Sabtu, 13 Juni 2026

Dunia tidak akan lenyap hingga datang suatu hari di mana pembunuh tidak tahu mengapa ia membunuh..."

https://islamqa.info/ar/answers/144834/%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D9%84%D8%A7-%D8%AA%D8%B0%D9%87%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%86%D9%8A%D8%A7-%D8%AD%D8%AA%D9%89-%D9%8A%D8%A7%D8%AA%D9%8A-%D8%B9%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A7%D8%B3-%D9%8A%D9%88%D9%85-%D9%84%D8%A7-%D9%8A%D8%AF%D8%B1%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%A7%D8%AA%D9%84-%D9%81%D9%8A%D9%85%D8%A7-%D9%82%D8%AA%D9%84
### **Hadits: "Dunia tidak akan lenyap hingga datang suatu hari di mana pembunuh tidak tahu mengapa ia membunuh..."**
**Pertanyaan (144834):**
Saya mendengar sebuah hadits tentang hari kiamat namun saya tidak tahu teks persisnya. Tetapi saya akan menuliskan maknanya, dan saya berharap Anda dapat mengoreksinya jika perlu serta menjelaskan maksud dari hadits tersebut.
Makna hadits tersebut kurang lebih: *"Pembunuhan akan merajalela menjelang hari kiamat, hingga orang yang dibunuh tidak tahu mengapa ia dibunuh, dan pembunuh tidak tahu mengapa ia membunuh, dan pembunuh serta yang dibunuh sama-sama berada di dalam neraka."*
**Jawaban:**
*Alhamdulillah, wasshalatu wasshalamu 'ala Rasulillah. Wa ba'du:*
Hadits ini berbicara tentang fitnah di akhir zaman yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ, di mana peristiwa ini terjadi **sebelum hari kiamat (di dunia), bukan pada saat hari kiamat sedang berlangsung**.
Peristiwa ini terjadi ketika kebodohan telah merajalela, ilmu (agama) telah diangkat, jumlah orang saleh semakin sedikit, pelaku kerusakan semakin banyak, dan bencana-bencana besar bermunculan. Pada masa itulah pembunuhan di antara manusia menjadi sangat banyak dan terjadi *al-harj* (kekacauan/pembunuhan) di antara mereka.
Hal itu terjadi di tengah-tengah fitnah besar yang membuat manusia kebingungan. Karena kebodohan dan dahsyatnya fitnah pada masa itu, manusia tidak dapat lagi membedakan mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah). Mereka saling berkelompok demi mengejar ambisi duniawi, hawa nafsu, dan syahwat diri. Akibatnya, terjadilah pembunuhan di mana orang yang membunuh tidak tahu mengapa ia membunuh, dan orang yang dibunuh pun tidak tahu apa alasan ia dibunuh.
#### **Dalil-Dalil Hadits**
Diriwayatkan dari Abu Hurairah *radhiyallahu 'anhu*, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
» **وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ يَوْمٌ لَا يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيمَ قَتَلَ ، وَلَا الْمَقْتُولُ فِيمَ قُتِلَ ، فَقِيلَ : كَيْفَ يَكُونُ ذَلِكَ ؟ قَالَ : الْهَرْجُ ، الْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ** «
> *"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, dunia tidak akan lenyap hingga datang suatu hari di mana orang yang membunuh tidak tahu mengapa ia membunuh, dan orang yang dibunuh tidak tahu mengapa ia dibunuh." Ditanyakan, "Bagaimana hal itu bisa terjadi?" Beliau menjawab, "Al-Harj (kekacauan/pembunuhan). Pembunuh dan yang dibunuh berada di dalam neraka."* **(HR. Muslim, no. 2908)**
Diriwayatkan juga darinya (Abu Hurairah) *radhiyallahu 'anhu*, Nabi ﷺ bersabda:
» **لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ ، وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ ، وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ ، وَهُوَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ ، حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ** «
> *"Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ilmu diangkat, banyak terjadi gempa bumi, waktu terasa semakin singkat, fitnah-fitnah bermunculan, dan banyak terjadi al-harj—yaitu pembunuhan, pembunuhan—hingga harta melimpah ruah di antara kalian."* **(HR. Bukhari no. 1036 dan Muslim no. 157)**
Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari *radhiyallahu 'anhu*, ia berkata:
Rasulullah ﷺ pernah menceritakan kepada kami bahwa menjelang hari kiamat akan ada *al-harj*. Ditanyakan, *"Apa itu al-harj?"* Beliau menjawab, *"Kedustaan dan pembunuhan."* Mereka (para sahabat) bertanya, *"Apakah jumlahnya lebih banyak daripada jumlah orang yang kami bunuh sekarang?"* Beliau menjawab, *"Sesungguhnya itu bukanlah pembunuhan kalian terhadap orang-orang kafir, melainkan saling membunuh di antara sesama kalian. Sampai-sampai seseorang membunuh tetangganya, membunuh saudaranya, membunuh pamannya, dan membunuh sepupunya."* Mereka bertanya, *"Subhanallah! Apakah pada saat itu kami masih memiliki akal sehat?"* Beliau menjawab, *"Tidak, sesungguhnya akal sehat penduduk zaman itu telah dicabut, sehingga salah seorang dari kalian menyangka bahwa dirinya berada di atas sesuatu (kebenaran), padahal ia tidak berada di atas sesuatu pun."* **(HR. Ahmad dalam Al-Musnad 32/409. Dishahihkan oleh para peneliti muassasah ar-risalah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 1682)**
#### **Syarah (Penjelasan) Hadits**
Imam Al-Qurtubhi *rahimahullah* berkata:
> *"Hadits ini menjelaskan bahwa jika peperangan terjadi didasari atas kebodohan demi mencari dunia atau mengikuti hawa nafsu, maka itulah yang dimaksud dengan sabda beliau: 'Pembunuh dan yang dibunuh berada di dalam neraka'."* Selesai kutipan dari **(Fathul Bari, 13/34)**.
