Selasa, 09 Juni 2026

Suatu amalan yang tidak memenuhi salah satu dari dua syarat diterimanya ibadah (Ikhlas dan mutaba'ah), maka selama-lamanya tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Saudaraku....ketahuilah.

Suatu amalan yang tidak memenuhi salah satu dari dua syarat diterimanya ibadah (Ikhlas dan mutaba'ah), maka selama-lamanya tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

الْعَمَلُ بِغَيْرِ إِخْلَاصٍ وَلَا اقْتِدَاءٍ كَالْمُسَافِرِ يَمْلَأُ جَرَابَهُ رَمْلًا يُثْقِلُهُ وَلاَ يَنْفَعُهُ

“Orang yang beramal tanpa keikhlasan atau tidak mencontoh ajaran Nabi, seperti seorang musafir yang mengisi penuh tas bawaannya dengan batu. Itu hanya akan membebani/memberati perjalanannya, tanpa manfaat sedikit pun.” (al-Fawaid hlm. 49)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٍ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا

“Dan Kami datangi segala amal yang mereka telah kerjakan (dahulu di dunia), lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)

Imam al-Baghawi menafsirkan,

“Maksudnya, amalan yang sudah mereka kerjakan tersebut batal (tidak dianggap) dan sama sekali tidak mendapatkan pahala. Sebab, mereka tidak mempersembahkan amalannya (tidak ikhlas) hanya untuk Allah azza wa jalla.” (Ma’alim at-Tanzil 6/79)
Ustadz abu usamah yahya