Minggu, 07 Juni 2026

Darmagandhul : Jawanisasi atau Kristenisasi (2)

Darmagandhul : Jawanisasi atau Kristenisasi (2)

Ada dua tulisan tentang Darmagandhul yang saya baca. Pertama karya Damar Sasangka, karena komplit, ada teks jawa, terjemahan dan juga tafsir penulisnya. 

Kemudian yang kedua adalah Tesis ustadz Susiyanto di UMS Surakarta, Misi Kristen dan Orientalisme dalam serat Darmagandhul yang gamblang menjelaskan motif penulisan Darmgandhul.

Dalam penelaahan ustadz Susiyanto, Darmagandhul ini ditulis menggunakan nama alias, bukan nama sungguhan, yakni Ki Kalam Wadi dengan tahun penulisan tercermin dalam sengkalan "Wuk Guna Ngesti Nata."

Wuk Guna Ngesti Nata itu menunjukkan angka 1830 tahun Jawa atau kalau dikonversi ke tahun Masehi yaitu di tahun 1887/1888 Masehi.

Nah, apa yang terjadi pada tahun itu ?
Ustadz Susiyanto mengutip temuan Karel Steenbrink yakni surat Snouck Hurgronje kepada seorang tokoh Partai Kristen Belanda, Holle yang bertanggal 28 Januari 1889. 

Surat tersebut dibuat Snouck sebelum kedatangannya ke Hindia Belanda. Dalam surat tersebut, Snouck menyetujui pemikiran Holle, bahwa Islam adalah bahaya yang sangat besar bagi pemerintah kolonial. Dia menyetujui satu usul Holle, yaitu usaha Kristenisasi daerah yang masih animis, walaupun hal ini harus dilakukan secara tidak langsung dengan sokongan nyata dari pemerintah.

Selain dari Holle, riwayat hidup Sadrach juga bisa kita pantengin. Sadrach lahir tahun 1835 M, dibaptis pada tahun 1867 di usia 32 tahun dan mati pada tahun 1924 M di usia 89 tahun. Berarti tahun ditulisnya Darmagandhul itu berada pada puncak misionarisme Sadrach.

Pandangan yang menyebut Darmagandhul ditulis Ranggawarito jelas tertolak karena Ranggawarito meninggal pada tahun pada tahun 1873 M.

Juga pendapat yang menyatakan Darmagndhul ditulis oleh Kyai Tunggul Wulung, misionaris Kristen pendiri desa Bondo juga tertolak, karena Tunggul Wulung meninggal 29 April 1885.

Selain itu, pasca Darmagandhul, partai-partai konservatif di Belanda memang mencanangkan gerakan Kristenisasi Nusantara. 

De Kerstening van Indië blijve roeping van het Christenvolk in het moederland, maar vinde, alsook uit staatkundig en maatschappelijk oogpunt van overwegend belang, bij de koloniale Regeering, tegemoitkoming, beide in het verleenen van volle vrijheid en in het geldelijk steunen van onderwijs en krankenvenpleging.

Pengkristenan Nusantara tetap merupakan panggilan rakyat Kristen Eropa (Belanda), yang jika ditinjau dari segi kenegaraan maupun kemasyarakatan adalah juga sangat penting. Maka dari itu, pemerintah kolonial harus memberikan kebebasan yang seluas-luasnya dan tunjangan keuangan dalam melakukan pendidikan dan perawatan (misi).

Demikian politik Kristenisasi yang dikutip oleh ustad Muhammad Isa Anshory, dalam tesisnya di UMS juga.

Nah apakah pandangan ini tercermin dalam teks-teks yang ada dalam Darmagandhul ? Kita kutip pelan-pelan dalam serial berikutnya.
https://www.facebook.com/share/p/1Cm1njgTsU/