Imam An-Nawawi *rahimahullah* berkata:
> *"Adapun mengenai pembunuh dan yang dibunuh sama-sama termasuk ahli neraka, hal ini ditujukan bagi mereka yang bertempur tanpa adanya takwil (pembenaran syar'i yang salah dipahami), melainkan peperangan mereka didasari oleh fanatisme kesukuan (ashabiyah) dan sejenisnya."* Selesai kutipan dari **(Syarah Muslim, 18/15)**.
Kesimpulan yang dapat diambil dari hadits-hadits ini adalah bahwa pembunuhan akan merajalela di akhir zaman tanpa ada alasan yang jelas atau dibenarkan. Hal tersebut bisa terjadi dalam beberapa kondisi berikut:
 1. **Dalam kondisi fitnah peperangan**, di mana kebenaran bercampur baur dengan kebatilan, sehingga manusia tidak melihat lagi mana jalan yang benar lalu mereka saling berperang. Saat itu, pembunuh tidak tahu untuk apa ia membunuh, dan yang dibunuh tidak tahu mengapa ia dibunuh. Makna "tidak tahu" di sini adalah mereka tidak mengetahui mana yang haq dan bathil dalam fitnah yang berujung pada pembunuhan tersebut, meskipun mereka tahu bahwa fitnah itu sedang terjadi.
 2. **Dalam kondisi perang ashabiyah (fanatisme)**, di mana pembunuhan terjadi demi membela suku, kelompok, atau golongan. Pelaku peperangan adalah orang bodoh yang emosional; ia ikut berperang hanya karena dimintai tolong oleh sukunya, padahal ia sendiri tidak tahu-menahu apa penyebab mendasar dari peperangan tersebut.
 3. **Dalam kondisi pembunuhan massal secara acak (random)**, seperti penggunaan senjata pemusnah massal. Senjata-senjata ini mengenai banyak orang yang tidak bersalah. Korban tidak tahu mengapa ia dibunuh, dan pembunuh pun tidak tahu mengapa ia harus membunuh orang-orang tidak bersalah tersebut. Kalimat "tidak tahu" dalam hadits ini berlaku secara tekstual/hakiki, karena pembunuhan tersebut terjadi secara acak.
 4. **Tindakan orang-orang bodoh (pandir)** yang mengganggu manusia dengan cara membunuh karena kebodohan, kebebalan, atau sekadar mencari kesenangan pribadi dalam melukai orang lain. Maka hadits ini juga berlaku bagi mereka.
 5. **Makna "tidak tahu" juga bisa berarti tidak mengetahui aspek syar'inya.** Sebagaimana disebutkan dalam *Mirqat al-Mafatih Syarah Misykat al-Mashabih (15/352)*:
   *" (Pembunuh tidak tahu mengapa ia membunuh) artinya: apakah korban tersebut boleh dibunuh secara syariat atau tidak. (Dan yang dibunuh tidak tahu mengapa ia dibunuh) artinya: dirinya atau keluarganya tidak tahu apakah eksekusi itu memiliki sebab yang syar'i atau tidak. Sebagaimana kedua jenis kejadian ini telah banyak terjadi di zaman kita."* Selesai kutipan.
Bagaimanapun kondisinya, kita memohon keselamatan dan perlindungan kepada Allah Ta'ala, serta berharap agar Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari fitnah-fitnah tersebut.
*Wallahu A'lam (Dan Allah lebih mengetahui).*