Minggu, 28 Juni 2026

Bab tentang Mendengar dan Taat kepada Pemimpin Kaum Muslimin, Bersabar atas (Kezaliman) Mereka Meskipun Mereka Berbuat Lalim, serta Larangan Memberontak terhadap Mereka Selama Mereka Menegakkan Shalat


9 - Bab tentang Mendengar dan Taat kepada Pemimpin Kaum Muslimin, Bersabar atas (Kezaliman) Mereka Meskipun Mereka Berbuat Lalim, serta Larangan Memberontak terhadap Mereka Selama Mereka Menegakkan Shalat
Al-Hasan berkata: (Pada masa) hari-hari Yazid bin Al-Muhallab—ketika sekelompok orang mendatanginya—dia memerintahkan mereka untuk tetap tinggal di rumah mereka dan mengunci pintu rumah mereka.
Kemudian dia berkata: "Demi Allah, seandainya manusia ketika diuji oleh penguasa mereka mau bersabar, niscaya tidak lama kemudian Allah akan mengangkat (ujian) itu dari mereka. Hal itu karena mereka (yang memberontak) justru lari menuju pedang (peperangan), sehingga mereka diserahkan kepada pedang tersebut. Dan demi Allah, mereka tidak pernah mendatangkan kebaikan sama sekali walau sehari saja."
Halaman Kedua (Bagian Tengah)
Kemudian beliau membaca (ayat):
"Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah mereka bangun."** (QS. Al-A'raf: 137).

Dari Ummu Salamah *radhiyallahu 'anha*, dari Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam*, beliau bersabar:
"Akan ada untuk kalian para pemimpin yang kalian kenal (kebaikan mereka) dan kalian ingkari (kemungkaran mereka). Maka barangsiapa yang membencinya, ia telah berlepas diri (dari dosa), dan barangsiapa yang mengingkarinya, ia telah selamat. Akan tetapi, (yang berdosa adalah) orang yang ridha dan mengikuti mereka."Para sahabat bertanya: "Apakah tidak sebaiknya kami memerangi mereka?"* Beliau menjawab: "Tidak, selama mereka masih shalat."

Dari Anas bin Malik *radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* bersabar:
 "Dengarkanlah dan taatilah, meskipun yang dipimpin (menjadi pemimpin) atas kalian adalah seorang budak Habasyi (Etiopia) yang kepalanya seperti kismis."

Wail Al-Hadhrami berkata: Yazid bin Salamah Al-Ju'fi bertanya kepada Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam*: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika memimpin atas kami para penguasa yang meminta hak mereka kepada kami, namun mereka menahan (tidak memberikan) hak kami? Apa yang engkau perintahkan kepada kami?"* Rasulullah berpaling darinya. Kemudian ia bertanya lagi untuk kedua atau ketiga kalinya, lalu Al-Asy'ats bin Qais menariknya dan Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* bersabda:
"Dengarkanlah dan taatilah, karena sesungguhnya mereka akan memikul dosa atas apa yang dibebankan kepada mereka, dan kalian akan memikul dosa atas apa yang dibebankan kepada kalian."

Dari Suwaid bin Ghafalah, ia berkata: Umar bin Al-Khattab *radhiyallahu 'anhu* berkata kepadaku:
Barangkali engkau akan tetap hidup sepeninggalku, maka taatilah pemimpin meskipun ia seorang budak Habasyi. Jika ia memukulmu, maka bersabarlah. Jika ia menahan hakmu, maka bersabarlah. Dan jika ia mengajakmu kepada perkara yang mengurangi urusan duniamu, maka katakanlah: 'Aku mendengar dan taat, darahku demi agamaku (aku rela berkorban harta/dunia demi menjaga agama)'.

Muhammad bin Al-Husain berkata:
Jika ada seseorang yang bertanya: *"Apa makna yang terkandung dari perkataan Umar radhiyallahu 'anhu di atas?
Maka dikatakan kepadanya: Maknanya—Wallahu a'lam—adalah: Siapa pun yang memimpinmu—baik dari orang Arab maupun selain Arab, hitam maupun putih, atau ajam (non-Arab)—maka taatilah dia dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah.
Jika ia menahan hak yang seharusnya milikmu, atau memukul punggungmu secara zalim, atau menodai kehormatanmu, atau mengambil hartamu, maka janganlah hal itu membuatmu mengangkat pedangmu melawannya hingga engkau memeranginya. Dan janganlah engkau keluar (memberontak) bersama orang Khawarij yang memeranginya, serta janganlah memprovokasi orang lain untuk memberontaknya, melainkan bersabarlah atas hal tersebut.
Namun, bisa jadi perkataan tersebut juga bermakna: Jika ia mengajakmu kepada perkara yang mengurangi agamamu dari sisi lain—misalnya ia memerintahkanmu untuk membunuh orang yang tidak berhak dibunuh, memotong anggota tubuh orang yang tidak berhak dipotong, memukul orang yang tidak halal dipukul, atau mengambil harta orang yang tidak halal diambil hartanya, atau menzalimi orang yang tidak halal dizalimi—maka dalam hal ini **engkau tidak boleh menaatinya**.
Jika pemimpin itu berkata kepadamu: *"Jika engkau tidak melakukan apa yang aku perintahkan, maka aku akan membunuhmu atau memukulmu,"* maka katakanlah: *"Darahku demi agamaku (silakan ambil nyawaku, tapi aku tidak mau melanggar agama)."*
Hal ini karena sabda Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam*:
> *"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah) Azza wa Jalla."*
Dan sabda beliau:
> *"Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma'ruf (baik)."*