutan yang luar biasa, padahal Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* telah memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga.
> Lalu, bagaimana dengan keadaan kita hari ini? Tidak ada seorang pun dari kita yang tahu apakah Rabb-nya ridha kepadanya atau tidak, namun meskipun demikian, kita justru lalai, tertawa, tidak merasa takut, dan tidak merasa khawatir.
🟢 عندما #طُعِن عمر بن الخطاب رضي الله عنه فأتي #بالحليب فشربه فخرج الحليب من #خاصرته .. فقال له #الطبيب: أوصِ يا أمير المؤمنين فإنك #لن_تعيش.

⬅️ فنادى ابنه عبدالله وقال له :
ائتني #بحذيفة بن اليمان ...
وجاء حذيفة وهو الصحابي الذي أعطاه الرسول صلى الله عليه وسلم ، أسماء #المنافقين ولا يعرفهم إلا الله ورسوله وحذيفة

🟢 وقال عمر و الدماء تجري من خاصرته: يا حذيفة بن اليمان #أناشدك الله هل قال الرسول اسمي #بين/ #المنافقين ...؟

فسكت حذيفة ودمعت عيناه وقال: #ائتمنني على #سر لا أستطيع أن أقوله يا عمر 

🟢 قال: بالله عليك قل لي هل قال رسول الله اسمي بينهم ...؟؟

⬅️ #فبكى حذيفة فقال :
أقول لك ولا أقولها لغيرك والله #ماذكر اسمك عندي .

⬅️ فقال عمر لإبنه عبدالله:
بقي لي من الدنيا أمر واحد ،
فقال له: ما هو يا أبتاه ؟

🟢 قال:انطلق إلى #عائشة أم المؤمنين، فقل: يقرأ عليك #عمر السلام، ولا تقل #أمير المؤمنين فإني لست اليوم للمؤمنين أميرًا، وقل يستأذن عمر بن الخطاب أن #يدفن مع #صاحبيه، فسلم واستأذن، ثم دخل عليها فوجدها قاعدة #تبكي

⬅️ فقال: يقرأ عليك عمر بن الخطاب السلام، #ويستأذن أن #يدفن مع #صاحبيه؟

⬅️فقالت: كنت #أريده لنفسي، #ولأوثرن به اليوم على نفسي.
فعاد عبدالله #فرحأ.

🟢 وقال:يا ابتاه قد أذنت ثم رأى #خد عمر على #التراب فجلس عبدالله #ووضع خده على #فخده فنظر إلى ابنه وقال له

 لم تمنع خدي من التراب؟
قال : يا ابتاه
⬅️ قال : ضع خد ابيك على التراب ليمرغ به وجهه فويل عمر ان لم يغفر له ربه غدا

⬅️استشهد عمر بعد أن أوصى ابنه فقال: ان حملتني وصليت عليّ في مسجد رسول الله فأنظر إلى حذيفة فقد يكون راعني في القول فإن صلى عليّ حذيفة فاحملني باتجاه بيت رسول الله
ثم قف على الباب فقل يا أماه ولدك عمر ولا تقل أمير المؤمنين فقد تكون استحيت مني فأذنت لي، فإن لم تأذن فادفني في مقابر المسلمين ،،

فحمله ونظر في المسجد فجاء حذيفة وصلى عليه، فاستبشر بن عمر وحمله إلى بيت عائشة ، فقال يا أمنا ولدك عمر في الباب هل تأذنين له ؟
فقالت: ادخلوه 

فدفن سيدنا عمر ( رضي الله عنه ) بجانب صاحبيه...رحم الله عمر بن الخطاب و رضي عنه .

⬅️ ملأ الارض عدلا وخاف الله خوفا شديدا مع ان الرسول صلى الله عليه وسلم بشره بالجنة .. فما بالنا نحن اليوم لايدري احدنا أربُّه راضٍ عنه ام لا ؟ ومع ذلك #نلهو_ونضحك_ولانخاف_ولا نخش

Faedah salah satu ustadz alumni dammaj.

Faedah salah satu ustadz alumni dammaj.

Beliau alumni Sekolah formal. Ada Salah satu temannya di dammaj menyindir ngapain Sekolah formal dan tidak mencukupkan diri dengan pondok alasannya ada ikhtilat dll . Beliaupun menjawab "memangnya Ijazah antum asli ?"
Saat itu kebanyakan yang ambil paket memang nilainya ngarang ya lur ndak sesuai dengan hasil ujian. 
"Dosanya besar mana ikhtilath atau Ijazah palsu ?"

Faedah Dari Syaikh Abdussalam asy Syuwaiir kuliah yang ikhtilath diperbolehkan dengan syarat ada keperluan dan aman Dari fitnah. Hukumnya sama seperti belanja ke pasar atau minimarket.

Nasihat-nasihat bagi Dai Bersama Syaikh Dr. Muhammad Hisyam Ath-Thahiri Hafidzahullah Ta’ala.

