Resep Dasar Darmogandhul
(Darmogandhul : Jawanisasi atau Kristenisasi - 3).
Integrasi yang kuat antara Islam dengan kebudayaan lokal menyebabkan Zending menghindari konfrontasi langsung dengan umat Islam.
Oleh karena itu, mereka memilih jalan memutar yang oleh mantan Zending Consul van Radjwick disebut sebagai “Strategi Memangkas Islam”, sebagaimana dicatat oleh Karel Steenbrink dalam buku Kawan Dalam Pertikaian, Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596 – 1942).
“Islam adalah musuh yang menakutkan, yang tidak harus diserang secara langsung, tetapi kekuatannya harus dikurangi melalui berbagai cara yang ada –dari mempromosikan kebiasaan rakyat kuno, adat dan agama rakyat, dialek daerah (yang berbeda dengan bahasa Melayu, yang dikaitkan dengan Islam) sampai modernisasi perawatan kesehatan pendidikan khususnya. Tujuan bersama dari seluruh bentuk kegiatan yang mewakili berbagai dunia misi adalah mengurangi kekuatan dan pengaruh Islam, terutama melalui sarana ekonomi, politik dan pendidikan.
Salah satu wujud dari strategi ini adalah pendirian Instituut voor het Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa) di Surakarta pada era Gubernur Jendral Van den Bosch. Selain sebagai gubernur, ia juga merupaka ketua di Nederland Bijbelgenootschap. Lembaga ini didirikan pada tanggal 27 Februari 1932.
Selain untuk mempelajari bahasa dan seluk beluk Jawa, lembaga ini diharapkan berfungsi sebagai institusi pendamping penerjemahan Bible ke dalam Bahasa Jawa dan juga merupakan tempat berkumpul para ahli-ahli Jawa berkebangsaan Belanda.
Menurut Takashi Shiraisi dalam buku Zaman Bergerak, para javanolog Belanda ini lebih jauh menggali kesusastraan, bahasa dan sejarah Jawa kuno yang telah lama menghilang di kalangan orang Jawa. Para Javanolog Belanda mengembalikan tradisi Jawa kuno (Jawa pra Islam) dan menghubungkannya dengan Surakarta.
Jadi Javanolog Belanda lah yang “menemukan”, “mengembalikan” dan “memberikan makna terhadap Jawa masa lalu. Jika orang Jawa ingin kembali ke masa lalunya, mereka harus melalui screening pemikiran Javanolog Belanda .
Apa yang dilakukan oleh para Javanolog Belanda dalam mengolah sastra Jawa tersebut mirip dengan kisah pertemuan Flaubert dengan Kuchuk Hanum, pelacur Mesir yang dikisahkan oleh Erward Said, dalam magnum opusnya, Orientalisme.
Di bawah lembaga ini, Sastra Jawa sekedar menjadi boneka timur para Javanolog, dan semuanya dibuat tanpa ada kesepakatan bersama. Kuchuk Hanum, si pelacur, tidak pernah berbicara tentang dirinya, tidak pernah mengungkapkan perasaannya, kehadirannya, atau riwayat hidupnya kepada Flaubert. Akan tetapi, karena kondisi Kuchuk Hanum yang lemah dan miskin secara material tidak berdaya, maka Falubertlah yang justru berbicara atas nama dan mewakili dirinya.
Kerja keras para Javanolog Belanda melalui pintu masuk lembaga bahasa ini adalah salah satu penyumbang besar sikap mental sebagian orang Jawa yang memperhadapkan secara oposisional antara Islam dan Jawa.
Kejiwaan muslim Jawa dibuat berada pada posisi dilematis, apakah mau menjadi Jawa yang baik atau orang Islam yang baik. Keterbelahan spiritual ini persis dengan apa yang disampaikan Ceyler T Young dan dikutip oleh Muhammad Quthub dalam buku Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam.
“Di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat Islam kepada akidah-akidah sebelum Islam tapi cukuplah bagi kami membuat mereka terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama tersebut”
https://www.facebook.com/share/p/14f6UdvTWGM/
Arif wibowo