Jumat, 05 Juni 2026

[ "Allah itu Ar Razzaq, Jangan Khawatir Dolar Naik" ]

[ "Allah itu Ar Razzaq, Jangan Khawatir Dolar Naik" ]

Betul. Namun hal yang secara sunnatullah bisa saja terjadi ialah :
1. Kelaparan akibat tidak terjangkaunya harga makanan pokok impor seperti kedelai, gandum dll
2. Kesulitan akibat naiknya biaya energi dan transportasi yang transaksi raw materialnya menggunakan dolar. 
3. Kesulitan akibat naiknya barang elektronik dan gadget yang komponennya masih impor
4. Tekanan pada bisnis dan pekerjaan bagi bisnis yang bergantung bahan baku impor seperti tekstil, farmasi. 

Dan kesemuanya sama sekali tidak menggugurkan statemen bahwa Allah itu Maha Pemberi Rizki. Pernyataan ini fungsinya adalah untuk menguatkan jiwa. Bukan denial menolak segala kemungkinan yang akan terjadi. 

Di satu sisi, naiknya harga dolar yang menyebabkan himpitan ekonomi adalah bentuk ujian dari Allah. Allah membagi rezeki dengan "melapangkan dan menyempitkan" (يبسط ويقدر) untuk menguji mana hamba yang bersabar saat susah dan bersyukur saat lapang.

لَهٗ مَقَالِيْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُۚ اِنَّهٗ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

"Milik-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi. Dia melapangkan rezeki dan menyempitkan(-nya) bagi siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. As Syura : 12) 

Namun di sisi lain, seberapa tinggi pun melonjaknya harga dolar atau sekrisis apa pun dampaknya terhadap harga barang, tidak akan mempercepat kematian seseorang sampai ia menghabiskan jatah rezeki yang telah ditetapkan Allah. 

لن تموت نفس حتى تستكمل رزقها

"Tiada satupun jiwa yang akan mati sebelum ia menerima seluruh rizkinya" (HR. Ibn Hibban dalam shahihnya) 

Artinya, ya mungkin saja naiknya dolar membuat dia mati kelaparan, dan itu memang sudah rejekinya  ditetapkan begitu. Pernyataan Allah adalah Maha Pemberi Rizki tidak bertentangan dengan fakta bahwa makin sulitnya kondisi ekonomi ini adalah akibat... See more
Ustadz yhouga pratama