Nasihat-nasihat bagi Dai 
Bersama Syaikh Dr. Muhammad Hisyam Ath-Thahiri Hafidzahullah Ta’ala.

1. Ikhlas

Tujuan dakwah adalah tersebarnya Tauhid dan Sunnah 

Tanda ikhlas seorang dai adalah yang paling penting tersebarnya Tauhid dan Sunnah, melalui siapapun itu. Tidak harus melalui kita.

Dan kita senang dengan hal itu.

Dakwah itu bukan monopoli satu dua orang, tapi tugas bersama sama dengan taawun antara sesama dai.

2. Senantiasa Menuntut Ilmu 

Di antara ciri Dai Salafi adalah senantiasa bersama ilmu. Sesibuk apapun harus meluangkan waktu untuk belajar. 

Karena sedikitnya ilmu berpotensi tergelincir atau terjatuh kepada kesalahannya sangat tinggi. 

Jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang sudah kita miliki. Karena telah lulus dari jenjang tertentu, atau sudah menjadi figur.

3. Qudwah Hasanah

Senantiasa memberi contoh yang baik. Orang orang melihat kita ini sebagai orang baik yang patut dicontoh, sehingga kita harus jaga perilaku kita, jangan sampai memberi contoh hal-hal yang tidak baik.

4. Hikmah dalam berdakwah 

Hukum asal dakwah itu dengan lemah lembut, dan senantiasa lalukan dakwah seperti itu. Adapun dakwah dengan cara syiddah maka itu kondisional, ketika dibutuhkan saja. Bukan secara hukum asal.

5. Tadarruj / Bertahap

Dalam dakwah harus mementingkan yang lebih penting daripada yang selainnya.

Misal : Kesyirikan dibahas terlebih dahulu dan diberikan edukasi untuk umat, sebelum bid’ah dan maksiat.

Point-point di atas yang saya ingat, kurang lebihnya begitu.

Di akhir beliau memberi nasihat tentang pentingnya persatuan sesama ahlussunnah dan senantiasa taawun di atas kebaikan dan takwa. 

Hal-hal yang menghalangi persatuan berupa permasalahan pribadi atau yang lainnya maka harus di skip demi maslahat yang lebih besar.

Pertemuan yang singkat namun sarat akan faidah yang menambah semangat kita untuk senantiasa berdakwah di jalan Allah.

Semarang, 12 Muharram 1448 H
Abu Yusuf Akhmad Ja’far

Siapa saja yang memusuhi orang-orang yang memberi nasihat, tetapi membiarkan golongan ateis (kafir), maka dia bukanlah seorang Salafi. Meskipun dia mengaku sebagai Salafi, pada hakikatnya dia telah keluar dari pokok manhaj Salafiyah dan memisahkan diri darinya,

Siapa saja yang memusuhi orang-orang yang memberi nasihat, tetapi membiarkan golongan ateis (kafir), maka dia bukanlah seorang Salafi. Meskipun dia mengaku sebagai Salafi, pada hakikatnya dia telah keluar dari pokok manhaj Salafiyah dan memisahkan diri darinya, kendati sebelumnya dia dibesarkan dan tumbuh hingga matang dalam manhaj tersebut. Sebab ciri Salafiyin adalah sebagaimana firman Allah: 
'Bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir.'

Jumat, 26 Juni 2026

pencucian uang

Dr. Salman Duaij Hamad Busaeed didalam jurnal ilmu syariah universitas islam Madinah, volume 56 nomor 202, tahun 2022, halaman 523–572, yang berjudul Ghaslul Mal wa Hukmu Hiyazatihi wal Intifa' bihi wa Subulut Takhallus minhu menyebutkan,

أن عملية غسل الأموال هي تحويل المال من صفة غير مشروعة إلى صفة تبدو مشروعة، وأن مصادر الأموال المغسولة قد تكون تقليدية أو معاصرة، وأن الجريمة الأصلية التي نشأ عنها المال المغسول محرمة، كما تحرم حيازة المال المغسول على غاسله، وعلى من آل إليه بطريق الإرث، ولا يجوز في الأصل الانتفاع بالمال المغسول.

"Proses pencucian uang adalah mengubah status harta dari yang tidak sah menjadi seolah-olah sah. Sumber harta yang dicuci dapat berasal dari berbagai jenis, baik tradisional maupun modern. Kejahatan asal yang menjadi sumber pencucian uang hukumnya haram. Demikian pula haram bagi pelaku pencucian uang untuk menguasai harta tersebut, termasuk bagi orang yang memperolehnya melalui jalan warisan. Oleh karena itu, pada asalnya tidak boleh memanfaatkan harta yang telah dicuci tersebut."
Ust hafit muhammad 

التعليق على اعتقاد السلف الذي ذكره سحنون المالكي(ت: ٢٤٠هـ)

التعليق على اعتقاد السلف الذي ذكره سحنون المالكي(ت:  ٢٤٠هـ) 

- للسماع ( درس واحد) اضغط هنا:

 https://t.me/mn80773/528

•  وفيه: 
- ترجمة سحنون. 
- عيادة المريض فضلها ومنافعها للعائد والمريض. 
- الإيمان بالبعث كيف يكون؟ ومن أولهم وعددهم والفرق بين النبي والرسول،  وثمرة ذلك. 
-الأيمان بالبعث، وثمرته. 
- الإيمان بالحساب، تعريفه وأدلته والحكمة منه،  ومن يحاسب من هؤلاء( الأنبياء، المؤمنون، الكفار،  الجن،  الحيوانات).؟ 
وثمرة ذلك. 
- الجنة والنار وأدلة وجودهما وبقائهما،  وثمرة ذلك. 

- تقديم أبي بكر وعمر، ونقل الإجماع، وخطبة على بن أبي طالب في ذلك،  وبيان مكانة الصحابة في صحة معتقدنا.
 
- كلام الله وأدلته وحقيقته وبيان فساد القول بخلق القرآن من وجوده ومفاسد القول بخلق القرآن. 
- قواعد نافعة في الأسماء والصفات. 

- رؤية الله اثباتها والرد على من انكرها  ومن يراه في الموقف ورؤية الله في الدنيا  ومناما
وفي الجنة،  ما الصحيح منها؟ 
المخالفون في الرؤية وبيان وجودهم ووجوب تعلم العقيدة
- الاستواء أدلته. 

- معاملة الحكام، وبيان الخروج بالكلام وذكر ذي الخوصيرة والخوارج القعدية كعمران بن حطان. 

- فضل من مات على السنة.

- الإجازة خاصة باعتقاد سحنون خاصة، وكتاب سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي عامة رحمهما الله.

**Komentar (Syarah) terhadap Akidah Salaf yang Disebutkan oleh Sahnun Al-Maliki (Wafat: 240 H)**
 * **Untuk mendengarkan (1 pelajaran saja), silakan klik di sini:**
   https://t.me/mn80773/528
• **Materi di dalamnya meliputi:**
 * Biografi singkat (Tarjamah) Imam Sahnun.
 * Keutamaan menjenguk orang sakit serta manfaatnya bagi yang menjenguk maupun yang dijenguk.
 * Bagaimana cara beriman kepada Hari Kebangkitan? Siapa orang yang pertama kali dibangkitkan, jumlah mereka, perbedaan antara Nabi dan Rasul, serta buah (manfaat) dari keimanan tersebut.
 * Beriman kepada Hari Kebangkitan dan buah manisnya.
 * Beriman kepada Hari Hisab (perhitungan amal): definisi, dalil-dalil, hikmah di baliknya, serta siapa saja yang akan dihisab di antara makhluk-makhluk berikut (para Nabi, orang mukmin, orang kafir, jin, dan hewan)? Serta buah dari keimanan tersebut.
 * Surga dan Neraka: dalil-dalil keberadaan serta kekekalan keduanya, beserta buah keimanannya.
 * Mendahulukan Abu Bakar dan Umar (dalam keutamaan), penukilan ijmak (kesepakatan ulama), khotbah Ali bin Abi Thalib mengenai hal tersebut, serta penjelasan tentang kedudukan para sahabat dalam keabsahan akidah kita.
 * Kalamullah (Firman Allah): dalil-dalilnya, hakikatnya, penjelasan tentang batilnya pendapat yang menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk, serta dampak buruk dari pendapat tersebut.
 * Kaidah-kaidah yang bermanfaat dalam memahami Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah (Asma' wa Shifat).
 * Ru'yatullah (melihat Allah): penetapan dalilnya dan bantahan terhadap yang mengingkarinya, siapa yang bisa melihat-Nya di padang mahsyar, hukum melihat Allah di dunia, melihat Allah dalam mimpi, dan melihat Allah di Surga (mana pendapat yang sahih di antara hal-hal tersebut?). Penjelasan tentang kelompok yang menyimpang dalam masalah ini dan kewajiban mempelajari akidah.
 * Al-Istiwa' (bersemayamnya Allah di atas Arsy) beserta dalil-dalilnya.
 * Cara bersikap dan berinteraksi terhadap penguasa (pemerintah), penjelasan tentang bentuk pembangkangan (khuruj) melalui ucapan, serta penyebutan kisah Dzul Khuwaishirah dan kelompok Khawarij Al-Qa'adiyyah (Khawarij yang tidak ikut berperang tetapi memprovokasi lewat kata-kata) seperti Imran bin Hattan.
 * Keutamaan orang yang wafat di atas Sunnah.
 * Pemberian ijazah: secara khusus untuk kitab Akidah Sahnun, dan secara umum untuk kitab *Siyar A'lam an-Nubala'* karya Al-Hafiz Adz-Dzahabi, semoga Allah merahmati keduanya.